
Sudah dua hari Annisa dan Arsyad berada di rumah nya, mereka sudah tidak merasa khawatir dengan kehadiran Farina lagi. Dedi berhasil menyelidiki Farina selama di tugaskan Robert untuk mengintai Farina di vila nya. Arsyad memang sudah merasa tidak terlalu khawati, tapi tidak untuk Annisa. Dia masih sedikit mencemaskan kalu Farina akan mengusik hidupnya lagi seperti dulu. Walaupun penjagaan di rumah Arsyad di perketat selama dia kembali dari Vila nya, tapi Annisa tetap saja berhati-hati sekali saat berada di luar.
Hari ini Arsyad pertama kalinya masuk ke kantor, setelah dua hari dia berasa di rumahnya untuk menenangkan pikiran dan menunggu kabar baik dari Robert dan Rahman yang menyuruh Dedi mengintai Farina. Setelah semuanya di rasa sudah aman, Arsyad agak tenang untuk pergi ke kantor dan menjalankan aktivitasnya di luar rumah.
“Pagi sayang.” Arsyad memeluk istrinya yang sedang berada di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Tak peduli ada Shita dan Rachel di sana yang juga sedang membantu menyiapkan sarapn pagi, dia memluk Annisa dengan erat dan mencium ke dua pipinya.
“Pagi juga sayang, kamu sudah mandi?” tanya Annisa yang juga membalas ciuman suaminya, dia mencium pipi suaminya tak peduli ada Shita dan Rachel.
“Hmmm....pengantin lama rasa baru, nempel terus...!” ledek Shita pada kakaknya.
“Biarin lah, kak Shita. Maklum, mereka kan baru merasakan jatuh cinta lagi, selama berpuluh-puluh tahun cinta mereka terhnti di tengah lautan, dan bertumpu pada cinta yang lain terlebih dahulu,” sahut Rachel yang dengan sibuk membuat teh.
“Iya, sirik aja kamu, Ta. Lihta kakaknya bahagia kok sirik gitu,” ucap Arsyad sambil menarik hidung adiknya.
“Sakit tau, kak. Iya, iya, Shita tau kakak sedang bahagia. Kapan nih kita dapat keponakan lagi ya, Chel?” tanya Shita pada Rachel.
“Iya nih, kapan aku dapat keponakan, Kak?” tanya Racherl.
“Tunggu saja, sedang proses, semoga sebentar lagi,” jawab Arsyad.
“Kak, ini jangan meluk terus, Annisa susah mau naruh sayur ke dalam mangkuk,” ucap Annisa.
“Sini biar kakak bantu.” Arsyad membantu menaruh sayur ke dalam mangkuk dan menatanya di meja makan.
Semua berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi bersama, beruntug ruang makan di rumah Arsyad cukup luas, jadi bisa menampung bebrapa keluarga besar Arsyad saat makan bersama. Rico sangat beruntung sekali bisa memiliki keluarga besar seperti sekarang ini, keluarga yang selalu kompak, walaupun keluarga dari istrinya. Iya, Ibu Andini, Rico sangat beruntung sekali menikah dengan Andini, dia bisa memiliki keturunan, memiliki banyak cucu, dan memiliki kakak ipar sekaligus sahabat dari masa sekolahnya hingga sekarang. Meskipun dua orang wanita yang di cintainya sudah menetap di surga, Rico selalu bersyukur sekali karena masih memiliki anak, cucu, dan saudara yang sangat menyaynginya.
“ Dinda, Andini, bidadari surga papah, dan Arsyil putra papah yang papah sayangi. Lihatlah, papah tak sendirian, papah memiliki anak dan cucu, juga saudara yang sangat menyayangi papah, papah sangat bahagia walaupun kalian sudah tak menemani papah lagi, semoga Allah menempatkan kalian di surga, tunggu papah di sana, Dinda, Andini, dan Arsyil,” gumam Rico.
