
Setelah selesai membayar di kasir Arsyad mengajak Rayhan dan Lintang kembali ke kantor. Arsyad juga mngajak Annisa ikut di mobilnya biar nanti sekalian menemuin Rico di caffe Shita. Mereka berjalan menuju ke arah mobil Arsyad.
"Ray kamu duduk di depan dengan Kak Arsyad, biar aku dan Lintang yang duduk di belakang,"ucap Annisa dengan segera, karena Annisa melihat Lintang akan duduk di depan di samping Arsyad.
"Oke, Lintang sama Nisa ya di belakang,"ucap Rayhan.
"Iya, Pak Ray,"ucap Lingtang dengan berat hati.
"Nyebelin sekali adik iparnya Pak Arsyad, aku di suruh di belakang dengan dia,"ucap Lintang dalam hati dengan kesal.
Lintang duduk di samping Annisa, dia menatap Annisa dengan tatapan sini, seakan tidak suka dengan Annisa.
"Aku tidak akan membiarkan kakak iparku dekat dengan kamu,"gumam Annisa dalam hati
Tak lama kemudia mobil Arsyad sampai di depan kantornya.
"Ray, aku langsung menemui papah dengan Annisa, ya?"ucap Arsyad..
"Oke, hati-hati, good luck,"jawab Reyhan.
"Maksudmu?"tanya Arsyad.
"Ah…nanti kalian juga tau kalau sudah di sana, sudah buruan berangkat, kasihan papah mu sudah menunggu,"ucpa Rayhan.
"Eh…Lintang ayo turun, mereka mau pergi berduaan, mau minta restu mereka,"ucap Rayhan dengan bercanda. Tapi hati Lintang tidak merasa seperti bercanda, hati Lintang sangat sesak mendengar ucapan Rayhan.
"Oh…iya Pak Ray,"jawab Lintang sambil turun dari mobil Arsyad.
"Annisa, pindah ke depan…!"titah Arsyad
"Iya, kak."dengan segera Annisa pindah duduk di samping Arsyad.
Rayhan dan Lintang kembali masuk ke kantor. Lintang berjalan cepat di depan Rayhan, dia merasakan sesak di dadanya melihat Arsyad yang perhatian dengan Annisa.
"Bodohnya aku, aku menyukai Pak Arsyad, aku tidak akan menyerah, Lintang bukan orang yang mudah menyerah,"gimana Lintang dalam hati dengan mendudukan dirinya di kursi.
^^^^^
Arsyad majukan mobilnya menuju ke cafe Shita, mereka saling berdiam diri, tidak saling bicara. Arsyad memikirkan ucapan Rere, kalau Annisa di jodohkan pamannya waktu di Berlin, Arsyad tidak menyangka Annisa mah di jodohkan oleh pamannya.
"Kasihan Arsyil, jika wanita yang ia cintai akan menikah lagi,"gumam Arsyad dalam hati.
Sedangkan Annisa, dia memikirkan bagaimana caranya menjauhkan Lintang dari kakak iparnya itu.
"Aku harus menjauhkan Kak Arsyad dari Lintang, kasihan Kak Mira, kasihan Najwa dan Raffi juga, kalau dia dapat ibu sambung seperti Lintang,"gumam Annisa dalam hati.
"Nis, Kak,"ucap mereka bersama di tengah-tengahnya heningnya suasana.
"Ada apa, kak?"tanya Nisa.
"Kamu sudah di lamar seseorang?"tanya Arsyad.
"Kenapa tanya seperti itu, kak?" Annisa balik bertanya pada Arsyad.
"Tadi Rere bilang seperti itu,"jawab Arsyad.
"Seperti itu bagaimana?"tanya Annisa.
"Katanya kamu di lamar sama rekan bisnis pamanmu, bener seperti itu, Nisa?"tanya Arsyad.
"Oh…Leon? Dia rekan bisnis sepupuku, Zidane. Iya, dia melamarku, ada apa kak?"tanya Annisa.
"Tapi jari manis mu masih memakai cincin dadi Arsyil,"ucap Arsyad.
"Iya, masih aku pakai dan akan selalu aku pakai, karena tak ada yang bisa menggantikan Arsyil di hatiku, dalam hidupku, hanya Arsyil yang Nisa cintai,"ucap Annisa.
"Lalu Leon?"tanya Arsyad.
"Leon, dia tak jadi melamarku,"ucap Annisa.
"Kenapa tidak jadi?"tanya Arsyad.
"Yang pertama anak-anak tidak mau dan tidak setuju, yang kedua dia akhirnya sadar kalau aku tidak bisa menikah dengannya karena aku tidak mencintainya,"jelas Annisa.
