Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Kabar Duka Cita


__ADS_3

Ernest yang sudah keluar akibat di paksa oleh Sakha dan Felix langsung berlari ke arah kaca. Akan tetapi, kaca tersebut malah di tutup oleh asisten suaternya agar sang dokter bisa lebih leluasa memeriksa pasien tanpa gangguan.


Tahu sendiri bukan, jika sedikit saja konsentrasi seorang dokter buyar. Maka, keadaan pasien bukanlah membaik, melainkan menjadi sangat buruk.


Di tambah kejadian urgent ini benar-benar menguras tenaga dokter. Karena bukan hanya 1 dokter yang menangani Moana serta Justin melainkan 2 sampai 3 dokter sekaligus. Semua itu demi menyelamatkan nyawa pasien, sebelum terlambat.


"Buka hordengnya, aku mau melihat keadaan istri dan anakku sekarang!" pekik Ernest, mengetuk kaca tersebut berulang kali agar yang da di dalam membukanya.


"Tenanglah, Ernest. Tenang! Kalau kau membuat kegaduhan, itu malah membuat dokter di dalam menjadi panik! Percayakan pada mereka, dan berdoalah. Hasilnya serahkan pada Tuhan!" ucap Sakha.


"Apa yang di katakan Ayah benar, Ernest. Kalau kamu marah seperti ini tidak akan membuhkan hasil, lebih baik bantu doa. Supaya anak serta istrimu selamat dari maut yang akan menjemputnya!" sahut Elice, menangis sesegukkan.


"Aku hanya bisa berharap, semoga ini semua bukan pertanda buruk bagi mereka. Aku tidak ingin kehilangan anakku ataupun adikku. Aku mau mereka semuanya sembuh, jika harus ada yang pergi. Biarlah aku yang menggantikan mereka. Aku rela menukar nyawaku asalkan mereka bisa membuka matanya kembali!" jawab Felix, air matanya sudah menetes bagaikan air terjun.


"Tidak, sesuatu yang buruk tidak boleh terjadi sama mereka! Jika mereka kenapa-kenapa, maka aku akan menutup rumah sakit ini dan mengusut tuntas dokter-dokter bod*doh itu agar tidak memakan gaji buta!" pekik Ernest, terus di selimuti kemarahan dan juga rasa takut di dalam hatinya.


Mereka semua merasa takut apa bila kondisi Moana dan Justin berada di dalam bahaya. Mereka tidak sanggup, kalau harus merasakan kehilangan 2 orang sekaligus.


Terutama Ernest dan Felix, merekalah orang yang sangat-sangat menyesal atas kejadian ini. Tapi, lebih tepatnya Ernest. Sebab, dia orang satu-satunya yang menyiksa anak istrinya sendiri sebelum kejadian terjadi.

__ADS_1


Hampir 35 menit telah berlalu, tidak ada sedikit pun kabar mengenai keadaan di dalam. Sampah kini, tibalah pintu mulai terbuka bersamaan munculnya 3 dokter beserta asistennya yang sudah mengecek serta menolong Moana dan Justin.


Tanpa berlama-lama mereka berempat berlari mendekati sang dokter. Semua pertanyaan yang hampir sama mereka ucapkan secara berbarengan, meskipun tidak sama kalimatnya. Intinya semua pertanyaan itu seputar kondisi Moana dan juga Justin.


"Tenang, Tuan, Nyonya. Kalau kalian semuanya berbicara, kami bingung harus menyampaikan tentang kondisi mereka mulai dari mana," ucap dokter pertama.


"Tuan dan Nyonya, saya tahu kalian khawatir serta cemas atas kesehatan pasien. Namun, kami juga bukan Tuhan yang bisa kalian percayakan 100 persen. Jadi, saya harap. Kalian tenang, biarkan kami menjelaskan secara rinci tentang keadaan pasien," cicit dokter ketiga.


"Sebelum kalian mengatakannya bagaimana aku bisa diam, hahh? Dasar dokter bo*doh, cepat katakan! Bagaimana kondisi istri dan anakku sekarang!" tegas Ernest, tetapannya menyorot tajam ke arah 3 dokter secara bergantian.


"Tidak perlu basa-basi, tinggal bilang kalau Moana dan Justin selamat apa susahnya sih, hahh! Kenapa kalian malah membuat kami semakin panik!" pekik Felix, ikut terbawa suasana.


Ke-3 dokter menatap satu sama lain dengan tatapan yang penuh arti. Sampai seketika, dokter kedua mulai menarik dan membuang napasnya berulang kali. Kemudian menjelaskannya secara berhati-hati agar tidak kesalahan untuk menjabarkan mengenai kejadian tadi.


"Sebelumnya saya dan beberapa dokter lainnya ingin meminta maaf. Kami telah gagal menyelamatkan kedua pasien, mereka telah tiada untuk selamanya tepat 5 menit yang lalu. Kami semua sudah berusaha semaksimal mungkinenyelamatkan korban, tetapi Tuhan berkehendak lain. Sehingga, Nyonya Moana dan saudara Justin kini telah kembali kepangkuan Tuhan!"


"Untuk itu kami ucapkan bela sungkawan atas kepergian kedua pasien yang sudah berusaha kami selamatkan. Semua itu akibat pembulu da*rah di kepala Nyonya Moana yang sudah pecah tidak berhasil membuat aliran da*rah berfungi dengan baik. Dan untuk saudara Justin\, dia mengalami sesak napas akibat jantungnya tidak berfungsi seperti semula."


"Jadi, dengan ini kami katakan. Maaf yang sebesar-besarnya, karena kami sudah berusaha menyelamatkan. Namun, kebaikan belum berada di pihak kami. Sekali lagi, kami ucapkan berduka cita atas meninggalnya Nyonya Moana dan saudara Justin."

__ADS_1


Jedaarrr!


Bagaikan sebuah kilatan petir yang sangat dahsyat berhasil langsung menyandar hati mereka.


Jantung mereka pun ikut berhenti dalam hitungan beberapa detik, bersamaan dengan tubuh yang langsung kaku tanpa bisa di gerakin.


Perlahan kaki mulai melemas dan membuat Ernest terjatuh dalam keadaan duduk diatas kedua kakinya. Sementara Felix, bola matanya terlihat sangat merah dan perlahan ikut terjatuh di lantai dalam keadaan syok.


Harapan dan juga doa yang selalu mereka panjatkan demi kesehatan Moana serta Justin. Seketika menjadi sia-sia, karena pada akhirnya mereka harus pergi secara bersamaan dalam kondisi yang sangat menyedihkan.


Kenyataan ini, bertolak belakang sama harapan mereka. Padahal, beberapa hari ini kondisi Moana dan Jistin baik-baik saja. Akan tetapi, tiba-tiba saja malah berubah menjadi drop sampai mereka harus meninggalkan orang-orang yang sangat menyayanginya tanpa berpamitan terlebih dahulu.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung

__ADS_1


__ADS_2