THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 76 "Tidak Nyaman"


__ADS_3

Ke esokan harinya Arsyad bersiap untuk mengantar Annisa ke rumah sakit. Satu minggu ini mereka hanya tinggal berdua saja di rumah, karena anak-anak mereka sedang di ruang opanya. Ya, mereka memang lebih dekat dengan Rico, mungkin karena Annisa dan Arsyad sibuk bekerja.


"Sayang, anak-anak sudah ke sekolah belum ya?"tanya Arsyad.


"Ini sudah jam 7 lebih, pasti mereka sudah mau berangkat," jawab Annisa.


"Aku kangen anak-anak, nanti habis pulang kantor kita ke papah ya," pinta Arsyad.


"Aku juga, biasa ramai di rumah, ini sepi sekali, kak. Padahal baru 3 hari mereka di rumah papah," ucap Annisa.


"Ya sudah, kita nanti ke rumah papah, tidur di rumah papah ya?"pinta Arsyad.


"Iya, kak. Kita bawa baju ganti ya?"


"Iya, nanti besok setelah antar anak-anak sekolah, kita gak usah ke kantor, seperti janjiku sama kamu, kita seharian di rumah," ucap Arsyad


"Oke." Annisa memeluk Arsyad sebelum menata baju ganti ke untuk di bawa ke rumah papah Rico.


"Kapan mau selesainya, sayang. Kamu meluk kakak terus,"


"Kakak sih, parfumnya ngangenin." Annisa semakin mengeratkan pelukannya pada Arsyad.


Entah kenapa dia begitu manja sekali dengan suaminya. Arsyad setiap hari di buat heran sama istrinya yang semakin manja.


"Annisa, setiap hari kamu selalu manja seperti ini, membuat aku semakin ingin selalu berada di sampingmu setiap waktu," gumam Arsyad yang juga semakin mengeratkan pelukan pada istrinya.


^^^^^


Mereka berangkat ke rumah sakit, tapi ternyata sespainya di Rumah Sakit, Dokter Iren, Dokter kandungan yang dulu menangani Almira dan Naura tidak praktik hari ini. Jadi mereka tidak jadi memeriksakan kandungan Annisa. Arsyad langsung menelepon ke rumah bersalin tempat praktik Dokter Iren. Beruntung besok sore buka, dan Arsyad langsung mendaftar agar besok sore segera ke tempat praktik Dokter Iren.


"Bagaimana, kak?" tanya Annisa.


"Ya besok buka, kita periksa besok gak apa-apa kan?"


"Iya tidak apa-apa, besok kan kita juga seharian di rumah, kak," ucap Annisa.


"Iya, sayang. Ini kamu langsung ke Butik, kan?"tanya Arsyad.


"Iya, kak, ada pekerjaan yang belum selesai kemarin," jawab Annisa.


"Kamu jangan terlalu lelah, sayang. Aku yakin kamu sedang hamil,"ucap Arsyad.


"Iya, sayang," jawab Annisa sambil mengusap pipi suaminya.


Arsyad mengantar Annisa sampai di butiknya, seperti biasa dia mengantar hingga ke dalam butik.


"Kak," panggil Annisa setelah Arsyad akan melangkahkan kakinya untuk ke kantor.


"Iya, sayang,"


"Apel Nisa ketinggalan di mobil,"


"Iya, tunggu di sini, kakak ambilkan,"


Sudah tiga hari ini, Annisa selalu membawa 3 buah apel ke butiknya. Dia memang sedang susah untuk makan nasi, dan Arsyad tau kalau Annisa sepertinya sedang hamil. Dulu waktu dia hamil Dio dan Shifa juga jarang sekali makan nasi, hanya buah dan sayur yang ia makan.


"Annisa, kamu suka sekali apel, lagi-lagi apel yang kamu minta, aku yakin kamu hamil, dulu Arsyil juga sering mengeluh padaku, kamu sulit untuk makan nasi saat hamil Dio dan Shifa," gumam Arsyad sambil mengambil apel di dalam mobil.


^^^^^


Malam hari di rumah Rico, Annisa dan Arsyad malam ini bermalam di rumah Rico bersama anak-anaknya. Shita dan Vino juga malam ini bermalam di rumah Rico. Semua cucu-cucu Rico sangat kompak, mereka tidak ingin opa nya kesepian sendirian di rumah, jadi mereka sering bergilir menemani opanya.


