THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 77 "Wanita Hebat?" The Best Brother


__ADS_3

Rania dan Dio duduk di teras rumah Opa Wisnu. Udara malam ini sangat dingin sekali. Rania memakai baju tebal. Dari tadi Dio diam, entah apa yang ia rasakan. Setelah seusai makan malam dia meminta Rania menemani dirinya di teras. Dio benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Setiap kali berhadapan dengan nasi ingin rasanya memuntahkan isi di perutnya.


“Sayang, ayo masuk, dingin sekali di luar,” pinta Rania.


“Nanti sayang, perutku masih tidak enak sekali,” jawab Dio.


“Tadinya kalau seperti ini gak usah ikut ya, Ran,” imbuh Dio.


“Kalau tidak ikut ya kita gak ketemu Najwa, Sayang. Masalah kita sudah selesai, aku senang kamu sudah meminta maaf dengan Najwa secara langsung, meskipun tidak di hadapan Bunda, Abah, dan Opa,” ucap Rania.


“Iya, tapi aku tetap saja merasa tidak enak dengan Kak Najwa, sayang. Ahh ... sudahlah, mau aku di maafkan atau tidak, itu urusan Kak Najwa, karena aku sudah meminta maaf dengan tulus pada dia,” ujar Dio.


“Iya, sih. Najwa pasti memaafkan kamu, Sayang. Mungkin karena masih pertama, jadi dia masih diam pada kamu. Dia juga butuh menyesuaikan hatinya. Perempuan mana yang mudah melupakan sesuatu yang menyakitkan hatinya? Susah, sayang. Butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka,” jelas Rania.


“Iya juga sih. Aku jadi ingat saat aku berpisah dengan kamu. Aku susah sekali meyakinkan kamu, kalau aku mencintaimu, Ran. Mungkin hingga sekarang, kamu juga masih takut kalau aku akan berpaling pada Najwa lagi kalau sudah bertemu kembali. Iya, kan?” ucap Dio.


“Aku percaya sama kamu, Dio. Tapi, aku memang masih sedikit takut, kalau kamu kembali lagi dengan Najwa,” ungkap Rania.


“Itu namanya masih gak percaya, sayangku ....” Dio berkata sambil mencubit lirih pipi Rania dan menciumnya.


“Jangan takut. Hanya kamu wanita yang aku miliki. Sekarang dan selamanya.” Dio mencium kening Rania.


Rania menyandarkan kepalanya di bahu Dio. Dia memang sedikit masih takut jika suaminya berpaling darinya karena Najwa. Tapi, melihat Najwa dan Habibi sudah sedekat itu dan mereka juga merencanakan mau menikah, Rania sedikit lega hatinya.


^^^


Najwa berada di ruang tengah dengan Arkan dan Raffi. Kedua adik laki-lakinya begitu merindukan dirinya. Raffi dan Arkan dari tadi bergelayut manja dengan Najwa. Mereka tidur di sofa dengan pangkuan Najwa sebagai bantalnya. Najwa mengusap kepala adiknya yang berada di pangkuannya. Najwa juga merindukan Raffi dan Arkan yang selalu bermanja-manja padanya. Semenjak bersama Dio, dia jauh dari kedua adik laki-lakinya. Jangankan kedua adiknya, dengan abah, opa, dan bundanya juga Najwa jauh.


“Kak, aku mau melamar Kak Alin,” ucap Raffi.


“Jadi benar seperti itu? Aku mengira dulu Shifa bicara seperti itu dia hanya bercanda saja, Raf.” Najwa kaget adiknya berkata seperti itu.


“Iya benar, Kak. Tapi, Kak Alin maunya kalau kakak sudah menikah, baru Kak Alin mau di lamar Raffi,” imbuhnya.


“Tuh, Kak. Makanya buruan kakak menikah sama Kak Habibi. Sudah, mau nunggu apalagi, sih kak,” ujar Arkan.


“Iya, kakak nanti bulan depan akan pulang. Kak Habibi baru kelar urusannya bulan depan, Sayang,” jawab Najwa.


“Yah, aku kira kita pulang bersama.” Arkan sedikit kecewa, Najwa pulang bulan depan.


“Kakak di sini juga masih banyak pekerjaan, Arkan,” ucap Najwa.


“Memang kakak di sini kerja?” tanya Raffi.


“Kerja lah, kalau gak kerja buat bertahan hidup kakak apa, Raf?” ucap Najwa.


“Kan ada Kak Akmal,” jawab Raffi.


“Kakak bertemu Kak Akmal itu saat kakak sudah 5 bulan di sini kalau gak salah. Atau 3 bulan di sini lah. Kakak waktu itu sudah ikut kerja dengan Kak Nuri,” jelas Najwa.


“Raffi kira dari awal kakak di sini sudah sama Kak Akmal,” sahut Arkan.


