THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 5 "Sebelum Pergi"


__ADS_3

Kami sudah sampai di rumah, aku membangungka Dio dan Shifa untuk turun dari mobil. Mereka sudah besar, aku tak bisa menggendongnya lagi, apalagi Shifa dan Dio termasuk anak yang bongsor sekali perawakannya. Mereka bangun dari tidurnya dan segera masuk ke dalam rumah.


"Dio, Shifa, cuci tangan dan kaki sebelum masuk ke kamar."seruku pada mereka yang berjalan cepat ke arah kamarnya.


"Iya bunda."jawab mereka serempak.


Aku masuk ke dalam kamarku, aku melanjutkan mengenang suami tercintaku. Tidak seorangpun yang bisa menggantikan Arsyil di hatiku, tidak, dan tidak akan pernah bisa.


"Syil, aku merindukanmu, maafkan aku, aku meninggalkan rumah kita, aku tidak bisa jika kakakmu seperti itu terus, apalagi Kak Mira terlalu cemburu denganku."lirihku dalam hati.


Otakku memutar kejadian dulu, semasa dengan suamiku, mengenang saat-saat indah bersamanya. Dan, mengingat saat-saat terakhir bersamanya. Iya, permintaan terakhirnya adalah menyuruhku memakai hijab. Begitu indah permintaan dia, dan aku mengindahkan permintaannya, keesokan harinya aku langsung mengenakan jilbab saat berangkat ke kantor.


*Flashback On*


Malam hari setelah makan malam usai, aku duduk di teras depan rumah ku, bersama suamiku tercinta. Dia terlihat sangat tampan, melebihi hari-hari biasanya. Iya, memang dia sangat tampan sekali. Tapi malam itu, dia benar-benar berbeda, sangat berbeda. Wajahnya cerah sekali, bersih sekali dan tampan sekali. Hingga aku tak bisa mengalihkan pandangannya.


"Kenapa lihat aku terus seperti itu?"tanya Arsyil.


"Tidak apa-apa. Kamu tampan sekali, Sayang."ucapku.


"Baru tau, aku tampan?"ucapnya sambil menggoda ku.


"Nis."panggil Arsyil.


"Iya."jawabku.


"Sebenarnya aku ingin memberikan sesuatu padamu, tapi aku takut kamu menolaknya."ucapnya.


"Memberikan apa?"tanya ku sambil menatap wajah suamiku yang benar-benar sangat tampan malam itu.


"Kamu janji tak akan menolakny?"tanya Arsyil memastikan lagi.


"Apa pernah aku menolak pemberianmu, sayang?"tanyaku. Dia hanya menggelengkan kepalanya.


"Lalu apa yang kamu takutkan? Aku tak pernah menolak semua pemberian darimu, asal pemberianmu itu, dari uang halal, sayang."ucapku.


"Ya sudah, ayo kita ke kamar."ajak Arsyil.


Arsyil menggandeng tanganku menuju kamar, kami masuk ke dalam kamar dan aku duduk di tepi ranjang. Arsyil membuka lemari dan mengambil sesuatu di dalam lemari. Paper bag merah hati, iya, dia mengambil paper bag merah hati di dalam lemari. Dia memberikannya kepadaku.


"Please, jangan di tolak ya?"pinta Arsyil.

__ADS_1


"Tidak, mana mungkin aku menolak pemberian dari suami ku."ucapku, dia tersenyum sangat manis dan duduk di sampingku.


"Boleh aku buka?"tanyaku.


"Silahkan."ucapnya. Aku membuka paper bag merah hati, aku mengambil sesuatu yang ada di dalam paper bag itu.


"Jilbab?"tanyaku dalam hati.


"Aku ingin kamu memakai itu, sayang."pinta Arsyil. Aku meneteskan air mataku, dadaku benar-benar sesak sekali, ini yang suamiku mau kasih ke aku. Dia benar- benar ingin sekali aku memakai jilbab.


"Iya aku akan pakai. Pasti, besok akan aku pakai, terima kasih, sayang."air mataku menetes lebih deras, tak bisa ku bendung air mata ini. Aku memeluk suami ku erat sekali, seakan-akan aku merasak dia akan pergi meninggalkanku.


"Kenapa menangis?"tanya Arsyil dengan nada lembutnya dan menyeka air mataku. Dai mencium keningku, bibirku dan kelopak mataku.


"Tidak apa-apa, besok aku akan pakai ini. Terima kasih sayang, pemberianmu ini begitu berarti melebihi apapun."ucapku.


Aku kembali memeluk suamiku dengan erat, aku benar-benar takut kehilangan dia, takut sekali.


