THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 57 " Foto Pernikahan" The Best Brother


__ADS_3

Najwa sedang sibuk menata gaun yang baru selesai di jahit. Gaun pesanan teman Nuri, gaun pernikahan yang cantik, membuat setiap mata wanita yang melihatnya ingin memakai gaun tersebut di hari bahagianya.


"Dulu aku merancang gaun paling bagus untuk pernikahan ku dengan Dio. Tapi, semua sia-sia. Karena satu susuan, kami tidak bisa melanjutkan hubungan kami." Najwa masih melihat dengan lekat gaun itu.


Dia mengingat hubungannya dulu dengan Dio. Hubungan yang ia jalani saat masih duduk di bangku SMA dengan Dio, kini hanya menjadi sebuah kenangan saja. Rasa untuk Dio masih tertinggal di hati Najwa hingga sekarang. Bukan rasa cinta, melainkan rasa bersalah telah menerima Dio menjadi bagian dari hidupnya. Terlebih, hubungan mereka yang terlalu dalam dan melukai banyak orang.


"Maafkan aku. Aku memang jahat, aku wanita bodoh, aku wanita kotor, aku jahat, iya aku jahat sekali," ucap Najwa dengan lirih dengan memejamkan matanya yang di genangi oleh air mata.


"Kamu tidak jahat, kamu tidak kotor. Sudah Ainun, tutup luka itu. Kamu buka lembaran baru lagi." Habibi tiba-tiba berada di belakang Ainun dan menyentuh bahu Ainun.


"Habibi, aku tidak pantas untuk laki-laki sebaik kamu. Tolong jangan paksa aku. Aku tidak mau," ucap Ainun dengan berlinang air mata.


"Ikut aku!" Habibi menarik tangan Ainun ke dalam. Dia tidak ingin Ainun menangis dengan di lihat oleh karyawan Nuri yang lainnya.


"Nuri, aku pinjam Ainun," ucap Habibi.


Nuri hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia tahu Habibi saat ini masih berjuang mendapatkan secebis hati Ainun. Menurut Nuri, mungkin Ainun sudah mencintai Habibi. Tapi, dia masih takut akan masa lalunya. Hampir satu tahun di Budapest, tidak mungkin Ainun tidak melupakan cinta untuk Dio. Apa lagi dengan adanya Habibi yang selama hampir 5 bulan menemani Ainun dan mengisi hari-hari Ainun.


"Aku akan mencoba membujuk Najwa, agar dia bisa bersama Kiki. Aku tahu, Najwa sudah mulai menyukai, bahkan mencinti Habibi," gumam Nuri.


^^^^^


Habibi berjongkok di depan Ainun yang duduk di kursi sambil menangis. Habibi menenangkan hati Ainun yang mungkin masih teringat dosa masa lalunya.


"Habibi," panggil Ainun dengan suara lirih.


"Iya, ada apa?" jawab Habibi.


"Maafkan aku, aku tidak ingin kamu menyesal memiliki aku, Habibi," ucap Ainun.


"Menyesal? Jangan bicara seperti itu, aku tidak akan menyesal menikahi mu. Aku serius, aku mencintaimu, aku menerima kamu apa adanya, Ainun," ucap Habibi dengan menggenggam tangan Ainun.


"Iya, aku tahu kamu mencintaiku, Habibi. Habibi, aku juga nyaman dengan kamu, dan rasa ini sedikit demi sedikit tumbuh di hatiku. Aku mencintaimu, tapi aku takut, aku takut untuk menikah, dan ….." ucapan Ainun terhenti karena Habibi memeluknya.


"Sudah jangan di lanjutkan, sudah jangan menangis, aku tahu hatimu, aku akan menunggu sampai kamu siap menikah dengan ku. Terima kasih, Ainun. Kamu sudah membalas cintaku." Habibi mengeratkan pelukannya pada Ainun.


"Bukalah lembaran baru, aku yakin kamu pasti bisa meleburkan lara di hati kamu, dan menggantikannya dengan bahagia. Aku janji, akan menunggumu siap, dan aku akan selalu membuat kamu bahagia." Habibi mengecup kening Ainun denah penuh kasih sayang.


"Aku akan belajar menghilangkan rasa takut dan trauma ini, Habibi. Aku mohon dampingi aku untuk saat ini." Ainun memeluk erat Habibi.


"Iya, aku akan selalu mendampingi mu hingga akhir hidupku, aku janji itu. Meskipun kamu melarang ku, untuk tidak mengumbar janji. Aku akan tetap berjanji padamu, Ainun."


"Terima kasih, Habibi."


"Sudah jangan menangis, Ainun. Kamu lanjutkan kerja, aku akan ke rumah sakit sebentar. Nanti aku menjemput kamu."


"Oke, kamu hati-hati. Semangat bekerja," ucap Ainun pada Habibi.


"Kamu juga, jangan nangis lagi, belajarlah membuka lembaran baru dalam hidupmu," ujar Habibi.

__ADS_1


"Siap, Pak Dokter." Ainun berkata dengan semangat pada Habibi.


"Gitu dong, ini baru namanya Ainun." Habibi mencubit pipi Ainun.


Habibi pergi meninggalkan butik, dan berangkat ke rumah sakit. Ainun melanjutkan kembali pekerjaannya. Dia mencoba membuka lembaran baru dan mengubur semua masa lalunya. Seperti kata Habibi tadi pada Ainun.


