
Rania dan Anna bersimpuh di depan pemakaman Reno. Para petakziah satu persatu sudah meninggalkan pemakaman Reno. Dio masih setia berada di samping Rania. Rania memeluk ibunya yang kala itu sangat lemah sekali ditinggal pergi suami tercintanya. Dio tahu, ibu mertuanya sangat mencintai suaminya. Dia juga semakin merasakan bagaimana jika dirinya benar-benar berpisah dengan Rania. Apa akan merasakan sesakit ini?
Dio merasa semakin bersalah, dia belum bisa memenuhi permintaan ayah mertuanya. Dia sudah menyia-nyiakan Rania yang telah dititipkan ayahnya pada dirinya untuk di jaga, di lindungi, dicintai dan disayangi. Namun, semua itu tidak dilakukan Dio selama 15 bulan ini, hingga ayah Rania pergi meninggalkan Rania untuk selama-lamanya.
"Temani Rania dan ibu, Abah dan lainnya pamit pulang," ucap Arsyad sambil menepuk pundak Dio.
"Iya Abah," ucap Dio.
Keluarga Arsyad berpamitan untuk pulang, mereka pulang ke rumah Reno terlebih dahulu, untuk menyiapkan pengajian nanti malam. Annisa masih memikirkan Rania yang benar-benar masih terpukul dengan kepergian Reno. Arsyad merangkul istrinya dan mencium puncak kepalanya. Dia tahu apa yang Annisa rasakan saat ini.
"Nis, Rania wanita yang kuat, dia sama seperti kamu. Bedanya, Rania memiliki suami yang tidak mencintainya. Dulu kamu memiliki Arsyil yang menguatkan mu saat papah dan mamah mu pergi. Sekarang Rania, aku merasa sangat berdosa sekali, Nis. Aku memaksa Dio menikahi Rania, dan ternyata Rania sangat mencintai Dio, tapi tidak untuk Dio," ucap Arsyad.
"Seharusnya Rania tidak egois, Kak. Dia bersikeras ingin berpisah dengan Dio. Padahal Dio tadi sampai berlutut dan bersumpah di depan Rania. Dia berjanji akan mencintai dan menyayangi Rania, dia akan berubah, tapi Rania tetap ingin bercerai dengan Dio," jelas Annisa.
"Wanita jika sudah tergores hatinya akan sulit menghilangkan luka karena goresan itu. Apalagi goresan itu terlalu dalam, luka yang di torehkan Dio benar-benar membuat Rania sakit, jadi wajar Rania meminta bercerai. Tapi, aku yakin suatu saat nanti jika mereka masih berjodoh, mereka akan kembali lagi," ucap Arsyad.
"Rania sudah seperti anakku sendiri, Kak. Jadi dia berpisah dengan Dio pun, aku akan tetap menganggap Rania anakku, apalagi dia sahabat Shifa," ucap Annisa.
"Nis, Rania juga sudah seperti cucuku sendiri. Aku yakin dia masih sangat mencintai Dio, sedalam apapun Dio menorehkan luka, dia tidak akan membenci Dio, dia masih mencintainya. Mungkin karena sekarang keadaannya masih seperti ini, jadi dia tidak bisa mengontrol emosinya," ujar Rico.
"Mungkin Pah. Semoga mereka tidak jadi bercerai, kalau pun bercerai, semoga hubungan mereka membaik walau tidak ada ikatan lagi," ucap Arsyad.
"Iya semoga saja, Abah. Aku tahu, sebenarnya Dio sangat mencintai Rania. Sepertinya mereka ada sedikit kesalahpahaman dulu saat bersama. Rania kan siswi yang pandai di sekolahannya dulu, banyak sekali teman siswa laki-laki yang mendekati Rania. Dio dulu memang suka dengan Rania. Sering Raffi memergoki mereka duduk berdua di taman belakang sekolahnya saat Raffi kelas 1. Banyak teman laki-laki Rania yang cemburu dengan kedekatan Dio dan Rania. Mungkin karena salah satu teman laki-lakinya mendekati Rania, Dio cemburu. Jadi sampai sekarang Dio menjauhi Rania. Padahal aku tahu, Rania gadis yang tidak sombong, dia baik dengan semua temannya. Ya, termasuk teman laki-lakinya juga. Contohnya dengan Evan saja dia masih baik, kan? Padahal Evan sepertinya akan berniat jahat pada Rania," jelas Raffi.
Raffi waktu SMP memang satu sekolahan dengan Dio dan Rania. Jadi dia tahu kedekatan Rania dan Dio seperti apa. Yang Raffi tahu, jika ada kegiatan di sekolah, Dio dan Rania yang aktif dalam kegiatan itu. Entah saat perpisahan, pentas seni atau apapun.
Mereka meninggalkan pemakaman dan kembali ke rumah Reno untuk membantu menyiapkan pengajian.
Dio masih menemani Rania dan ibunya yang masih berdoa di samping makam Reno. Tangis Rania dan ibunya masih terdengar di telinga Dio. Dio merangkul Rania dan mengajak Rania untuk pulang. Jika berada di samping ibunya, Rania tidak berani membahas perceraian dan dengan Dio berusaha baik-baik saja, tidak ada penolakan dari Rania saat Dio merangkulnya.
__ADS_1
"Ayo pulang, ayah sudah tenang di sana. Jangan menangis." Dio menghapus air mata Rania dan mengajak Rania untuk pulang. Rania hanya terdiam. Karena merasa lelah Rania bersandar di bahu Dio.
