
Almira terlihat sedang menikmati strawberry yang tadi ia beli bersama suaminya. Arsyad memandanginya Almira yang begitu lahap memakan strawberry nya. Dia semakin gemas dengan istrinya, dan menjahilinya dengan mencubit gemas pipi Almira.
"Makannya hati-hati, sayang."ucap Arsyad.
"Iya mas. Kamu mau?"Mira menawari suaminya.
"Buat kamu saja, kasihan dedek nya nanti kurang kalau Abahnya ikut makan."ucap Arsyad.
"Ya sudah Ummi habiskan ya."
"Iya, habiskan saja. Apa kamu mau aku buatkan susu?"
"Tidak, nanti saja, selesai makan strawberry aku mau melanjutkan tulisanku yang dari kemarin belum aku selesaikan."
"Ya sudah, lanjutkan, jangan malam-malam tidurnya, kalau sudah menulis kamu suka lupa waktu."
"Iya,iya...ayo ke kamar, mas."ajak Alimira.
Mereka berdua memasuki kamar, Almira sibuk menata laptopnya di meja, dia mempunyai meja khusus untuk menulis di kamarmya. Arsyad juga sedang sibuk mengecek email yang masuk lewat ponselnya. Dia sesekali mencuri pandang pada istrinya yang sedang serius menulis.
"Begitu cantiknya istriku, dia semakin menggemaskan saja semenjak hamil."gumam Arsyad dalam hatinya.
*******
Di rumah Annisa,
Arsyil dan Annisa sudah selesai makan malam. Mereka kembali masuk ke dalam kamarnya. Annisa terlihat sangat lelah sekali, dia langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Arsyil yang melihatnya, dia juga merebahkan dirinya di samping Annisa. Arsyil membelai lembut rambut Annisa yang bergelombang.
"Syil."panggil Nisa.
"Iya, Nisa, ada apa?"tanya Arsyil.
"Kakiku sakit sekali, rasanya pegal sekali."Annisa merasakan sakit di betis kakinya.
"Coba sini aku pijat Kakimu."Arsyil bangun dari tidurnya dan menopang kaki Nisa dai pahanya.
"Kamu kecapean, sayang. Seharian memakai heels, betis kamu kencang sekali, ada minyak urut?"tanya Arsyil sambil memijat pelan kaki istrinya.
"Tidak ada."jawab Nisa.
"Lotion ada kan?"tanya Arsyil lagi.
"Itu di meja." Annisa menunjukan lotion di meja riasnya, Arsyil mengambilnya dan memulai mengoles ke betis Nisa dan memijatnya pelan.
"Awww....sakit, Arsyil. pelan-pelan dong."ucap Nisa. yang kesakitan.
"Aku mijitnya pelan kok."
"Pelan bagaimana? Sakit seperti ini di bilang pelan."
"Ya sudah, maaf, sayang."Arsyil memijatnya dengan agak pelan lagi. Nisa yang mulai merasa nyaman dengan pijatan Arsyil, dia mulai mengantuk. Annisa berkali-kali menguap. Dan, akhirnya dia ketiduran.
Arsyil tersenyum melihat istrinya tertidur pulas. Dia menyudahi memijat kaki Annisa. Arsyil meletakan kembali lotion yang ia pakai untuk memijat kaki Nisa.
Arsyil merebahka tubuhnya dan memiringkan tubuhnya untuk menghadap istrinya, dia memandangi wajah cantik istrinya dan mencium kening Annisa.
"Selamat tidur istriku sayang."ucap Arsyil lirih.
Arsyil membawa Nisa dalam dekapannya. Dia mengelus rambutnya, Nisa semakin pulas sekali tidur dalam dekapan Arsyil.
******
Arsyad ketiduran menunggu Mira menyelesaikan menulisnya. Almira melihat suaminya yang sudah tertidur pulas di tempat tidur. Dia beranjak dari tempat duduknya dan menyelimuti tubuh Arsyad.
"Maafkan aku, mas. Aku sibuk menulis dari tadi. Selamat tidur, mimpi indah, sayang."Almira mencium kening suaminya. Dia melanjutkan menulisnya yang tinggal sebentar lagi.
Suara gemuruh di perut Almira terdengar oleh telinganya berkali-kali.
"Sayang lapar?"tanya Almira pada calon anaknya dengan memegang perutnya.
"Ya sudah, ayo kita buat roti dan susu." Almira segera menyimpan tulisannya pada dokumen dan langsung beranjak ke dapur untuk membuat susu dan roti selai. Dia memasak air dalam panci kecil dan menyiapkan susunya, serta roti dan selainya.
