
Gaun yang cantik dan anggun sudah melekat di tubuh Annisa, dia begitu anggun memakai gaun pengantinnya. Rachel dan Shita begitu kagum melihat kecantikan Nisa, begitupun Almira. Iya, mereka menemani Annisa dari pagi-pagi sekali.
"Subhanallah cantiknya kamu Nis."puji Rachel.
"Terima kasih Chel."ucap Nisa.
"Nisa, senyum dong, kamu dari tadi aku lihat sepertinya resah sekali."ucap Shita.
"Masa iya, kak? Aku biasa saja kok."ucap Nisa.
"Kamu cantik sekali, sayang. Senyum dong, janah di lipat wajahnya. Hari ini hari bahagiamu, sayang."ucap Mira sambil menyentuh pipi Nisa.
"Kak, Nisa takut."ucap Nisa dengan sedih.
"Takut kenapa?"tanya Mira.
"Kak, perasaan Nisa sudah seminggu ini tidak enak sekali, kak."ucapnya.
"Sudah, ini cuma perasaanmu saja. Semua akan baik-baik saja, sayang."Mira mencoba menenangkan Nisa.
"Iya Nis, semuanya akan baik-baik saja, percayalah."sahut Rachel.
"Senyum dong Nis, sudah cantik masa wajahnya di tekuk terus."Shita memeluk calon adik iparnya. Semua mencoba menenangkan hati Nisa yang gelisah. Tapi tetap saja Nisa masih terlihat gelisah sekali.
Papah Rizal masuk ke dalam kamar Annisa. Dia melihat putrinya sangat cantik sekali.
"Princess papah, cantik sekali kamu, nak. Kenapa wajah kamu seperti gelisah, sayang."ucap Papah Rizal.
"Pah, apa Arsyil sudah datang?"tanya Nisa.
"Belum, mungkin sebentar lagi."jawab Papah Rizal.
"Pah kan sebentar lagi akad, kenapa belum datang."ucap Nisa.
"Sabar, kata Arsyad akan berangkat ke sini." Papah Rizal mencoba menenangkan hati putri ya ya g sedang gelisah.
"Oh iya, Mira,Shita dan Rachel, om mau bicara dengan Nisa, kalian bisa menunggu Nisa di depan saja?"pinta Om Rizal.
"Iya Om, kami keluar dulu tidak apa-apa."jawab Mira.
Mira dan lainnya keluar dari kamar Nisa.
Papah Rizal menatap wajah putrinya yang sudah terlihat cantik sekali.
"Nak, papah bahagia sekali kamu akan menikah dengan Arsyil, kamu tidak salah memilihnya, dia laki-laki yang bertanggung jawab yang akan membahagiakan mu hingga akhir hidupnya. Kamu harus patuh padanya, taatilah suami mu, nak. Dia yang akan menggantikan papah untuk membimbingmu dan menjagamu kelak."ucap Papah Rizal dengan memeluk Nisa dari samping.
"Kenapa papah bicara seperti itu?"tanya Nisa
"Wajar papah bicara seperti itu, karena papah bahagia, Nisa. Papah bahagia sekali bisa melihat kamu menikah dan menikahkan kamu dengan laki-laki baik seperti Arsyil."jelas Papah Rizal.
"Pah, terima kasih, papah sudah menyayangi Nisa. Nisa sayang papah, sehat selalu ya pah, sampai nanti Nisa punya Anak."ucap Nisa.
"Iya sayang, maafkan papah,papah selalu meninggalkanmu sendiri di rumah, papah tidak bisa menjaga kamu setiap hari. Papah selalu sibuk dengan bisnis papah hingga papah melupakanmu. Tapi, papah yakin Arsyil akan selalu menjagamu. Papah yakin itu."ucap Papah Rizal.
"Pah, jangan bicara seperti itu, papah seperti itu juga untuk Nisa, agar Nisa bisa hidup nyaman, bisa sekolah sampai memperoleh gelar yang Nisa inginkan, dan sekarang Nisa mempunyai butik sendiri."ucap Nisa dengan meneteskan air mata.
"Jangan menangis, nanti cantikmu hilang. Sudah papah ingin kamu bahagia selalu,nak."
"Iya pah."
Mamah Dewi masuk ke dalam kamar Nisa, dia melihat putrinya sedang menangis dan bersandar pada bahu papahnya.
"Putri mamah yang cantik, kenapa menangis? Ini hari bahagiamu, sayang. Jangan menangis, ayo keluar, itu Penghu sudah datang, Arsyil juga sudah datang."ucap Mamah Dewi.
"Benarkah Arsyil sudah datang?"tanya Nisa.
"Iya sudah. Ayo keluar."ucap Mamah.
"Iya mah."ucap Nisa.
