THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 13 "Melanjutkan Rencana" The Best Brother


__ADS_3

Arsyad menemui Reno di cafe Shita. Mereka ingin membahas soal kantor dan membahas soal Rania dengan Dio. Kesepakatan menjodohkan mereka memang sudah terjadi sejak lama. Tapi, belum ada kejelasan lebih lanjut tentang masalah perjodohan Rania dan Dio. Rania dan Dio memang orang-orang yang sibuk di kantor. Jadi, selalu saja ada alasan jika dia ajak bicara. Apalagi soal perjodohan.


Padahal Rania dulu sangat ingin di jodohkan dengan Dio, tapi entah kenapa semenjak Dio berubah menjadi pria dingin dia enggan menerima perjodohan itu. Walaupun dalam hati kecilnya dia sangat mencintai Dio sejak dia bertemu di SMP. Hingga sekarang rasa cinta itu masih melekat erat di hati Rania.


Arsyad meneguk kopinya dan sesekali membaca dokumen milik Reno. Ya, mereka kembali menjalin kerja sama, dan ini merupakan proyek terbesar untuk mereka. Arsyad kembali mengurus perusahaannya lagi bersama Rayhan, partner kerja sekaligus sepupu dan sahabat itu. Mereka masih selalu kompak menjalankan perusahaan milik Alfarizi. Dan, Raffi berhasil mendirikan perusahaannya sendiri dengan hasil kerja kerasnya.


"Bagaimana, Syad? Ini proyek besar, dan keuntungannya jelas berlipat ganda," ujar Reno.


"Ya…ya…ya…, aku sudah baca semua. Dan, oke deal." Arsyad menjabat tangan Reno.


Semenjak Reno di Indonesia, perusahaan Arsyad banyak di bantu olehnya. Ya, ini yang membuat kekerabatan mereka semakin kental sekali. Hingga mereka ingin sekali berbesanan, dengan menjodohkan Rania dan Dio. Namun, Arsyad menyarankan agar Rania Dan Dio mencari pasangan dulu, kali saja mereka lebih cocok dengan pasangannya ketimbang di jodohkan sesuai keinginan orang tuanya. Reno sependapat dengan Arsyad, dengan membebaskan Rania memilih pria sesuai pilihannya untuk dijadikan pasangannya.


Namun, hingga sekarang Rania, belum memiliki pasangan, dan itu yang membuat Reno tergerak melanjutkan perjodohannya. Berbeda dengan Arsyad, dia masih di pusingkan dengan hubungan Najwa dan Dio. Dia tahu Dio sangat mencintai putrinya, tapi itu tidak mungkin, mereka tidak akan pernah mungkin bersatu.


"Syad, apa Dio sudah memiliki kekasih?" tanya Reno.


"Aku tidak tahu, Ren. Dia sekarang tertutup, apalagi masalah perempuan. Ya, semenjak kejadian dulu, waktu papah mengusir Annisa, aku dan Dio bicara hanya sebatas yang penting, kalaupun bercanda juga sewajarnya." Arsyad menjelaskan pada Reno, dan sedikit berbohong tentang hubungan Dio dengan Najwa.


"Ya, Rania bilang juga Dio sekarang dingin, acuh. Tidak seperti dulu waktu ia mengenalnya." Reno pun berkata seperti itu, karena Rania sering cerita kalau Dio sekarang sikapnya dingin, tidak humoris seperti dulu.


"Makanya, apa kita akan melanjutkan perjodohan yang tertunda?" tanya Arsyad.


"Itu yang mau aku bicarakan. Rania aku jodohkan dengan anak rekan kerjaku, dia langsung menolak dan malah, dia kabur 2 hari 2 malam. Tidak pulang ke rumah," ucap Reno.


"Kabur?" tanya Arsyad


"Iya, bermalam di villa, katanya mencari ketenangan dan menghindari di jodohkan," jawab Reno.


"Tapi, saat aku bicara soal Dio yang akan aku jodohkan dengan dia, dia bicara terserah ayah, Rania nurut," imbuh Reno.


"Kabur tidak?" tanya Arsyad sambil menyimpulkan senyumannya.


"Buktinya masih di rumah sampai sekarang, dan aku sudah tidak bahas itu lagi. Kamu juga tidak tanya lagi, kan? Setelah makan malam itu, kamu juga tidak menghubungi aku lagi. Aku tahunya Dio sudah memiliki kekasih," ucap Reno.


