THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Ekstra Part 3 "Nenek Gayung" The Best Brother


__ADS_3

Arkan masuk mencuci tangannya yang sudah menghitam karena oli. Dia membersihkannya hingga terlihat bersih sekali. Tita masih saja membuntuti Arkan ke sana ke mari selesai Arkan mengerjakan sepeda motor milik Sandi.


"Kak, aku tidak suka, rasanya orang tadi terlalu melecehkan kakak. Dia ngasih uang tips, tapi sepertinya melecehkan Kakak. Memang dia kenal Kak Arkan?" Tanya Tita dengan cerewet dan rasa ingin tahunya.


"Tit, kamu ingat sama yang namanya Lily, yang dulu Kak Arkan ceritakan sama kamu?" Tanya Arkan.


"Iya, kak. Aku ingat. Memang kenapa? Kakak katanya sudah putus dengan dia?"


"Iya, kakak sudah putus. Dan tadi itu motor yang Kak Arkan pegang milik pacar barunya Lily."


"What…!!! Cowok sombong itu pacarnya Lily? Dan tadi, cewek itu?"


"Iya, itu Lily."


"Gila, kalau tau itu Lily, wihhh….aku tarik jilbabnya. Buat apak pakai jilbab kelakuannya gitu. Aduh….paling juga dia udah dikerjain sama itu cowok." Tita semakin kesal kakak kesayangannya di permainkan cewek seperti Lily.


"Cantiknya gak seberapa, belagu! Matre lagi!" Gerutu Tita dengan kesal.


Arkan hanya tersenyum saja melihat Tita yang semakin kesal karena Lily. Memang Arkan selau cerita dengan Tita, saat mau dekat dengan Lily. Itu semua bermula saat Tita curhat ingin punya cowok. Dia tidak berani curhat dengan kakaknya, karena kakaknya dengan cowok saja tidak pernah dekat. Ternyata kakaknya adalah wanita yang super jutek.


"Kamu kok malah yang sewot, Ya," ucap Arkan sambil berjalan menuju ke ruangannya.


"Ya gimana aku gak sewot, kak. Dia benar-benar keterlaluan," ucap Tita.


"Tangan kamu kenapa, Ta?" Tanya Arkan.


"Ini….aku semalam…."


"Ini pasti karena kakak kamu pas di depan kedai martabak semalam, kan?" Tukas Arkan.


"Ehm…iya kak, tapi jangan bilang papah dan mamah. Aku bilangnya jatuh. Kasihan Kak Lia, nanti di marahin. Toh cuma bercanda, sudah ah lupakan tanganku, ini sudah gak sakit, kok," ucapnya.


"Dasar! Nenek gayung keterlaluan sekali, sama adiknya saja gini," ucap Arkan.


"Nenek gayung? Siapa?"


"Kakakmu lah!" Tukas Arkan.


"Tit, keluar dulu sana, Kak Arkan mau ganti baju."


"Sebentar kak, ini bukannya foto Tante cantik? Sama siapa? Kok mirip Kak Arkan?" Tanya Tita sambil menunjukkan foto Arsyil dan Annisa yang ada di meja kerjanya.


"Oh ini? Ini Ayah Arsyil. Jadi, dulu bunda menikah dengan Ayah Arsyil, memiliki anak Kak Dio dan Kak Shifa. Dan, Abah menikah dengan ummi Almira, memiliki anak Kak Najwa dan Kak Raffi. Setelah Ummi Almira meninggal dan ayah Arsyil meninggal, opa menjodohkan bunda dengan Abah. Kamu tahu, ternyata bunda cinta pertamanya Abah, saat abah menjadi dosen bunda. Dan, taunya bunda sudah pacaran dengan Om Arsyil. Om Arsyil itu adik kandung Abah," jelas Arkan.


"Lalu setelah Om Ganteng menikah dengan Tante Cantik, keluar Kak Arkan?" Tanya Tita dengan lugunya.


"Ya seperti itu. Sudah sana keluar, kakak mau ganti baju lalu sholat, kamu juga sholat," ujar Arkan.


"Tita lagi dapet," ucapnya.


"Kamu kelas berapa kok sudah menstruasi?" tanya Arkan.


"Baru mau masuk SMP, kak," jawab Tita.


"Aku menstruasi sejak kelas 5 SD," imbuhnya.


