THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 9 "Kemenangan Leon"


__ADS_3

Annisa begitu sesak sekali dadanya, dia dari tadi ingin sekali menumpahkan air matanya, di dalam taxi, dia menangis dan menumpahkan rasa sesak di dadanya. Sesampainya di kantor, Annisa segera menghapus air matanya, dia turun dari taxi dan masuk ke dalam kantor. Zidan berjalan cepat ke ruangan Annisa, karena melihat email masuk bahwa semua perusahaan yang kemarin membatalkan kerjasama secara sepihak sekarang ingin melakukan kerjasama lagi.


"Annisa, kamu dari mana?"tanya Zidane.


"Cari makan, aku lapar sekali tadi."ucap Annisa.


"Kamu tau, semua perusahaan yang kemarin membatalkan kerjasama secara sepihak sekarang ingin melakukan kerjasama lagi."ucap Zidane dengan bahagia.


"Iya aku sudah tau."ucap Annisa dengan cuek lalu masuk ke ruangannya


"Nis…Nisa …tunggu." Zidane mengejar Annisa dan masuk ke dalam ruangan Annisa.


"Nis, jelaskan, kenapa semua bisa seperti ini? Dan,kenapa mereka bisa secepat ini ingin menjalin kerja sama lagi?"tanya Zidane.


"Ya, aku menerima tawaran Leon. Untuk melamarku, kalian ingin perusahaan kalian kembali seperti semula kan? Ya itu, aku sudah melakukannya, dan sekarang aku terima konsekuensinya, aku harus menerima Leon. Bukankah kalian yang menginginkan semua ini?"tanya Annisa dengan nada sinis.


"Tapi, Nis, kamu tidak mencintai Leon, kan.?"tanya Zidane.


"Ya, pikir saja sendiri. Sudah keluar dari sini, jangan ganggu aku, aku ingin sendiri."ucap Annisa. Zidane segera pergi dari ruangan Annisa. Dia tak menyangka Annisa akan melakuma itu semua.


Annisa mendudukan dirinya di kursi, hatinya sangat kacau sekali, dia kembali menangis meratapi nasibnya.


"Arsyil, aku tidak kuat, aku ingin sekali pergi dari sini. Maafkan aku Arsyil, aku melakukan ini semua demi perusahaan yang sudah di bangun papah dan paman dari nol. Maafkan aku, aku harus menerima lamaran Leon, tapi tidak dengan hatiku, hatiku tetap utuh untuk kamu, Syil."gumam Annisa.


^^^^^


Leon kembali ke kantornya, dia masih memikirkan Annisa yang tiba-tiba menerima kekalahannya dan menyerahkan dirinya pada Leon. Dia masih terus terbayang wajah Annisa tadi yang menyiratkan kepedihan sangat dalam. Dia merasa, kalau dia sangat memaksa Annisa untuk menerima cintanya. Leon mengusap kasar wajahnya, dia memang merasakan kemenangan bisa mendapatkan Annisa, walaupun tidak mendapatkan hati Annisa, tapi hati Leon sangat sakit jika harus memaksakan Annisa untuk mencintainya.


Leon menyandarkan kepalanya di di sandaran kursi dan manatap ke atas, dia masih memikirkan hati Annisa, yang mungkin sakit karena di paksa untuk menerima lamarannya.


"Apa aku bisa hidup dengan orang yang tidak mencintaiku sama sekali, aku tau dia terpaksa melakukan ini semua demi perusahaan pamannya. Ah…kalau aku memikirkan ini yang ada aku semakin tidak tega untuk menikahinya."gumam Leon dalam hati.


Pintu ruangan Leon terbuka, terlihat seorang laki-laki masuk ke dalam ruangannya, dia mendudukan dirinya di kursi yang berada di depan Leon. Leon segera menyadarkan diri dari lamunannya, dia menyadari ada seseorang yang masuk ke dalam ruangannya.


"Leon."sapa laki-laki itu.


"Hay, Paman Willy, apa kabar, lama tidak ke kantor Leon."sapa Leon pada Willy, pamannya.


