THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Ekstra Part 14 "Rahasia Jodoh" The Best Brother


__ADS_3

Sore hari Arkan duduk di teras belakang dengan abah dan bundanya. Mereka sedang membicarakan soal hubungan Thalia dan Arkan. Arsyad yang tetap ingin Arkan dan Thalia tunangan terlebih dahulu sebelum pergi ke Berlin, sore ini pun masih saja membujuk Arkan. Annisa juga ikut membujuknya, karena dia juga tidak ingin anak bungsunya sakit karena cinta.


Annisa khawatir, jika Arkan dan Thalia tidak bertunangan, Thalia akan meniggalkan Arkan dengan pilihan yang lainnya, yeng menurutnya jauh lebih baik daripada Arkan. Begitu juga sebaliknya, Arkan mungkin akan tergoda dengan wanita lainnya yang lebih baik dari Thalia.


“Abah, bunda, Arkan tahu, abah dan bunda sayang sama Thalia. Tapi, bukan seperti ini caranya. Aku sama Thalia sudah berkomitmen untuk meraih cita-cita terlebih dulu,” ucap Arkan.


“Abah hanya takut saja, kalian nantinya sama-sama akan terluka karena masing-masing dari kalian mungkin menemukan sosok yang lebih baik lagi, abah hanya khawatir itu. karena, abah sudah benar-benar sayang sama Thalia, seperti abah menyayangi anak-anak abah,” jelas Arsyad.


“Arkan tahu, Abah. Percayalah sama Arkan, kami saling percaya nantinya, karena membangun komitmen itu sulit, memang sulit. Mungkin kadang akan ada sedikit jalan yang terjal, berkerikil, bahkan curam untuk kami hadapi. Tapi, kalau rasa percaya kami kuat, kami Insya Allah bisa melewatinya, Abah,” papar Arkan.


“Kalau masalah jodoh, abah tahu sendiri, kan? Jodoh ibarat sesuatu yang benar-benar di rahasiakan sang pencipta. Abah lihat abah dan  bunda saja, dulu bagaimana dan sekarang bagaimana. Itu rahasia jodoh, Abah. Apa abah dan bunda akan tahu kalau sekarang akan dipersatukan kan kembali? Tidak, kan? Yang abah tahu, jodoh abah adalah Ummi Almira, begitu pula bunda, bunda tahunya akan selamanya dengan Ayah Arsyil, tapi ternyata, bunda dan abah bersatu. Cinta pertama abah kembali lagi. itu rahasia jodoh, Abah,” jelas Arkan kembali.


“Anak abah ternyata pinter sekali bicaranya,” ucap Arsyad sambil mengacak-acak kepala Arkan.


“Hah... ya sudahlah, kalau itu sudah menjadi komitmen kamu dan Thalia, abah dan bunda bisa apa, hanya doa yang terbaik buat kamu dan Thalia,” ucap Arsyad dengan perasaan yang sedikit lega karena tidak menyangka, putranya benar-benar dewasa sekali pemikirannya.


“Yah, bunda bakal kangen Thalia lama ini,” keluh Annisa.


Annisa memang suka sekali mengajak Thalia dan Tita jalan-jalan. Kadang mengajaknya ke butiknya, atau hanya sekedar mengajak dia ke salon atau mall. Sama saat dulu dengan Rania.


“Bunda, enggak hanya bunda yang bakal kangen sama Thalia. Arkan juga, tapi kita ‘kan masih bisa berkomunikasi lewat sosial media, Bunda,” ucap Arkan.


“Iya, sih, tapi ‘kan bunda enggak bisa ajak jalan-jalan Thalia sama Tita lagi,” jawab Annisa.


“Nanti kalau Lia liburan pasti pulang, kok. Ajaklah calon menantu bunda jalan-jalan sepuasnya,” ujar Arkan.


“Itu pasti, Sayang,” jawab Annisa.