"Pantas sudah pintar pacaran. Kakak bilangin nih, kamu mau nurut atau tidak, kalau sudah menstruasi jangan mau di apa-apain sama cowok. Awas nanti kalau hamil. Mau kamu masih sekolah hamil? Ciuman juga bisa hamil. Jangan berani-berani seperti itu," tutur Arkan.


"Benarkah ciuman bisa hamil? Tapi aku dicium papah tidak apa-apa?" Tanya Tita dengan serius.


"Iya benar. Jangan bilang kamu pernah di cium sama cowok kamu. Hayo loh….hamil nanti. Kalau papah kamu beda. Karena sudah menikah sama mamah kamu. Ya yang hamil mamah kamu. Kalau kamu di cium cowok seumuran kamu, kak Arkan, atau Kak Fajar, baru hamil. Kalau udah bapak-bapak ya tidak apa-apa," ucap Arkan menakut-nakuti.


"Gak kak, mau di cium saja, tapi aku tidak mau," jawabnya dengan serius.


"Ya sudah, jangan mau di cium. Nanti kamu hamil. Jauhi cowok kalau bisa," tutur Arkan.


"Sudah kakak mau ganti baju, sana keluar. Tuh di cari Kak Fajar," ucap Arkan..


Tita keluar dari ruangan Arkan. Dia masih memikirkan kata-kata Arkan yang bilang kalau di cium cowok bisa hamil. Dia bergidik ngeri jika memang benar kalau di cium cowok bisa hamil.


"Iya benar juga Kak Arkan. Mamah juga hamil aku kan? Pasti mamah di cium papah, jadi hamil. Haduh….untung saja Kak Arkan ngasih tahu, aku jadi harus ngejauhin cowok. Ada benarnya juga Kak Lia menyuruhku menjauhi cowok," gumam Tita sambil berjalan di lorong antara bengkel dan rumah Arsyil.


Arkan hanya menggelengkan kepalanya saja. Begitu mudah menipu Tita dengan seperti itu. Arkan tertawa di dalam ruangannya sambil mengingat wajah takut Tita tadi. Arkan masuk ke dalam rumah untuk mengambil pakaian sholat yang sengaja ia taruh di rumah Arsyil.


^^^


Tita masih tampak kebingungan karena ingat kata-kata Arkan tadi. Dia duduk di ruang tamu dengan membawa matcha yang ia buat tadi. Thalia mendekati adiknya itu yang tampak gelisah karena sedang memikirkan sesuatu.


"Ngelamun aja," ucap Thalia dengan duduk di samping adiknya.


"Kak Lia! Gak usah ngagetin dong!" Ucap Tita dengan setengah terjingkat.


"Habis siang bolong gini malah ngelamun. Kamu gak sholat?" ucap Lia.


"Kan Tita lagi dapet, kak,"


"Oh, iya kakak lupa."


Sejenak mereka terdiam. Thalia sibuk dengan buku yang ia bawa. Dia juga membawa secangkir espresso untuk menemani membaca buku.


"Kak," ucap Tita membuyarkan konsentrasi Thalia yang sedang membaca buku.


"Apa?" Tanya Thalia dengan masih mengeja setiap kata pada buku yang ia baca.


"Kak, kakak pernah ciuman?" tanya Tita, yang membuat kakaknya menghunuskan tatapan tajam pada Tita.


"Kak, jangan marah, aku tanya saja. Aku belum pernah sungguh, aku tanya saja, please, jawab kak," imbuh Tita yang takut dengan tatapan kakaknya yang menyiratkan kemurkaan karena bertanya soal ciuman.


"Kenapa kamu tanya itu?" tanya Thalia.


"Malah balik tanya. Aku tanya kakak sudah pernah belum?" tanya Tita lagi.


"Belum. Kenapa memangnya?"


"Syukur lah, kata Kak Arkan kalau ciuman dengan cowok kita bisa hamil kak, benar gak sih?" tanyanya dengan lugu dan wajah yang lucu.


Thalia hanya menahan tawa adiknya sebegitu polosnya. Padahal dia termasuk anak yang selalu aktif dan jarang di rumah, berbeda dengan dirinya yang selalu di rumah dengan beberapa tumpukan buku.


"Cowok galak itu bilang sama kamu seperti itu?" Tanya Thalia.