"Sayang, besok kita liburan, ya?"ajak Arsyil.


"Besok?"tanya ku.


"Ya lusa boleh, kita satu keluarga liburan ke Bali, kamu katanya ingin ke sana dengan ku dan anak-anak, bukankah kita belum pernah liburan satu keluarga?"ucapnya.


"Gak ada rekomendasi lain dari kamu, ingin ke mana?"tanya Arsyil.


"Emmm…sebenarnya aku ingin ke Pulau Pangabatang, Maumere, Nusa Tenggara Timur."jawabku.


"Boleh, kita lusa berangkat. Katanya liburan di sana seperti berada di pulau milik pribadi, karena Pulau Pangabatang jarang sekali terjamah oleh wisatawan."ucapnya.


"Itu dia, di sana bisa menangkan jiwa, denahn melihat hamparan pasir putih dan beningnya air laut." ucapku dengan mengkhayal sudah di sana.


"Ya sudah, besok kita bicarakan dengan anak-anak."ucapku semangat.


"Ayo tidur, sudah malam, anak-anak juga sudah tidur semua."ajak Arsyil. Dia memeluk ku erat, mendekapku hingga pagi.


Keesokan harinya, aku sudah selesai menata sarapan, aku berjalan ke kamar dan segera beganti baju untuk ke kantor. Aku ingat jilbab yang Arsyil berikan padaku, aku mengambil baju yang senada dengan warna jilbab yang Arsyil berikan. Aku mengambil tunik dan celana kain yang biasa aku gunakan ke kantor. Aku memakainya, dan aku memakai jilbab yang di berikan oleh Arsyil semalam. Sebelum memakai jilbab, aku memoleskan makeup natural ke wajahku.


Arsyil keluar dari kamar mandi, melihatku yang sedang bercermin, memakai jilbab yang ia berikan padaku. Dia mendekati aku dan memelukku erat dari belakang.


"Bidadariku, cantik sekali, semoga kamu bisa Istiqomah untuk tetap berhijab."ucapnya sambil mengecup pipiku.

__ADS_1


"Itu pasti, ini ke inginan kamu, dan aku akan menuruti, memang sudah saatnya aku tak mengumbar aurat ku, maaf baru bisa menunaikan ini, sayang."ucap ku.


"Tidak apa-apa, kamu cantik sekali." Arsyil mengecup keningku. Aku mengambilkan baju kerja Arsyil, yang warnanya senada dengan yang aku kenakan, karena kami akan ke kantor papah, dia harus memimpin meeting di kantorku pagi ini.


"Pakailah."ucapku.


"Oke."dia memakai kemeja, aku memakaikan dasi Arsyil. Dia menatapku lekat, memperhatikan setiap inci wajahku.


"Jangan menatap aku seperti itu."ucapku.


"Kamu cantik sekali, sayang."ucapnya.


"Kamu juga tampan sekali."aku langsung memeluk suamiku, setelah selesai memakaikan dasi nya.


"Syil, aku ingin selamanya dengan kamu. Jangan pernah tinggalkan aku."ucapku.


"Iya, aku tidak akan meninggalkanmu, kecuali, sudah ketetapa Allah."ucapnya. Aku masih berada di pelukan Arsyil. Dia mengusap kepalaku dan mencium puncak kepalaku.


"Ayo kita sarapan."ajaknya.


Kami sarapan bersama, aku menceritakan semua pada Dio dan Shifa soal liburan kita. Mereka sangat senang sekali mendengarnya.


*Flashback Off*


Air mataku tak henti-hentinya menetes di pipi, aku benar-benar merindukannya, ingin aku pulang, ingin melihat makam Arsyil. Aku tidak tau kapan aku harus pulang ke Indonesia lagi. Semua kenangan Arsyil terus menerus muncul satu persatu di ingatanku, terutama saat-saat terakhir kita, sebelum Arsyil meninggal.


Ingin rasanya aku menghubungi papah mertuaku, aku kangen dengan beliau, hanya beliau yang selalu mengerti aku. Aku rindu sosok beliau yang selalu menguatkanku, di saat aku lemah dan terpuruk di saat pertama aku di tinggal Arsyil. Aku mengalami depresi berat, aku sering sekali kabur dari rumah untuk ke makam Arsyil, walaupun di tengah hujan lebat. Aku melakukan itu, dan papah mertuaku yang selalu mencariku, walau beliau harus melawan derasnya hujan. Sungguh aku rindu papah mertuaku.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


♥️happy reading♥️


maaf cuma sedikit, author masih pegal sekali badannya. baru saja jatuh tadi siang dari sepeda motor.😁🙏


__ADS_2