THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 84 "Bergerak"


__ADS_3

Pagi hari di kediaman keluarga Alfarizi. Hari ini Arsyad sudah di pindahkan ke rumah. Itu semua Rico dan Shita yang memintanya. Rico hanya ingin Annisa tidak menjenguk Arsyad lagi, karena berulang kali, Annisa, Dio, dan Shifa ke rumah sakit untuk menjenguk Arsyad saat dirinya tidak menjaga Arsyad di rumah sakit. Rico memang sangat takut, takut kehilangan putranya lagi. Dan, entah apa yang ada di dalam pikiran Rico saat ini, hingga dia tidak mau menerima Annisa untuk kembali di sisi Arsyad.


Rico duduk di samping Arsyad, memandangi wajahnya yang tertutup oleh alat penunjang kehidupan. Arsyad memang masih koma. Tapi, dia sudah melalui masa kritisnya. Rico mengusap tangan anak sulungnya itu. Dia meneteskan air mata melihat anaknya lemah tak berdaya di atas pembaringan.


"Maafkan papah, papah tidak tau harus bagaimana. Papah hanya tidak ingin kamu seperti Arsyil," ucap Rico lirih di samping Arsyad.


Rico masih terpaku di samping anaknya, dia tidak pernah sedikitpun meninggalkan Arsyad sekarang. Dia menjaganya dengan di temani Shita dan Vino. Vino setiap hari berusaha melunakan hati Shita dan papah mertuanya, tapi usaha Vino sia-sia belaka. Dua orang yang hidup dengannya memiliki hati yang keras sekali. Vino berdiri di samping papah mertuanya yang sedang menangis.


"Pah, sampai kapan papah seperti ini? Apa papah tega kalau Arsyad bangun dan mencari istrinya, tapi istrinya tidak ada?" tanya Vino.


"Jangan bahas itu, masalah dia mencari istrinya, itu urusan nanti. Yang papah ingin adalah Arsyad sadar dari komanya," jawab Rico.


"Ya, kita semua menginginkan itu, tapi Arsyad juga menginginkan Annisa pastinya, pah," ujar Vino.


"Sudah Vin, jangan bahas Annisa. Papah tidak mau saja Arsyad seperti Arsyil,"


"Pah, papah ingat, bagaimana papah menyuruh dan memaksa Annisa untuk menikah dengan Arsyad? Dia tidak mau, tapi papah memaksa. Sekarang mereka sudah saling mencintai, saling membutuhkan, tapi papah seperti ini, memisahkan mereka. Pah, ini sudah hampir dua bulan papah seperti ini. Ini musibah, bukan sepenuhnya salah Annisa. Dan, Farina juga sudah mendekam di penjara." Vino terus membujuk papah mertuanya itu. Dia sering melihat Annisa di depan rumahnya, saat dia melintas di depan rumah Annisa. Badannya semakin kurus dan seperti tidak gairah untuk hidup.


"Kak, jangan bahas Annisa terus, dong! Ini yang terbaik, kak. Lebih baik Annisa menjauh dari hidup kakak. Aku tidak mau Kak Arsyad seperti Arsyil. Saudara ku tinggal Kak Arsyad. Aku tidak mau kehilangan saudaraku lagi, kak." Shita tiba-tiba masuk ke dalam kamar perawatan Arsyad.


"Ta, kamu juga harus tau perasaan Annisa. Kamu juga seorang istri, bagaimana jika semua ini terjadi pada kamu, Ta. Di saat suami kamu terbaring koma seperti Arsyad, kamu malah tidak di izinkan keluarganya untuk berada di sampingnya. Coba dulu saat aku kecelakaan, posisi keluarga ku melarang kamu menenmui aku, karena aku kecelakaan saat bertengkar dengan kamu, dan kamu ingin kita berpisah. Coba ini semua terjadi pada kamu Shita!" Ucapan Vino semakin meninggi. Dia tidak mengerti mengapa istrinya memiliki hati sekeras batu.