“ Ric, kami pulang ya hari ini, kan semua sudah membaik, dan ada pengawal juga, aku banyak pekerjaan di perkebunan,” ucap Bayu.
“Iya, Bay. Kamu sama Iva langsung ke sana?” tanya Rico.
“Iya, aku langsung ke sana, Ric,” jawab Bayu.
“Ya sudah kalian hati-hati, jaga kesehatan, Bay, jangan di porsir untuk bekerja, kasihan badan kamu,” tutur Rico.
“Dengar tuh yah, apa yang Om Rico bilang,” sahut Rayhan.
“Tuh, ayah kalau kita yang nasehatin gak mau dengar,” imbuh Rachel.
“Iya, iya, ayah mulai sekarang kurangi lemburnya, kan sudah ada asisten baru ayah di sana,” ucap Bayu.
“Ada asisten juga ayah biasanya lembur, kan. Ayah itu bandel sekarang, Ray, kalau di beritahu, persis seperti Rachel,” ucap Iva.
“Benar, bu. Rachel itu harusmya di sentil dulu, baru bisa nurut,” sahut Lukman suami Rachel.
“Kalian kenapa bahas Rachel, sih....!” tukas Rachel.
“Memang kalian sama saja, sama-sama bandel kalau di kasih tau,” imbuh Rico.
“Tuh, om malah nambah-nambahin,” ucap Rachel sambil mengerucutkan bibirnya.
“Oh ya, Lukman, kamu masih mengajar di Ponpes Pakde Fahmi, kan?” tanya Arsyad.
“Masih lah, ini saja aku cuti kemarin dari hari kamis,” jawab Lukman.
“Pakde sehat, kan?” tanya Arsyad lagi.
“Alhamdulillah, walaupun beliau sudah lanjut usia, beliau masih terliaht sehat, meski kadang sering sakit-sakitan, kemarin Pakde sempat menanyakan kamu, Syad,” jawab Lukman.
“Salam buat pakde, maaf aku belum bisa berkunjung ke sana,” ucap Arsyad.
“Iya, nanti akan aku sampaikan,” ucap Lukman.
Mereka sudah menyelesiakan sarapan paginya, semuan keluarga Bayu berpamitan untuk pulang. Rico juga ikut mengantar cucu-cucunya berangkat ke sekolah. Tinggal Arsyad dan Annisa yang berada di rumah, bersama dengan penjaga rumah dan satpan, juga Mas Joko tukang kebun mereka.
Annisa sudah selesai membereskan meja makan dan membantu Mba Lina menmbilas piring dan gelas kotor. Annisa berjalan menuju kamarnya, dia akan bersiap-siap pergi ke kantor. Sudah beberapa hari ini Annisa tidak ke kantor, begitupula Arsyad, dia juga sedang bersiap-siap untuk ke kantor.
Annisa melihat suaminya sedang bertelanjang dada keluar dari kamar mandi dengan menggunakan celana pendeknya dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Aanisa berlari ke arah suaminya dan memeluknya erat. Dia paling suka melihat dada Arsyad yang sekarang tumbuh bulu-bulu halus, membuat dia terlihat seksi saat bertelanjang dada.
”Annisa, ini....aduuhhh.... jangan membangunkan singa yang sedang tidur Annisa,” ucap Arsyad sambil merasakan sentuhan lembut annisa di dada nya.
“Salah sendiri kakak mandi gak nungguin Annisa,” ucap Annisa yang tangannya masih meraba dada Arsyad dan menarik satu helai bulu yang ada di dada Aesyad.
“Awww.... sakit, Nisa!” Arsyad mengusap dadanya yang sakit karena bulu halusnya di cabut Annisa.
“Kakak tau kan, yang namanya gemas?” tanya Annisa sambil menggoda suaminya.
“Iya tau, seperti ini, kan?” Arsyad menggigit hidung Annisa pelan karena terlihat menggemaskan juga.
