
Semau memandang ke arah Najwa. Najwa terlihat baik-baik saja di mata mereka. Tapi, hatinya bergemuruh, hancur berkeping-keping.
"Kuatkan aku, Ya Allah. Ini yang terbaik, aku percaya itu," gumam Najwa.
"Baik, nanti akan Abah bicarakan dengan Om Reno, saat besok malam kita ke sana," jawab Arsyad.
Dio hanya menganggukkan kepalanya. Hati Dio juga sama sakitnya dengan Najwa. Tapi, ini jalan satu-satunya agar Dio bisa melupakan Najwa. Meski sakit sekali.
"Maafkan aku, Najwa. Aku harus seperti ini. Jujur aku tidak kuat. Tapi, ini semua demi kebaikan kita, dan kenyataannya kita tidak bisa bersatu," gumam Dio.
Dio memandang raut wajah Najwa yang seperti baik-baik saja. Dio tahu, bagaimana perasaan Najwa saat ini. Dia hanya menyembunyikan rasa sakit hatinya dari keadaan ini.
"Bunda, Abah, Najwa ke kamar dulu, Najwa mau istirahat." Najwa pamit pada bunda dan Abahnya.
Najwa merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Air mata Najwa tumpah seketika saat mengingat kejadian tadi, di mana Dio bilang ingin melamar Rania.
"Kadang aku ingin menjadi orang lain saja, Dio. Agar aku bisa memiliki kamu seutuhnya, tapi aku adalah saudara kamu, aku tidak bisa merubah takdir ini, Dio. Dan sekarang, aku harus ikhlas melepas kamu dengan wanita lain, Dio," gumam Najwa.
Najwa mencoba menenangkan hatinya. Dia membuka Sketchbook nya dan mulai mendesak sesuka hatinya dan menurut apa yang ada di dalam hatinya. Najwa sengaja menyibukkan dirinya agar dia bisa melupakan Dio, yang masih bersemayam dalam hatinya, entah itu sampai kapan.
Lembar demi lembar Najwa menggoreskan pensilnya di Sketchbook nya. Entah kenapa dia menggambar desain beberapa baju pengantin yang sangat cantik. Karena memang itu yang ada di pikiran Najwa saat ini. Iya, dia hanya ingat kalau Dio akan menikah dengan wanita lain.
"Gaun pengantin? Kenapa aku menggambar ini? Ah …sudahlah, semua ini malah membuat aku pusing saja. Mungkin aku harus pergi jauh supaya lupa dengan Dio," gumam Najwa.
Suara ponsel Najwa membuyarkan lamunannya. Ada nomor yang masuk dan Najwa tidak mengenalnya. Karena nomor itu belum ada di kontak Najwa.
"Nomor siapa ini?" tanya Najwa dengan lirih.
Najwa mendiamkan panggilan itu. Hingga 2 kali nomor itu menelepon Najwa. Dan, akhirnya nomor itu mengirim chat pada Najwa.
"Assalamualaikum, Ainun," hanya itu yang di kirim orang itu.
"Wa'alaikumusslaam, Habibi?" ~Najwa.
"Alhamdulillah, kamu masih ingat aku." ~Habibi.
"Iya lah, hanya kamu yang memanggil aku Ainun, dapat nomorku dari mana?"~ Najwa.
"Dokter Wulan, dong. Kamu sedang apa, Ainun." ~Habibi.
"Hmm … sudah kuduga, pasti dari Wulan. Ini sedang corat-coret Sketchbook, dari pada pusing tiduran terus." ~Najwa.
"Istirahat, nanti kamu sakit lagi, Ainun. Aku jauh lho besok." ~Habibi.
"Salah sendiri mau pergi jauh." ~Najwa.
"Ya, aku harus bagaimana, memang keadaannya seperti ini, Ainun. Kalau aku bisa menolak, aku akan menolak, tapi sayang tidak bisa." ~Habibi.
"Ya sudah, jalani saja. Lagian di sana kan rumah sakit milik keluarga kamu sendiri, Habibi." ~Najwa.
__ADS_1
"Iya, sih. Ainun, bolehkah aku mengenal kamu lebih dekat?" ~Habibi.
"Kalau lebih dekat ngapain menjauh?" ~Najwa.
"Aku serius, Ainun." ~Habibi.
"Aku juga serius, Habibi. Kenapa kalau pengen dekat, kamu mesti menjauh?" ~Najwa.
"Ini sudah tugas, Ainun." ~Habibi.
"Iya, aku tahu." ~Najwa.
"Ainun, apa kamu memiliki kekasih?" ~Habibi.
"Iya, memiliki, tapi dia mau menikah dalam waktu dekat ini." ~Najwa.
"Jangan bohong." ~Habibi.
"Aku tidak bohong, Habibi." ~Najwa.
"Hmm ... berarti sekarang sendiri, dong. Kan kekasihmu mau menikah." ~Habibi.
"Ya seperti itu." ~Najwa.
"Ya sudah, aku mau ada keperluan sebentar, untuk mengurus keberangkatan ku besok, Ainun. Kamu jaga kesehatan, dan jangan lupa tersenyum." ~Habibi.