"Oh…jadi kakak belain Annisa? Kakak nyalahin aku waktu kecelakaan dulu? Iya? Nyalahin aku, gara-gara aku minta cerai, kakak sakit, dan kecelakaan. Itu semua juga ada sebabnya. Kakak yang mulai selingkuh dengan Lessi!" Shita tidak kalah seru berkata dengan Vino.


"Sudah, cukup! Kalian malah membahas masa lalu kalian. Kamu juga Vin, ini masalah Annisa bukan masalah kamu dan Shita dulu. Kamu harus ngerti posisi sekarang bagaimana!" Rico melerai mereka yang ribut membahas masa lalunya.


"Maaf, papah dan Shita sama-sama kerasnya. Coba kalau papah dan Shita tau sebenarnya, papah dan Shita pasti menyesal," ucap Vino dengan berlau pergi meninggalkan mereka.


Vino tidak sengaja melihat Annisa di rumah sakit kemarin. Ya, saat itu Vino di suruh Rico menemui dokter yang menangani Arsyad serta mengurus administrasi. Dan, setelah mau pulang, dia melihat Annisa keluar dari Poliklinik Kandungan. Tidak mungkin Annisa memeriksakan selain kandungannya, karena dia keluar dari ruang pemeriksaan di poliklinik kandungan. Vino juga memerhatikan perut Annisa dari kejauhan, yang terlihat semakin membuncit. Perut Annisa memang sudah terlihat sedikit membuncit


Vino duduk di teras, dia masih tidak mengerti jalan pikiran mertua dan istrinya itu. Vino yang semakin penasaran dengan Annisa. Dia akan mencoba mencari tahu tentang Annisa, apa dia hamil atau tidak.


"Annisa kemarin ke poliklinik kandungan? Apa dia hamil? Aku harus cari tau ke mana? Ah…Kevin, dia kan yang terakhir bersama Annisa sebelum kecelakaan atau Rere mungkin, dia sahabatnya kan pasti tau. Kalau dia hamil, kasihan sekali Annisa," gumam Vino.


Vino ke dalam mengambil kunci mobil dan berpamitan pada Shita dan Rico ingin ke kantor. Ya, Vino ingin menemui Rere, menanyakan kebenaran Annisa hamil atau tidak. Sebelum menemui Rere dia mengajak Rayhan terlebih dahulu. Kevin sedang keluar, entah ke mana Vino tak tau, jadi dia tidak bisa bertanya soal Annisa pada Kevin.


Vino melajukan mobilnya dengan cepat untuk ke kantor Arsyad menemui Rayhan. Sesampainya di sana, dia langsung ke dalam masuk ke ruangan Rayhan.


"Ray…." Sapa Vino dengan gugup, Vino langsung duduk di depan Rayhan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Ada apa? Sepertinya kamu gugup sekali?" tanya Rayhan.


"Kamu tau kabar Annisa sekarang?"tanya Vino.


"Annisa? Memang Annisa kenapa, Vin?"


"Aku kemarin lihat dia di rumah sakit, dan keluar dari poli kandungan. Dan, aku lihat memang postur tubuh dia seperti orang hamil. Apa jangan-jangan dia hamil, Ray?"


"Bisa jadi,"jawab Rayhan dengan mengerjakan pekerjaannya.


"Ray aku serius,"ucap Vino.


"Iya, aku tau kamu serius. Kasihan dia kalau misal dia hamil. Apa kita tanya Kevin saja, dia pasti tahu,"ucap Rayhan.


"Itu dia, Kevin dari pagi tidak kelihatan, kita tanya Rere saja, bagaiman?"saran Vino.


"Boleh, ayo kita ke kantor Annisa," ajak Rayhan.


Vino dan Rayhan segera ke kantor Annisa menemui Rere. Ya, mereka begitu penasaran, Annisa benar-benar hamil atau tidak. Rayhan dari tadi memikirkan Annisa. Ya, dia merasa iba saja, jika Annisa benar-benar hamil, dan posisinya seperti sekarang ini.


"Om Rico benar-benar keterlaluan sekali, Om pasti akan menyesal, jika Om tau Annisa saat ini sedang hamil," gumam Rayhan.