“Gak lah. Kakak juga baru sebulan mengurus rumah singgah milik Papah Elang, jadi tidak bisa dong kakak langsung meninggalkannya pulang ke Indonesia, karena kakak masih ada tanggung jawab di sini.”


“Kakak kok tidak takut sering bersama pasien yang sakit parah?” tanya Raffi.


“Raf, dengan kakak seperti itu, menghibur pasien yang sedang melawan sakitnya, kakak bisa mengenang saat kakak menemani ummi dulu saat sakit. Kakak ingin jika mereka suatu saat pergi meninggalkan dunia ini. Mereka pergi dengan tenang tanpa rasa sakit. Dan, kakak merasa hidup kakak berguna untuk mereka. Karena membuat mereka tertawa, melupakan rasa sakit dan takutnya saat akan menjalani tahap pengobatan selanjutnya,” jelas Najwa.


“Kakak tahu, wanita hebat itu seperti apa?” tanya Raffi lagi.


“Wanita hebat?”


“Iya, Wanita hebat itu seperti kakak. Meskipun badai menerpa dalam diri kakak. Kakak selalu tegar menghadapinya. Wanita hebat layaknya karang. Mampu di terjang ombak dan badai, dengan tetap berdiri tegar. Itulah kakakku, Ainun Najwa Salsabila.” Raffi mencium tangan Najwa. Tanpa terasa cairan bening keluar dari sudut matanya.


“Jangan menangis.” Arkan mengusap air mata Najwa yang sudah menetes di pipinya.


“Kakak bahagia, kakak sudah bertemu kalian. Setiap malam, hanya kalian yang kakak rindukan,” ucap Najwa sambil menyeka sisa air matanya.


“Ah ... kakak so sweet,” ucap Arkan sambil mencubit pipi Najwa.


“Ih ... sakit tau,” ucap Najwa.


“Kakak tahu, Arkan sudah punya pacar, Kak,” ujar Raffi.


“Mulai ngeledek,” tukas Arkan.


“Pacarnya Arkan cewek bule, Kak. Cantik tau, Kak,” sambung Raffi.


“Kamu masih sekolah, jangan pacaran dulu,” ujar Najwa.

__ADS_1


“Iseng-iseng, Kak,” jawab Arkan.


Saat Najwa sedang bercanda dengan kedua adiknya, Habibi mendatangi mereka. Dari tadi Habibi dengan Nuri, Opa, dan Papahnya mengobrol bersama Fattah dan Shifa di teras belakang sambil menikmati teh hijau yang di buatkan oleh pelayan. Dia mendekati Najwa yang sedang bergurau dengan Arkan dan Raffi.


“Ih ... curang, kalian manja-manjaan sama Kak Najwa,” ujar Habibi sambil berdiri di belakang sofa yang sedang di duduki Najwa dan kedua adik laki-lakinya.


“Kan aku baru ketemu Kak Najwa, Kak,” ujar Raffi.


“Iya, lagian Kak Akmal kan sering sama Kak Najwa,” sambung Arkan.


“Iya kakak tahu. Kalian senang bertemu dengan Kak Najwa?” tanya Habibi


“Senang sekali,” jawab mereka kompak.


“Kalau Kak Akmal menikah dengan Kak Najwa, kalian memperbolehkan?” tanya Habibi lagi.


“Sangat boleh,” Jawab mereka.


“Kalian kompak sekali.” Habibi duduk di samping Raffi yang sudah bangun dari rebahan nya.


“Kak Akmal, kalau kakak benar-benar mencintai Kak Najwa, Raffi mohon, jangan sakiti hati Kak Najwa, dia kakak perempuanku satu-satunya, Kak. Jika kakak menikahi Kak Najwa hanya untuk menyakitinya saja, lebih baik jangan nikahi Kak Najwa,” ucap Raffi.


“Kakak tidak akan menyakiti kakakmu. Kak Akmal janji itu,” jawab Habibi dengan tegas.


“Janji?” Arkan menunjukkan jari kelingkingnya pada Akmal.


“Iya, janji, Arkan.” Akmal menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Arkan.


“Kakak janji, Kak Akmal tidak akan menyakiti kakak kalian,” ucapnya sambil mengusap kepala Arkan.


Arkan dan Raffi lega, Najwa sangat dicintai dan disayangi Habibi. Mereka juga tidak ragu jika suatu saat Najwa menikah dengan Akmal.


“Lalu kapan Kak Akmal akan menemui Abah, Bunda, dan Opa?” tanya Raffi.


“Bulan depan, Kak Akmal ini masih banyak pekerjaan, begitu juga Kak Najwa,” jawab Akmal.


“Kak Najwa bilang apa, kan? Kita masih sangat sibuk, semua di sini masih sangat sibuk,” sambung Najwa.