__ADS_1
"Nisa sayang, sebentar, mamah ingin memelukmu."Mamah Dewi menghentikan langkah Annisa. Tubuh Annisa di rengkuh hangat oleh mamahnya.
"Nisa, kamu mau jadi seorang istri, nak. Mamah cuma mau pesan, Sayangi suamimu, patuhilah suamimu, nak. Kelak dia yang akan menjagamu. Mamah sayang sekali sama Nisa, kamu harus jaga kehormatan suamimu, nak. Selalu dampingi dia dalam suka dan duka."ucap Mamah Dewi. Annisa menangis di pelukan mamahnya.
"Mamah, Nisa akan ingat pesan mamah. Nisa juga sayang sekali dengan Mamah.
"Maafkan mamah, nak. Mamah sering meninggalkanmu sendiri di rumah demi menemani papahmu menjalankan bisnisnya. Mamah percaya Arsyil akan selalu menjagamu, dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, Nak. Bahagiakan dengan suamimu, sayang."ucap Mamah Dewi.
"Iya mah."
"Hapus air matamu, nak. Ayo kita keluar, Arsyil sudah menunggu mu."ucap Papah Rizal.
Annisa keluar kamarnya dengan diapit orang tuanya. Annisa berada di tengah-tengah papah dan Mamahnya. Mata Annisa terlihat sembab sekali, dari tadi dia menangis di kamarnya bersama kedua orangtuanya.
Annisa duduk di samping Arsyil, Papah Rizal duduk di samping penghulu dan menghadap Arsyil. Akad Nikah akan segera di mulai, Rizal mengucapkan ijab qobul dan Arsyil dengan lancar juga mengucapkan nya. Semua saksi berkata SAH, bertanda Arsy dan Nisa sudah resmi menjadi suami istri. Papah Rizal tersenyum bahagia sekali melihat putrinya menikah dengan seorang pria yang bertanggung jawab.
Arsyil menyematkan cincin kawin di jari manis Nisa dan mencium kening Nisa. Nisa juga menyematkan Cincin kawin pada jari manis Arsyil dan mencium tangan Arsyil. Mereka melakukan sungkeman dengan kedua orang tua Arsyil dan orang tua Nisa.
Annisa masih saja menangis, saat di peluk papah dan mamahnya.
Arsyil bersungkem pada kedua orang tua Nisa.
"Syil, jaga Annisa, papah titip Annisa pada kamu, nak. Bimbing istrimu, dan ingat pesan papah, ajari dia tentang bisnis. Papah tau, Nisa anak yang cerdas. Sekali lagi, terima kasih sudah menjadi suami untuk anak kesayangan papah."ucap Papah Rizal
"Itu pasti pah, Arsyil akan ingat semua pesan Papah. Terima kasih, sudah memberikan putri semata wayang papah yang cantik ini untuk Arsyil. Arsyil akan menjaga dan menyayangi putri papah, seperti papah menyayangi Annisa."ucap Arsyil.
"Syil, mamah titip Nisa, sayangi putri semata wayang mamah ya, nak."ucap Mamah Dewi.
"Iya mah, itu pasti."jawab Arsyil.
Annisa dan Arsyil bergantian sungkeman dengan Rico. Annisa dipeluk dengan jangan oleh Andini.
"Menantu ibu yang cantik, bahagia selalu sayang, ibu titip Arsyil ya, nak."ucap Andini.
"Iya ibu, itu pasti."jawab Nisa.
"Nisa, papah titip Anak papah yang bandel ini, jangan bosan-bosan kalau dia menjahilimu setiap waktu."ucap Rico pada Nisa
"Begitu dong senyum, dari tadi kamu murunh sekali wajahnya. Ini hari bahagiamu, Nisa."ucap Rico lagi. Nisa hanya tersenyum pada Paoah Rico.
"Anak papah, kamu sudah jadi seorang suami, Nak. papah bangga dan bahagia, kamu adalah anak papah yang sangat mandiri dan bertanggung jawab. Sayangi Nisa, jangan kau sakiti dia."ucap Rico sambil memeluk Arsyil erat.
"Itu pasti pah." ucap Arsyil.
"Bahagia selalu, nak. Bimbing istrimu, sayangi dia, dan jangan hadirkan wanita lain walau keadaanmu sangat genting, nak."ucap Andini.
"Itu pasti, Bu.
Annisa dan Arsyil sudah berada di pelaminan, semua keluarga memberi selamat pada Nisa dan Arsyil, begitu juga para tamu undangan.
"Syil, selamat. Bahagia selalu, bimbing istrimu dengan baik. Kakak bangga denganmu, Syil." ucap Arsyad sambil memeluk Arsyil.
"Iya kak, itu pasti, terima kasih untuk semuanya kak. Arsyil sayang kakak."Arsyil memeluk erat Arsyad.