Mereka sudah sampai di kantor Annisa dan langsung menemui Rere. Ya mereka menemui Rere yang sedang sibuk sekali. Dan di kantor juga ada Alvin yang menggantikan Annisa.


"Pak Rayhan? Pak Vino?" Rere bergumam saat Rayhan dan Vino terlihat berjalan ke arah dia.


"Selamat siang, pak," sapa Rere.


"Siang, Re. Apa Annisa ada?"tanya Vino.


"Annisa sudah lama tidak ke kantor, kadang ke kantor, tapi sekarang dia……"


"Sekarang dia sedang hamil? Jadi tidak ke kantor?"tanya Rayhan dengan memotong ucapan Rere .


"Hamil? Benarkah Annisa hamil?"tanya Rere pada mereka.


"Re, aku bertanya, kamu malah balik bertanya," tukas Rayhan.


"Aku juga bertanya, Pak. Aku selama ini tidak tahu kabar Annisa. Dia ke sini hanya menandatangani laporan saja, habis itu sudah, pulang. Dan, sekarang Annisa memang banyak diam, di sini pun bicara yang penting-penting saja," jelas Rere..


"Yakin, kamu tidak tahu soal Annisa, dia hamil atau tidak?"tanya Vino.


"Demi Allah, Pak Vino. Saya sama sekali tidak tahu-menahu soal ini. Soal Annisa hamil," jawab Rere.


"Aku coba panggil Pak Al, barangkali diia tahu. Masa iya, kalau hamil dia tidak bilang sama aku dan Vera? Kita sering kumpul, di rumah Annisa. Tapi Annisa tidak pernah cerita," jelas Rere.


"Iya, coba panggil Al ke sini," titah Rayhan.

__ADS_1


Rere memanggil Al untuk ke luar menemui Rayhan dan Vino. Ya, Rere juga bingung, apa Annisa benar-benar hamil atau tidak. Karena Annisa selama ini jarang sekali cerita dengan Rere dan Vere. Rere dan Vera ke sana hanya untuk menghibur Annisa saja biar tidak terlalu setres memikirkan masalahnya.


"Pak Al, ada Pak Vino dan Pak Rayhan,"panggil Rere.


"Ada apa mereka ke sini?"tanya Alvin.


"Tidak tau, katanya mau bicara penting, soal Annisa," jawab Rere.


"Oke tunggu sebentar,"ucap Alvin.


Rere luar dari ruangan Alvin dan duduk lagi di depan Rayhan dan Vino. Mereka sama-sama tidak tahu apa yang terjadi dengan Annisa.


"Masa iya Annisa hamil? Kalau hamil, dia pasti cerita sama aku dan Vera. Dia diam saja dari kemarin. Iya, Annisa sudah bisa bercanda dan sedikit tertawa. Tapi, kalau masalah hamil, aku benar-benar tidak tahu," gumam Rere.


Alvin keluar dari ruangannya menemui Vino dan Rayhan. Mereka mengobrol di sofa yang berada di samping meja kerja Rere. Rayhan segera bertanya pada Alvin mengenai Annisa hamil atau tidak.


"Al, apa benar Annisa hamil?"tanya Rayhan.


"Hamil? Annisa hamil?" Alvin balik bertanya pada Rayhan.


"Iya, benar atau tidak kalau dia hamil?"tanya Rayhan lagi.


"Aku malah baru tahu dari kamu, Ray, kalau Annisa hamil," jawab Alvin.


"Nah, Pak Al juga tidak tahu?"tanya Rere.


"Tidak, sama sekali tidak, Zidane dan papah pun tidak tahu, Re," jawab Al.


"Sebentar, kalian tahu Annisa hamil dari siapa?"tanya Al.


"Aku melihat dia kemarin, keluar dari poli kandungan di rumah sakit, yang kemarin Arsyad di rawat. Aku sedang di suruh papah menemui Dokter yang menangani Arsyad dan sekalian mengurus admistrasi. Saat itu, aku melihat Annisa keluar dari poli kebidanan dan kandungan. Mau apa ke situ kalau tidak hamil? Pasti tanya seputar kehamilan. Dan aku lihat postur tubuh Annisa juga semakin besar di bagian pinggang dan perut," jelas Vino.


