THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Merek Bab 20 "Lunch"


__ADS_3

Mereka keluar dari rumah, Arsyad terlebih dulu mengantarkan Raffi kesekolahnya. Di dalam mobi Raffi membuka percakapan dengan Abahnya.


"Abah tidak menikah lagi?"tanya Raffi yang membuat Arsyad dengan cepat menoleh ke arah Raffi dan mengerutkan keningnya.


"Menikah?"tanya Arsyad.


"Iya, Abah,"jawab Raffi.


"Menikah dengan siapa, Raffi?"tanya Arsyad


"Tante Nisa,"ucpa Raffi.


"Kamu itu, jangan ngarang seperti itu, Raffi. Tidak mungkin lah papah menikah dengan tante Nisa. Kamu ini ada-ada saja, Raf,"ucap Arsyad.


"Ada-ada saja gimana, bah. Raffi tanya serius Abah,"ucap Raffi.


"Raf, abah tidak akan menikah lagi, abah akan menjadi ibu dan ayah untuk kamu,"ucap Raffi.


"Jangan seperti itu, Abah. Raffi minta jika abah ingin menikah lagi, menikahlah dengan Tante Nisa. Tante orang baik Abah,"ucap Raffi.


"Apa Abah tega melihat anaknya dengan ibu tiri yang jahat, kalau Abah menikah dengan perempuan lain selain Tante Nisa?"tanya Raffi.


"Istri Abah cuma ummi kamu, tidak ada yang lain, Raffi,"tukas Arsyad.


"Abah jangan seperti itu, Abah masih muda, Raffi takut banyak perempuan yang suka Abah, apalagi Abah kan tampan, nanti kalau perempuan itu cuma ingin Abah saja dan tidak mencintai anak-anaknua abah bagaimana?"tanya Raffi.


"Kamu itu, pikirannya sudah sampai ke sana-sana,"ucpa Rico.


"Abah Raffi serius,"ucap Raffi.


"Abah juga serius," ucap Arsyad.


"Serius mau menikah dengan Tante Nisa, kan?"tanya Raffi.


Arsyad membelokan mobilnya ke arah sekolahan Raffi dan menghentikan mobilnya di depan pintu gerbang sekolahan Raffi.


"Sudah jangan bicara seperti itu lagi, sana masuk ke sekolah, ingat jangan bandel di sekolah,"ucap Arsyad.


"Abah, jawab dulu, kalau mau menikah lagi dengan Tante Nisa saja ya, bah?"tanya Raffi lagi.


"Abah tidak akan menikah lagi, sayang,"jawab Arsyad.


"Ya sudah, jangan deket-deket perempuan lain, kalau Abah tidak mau menikah,"ucap Raffi.


"Iya, tidak,"jawab Arsyad.


"Janji, ya?" Raffi menunjukan jari kelingkingnya.


"Iya janji, Abah tidak dekat-dekat wanita lagi, Abah janji,"ucap Arsyad dengan menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Raffi.


"Janji?"tanya Raffi lagi.


"Iya janji,"ucap Arsyad.


"Janji mau menikah dengan Tante Nisa?"tanya Raffi lagi.


"Iya, janji,"ucap Arsyad.


"Menikah dengan Tante Nisa lho,"ucap Raffi.


"Eh...gak lah, masa Abah menikah dengan Tante Nisa,"ucap Arsyad.


"Eits...tidak bisa di tarik, kan sudah janji,"ucap Raffi dengan tertawa. Arsyad terbawa suasana jadi dia seperti terhipnotis oleh Raffi.


"Terserah deh, Abah nyerah, sudah sana masuk ke sekolah,"titah Arsyad.


"Oke,"jawab Raffi.


Raffi mencium tangan Arsyad, dai segera berlari masuk kedalam sekolahannya. Aesyad kembali mengemudikan mobilnya menuju kantor. Sesampainya di kantor Arsyad masuk ke dalam ruangannya, dia kembali beraktivitas di kantornya. Pagi ini dia memimpin rapat dengan karyawannya, oleh sebab itu dia harus berangkat pagi-pagi sekali.


Arsyad sudah memimpin rapat, dia kembali ke ruangannya, baru saja dia mendudukan dirinya di kursi, seorang wanita masuk ke ruangan Arsyad. Ya, wanita itu adalah Lintang, di tangannya dia terlihat membawa banyak dokumen yang harus di tandatangain oleh Arsyad.


"Pak, ini berkas yang sudah saya kerjakan, silahkan di baca dulu, sebelum di tanda tangani,"ucap Lintang.