"Iya, kakak. Jawab benar atau enggak?" Ucap Tita dengan sedikit memaksa pada Kakaknya.


"Iya, makanya kamu masih kecil jangan berani-berani pacaran. Apalagi sampai di cium. Kalau kita di cium papah, atau eyang Kakung gak apa-apa. Tapi, kalau cowok kita gak boleh," jelas Thalia dengan pipi memerah karena menahan tawa.


Thalia memang tidak pernah pacaran. Hanya saja dia pernah  mendapat perlakuan tidak baik dari teman laki-laki dan perempuan. Ya, termasuk pelecehan seksual. Dia memang gadis yang lain daripada yang lain. Kecantikannya memang tersembunyi, hanya seseorang yang peka saja yang bisa memandang cantiknya. Bagi orang yang baru kenal, pasti semua beranggapan Thalia adalah gadis sombong dan jutek. Tapi, dia memiliki kecantikan yang tidak dimiliki oleh gadis lainnya.


Dia mengalami pelecehan oleh teman sekelasnya dulu saat dia  pertama kelas 1 SMA. Makanya dia ingin pindah ke Indonesia saja ikut eyangnya, dan sekolah di Indonesia. Mulai besok Thalia sudah masuk ke sekolahan barunya. Thalia membayangkan apa yang temannya lakukan dulu. Dia bergidik ngeri dan seketika rasa takut itu kembali muncul. Itu yang menyebabkan Thalia tidak suka bergaul, karena dia pernah mendapat perlakuan seperti itu.

__ADS_1


"Pintar juga si galak nakut-nakutin Tita. Baguslah, seenggaknya dia pasti gak mau pacaran lagi karena Arkan bicara seperti itu," gumam Thalia dengan melirik adiknya yang masih menikmati matcah.


^^^^^


Keesokan harinya, Arkan sudah siap berangkat ke sekolahnya. Dia pamit dengan abah dan bundanya untuk ke sekolahnya, dan dia akan tinggal di rumah abahnya kembali karena sudah hari Senin.


"Arkan, kamu hati-hati berangkatnya. Juga hati-hati karena sedirian di rumah, tidak usah sampai malam kalau main," ucap Arsyad.


"Iya, Abah. Aku gak main sampai malam, paling sampai pagi," jawabnya dengan bercanda pada abahnya.


"Dasar anak nakal." Arsyad meninju lengan Arkan.


Arkan mencium tangan Abah dan bundanya lalu dia berangkat. Dia menggunakan sepeda motor milik Arsyil, tapi nanti dia taruh di rumah, dan mengganti dengan sepeda motor matic milik Oma Andini.


^^


Arkan sudah sampai di depan sekolahannya. Saat dia akan masuk ke dalam sekolahan, dia melihat Lily yang baru saja turun dari sepeda motor pacar barunya. Dia setiap hari diantar jembuo oleh pacar barunya. Arkan tak peduli itu. Dia langsung melewati mereka.


Dia berjalan ke kelasnya, dia mendengar seseorang yang memanggilanya. Dia menoleh ke arah sumber suara, dia tahu siapa yang memanggilnya. Iya, Lily yang memanggilnya. Dia menghentikan langkahnya dan melihat Lily yang berjalan cepat ke arahnya.


“Arkan aku mau bicara sebentar bisa?” tanya Lily.


“Ya, silakan bicara,” jawab Arkan.


Lily terdiam sejenak, dia bingung harus bicara dari mana pada Arkan soal kemarin dan soal dia memutuskan sepihak pada Arkan, padahal dia baru jalan  kurang lebih 1 bulan dengan Arkan lalu dia menjauh dan mendapatkan Sandi yang menurutnya daia lebih segalanya dari Arkan.


“Yang di katakan orang bengkel itu apa benar?” tanya Lily.


“Maksud kamu?” tanya Arkan


“Soal bengkel itu milik kamu,” jawab Lily.


“Oh, itu. Jangan dengarkan Om Wahyu, dia itu kalau bercanda keterlaluan,” ucap Arkan.


“Tapi dia menyinggung kamu adalah salah satu putra dari Alfarizi, apa benar itu? Dan, keluarga Alfarizi kan katanya donatur tetap di sini,” ucap Lily.


