THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 119


__ADS_3

❤️“Pada akhirnya kita benar-benar terasing, kamu pergi dengan kekesalanmu, aku berbalik dengan segala penyesalanku” ♥️


Surat dari Vino membuat Shita meneteskan air matanya lagi. Lagi dan lagi Shita mengingat masa-masa indahnya bersama suaminya. Tapi ingatan indah itu akan terkikis saat terlintas ingatannya akan Vino menyakitinya.


"Shita, kamu boleh membenciku seumur hidupmu, boleh Shita, aku tak melarangmu, karena memang aku pantas di benci olehmu. Tapi ijinkan aku tetap berada di sampingmu, walaupun kamu sangat membenciku."penggalan isi surat Vino untuk Shita.


"Kak, aku tak membencimu, tapi hati ini sangat sakit kalau mengingat semua itu. Tolong beri waktu aku kak, sampai anak ini lahir. Jika memang kamu masih jodohku, kita akan bersama selamanya untuk membesarkan anak kita bersama."gumam Shita dalam hatinya.


Tak terasa cupcake dari suaminya telah habis dimakan, mungkin karena Shita yang lapar dan bayi yang ada di perut Shita menginginkannya, atau karena semua itu pemberian dai suaminya.


Shita mengurai senyumnya saat melihat notifikasi pesan WhatsApp yang masuk, dan bertuliskan nama Vino. Dia langsung membuka pesannya, dia membaca dengan tersenyum. Seakan keceriaannya kembali lagi.


[Sudah di makan Cupcake nya?]


Begitu isi pesan dari Vino. Shita langsung membalas pesan dari Vino.


[Sudah, terima kasih. Lain kali kamu kirim sendiri kalau sudah sembuh.]


Dia membalas pesan Vink seperti itu.


[Itu pasti. Selamat bekerja lagi. Sehat selalu untukmu dan anakku.]


Balas Vino.


[Iya, sekali lagi terima kasih]


Shita membalas dan mengucapkan terima kasih pada Vino.


Dia berfikir kenapa dia bisa bahagia sekali saat mendapat perhatian dari Vino. Tapi, dia tidak memungkiri juga perihal sakit hati yang di buat Vino.


"Memang indah saat mengingat kenangan manis itu, dan ingatan itu akan redup seketika saat aku mengingat kamu menyakitiku."


Shita kembali menyelesaikan pekerjaannya, entah apa yang Shita rasakan, hari ini ia seakan mendapat asupan semangat lagi untuk bekerja.


Malam hari di rumah Arsyad, Shita sedang membantu Asisten Rumah Tangga Mira menyiapkan makan malam. Almira dari tadi sibuk mengurus Najwa yang agak rewel sekali hari ini karena habis melakukan imunisasi.


Arsyad keluar dari kamarnya dan mendekati adik nya yang sedang sibuk menata makan malam.


"Ta, kamu yang masak?"tanya Arsyad.


"Aku cuma membantu bibi saja."ucapnya.


"Kamu sepertinya terlihat lebih fresh daripada kemarin."ujar Arsyad.


"Kakak bisa saja, memang aku seperti ini setiap hari, kak."ucap Shita. Dia memang sedikit bahagia, dari tadi siang Vino mengirim Chat pada Shita setiap jam.


"Semua ini karena Vino kan? Jangan jadikan masalah itu beban mu. Kakak yakin Vino sangat mencintaimu, ingat pesan Kakak, jangan mementingkan ego mu sendiri. Kamu harus bisa membedakan saat kamu bersama Vino dan saat kamu jauh dari Vino. Ada perbedaan rasa atau tidak."tutur Arsyad.


"Entahlah kak. Sudah jangan bahas itu. Ayo makan, mana kak Mira?"tanya Shita.


"Sedang menidurkan Najwa. Dia rewel sekali habis imunisasi tadi siang."ucap Arsyad.


Almira keluar menuju meja makan setelah berhasil menidurkan Najwa. Dia duduk di samping Arsyad dan mengambilkan nasi untuk Arsyad.


