Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Kehadiran Ibu Kandung Nay


__ADS_3

Thoms benar-benar tidak tega melihat rasa takut yang terlihat jelas di wajah gadis tersebut. Hanya Nay yang mampu mengaduk-adukan hati Thoms hingga rasa kasian terlihat jelas di matanya ketika tidak tega melihat trauma itu kembali muncul.


"Tenanglah, saya janji, saya tidak akan menyentuh mahkotamu sedikit pun!" ucap Thoms, penuh keseriusan.


"Ti-tidak, a-aku tidak percaya! Tuan itu orang yang ja-jahat, pasti Tuan akan melakukan semua itu demi kebutuhan Tuan sendiri, ya, 'kan!" seru Nay, terus berusaha menghindar.


"Dengarkan saya baik-baik, Nona! Saya tidak seperti apa yang ada dipikiranmu saat ini. Saya---"


"Cukup, Tuan. Cukup!" Nay berteriak kencang sambil menutup kedua kupingnya, "Saya tidak ingin mendengar suaramu lagi, pokoknya pergilah, aku tidak ingin mengenalmu lagi. Pergi!"


Mendengar kata-kata itu terlontar dari mulut gadis yang sudah beberapa hari menjadi bagian dari Thoms, membuat hatinya terasa sesak. Pengusiran yang Nay lakukan, tidak tahu mengapa langsung menusuk ke dalam jantung hingga Thoms tidak bisa mengontrol diri dan langsung memeluk Nay.


Thoms tidak tega melihat badan gadis tersebut gemetar hebat hanya karena mengira Thoms akan mele*cehkan Nay sama persis seperti ayah sambungnya. Beberapa kali Nay memeberontak, memukul bahkan berteriak sekuat tenaga untuk melepaskan Thoms dari tubuhnya tetap saja tidak berhasil.


Akhirnya Nay pasrah, hanya ada suara tangisan yang membuat Thoms teringat akan rasa sakit di mana trauma pada masa lalunya kembali teringat. Tidak terasa air mata Thoms perlahan menetes dan langsung dihapusnya secara kasar.


Bagaimanapun, Thoms harus bisa menenangkan Nay sampai kembali merasa nyaman seperti semula. Entah, apa yang terjadi pada tubuh Nay. Perlahan gadis itu mulai tenang karena merasakan pelukan yang tidak pernah dia rasakan selama ini.


Nay bisa menilai jika pria yang sedang memeluknya bukanlah pria yang ada di dalam pikiran gadis itu. Mungkin, jika dibilang jahat Thoms pasti jahat. Sebab, tidak ada Mafia yang tidak mengotori tangan ketika bertemu dengan semua musuh-musuhnya.

__ADS_1


Namun, Nay bisa mengerti. Dibalik kerasnya batu, pasti akan ada sisi kelembutan yang bisa Nay rasakan ketika ada di dalam pelukan Thoms. Selepas gadis itu mulai merasa tenang, hanya terdengar suara isakan. Thoms melepaskan pelukan itu, lalu memegang rahang Nay menggunakan kedua tangan.


Thoms mencoba memberikan pengertian sedikit agar Nay tidak takut padanya, serta Thoms sudah berjanji akan menceritakan bagaimana bisa dia sampai memasuki pekerjaan ini. Semua kata-kata itu terlontar begitu saja tanpa Thoms sadari akibat tidak ingin kembali merasakan kehilangan.


Mungkin saja mereka berdua sudah merasakan kenyamanan satu sama lain, sehingga susah untuk diungkapkannya menggunakan kata-kata. Hanya saja, mereka belum bisa mengartikan kenyaman apa yang sebenarnya dirasakan itu.


"Tenang, oke? Sekarang bangunlah!" Thoms mulai menggiring Nay duduk di tepi kasur, meskipun gadis itu masih sedikit ketakutan, "Duduklah, saya akan mengambilkan obat-obatan serta sarapan untukmu. Tenangkan dirimu, dan jangan pergi ke mana-mana, saya hanya pergi sebentar. Paham?"