“Kalau aku anaknya Alfarizi, aku ke sekolah sudah pakai mobil mewah, motorku saja butut, mana mungkin aku anak dari konglomerat itu. sudah lah, mau apa juga bahas harta, ingat harta tidak di bawa mati, dan kebahagian juga tidak di ukur dari berapa banyaknya harta, Lily,” ucap Arkan dengan berjalan di samping Lily.


Arkan menganggap biasa saja, kalau dia tidak jadi pacar Lily juga tidak masalah, karena bagi dia, banyak cewek yang lebih baik dari lily. Dan, dia mulai sekarang akan fokus dengan sekolah dan bengkel yang ingin ia kelola menjadi bengkel yang besar dan semakin rame.


Arkan tidak mau ambil pusing dengan hubungan Lily dan pacarnya sekarang, toh dia juga satu kelas dengan Lily, jadi bagaimana pun juga dia tetap akan menjadi temannya.


Arkan melihat seseorang yang ia kenal keluar dari ruang kepala sekolah, seseorang itu juga melihat Arkan yang sedang berjalan menuju ke kelasnya.


“Arkan...?”


“Om Leon?”


“Kamu sekolah di sini juga?” tanya Leon.


“Memang Arkan sekolah di sini, Om. Om ngapain di sini? Sama Tita?” tanya Arkan.


“Thalia, dia juga sekolah di sini, dan dia baru saja masuk hari ini,” jawab Leon.


“Thalia?”


“Iya, kenapa? Mau bertengkar lagi sama dia? Kamu sama dia seperti kucing dan anjing saja, setiap bertemu ada saja yang di perdebatkan,” ucap Leon.


“Thalia yang mulai, Om,” ucap Arkan.


“Ogah, dititipi Thalia, mending Tita saja,” ucap Arkan.


“Ya dua-duanya om titipin kamu, karena Om sama Tante Rere mau ke Berlin hari ini.”


“Siap!”


“Sudah kamu sekolah yang benar, jangan pacaran dulu.”


“Iya, om, siap!”


Leon megusap kepala keponakannya itu, dia langsung pergi meninggalkan sekolahan Arkan. Arkan tidak menyangka, Thalia sekolah di sekolahan yang sama dengan Arkan.


“Siapa tadi, Kan?” tanya Lily.


“Oh, itu om ku, sahabatnya bunda, katanya anaknya akan sekolah di sini,” jawab Arkan.


“Dia bule?”


“Iya, dia asli orang Berlin, ibunya atau ayahnya yang asli sana, pokoknya ada keturuna dari sana, terus nikah sama sahabat bunda, anaknya juga cantik-cantik, bule semua,” jawab Arkan.


“Yang cewek kemarin di bengkel kamu?” tanya Lily.


“Iya, betul, Dia Tita, adiknya Thalia yang akan sekolah di sini,” jawab Arkan.


Arkan memang tidak pernah menaruh dendam pada siapa yang sudah menyakitinya, meski Lily sudah sangat menyakiti hatinya, dia juga masih adem ayem saja berteman dengannya. Asal seseorang tidak main kasar dengan Arkan, dia tidak akan membalas mengasarinya.


Lily masih berpikir keras tentang Arkan, bukan dia ingin kembali pada Arkan atau apa. Dia hanya tidak enak saja dengan Arkan soal kemarin, karena pacarnya begitu merendahkan Arkan yang hanya bekerja di bengkel untuk menambah uang jajan.


“Aku yakin, Arkan anaknya Alfarizi, yang menjadi donatur tetap di sekolahan ini,” gumam Lily.


Lily masih berpikir keras, dia tidak mau malu pada Arkan, karena dia juga sudah melecehkan Arkan dan memutuskan Arkan karena dia lebih mementingkan pekerjaan dan dia style nya juga biasa saja, apa lagi dia memakai motor jadul.


Arkan memang jarang akrab dengan teman di sekolahnya, dia banyak teman tapi dari luar sekolah. Dia jarang bergaul dengan teman yang ada di sekolahanya. Hanya sekedar kenal, belajar bersama, dan bercanda bersama di sekolahan.


^^


Bel masuk berbunyi, Arkan duduk di bangkunya bersama. Dia mengeluarkan buku tugasnya. Meski dia sibuk di bengkel atau main bola, tapi dia tak pernah lupa mengerjakan tugas-tugasnya.