"Najwa sudah tidur?"tanya Arsyad.


"Sudah, mas. Badannya lumayan hangat, mungkin karena tadi habis imunisasi."ucap Mira


"Iya mungkin, sudah kamu makan dulu. Najwa pasti tidak apa-apa."ucap Arsyad


"Ta, Kak Mira lihat kamu hari ini fresh sekali."ucap Mira.


"Mas sih, kak?"tanya Shita.


"Iya, iya kan, mas?"tanya Mira pada Arsyad.


"Iya lah, kan habis ketemu sama orang yang di cintainya, tapi dia gengsi, karena tertutup oleh kecewanya."ucap Arsyad.


"Jangan seperti itu, kalau kalian masih saling membutuhkan apa salahnya memaafkan dan melupakan semua perkara dalam hubunganmu. Ada baiknya, kamu bicara berdua dengam Vino. Dengan kepala yang dingin, dan tentunya tidak mementingkan egonya masing-masing. Berusaha saling menerima alasan masing-masing, dan ingat, jangan gegabah mengambil keputusan yang di dasari rasa marah."tutur Mira pada Sh weita.


"Iya, kak, nanti Shita akan mengajak Kak Vino bicara baik-baik."ucapnya.


Satu bulan telah berlalu, Shita semakin dekat lagi dengan Vino, walaupun hanya lewat sebuah chat. Mereka sama sekali tidak bertemu dan melakukan Video call. Hanya lewat chat mereka saling menyapa. Shita sudah pulang ke rumah papahnya. Dia selalu memperlihatkan dirinya baik-baik saja di depan kedua orang tuanya. Dia masih menyembunyikan semua yang dia alami saat ini. Iya, masalah ruamh tangganya dengan Vino. Andini dan Rico tidak pernah curiga dengan sikap Shita. Mungkin karena Shita sudah sedikit menerima kenyataan yang terjadi pada rumah tangganya, dan Shita dengan Vino sudah melakukan komunikasi lagi walaupun sebatas lewat chatting saja.


Rico sempat kaget karena Vino pagi-pagi sekali sudah mengirim chat padanya. Dia meminta bertemu dengan Papah Rico di suatu tempat, dia memberikan alamat itu pada Papah Rico, dan Vino meminta pada papah mertuanya untuk merahasiakan pertemuan hari ini dari Shita. Dia juga mengajak Arsyad untuk menemani Papah Rico pada saat menemuinya nanti. Rico semakin bingung dengan menantunya. Shita bilang dia di luar kota hingga bulan depan, tapi sekarang mengajaknya bertemu di suatu tempat.


"Apa ada yang di sembunyikan oleh Vino? Sehingga dia mengajakku bertemu dengannya hari ini bersama Arsyad, dan tidak boleh memberitahukan Shita kalau dia hari ini akan menemuiku? Ahh...mungkin dia akan memberi kejutan untuk Shita, karena melarangku untuk memberitahukan pada Shita perihal pertemuan ini."gumam Rico dalam hati.


Tak ada rasa menjanggal dalam hati Rico, dia bersikap seperti biasanya saja, karena memang dia tidak tau kalau Shita memiliki masalah cukup pelik dengan suaminya.


Shita menata sarapan di meja makan, Rico menghampiri anak perempuannya dan menciumnya.


"Anak papah lagi hamil cantik sekali. Kapan suamimu pulang?"tanya Rico


"Mungkin minggu depan, pah."ucapnya santai, seperti tidak ada masalah.


"Oh…kamu tidak kangen dengan dia?"tanya Rico pada Shita. Shita langsung berhenti mengunyah makanannya.


"Kangen lah pah, masa tidak."ucapnya sambil tersenyum.


"Iya, gimana sih, pah. Di tinggal lama sama suami ya kangen lah pah."ujar Andini.


"Iya papah gimana sih?"ucap Shita.


Shita menghela nafas panjang, dia takut kalau papahnya mulai curiga dengan masalah yang menimpanya.