Arsyad dari tadi bersama Najwa dan Raffi di kamar. Entah kenapa, malam ini Arsyad ingin selalu dekat dengan dua malaikat kecilnya itu.


"Abah, bagus tidak hasil nya?" Najwa menunjukan beberapa desain baju-baju yang ia gambar.


"Bagus, wah Najwa benar nih ingin jadi desainer?" tanya Arsyad.


"Iya, beneran bagus kan, Bah?"


"Iya sayang ini bagus sekali," jawab Arsyad.


"Najwa, Raffi, kalian sayang sama bunda?"


"Sayang sekali," jawab mereka.


"Kalau sayang, jangan buat bunda sedih, ya?"


"Itu pasti, Abah. Bunda sudah seperti ibu kandung Najwa, Bah,"


"Iya, apalagi bunda sayang sekali sama kita," imbuh Raffi.


"Makanya, kalian jangan pernah buat bunda sedih, jangan mbuat bunda kecewa dan menangis, karena bunda sayang kalia, jadi kalian juga harus menyayangi bunda," tutur Arsyad.


"Kalau Najwa gak sayang, Najwa gak memaksa Abah untuk menikah lagi sama bunda," ucap najwa.


"Ya sudah, ayo kalian tidur, ini sudah malam. Abah ingin memeluk kalian malam ini." Arsyad tidur di tengah-tengah Najwa dan Raffi.


"Abah, Najwa kangen ke rumah ummi, boleh tidak kalah nanti suatu waktu Najwa ke rumah ummi?"tanya Najwa.


"Boleh lah, setiap hari juga boleh, sayang,"

__ADS_1


"Raffi juga ya, bah?" timpal Rafi.


"Iya sayang boleh, itu kan rumah kalian juga," ucap Arsyad.


Arsyad memandangi kedua anaknya yang sudah tertidur pulas di pelukannya, sudah lama sekali Arsyad tidak memanjakan anak-anaknya. Sekarang Najwa dan Raffi sudah beranjak dewasa. Mereka sudah bukan anak kecil yang setiap hari ia timang dan ia gendong.


^^^^^


Shifa dari tadi sibuk dengan laptop kesayanganny. Ya, hobi dia menulis, entah menulis puisi, cerita, dan lainnya. Dio hanya memandangi kakaknya yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Kak, kamu besok ada ulangan, kan? Gak belajar malah nulis," tukas Dio.


"Sudah, tadi. Jangan ganggu kakak, sudah urusi saja chat kamu sama Rania, salam dari kakak, kapan main ke sini,"ucap Shifa.


"Apaan sih kak, jangan gitu lah, aku sama Rania berteman saja," kilah Dio.


"Yakin hanya berteman?"


"Iya, ih…udah ah jangan tanya itu" tukas Dio.


"Kamu bilang berteman saja, tapi chatnya pakai sayang-sayangan, jangan pacaran dulu, jangan buat bunda dan Abah khawtir kamu pacaran," tutur Shifa.


"Iya, kamu cerewet sekali seperti Mba Lina," tukas Dio.


"Emang Mba Lina cerewet?"tanya Shifa.


"Iya, baru saja sebentar berenang, udah di panggil-panggil, nanti masuk angin lah, itulah," jawab Dio.


"Itu bukan cerewet tapi peduli, Dio. Sudah jangan ganggu kakak,ah," tukas Shifa.


Annisa dari tadi memerhatikan kedua anaknya yang sudah beranjak dewasa itu bedebat. Ya seperti itu mereka, kalah bersama ada sedikit perdebatan kecil yang lucu jika di dengarkan. Annisa masuk ke dalam kamar mereka dan duduk di samping Dio yanh sibuk dengan ponselnya.


"Dio, jangan mainan hp terus, kamu sudah belajar?"tanya Annisa.


"Sudah bunda, sayang. Bunda tumben gak pacaran sama Abah, biasanya mesra-mesraan sama Abah," ledek Dio.


"Idih, kamu kayak tau pacaran itu apa." Annisa menarik hidung anak laki-lakinya itu.


"Tau lah, dia kan pacaran sama Rania," timpal Shifa.


"Kakak, apaan sih, jangan seperti itu, dia teman Dio, lagian Rania sudah punya pacar," ucap Dio.


"Jangan pacaran dulu, kamu sekolah saja belum bener," ucap Shifa.