"Aku memikirkan pernikahan Shifa yang serba mendadak Ren, aku sebenarnya belum rela melepas Shifa. Tapi, mau bagaimana lagi, dia mendapat sosok pria yang sempurna di mataku, bertanggung jawab, baik dengan Shifa. Ya sudah, daripada pacaran, kan? Dan, saking terfokus dengan pernikahan Shifa, aku sampai lupa hari ulang tahun Najwa yang berbarengan dengan hari pernikahan Shifa." Arsyad menjelaskan semuanya, tanpa bicara hubungan Dio dan Najwa.


"Jadi, Dio belum punya kekasih?" tanya Reno.


"Ya sepertinya belum, dia sibuk dengan perusahaan Annisa," jawab Arsyad.


"Sekarang tambah berkembang lho, perusahaan Annisa setelah di pegang Dio," ucap Reno.


"Ya, dia benar-benar tekun dalam mengembangkan perusahaan bundanya itu. Sama seperti putrimu, dia juga wanita hebat, karirnya melejit, dan benar-benar seperti Annisa dulu kalau aku lihat," ucap Arsyad.


"Iya, dari gayanya, cara bicaranya, dan semangatnya, kenapa dia seperti istrimu? Aku saja heran," ujar Reno.


"Karena kamu sering nitipin dia sama aku, apalagi sejak Najwa pegang butik, Shifa pegang taman baca, Rania yang seharian di rumah sama Annisa," ucap Arsyad.


"Ya, dia dekat sekali sama Annisa, bahkan sama Anna dia tidak sedekat sama Annisa," ucap Reno.

__ADS_1


"Jadi bagaimana? Mau di lanjut? Kita berbesanan?" tanya Arsyad.


"Nanti aku bicarakan dengan Rania, semoga saja mau," jawab Reno.


"Oke, aku juga akan bicara dengan Dio, dan kalau bisa mereka masih sama-sama sendiri, kita percepat saja. Rania usainya sudah matang untuk menikah, begitu juga Dio," ucap Arsyad.


"Dan ini yang menjadi kunci, jika mereka menolak perjodohan ini," imbuh Arsyad sambil menunjukan dokumen kerja sama.


"Jangan gila, jangan karena urusan bisnis kita menikahkan anak," ujar Reno.


"Iya juga sih," ucap Arsyad.


"Pokoknya aku mau kita berbesanan," imbuh Arsyad.


"Iya kalau Rania dan Dio mau. Tapi, kalau Rania jelas mau, karena aku sering mengintip buku hariannya, yang selalu menuliskan nama Dio di setiap lembar halamannya," ucap Reno.


"Semoga saja Rania mau, Ren. Dan, Dio juga bisa menerimanya," ucap Arsyad


"Maaf Ren, aku terpaksa memaksa Dio, dengan ini semua nanti, jika Dio menolaknya. Tapi, aku akan pikirkan lagi, supaya pernikahan Dio dan Rania tidak terkesan pernikahan karena bisnis. Aku harus bisa memaksa Dio menikahi Rania secepatnya, meskipun dia menolak. Aku tidak bisa menikahkan putriku dengan Dio. Anak dari adikku dan istriku. Memang mereka bisa menikah, karena bukan mahramnya, tapi aku sudah menikah dengan Annisa. Itu tidak mungkin terjadi, aku yang suami Annisa tiba-tiba harus menjadi besan dengan istriku sendiri. Itu tidak lucu. Dan, aku tak akan membiarkan itu, walaupun harus menyakiti hati Najwa dan Dio," gumam Arsyad.


Arsyad meneguk kopinya kembali, untuk menenangkan pikirannya. Memang Shita jago sekali membuat kopi seperti ibunya. Ya, semua orang pandai membuat kopi, tapi tidak seenak kopi yang Andini buat. Dan, Shita memang menuruni kemampuan ibunya.


Reno berpamitan kepada Arsyad untuk kembali ke kantornya. Dia juga akan segera membicarakan ini dengan Rania, soal perjodohannya dengan Dio.


"Syad, aku kembali ke kantor dulu. Rania juga akan menemui ku di kantor," pamit Reno.


^^^^^


Reno berpamitan untuk pulang, dia segera melajukan mobilnya menuju ke kantor karena sudah ditunggu oleh putrinya yang cantik itu. Reno melajukan mobilnya dengan cepat, karena dia tahu, anaknya tidak suka menunggu lama.


Reno memarkirkan mobilnya dan keluar dari mobilnya lalu menemui Rania yang sudah berada di dalam ruangannya. Rania terlihat sedang bersandar di sofa dengan membaca novel bergenre romance itu dengan serius.


"Maaf sayang, membuat kamu menunggu," ucap Reno.


