THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 24 "Gaun Itu" The Best Brother


__ADS_3

Najwa sudah sampai di butiknya kembali setelah melepas kepergian Habibi ke Budapest. Dia hanya di antar oleh abahnya dan opanya saja. Karena Annisa sibuk mengurus keperluan nanti malam untuk acara lamaran Dio, jadi dia memilih tetap di rumah, dan menyiapkan hantaran untuk di bawa ke rumah Rania. Annisa di bantu oleh Rachel dan Shita. Sedangkan, Dio, dia harus menemui klien terlebih dahulu di kantornya. Dan Raffi, dia memilih ke taman baca untuk menemui Alina. Shifa belum pulang dari bulan madunya. Karena dia juga sekalian ikut suaminya menemui klien.


Najwa sudah berada di butik dengan Rico dan Arsyad. Dia menyiapkan beberapa gaun cantik yang akan dipilih Rania nanti untuk acara lamarannya. Najwa sebenarnya tidak kuat menghadapai semua ini, tapi ini semua demi kebaikan keluarganya. Dia tidak mau mereka menganggap dirinya tidak baik-baik saja dalam hal ini.


"Harusnya, aku yang kau pinang malam ini Dio, bukan Rania. Tapi, ini semua memang sudah takdirnya. Aku akan menerima dengan ikhlas, Dio," gumam Najwa.


Najwa sudah menyiapkan beberapa gaun untuk Rania. Dia juga sudah menyiapkan beberapa model baju pengantin terbaru yang ada di butik. Rico dan Arsyad memandangi Najwa yang sibuk dengan pekerjaannya. Rico tahu, hati cucu kesayangannya saat ini tidak baik-baik saja. Arsyad pun seperti itu. Dia melihat wajah sendu Najwa saat ini. Arsyad semakin merasa bersalah dengan semua keadaan ini. Arsyad mendekati putrinya. Dia merangkulnya dan mencium kepalanya. Arsyad memeluknya dengan erat, untuk menguatkan hati putrinya. Tanpa terasa Arsyad terisak dengan memeluk putrinya.


"Maafkan Abah, Nak," ucapan itu terlontar dari mulut Arsyad.


"Abah, sudah. Najwa tidak apa-apa. Najwa tahu, ini memang tidak mungkin, jika Najwa bersatu dengan Dio. Najwa sudah menyadari ini dari dulu. Tapi, hati Najwa tetap bersikeras mencintai Dio, abah," ucap Najwa yang sama-sama terisak di pelukan Arsyad.


"Sudah, opa yakin, kamu akan mendapat jodoh yang terbaik, Najwa. Sini peluk opa, kamu harus seperti ummi kamu, dia wanita yang hebat, wanita yang tegar. Kamu pasti bisa, Nak. Melalui ini semua," ucap Rio sambil memeluk Najwa.


Najwa menghapus air matanya, Karena dia tahu, sebentar lagi Dio dan Rania akan datang ke butik, bersama bundanya dan ibunya Rania. Najwa ke kamar mandi untuk menghapus sisa-sisa air matanya.


Tak lama kemudian Dio, Annisa, Rania, dan Ana datang ke butik Najwa. Mereka langsung masuk ke dalam ruangan Arsyad.


"Pak Arsyad dan Opa kok di sini?" tanya Ana.


"Iya, tadi habis mengantar Najwa ke bandara, Ana," jawab Rico.


"Kamu ke bandara ngapain, sayang?" tanya Ana pada Najwa.


"Emm ... mengantar teman, Tante. Mau berangkat ke Budapest," jawab Najwa.


"Lebih tepatnya, calon suaminya, ibu," celah Dio yang berada di belakang Annisa.


"Dio … apaan, sih?" tukas Najwa.


"Calon suami? Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sudah memiliki calon suami, Najwa?" tanya Rania.


"Jangan percaya Dio. Sini Ran, ini gaun yang ada di sini, silakan di pilih dulu yang cocok dan pas." Najwa memperlihatkan gaun-gaun yang cantik itu pada Rania.


"Wah … bagus-bagus sekali," ucap Rania.


"Iya, dong. Ini bagus, Ran." Najwa memperlihatkan salah satu gaun pada Rania.


"Iya bagus, tapi aku mau memilih lagi," ucap Rania.

__ADS_1


Annisa dan Ana membantu Rania memilih gaunnya. Namun, tidak ada yang cocok saat di pilihkan mereka.


"Rania," panggil Dio.


"Iya Dio," jawab Rania.


"Ini yang di sini bagus." Dio memperlihatkan gaun yang masih ada di showcase. Gaun berwarna abu muda yang sangat yang sangat cantik sekali.


Gaun itu sebenarnya gaun milik Najwa, dia khusus merancangnya untuk dirinya sendiri, jika suatu saat nanti Dio melamarnya.


"Cantik sekali," ucap Rania.


"Kamu suka?" tanya Dio dengan menatap Rania dan mengurai senyuman pada Rania.


"Iya, gaun ini cantik sekali, Dio," jawab Rania.


"Iya, sudah sekalian ada pasangannya juga, dan warnanya juga aku suka," ucap Dio.


"Najwa kalau aku ambil yang ini bagaimana?" tanya Dio pada Najwa.