"Ya, paman sangat sibuk sekali dengan pekerjaan paman, bagaimana kau jadi melamar seorang wanita? Paman kaget mendapat pesan kamu kemarin kalau dalam waktu dekat ini kamu akan melamar seorang wanita."ucap Willy.


"Iya, Leon akan melamar seorang wanita."ucap Leon.


"Wah….wah….wah….ternyata seorang Leon bisa mencintai wanita juga, seorang Leon yang dingin dengan wanita, kini sudah bisa jatuh cinta dengan wanita, siapa wanita yang bisa membuatmu jatuh cinta Leon?"tanya Willy.


"Ehmm…dia janda beranak dua, paman."ucap Leon.


"What…! Janda?" Pan Willy terkejut mendengar Leon mengatakan bahwa wanita yang ia sukai adalah seorang janda beranak dua.


"Iya, dia janda dan memiliki dua anak. Tapi dia masih muda sekali, paman."tutur Leon.


"Paman tidak masalah dengan pilihanmu, mau janda atau gadis, yang penting dia wanita baik-baik dan satu keyakinan dengan keluarga kita."ucap Willy.


"Jelas lah, dia Islam, dia berhijab, cantik. Pandai berbisnis, pokoknya dia wanita sempurna. Namanya Annisa." Leon memuji Annisa di depan pamannya.


"Jadi kapan kamu akan melamarnya?"tanya Willy.


"Minggu depan."ucap Leon.


"Dia janda bercerai, atau suaminya meninggal?"tanya Willy,


"Suami Annisa meninggal kurang lebih satu tahun yang lalu. Dia juga seorang pengusaha sukses di Indonesia, paman tau Alfarizi? Suami Annisa anak dari Alfarizi."tutur Leon


"Alfarizi? Sebentar, sebentar, kamu ingat anak dari keluarga besar kita di Indonesia yang menikah dengan saudaranya Alfarizi?"tanya Willy.


"Ah…iya paman tapi aku lupa, mereka juga jarang sekali berkumpul dengan keluarga besar di sini. Sudah lah lupakan itu, yang penting aku menikah dengan Wanita pujaanku, paman."ucap Leon.


"Ya, benar. Ya sudah, kabari paman saja, jika kamu akan melamar wanitamu itu."ucap Willy.


"Baik paman."ucap Leon.


"Maukah kau menemani paman minum kopi?"tanya Willy.


"Boleh, mari kita ke cafe sekaligus merayakan kemenangan Leon yang baru saja mendapatkan seorang wanita secanti Annisa."ucap Leon.

__ADS_1


"Maksudnya?"tanya Willy.


"Ya, seperti itu, maksudnya Annisa baru saja menyetujui kalau Leon Minggu depan akan melamarnya."ucap Leon menyembunyikan kenyataan kalau dia mendapatkan Annisa dengan cara yang licik. Karena kalau memberitahukan pamannya, pamannya itu tidak akan setuju.


"Maaf paman, Leon menyembunyikan ini semua, karena Leon sangat mencintai Annisa, jadi segala macam cara Leon lakukan untuk mendapatkan Annisa."gumam Leon dalam hati.


Leon dengan Willy pergi ke cafe untuk sekedar minum kopi dan mengobrol, memang mereka lama tidak bertemu.


^^^^^


♥️Annisa♥️


Sakit sekali menerima kenyataan ini, aku tidak tau harus bagaimana lagi, jalan satu-satunya adalah menerima Leon untuk menjadi suamiku. Aku harus kuat, ada dua malaikat kecil di sisiku yang akan selalu memberi aku semangat unuk menjalani hidup ini dan menuntaskan semua masalah ini. Entah apa yang mereka rencanakan, aku tidak tau. Mereka semakin hari semakin dewasa, dan kepedulian mereka untuk melindungiku sangat tinggi, mereka selalu memerhatikan aku, menjaga aku, dan selalu mengerti apa yang aku rasakan.


