THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 6 "Ketakutanku"


__ADS_3

Rere memberitahuku kalau mertuaku dan kakak iparku selalu meminta kontak ku, dengan berbagai alasan dia memohon pada Rere. Tapi, Rere tak pernah memberi kontak ku pada mereka. Papah Rico tak gentar meminta kontak ku, akhirnya Rere memberikan kontak ku. Papah bilang Kak Mira sakitnya semakin parah, dan dari situ aku berpikir lagi, apa salahnya aku mencoba menghubungi mereka dan memberikan kontak pada papah.


Aku menelepon kak Mira saat dia berulang tahun, betapa sangat sedihnya aku, melihat kak Mira semakin kurus, wajahnya pucat pasi dan hanya duduk di kursi roda. Terlintas di pikiranku, aku ingin pulang saja ke Indonesia. Tapi semakin hari pekerjaanku di sini tidak bisa aku tinggalkan. Tujuan pertama aku ke Berlin adalah mencari suasana baru, dan menghindari mereka. Tapi, ternyata setelah aku di sini, aku benar-benar di sibukan dengan pekerjaanku. Sudah hampir satu tahun aku di sini, menjalani hidup di negeri orang. Ingin rasanya aku pulang, tapi raga tak mau bergerak untuk pulang ke tanah kelahiranku.


Pagi yang menghangatkan, aku merasakan bias sinar mentari masuk ke dalam kamarku melalui celah ventilasi udara di dalam kamarku. Aku meregangkan otot-ototku di atas tempat tidurku, seperti biasa setelah sholat subuh aku merebahkan tubuhku lagi di tempat tidur. Bukan untuk tidur kembali, hanya untuk meluruskan tubuhku saja dan memikirkan sesuatu yang aku tinggalkan di tanah kelahiranku. Iya, makam mendiang suamiku. Begitu rapuhnya aku tanpa dia sekarang, akubselalu berpikir untuk apa hidupku ini, tak ada lagi orang yang aku cintai di sampingku. Sejenak pikiran itu musnah saat melihat dua buah hatiku, buah cinta bersama mendiang suamiku. Mereka adalah penguatku, mereka penyembuh luka di hatiku, mereka yang menyegarkan hatiku, di saat aku rapuh dan lemah, dia menjadi tempat untuk aku bersandar, bermain dan melupakan sakit hatiku ini.


Aku keluar dari kamarku, terlihat kedua anakku sudah bersiap duduk di meja makan untuk sarapan. Aku jarang sekali menyiapkan sarapan, makan siang atau makan malam. Pamanku sudah menyewa beberapa Asisten untuk memasak, membersihkan rumah juga mencuci. Setelah kepergian bibi paman menyewa beberapa Asisten untuk bekerja di rumahnya. Memang pamanku sangat sibuk sekali dengan perusahaannya, walaupun sudah ada Zi dan Al paman tetap ke kantor untuk mengurusi perusahaannya.


Aku menarik kursi dan duduk di sebelah Dio, dia sedang menikmati nasi goreng buatan Mba Lusi, memang asisten di rumah paman semuanya orang Indonesia. Dio dan Shifa sangat akrab dengan Mba Lusi, dia yang selalu menjemput mereka saat pulang sekolah atau mengantarkan les.


"Bunda, semalam Shifa bermimpi bertemu Budhe Mira."ucap Shifa.


"Budhe terlihat cantik…..sekali, memakai gamis putih, budhe mencium Shifa dan berkata, jaga bunda baik-baik. Lalu budhe pergi lagi."jelas Shifa.


"Benar kamu mimpi seperti itu, nak?"tanya ku pada Shifa


"Iya, bunda. Kapan kita kembali ke sana, bunda?"tanya Shifa.


"Iya, bunda, Dio kangen sama pakde dan opa, juga lainnya."sahut Dio.


"Iya, nanti kita pulang setelah bunda selesai pekerjaan di sini."ucap ku.


"Kapan selesai? Sebenarnya bunda di sini sementara atau memang ingin selamanya di sini?"tanya Shifa.


"Bunda di sini karena pekerjaan, sayang."ucapku.


Mereka hanya diam, tidak berkata apa-apa lagi, aku tau mereka sangat kecewa denganku. Tapi ini demi mereka, dan demi keluarga kakak iparku. Aku masih mengingat kata- kata Shifa tadi, soal dia bermimpi bersama Kak Mira. Iya, aku satu Minggu ini juga sering bermimpi dengan Kak Mira, kadang bermimpi jalan-jalan bersama Kak Mira, Kak Shita dan Rachel. Kadang juga aku bermimpi dengan Kak Mira juga dengan Kak Arsyad. Mungkin ini cuma bunga tidur, dan mungkin karena aku sangat merindukan mereka, begitu juga Shifa dan Dio, dia pasti benar-benar merindukan Kak Mira dan lainnya.


Aku beranjak dari kursiku, akan menuju kamarku untuk bersiap-siap ke kantor, saat aku akan beranjak ke kamar, tiba-tiba seorang laki-laki datang ke rumah paman, siapa lagi kalau bukan Leon. Dia setiap pagi ke sini, menjemput aku ke kantor. Kadang dia mengantar anak-anak ke sekolah dulu. Usaha untuk mendekatiku sangan kuat sekali, apapun akan dia lakukan agar aku mau menerima dia. Terkadang anak-anakku yang protes akan hal ini, dia tidak begitu suka dengan Leon, tapi Leon sangat pandai membujuk anak-anakku dan mampu membuat mood anak-anakku membaik dengan dia. Dan, sekarang Leon benar-benar sudah tau statusku, kalau aku seorang janda.