°°°°°


Sore hari, entah kenapa Rania ingin sekali ke sekolahannya dulu saat SMP. Setelah mendengar kabar dari Dini dan Winda akan diadakannya Reuni Akbar, dia menjadi ingin sekali pergi ke sekolahannya. Sekolahan yang menjadi saksi cinta dia dengan Dio, mantan suaminya.


Rania turun dari mobilnya. Dia menemui satpam yang menjaga sekolahan. Rania memperkenalkan diri, dan akhirnya dia minta izin untuk masuk ke dalam taman belakang. Seorang pria mengikuti Rania menuju ke tama belakang.


Pria itu mengenali Rania, bahkan sangat mengenalinya. Rania duduk di bangku yang menghadap ke arah danau buatan. Suasanya sudah tidak seperti dulu lagi. Sudah semakin bagus dan sudah semakin maju sekolahan Rania dulu.


"Rania," panggil pria itu.


Rania menoleh ke arah pria tersebut. Rania sedikit keget dan menampakkan wajahnya yang diliputi ketakutan


"Jangan takut, aku tidak senakal dulu," ucap pria itu dengan menggendong anak kecil yang lucu.


"Apa kabar, Ran?" tanya pria itu.


"Baik, kamu sendiri, Yo?" jawab Rania sembari bertanya. Ya, orang itu adalah Yohan.


"Baik juga, kamu sedang apa di sini?" tanya Yohan.


"Ingin ke sini saja," jawab Rania.


"Iya, ini anakku yang nomor 3," jawabnya.


"Wah … sudah punya anak 3, kamu?"


"Iya, kalau kamu? Apa kabar Dio?"


"Dio? Emm … dia baik, sekarang sibuk dengan perusahaannya."


"Kamu di sini sedang apa, Yo?" tanya Rania.


"Menunggu istriku yang sedang membenahi ruangan komputer. Dia guru di sini, dan aku di sini bekerja di bagian Tata Usaha," jawab Yohan.


"Oh, kamu dan istrimu bekerja di sini?" tanya Rania lagi.


"Iya," jawabnya.


"Kamu ikut Reuni, kan?" tanya Yohan.


"Ya, Insya Allah aku ikut, nanti di sini atau di mana tempatnya?"


"Katanya sih di sini, atau di ballroom."

__ADS_1


Mereka mengobrol bersama, istri Yohan juga ikut mengobrol dengan Rania juga. Sudah cukup lama mengobrol akhirnya Rania pamit pulang.


^^^


Selang 20 menit Rania pulang, Dio juga mengunjungi taman sekolahannya dulu. Di mana ia menemui Rania untuk bertukar surat saat masih sekolah dulu. Dio melihat pemandangan sekitar. Dan tiba-tiba di kejutkan oleh suara bariton seorang pria dari belakangnya.


"Tadi yang perempuan ke sini, sekarang yang laki, kalian sedang ada masalah?" Tanya seorang pria dari belakang Dio.


Dio menoleh ke arah sumber suara. Betapa kagetnya dia melihat Yohan rivalnya dulu berada di belakangnya.


"Yohan?"


"Iya, aku Yohan. Kamu ada masalah dengan istrimu, Rania? Tega ya, menikah tidak mengabari," ucap Yohan sambil mendekati Dio.


"Maksudnya?" tanya Dio dengan mengernyitkan keningnya.


"Nih, foto istrimu dan kamu jatuh." Yohan memberikan foto pernikahan Dio dan Rania.


Tadi Rania memang sedang memandang foto pernikahannya saat berada di taman belakang sekolahannya dulu. Saat Yohan datang, dia meletakkan foto itu di bangku.


"Maksud kamu?" tanya Dio lagi.


"Tadi Rania ke sini, sempat mengobrol dengan aku dan istriku. Lalu setelah pulang, istriku menemukan foto itu di bangku ini," jawab Yohan.


"Jadi benar kalian sudah menikah?" tanya Yohan.


"Emmm … i--iya …" jawab Dio dengan terbata-bata.


"Kamu ada masalah dengan istrimu?"


"Emm … tidak."


"Jangan sering bertengkar. Kalian pasangan serasi. Nanti datang ke reuni."


"Iya, aku datang nanti. Kamu di sini sedang apa?" tanya Dio.


"Aku TU di sini, dan istriku guru komputer di sini. Tadi baru saja membereskan ruang komputer, jadi aku dan istriku di sini," jawab Yohan.


"Mana istrimu?"


"Sedang di masjid tuh, sama anakku yang nomor 3."


"Itu istri dan anakmu? Kamu sudah punya 3 anak? Wah … ngebut, ya?"


"Iya dong. Banyak anak banyak rezeki, bro. Kamu dan Rania bagaimana? Anak kalian berapa?"


"Kami baru menikah, jadi belum memiliki anak."


Yohan dan Dio mengobrol cukup lama hingga menjelang petang. Akhirnya Dio pamit pulang. Dio masih tidak menyangka Rania datang ke sekolahannya dulu, dan yang lebih mengejutkan, Rania masih menyimpan foto pernikahannya bersama dirinya.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana? Yohan taunya aku suami Rania. Dan, Rania masih menyimpan foto ini?" gumam Dio sambil memandangi foto pernikahannya dulu dengan Rania.


__ADS_2