“Selamat pagi anak-anak,” ucap wali kelas di kelas Arkan.


“Pagi, Bu...” jawab semua siswa.


“Hari ini kelas kita kedatangan siswa baru,”


“Yeay...cowok ya, Bu?”


“Cewek ya, Bu?”


Seisi kelas riuh menanyakan siapa teman baru di kelasnya. Hanya Arkan yang diam, karena dia tahu siapa yang akan jadi teman barunya di kelas.


“Paling nenek gayungnya Fajar,” ucap Arkan lirih.


“Siapa, Kan?” tanya Rangga teman sebangkunya.


“Ah, gak,” ucap Arkan.


“Sudah...sudah... jangan ribut,” tegur wali kelas pada para siswa yang ,asih saja ribut membahas siapa teman baru di kelanya.

__ADS_1


“Thalia masuk, Nak.”


“Wah...bule nih, ada bule di kelas kita...!” seru siswa laki-laki di kelas.


“Yah, aku kira cowok macam oppa korea yang akan jadi murid baru di kelas kita, malah cewek bule, bule nyasar ini namanya, Bu...” teriak Angel siswa yang katanya paling cantik dan paling perfect di kelasnya. Gayanya saja yang serba glamor, tapi hidupnya pas-pasan.


“Sudah, kalian tenang....!” tegur Bu Siwi dengan penuh penekanan.


Ya, Thalia penghuni baru di kelas Arkan. Thalia langsung menghunuskan tatapannya pada Arkan yang duduk di bangku nomor 3. Dia tidak menyangka kalau dia akan sekelas dengan Arkan. Arkan mengulas senyumannya saat Thalia menatapnya dengan tatapan kesal pada Thalia


“Cowok galak itu? Argghht... kenapa mesti satu kelas dengan dia?” gumam Thalia dengan kesal.


“Thalia, perkenalkan dirimu, Nak,” ucap Bu Siwi, wali kelasnya.


“Selamat pagi teman-teman, nama saya....”


“Si jutek dari goa hantu,” kelakar Arkan dengan menukas ucapan Thalia.


“Arkan....!” tegur Bu Siwi dengan kesal.


“Maaf bu,” ucap Arkan dengan menunduk dan menahan tawa.


“Silakan lanjutkan perkenalanmu, Thalia,” ucap Bu Siwi.


“Nama saya, Firda Athalia Elfreda, biasa di panggil Thalia.”


Setelah Thalia memperkenalkan diri, dia di suruh duduk di bangku yang kosong dekat dengan bangkunya Arkan. Dan, Bu Siwi langsung keluar kelas, karena guru matematika akan segera masuk.


“Ahw...” Thalia jatuh karena Angel sengaja menjulurkan kakinya agar Thalia jatuh.


Semua tertawa riuh melihat Thalia jatuh, begitu juga Angel dan gengnya, semua menertawakan Thalia.


“Dasar bule gak punya mata!” tukas Vanya teman sebangku Angel.


“Dia matanya di belakang, gaes! Jadi gak lihat,” imbuh Sisil teman sebangku Lily.


Arkan yang melihatnya geram. Meski dia selalu berselisih pendapat dengan Thalia, dia tetap saja tidak bisa melihat orang tersakiti, apalagi dia adalah anak dari sahabat bundanya dan abahnya.


“Ayo bangun, Lia.” Arkan mengulurkan tangannya menolong Thalia.


“Tidak udah sok menjadi pahlawan!” tukasnya.


“Dasar cewk jutek!” ucap Arkan dengan berdecak kesal.


Thalia langsung duduk di bangkunya. Dia kesal dengan perlakuan teman barunya yang sangat tidak bermoral.


“Hai, namaku Anya,” sapa teman sebangku Thalia.


“Aku Thalia,” jawab Thalia dengan menjabat tangan Anya dan mengulas senyumannya yang menahan sakit di lututnya.


“Jangan kaget, Angel dan kawan-kawannya memang seperti itu. Dia itu geng tergila di kelas ini,” ucap Anya.


“Iyakah?”


“Iya, tapi kamu tenang saja, geng nya Angel hanya 6 siswa saja, yang lainnya baik-baik, kok. Tapi, kamu harus siap, menjadi bahan bullyan Angel dan kawan-kawan,” jelas Anya.