“Lia di sana paling 3-4 tahun kok, jadi enggak terlalu lama,” jelas Arkan.


Arkan masih diberi nasihat oleh abah dan bundanya di sore ini. Keputusannya saat ini memang sudah benar-benar matang. Arsyad dan Annisa bisa apa kalau ini memang kemauan anak bungsunya.


“Oh iya, Abah, minggu depan setelah kelulusan, Arkan pinjam Vila, ya? Buat acara perpisahan kelas,” ucap Arkan.


“Acaranya mau di Vila abah?” tanya Arsyad.


“Iya, boleh, kan?” jawab Arkan sembari bertanya lagi pada Abahnya.


“Iya boleh, nanti abah suruh penjaga buat bersih-bersih vila,” ucap Arsyad.


“Terima kasih, Abah.” Arkan memeluk abahnya.


“Mau berapa malam memangnya, kalau mau untuk beberapa malam, pakai 2 vila, milik abah kamu gunakan buat teman laki-laki, yang punya Ayah Arsyil buat teman perempuan kamu,” ujar Arsyad.


“Kata Rangga sih, 2 atau 3 malam. Kita juga ada game, dan outbond kata Rangga, ada acara barbeque juga nanti malamnya,” jawab Arkan.


“Ya sudah, nanti abah suruh penjaga Vila untuk membersihkan, dan mempersiapkan semua,” ucap Arsyad.


Setelah lama mengobrol dengan kedua orang tuanya Arkan segera masuk ke dalam kamarnya. Dia akan menghubungi Rangga karena abahnya sudah mengizinkan untuk memakai Villanya.


Arsyad dan Annisa masih berada di teras belakang. Mereka membahas lagi soal Arkan dan Thalia. Arsyad ingin memberi kejutan pada mereka saat berada di Vila. Arsyad berbicara pada Annisa dengan berbisik-bisik, dan Annisa pun menyetujuinya. Mereka juga akan membahas itu pada Rere dan Leon. Mereka juga akan kembali pulang saat kelulusan Thalia. Karena satu minggu setelah kelulusan Thalia akan berangkat Ke Berlin.


^^^


Selepas Isya, Arkan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia baru saja memberi kabar pada Rangga soal acara perpisahan kelas. Dari tadi juga dia terus bertukar pesan dengan Thalia.

__ADS_1


“Lia, apa mamah dan papahmu masih membahas kita? Soal kita yang harus tunangan terlebih dahulu dengan kamu sebelum kamu ke Berlin.” Arkan mengirim pesan pada Thalia. Memang dari kemarin Thalia bilang pada dirinya kalau papah dan mamahnya membahas soal hubungannya dengan dirinya.


“Ehm...sudah tidak bahas lagi, sih? Memang kenapa, Arkan?” ~Thalia.


“Tadi sore, abah dan bunda juga sama seperti mamah dan papah kamu, membahas soal kita. Tapi, mereka tahu kok, setelah aku beri pengertian soal kita.” ~Arkan.


“Syukurlah, aku juga memberi pengertian terus sama papah dan mamah soal ini, karena aku percaya kamu, Arkan.” ~Thalia.


“Sama, aku juga seperti itu. Semoga saja, kita bisa meraih impian kita. Terutama impian kita kelak, bersama mengurus anak-anak kita hingga kita menua.” ~Arkan.


“Aamiin...semoga Allah mendengar semua doa kita, Arkan. Izinkan aku untuk meraih sukses ku, agar kita bisa bersama kelak, dalam sebuah kebahagian.” ~Thalia.


“Iya, aku juga akan meraih sukses ku. Karena aku sadar, menikah bukan hanya modal cinta dan uang banyak saja, tapi kita juga butuh modal pendidikan, agar kita juga bisa mendidik anak-anak kita kelak, Lia.” ~Arkan.


“Iya, Arkan. Aku tahu itu. Sudah jangan terlalu manis berkata-kata. Nanti kadar gulaku naik. Hehehe...” ~Thalia.