Sementara di kamar, Arsyad terjaga dari mimpi buruknya.
__ADS_1
"Almira...!"Arsyad teriak memanggil nama istrinya. Dia terbangun dan duduk di ranjang sambil mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal.
Arsyad melihat sekitar kamar dan dia tak mendapati istrinya. Dia mencari ke kamar mandi juga tidak ada.
"Almira...Almira..."Arsyad memanggil istrinya berkali-kali, tapi Almira tidak menyahutinya.
Arsyad berjalan menuju dapur, dia sangat lega, karena melihat istrinya baik-baik saja sendang membuat susu coklat. Arsyad mendekatinya dan memeluk erat Almira dari belakang.
"Kamu aku cari, ternyata di sini. Kamu tau, aku ketakutan mencarimu. Aku khawatir kamu kenapa-napa, Sayang."ucap Arsyad yang masih tegang dengan keringat dingin keluar dari dahinya.
"Kamu itu kenapa, mas? kok keringatan begini?"tanya Mira dengan membalikan tubuhnya dan menghapus keringat di dahi Arsyad.
"Aku, aku, mimpi buruk sekali, makanya aku langsung mencarimu, Mira. Di meja kerjamu, kamu sudah tak ada, di kamar mandi tidak ada. Aku khawatir sekali, Mira." Arsyad kembali memeluk istrinya dengan erat.
"Aku baik-baik saja, mas. Lihatlah."ucap Almira sambil memegang pipi Arsyad dengan dua tangannya.
"Mas mau aku buatkan teh?"tanya Mira.
"Tidak, aku ingin air putih saja."jawab Arsyad.
"Duduklah, mas. Aku akan ambilkan." Almira mengambilkan air putih untuk suaminya. Arsyad langsung meneguk habis air putih yang Mira ambilkan. Almira memakan roti selai buatannya dan meminum susu coklatnya.
Almira memandangi wajah suaminya yang masih agak gelisah, dia memegang tangan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya.
"Mas, sudah jangan khawatir, aku tidak apa-apa kok. Ayo ke kamar, aku juga sudah mengantuk." Alinea mencoba menenangkan kembali hati suaminya dan mengajaknya ke kamar.
"Aku takut, sayang. Benar-benar takut. Jangan tinggalkan aku, sayang. Aku janji akan selalu menjagamu."ucap Arsyad dengan mata berkaca-kaca. Almira bangun dari tempat duduknya dan mendekati suaminya. Dia memeluk suaminya, membenamkan wajah Arsyad di dadanya.
"Mas, sudah, mimpi hanya bunga tidur saja. Berdoalah, semoga akan baik-baik saja. Percaya padaku." Mira mengusap lembut kepala Arsyad.
Entah apa yang Arsyad mimpikan tadi, dia begitu khawatir dengan istrinya, hingga dia menangis di pelukan istrinya.
"Mas, kok menangis? Aku kan tidak apa-apa."ucap Mira.
"Rasanya sesak sekali, sayang. Mengingat mimpi itu."ucap Arsyad dengan suara serak.
"Kamu mimpi apa, mas?"tanya Mira.
"Kamu meninggalkanku Mira."jawabnya singkat, Arsyad masih saja memeluk erat istrinya.
"Ayo ke kamar."ajak Mira.
"Mau apa?"tanya Arsyad dengan senyuman menggoda.
"Tidur lah, mas. Memangnya mau apa?"tanya Mira.
"Aku mau kamu."ucap Arsyad.
"Mau lagi?"
"Iya. Boleh?" tanya Arsyad. Almira hanya menganggukkan kepalanya dan memeluk kaki suaminya. Iya, setelah mereka selesai sholat isya, mereka melakakukannya. Dan, sekarang Arsyad memintanya lagi.
"Perutmu tidak apa-apa?"tanya Arsyad kembali.
"Tidak."jawabnya.
Mereka masuk ke dalam kamarnya dan melakukannya sekali lagi. Arsyad memeluk tubuh istrinya erat. Dia begitu takut kehilangan istri yang di cintainya.
"Mira, aku takut, takut sekali kamu meninggalkanku. Bagaimana dengan ku jika kamu benar-benar pergi seperti di dalam mimpiku itu."gumam Arsyad dalam hati. Dia berkali-kali mencium kepala istrinya.
*********
Shita terlihat keluar dari kamar mandi dan mengahampiri suaminya yang sudah merebahkan diri di tempat tidur. Wajah Shita terlihat kecewa.
Vino memerhatikan wajah istrinya yang sepertinya menyimpan masalah.
"Sayang, kamu kenapa? keluar dari kamar mandi kok cemberut gitu?"tanya Vino sambil membelai rambut istrinya yang masih saja terduduk di tepi ranjang.