"Selamat pagi semua…"sapa Leon yang sudah berada di depan ruang makan kami.


"Pagi, hai bro…mari gabung sarapan, Leon."sapa Zi dan menyuruhnya untuk bergabung sarapan.


"Wah, aku sudah sarapan dari rumah, hallo jagoan paman, kamu tidak ke sekolah, putri cantik juga."ucap Leon pada kedua anakku.


"Kami tidak berangkat sekolah, paman. Shifa permisi dulu mau mandi." Shifa segera beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke kamarnya. Dia memang tidak begitu suka pada Leon. Apalagi setelah dia tau, Leon ingin mendekatiku, dan meminta pada paman, agar dia bisa menikahiku.


"Hah...mustahil sekali aku bisa menikah dengan orang sini, tidak ada yang bisa menggantikan posisi Arsyil di hatiku."ucapku dalam hati, dengan menatap sebal pada Leon.

__ADS_1


"Shifa, kamu tidak sopan sekali seperti itu."ucap Paman pada Shifa.


"Maaf eyang, perut Shifa mulas juga, Shifa mau ke belakang juga sekalian."ucap Shifa dengan seribu alasan.


Leon tersenyum masam melihat Shifa yang sepertinya tidak suka dengan kehadirannya. Leon duduk di samping Dio, dia menatap Dio dan mengajak bicara Dio.


"Kalian libur sekolah?"tanya Leon.


"Iya, paman."jawabnya.


"Mau tidak kalau nanti siang paman ajak jalan-jalan."tawar Leon.


"Tugas Dio banyak sekali paman, lain waktu saja ya."ucap Dio.


"Enank Dio, jalan-jalan di sini. Sana ikut paman Leon jalan-jalan."ucap Alvin.


"Gak mau paman, Dio Masih ada tugas, Dio masihada hafalan yang belum selesai."ucap Dio.


"Hafalan apa, sayang?"tanya Leon.


"Hafalan Al-Qur'an."jawab Dio.


"Iya, dan semenjak di sini, Dio menghafal sendiri, kalau di Indonesia Dio ikut sekolah Tahfidz."ucap Dio.


Leon tertegun dengan Dio. Aku melihat wajah Leon berubah saat mendengar Dio menghafal Al-Qur'an.


Aku pamit masuk ke dalam kamar untuk mandi dan bersiap-siap untuk ke kantor. Aku sudah menebak pasti Leon punya siasat lagi agar dia bisa mengantar aku ke kantor lagi.


Aku sudah selesai bersiap untuk ke kantor, aku pamit dengan anak-anakku untuk ke kantor.


"Zi, ayo lah aku mau berangkat."ajak ku pada Zidane


"Kami demgan Leon ya, akuara sedikit urusan. Biasa Monica minta aku menjemputnya."ucap Zi. Iya Monica, dia kekasih Zidane.


"Ya sudah."jawabku dengan nada melemah


"Mau berangkat sekarang, Nisa?"tanya Leon.


"Ahh…iya, aku ambil tas ku dulu."ucapku.

__ADS_1


Aku mengambil tasku yang berada di meja kerja. Dan sialnya aku, hari ini Leon berhasil mengantarku ke kantor lagi. Dan, Monica, pasti ini rencana Zi untuk mendekatkan aku dengan Leon. Tidak biasa dia antar jemput Monica. Monica kan ruangnya sangat jauh. Sungguh benar-benar rumit sekali, tak ku sangka kedatanganku ke sini malah menjadi hal buruk bagiku.


"Nisa."sapa Leon padaku yang dari tadi melihatku terdiam.


"Iya, ada apa?"tanya ku.


"Kamu tidak suka aku mengantarmu ke kantor?"tanya Leon.


"Emm…bukan aku tak suka. Sepertinya seorang sepertimu tidak pantas mengantar jemput aku ke kantor. Kamu kan CEO muda yang sukses dan terkenal. Masa mengantar saya yang hanya sebatas karyawan biasa di kantor."ucapku.


"Kamu bisa saja, Nis. Aku tidak keberatan, bahkan jika tiap hari mengantar jemput kamu, aku mau."ucapnya.


"Tidak perlu repot-repot, dan saya mohon Tuan Leon yang terhormat, besok tidak usah menjemputku lagi. Oke."ucap Nisa.


"Baiklah, kalau itu yang kamu mau, Nona Annisa."ucap Leon dengan senyum yang licik.


"Ya Allah, aku harus bagaimana, apa aku harus segera pulang ke Indonesia saja. Aku tidak mau seperti ini terus. Ya, Leon sangat tampan. Bahkan ketampanannya melebihi Arsyil tapi aku tidak bisa. Tidak bisa menerimanya."ucap ku dalam hati.


"Aku harus bagaimana? Apa aku harus menelepon papah Rico atau Kak Arsyad untuk menenangkan hatiku ini. Aku benar-benar takut. Leon bukan lelaki biasa. Dia bisa melakukan segala macam cara untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan."aku terus begumam dalam hati, aku semakin takut dengan keadaan ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


♥️happy reading♥️

__ADS_1


__ADS_2