“Kalau bulan depan kita sudah sedikit free kan, Sayang?” tanya Najwa pada Habibi.


“Iya sayang, Opa dan papah juga sudah Free. Nuri juga. Dan, katanya Opa juga bulan depan sekalian mau menemui teman lamanya,” jawab Akmal.


“Kalian saja yang baru dengar,” sambung Akmal.


Akmal mengobrol cukup lama dengan Arkan dan Raffi. Mereka berempat mengobrol dan bercanda bersama. Najwa juga sudah mulai nyaman bercanda dengan Habibi dan adik-adiknya. Rasanya malam ini adalah malam yang sangat bahagia bagi Najwa.


Dio berlari menuju ke kamar mandi. Dia merasakan mual lagi malam ini. Apalagi rasa nasi dan masakan yang ia makan tadi masih terasa di tenggorokannya. Rania menyusul Dio yang masuk ke belakang menuju ke kamar mandi yang ada di sebelah dapur. Najwa dan Habibi yang sedang bercanda dengan Raffi dan Arkan melihat Rania yang berlari di belakang Dio.


“Kenapa mereka?” tanya Habibi.


“Sepertinya Dio dari kemarin kurang sehat,” jawab Raffi.


“Iya, tadi pagi sebelum ke Bandara saja muntah-muntah, Kak,” sambung Arkan.


“Masa sih? Kok Kak Raffi gak tau?” tanya Raffi.


“Tadi pagi kan Kak Raffi sedang menata koper di mobil, Kak,” jawab Arkan.


Habibi berpikir, kalau Dio mungkin masuk angin atau kecapean saja. Dia beranjak dari tempat duduknya untuk mengambilkan minyak kayu putih dan membuatkan ramuan herbal untuk masuk angin yang sering ia minum saat sedang kurang enak badan.


“Mau ke mana?” tanya Najwa.


“Mau mengambilkan kayu putih, kali aja Dio masuk angin,”  jawab Habibi.


“Oh ... ya sudah,” ucap Najwa.


Habibi menghampiri Dio yang baru keluar dari kamar mandi dengan dipapah Rania. wajahnya pucat dan buliran keringat dingin terlihat keluar di keningnya.


“Kenapa Dio?” tanya Habibi.


“Rasanya mual sekali, Akmal. Dari kemarin aku seperti ini kalau makan nasi, pasti setelahnya mual,” jawab Dio.


“Kamu istirahat saja, Dio. Rania, ini ada minyak kayu putih. Balurkan di badan Dio. Aku akan buatkan ramuan herbal untuk Dio. Dia pasti masuk angin,” ucap Habibi.


“Terima kasih, Akmal,” jawab Rania.


Rania membawa Dio ke kamarnya. Dia merebahkan Dio di tempat tidur. Kedua kalinya Dio seperti ini, sama seperti saat dia di kantor kemarin. Rania mengoleskan minyak kayu putih yang tadi di berikan Habibi.


Dio meringkuk memeluk guling yang ada di sampingnya. Badannya benar-benar lemas sekali saat ini melebihi kemarin saat di kantor Rania. Rania mengusap kepala Dio dan tidur di sebelahnya.

__ADS_1


“Sayang, kamu kenapa gini sih?” tanya Rania.


“Mana kutahu, Sayang. Besok jangan nyuruh aku makan nasi, ya? Aku gak mau,” ucap Dio.


“Lalu mau makan apa?” tanya Rania.


“Gak tahu, aku maunya di peluk kamu, gak mau makan,” ucapnya.


“Ih ... manja,” ucap Rania.


Dio membalikkan tubuhnya, menghadap Rania. Dia memeluk Rania dan menenggelamkan wajahnya di dada Rania. Rania mengusap kepala Dio yang berada di pelukannya. Suara ketukan berasal dari pintu kamar Rania terdengar. Rania melepaskan pelukan Dio, dia membuka pintu kamarnya. Terlihat Opa Wisnu dan Akmal di depan pintu kamar yang di pakai Dio dan Rania.


“Akmal, Opa, ada apa?” tanya Rania.


“Kata Kiki suami kamu sedang tidak enak badan?” tanya Opa Wisnu.


“Iya, dari kemarin sebenarnya Dio seperti ini, Opa,” jawab Rania.


“Boleh opa masuk?” tanya Opa Wisnu.


“Boleh. Silakan, Opa.” Rania mempersilakan Opa Wisnu dan Akmal masuk ke dalam kamarnya.


Dio bangun dari tidurnya dan menyandarkan dirinya di sandaran tempat tidur. Opa Wisnu duduk di samping Dio yang sedang duduk dan menampakkan wajah pucatnya.


“Kamu kenapa muntah-muntah tadi?” tanya Opa Wisnu.


“Tidak tahu, Opa. Dari kemarin, rasanya kalau habis makan nasi seperti ini, Opa,” jawab Dio.