"Maafkan Shita, pah. Shita menyembunyikan semua ini. Shita sudah memaafkan Kak Vino, tapi hati ini masih sakit, belum bisa melupakan kejadian itu, pah. Maafkan Shita."gumam Shita dalam hati. Rico melihat raut wajah anaknya yang sedikit berubah.


"Shita, ada yang kamu sembunyikan dari papah?"tanya Rico.


Shita terdiam sejenak dan menghela nafasnya.


"Hmmmhh… tidak pah, Shita tidak menyembunyikan apa-apa."ucapnya.


"Ya sudah, kalau tidak, papah ke kantor dulu ya, kamu mau ke cafe kan? Ayo berangkat dengan papah saja."ajak Rico.


"Iya pah." Shita mengambil tasnya dan berangkat ke cafe diantar dengan papahnya.


Sementara Vino di rumah menyiapkan semua dokumen dan sertifikat yang sudah di atas namakan istrinya yang akan di serahkan pada papah mertuanya.


"Aku tau Shita, kamu masih kecewa denganku. Dan, pada akhirnya kita benar-benar terasing, kamu pergi dengan kekesalanmu, aku berbalik dengan segala penyesalanku. Aku tidak tau harus bagaimana lagi, ini semua untukmu, aku hanya mencintaimu, sampai akhir hidupku."gumam Vino dalam hati.


Vino membuka ponselnya, terlihat foto Shita bersama dirinya. Dia memandangi foto istrinya, Vino mengirim pesan pada Shita.


[Pagi Shita, istriku yang cantik yang sangat aku rindukan, aku merindukan senyuman mu, tawa canda mu, dan rindu hangatnya pelukanmu. Tapi, aku tau, kamu masih belum ingin bertemu denganku. Tidak apa-apa, Shita, aku mengerti apa yang kamu rasakan, kamu masih sangat kecewa kepadaku. Semoga hari ini kamu baik-baik saja, jaga kesehatanmu selalu, dan jaga anak kita saat aku tak bisa menjaganya. Satu yang harus kamu tau, aku mencintaimu sampai akhir hidupku. Love you Arshita.]


Begitu isi pesan dari Vino.


Shita baru saja sampai di cafenya. Papah Rico langsung mengirimkan mobilnya ke kantor untuk bertemu dengan Arsyad dan mengajaknya menemui Vino.


Rico sampai di kantornya dan segera menemui Arsyad di ruangannya, Arsyad yang kala itu sedang disibukan oleh pekerjaannya, dia begitu kaget melihat papahnya masuk tanpa mengetok pintu dan dengan terburu-buru.


"Papah, ada apa pah? Kelihatannya gugup sekali?"tanya Arsyad.


"Ayo ikut papah menemui Vino."ajak Rico langsung tanpa basa-basi pada putra sulungnya.


"Menemui Vino? Kenapa papah tiba-tiba mengajak Arsyad menemui Vino?"tanya Arsyad.


"Apa jangan-jangan Shita sudah cerita masalahnya dengan Vino ke papah?"tanya Arsyad dalam hatinya.


"Syad, kenapa diam?"tanya Rico.


"Ah...tidak apa-apa pah."jawabnya.


"Ayo ikut papah, Vino tadi pagi mengirim pesan pada papah, dia ingin bertemu papah di alamat ini. Apa kamu tau alamat rumah ini?"tanya Rico


"Arsyad tidak pernah tau alamat rumah ini pah."ucap Arsyad.

__ADS_1


"Apa mungkin ini alamat rumah yang di berikan kepada Lesy, wanita yang membuat adikku seperti itu."gumam Arsyad.


"Ya sudah pah, ayo ke sana saja."ajak Arsyad.


Rico dan Arsyad berangkat menemui Vino di alamat uang di berikan Vino itu. Arsyad menyerahkan pekerjaannya pada Arsyil dan Rayhan.


"Kak, apa papah tau masalah Kak Shita? Kok papah tiba-tiba ingin menemui Kak Vino?"tanya Arsyil. Saat Rico sudah keluar dari ruangan Arsyil.