"Iya, Dokter Habibi. Kamu juga harus jaga kesehatan selama di sana." ~Najwa.
"Aku tidak tahu, kita nanti kedepannya akan bagaimana, Habibi. Aku masih sangat mencintai Dio. Dan itu aku jujur, aku memang memiliki kekasih yang akan menikah dalam waktu dekat ini. Yaitu, Dio. Adik sepupuku sendiri. Maafkan aku Habibi. Kamu pria yang baik, dan kamu juga berhak mendapatkan yang terbaik," gumam Najwa.
^^^^
"Rania, aku tunggu kamu di cafe X jam 4 sore," begitu pesan yang Dio tulis untuk Rania.
Padahal 1 jam lagi jam 4 sore. Saat itu Rania masih dalam perjalanan pulang sehabis menemui klien, dan itu membutuhkan waktu sekitar 1 jam lebih.
"Aku masih dalam perjalanan, maaf jika terlambat sampai ke cafe yang kamu beritahukan itu." ~Rania.
"Iya, aku tunggu sampai jam 5." ~Dio.
Rania hanya membaca saja pesan dari Dio. Dia semakin bingung, kenapa Dio langsung setuju dengan perjodohan yang di rencanakan kedua orang tuanya. Ada rasa bahagia dalam diri Rania, tali di balik bahagia itu, ada kebimbangan yang dia rasakan. Dia ingin sekali menolak perjodohan ini. Tapi, tidak untuk hatinya. Karena Rania dari dulu memang mencintai Dio.
"Dio, kamu kenapa menerima ini semua, aku tahu, kamu tidak menginginkan ini. Aku yakin, ini semua ada alasannya," gumam Rania.
Rania sudah sampai di cafe yang dia beritahukan tadi. Dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Dio. Namun, sudah ada chat dari Dio, kalau Dio sudah di dalam, dan menyuruh Rania langsung masuk ke dalam ke meja yang sudah di di beritahukan Dio.
Rania masuk ke dalam cafe. Dia melihat pria yang ia cintai itu, memakai kemeja lengan pendek berwarna maroon. Rania mendekatinya dan menyapa Dio.
"Maaf aku terlambat," ucap Rania.
__ADS_1
"Iya, duduklah." Dio mempersilakan Rania duduk di depannya dengan tatapan sinis.
"Ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan, Dio?" tanya Rania.
"Besok malam aku dan keluargaku akan ke rumahmu," jawab Dio.
"Tolong pikirkan lagi, Dio," ucap Rania.
"Apa yang harus aku pikirkan lagi? Kamu juga mau, kan? Kalau kamu mau, lalu apa yang harus aku pikirkan lagi, Rania?" ucap Dio.
"Tapi, Dio. Kamu tidak menginginkan semua ini, kan?"
"Kalau aku tidak menginginkan, untuk apa aku membicarakan ini, Rania?" ucap Dio.
"Ikut aku," ajak Dio.
"Ke mana?" tanya Rania.
"Sudah ikut aku saja," jawab Dio.
"Lalu sopirku?" tanya Rania.
"Suruh pulang, nanti aku antar," jawab Dio.
"Cepat! Tidak pakai lama," titah Dio.
Rania menemui sopir pribadinya dan menyuruhnya untuk pulang terlebih dahulu, karena nanti Dio yang akan mengantarkannya untuk pulang. Setelah itu, dia masuk ke dalam mobil Dio. Rania mengembuskan napasnya dengan kasar, karana merasa sebal dengan Dio. Dia memasang Seat Belt nya dan menatap Dio yang dari tadi sedang memasang seat belt.
"Sudah?" tanya Dio.
"Iya, sudah. Memang kamu mau mengajak aku ke kama?" tanya Rania.
"Nanti kamu akan tahu," jawab Dio.
Dio melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke toko perhiasan langganan Annisa. Beruntung toko itu masih buka. Rania mengernyitkan dahinya saat mobil Dio berhenti di depan toko perhiasan.
"Mau apa kita ke sini?" tanya Rania.
"Kita mau menikah, dan aku juga mau melamar mu besok malam, aku harus tahu, ukuran cincin kamu, dan sekalian saja kita beli, ayo turun," jawab Dio sambil mengajak Rania turun dari mobil.
"Dio, kamu serius?" tanya Rania.
"Kalau aku tidak serius, aku tidak akan mengajak kamu ke sini, iya aku serius, cepat turun," jawab Dio.
Mereka turun dari mobil, dan memilih cincin untuk pertunangan dan pernikahan. Setelah selesai, Dio langsung mengantarkan Rania pulang sekalian menemui Reno lagi.
"Dio, apa tidak terlalu cepat, kalau kita menikah 2 Minggu lagi?" tanya Rania.
"Lebih cepat lebih baik, Rania," jawab Dio.
__ADS_1
"Tidak baik untuk menunda niat baik," imbuh Dio.
"Aku tahu Dio, kamu tidak sungguh-sungguh dalam menikahi ku, karena kamu tidak mencintaiku. Aku harus tahu, kenapa Dio menerima ini semua. Aku yakin, ada yang Dio sembunyikan dari aku," gumam Rania dengan menatap wajah Dio yang serius mengemudikan mobilnya.