"Memang sih, Annisa sekarang memakai baju yang longgar, celana pun dia longgar semua. Katanya begah sekarang. Apa iya, dia sedang hamil? Kalau iya, kasihan dia, dengan keadaan yang seperti ini,"ucap Rere.


"Itu yang aku pikirkan, jika memang Annisa hamil, aku bisa membantu agar papah dan Shita bisa melunak hatinya," ujar Vino.


"Jalan satu-satunya kita tanya Kevin," timpal Rayhan.


"Itu masalahnya, Ray. Kevin dari pagi tidak tahu sama Jordy ke mana. Kemungkinan di suruh papah,"ucap Vino.


"Ya sudah nunggu nanti Kevin pulang saja, kamu bicarakan baik-baik dengan Kevin," tutur Al.


"Iya, nanti akan aku bicarakan dengan Kevin," jawab Vino.


"Ya sudah, kami balik ke kantor dulu," pamit Rayhan.


Rayhan dan Vino kembali ke kantornya. Mereka masih penasaran soal Annisa yang hamil atau tidak. Annisa juga tidak pernah memberitahukan kehamilannya pada siapapun, hanya Suaminya, Kevin, Dio, dan Shifa yang tau.


Sudah 4 bulan Arsyad belum bangun dari komanya. Rico semakin cemas dengan keadaan Arsyad, sering sekali Rico melihat Arsyad mengeluarkan air matanya. Entah apa yang sedang di alami Arsyad di alam bawah sadarnya. Dan, sampai saat ini, Rayhan dan Vino belum tahu keadaan Annisa, hamil atau tidaknya.


Namun, tidak bagi Rere, Vera, Alvin, Zidane, dan paman Diki. Mereka sudah tau Annisa hamil. Bagaimana tidak tahu, perut Annisa sudah membucit, karena kandungannya berusia 6 bulan. Annisa sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kandungannya dengan orang terdekatnya.


^^


Rico hari ini tampak gelisah, Arsyad dari tadi terus menggerakkan jarinya. Namun, dia tak mau membuka matanya. Rico dan Bayu masih berada di samping Arsyad yangbsudah terbaring 4 bulan lamanya.


"Ric, sampai kapan kamu mau memisahkan Annisa dengan Arsyad?"tanya Bayu


"Entahlah Bay. Aku tidak tahu, aku bingung, aku salah, aku egois," ucapnya dengan suara serak khas orang menangis.


"Lalu? Kamu baru sadar? Apa yang kamu perbuat ini kesalahan besar? Kamu juga melupakan cucumu yang juga anak Arsyil. Dio dan Shifa cucumu, Ric. Anak dari anakmu, kamu Setega itu dengan mereka?"tanya Bayu dengan penuh penekanan.


"Kamu tidak pernah berubah, Ric. Kamu tidak pernah memahami situasi. Dulu kamu menyalahkan Andini, waktu Dinda pergi. Sekarang, Annisa. Menantumu yang juga ibu dari cucu-cucu kamu, Ric." Bayu terus menasehati Rico.


Rico hanya terdiam, menatap anaknya yang masih belum bangun dari mimpi indahnya.


"Syad, mau sampai kapan kamu seperti ini? Papah tidak kuat melihat kamu lemah seperti ini,"ucap Rico dengan menangis.


"Jika aku menjadi Arsyad. Aku tidak akan bangun sebelum orang yang aku cintai berada di sampingku," ucap Bayu.


"Ric, ini sudah 4 bulan, tak ada hasilnya juga kan, kamu menjauhkan Annisa dari Arsyad. Kalau dengan menjauhkan Annisa dari Arsyad membuat Arsyad cepat pulih, itu memang Annisa harus di jauhkan. Namun, lihat kenyataannya. Arsyad lebih parah, Ric," ujar Bayu.


"Jangan mudah tersulut emosi, Ric. Ingat kamu yang membuat Arsyad menikah dengan Annisa. Tapi, kamu sendiri yang menghancurkannya," imbuh Bayu.