“Sakit, kakak !’ tukas Annisa.
“Tau kan rasanya sakit karena gemas?” Arsyad menggoda istrinya, dia tak peduli hari sudah semakin siang.
Arsyad bermain dengan bagian tubuh Annisa yang ia sukai. Sesekali dia memilin apa yang ia sukai hingga Annisa merasakan geli dan gemetar di sekujur tubuhnya, menahan gejolak hasratnya yang semakin tinggi.
“Hmmmppp.....”leguh Annisa lirih di telinga Arsyad, yang mebuat Arsyad semakin semangat bermain di bagian yang ia sukai.
Arsyad mulai meurunkan kepalanya menuju ke bagian yang ia sukai tadi. Mulutnya mencium lembut setiap inci bagian yang ia sukai di tubuh Annisa. Hinnga Annisa merasakan dan menikmati setiap apa yang suaminya lakukan.
“Nis, kakak ingin sekali, kamu sih mancing-mancing kakak,” bisik Arsyad di telinga Annisa.
“Hmmmm....lakukanlah, kak. Annisa juga menginginkannya,” ucap Annisa dengan suara parau. Suara yang khas saat seseorang di mabuk kepayang oleh pasangannya.
Arsyad melakukannya lagi di pagi ini, setelah ia mandi junub kesekian kalinya. Arsyad berada di atas Annisa dengan napas yang menderu. Napas mereka saling beradu, Arsyad semakin cepat menggerakkan tubuhnya saat menerima respon dari milik Annisa yang kuat mencengkram miliknya. Erangan Arsyad membuat Annisa semangat mengimbangi gerakan suaminya. Annisa meleguh dengan suara lembut dan menaj, sesekali dia menyebut nama Arsyad di sela-sela leguhannya.
“Annisa.....” erang Arsyad saat dia hendak mencapai pelapasan.
“Hmmmpp....kakak....” leguh Annisa dengan manja.
Arsyad dan Annisa bersama-sama melakukan pelepasan. Mereka sudah melakukan kegiatan favoritnnya bekali-kali dari semalam hingga pagi ini sebelum berangkat ke kantor. Arsyad mandi lagi bersama istrinya, entah kenapa dengan Annisa dia sulity sekali menahan hawa nafsunya. Dia ingin dan ingin lagi jika Annisa sesikit menggodanya.
“Aku tidak tau, aku tak bisa mengendalikan diriku saat di sentuh oleh Annisa, tersentuh sedikitpun, aku tak bisa menahan hawa nafsuku. Entah apa yang membuatku bisa seperti ini. Dulu dengan istri pertamaku, aku sungguh sulit sekali menumbuhkan gairahku, harus dengan berkali-kali sentuhan baru bisa menikmtainya. Bukan aku membedakan, hanya saja aku benar-benar tak terkontrol saat ini. Apalagi Annisa pandai sekali menggoda dan merayu. Maafkan aku Almira, bukan aku membedakan kamu dengan Annisa, kamu tetap yang terbaik, istri terbaikku. Terima kasih Almiraku sayang, tenang di surga, dan tunggu aku di sana,” gumam Arsyad.
__ADS_1
Arsyad keluar dari kamar mandi bersama istrinya. Mereka memang selalu mandi bersama. Annisa mengambilakan baju kerja untuk suaminya dan mengambil baju kerja miliknya. Arsyad memakai baju kerjanya, begitupun Annisa. Annia melihat suaminya yang sedang sibuk melingkisl lengan kemejanya. Annisa begitu kagum pada suaminya, yang semakin bertambah umur, tapi masih saja terlihat semakin seksi.