Dio mengusap kepala Rania dan menciumnya. Tanpa dia sadari, rasa sakit di hati Dio semakin terasa, saat melihat Rania yang terus menangisi kepergian ayahnya.
"Ran, pulang yuk?" ajak Dio lagi.
"Ibu ayo pulang dulu," ajak Dio pada Anna juga.
"Ibu sendirian Dio, ayah sudah tidak menemani ibu lagi," ucap Anna sambil menangis.
"Ibu, ada Rania dan Dio yang akan menemani ibu. Ibu jangan seperti ini. Ayah sudah tidak sakit, biarkan ayah bahagia di surga. Ibu dan Rania jangan seperti ini. Kalau ibu dan Rania seperti ini, malah akan memberatkan ayah," ujar Dio.
"Ayo, pulang," ajak Dio lagi.
Rania dan Anna akhirnya mau meninggalkan makan Reno. Dio merangkul ibu mertuanya dan berjalan ke arah mobilnya dengan tangan satunya menggandeng Rania.
Sesampainya di rumah, Anna langsung masuk ke dalam kamarnya di antar oleh Dio. Sedangkan Rania dia masuk ke dalam kamarnya sendiri.
"Iya ibu," jawab Dio.
"Duduklah di sini." Anna menyuruh Dio duduk di samping Anna, di tepi ranjang.
"Ibu mau bicara apa?" tanya Dio.
"Dio, tolong jangan bilang Rania soal ini." Anna menunjukan amplop cokelat pada Dio yang menunjukan hasil pemeriksaan Anna.
"Ibu, ini?" tanya Dio cemas dan gugup.
"Iya, itu hasil pemeriksaan ibu. Satu tahun yang lalu, kamu masih ingat ibu dan dan ayah sering bolak balik ke Singapura?" tanya Anna.
__ADS_1
"Iya, Dio ingat ibu," jawab Dio.
"Ibu melakukan pengobatan di sana. Memang umur adalah rahasia Tuhan. Ibu yang sakit-sakitan, ayah yang di ambil terlebih dahulu. Sepuluh bulan ibu berobat di temani ayah, ibu sudah membaik, dan ayah yang ngedrop. Sakit jantung ayah kambuh lagi. Mungkin karena kecapean menemani ibu berobat kondisi ayah jadi drop," jelas Anna.
"Kenapa ibu tidak bicara soal ini pada Dio dan Rania?"
"Ibu tidak mau merepotkan kalian, nak. Kalian juga sibuk dengan pekerjaan kalian," jawab Anna.
"Dio, ibu titip Rania, jika ibu tidak ada nanti, hanya kamu yang bisa ibu andalkan untuk perusahaan yang sudah di bangun ayah dan ibu. Dan tentunya hanya kamu yang menjaga Rania," pinta Anna.
"Ibu, jangan bicara seperti itu. Ibu sudah sembuh, ibu harus sehat lagi, ibu jangan terpuruk seperti ini. Ibu tidak ingin melihat anakku dan Rania?"
"Ibu tidak tahu, Dio. Iya memang umur adalah rahasia Allah. Ibu sudah menyerah dengan sakit ibu ini, Dio."
"Ibu jangan menyerah, nanti Dio akan mengurus pengobatan ini lagi."
"Tidak Nak, percuma. Ibu sudah menghabiskan banyak waktu. Ibu hanya ingin tinggal bersama kalian di sini. Temani ibu bersama Rania di sini." Anna meminta Dio agar tinggal di sini bersama Rania.
"Ibu tahu, kalian ingin bercerai, hanya ini yang bisa ibu lakukan agar kamu dan Rania tetap bersama. Menyuruhmu tinggal di sini, agar kamu bisa lebih dekat dengan Rania. Menemani masa-masa terakhir ibu," gumam Anna.
"Iya, Dio akan menemani ibu di sini," ucap Dio.
"Aku harus bagaimana, aku tidak bisa meninggalkan ibu, sedangkan aku dan Rania akan bercerai. Dan, bagaimanan bisa aku di sini, Rania saja sudah tidak menginginkan aku berada di sampingnya?" gumam Dio.
"Ibu akan membujuk Rania, agar dia bisa menerima kamu di sini lagi. Ibu tahu Rania yang minta cerai dari kamu," gumam Anna.
Anna mengindap leukimia, dia divonis dokter mengindap leukimia sejak satu tahun yang lalu. Keadaannya semakin buruk saat kondisi Reno semakin parah. Anna hanya bisa berobat di kotanya, tidak kembali ke luar negeri semenjak Reno sakit-sakitan.
Anna juga tahu, kalau Rania meminta cerai dari Dio. Anna mendengar percakapan antara Dio dan Rania saat kemarin di rumah sakit. Anna belum tahu apa yang menyebabkan putrinya ingin berpisah dengan suaminya. Dan, di kesempatan ini, Anna ingin mencoba menyatukan mereka kembali dengan mengurus Anna. Anna tahu, Dio tidak mencintai putrinya, tapi Dio memang baik dengan Anna, seperti ibunya sendiri.
__ADS_1
Dio masih memikirkan bagaimana caranya bicara dengan Rania. Dia ingin menuruti semua keinginan ibu mertuanya, tapi bagaimana dengan Rania? Yang sekarang sudah tidak memginginkan dia berada di sisinya.