"Maafkan papah, Syad. Bangun sayang, kasihan Najwa dan Raffi," ucap Rico.


Rico dan Bayu lagi-lagi melihta jari Arsyad bergerak. Mereka memanggil Dokter jaga yang ada di rumahnya. Karena jari Arsyad bergerak semakin cepat. Shita juga ikut masuk ke dalam melihat keadaan kakaknya.


"Perkembangan Pak Arsyad hari ini sangat baik, ada kemungkinan, Pak Arsyad membutuhkan seseorang yang sangat dekat dengannya. Agar dia bisa berinteraksi dengan baik. Pak Arsyad memiliki istri, kan? Kenapa tidak istri Pak Arsyad saja yang sering ke sini. Itu akan cepat memulihkan kondisi Pak Arsyad yang sekarang sudah semakin membaik." Dokter menyarankan seperti itu pada Rico.


"Iya, nanti akan saya akan hubungi istri Arsyad,"ucap Rico.


Dokter itu keluar dari ruang perawatan Arsyad. Rico hanya terdiam dan mencerna ucapan Dokter tersebut. Rico memang salah, dia memisahkan Arsyad yang sedang lemah seperti ini dengan Annisa. Begitu juga Shita. Sihta yang terlalu egois dengan keadaan ini. Seakan Annisa lah yang benar-benar salah dalam hal ini.


"Apa dengan cara Annisa datang Kak Arsyad akan sembuh? Ah…tidak, aku yakin Kak Arsyad sebentar lagi bangun dari komanya," gumam Shita


Rayhan dan Vino datang ke rumah Rico dan langsung masuk ke dalam ruang perawatan Arsyad. Rayhan datang karena Bayu meneleponnya karena Arsyad ada perkembangan baik hari ini.

__ADS_1


"Annisa……." Suara lirih terdenga dari mulut Arsyad. Ya, dia memanggil nama Annisa.


"Annisa….anak kita…." Lagi-lagi Arsyad memanggil Annisa dan meyebut anak kita.


"Arsyad, Kamu bangun, nak?" Rico mendekati Arsyad dan mengajak Arsyad bicar.


"Annisa….anak kita…Annisa..." Arsyad terus memanggil Annisa seperti itu.


"Anak kita?" Vino dan Rayhan berkata bersamaan.


"Vin, jangan-jangan benar dugaan kamu,"ucap Rayhan.


"Iya, tapi Rere tidak memberitahu kita lagi," ucap Vino.


"Maksud kalian? Apa yang kalian sembunyikan?"tanya Shita.


Rayhan dan Vini tidak menjawab karena mendengar Arsyad memanggil nama Annisa lagi. Bayu memanggil Dokter yang sedang berada di luar menerima telepon.


"Pah…." Arsyad memanggil Rico dengan suara serak.


"Sayang, kamu sudah bangun?"tanya Rico.


"Papah, Annisa," ucap Arsyad .


"Kamu tenang dulu, nak. Biar dokter memeriksamu dulu," Ical Rico.


Dokter memeriksa Arsyad dengan teliti. Keadaan Arsyad membaik, hanya saja kaki Arsyad mengalami sedikit masalah. Ya, karena saraf kaki nya masih belum sempurna, jadi Arsyad harus menjalani serangkaian terapi lagi.


"Dok, apa aku tidak bisa berjalan? Kaki ku sulit di gerakan," tanya Arsyad.


"Pak Arsyad, saraf kaki bapak masih lemah dan belum sempurna. Jadi bapak harus menjalani terapi dan penyinaran agar saraf kaki bapak kembali normal. Dan untuk sementara bapak memakai kursi roda dulu,"jelas dokter.


"Ini bukan lumpuh kan, Dok?"tanya Arsyad.


"Tidak, hanya saja saraf kaki bapak belum berkerja sempurna," jawab Dokter tersebut.


Dokter tersebut keluar dari ruang perawatan Arsyad. Dan, Arsyad kembali bertanya pada mereka soal Annisa. Semua kebingungan harus berkata apa.


"Pah, mana Annisa? Apa dia baik-baik saja? Dia tidak apa-apa, kan?"tanya Arsyad.