Dio dan Shifa, si kembar yang sangat aku cintai, mereka sekarang sudah tumbuh menjadi dewasa. Pergaulan di sini membuat mereka sudah memiliki pikiran yang sangat dewasa. Ini semua memang salahku, memaksa mereka untuk ikut ke dalam keegoisanku. Aku memang egois, tapi egoisku untuk menyelamatkan keluarga kakak iparku agar mereka tdak berseteru lagi. Coba jika aku masih di sana. Mungkin Kak Arsyad tidak bisa fokus mengurus Kak Mira yang sakit. Najwa sakit saja kemarin dia acuh, karena Dio dan Shifa.


Aku tidak mau mereka selalu mendapati perselisihan karena aku, meskipun hanya perselisihan sedikit, dan perbedaan pendapat yang sedikit. Aku tau apa yang dirasakan Kak Mira, dia wanita dan akupun wanita, tetap saja Kak Mira cemburu, walaupun Kak Arsyad hanya menaruh perhatian pada Dio dan Shifa, tapi tetap saja, ada aku di dalam rumahku, dan Kak Arsyad selalu datang ke rumahku, tak peduli ada aku atau tidak. Itu yang membuat Kak Mira cemburu.


Sekarang, aku di Berlin, dan tujuanku ke sini adalah untuk menghindari keluarga suamiku,. Tapi, Tuhan berkata lain, kedatanganku di Berlin membuat hati ini semakin sakit, membuat hidupku lebih runyam dari pada sebelumnya. Mungkin ini adalah sebuah balasan karena aku terlalu egois meninggalkan orang-orang yang baik dari keluarga mendiang suamiku. Meskipun seperti ini, aku tidak masalah, aku tidak merusak kebahagiaan orang lain, aku tak membuat orang lain berselisih dan terus saling diam. Walau hatiku ini sangat sakit, asal keluarga kakak iparku menjadi tentram kembali.


Aku akan mencoba menerima semua kenyataan ini, aku yakin Allah tau mana yang terbaik dan mana yang buruk untuk aku. Jika aku bisa berbuat baik dengan orang lain, Allah pasti selalu memberi kebaikan dalam hidupku, dan aku percaya itu. Semua akan baik-baik saja, jika aku ikhlas menerima semua ini. Iya, aku harus belajar ikhlas dengan semua ini. Aku akan berusaha menerima Leon, dia sebenarnya orang baik, tapi hati dia yang kotor dan aku akan mencoba membuat dia menjadi lebih baik lagi.


Aku kembali mengerjakan semua berkas laporan yang menumpuk di atas meja kerjaku. Terdengar ketukan pintu di ruang kerjaku, dan aku mempersilahkan seseorang itu masuk ke dalam.


"Juan, ada apa?"tanya ku. Orang itu adalah Juan, seseorang yang di percaya Zidane untuk mengurus keuangan kantor.


"Aku dengar dari Zi, kalau Leon berusaha menghancurkan perusahaan ini karena di tolak lamarannya olehmu, Annisa?"tanya Juan dengan mendudukan dirinya di kursi yang berada di depanku.


"Kamu ke ruanganku hanya untuk bertanya yang tidak penting seperti ini, hah?"tukas ku.


"Tidak penting? Justru penting sekali Nisa. Kamu wanita yang bodoh, yang menolak orang yang terkenal seperti Leon. Dia CEO termuda, kaya raya dan pandai."ucap Juan dengan menyunggingkan senyuman yang seakan-akan mengejekku.


"Aku bodoh? Iya aku memang bodoh Juan. Aku memang bodoh, menerima Leon hanya untuk kepentingan perusahaan ini. Demi untuk menyelamatkan perusahaan ini." Aku berkata dengan marah di hadapan Juan.


"Apa? Kamu menerimanya? Wah…wah…wah…pintar. Kamu wanita yang pintar sekali, ternyata kamu masih peduli juga dengan perusahaan ini."ucap Juan.


"Ini perusahaan papah dan paman, lalu apa urusannya denganmu, kalau aku menerima Leon? Ingat kamu hanya staf di sini. Yang di percaya Zi untuk mengelola keuangan di sini. Jika kamu melakukan kesalahan sedikitpun, aku tak segan-segan mengeluarkan kamu dari sini."tukas ku.


"Galak sekali kamu, Nis. Aku aku kira kamu tidak menerima Leon, jadi aku masih ada kesempatan."ucap Juan.