"Kalau anak-anakmu setuju, apa kamu akan menikah dengan Leon?"tanya Arsyad lagi.
"Kak, kamu seperti polisi sedang mengintrogasi saja sih..!"tukas Annisa.
"Jawab dong…!"ucap Arsyad
"Kalau anak- anak setuju, mau bagaimana lagi, kalau mereka bahagia aku bahagia, karena bahagiaku ada pada mereka,"ucap Annisa. Arsyad hanya manggut-manggut saja mendengar Annisa menjawab pertanyaannya.
"Kalau kakak? Itu Lintang calon kakak?"tanya Annisa.
"Lagi-lagi Lintang yang kamu tanyakan, dia karyawanku, Annisa,"ucap Arsyad.
"Tapi sepertinya dia suka kamu, kak,"ucap Annisa.
"Kata siapa?"tanya Arsyad.
"Kelihatannya saja, tadi saja pas aku nyuruh duduk di belakang bersamaku, dia melirik ku tajam, seperti kesal denganku,"ucap Annisa.
"Mungkin kamu saja yang merasakan seperti itu,"ucap Arsyad.
"Mungkin, kalau dia suka kakak, apa kakak mau menikahinya, menggantikan kak Mira untuk jadi umminya Najwa dan Raffi?"tanya Annisa.
"Tidak lah..! Tidak akan ada yang menggantikan Almira, Annisa…!"tukas Arsyad
__ADS_1
"Syukurlah, aku kira kakak suka sama Lintang,"ucap Annisa.
"Kamu itu, tidak Annisa,ayo turun," Arsyad mengajak turun Annisa karena sudah sampai di depan cafe Shita.
Mereka turun bersama dan sudah mendapati mobil Rico yang. parkir di depan cafe Shita. Annisa dan Arsyad berjalan beriringan masuk ke dalam cafe Shita. Rico sudah menunggu di sebuah meja yang Rico pilih, dia terlihat duduk dengan putrinya, yaitu Shita. Arsyad dan Annisa berjalan menuju ke meja Rico dan Shita.
"Pah, papah sudah lama?"tanya Arsyad.
"Sekitar 15 menit yang lalu, duduklah,"ucap Rico.
Arsyad dan Annisa duduk di depan Rico.
"Kamu sudah makan, Annisa?tanya Rico.
"Sudah, pah,"jawab Annisa.
"Papah, sepertinya papah ingin berbicara penting sekali,ucap Arsyad.
"Iya, memang sangat penting sekali,"jawab Rico.
"Lalu, papah akan bicara apa?"tanya Annisa.
"Emm…sebelumnya papah minta maaf, mungkin yang ingin papah sampaikan saat ini, akan menjadi beban untuk kalian, papah tau kalian pasti akan menolaknya,"ucap Rico.
"Terus, apa yang ingin papah sampaikan?"tanya Arsyad.
"Papah ingin melihat kalian menikah,"ucap Rico. Arsyad dan Annisa saling menatap tidak percaya, kalau Rico menyirih mereka menikah.
"Pah, Arsyad tidak salah dengar?"tanya Arsyad.
"Iya, kamu tidak salah dengar,"ucap Rico.
"Annisa tidak bisa, pah,"ucap Annisa
"Arsyad juga tidak bisa,"ucap Arsyad.
"Sekalipun ini permintaan Almira kalian tidak mau?"tanya Rico.
"Maksud papah?"tanya Arsyad.
"Ini semua permintaan Almira dan permintaan anak-anak kalian juga, sebelum Almira meninggal, dia sempat menyampaikan pesan ini pada papad. Dia juga memberikan surat pada Najwa dan Shifa, ini surat dari Almira yang ia berikan pada Najwa dan Shifa," Rico memberikan surat milik Najwa dan Shifa dari Almira.
Arsyad membaca surat milik Najwa dan Annisa membaca surat milik Shifa. Arsyad dan Annisa saling memandang dan mengangkat bahu mereka setelah selesai membaca surat dari Almira untuk anaknya.
"Kalian percaya, kan? Kalau ini semua permintaan Almira?"tanya Rico.
"Iya, pah, Arsyad percaya. Arsyad tau tulisan Almira seperti apa, ini benar tulisan Almira. Tapi, maaf, Arsyad tidak bisa,"ucap Arsyad.
"Iya, Annisa juga tidak bisa,"ucapnya.
"Walaupun itu permintaan terakhir Almira? Kalian tidak mau mengabulkannya?"tanya Rico.
"Nis, papah tau itu, tapi anak-anakmu juga butuh bimbingan seorang ayah. Almira meminta kamu untuk Arsyad juga demi kebaikan anak-anak kalian, karena kalian sudah saling mengerti dan kalian sayang dengan mereka, sayang dengan tulus tanpa meminta balasan,"tutur Rico.