"Sepertinya tidak."jawab Arsyad.


"Lalu kenapa papah ingin sekali menemui Kak Vino?"tanya Arsyil lagi


"Kakak tidak tau, papah cuma bilang, kalau tadi pagi Vino mengirim pesan pada papah, dia meminta papah dan aku menemuinya di alamat rumah yang tadi dikirimkan ke papah."ucap Arsyad.


"Oh...aku kira papah tau, apa itu alamat rumah milik wanita itu, kak?"tanya Arsyil lagi.


"Gak tau juga, Syil. Ya sudah kakak berangkat, takut papah curiga kita lama mengobrolnya. Titip kantor ya.


"Iya kak hati-hati."ucapnya.


Rico dan Arsyad segera berangkat ke alamat rumah yang di berikan Vino. Arsyad melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Arsyad dari tadi bertanya-tanya pada hatinya, kenapa Vino ingin menemuinya dan juga papah Rico.


"Ada apa Vino ingin menemui aku dan papah?"tanya Arsyad dalam hati.


Sedangkan Rico dari tadi sibuk melihat google map untuk mencari alamat yang Vino berikan.


Shita sangat sibuk sekali hari ini, laporan keuangan cafe dan laporan lainnya bertumpuk di atas meja Shita. Hingga sampai siang dia lupa membuka ponselnya.


"Huh…. capek sekali, pekerjaan ku banyak sekali hari ini, belum lagi laporan dari cafe cabang. Kepalaku sakit sekali melihat dokumen ini. Ah…aku lebih baik membuat cokelat panas."gumam Shita dalam hati.


Shita keluar dari ruangannya menuju dapur, dia akan membuat cokelat panas untuk dirinya agar. Dia mengambil cangkir dari rak cangkir yang ada di dapur cafenya.


"Praaang……" cangkir yang di pegang Shita tiba-tiba lepas dari tangannya. Padahal Shita sudah memegangnya dengan baik.


"Awww….kenapa bisa lepas sih?"ucap Shita sambil memunguti serpihan cangkir yang berserakan.


"Awwww…..sakit." jari Shita tertancap serpihan cangkir.


"Mba Shita tidak apa-apa?"tanya Karyawan Shita.


"Tidak, Heru, tolong bereskan ini, dan buatkan aku coklat panas, aku tunggu di ruangan ku."perintah Shita pada Heru, karyawan cafenya.


"Iya mba, baik."ucapnya. Heru segera membersihkan serpihan cangkir dan setelah itu dia membuatkan cokelat panas untuk Shita.


Shita kembali masuk ke dalam ruangannya. Hatinya tidak tenang, dadanya terasa sesak. Dan, bayang-bayang Vino tiba-tiba teringat di memori Shita. Saat bersama, saat pertama kali bertemu, dan saat Vino pertama kalinya ke rumah, pulang sekolah bersama Arsyad.


Shita membuka laci meja kerjanya, dia mengambil foto masa depan dulunya bersama Arsyad, Arsyil, Rayhan dan tentunya Vino. Foto saat dia SMP dan Vino SMA. Dia terus memandangi foto itu dan mengusap foto itu di bagian gambar Vino.


"Kak Vino, kamu laki-laki yang aku inginkan dari dulu, aku senang sekali bisa mengenalmu, kamu selalu mengajariku PR matematika yang aku tidak bisa sama sekali, kamu sering membawakan aku cokelat. Dan sekarang, aku menjadi wanita mu, aku bahagia, sangat….bahagia. Tapi, bahagiaku sirna, karena wanita itu kak. Kak, aku masih sangat mencintaimu, tapi maaf, hati ini masih merasa sakit yang begitu dalam."lirih Shita, sambil menatap Vino di foto itu.


Shita teringat akan ponselnya, saking sibuknya dia mengabaikan ponselnya dari pagi.


"Ponselku, aku belum lihat dari tadi. Biasanya pagi-pagi sekali Kak Vino selalu mengirim chat untuk ku."gumamnya dalam hati.