"Baik, tinggalkan berkasnya di sini saja, nanti akan saya cek dulu, saya akan hubungi kamu jika sudah selesai,"ucpa Arsyad.


"Baik, pak." Lintang segera keluar dari ruangan Arayad.


Arsyad mengecek berkas yang di bawa Lintang tadi, dia benar-benar kagum dengan Lintang, baru bekerja di perusahaan Arsyad tapi sudah sangat paham dan bisa menyesuaikan diri. Arsyad menelepon Lintang menyuruhnya masuk ke ruangannya. Lintang dengan segera masuk ke dalam ruangan Arsyad.


"Pak Arsyad memanggil saya?"tanya Lintang


"Iya, ada beberapa yang perlu di perbaiki lagi." Arsyad menggeser kursinya lebih dekat dengan Lintang, dia menjelaskan beberpa poin yang keliru pada Lintang. Lintang memerhatikan Arsyad yang sedang menjelaskan.


"Ah…maaf,"ucap mereka bersama saat mengambil pulpen di depannya secara bersamaan, hingga tangan Arsyad tidak sengaja menggenggam tangan Lintang.


"Ambil saja pulpennha,"ucap Arsyad dengan menatap tajam Lintang.


"Iya, pak. Saya permisi dulu, merevisi semua ini,"ucap Lintang dengan gugup dan wajah merona. Lintang keluar dari ruangan Arsyad.

__ADS_1


Entah kenapa detak jantung Arsyad semakin berdegup kencang saat mengingat kejadia tadi. Dia kembali memikirkan Lintang yang baru saja keluar dari ruangan Arsyad.


"Dia pandai sekali, masih muda, aku tidak salah pilih mempekerjakan dia di sini."gumam Arsyad.


Arsyad meneguk air putih yang berada di depannya untuk menetralkan detak jantungnya yang semakin berpacu tidak menentu. Dia terdiam sejenak, melihat foto mendiang istrinya yang berada di depannya.


"Tidak ada wanita yang sepertimu, sayang. Aku mencintaimu." Arsyad mencium foto yang ia lihat.


Arsyad merasa sangat bersalah sekali, tidak sengaja menyentuh tangan Lintang tadi dan membuat jantungnya berdegup kencang. Dia keluar dari ruangannya menuju ke pantry untuk membuat kopi hitam kesuakaannya. Dia berjalan dengan cepat menuju ke pantry.


"Ups…maaf, pak."seorang wanita yang membawa secangkir kopi hampir saja menabrak Arsyad, beruntung Arsyad langsung memegang bahunya, jadi kopi miliknya gak jatuh dan tumpah.


"Kamu di sini Lintang?"tanya Arsyad.


"Iya, ini habis buat kopi, pak,"jawab Lintang.


"Oh,"jawab Arsyad


"Pak Arsyad mau buat kopi?"tanya Lintang.


"Iya, ini mau buat kopi,"ucapnya.


"Mau Lintang buatkan?"tanya Lintang.


"Emm…tidak usah Lintang, aku akan buat sendiri saja,"ucpa Arsyad.


"Baiklah, saya permisi kembali ke ruangan, pak,"pamit Lintang.


"Iya,"jawab Arsyad.


Arsyad membuat kopi dan setelah itu dia mendudukan dirinya di kursi sambil menikmati kopi buatannya. Dia teringat kalau nanti jam 2 ada janji dengan papahnya di cafe bersama Nisa juga.


"Papah ingin membicarakan soal apa lagi denganku dan Annisa?" Arsyad bertanya-tanya dalam hatinya.


Arsyad keluar dari pantry dan melanjutkan pekerjaannya di lagi.


^^^^^


Annisa pergi ke kantornya, setelah selesai mengurus semua administrasi kepindahan sekolah Dio dan Shifa. Rasanya dia begitu merindukan kantornya. Annisa turun dari taxi dan langsung masuk ke dalam kantornya. Semua karyawan menunduk dan menyapa Annisa. Kini big bos cantiknya sudah kembali lagi di perusahaannya. Dia segera masuk ke ruangannya, memberi kejutan pada Rere.


"Pagi Bu Bos cantik, sedang sibuk ya?"sapa Annisa.


"Nisa...!"seru Rere, dia langsung berlari memeluk sahabat yang ia rindukan.


"Ih…kenapa tidak bilang mau ke kantor…!"ucapnya dengan semangat.


"Kejutan…!" Annisa juga semangat menjawab dan memeluk lagi sahabatnya itu.