“Dia benar-benar “Hot Daddy”, selalu saja membuatku gemas sekali dan membuat aku benar-benar selalu di buatnya mabuk kepayang dengan sedikit sentuhan lembut darinya. Dulu dengan Arsyil, aku jarang sekali bermain hingga berkali-kali. Maafkan aku Arsyilku sayang, bukan aku membeda-bedakan dirimu denagn Kak Arsyad. Kamu tetap yang terbaik yang pernah aku miliki. Tenang di surga Arsyilku sayang, meski aku tak bisa menemanimu di surga-Nya, aku yakin, kamu di temani oleh bidadari-bidadari surga yang cantik. Love You Arsyilku,” gumam Annisa sambil memejamkn matanya.
Annisa sudah selesai berdandan ala dia untuk ke kantor. Annisa sudah tidak memakai lipstik dengan warna yang mencolok lagi, semenjak Arsyad tidak mengizinkannya memakai lipstik warna yang mencolok. Annisa mendekati suaminya dan memakaikan dasi suamiya. Setelah selesai, Annisa mengambilakn tas milik Arsyad dan tas milik dirinya. Saat akan keluar dari kamarnya, ponsel Annisa berdering, dia segera mengambil ponselnya dalam tas. Annisa melihta siapa yang menelepon dia pagi-pagi. Annisa melilhat layar ponselnya, Leon menelepon Annisa, entah mau berbicara apa dengan Annisa.
“Siapa, Nis?” tanya Arsyad.
“Leon,” jawab Annisa dengan suara berat, karena dia tau kalau suaminya cemburu jika Leon meneleponnya.
“Boleh aku mengangkatnya?” tanya Annisa.
“Angkat saja, kali aja penting, Nis,” ucap Arsyad tanpa melihat Annisa.
“Ngapain sih, pakai acara menelepon Annisa segala, sudah tau sekarang jam akan ke kantor, lagian di sana juga pasti masih petang,” gumam Arsyad.
“Oke aku angkat.” Annisa mengangakt telepon dari Leon
“Hallo, Leon, ada apa?” tanya Annisa.
“Hallo sweet mom, apa kabarnya?” Leon balik bertanya pada Annisa.
“Apaan, sweet mom, sweet mom. Dikira aku tak mendengar?” lirih Arsyad yang mendengar suara Leon yang jauh di sana, karen Annisa sengaja melodspeaker panggilannya.
Annisa melirik suaminya yang sepertinya sedikit kesal karena ucapan Leon. Annisa jadi tidak merasa tidak enak dengan suaminya.
“Emmm....Alhamdulillah Baik, kamu apa kabar?” jawab Annisa dengan sedikit canggung karena merasa tidak eank dengan suaminya, apalagi raut wajah Arsyad sedikit kesal.
“Syukur Alhamdulillah, suamimu ada?” tanya Leon lagi.
“Ada, ini sedang di sampingku, kamu mau bicara dengan Kak Arsyad?” jawab Annisa dan menanyakan Leon barangkali mau berbicara dengan suaminya.
“Emm...aku hanya memberitahukan saja, kalau besok siang aku sampai di indonesia,” ucap Leon.
“Oh...baikalah, nanti aku menyuruh sopir untuk menjemputmu,” ucap Annisa.
“Apa paman, Zi, dan Al, ikut?” tanya Annisa.
“Tentu saja mereka ikut,” jawab Leon.
“Oke, nanti kabari saja kamu sampai jam berapa di bandara, biar aku suruh sopir untuk menjemput kalian,” ucap Annisa.
“Terima kasih, Annisa. Ya sudah, aku akhiri dulu teleponnya, kamu mau ke kantor, kan?” tanya Leon.
“Iya, ini mau berangkat,” jawab Annisa.
“Oke hati-hati,” ucap Leon sambil menutup teleponnya.
Annisa menaruh ponselnya ke dalam tasnya kembali, dia mengajak suaminya bkeluar kamarnya dan berangkat ke kantor. Hari ini Arsyad di kawal oleh dua pengawal suruhan Rico. Arsyad dari tadi hanya diam saja di dalam mobil. Annisa tau, Arsyad masih sedikit kesal dengan ucapan Leon yang memanggilnya Sweet Mom. Annisa melihat wajah Arsyad yang masih nampak kesal.