"Pah, jangan paksa kami. Arsyad juga tidak bisa, Arsyad sudah menganggap Annisa adik Arsyad, sama seperti Shita dan Rachel. Dan Arsyad sudah menganggap Dio dan Shifa seperti anak Arsyad sendiri. Semua tidak butuh pernikahan, pah. Karena Arsyad sayang mereka, sayang Dio dan Shifa,"ujar Arsyad.
"Kak, permintaan Kak Mira dan papah ada benarnya juga, tidak baik juga, kalian sering bersama, mengurus anak-anak bersama tapi tanpa menikah. Nanti akan menjadi fitnah, kak,"tutur Shita.
"Kak Shita, aku tidak bisa kak, aku juga sayang Najwa dan Raffi seperti aku menyayangi Dio dan Shifa. Rasa sayang itu sama, kak, tidak ada bedanya untuk mereka,"ucap Annisa.
"Nisa, kakak, jika semua itu anak-anak yang meminta kalian untuk bersatu bagaimana?"tanya Shita.
"Annisa tidak bisa, kak, maaf,"ucpa Annisa.
"Kakak juga tidak bisa, Ta,"ucap Arsyad.
"Abah, kalbulkan permanitaan terakhir ummi dan permintaan kami, Abah. Kami ingin Abah dan Tante Nisa menikah,"ucap Najwa dan Raffi.
"Iya, bunda, kabulkan permintaan terakhir budhe dan permintaan kamai, bunda. Kami ingin bunda menikah dengan pakde,"ucap Dio dan Shifa.
"Kalian di sini juga? Sini dekat Abah, Najwa, Raffi. Dio, Shifa, sini dekat pakde." Arsyad memanggil mereka menyuruh mereka mendekati Arsyad.
"Nak, kalian itu anak Abah, anak pakde, tanpa Abah atau pakde menikah dengan Bunda atau Tante Nisa, kalain tetap anak Abah, anak pakde. Dio, Shifa, kalian bisa panggil pakde dengan sebutan Abah, sama seperti Kak Najwa dan Kak Raffi,"jelas Arsyad.
"Iya, sayang,kalian juga anak-anak bunda, anak-anak tante. Raffi dan Najwa, kalian bisa memanggil Tante dengan sebutan bunda, sama seperti Dio dan Shifa,"ucap Annisa.
"Kami maunya kalian menikah,"ucap mereka.
"Iya, Shifa ingin bunda dan pakde mengabulkan permintaan terakhir budhe,"ucap Shifa.
"Najwa juga ingin Abah dan Tante menikah, seperti yang ummi minta,"ucap Najwa. Annisa dan Arsyad saling menatap.
Arsyad dan Annisa tidak tau harus menjawab apa, anak-anak mereka begitu memaksakan mereka untuk menikah.
"Almira, aku bisa mengabulkan apapun permintaan kamu, asal jangan menikah lagi, aku tidak bisa, sayang. Tidak karena Annisa cinta pertamaku, aku harus kembali mencintainya lagi, aku tidak bisa, dulu mungkin cintaku sangat besar untuknya, tapi sekarang, aku hanya mencintaimu, Almira, hingga ujung usiaku aku hanya mencintaimu."gumam Arsyad.
"Kak Mira, aku hanya mencintai Arsyil, aku tidak bisa menikah dengan kak Arsyad, kak. Tidak akan pernah bisa."gumam Annisa.
Mereka diam sejenak, Arsyad hanya menundukan kepalanya, begitu juga dengan Annisa, mereka benar-benar tidak bisa mengabulkan permintaan Almira dan anak-anak mereka. Di hati mereka hanya ada satu orang yang mereka cintai. Arsyad hanya mencintai Mira, dan Annisa hanya mencintai Arsyil.
"Kalian tetap tidak mau memenuhi permintaan Almira dan anak-anak kalian?"tanya Rico, namun mereka hanya terdiam, dan menundukan kepalanya.
"Kakak, Nisa, Shita mohon, kabulkan permintaan Kak Mira dan anak-anak kalian,"ucap Shita.
"Maaf, papah, Shita dan anak-anak, aku tidak bisa mengabulkan permintaan Almira dan kalian semua,"ucap Arsyad.
"Annisa juga,"ucpa Annisa.
__ADS_1
"Papah minta, kalian pikirkan baik-baik, jangan menggunakan ego kalian masing-masing, karena ego kalian akan berdampak pada anak-anak kalian,"ucap Rico.
"Arsyad tidak akan memikirkan lagi, Arsyad memang tidak bisa, pah,"ucap Arsyad.
"Annisa juga tidak bisa, pah," ucap Annisa
"Kalian sama-sama keras kepalanya!"tukas Rico.