"Aku sibuk dan banyak masalah sekali di sana, untung saja aku bisa terlepas dan kembali di sini, coba saja kalau tidak, aku pasti akan menetap di sana,"ucap Annisa.


"Maksudmu menetap di sana?"tanya Rere penasaran.


"Kemarin pamanku menjodohkanku dengan rekan bisnisnya, aku sempat menolaknya. Tapi, dia memaksa dengan memorak-morandakan perusahaan paman, jadi ya terpaksa aku mau,"jelas Annisa.


"Lalu kamu sekarang sudah menikah dengan pria itu?"tanya Rere.


"Ya tidak lah, kalau aku menikah dengan Leon, aku tinggal si sana dan tidak akan ke sini lagi. Untung saja Leon sadar karena aku tidak bisa mencintainya,"ucap Annisa.


"Syukurlah, kalau tidak jadi. Aku kira kamu sudah jadi nyoba siapa tuh tadi namanya?"tanya Rere.


"Leon,"jawab Annisa.


"Ah…iya Leon. Namanya bagus, pasti orangnya gagah dan tampan." Rere membayangkan sosok Leon tersebut.


"Ya, tampan sekali, gagah, tampan, pokoknya idaman para wanita, tapi aku tidak suka. Yang aku cintai hanya Aesyil,"ucap Annisa.


"Yah…move on dong, Nis. Sampai kapan kamu menutup hatinya untuk pria lain, kasihan anak-anak kamu, Nis. Masih kecil-kecil dan butuh sosok laki-laki untuk membimbingnya,"tutur Rere.


"Iya juga sih, apalagi Dio, dia sudah mulai caper dengan perempuan. Haduh…padahal aku letak banget selama Dio sekolah di sana. Masa dia sudah tau cinta dan surat-suratan dengan cewek, Re."keluh Annisa.


"Nah, tuh kan…! Makanya cari suami lagi, yang bisa membimbing anak-anakmu, Nis,"ucap Rere.


"Re, kalau aku menikah lagi, kasihan Arsyil, aku tidak bertemu dengan dia lagi nanti di surga,"ujar Annisa.


"Nis, kalau semua orang mikir seperti itu, yang ada janda di dunia ini banyak, nis,"ucap Rere.


"Sekarang gini, Nis, kamu tidak ingin kan Dio dan Shifa tumbuh tanpa di dampingi seorang ayah, apalagi mereka sudah menginjak usia dewasa, harus di bimbing dengan orang tua lengkap, sudah kamu sendirian, sibuk kerja lagi, coba kamu punya suami, kamu bisa di rumah saja kerjanya mengawasi anak-anak kamu,"tutur Rere.


"Masalahnya, siapa yang mau menerima apa adanya anak-anakku, aku takut kalau menikah lagi, laki-laki itu hanya mencintaiku dan tidak mencintai anak-anakku. Kalau begitu, untuk apa aku menikah, Re,"ujar Annisa.


"Ya cari yang benar-benar bisa menerima kamu dan anak-anakmu, Nis,"ucao Rere.


"Siapa Re? Siapa?"tanya Annisa.


"Pak Arsyad, hanya dia yang bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak-anakmu,"ucap Rere.


"Sembarangan kalau bicara kamu, mana mungkin aku menikah dengan kakak iparku sendiri, dan tidak mungkin lah Kak Arsyad mau menikah denganku, aku tau Kak Arsyad sangat mencintai Kak Mira,"ucap Annisa.


"Siapa tau anak-anaknya Pak Arsyad juga membutuhkan kamu untuk menjadi ibunya, kan bagus tuh, kamu selama ini kan dekat sekali dengan Najwa dan Raffi, begitu juga Pak Arsyad, sangat menyayangi anak-anakmu. Tidak ada salahnya jika kamu menikah dengan Pak Arsyad, walaupun tak ada cinta di antara kalian berdua,"tutur Rere.

__ADS_1


"Tapi tetap saja tidak bisa, Re,"ucap Annisa.


"Bukankah tadi kami bilang yang penting menyayangi dan mencintai anak-anakmu?"tanya Rere.


"Iya sih, sudah ah…jangan bahas ini lagi. Yuk makan sianga, aku lapar, aku kangen jalan bertiga bareng kalian, aku hubungi Vera dulu, nanti biar ketemu di restoran saja,"ucap Annisa.


"Oke, aku siap-siap dulu,"ucap Rere.


^^^^^


Arsyad juga ingin keluar makan siang dengan Rayhan. Arsyad mengajak Rayhan ke restoran favoritnya. Mereka keluar bersama, saat di depan lift mereka melihat Lintang yang sepertinya akan turun ke bawah untuk makan siang.