“Kak, kamu marah?” tanya annisa dengan manja.
“Tidak, siapa yang marah,” jawab Arsyad.
Arsyad hanya tersenyum saja dan masih memandang kedepan serius mengendarai mobilnya. Annisa tau, kalau suaminya sedang cemburu karena Leon memanggilnya Sweet Mom. Annisa mengusap pipi Arsyad dengan lembut, Arsyad menoleh menghadap istrinya dan tersenyum pada Annisa.
“Ada apa Sweet Mom? Jangan merayuku, mau aku makan lagi?” ucap Arsyad sambil tersenyum nakal.
“Sudah ku duga, pasti karena kata-kata Leon itu kakak jadi diam gini,” ucap Annisa.
“Yah....mungkin saja, lagian ada-ada saja dia, memanggil istri orang dengan sebutan sembarangan,” ucap Arsyad dengan agak kesal.
“Sudah, lagian apa masalahnya dia memanggil aku seperti itu, kak,” ucap Annisa dengan menyentuh pipi Arsyad.
Arsyad hanya terdiam tak berkata apa-apa, hatinya masih menahan cemburu saat Leon memanggil Annisa dengan panggilan yang menurut dia adalah panggilan sayang Leon pada Annisa.
“Tuh kan, diam lagi,” ucap Annisa dengan manja.
“Apa Sweet Mom...?” tanya Arsyad dengan mencubit pipi Annisa.
“Udah ah.... susah bicara dengan orang yang sedang cemburu,” tukas Annisa dengan memalingkan wajahnya melihat ke arah jendela mobilnya.
Arsyad hanya memandang dan tersenyum kearah Annisa, dia fokus mengendarai mobilnya, hatinya sedikit lega melihat Annisa yang merajuk seperti itu dengan wajah yang lucu.
“Seperti itulah wanita, kalau suaminya cemburu malah dia yang merajuk. Lucu sekali wajah Annisa, sungguh menggemaska sekali,” gumam Arsyad.
Mereka sudah sampai di kantor Annisa terlebih dahulu. Seperti biasa Arsyad mengantar Annisa sampai ke dalam ruangan Annisa. Rere kala itu sudah berada di ruangannya, dia melihat Annisa dan Arsyad berjalan dengan bergandengan tangan saat dia keluar dari ruangannya. Rere keluar untuk memastikan Annisa sudah berada di ruangannya atau belum. Dan ternyata, dia baru saja berangkat dengan di antar oleh suaminya.
“Hmmmm.... yang habis bulan madu, tambah mesra sekali rupanya,” ledek Rere pada Annisa.
“Cie...iri ya?” ledek Arsyad.
“Gak tuh...” tukas Rere.
“Aku kira masih belum puas bulan madunya kamu, Nis. Untunglah hari ini kamu berangkat, ada beberapa dokumen yang harus segera kamu tanda tangani, dan nanti siang kita ada meeting dengan klien,” ucap Rere.
“Oke, sekretaris seksi ku, aku ke ruangan dulu, nanti bawa saja dokumen yang harus aku tanda tangani,” ucap Annisa.
“Siap Bos cantik kuh....jangan lupa kunci pintunya, nanti sedang ehem..ehem...aku nyolong masuk seperti kemarin,” ucap Rere dengan berlalu kembalinke ruangannya.
“Dasar Rere,” ucap Annisa sambil tersenyum dan masuk ke dalam ruangannya.
Annisa masih melihat wajah Arsyad yang kesal, dia menarik lengan Arsyad dan memeluknya. Annisa memeluk erat suaminya dan meminta maaf, dia juga bilang nanti kalau Leon datang ke rumah jangan memanngilanya seperti itu lagi.
“Kakak....jangan marah ih...” ucapnya manja sambil menenggelamkan wajahnya di dada Arsyad.