Shita mengambil ponselnya di tas, dia melihat ada notifikasi WhatsApp dari siapa lagi orang yang ia rindukan. Iya, Vino. Dia melihat chat dari Vino. Dia menguraikan senyuman di bibirnya, melihat chat dari Vino. Dia membacanya, tak terasa air matanya menetes di pipi. Kata-kata Vino seakan-akan kata-kata ingin meninggalkan Shita lama. Shita membalas pesan dari Vino.


[Siang Kak Vino, aku di sini baik-baik saja, anakmu juga sehat selalu dalam kandunganku. Kak, maafkan Shita yang terlalu egois. Shita sangat mencintai kakak, Shita sudah memaafkan kakak. Iya memang, Shita belum mah menemui kakak. Biarlah kapan waktu ini akan mempertemukan kakak dan aku. Aku juga merindukanmu, kak. Merindukan semua yang ada pada diri kakak. Love you too.]


Balasan chat dari Shita untuk Vino.


Shita meletakan lagi ponselnya, dia menunggu balasan dari Vino lagi, tapi dia belum membalasnya.


Arsyad dan papahnya sudah sampai di tempat tujuan. Vino sudah sampai terlebih dulu. Vino mempersilahkan Arsyad dan Rico masuk ke dalam.


"Pah, papah sehat?"tanya Vino.


"Seperti yang kamu lihat. Kamu pucat sekali, Vin. Kamu sakit? Katanya kamu ke luar kota?"tanya Rico.


"Ini rumah kamu?"tanya Arsyad.


"Iya, ini rumah impian aku."jawab Vino.


"Apa ini rumah impian Vino dan Shita?"gumam Arsyad dalam hati.


"Pah, maksud Vino mengundang papah ke sini, Vino ingin berbicara sesuatu pada papah dan Arsyad."ucapnya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?"tanya Rico.


Vino langsung bersujud di kaki Rico, dia menangis sejadi-jadinya, dia sangat menyesali perbuatannya.


"Maafkan Vino, pah. Maafkan Vino. Vino mengkhianati Shita. Maafkan Vino, tidak bisa menjaga Shita." Vino masih menangis dengan bersujud di kaki Rico.


"Maksudmu? Apa maksudmu mengkhianati Shita, Vin. Jelaskan pada papah."ucap Rico tegas..


Vini duduk di samping Papah mertuanya, dia menjelaskan semua yang telah terjadi antara dia dan Shita. Rico begitu kecewa dengan menantunya. Dia sangat kecewa sekali.


"Papah tidak menyangka kamu seperti itu, kamu memperlakukan putri kesayanganku seperti itu. Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Shita saat itu, hah.!? Di mana hatimu Vino." Rico sangat kecewa dengan menantunya.


"Maafkan Vino, pah. Vino melakukan itu semua karena ada alasan tersendiri. Vino belum menjelaskan ini semua secara detail pada Shita pah. Vino hanya menolong Lesy waktu itu, dia di jodohkan dengan bandar judi oleh papah tirinya. Dan dia harus mau, mamahnya juga memaksanya. Pada saat itu, kami tidak sengaja bertemu saat berkumpul dengan relasi bisnis. Dan saat dia akan pulang ke Paris, dia di kejar oleh papah tirinya juga anak buahnya. Dia meminta tolong pada Vino. Lalu, Vino mempekerjakan dia di kantor cabang. Dia wanita pandai, kantor cabang menjadi semakin maju di pegang dia. Dan, sebagai reward, aku belikan dia rumah. Ini memang salah Vino, pah. Vino salah, karena setiap hari bertemu Lesy, Vino mengaguminya. Dan Lesy, dia juga dari dulu mencintai Vino. Vino salah pah, Vino merespon itu dengan tindakan Vino, tanpa mengungkapkan cinta pada Dia, karena wanita yang Vino cintai adalah Shita, putri papah. Dia satu-satunya wanita yang aku cintai. Mengapa Vino ingin menikahinya, itu semua karena dia mengancam akan bunuh diri, Vino akhirnya mengiyakan untuk menikahinya sebagai istri kedua. Belum sempat menikahinya, dia sadar apa yang ia perbuat, dan dia memutuskan kembali lagi ke Paris." Vino menjelaskan pada mertuanya tanpa di tutup-tutupi sedikitpun.