Nay menganggukkan kepala dan perlahan tubuhnya mulai menjauhi pria yang masih dia takuti. Tangan Nay langsung menarik selimut untuk menutupi semua tubuhnya sampai sebatas leher dalam keadaan meringkuk. Kedua tangan gadis itu mencekram kuat selimut membuat Thoms merasa menyesal telah mengatakan sesuatu yang langsung merubah sikap Nay padanya.


Beberapa detik setelah selesai memandangi wajah Nay, Thoms langsung berjalan keluar dari kamar untuk memberikan perintah agar anak buahnya segera membelikan obat-obatan yang Nay butuhkan.


Sementara itu, Thoms pergi ke arah dapur untuk membuatkan sarapan agar Nay tidak terserang penyakit lambung kembali. Apa pun bahan yang ada di dapurnya akan Thoms sulap menjadi makanan terenak supaya membuat Nay ketagihan. Anggap saja semua itu sebagai permohonan maaf karena Thoms sudah membuat gadis itu dihantui oleh rasa takut, cemas, juga kecewa.


"Ji-jika dia se-seorang Mafia seperti film yang ada di drakor, itu artinya ... Tu-tuan Thoms sewaktu-waktu bi-bisa jahat denganku? A-atau aku akan menjadi samsaknya di ranjang? Huaa ... Ibu, tolongin, Nay!"


"Nay, gak nyangka bisa terjebak di dalam keadaan seperti ini bersama pria itu. Nay harus gimana, Bu? Nay harus apa? Apa Nay diam-diam pergi aja dari sini, cuman Nay gak tahu caranya. Penjagaan di sini ketat banget, Nay takut kalau Tuan Thoms akan----"


Nay menghentikan kata-katnya saat melihat bayangan samar berada di dekat pojokan hordeng yang sudah sedikit terbuka. Seorang wanita cantik yang sangat Nay kenal, tiba-tiba saja muncul. Entah itu karena pikiran Nay yang rindu akan sosok ibunya atau memang Nay sedang berhalusinasi sampai membuatnya seakan melihat sang ibu.

__ADS_1


"I-ibu? Be-benarkah itu, Ibu?"


Nay mengucek-ngucekkan kedua mata sesekali melihat ke arah sisi tersebut, anehnya kenapa ada hantu di pagi hari? Apakah hantu itu nyata? Akhh, tidak tahu. Nay hanya terpokus pada wajah bersinar yang selalu mengukirkan senyuman manis.


"Hai, Nanayku yang cantik. Apa kabar, Sayang. Ibu lihat hidupmu jauh lebih terurus dari pada bersama pria itu!"


"Maafkan Ibu, Nak. Ibu sudah salah dalam memilih pengganti ayahmu. Ibu tahu, hidupmu pasti sangat menderita bersamanya. Tapi, ingatlah, Sayang. Orang yang kita lihat baik, belum tentu baik. Begitu juga sebaliknya, orang yang kita anggap jahat, tidak selamanya jahat. Belajarlah untuk mengenai sifat seseorang mulai dari hati, jika hatimu merasa nyaman. Maka, kamu tidak perlu lari darinya."


"Namun, jika kau tidak nyaman. Bicarakan baik-baik agar dia mengerti, tidak langsung pergi begitu saja. Ingat, Nay! Kamu harus bersyukur, sebab dia sudah menyelamatkanmu dari pria itu. Ibu tidak mau lagi kamu terluka jika hidup sendiri, lebih baik kamu bersama pria yang saat ini selalu menjagamu. Terlepas dia jahat atau tidak, hatimu bisa menilainya. Jangan sampai kamu menyesal, Nak. Ingat pesan Ibu baik-baik, semoga setelah ini kamu bisa jauh lebih bahagia. Jaga dirimu baik-baik, ya, Nak. Ibu pamit, selamat tinggal cantiknya Ibu."


Bluuusshh!


Tiba-tiba saja, bayangan samar yang hampir menyerupai kain hordeng berwarna putih hilang begitu saja. Nay spontans tersadar dari lamunannya, kemudian menghapus kasar air mata yang dari tadi menetes.


Tanpa basa-basi lagi, gadis itu langsung bangkit dan berlari untuk memastikan, serta mengecek tempat tersebut. Apakah yang dia lihat tadi benar-benar ibu kandungnya atau hanya ilusi semata karena Nay terlalu kangen sama sosok ibu yang dari kecil selalu bersamanya.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2