Arsyad sengaja diam tanpa menjawab perkataan Annisa san tak membalas pelukannya. Arsyad hanya tersenyum merasa bahagia istrinya sekarang merajuk manja pada dirinya.
“Tuh kan.... diam saja, kak, sudah dong jangan marah.” Annisa berkata dengan nada serak seperti ingin menangis.
Arsyad membalas pelukannya, dia memeluk Annisa dengan erat. “Aku tidak marah, siapa yang marah, aku hanya tidak suka laki-laki lain memanggil kamu dengan seperti itu, sepertinya itu panggilan sayang dia untuk kamu.” Arsyad mengusap kepala Annisa denga lembut.
Annisa mereganggkan pelukannya, dia mendongak menghadap suaminy dan menatap wajah suaminya. Tatapannya beradu., dengan tatapan yang sayu Arsyad menatap mata istrinya yang indah itu. Arsyad mendaratkan ciumannya di bibir Annisa dengan lembut sekali. Annisa menikmati kecupan lembut dari suaminya. Bibir mereka beradu cukup lama, hingga tautan bibir mereka semakin dalam, lidah mereka beradu cukup lama hingga kecapan mereka terdengar di ruang kerja Annisa.
__ADS_1
Arsyad melepas ciumannya dan menghirup oksigen, karena dia kehabisan pasokan oksigen. Arsyad tersenyum menatap Annisa dengan tatapan sayu. Annisa memeluk erat tubuh suaminya lagi dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
“Maafkan aku, aku janji, saat Leon nanti datang, aku akan jaga jarak dengannya,” ucap Annisa.
“Iya, maafkan kakak juga, kakak terlalu cemburu, kakak hanya tidak suka mendengar istri kakak di panggil seperti itu oleh pria lain, kakak tidak Ridho, sayang. Sungguh tidak Ridho, kamu di panggil Leon dengan sebutan itu,” ungkap Arsyad.
“Iya, aku tau kakak, ya sudah kakak berangkat ke kantor. Jangan lupa kalau sudah sampai kabari aku,” ucap Annisa.
“Iya sayang, itu pasti. Love you,” ucap Arsyad dengan mencium kilas bibir istrinya dan mencium keningnya.
“Love You too.” Annisa membalas ciuman Arsyad.
Arsyad begitu lega karena sudah mengungkapakan rasa cemburunya pada Annisa. Arsyad menyuruh satu orang pengawal mengawasi Annisa dan dia ke kantor dengan satu orang pengawal.
“Aku suruh satu pengawal di sini untuk menjagamu, buat jaga-jaga saj, walaupun saudah terlihat aman,”ucap Arsyad
“Iya kak, kakak hati-hati ya,” ucap Annisa.
“Iya, sayang.” Arsyad mencium kening Annisa lagi.
Annisa mengantar Arsyad keluar untuk melihat suaminya berangkat ke kantornya. Terlihat dua pengawal duduk di kursi di depan ruangan Annisa.
“Salah satu dari kalian tetap di sini, bapak bisa ikut saya ke kantor, biarkan mobil bapak di sini, bawa pakai mobil saya saja,” ucap Arsyad pada pengawalnya.
“Siap, tuan!” jawab mereka kompak.
Arsyad berjalan keluar dengan pengawalnya yang akan mengantarnya sampai kantor. Annisa memandangi suaminya yang berjalan tegap dari belakang, hingga bayangan suaminya hilang dari pandangan matanya.
“Pak, kalau mau buat kopi ke pantry langsung saja, ya. Atau nanti saya suruh OB saya membuatkan kopi untuk bapak,” ucap Annisa.
“Santai saja, nyonya, nanti kalau sudah ingin minum kopi pasti saya buat, silahkan nyonya bekerja lagi,” ucap pengawal tersbut.
“Oke, baiklah,” ucap Annisa sambil berjalan kembali ke ruangannya.