"Lin, mau makan siang?"tanya Rayhan.


"Iya, Pak Ray, ini mau makan siang,"ucap Lintang.


"Pak Ray dan Pak Arsyad juga mau makan siang?"tanya Lintang.


"Iya, ini mau di traktir big bos,"ucap Rayhan.


"Siapa yang mau traktir kamu, Ray,"ucap Arsyad.


"Ya sudah, aku traktir kalian, panggil Yulia juga Ray, suruh ikut kita tunggu di bawah,"ucap Arsyad.


"Tumben nih, kamu traktir kita semua?"tanya Rayhan.


"Sudah kita masuk lift dulu,"titah Arsyad.


Setelah sampai di depan, Arsyad menyuruh Rayhan menelepon Yulia agar dia menyusul ke bawah untuk makan siang bersama. Tapi sayangnya Yulia menolak karena sayang dengan bekal yang ia bawa dari rumah, Yulia memutuskan untuk makan di pantry saja dengan bekal yang ia bawa.


"Yulia tidak bisa, dia bawa bekal,"ucap Rayhan setelah menelepon Yulia.


"Ya sudah kita bertiga saja, tidak masalah kan?"tanya Arsyad.


"Ya tidak sih, gak apa-apa kan, Lin, kalau kamu ikut makan siang bersama kami?"tanya Arsyad


"Iya tidak apa-apa,"ucapnya.


"Ya sudah ayo berangkat, aku sudah lapar sekali, Syad,"ucpa Rayhan.


Mereka masuk ke dalam mobil, Arsyad segera melajukan mobilnya menuju ke restoran yang ia tuju. Sesampainya di sana, mereka mencari tempat yang kosong dan nyaman. Mereka bergmtiga duduk dan memilih menu makanan. Lintang duduk di sebalah Arsyad, mereka bertiga mengobrol dan Lintang semakin akrab dengan Arsyad.


^^^^^


Annisa sudah sampai di depan restoran yang dia tuju, Vera sudah terlihat menunggu Annisa dan Rere di depan restoran.


"Vera…!"panggil Annisa dengan seri, mereka berlari dan saling berpelukan melepaskan rindu.


"Miss you honey,"ucap Vera dengan memeluk Annisa


"Miss you too, ihh..perutnya sudah buncit. Sexy sekali kamu, Ver. Giman butik dan bengkel?"tanya Annisa.


"Aman terkendali, Nis. Tenang saja,"ucap Vera.


"Kamu sendiri atau di antar Donni?"tanya Annisa.


"Aku sendirian naik taxi, bengkel ramai terus Nis, jadi Donni sering lembur,"ucap Vera


Vera memang di percaya Annisa untuk mengurus butik Annisa, dan Donni suami Vera, dia adalah mekanik di bengkel Arsyil yang sekarang menjadi kepala bengkel, dan Mas Wahyu menjadi penanggung jawab bengkel menggantikan Arsyil. Saat lembur biasanya Donni menginap di rumah Annisa, karena memang Donni dan Vera yang Annisa percayakan untuk mengurus rumahnya setelah Annisa di Berlin. Jadi rumah Annisa tidak kosong.


"Alhamdulillah, aku ingin sekali ke rumah, tapi setelah ini aku ada janji dengan papah dan Kak Arsyad di cafe Kak Shita, tidak tau papah akan bicara apa pada aku dan Kak Arsyad,"ucpa Annisa.


"Paling mau menjodohkan kalian,"ucap Rere.


"Yups, betul sekali apa kata kamu, Re,"ucap Vera.


"Kalian itu, ayo masuk aku sudah lapar." Annisa mengajak kedua sahabatnya itu masuk di dalam restoran. Mata Annisa sini menyusuri setial sudut ruangan untuk mencari tempat kosong dan nyaman untuk mereka.


"Kita ke sebelah sana, yuk,"ajak Nisa. Mereka duduk di sebelah pojok ruangan yang lumayan luas, dan di situ hanya ada dua meja yang berdekatan.


Saat mereka sampai meja mereka sibuk dengan memilih menu makanan. Annisa memanggil pelayan saat sudah selesai memilih menu yang di pesannya. Annisa menoleh ke meja sebelah yang di tempati dengan 2 laki-laki dan satu wanita.


"Kak Arsyad, Kak Ray,"ucap Annisa dengan lirih sambil memandangi merek yang sedang asik mengobrol dan makan.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


♥️happy reading♥️


__ADS_2