"Emmm … yang itu?" tanya Najwa dengan nada yang berat.


"Iya, yang ini," jawab Dio.


"Ya Allah. Apa kamu lupa, Dio? Itu kan gaun aku. Kamu tidak ingat aku pernah bilang, aku membuat gaun sepasang dengan baju kamu. Kamu padahal tau kan, Dio? Aku sudah memberitahukan warnanya juga," gumam Najwa dangan mata berkaca-kaca.


"Aku tahu Najwa, ini gaun kamu, kan? Gaun yang kamu buat untuk kamu, sepasang dengan bajuku. Dan kamu bilang gaun ini akan kamu pakai saat hari bahagia mu. Aku sengaja mengambil gaun ini. Karena aku tidak mau, kamu memakai ini dengan pria lain. Biarlah Rania yang memakai," gumam Dio sambil melihat wajah Najwa yang mulai sendu matanya.


"Bagaimana?" tanya Rania dan memperlihatkan gaun yang ia kenakan.


"Rania … kamu cantik sekali, cocok sekali kamu dengan gaun ini," ucap Najwa dengan mengembangkan senyumannya.


"Iya, kah? Abah, opa, bagaimana?" tanya Rania pada Arsyad dan Rico.


"Sempurna, kamu cantik sekali, Nak," ucap Arsyad.


"Dio, bagus, kan?" tanya Rania pada Dio.


"Bagus, bagus sekali, Rania. Gaun ini cocok sekali dengan kamu," ucap Dio.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku mau ini," ucap Rania.


"Oke," jawab Najwa.


"Kamu adalah sahabatku, Rania. Semoga kamu dan Dio selalu bahagia. Dan, aku serahkan, serta aku relakan gaun ini menjadi milikmu, untuk hari bahagia mu, nanti malam," gumam Najwa sambil menata baju Rania.


Dio tidak lepas menatap Najwa yang berpura-pura baik-baik saja hari ini. Padahal hatinya seperti tersayat belati yang sangat tajam. Begitu pula dengan Dio. Dia lebih sakit dari yang Najwa bayangkan. Dio melakukan ini, karena sengaja, agar Najwa membencinya. Dia berpura-pura baik dan romantis pada Rania di depan semuanya.


"Najwa, bencilah aku. Dan bantu aku membencimu, Najwa. Aku tidak bisa, karena kamu adalah wanita yang sangat aku cintai," gumam Dio.


Rania duduk di depan Najwa yang baru saja membungkus gaun milik Rania. Rania sudah lama sekali tidak bertemu Najwa. Ya, seperti biasa, dia sibuk sekali dengan pekerjaannya. Hingga Najwa sakit, dia tidak ikut menjenguk saat Reno dan Ana menjenguk Najwa.


"Eh, siapa calon suamimu?" tanya Rania lagi.


"Calon suami yang mana? Kamu jangan percaya dia, dia selalu saja meledekku," ucap Najwa.


"Memang benar, kan? Kamu tadi mengantar Dokter Habibi?" tanya Dio pada Najwa.


"Iya, tapi dia bukan calon suami aku, Dio," ucap Najwa dengan kesal.


"Terus siapa? Sudah jangan mengelak, Najwa. Tuh tanya sama opa, iya kan, opa?" ucap Dio.


"Ya, semoga saja. Tapi, kamu harus sabar, menunggu 3 tahun lagi," ucap Rico menggoda cucunya.


"Tuh kan, opa ikut-ikutan," ucap Najwa .


"Nah, memang iya, Habibi kan di sana 3 tahun, dan kamu dengar sendiri, kan? Tadi Habibi bilang, jaga Ainun untukku opa. Apa kamu lupa, dia bicara seperti itu tadi? Ya kan, Syad?" ucap Rico.


"Oke, aku yang ngalah. Iya, Dokter Habibi calon suamiku, oke. Sudah jangan ribut," ucap Najwa dengan sedikit kesal.


"Jangan marah dong, Abah setuju kamu dengan dia, kalian berdua unik. Untuk bicara yang serius, kalian butuh waktu berdebat 30 menit dulu," ujar Arsyad.


"Semua butuh pemanasan dulu, Abah. Kalau dingin nanti tidak nyambung," ucap Najwa.


"Jadi, benar dia calon suami kamu, Najwa?" tanya Rania lagi.


"Aduh cantik … kamu cerewet sekali, kamu jangan terpengaruh dengan 3 laki-laki itu, mereka sukanya meledekku, tapi kalau jadi jodohku, ya tidak masalah. Dia tampan, mirip sekali dengan abah. Dan yang membuat mirip sekali adalah, ini Rania, jambang nya," ucap Najwa sambil menarik bulu-bulu halus abahnya yang ada di dagunya.


"Najwa…! Sakit tau!" Arsyad mengaduh sambil menarik hidung Najwa dengan sedikit keras.

__ADS_1


"Auhh … Abah, sakit," keluh Najwa sambil mengusap hidungnya.


Arsyad sudah lama sekali merindukan hal seperti ini dengan Najwa. Ya, merindukan bercanda dengan Najwa. Semenjak bersama Dio, Arsyad kehilangan momen bercanda, momen bahagia bersama Najwa.


__ADS_2