"Belum bener bagaimana, kak? Sekolah benar-benar di bilang gak bener," tukas Dio.


"Sudah, jangan berdebat. Ini juga sudah malam, Shifa. Kamu ngetik saja dari tadi," tegur Annisa.


"Bunda, bengkel ayah nanti Dio yang ngurus ya,"pinta Dio.


"Iya, nanti buat kamu, sudah tidurlah, ini sudah malam, sayang," titah Annisa


Annisa tidur di samping Dio dan memeluknya, sedangkan Shifa masih saja sibuk dengan laptopnya. Annisa mengusap kepala Dio dan mencium puncak kepalanya.


"Dio sayang sama abah?"tanya Annisa.


"Sayang, lah, masa gak. Kalau gak Dio gak mau bunda nikah sama Abah, ya kan, Kak Shifa?"


"Iya, bunda aneh tanya nya. Untuk apa Shifa menolak mentah-mentah paman Leon dulu, itu semua agar bunda sama ayah bisa menikah," ucap Shifa.


"Kalau kalian sayang sama abah, kalian jangan mengecewakan abah, oke." Annisa memeluk Dio.


"Iya bunda," jawab mereka.


Shifa selesai mengetiknya, dia mematikan laptopnya dan tidur di samping bundanya dan memeluknya. Annisa beralih memeluk putrinya itu. Dan, malam ini, Annisa dan Arsyad tidur bersama anak-anak mereka.


^^^^^


Pagi hari menjelang subuh, Arsyad di kagetkan oleh Najwa yang menangis setelah keluar dari kamar mandinya. Arsyad melihat Najwa menyembunyikan celana dalamnya yang ia habis pakai tadi. Dan, hari ini, Najwa di kagetkan dengan bercak merah seperti darah di celana dalamnya. Dia menangis dan memeluk abahnya. Karena Arsyad masih berada di kamar bersama Raffi yang akan melakukan sholat subuh.


"Abah," panggil Najwa dengan lirih dan dengan raut wajah yang panik sekali.


"Ada apa? Kok kamu menangis?" tanya Arsyad.


"Abah ini?" Najwa memperlihatkan celana dalamnya yang ada bercak darahnya itu.


"Raffi, bisa kamu keluar dan panggilkan bunda ke sini?"titah Arsyad pada Raffi.


"Ya Allah, anak ku sudah gadis, dia sudah dewasa. Aku harus bisa menjelaskan ini semua, dan aku butuh Annisa," gumam Arsyad sambil memeluk Najwa yang menangis.


"Abah, itu darah apa?"tanya Najwa dengan lugu nya.


"Apa Najwa menstruasi, abah?" tanya Najwa lagi.


"Iya, kamu datang bulan, artinya kamu sudah dewasa, putri Abah sekarang sudah menjadi wanita dewasa," jelas Arsyad.


"Najwa takut abah, katanya kalau menstruasi itu sakit?"tanya Najwa.


"Ada yang sakit ada juga yang tidak, makanya Najwa kalau sedang menstruasi jangan kebanyakan makan es, pedas, yang asem-asem, nanti Najwa sakit perutnya," tutur Arsyad.


Najwa masih memeluk erat abahnya dan semakin terisak. Dia masih sedikit gemetar karena panik melihat ada darah di celana dalamnya.

__ADS_1


"Abah manggil bunda?"tanya Annisa yang sudah memakai mukenah karena akan sholat subuh berjamaah.


"Iya, ke sini sebentar," pinta Arsyad.


"Najwa kenapa kamu menangis, sayang?"tanya Annisa.


"Bunda….." Najwa memeluk bundanya dan menangis di pelukan bundanya.


"Kenapa kamu mengangis?" tanya Annisa lagi.


"Najwa menstruasi, bunda," ucap bunda dengan suarasl serak.


"Hei….jangan menangis, itu artinya kamu sudah dewasa, sayang,"


"Tapi, bunda. Katanya sakit kalau menstruasi?" tanya Najwa lagi.


"Iya, ada yang sakit ada yang tidak. Makanya, Najwa harus jaga pola makan, agar gak sakit perutnya," jelas Annisa.


"Lalu kalau menstruasi kan pakai pembalut, Najwa gak bisa," ucapnya yang sudah sedikit lega karena pelukan Annisa.


"Nanti bunda ajari, bunda tanya Tante Shita dulu, ya? Ada pembalut atau tidak. Najwa tunggu di sini, sudah jangan menangis lagi, semua perempuan pasti mengalami menstruasi, sayang," jelas Annisa.