Shita tiba-tiba menyeka air matanya yang jatuh tak terduga di pipinya.
"Kenapa menangis?"tanya Vino lagi.
"Kak, maafkan Shita "ucapnya sambil terisak.
__ADS_1
"Maaf? Maaf kenapa, Shita?"tanya Vino yang sedikit bingung, karena istrinya tiba-tiba menangis.
"Kak, Shita menstruasi, Shita tidak hamil. Maafkan Shita belum bisa buat Kak Vino bahagia.
"Shita sayang, kenapa kamu memikirkan ini lagi. Kak Vino bahagia, sayang. Perkara anak, itu rezeki dari Allah. Kak Vino kan sudah bilang, sabar, Sayang. Semua pasti akan indah pada waktunya. Kita baru hampir satu bulan menikah. Yang sudah berpuluh-puluh tahun juga masih belum di kasih rezeki anak. Sudah, jangan menangis. Jangan memikirkan ini lagi, oke. Lihat Kak Naura, dia saja lumayan lama hamilnya, menikah hampir 5 bulan baru di kasih hamil, bukan?" Vino mencoba menenangkan Istrinya yang masih saja menangis.
"Sudah, ayo tidur. Ini sudah lewat jam 10 malam. Ingat kata-kata ku, jangan memikirkan itu lagi ya, sayang." Vino memeluk istrinya erat.
"Iya, kak, tidak. Tapi,"
"Tapi apa?"tanya Vino sambil mengecup kilas bibir Shita.
"Pembalut ku habis, kak."ucap nya.
"Apa ibu tidak punya? mintalah sama ibu dulu barangkali ada."ucap Vino.
"Kak Vino ngawur ih... Mana mungkin ibu datang bulan, Ibu kan sudah tidak datang bulan lagi, kak."ucap Shita.
"Oh iya, Kak Vino lupa. Ya sudah, aku keluar sebentar membeli pembalut untukmu, barangkali masih ada mini market yang buka 24jam." Vino langsung beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil kunci mobil untuk membelikan pembalut istrinya.
"Tidak apa-apa Kak Vino yang beli?"tanya Shita yang agak ragu.
"Tidak masalah, membeli untuk istriku sendiri kok. Mau beli yang merk apa, sayang?"tanya Vino.
"Yang merk seperti ini saja kak, beli yang night sama yang seperti ini." Shita menunjukan bungkus pembalutnya yang sudah habis yang masih ia simpan.
"Oke, tunggu di sini."Vino mengecup kening istrinya dan pergi mencari minimarket untuk membeli pembalut untuk Shita.
Vino keluar dari kamarnya, dia berjalan ke arah pintu depan, dia berpapasan dengan Papah Rico yang keluar dari kamarnya. Rico bertanya pada menantunya, kenapa dia berjalan kearah pintu gugup sekali.
"Vin, kamu malam-malam mau keluar ke mana?"tanya Papah Rico.
"Mau cari minimarket, pah."jawabnya.
"Mau apa?"tanya Papah Rico lagi
"Shita mendadak datang bulan, pembalutnya habis, jadi Vino mau membelikannya."ucapnya.
"Oh...ya sudah hati-hati."ucap Papah Rico.
"Iya pah. Vino pergi dulu." Vini keluar dari ruangnya, dia langsung melajukan mobilnya menuju minimarket terdekat untuk membeli pembalut. Beruntungnya masih ada minimarket yang buka 24jam.
Vino kembali dari minimarket dengan membawa dua kantung plastik. Dia juga membelikan sesuatu untuk istrinya. Vino mengunci pintu depan dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Shita masih terlihat menunggu Vino, dia masih duduk di tepi ranjang sambil mengecek email dari manajer Caffenya lewat ponselnya.
"Ini sayang pembalutnya."Vino memberikan kantong plastik yang berisi pembalut milik Shita.
"Terima kasih suamiku sayang. Itu apa lagi, Kak?"tanya Shita.
"Ini aku belikan coklat dan cemilan buat kamu, kamu kan doyan ngemil."jawab Vino.
"Ih....suamiku pengertian sekali, aku lagi ingin cemilan."ucapnya dengan senyum riang.
"Ya sudah, sana pakai pembalut dulu."
Shita masuk ke dalam kamar mandi dan memakai pembalut yang tadi di belikan suaminya. Shita dan Vino mengobrol hingga larut malam sambil menikmati cemilan yang tadi Vino beli. Shita sudah memasang wajah yang ceria lagi. Mereka sesekali bercanda dan tertawa bersama.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
♥️happy reading♥️