"Nisa, titip adik ku yang bandel ini. Kalau nakal jewer saja telinganya."ucap Arsyad sambil bercanda dan menghibur Annisa yang masih saja terlihat gelisah.
"Itu pasti kak."ucap Nisa.
"Nisa, senyum dong sayang, bahagia selalu ya sayang."ucap Mira.
"Iya kak."jawab Nida
"Arsyil, selamat sayang, semoga kalian bahagia." Shita memeluk Arsyil dan Nisa secara bergantian.
"Terima kasih, Kak Shita."ucap Nisa
"Terima kasih, kak."Arsyil memeluk erat saudara perempuannya.
Acara pernikahan Arsyil dan Nisa berjalan dengan lancar. Annisa mengajak Arsyil masuk ke dalam kamarnya karena merasa sangat lelah sekali. Arsyil menurutinya, mereka masuk ke dalam kamar. Annisa mendudukan dirinya di tepi ranjang.
__ADS_1
"Nisa, kamu bahagia kan?"tanya Arsyil.
"Sangat bahagia Syil."ucap Nisa dengan mengembangkan senyumannya.
"Kalau bahagia kenapa cemberut saja, sayang."ucap Arsyil.
"Aku takut saja, kamu tidak hadir tadi, habis lama sekali tidak datang-datang." ucap Nisa dengan manja.
"Aku sudah menjadi suami mu sayang, tidak perlu khawatir, kita akan selalu bersama."ucap Arsyil.
Arsyil menyentuh pipi Nisa dengan lembut dan menciumnya.
"Kamu sangat cantik sekali."ucap Arsyil. Jari Arsyil menyentuh lembut bibir Nisa, dan Arsyil mencium lembut bibir Nisa. Nisa menikmati kecupan Arsyil yang begitu lembut di bibirnya.
Pintu kamar Nisa terbuka tiba-tiba. Rachel dan Shita masuk tanpa permisi, mereka melihat Arsyil dan Nisa sedang berciuman.
"Arsyil... Nisa...bisa-bisanya kalian bermesraan ya? Lihat teman-teman kalian di luar menunggu kalian, ehh...malah ena-ena ya di kamar."ucap Shita heboh.
"Kalian itu, acara belum selesai udah sosor-sosoran gitu..aduh....bikin iri saja kalian."ucap Rachel tak kalah hebohnya.
"Ya maaf, lagian kalian masuk tanpa ketok pintu dulu. Mengganggu saja kalian, Ya sudah nanti aku keluar, aku mau ganti baju dulu dengan Nisa."ucap Arsyil. Nisa hanya terdiam saja karena malu, pipinya memerah karena kepergok Kakak iparnya dan sepupunya.
"Iya, cepetan ganti baju, mau ena-ena itu nanti malam, Syil. Tahan dong, masih banyak tamu, Syil."ucap Rachel.
"Iya...iya... kamu cerewet sekali Chel. Sana buruan keluar, ganggu saja hobi kamu dari dulu." Arsyil mengusir Rachel dan Shita keluar kamarnya
Arsyil melihat wajah Nisa yang memerah karena malu. Dia mengangkat wajah Nisa agar berhadapan dengannya.
"Aku malu, Syil."ucap Nisa.
"Sudah, tidak apa-apa. Kita kan sudah sah, sayang. Ayo ganti bajumu dulu."ucap Arsyil
"Keluar dong aku mau ganti baju." Annisa menyuruh suaminya keluar.
"Aku juga mau ganti baju, Nisa."ucap Arsyil.
"Bagaimana aku bisa ganti baju, kamu masih di sini. Aku malu Syil."ucap Nisa
"Kita sudah suami istri, sayang. Ya sudah kalau kamu malu, aku ganti baju dulu di kamar mandi ya. Setelah selesai aku keluar dulu, baru kamu ganti bajumu." ucap Arsyil dan Annisa mengiyakannya.
Arsyil memakai kemeja yang di bawanya dari rumah, dia berganti pakaian di kamar mandi, Annisa mengambil gaun satunya yang santai untuk menemui tamunya. Arsyil sudah selesai berganti baju, dia keluar dari kamar mandi dan langsung keluar dari kamar. Annisa memanggil Arsyil untuk masuk ke dalam kamar lagi, dia meminta tolong membukakan resleting gaunnya yang ada di belakang.
"Terima kasih, Sayang."ucap Annisa.
"Iya, cepat ganti baju, aku tunggu kamu di depan kamar." Arsyil kembali keluar dari kamarnya, dia menunggu istrinya di depan kamar.
"Nisa, Nisa...sama suami sendiri saja malu."gumam Arsyil dalam hati.
Annisa sudah selesai berganti baju, dia keluar dari kamarnya. Arsyil masih berada di depan pintu kamar. Mereka keluar menemui teman- teman mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
♥️happy reading♥️