"Santai saja, Annisa. Tanpa kamu mengusir aku akan pergi. Tolong tanda tangan ini dulu, Zidane sedang keluar, jadi aku langsung ke ruanganmu."ucapnya. Aku menerima berkas dari Juan dan menandatanganinya.


"Lain kali, jika Zi sedang keluar, titipkan pada Laura, suruh dia yang ke sini."ucap ku.


"Baik, aku permisi." Juan keluar dari ruanganku. Pria yang sama seperti Leon, tak gentar mendekatiku, tapi sepertinya dia sudah menyerah karena Leon. Leon memang akan melamarku, tapi dia tidak berhak mendapatkan hati ini.


Hari pertunangan Annisa semakin dekat, Leon semakin sering ke rumah paman Diki untuk menemui Annisa, Leon juga semakin dekat dengan Dio dan Shifa. Walaupun sebenarnya Dio dan Shifa sama sekali tidak menyukai Leon, tapi mereka berpura-pura meyukai Leon. Annisa sedang menunggu Leon datang menjemputnya untuk membeli cicin pertunangan mereka dan gaun pertunanagan mereka. Annisa menampakan wajah yang begitu murung saat ia duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu Leon datang.


"Apa-apaan ini, aku sebentar lagi akan resmi menjadi tunanahnnya Leon. Sungguh ini sangat menyakitkan, aku akan berusaha menerima kenyataan ini, aku punya waktu satu tahun untuk melepaskan diri dari Leon. Iya, aku pasti bisa."gumam Annisa dalam hatinya.


Shifa dan Dio juga sudah siap untuk ikut Annisa dan Leon membeli cincin pertunangan mereka. Dio dan Shifa menemui Annisa yang sudah berada di ruang tamu. Mereka melihat Annisa yang terlihat murung dan sedih. Shifa dan Dio saling menatap dan mengernyitkan dahinya.


"Kak, lihatlah, bunda sedih sekali wajahnya."ucap Dio dengan Shifa


"Iya,bunda sangat sedih sekali, kita harus membantu bunda, Dio. Agar Paman Leon dan bunda tidak jadi menikah."ucap Shifa.


"Bagaimana, kakak sudah menemukan kontak pakde, opa atau budhe Shita?"tanya Dio.


"Belum, nanti aku akan mencoba mencari di ponsel bunda, diam-diam."ucap Shifa.


"Oke, semakin cepat semakin baik, Shifa. Agar tidak sampai satu tahun kita bisa melepaskan bunda dari paman Leon dan kembali ke Indonesia."ucap Dio.


"Aku malah ingin sesegera mungkin ,Dio."ucap Shifa.


"Jangan gegabah, kata bunda paman Leon orangnya licik, jadi perlu waktu agak lama untuk bisa meluluhkan hati pan Leon."ujar Dio.


"Ya sudah terserah kamu, yang penting, hibur bunda dulu, jangan biarkan bunda sedih, kakak tau bunda sedih sekali saat ini."ucap Shifa.


"Iya kak, ayo ke bunda."ajak Dio. Dio dan Shifa menghampiri Annisa yang sedang duduk menunggu Leon dengan wajah yang sedih.


"Bunda…." Dio dan Shifa mengagetkan Annisa yang sedang melamun, hingga Annisa terjingakat.


"Kalian itu, bunda kan kaget, sayang."ucap Annisa sambil menarik hidung Dio dan Shifa lalu memeluk mereka.

__ADS_1


"Habisnya, bunda melamun sih, jangan sedih bunda, Dio aakan selalu menemani bunda, kita lewati ini bersama ya, bunda."ucap Dio.


"Iya bunda, jangan sedih, bunda masih ada waktu untuk bisa melepaskan Paman Leon. Tenang saja, bunda jangan bwrsedih, ya. Kita nanti pulang ke Indonesia, tanpa bunda menikah dengan paman Leon.


"Iya, bunda tidak sedih, ini Buda tersenyum."ucap Annisa dan tersenyum manis pada kedua anaknya.


"Kalian ikut bunda kan?"tanya Annisa.


"Ikut dong, bunda. Masa tidak."ucap Dio.