Merkea diam kembali, dan mencoba memikirkan permintaan Almira dana anak-anaknya.
"Nis, kita butuh bicara,"ucap Arsyad.
"Apalagi yang perlu di bicarakan, kak,"jawab Annisa.
"Kami pamit ke kantor lagi, nanti kita bahas di rumah, ayo Nis, ikut kakak." Arsyad mengajak Annisa pergi dari cafe Shita
"Abah, Tante, kami masih berharap kalian bisa menikah,"ucap Najwa dan Raffi.
"Kami juga, kami masih berharap, pakde dan bunda bisa menikah,"ucap Dio dan Shifa
"Sayang, kami ke kantor lagi, ya?pamit Arsyad pada mereka.
"Kalian pulang harus mengatakan, kalau Abah dan Tante mau menikah,"ucap Najwa.
"Nak, sudah, jangan bahas ini lagi, ya?beri kami waktu untuk berpikir, sayang,"ucap Arsyad
"Iya, kalian hati-hati,ya,"ucap Najwa.
Arsyad dan Annisa mencium anak mereka, mereka pamit unik ke kantor lagi. Arsyad berjalan mendahului Annisa dengan langkah yang cepat. Annisa berjalan cepat mengikuti Arsyad ke parkiran mobil.
"Kakak, jangan cepat-capat jalannya, aku pke heels!"seru Annisa yang masih tertinggal jauh di belakang Arsyad.
"Siapa suruh pakai Heels,"tukas Arsyad sambil melipat kedua tangannya di atas perut.
Annisa bejalan cepat, dengan mulut yang tak henti-hentinya berbicara.
"Tidak ada yang menyuruh, aku memang suka pakai heels!"tukas Annisa di depan wajah kakak iparnya yang berdiri tegap di depan mobilnya.
"Masuk!"titah Arsyad.
"Ih, kasar,"tukas Annisa.
"Jiwa angkuh dan sombongnya keluar lagi nih orang, jangan kepedean aku akan jatuh hati padamu dan mau menikah denganmu, kakak iparku yang angkuh dan sombong! Kalaupun sampai terjadi menikah, itu karena anak-anaku dan anakmu juga."gumam Annisa dalam hati dengan wajah yang kesal dengan kakak iparnya.
"Kenapa diam?"tanya Arsyad.
"Memang aku harus bicara apa!"tukas Annisa.
"Kok kamu sewot,"tukas Arsyad.
"Yang sewot siapa, salah sendiri kasar,"tukas Annisa.
"Siapa yang kasar, memang jalanku cepat, memang aku bicaranya seperti ini, lantas apa yang di permasalahkan?"tanya Arsyad sambil memandangi wajah Annisa yang sudah murka pada dirinya. Annisa sedikit melirik tajam ke arah kakak iparnya itu.
"Tidak usah melirik,"tukas Arsyad.
"Kak, sebenarnya apa yang ingin kakak bicarakan? Kakak malah marah-marah tidak jelas,"ucap Annisa.
Arsyad membuang napasnya dengan kasar, dia menyandarkan dirinya di jok mobil.
"Aku tidak tau, apa maksud Almira meminta semua ini, aku juga tidak tau, kenapa anak-anak meminta aku dan kamu untuk menikah,"ucap Arsyad dengan mengusap kasar wajahnya.
"Aku juga tidak tau, kak,"ucap Annisa.
"Aku tidak bicara dengan kamu,"ucap Arsyad.
"Ya sudah, aku keluar, aku pulang pakai taxi,"tukas Annisa dengan membuka pintu mobilnya.
Arsyad menahan tangan Annisa, menyuruhnya agar tetap berada di dalam mobil.
"Jangan keluar, aku mau bicara,"ucap Arsyad.
"Tadi katanya tidak bicara dengan aku?"tanya Annisa.
"Kak, kita jelaskan kepada anak-anak, kalau kita tidak bisa menikah,"ucap Annisa.
"Iya, nanti kita akan jelaskan, nanti malam kamu masih menginap di rumah papah, kan?"tanya Arsyad.
"Iya, aku masih menginap di rumah papah, sampai rumahku selesai di tata lagi,"ucap Annisa.
Annisa kembali terdiam, Arsyad pun terdiam dengan menatap ke arah depan, hingga sampai saat ini, Arsyad belum melajukan mobilnya untuk pergi dari Caffe Shita. Mereka masih berada di dalam mobil yang masih berhenti di depan caffe, hingga Rico melihat mobil Arsayd yang masih di depan Caffe.
"Mereka ternyata bicara di dalam mobil, aku kira pergi ke mana."gumam Rico dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
♥️happy reading♥️