"Iya bunda," jawab Najwa dan duduk di tepi ranjang.


"Sudah, Abah tinggal ke belakang ya, jangan menangis lagi, nanti bunda ke sini."


"Iya Abah,"ucap Najwa lirih.


Arsyad melangkahkan kaki untuk kelr dari kamar Najwa dan berjalan menuju Annisa dan Shita yang sedang berbicara soal Najwa yang tengah menstruasi.


"Untung kakak sama-sama sedang datang bulan, aku sudah memiliki keponakan yang dewasa, sebentar lagi pasti Shifa,"ucap Shita.


"Kakak ingat pertama kamu menstruasi dulu, heboh sekali, teriak-teriak dari kamar, menangis histeris seperti itu." Arsyad mengingatkan kembali pada Shita saat pertama kali Shita menstruasi.


"Ih…kakak, malu tau, kalau ingat itu, udah gitu papah malah tertawa lihat aku nangis," ucap Shita


"Pasti kalau sekarang ekspresinya saat menstruasi, "Yah, aku menstruasi, kak Vino. Maaf jatah kakak Minggu ini libur." Pasti seperti itu bilangnya," goda Arsyad pada adiknya.


"Kakak apaan sih," tukas Shita.


"Ayo Nis, ke kamar Najwa, suamimu tambah jahil sekarang, di kasih obat apa sih, Nis, kakak jadi seperti itu sekarang," ucap Shita


"Gak tau juga, ayo kak ke kamar najwa," ajak Annisa.


Shita dan Annisa ke kamar Najwa dengan membawa pembalut untuk Najwa. Shita langsung mendekati keponakannya yang masih duduk di tepi ranjang sambil melamun.


"Cie…keponakan Tante udah dewasa. Kamu sudah dewasa, kamu sudah tidak boleh lagi malas-malasan ibadahnya. Dan jangan manja lagi, ya?" Shita memeluk Najwa dan mencium kepalanya.


"Iya Tante,"


"Sudah jangan cemberut lagi, sekarang lihat bundamu, tuh bunda mau ajari kamu pakai pembalut," ucap Shita.


Annisa dengan telaten mengajari Najwa memasang pembalut, dan dengan cepat Najwa mengerti caranya. Najwa masuk ke kamar mandi dan memakai pembalutnya. Dia merasa tidak nyaman sekali, karena belum terbiasa memakai pembalut. Da mulai sekarang dia harus membiasakan.


"Bunda, Tante, tidak nyaman sekali rasanya pakai pembalut," ucap Najwa.


"Iya, memang seperti itu, kalau baru pertama, nanti kamu juga terbiasa, sayang," jawab Annisa.


Annisa keluar dari kamar Najwa karena sudah di panggil Arsyad untuk sholat subuh, dan Shita menemai Najwa yang sedang galau karena tidak nyaman sekali pakai pembalut.


"Abah, mana Kak Najwa?"tanya Shifa.


"Kak Najwa sedang udzur sayang, sedang halangan, tidak sholat," jawab Annisa.


"Kak Najwa sudah menstruasi?"tanya Shifa.


"Iya, baru tadi," jawab Arsyad.


"Kok Shifa belum, ya?" keluh Shifa.


"Nanti juga kalau sudah waktunya pasti menstruasi kok, Ayi sholat dulu, sudah jam 5 ini," ucap Arsyad


Tidak terasa Arsyad sudah memiliki anak gadis sekarang. Dia benar-benar beruntung, menginjak Najwa dewasa, Arsyad memiliki Annisa yang bisa di ajak sharing dengan Najwa.


"Almira, sungguh mulia hatimu, inilah tujuan kamu agar aku menikah lagi, karena anak perempua kita juga butuh sosok ibu yang baik. Terima kasih Almira ku sayang, kamu sudah menitipkan wanita berhati malaikat seperti Annisa pada hidupku, di pernikahan ke duaku," gumam Arsyad sebelum melaksanakan sholat bersama keluarganya.


.


.


.


.


.


.


♥️happy reading♥️


like dan vote nya dong....

__ADS_1


aku kasih kisah Najwa pertama mestruasi dulu sebelum naik roller coaster sama ontang anting.pasti kalian semua punya cerita unik saat pertama kali menstruasi, kan? coba ceritain.. 🤭


__ADS_2