"Ayah, kebiasaan, ninggalin kantor hampir setengah hari sendiri. Dari mana, sih?" tanya Rania sambil menutup novelnya dan memasukan ke dalam tasnya.


"Ayah habis menemui abahmu," jawab Reno sambil melihat dokumen milik Rania yang sudah berada di atas meja kerjanya.


"Om Arsyad?" tanya Rania.


"Iya, siapa lagi abahmu, masa mau Om Frans, papahnya Evan?" jawab Reno.


"Oh ya, Ran, ayah sudah membicarakan soal kamu dan Dio, perjodohan ini akan di lanjutkan, ayah harap kamu bisa menerimanya," ucap Reno.


"Tapi, ayah. Dio tidak menyukai Rania, dan Dio…."


"Dio kenapa? Punya kekasih? Ayah tetap mau perjodohan ini berjalan. Mau menolak lagi? Sudah berapa kali ayah menjodohkan kamu? Kamu selalu menolaknya dan bilang kamu punya pilihan sendiri. Tapi, kenyataannya kamu juga belum memiliki kekasih hingga sekarang, bukan? Umur kamu mau 25 tahun, Nak. Kamu belum memiliki kekasih, tidak seperti itu caranya mengejar karir, tanpa memikirkan pernikahan," tutur Reno.


"Ayah tau kamu menyukai Dio sejak dulu, jangan di tutupi perasaanmu.Dan, sekarang kamu harusnya senang, ayah menjodohkan kamu senang Dio," imbuh Reno.

__ADS_1


"Ayah, aku memang menyukai Dio dari dulu, bahkan dulu aku sempat bilang ke ayah, kan? Kalau aku mau sekali di jodohkan dengan Dio. Tapi, itu dulu ayah, sebelum Dio berubah menjadi pria dingin seperti ini. Sekarang, mana bisa Rania hidup dengan Dio yang seperti itu?" ujar Rania.


"Tapi kamu masih mencintainya, kan?" tanya Reno memastikan hati putrinya yang tertutup untuk membuka hati pada pria.


"Ayah, jangan bahas ini, sudah itu dokumen Rania gimana?" Rania mencoba mengalihkan pembicaraan dengan ayahnya.


"Jawab dulu, nanti ayah urus dokumen kamu," ucap Reno.


"Ayah, apaan sih," tukas Rania.


"Ran, ayah tahu perasaan kamu, kamu menutup hati kamu untuk pria lain hanya karena kamu mencintai Dio, kan?" tanya Reno.


"Ayah, sudah jangan bahas ini." Rania berkata hingga matanya berkaca-kaca.


Reno mendekati anaknya dan meraih tubuhnya dalam pelukannya. Rania gadis yang manja bagi Reno, dia selalu menggunakan hati kalau berbicara. Dan, hati Rania memang sedikit rapuh jika membahas soal Dio. Reno tahu, anak gadisnya itu sangat mencintai Dio.


"Ayah, Rania memang mencintai Dio dari dulu, tapi kalau di jodohkan dan memaksa Dio untuk menikahi Rania, Rania juga tidak bisa, ayah," ucap Rania dengan terisak.


"Lalu kenapa kamu dulu bersemangat sekali dengan Dio?" tanya Reno.


"Itu dulu, ayah, saat Dio belum seperti ini. Rania tidak mau ayah, biar cinta ini Rania pendam sendiri, entah sampai kapan," ucap Rania.


"Jangan seperti itu, Dio pasti mau dan menerima perjodohan ini, Sayang." Reno mencium kepala Rania.


"Tidak ayah, Rania tidak mau," ucap Rania yang terus menolak.


"Apa kamu akan menyiksa hatimu?"tanya Reno.


"Kalaupun iya Dio mau, dia pasti terpaksa karena Abah memaksa juga, ayah," jelas Rania.


"Sudah jangan menangis, ayah tahu rasanya seperti apa mencintai tanpa balas, kamu putri ayah satu-satunya. Ayah ingin melihat kamu bahagia hidup bersama orang yang kamu cintai, Rania." Reno mengecup kening putrinya dan duduk di samping Rania sambil mengecek dokumen dari Rania. Rania hanya terdiam di samping ayahnya dengan menyandarkan kepalanya di sofa.