"Kami akan menemani bunda, ajak kami kalau bunda pergi dengan paman Leon, Shifa takut paman Leon macam-macam dengan bunda."ucap Shita.


"Iya, Dio juga takut kalau paman Leon akan macam-macam dengan bunda. Jika ada kami, paman Leon pasti tidak akan macam-macam."ucap Dio.


"Siap bos kecilku.!"ucap Annisa dengan memberi hormat pada Dio dan Shifa, lalu memeluk mereka.


"Dio sayang bunda." Dio mecium pipi Annisa sebelah kiri.


"Shifa juga, sayang sekali dengan bunda." Shifa mencium pipi Annisa sebelah kanan.


"Bunda juga sayang kalian." Annisa mencium kedua anaknya bergantian.


"Eh…itu Paman Leon sudah datang, ayo kita ke depan. Ingat jangan buat paman Leon kesal. Bersikap sopan padanya, dan jangan tunjukan rasa tidak suka kalian pada Paman Leon, bunda juga seperti itu, akan berpura-pura manis di depan paman Leon. Oke."tutur Annisa


"Oke, bunda."jawab mereka kompak.


Leon turun dari mobilnya, dia terlihat memakai kaos lengan panjang yang agak ketat dan memperlihatkan sedikit lekukan roti sobeknya yang tertutup oleh kaos ketatnya, dan menggunakan celana jeans, kacamata hitam yang ia kenakan menambah dirinya terlihat semakin macho. Leon memang sangat tampan sekali, wajahnya mirip dengan aktor Tom Cruise. Bagaimana wanita tidak tergila-gila dengannya. Mungkin di luar sana banyak yang bilang Annisa wanita yang sangat beruntung mendapatkan Leon, apalagi dengan status Annisa janda beranak dua dan Leon yang masih lajang.


Tak di sangka Leon menambatkan hatinya pada Annisa yang statusnya janda dan memiliki dua anak. Banyak sekali wanita cantik yang mencoba mendekati Leon, bahkan lebih cantik dari Annisa. Namun tidak ada satupun yang masuk di dalam keriteria Leon untuk dijadikan istri. Meskipun tampan dan kaya raya, Leon tidak suka mempermainkan wanita, karena bagi dia wanita adalah makhluk yang harus ia lindungi, jadi dia tak mau mempermainkan perasaannya.


Leon menghampiri Annisa yang sudah berada di teras rumahnya, dia melihat pujaan hatinya bersama kedua anaknya menunggu dia menjemputnya. Bagaimana tak bahagia hati Leon, Annisa mau menerima dia, dan tinggal menghitung hari lagi, Annisa resmi menjadi tunangannya.


"Maaf, apa kalian menunggu lama?"tanya Leon sambil membukukan sedikit tubuhnya.


"Tidak, baru 10 menit kami menunggu. Nak, kasih salam pada Paman Leon."ucap Nisa.


"Hai paman Leon."sapa Dio dan Shifa. Mereka mencium tangan Leon. Leon merasa senang anak-anak Annisa juga akhirnya bisa menerimanya.


"Kalian juga ikut kan?"tanya Leon.


"Iya, Dio ikut."ucap Dio dengan menyunggingkan senyumannya.


"Shifa juga ikut, kami boleh ikut kan, paman?"tanya Shifa.


"Boleh, sayang, biar semakin ramai, nanti paman traktir kalian es krim."ucap Leon.


"Yeayy…Shifa mau makan es krim yang banyak."ucap Shifa.


"Dio juga."sahut Dio.


"Ayo kita berangkat, Dio apa Shifa yang duduk di depan menemani Paman?tanya Leon.


"Tidak bunda saja?"tanya Dio.


"Emm…sepertinya kamu saja, yang duduk di samping paman, Dio. Biar merkea wanita di belakang, kita di depan."ucap Leon.


"Baiklah."ucap Dio.


Mereka masuk ke dalam mobil, Dio duduk di samping Leon yang mengemudika mobil, dan Annisa dengan Shifa duduk di belakang. Leon memasangkan seat belt pada Dio, dan dia segera melajukan mobilnya ke toko perhiasan yang paling besar dan terkenal.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


♥️happy reading♥️


__ADS_2