Belum sempat Rico dan semuanya menjawab, Najwa dan Raffi masuk ke dalam ruang perawatan Arsyad bersama Vino.


"Abah, Abah sudah bangun," Najwa memelu Arsyad. Begitu juga Raffi.


"Sayang, kalian hanya berdua? Mana bunda, Dio, Shifa?"tanya Arsyad.


"Emm…Abah, maaf ini ada titipan dari bunda." Raffi memberikan surat yang Annisa titipkan waktu itu sebelum Annisa pergi dari rumah Arsyad.


"Lalu, di mana bunda?"tanya Arsyad.


"Abah baca dulu saja,"ucap Raffi.


Semua hanya terdiam. Dan semua tidak tahu, Annisa menitipkan surat pada Raffi. Rico semakin menyalahi dirinya. Arsyad memang membutuhkan Annisa dan mencintai Annisa. Rico menyeka sudut matanya yang sudah di banjiri air mata.


Arsyad membaca surat dari Annisa.


"Assalamualaikum, suamiku sayang.


Maaf, jika saat kakak bangun dari tidur panjang Kakak tidak mendapati aku di samping kakak. Bukan berarti aku tidak ingin melihat kakak lagi, tidak ingin berada di samping kakak lagi. Ini semua karena keadaan. Keadaan yang membuat kita terpisah, kak.


Kakak, Annisa mohon dengan kakak, jangan ceraikan Annisa, walaupun kakak di paksa untuk meninggalkan aku. Annisa tidak ada di samping kakak karena kemauan papah dan Kak Shita. Mereka kecewa dengan Annisa, karena semau anak laki-laki papah dan saudara laki-laki Kak Shita selalu terkena musibah saat menikah denganku.


Mungkin memang takdirku, kak. Di tinggalkan oleh orang yang aku sayangi dan aku cintai. Aku tidak akan berhenti mencintai Kakak. Dan, kakak tau, anak kakak yang menjadi penguat dalam hidupku sekarang, tanpa kakak, orang yang sangat Annisa cintai.


Maafkan istrimu sekali lagi, sayang. Ini suatu kesalahpahaman mengenai takdir. Ini semau sudah kehendak Allah, bukan aku yang mengatur kejadian ini. Tapi, seolah akulah penyebab semuanya. Aku harap, kakak baik-baik saja dengan papah dan Shita. Aku tetap akan menunggu kakak. Menunggu kakak kembali di sisiku.


Aku selalu mencintaimu, kak


Wassalamualaiku..


Istrimu, Annisa.


Arsyad tidak menyangka papahnya akan Setega itu pada Annisa. Arsyad menatap tajam pada papahnya dan adiknya. Tatapan yang menyiratkan kekecewaan mendalam bagi dirinya.


"Papah, tega mengusir Annisa dan cucu-cucu papah? Juga calon cucu papah!" Arsyad berkata dengan nada kasar.


"Maksud kamu?"tanya Rico.


"Annisa hamil, pah!" kelekar Arsyad yang membuat semuanya kaget dengan ucapan Arsyad. Semua hanya diam tak berkata apa-apa.


"Berapa bulan aku koma?"tanya Arsyad dengan suara datarnya.


"Empat bulan," jawab Rico.


"Kandungan Annisa pasti sudah membesar. Ya Allah...papah tega sekali dengan Annisa." Arsyad menangis dan meremas selimutnya.


"Maafkan papah, maafkan papah, nak. Papah memang egois. Papah janji akan membawa Annisa kembali ke sini, maafkan papah," ucap Rico dengan menyesal.

__ADS_1


Arsyad hanya terdiam, dia tak henti-hentinya menangis, memikirkan bagaimana Annisa di luar sana dengan anak-anaknya dan dia sedang mengandung.


"Ya Allah, di mana istriku? Bagaimana keadaannya dan kandungannya? Lindungi dia selalu, Ya Allah. Andai aku bisa berlari, aku akan lari sekarang meninggalkan rumah papah dan mencari Annisa," gumam Arsyad.


__ADS_2