Sejenak Reno mengingat kisah cinta Naila yang kuat untuk Arsyad. Bahkan di penghujung usianya, dia ingin bertemu Arsyad dan tidak mencintai Reno. Wanita yang ia cinta itu memberi hatinya hanya untuk Arsyad. Reno tidak ingin ada Naila ke-2 dalam hidupnya. Reno tidak ingin anaknya seperti Naila, istri pertamanya, yang meninggal karena penyakit hatinya. Menyembunyikan cinta seumur hidupnya dari Arsyad. Menunggu Arsyad membuka hatinya. Namun, hal menyakitkan terjadi saat Arsyad menikahi Almira sahabat karibnya.


"Aku tidak mau, anakku seperti Naila, aku tidak mau, ada laki-laki yang sepertiku, mencintai wanita yang seumur hidupnya mencintai laki-laki lain. Cukup Naila saja yang seperti itu, jangan anakku. Sebisa mungkin aku meminta Arsyad untuk melanjutkan perjodohan ini. Aku tahu Dio tidak mencintai anakku, tapi setidaknya, anakku berada di dekat orang yang ia cintai, dan dia memiliki raganya. Dan semoga mereka bisa saling mencintai, karena aku tahu, dulu Dio mencintai Rania, seperti yang tertulis di surat cintanya dulu, saat mereka masih SMP." Reno terus berpikir soal perjodohan anaknya dengan anak Arsyad. Dia akan tetap melanjutkannya, dan berbicara dengan Arsyad lagi, karena dia tidak ingin ada Naila Ke-2 dalam hidupnya.


Rania masih memikirkan tentang perjodohannya itu. Rania tidak habis pikir, ayahnya mendukung sekali dengan perjodohan ini. Rania sebenarnya mau jika di jodohkan dengan Dio. Bagaimana bisa dia menolaknya. Karena laki-laki yang ada di hatinya sejak ia duduk di bangku SMP hanya Dio saja, tidak ada yang lain sampai detik ini. Hingga Dio berubah menjadi dingin padanya, entah karena apa dia tidak mengerti.


Rania melihat Dio yang dingin itu saat Dio tertimpa musibah. Di mana Opa Rico mengusir bundanya dari rumah Abah. Dan dari situ Dio menjadi pria dingin di mata Rania. Jarang sekali bicara dengan Rania, surat Rania juga tidak pernah di balas. Kata cinta dari Dio dulu lewat surat pertamanya masih ia simpan dengan rapi di kotak suratnya.


Ya, Dio pernah mengungkapkan cinta dan suka pada Rania. Rania membalas itu semua, tapi entah kenapa cinta dalam diam dan hanya tercurah lewat sebuah surat itu sedikit demi sedikit musnah. Rania tidak pernah tau kejelasan hubungan mereka. Hanya sebatas ungkapan cinta lewat sebuah surat saja. Mereka tidak pernah jalan berdua layaknya anak ABG yang pacaran. Hanya mengobrol saat mereka menunggu di jemput saja, selebihnya jika ada tugas kelompok atau sedang kumpul dengan Najwa, Shifa, Raffi,dan lainnya.


Tidak pernah sedikitpun Dio dan Rania membahas soal surat cintanya secara langsung, bicara dengan 4 mata pun tidak pernah. Hingga sekarang tidak tahu kejelasannya. Dan, sampai detik ini, di mana Dio sudah menjadi pria dingin dan berhati batu bagi Rania.


"Apa aku bisa hidup dengan Dio? Satu rumah dengan orang macam Dio? Bahkan mungkin, satu kamar dengan dia. Aku tidak tahu, aku yang selama ini masih saja menunggu kejelasan dari surat-surat Dio dulu, dan hingga saat ini aku masih sama. Perasaan ini masih sama. Aku masih mencintainya, dan aku masih menunggu kejelasan itu," gumam Rania.


"Aku tidak boleh kalah dengan rasa cinta. Karena aku punya cita-cita yang harus ku perjuangkan, bukan hanya cinta saja. Jika memang nanti aku jadi menikah dengan Dio, mungkin itu adalah cobaan untukku, dan ujian untukku bisa menaklukkan hati Dio. Ya, entah itu sampai kapan aku tidak tahu. Aku hanya ingin melihat ayah bahagia, aku menikah dengan orang yang aku cintai." Rania masih terpaku memikirkan kata perjodohan itu.


Rania kemabali ke kantornya setelah menyelesaikan pekerjaannya dengan ayahnya. Hatinya masih belum stabil, masih saja memikirkan perjodohan itu. Rania melakukan mobilnya dengan cepat menuju ke kantornya. Dan, saat akan masuk di dalam kantornya dia melihat sosok pria yang ia kenal, berdiri tegap di lobi kantornya. Pria itu menatap tajam pada dirinya penuh arti.

__ADS_1


__ADS_2