“Biar, biar tambah manis. Karena aku suka kamu yang manis.” ~Arkan.


“Sudah ah, jangan membuat aku tambah melayang jauh. Tidurlah sudah malam, besok kita bertemu kembali di sekolah.” ~Thalia.


“Siap, Ratuku. Besok aku akan menjemputmu.” ~Arkan.


“Hmm..selamat tidur, Arkan. Nice Dream.” ~Thalia.


“Selamat tidur juga, Sayang. Nice dream.” ~Arkan.


Arkan menaruh ponsel dan mencoba memejamkan matanya. Baru saja akan mencoba memejamkan matanya, dia mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. Entah bunda atau abahnya yang mengetuk pintu kamar Arkan. Arkan beranjak dari tempat tidurnya dan membukakan pintu kamarnya.


“Abah, bunda, ada apa?” tanya Arkan.


“Kamu mau ikut? Bunda dan Abah mau menemani Kak Alin di rumah sakit. Katanya dia mau melahirkan,” jawab Annisa.


Sesampainya di rumah sakit mereka langsung menemui Raffi yang masih menunggu di depan ruang persalinan. Raffi tampak mondar-mandir menunggui istrinya yang sedang berjuang untuk melahirkan buah hatinya.


“Abah...” Raffi langsung memeluk abahnya saat Arsyad mendekatinya.


“Tenang, Nak. Pasti semua akan baik-baik saja. Kita berdoa saja untuk kebaikan Alina, semoga Alina diberi kelancaran saat proses persalinan.” Arsyad mencoba menenangkan hati putranya yang nampak gelisah dan cemas.


“Bunda...” panggil Raffi. Annisa memeluk Raffi yang dari tadi masih menampakkan kecemasan dalam dirinya.


“Sabar, Nak. Semua akan baik-baik saja. Kita berdoa,” ucap Annisa.


Raffi mencoba duduk dan menenangkan diri. Dia baru kali ini merasakan cemas hingga takut sekali, setelah dulu ia melihat uminya yang di rawat di rumah sakit saat melawan sakitnya.


“Pak Raffi, Ibu Alina memanggil bapak.” Seorang suster memanggil Raffi untuk menemui Alina di dalam.


“Abah, aku masuk?” tanya Raffi pada Arsyad.


“Iya, dampingi Alina, kamu ‘kan suaminya, Raffi,” jawab Arsyad.


“Iya, Raffi akan menemani Alina,” jawab Raffi dengan gugup.


Demi apa rasanya Raffi takut akan melihat istrinya dengan kesakitan memperjuangkan nyawa di dalam perutnya.


“Bismillahirrahmanirrahim...” Raffi melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang persalinan.

__ADS_1


Raffi melihat istrinya yang sedang meringis kesakitan dengan mengusap-usap perutnya. Raffi mendekatinya dan duduk di sampingnya. Dia mencium kening Alina yang di penuhi peluh karena dari tadi menahan sakit.


“Sakit, Sayang...” rintih Alina.


“Sayang, bertahanlah demi buah hati kita. Aku akan di sini  menemani kamu,” ucap Raffi yang lagi-lagi mencium kening istrinya.


“Raffi... ini sungguh sakit sekali...!” pekik Alina.


“Sayang...sabar, ya?”


“Aku tidak kuat, sungguh Raf, aku tidak kuat.”


“Jangan bicara seperti itu, kamu harus kuat. Kamu pasti bisa, sayang. Lihatlah, Rania dan Shifa juga bisa, masa seorang Alina yang kuat tidak bisa. Kamu harus bisa, sayang.” Raffi menggenggam erat tangan Alina. Dia terus mengusap-usap perut Alina.


“Anak papah yang pintar. Jangan buat mamah kamu sakit ya, Nak. Ayo yang nurut sama mamah, kasihan mamah,” bisik Raffi di perut Alina.