Annisa kembali ke ruang kerjanya, dia mulai bekerja lagi, menjadi wanita karir lagi, setelah hampir satu minggu dia menjadi ratu di kerajaan Arsyad. Annisa hanya tersenyum bahagia mengingat semuanya saat kemarin berbulan madu dengan suaminya.
Rere masuk ke dalam ruangan Annisa, dia berjalan dengan cepat ke arah meja kerja Annisa karena melihat seorang laki-laki paruh baya di depan ruangan Annisa sambil membaca koran. Laki-laki itu sangat asing bagi Rere sehingga dia berjalan agak sedikit cepat ke arah meja Annisa.
“Nis, itu siapa? Laki-laki itu siapa?” tanya Rere
“Oh....itu, itu pengawal ku yang papah suruh untuk menjaga aku dan Kak Arsyad,” jawab Annisa.
“Pengawal?” tanya Rere dengan sedikit tak percaya.
“Iya, Rere...mana dokumen yang harus saya tandatangani,” ucap Annisa.
“Nis, tolong jelaskan padaku maksud pengawal itu,” paksa Rere sambil memberikan dokumen yang harus di tanda tangani Annisa.
“Kamu ingat Farina?” tanya Annisa.
“Farina?” tanya Rere dengan mata terbelaklak.
“Iya, Farina,” jawab Annisa dengan santai.
“Farina psikopat itu?” tanya Rere setengah tidak percaya.
“Yups, betul sekali, dia datang lagi, dan yang lebih mengejutkan, dia cinta mati denga n Kak Arsyad,”ucap Annisa.
“Benar-benar gila itu orang, kamu harus hati-hati Nis, jangan sampai kejadian dulu menima kamu lagi,” ucap Rere.
“Makanya papah mengutus pengawal untuk aku dan Kak Arsyad. Kemarin waktu di vila dia mengintai kami, Re. Aku juga tak tau, kenapa saat aku ingin bahagia dengan orang yang aku cintai harus berurusan dengan dia, hanya Arsyil yang tidak,” ucap Annisa.
“Itu ujian, Nis. Semoga saja Farina bisa menerima keadaan ini, aku juga khawatir sekali, takut dia macam-macam dengan kamu lagi,” ucap Rere.
“Itulah, aku juga sangat takut sekali, tapi kata penjaga Vila papah sudah aman sementara ini, entah kedepannya. Sudah jangan bsahas ini, semoga semua aman, hingga aku benar-benar bahagia denga Kak Arsyad,”ucap Annisa.
“Aamiin, aku senang akhirnya kalian bisa saling mencintai, semoga bahagai selalu kamu dengan Pak Dosen tampan,” ucap Rere.
“Ya....Kak Arsyad tampan sekali, ahh...sudah, aku jadi ingin peluk dia lagi,” ucap Annisa dengan ucapan manja.
“jiaah... dasar bucin, bucin kamu sekarang, Nis” ledek Rere.
“ Iya memang, memang aku butuh cintanya Kak Arsyad selalu,” ucap annisa dengan mengembangkan senyumnya.
“Sudah ah...aku amu keluar, nanti ketularan bucinnya, ingat jam 2 ada meeting dengan klien,” ucap Rere sambil berjalan keluar untuk kembali ke ruangannya.
Annisa masih sibuk dengan pekerjaannya, sesekali dia ingat apa yang setiap hari ia lakukan denga Arsyad. Dia benar-benar merasa berbeda sekarang, Annisa merasa dirinya seperti anak muda yang masih pacaran saja. Jika jauh dengan suaminya dia sangat merindukannya sekali.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading.
Ini dua bab aku jadikan satu ya...jadi kalau bilang aku sedikit upnya berarti pengen aku nangis nih..
Jangan lupa like dan vote nya yah...like turun drastis dari kemarin,
Budayakan like sebelum membaca / sesudah membaca yes...
Terima kasih....
__ADS_1