Thalia hanya diam, dia ingat saat dia baru masuk SMA, teman-temannya memperlakukannya dengan tidak baik, malah lebih parah di sana.


“Aku harus bisa melawan mereka, aku tidak boleh takut,” gumam Thalia.


^^^


Bel istirahat berbunyi, Arkan memang jarang ke kantin, dia lebih suka di kelas atau duduk di depan kelas dengan membaca buku tentang otomotif atau membaca novel. Dia melihat Thalia yang masih duduk di bangkunya, dangan memegang lututnya yang memar karena terjatuh tadi.


“Masih sakit?” tanya Arkan yang memecah kesunyian di kelas, karena hanya tinggal beberapa siswa saja di kelas, yang lain sudah pergi ke kantin.


“Kalau kamu seperti ini sakit tidak?” ucap Thalia dengan nada juteknya. Arkan hanya mengulas senyumnya. Dia semakin gemas dengan Thalia yang masih saja sok, padahal dia sedang kesakita.


“Tidak,” jawab Arkan.


“Ya sudah, jangan banyak bicara, mengganggu saja,” ucap Thalia,


“Ya sudah,” ucap Arkan dengan meninggalkan  Thalia ke bangkunya lagi.


Thalia keluar dari kelas dengan membawa buku kecil seperti novel. Dia ingin menuju ke bangku yang ada di taman. Arkan mengikuti Thalia, karena pasti Thalia akan di jadikan bahan bullyan atau apa, karena dia siswa baru.


Benar dugaan Arkan, geng nya Angel mulai beraksi. Angel dan Vanya mengikuti Thalia yang berjalan ke arah taman, tapi Arkan tahu dan dia langsung menyusul Thalia, dengan cepat Arkan menarik tangan Thalia, dia mengajak Thalia duduk di bangku yang berada di samping tangga. Arkan tahu, Angel akan membuat Thalia celaka lagi


“Arkan...!” Thalia menepis tangan Arkan.


“Kamu....!” Angel menunjukkan jari telunjuknya di depan wajah Arkan karena kesal Arkan ikut campur dengan apa yang ia rencanakan untuk mencelakai Thalia.


“Apa?! Mau mencelakai Thalia lagi? jangan harap kamu bisa!” tukas Arkan dengan tegas.


“Hei....jangan sok jadi pahlawan cowok dekil yang hanya seorang montir untuk cari uang tambahan jajan. Untung saja, Lily sudah mutusin kamu, cowok gak guna!” ucap Vanya dengan kesal.


“Yang gak guna itu kamu!” murka Thalia.


“Hei...sok membela kamu!” ucap Angel dengan sarkas.


“Kamu tahu dia.....”


“Dia apa?! Dia cowok yang gak ada gunanya. Modal motor butut mau deketin Lily? Mimpi kamu!” sarkas Vanya.


“Thalia...! diam...! kita ke kelas!” Arkan menarik tangan Thalia dan mengajaknya ke kelas.


Thalia tidak terima Vanya berkata seperti itu pada Arkan, karena dia tahu Arkan sebenarnya. Meski selalu tidak akur saat bertemu, tapi Thalia juga tidak mau kalau Arkan harus di lecehkan seperti itu.


“Arkan....! lepasin...!” Thalia menepiskan tangan Arkan dengan kasar.


“Dia itu sudah menjelekkan kamu, sudah melecehkan kamu!” ucap Thalia dengan kesal.


“Gak ada gunanya dengan orang-orang macam dia. Itu betulkan tali sepatumu,” ucap Arkan.


Thalia membetulkan tali sepatunya yang lepas. Rambutnya yang tergerai ikut terurai saat ia menundukkan kepalanya.


“Kamu tidak bawa ikat rambut?” tanya Arkan.


“Memang kenapa?”


“Rambutmu itu berantakan.”


“Aku tidak biasa mengikat rambutku.”


Thalia masuk ke dalam kelas lagi. Dia masih geram dengan apa yang di katakan Angel tadi, dan soal Lily. Lily yang di ceritakan Tita kemarin, katanya cewek belagu yang memutuskan Arkan karena Arkan sekolah memakai motor butut.


“Apa seorang akan terlihat kaya raya karena kendaraannya? Dasar cewek murahan! Kamu bicara seperti itu, sama saja melecehkan Om Arsyad,” gumam Thalia dengan mengepalkan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2