Rico menghela nafasnya dengan kasar. Dia tidak percaya dengan Vino, sampai hati dia melakukan semua itu pada istrinya. Rico hanya terdiam tak bicara. Vino memang salah, tapi dia juga tau posisi Vino.


"Papah, Arsyad, aku titip Shita. Aku tau dia membenciku, sangat membenciku. Tapi aku masih sangat mencintainya, sangat mencintai Shita. Pah, maafkan Vino."ucap Vino.


Rico masih saja terdiam, dia menatap kecewa dengan Vino.


"Pah tolong berikan semua ini pada Shita. Shita menginginkan berpisah dari Vino saat nanti setelah anak Vino lahir." Vino memberikan map pada Rico. Rico membukanya, dia terkejut melihat apa yang ada di dalam map itu.


"Ini sertifikat rumah dan perusahaan?"tanya Rico.


"Iya pah, semua itu untuk Shita dan anakku kelak. Vino titip ini pada papah, tolong nanti papah berikan pada Shita kalau sudah waktunya."ucap Vino.


"Iya nanti papah berikan."jawabnya dengan nada datar.


"Vin, kenapa kamu menyerahkan semua secepat ini?"gumam Arsyad dalam hati.


"Vin, papah pamit pulang. Papah akan berbicara pada Shita agar tidak gegabah dalam membuat keputusan. Ayo Syad kita pulang."ajak Rico.


Rico dan Arsyad segera pulang dari rumah Vino. Rico meminta diantar Arsyad ke cafe Shita untuk membicarakan semuanya pada putrinya.


"Kita ke cafe Shita, Syad."pinta Rico.


"Iya, pah."jawabnya.


Rico dari tadi hanya terdiam, dia merasa sangat terpukul mendengar pengakuan menantunya. Tapi, mau bagaimana lagi, dia juga sangat menyayangi Vino seperti anaknya sendiri.


"Kita mampir ke restoran dekat sini, Syad. Kita makan siang dulu."ucap Rico.


"Iya, pah." Arsyad menuruti apa yang papahnya mau, dia tau papahnya sedang menahan amarahnya.


Arsyad sudah sampai di restoran, dia memarkirkan mobilnya dan setelah itu dia langsung masuk ke dalam restoran dan memesan makanan.


Shita di cafe terdiam memandangi ponselnya yang dari tadi tidak ada notifikasi WhatsApp dari Vino. Dia sangat menunggu balasan dari Vino, tapi belum di balasnya juga.


Vino tersenyum melihat balasan chat dari Shita, dia begitu bahagia, istrinya masih sangat mencintainya. Dia segera membalas pesan dari istrinya.


[Terima kasih, sayang. Aku akan datang ke cafemu, tunggu aku. Love you.]


[Aku akan menunggumu, kak. Hati-hati.]


Vino bergegas mengambil kunci mobilnya, sakit yang kemarin hingga saat ini ia rasakan hilang seketika, saat Shita kembali mengucapkan kata cintai untuknya. Dia sangat bahagia, dai melakukan mobilnya menuju ke cafe Shita dengan cepat.


Dia tak menyadari di depannya ada tikungan tajam, terlihat dari arah berlawanan sebuah truk box melintas dengan kecepatan yang tinggi juga.


"Brakkkkk…..!!!!!" suara kedua kendaraan yang mengalami kecelakaan terdengar keras. Mobil Vino terpelanting jauh dan ringsek. Darah bercucuran keluar dari mobil Vino. Badan Vino terjepit mobilnya.


Jalanan macet seketika, ambulan membawa korban ke rumah sakit. Mobil Vino dan truk box itu di amankan oleh unit lakalantas.