Dokter mengecek pembukaan jalan lahir pada Alina. Dan, pembukaan sudah sempurna. Dokter segera mempersiapkan peralatan untuk melakukan persalinan Alina.


“Ayo ibu, jalan lahirnya sudah terbuka penuh. Ikuti instruksi saya, ya?” dokter berkata pada Alina dan memberikan instruksi untuk segera melahirkan.


Alina mengejan dan menjerit, dia terus berusaha meski sakit yang ia rasakan sungguh nikmat. Alina merasakan tulang-tulangnya di cabut satu persatu.


“Raffi...aku sungguh tidak kuat.” Alina menggelengkan kepalanya saat dirasa tenaganya sudah habis untuk mengejan.


“Sayang, jangan berkata seperti itu. kamu harus kuat. Ayo, aku di sini. Pegang tanganku. Kamu harus bisa, Sayang.” Raffi menggenggam tangan Alina dan mengusap pelan perut Alina.


"Ayo Ibu, kasihan adik bayinya kalau ibu seperti ini. Dikit lagi, Bu Alina," ucap Dokter yang terus memberi semangat juga pada Alina.


"Iya, sayang. Ayo kamu harus bisa, kasihan anak kita," ucap Raffi yang tak kalah memberi semangat pada istrinya.


Alina kembali mengejan, seperti mendapat kekuatan berlebih saat Raffi terus telaten menyemangatinya. Dia terus berjuang demi anak yang ada di dalam perutnya. Kaki Raffi melemas seakan hilang tulang belulangnya melihat wanita yang ia cintai memperjuangan kan buah hatinya.


Suara tangis bayi terdengar. Raffi merasa lega karena sudah berhasil melewati malam yang mengerikan ini, saat melihat istrinya berjuang untuk melahirkan buah hatinya. Dokter memberikan bayi Alina pada suster untuk segera di bersihkan.


"Selamat, Ibu-bapak, anaknya laki-laki," ucap suster dengan menggendong bayi mungil yang tampan.


"Masya Allah, anaknya papah. Terima kasih Ya Allah. Sayang, lihat anak kita lucu sekali," ucap Raffi dengan memperlihatkan bayinya pada Alina.


"Tampan seperti kamu, Sayang, " ucap Alina.


Raffi mengadzani bayi mungilnya, dan setelah selesai, dia memberikan pada Alina. Alina memang tampak sehat, meski masih lemah. Rasa sakitnya terbayar tunai, karena melihat putranya sehat, normal, dan utuh tanpa kekurangan apapun. Raffi memanggil Abah dam bundanya, juga Arkan yang masih di luar.


Mereka masuk menemui Alina dan cucunya. Cucu ketiga setelah anak Dio dan Shifa. Annisa langsung menggendong bayi mungil yang tampan itu. Kebahagiaan baru di keluarganya kembali ia dapatkan dari pasangan Raffi dan Alina. Betapa bahagianya Arsyad, memiliki cucu laki-laki setelah anak Dio dan Shifa perempuan semua.


"Arkan boleh gendong?" pinta Arkan.


"Boleh, tapi hati-hati, ya?" Annisa memberikan pada Arkan dengan hati-hati.


"Ye... om punya keponakan tampan ini. Bisa Om ajak main bola sama main motor. Pasti Tante Lia senang, kamu sudah lahir," ucap Arkan sambil mencium pipi bayi Alina.


"Kak namanya Siapa?" tanya Arkan.


"Athar Hafizh Alfarizi," jawab Raffi.


"Bagaimana, Sayang?" tanya Raffi pada Alina.

__ADS_1


"Nama yang bagus," jawab Alina.


Arkan meminta bundanya memotret dirinya yang sedang menggendong Baby Athar. Arkan benar-benar senang sekali mendapat keponakan laki-laki. Dia mengirimkan fotonya yang sedang menggendong Athar pada Thalia.


__ADS_2