“Kamu seperti sedang ngidam saja,” ucap Opa Wisnu.


“Mana mungkin ngidam, harusnya yang ngidam kan Rania,” ujar Dio.


“Ada yang ngidam suaminya, kok. Teman opa juga dulu seperti itu. Yang ngidam suaminya, istrinya baik-baik saja,” jawab Opa Wisnu.


“Kalian periksa ke Dokter Kandungan saja nanti. Kali aja, Rania sedang hamil,” sambung Akmal.


“Baru saja kami menikah 3 minggu ini, masa iya aku hamil?” sambung Rania.


“Tiga minggu? Bukankan kalian sudah menikah sejak lama?” tanya Najwa yang baru saja masuk ke kamar Rania.


“Ehm ... kami sempat berpisah satu tahun, kurang lebihnya. Dan, tiga minggu yang lalu kami baru menikah lagi,” jawab Rania.


“Kalian pisah? Apa ini semua karena ak ...?” ucapan Najwa terhenti karena Rania menukasnya.


“Bukan karena kamu, Najwa? Kami berpisah karena ada sesuatu yang lain,” tukas Rania.


“Ya, karena masalah itu juga sebenarnya. Tapi, sudahlah, jangan di pikirkan, Kak. Kita sudah kumpul lagi. Aku dan Rania juga sudah bersama. Kami sudah bahagia. Sekarang, Kak Najwa juga harus bahagia, maafkan Dio,” sambung Dio.


“Dio, Kak Najwa sudah memaafkan kamu. Dan, maaf karena aku, kalian jadi berpisah,” ucap Najwa.


“Justru dengan kita berpisah cinta kita semakin kuat, Kak. Dan, aku sadar, selama ini ada wanita yang benar-benar tulus berada di dekatku. Hingga aku sadar, aku sangat mencintainya. Aku mencintai Rania. Setelah kami memantapkan hati lagi, kami menikah lagi, tanpa menunda waktu,” jelas Dio.


“Kamu harus bahagia, Kak. Aku yakin, kakak pasti mendapatkan lelaki yang baik, dan menerima kakak apa adanya. Dan, lelaki itu adalah cinta sejati kakak,” imbuh Dio.


“Iya, itu pasti, aku sudah mendapatkannya. Aku sadar, memang jodoh adalah misteri, jodoh benar-benar rahasia-Nya. Dan, semoga Habibi adalah jodohku,” ucap Najwa.


“Opa bahagia sekali, kalian semua sudah berkumpul. Opa minta, jangan ada kesalahpahaman lagi. Jangan ada pertengkaran lagi. Kalian semua saudara, harus mendukung satu sama lain. Dan, kamu Kiki, jangan sesekali kamu menyakiti Ainun. Dia wanita yang layak kamu sayangi, bukan kamu sakiti,” tutur Opa Wisnu.


“Iya, Opa. Untuk apa aku meminta Ainun untuk jadi istriku kalau aku menyakitinya? Iya kan, sayang.” Habibi mencubit pipi Ainun.


“Hmmm ... mungkin?” ucap Ainun dengan bercanda.


“Aku serius, Ainun,”


“Aku juga serius, Habibi,”


“Nama kita cocok, ya? Habibi – Ainun, jodoh kita, mbak,” ucap Habibi dengan mengulang kata-katanya saat pertama bertemu Ainun di depan mini market.


“Jodoh? Mimpi kamu!” sambung Ainun.


“Tapi kita mau nikah, makanya jadi cewek jangan jutek. Jadi terwujud kan, kamu jadi calon istriku. Sepertinya, harus ngumpulin staf dan semua Dokter juga tenaga medis yang lainnya, nih. Biar semua tahu, kamu calon istriku,” ujar Habibi.


“Tidak usah seperti itu. Semesta sudah tau kalau kita akan menikah,” jawab Ainun.


“Sudah sana kalau mau berdebat keluar, jangan ganggu orang sakit. Dio ini Opa buatkan ramuan herbal buat menghilangkan rasa mual. Sebelum minum, makanlah roti, kalau tidak mau makan nasi. Jangan biarkan perut kamu, kosong,” tutur Opa Wisnu.


“Terima kasih, Opa,” jawab Dio.


Opa Wisnu, Akmal, dan Najwa keluar dari kamar Dio. Shifa juga keluar untuk mengambil roti untuk Dio. Ada benarnya juga menurut Opa Wisnu kalau mungkin saja Rania sedang hamil dan yang ngidam Dio. Rania jadi ingin segera memeriksakan kandungannya. Tapi, dia berpikir lagi, setelah pulang dari Budapest dia baru akan memeriksakan kandungannya. Yang terpenting, sekarang dia lebih hati-hati dan tidak memikirkan hal-hal yang membuat dia lelah dan stres.

__ADS_1


__ADS_2