__ADS_1


Arsyad melajukan mobilnya dari restoran menuju ke kantornya, jalanan macet, ruang gerak terasa sempit sekali.


"Pah ada kecelakaan."ucap Arsyad.


"Iya, sepertinya. Syad, itu lihat." Rico menunjuk ke arah mobil yang sudah ringsek.


"Pah, itu…..itu….bukankah mobil…"ucap Arsyad terbata-bata.


"Itu mobil Vino, Syad. Tepikan mobilmu, kita keluar."ucap Rico.


Arsyad menepikan mobilnya, lalu turun denah Rico menuju kearah polisi yang masih mengurus mobil Vino.


"Selamat siang pak, ini mobil menantuku, di mana dia sekarang."ucap Rico.


"Selamat siang, korban semuanya sudah di larikan ke rumah sakit, pak."ucpanya.


"Apa menantuku baik-baik saja?"tanya Rico


"Korban dua-duanya mengalami luka berat, mereka mengalami pendarahan."ucap polisi tersebut.


"Oh iya pak, benar ini ponsel pemilik mobil ini?"tanya polisi tersebut


"Iya benar ini ponsel Vino."ucap Arsyad. Arsyad meminta ijin pada polisi agar memberikan ponselnya pada Arsyad. Polisi tersebut memberikannya, dan sayangnya ponsel Vino rusak. Lalu dia memberikan lagi pada polisi tersebut.


Arsyad dan Rico segera pergi ke rumah sakit yang di beritahukan pihak kepolisian tadi. Arsyad melihat bekas darah Vino yang banyak sekali di aspal.


"Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa dengan Vino."gumam Arsyad


"Vin, bertahanlah, nak. Untuk putriku dan juga anakmu."gumam Rico.


Shita masih menunggu Vino, dia mencoba menghubungi ponsel Vino, namun tidak Aktif.


"Praaaang….."pas photo di meja Shita terjatuh. Iya, itu adalah foto Vino dan dirinya.


"Kak Vino…."ucap Shita dengan hati bergetar dan suara serak.


Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Kak Vino. Jika di kenapa-napa aku tak bisa memaafkan diriku sendiri.


Arsyad dan Rico sampai di rumah sakit, dia langsung menuju ke UGD dan bertanya pasien kecelakaan yang baru saja masuk.


"Sus, pasien kecelakaan tadi bagaimana keadaannya?"tanya Rico.


"Yang satu masih kritis di ICU, dan satunya meninggal dunia."jawab suster tersebut


"Yang di ICU pengendara mobil atau truk?"tanya Arsyad.


"Yang berada di ICU atas nama Vino, dia pengendara mobil."ucapnya.


"Apakah kalian keluarga pasien?"tanya dokter yang baru saja menangani Vino.


"Iya kami keluarganya."jawab Arsyad dan Rico.


"Pasien mengalami pendarahan, dan membutuhkan banyak darah. Apa salah satu di antara kalian ada yang cocok?"tanya dokter tersebut.


"Saya cocok, dok. Ambil darah saya."ucap Arsyad.


"Mari ikut saya pak."ajak suster itu.


Badan Rico melemas seketika, dia duduk di kursi tunggu dan memegang kepalanya.


"Vino, bertahanlah, nak. Papah mohon. Kasihan Shita."ucap Rico lirih.


Rico menghubungi Arsyil dan Rayhan agar segera ke ruang sakit, dan menyuruh Arsyil menghampiri Shita ke cafenya agar dia ikut ke rumah sakit.


Arsyil terkejut mendengar semua yang Rico katakan, dia segera menghampiri Rayhan di ruangannya dan mengajak dia ke rumah sakit, sebelum ke rumah sakit, dia menjemput Shita dulu di cafenya.


Shita yang masih menunggu Vino, dia di kagetkan dengan kehadiran Arsyil yang tiba-tiba masuk ke ruangannya


"Syil, kamu mengagetkanku saja."ucapnya.


"Maaf, Kak bisa ikut kamu sebentar?"tanya Arsyil


"Kemana?"tanya Shita.


"Nanti kakak akan tau."jawabnya


"Tapi, aku sedang menunggu Kak Vino datang, dia berjanji mau ke sini."ucap Shita.


"Masa sih?"tanya Arsyil.


"Iya, ini lihat chatnya Kak Vino." Shita memperlihatkan chat nya dengan Vino. Mata Arsyil berkaca-kaca melihatnya. Di saat mereka akan bersatu lagi, tapi musibah datang kepadanya.


"Ya Allah, Kak. Disaat kalian akan bersatu lagi, Allah menguji kamu dengan ini."gumam Arsyil.


"Kak Vino nanti akan menyusul. Kita berangkat dulu." Arsyil menarik paksa kakaknya untuk mengikutinya.


Shita mengikuti apa yang Arsyil lakukan, dia sedikit curiga dengan Ray dan Arsyil. Dia semakin curiga karena membawanya ke rumah sakit.


"Kok ke rumah sakit, Syil. Siapa yang sakit?"tanya Shita. Arsyil hanya terdiam saja.


"Ray, siapa yang di rumah sakit?"tanya Shita lagi pada Ray.


"Ayo masuk, Ta."ajak Ray.


"Ini sebenarnya ada apa Ray, Arsyil? Kenapa mobil Kak Arsyad juga ada di sini?"siapa yang di rumah sakit?"tanya Shita dengan keras


"Ayo kak ke dalam."ajak Arsyil.


"Syil, jangan bilang Vino yang di rumah sakit."ucpanya.


"Ayo kak masuk." Arsyil memapah Shita, dia sesekali menyeka air mata yang sudah keluar di sudut matanya. Begitu pula dengan Rayhan. Mereka berjalan menuju ke ruang ICU. Shita melihat Rico dan Arsyad dengan wajah yang kusut penuh kecemasan.


"Papah, Kak Arsyad, siapa yang sakit?"tanya Shita dengan duduk di samping papahnya dan menangis.


"Maaf, Pak Vino membutuhkan banyak darah lagi, pasien masih mengalami kritis."ucap dokter yang tiba-tiba keluar dari ruang ICU. Shita menangis histeris mendengar nama Vino yang berada di ruang ICU


"Papah, jelaskan pada Shita, kenapa Kak Vino,pah? Kenapa Kak Vino." Shita memukul dada papahnya dan berlari masuk ke dalam ruang ICU tapi dokter dan perawat melarangnya, karena belum bisa di jenguk.


"Maaf Bu, suami ibu masih kami tangani, dan belum bisa dijenguk. Bersabarlah, Bu."ucap perawat


"Saya Istrinya,saya berhak tau keadaannya. Ijinkan saya masuk, dok, please."ucap Shita.


"Silahkan ibu masuk, mohon untuk di dampingi oleh yang lain." Dokter akhirnya memperbolehkan Shita masuk dengan di dampingi Arsyad.


"Kak, suamiku kak. Kenapa seperti ini. Kak Vino, bangun kak, kenapa kakak seperti ini, Kak Vino janji mau menemui Shita, tapi kenapa kak, kenapa seperti ini. Ayo bangun, ini Shita di samping kakak. Katanya merindukan Shita, kak, bangunlah." Shita terisak di pelukan Arsyad.


"Ayo keluar dulu, tenangkan hatimu, Vino harus di tangani lagi." Arsyad mengajak Shita keluar ruangan. Shita masih saja menangis, dia sangat menyesali apa yang dia lakukan pada Vino. Mengusirnya, membencinya, memakinya, bahkan akan menceraikan Vino.


"Ya Allah, maafkan aku, selamatkan suamiku. Aku sangat mencintainya."ucap Shita lirih.


Shita masih duduk dan di peluk oleh papahnya. Arsyil dan Rayhan sedang mendonorkan darahnya untuk Vino. Iya, mereka darahnya sama dengan Vino.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


♥️happy reading♥️


__ADS_2