
Rania masih mematung di ruang makan. Dia duduk dan meletakan tangannya di atas meja makan dengan menggenggam gelasnya. Pagi ini masih terlihat petang, seusai menunaikan kewajibannya yaitu Sholat subuh, Rania memilih tidak tidur lagi. Dia ke dapur mengambil air putih dan duduk di kursi yang berada di ruang makan.
"Lebih baik aku pergi ke luar, mencari sayuran untuk di masak. Mau makan apa aku, di kulkas masih kosong tidak ada apa-apa," gumam Rania.
Rania membuka pintu depan. Hawa dingin tak membuat dia gentar untuk keluar menuju ke pasar tradisional yang tak jauh dari rumahnya. Rania menghirup segarnya udara pagi yang membuat pikirannya menjadi tenang. Bau embun masih terasa menyeruak di rongga hidung Rania. Rania melintasi jalanan yang masih sedikit sepi. Rumah yang di beli Dio bukan perumahan elit atau perumahan pada umumnya.
Dio memilih rumah yang jauh dari keramaian kota. Sisi kiri kanan rumahnya masih berupa tanah kosong yang luas. Jalan di depan rumah Dio juga bukan jalan yang di lalui angkutan umum atau taksi. Harus berjalan sekitar 200 meter untuk menuju jalan raya.
Rania menyetop taksi untuk menuju ke pasar tradisional. Dia tidak menghiraukan Dio yang masih tidur. Toh, Dio sendiri yang meminta agar tidak menggangu privasinya. Namun, Rania sadar, Rania sekarang adalah seorang istri. Dia juga berkewajiban menyiapkan sarapan untuk suaminya walau suaminya tak pernah menganggap dia ada.
"Ya Allah, apa aku kuat dengan semua ini?" batin Rania dengan meneteskan air mata.
^^^^
Pukul 07.30 Dio baru keluar dari kamarnya. Rania yang sudah selesai memasak dari tadi tidak berani membangunkan Dio, dia lebih memilih menunggu nya sambil mengecek email di ponselnya dari asisten pribadinya di kantor.
"Ran, ini semua kamu yang masak?" tanya Dio.
"Bukan, Dewi Nawang Wulan yang memasak," jawab Rania.
"Siapa itu?" tanya Dio lagi.
"Makanya banyak baca cerita legenda, sudah kamu mau sarapan?" Rania beranjak dari tempat duduknya.
"Boleh," jawab Dio.
"Hmm ... aku siapkan sebentar." Rania meletakan ponselnya di meja ruang tengah dan menyiapkan sarapan untuk Dio.
"Dia suamiku, tapi tidak mencintaiku. Tapi, aku bersyukur, setidaknya dia mau menyapaku," gumam Rania.
"Dio, hari ini semua barang-barang ku akan di bawa ke sini, tadi aku sudah menyuruh orang untuk mengemasnya. Tidak apa-apa kan? Kamar itu aku gunakan juga buat ruang kerjaku juga?" tanya Rania tanpa menatap Dio.
"Iya, gunakan saja," jawab Dio.
"Aku juga membawa mobilku ke sini," ucap Rania.
"Dengan sopir mu juga?" tanya Dio.
"Tidak, untuk apa, aku bisa nyetir sendiri," jawabnya.
"Bukankah kamu tidak bisa menyetir di keramaian?"
__ADS_1
"Kalau tidak mencoba, aku selamanya tidak bisa, Dio. Aku tidak mau mengandalkan orang lain terus, sudah habiskan sarapan mu, aku permisi ke kamar kamu mengambil bajuku," ucap Rania.
"Hmm …" jawab Dio yang hanya bergumam.
Dio memandangi punggung Rania yang sedang berjalan menuju kamarnya. Dio merasa aneh dengan sikap Rania sekarang. Dia cuek dan terlihat baik-baik saja. Padahal semalam dia melihat dirinya dengan Najwa seperti itu.
"Aku dulu mencintaimu Rania, tapi kenapa sekarang aku tidak bisa? Dan, di pikiranku yang ada hanya Najwa, Najwa, dan Najwa," gumam Dio sambil menikmati sarapannya.
"Ini semua dia yang masak? Lalu untuk membeli bahan masakan ini dia bagaimana? Rumah ini dari jalan raya cukup jauh, kalau berjalan butuh waktu 10-15 menit baru sampai jalan raya, dan masakan ini sama rasanya dengan masakan bunda. Berbeda dengan Shifa, dia malah sama sekali tidak bisa memasak, apalagi Najwa." Dio berkata lirih sambil menikmati makanannya.
Rania berada di kamar Dio. Dia mendengar ponsel Dio berbunyi, ada panggilan masuk dari Najwa. Dia mencoba mengangkatnya, tapi Rania tidak bersuara.
"Sayang, kamu benar memberi aku bunga? Terima kasih, tapi maaf hari ini aku tidak bisa bertemu, aku banyak tamu di butik hari ini." Najwa berkata seperti itu, tapi Rania langsung mematikan ponselnya.
"Jadi mereka masih berhubungan? Oke, aku lihat seberapa jauh hubungan mereka. Aku bisa apa, yang terpenting aku harus menjadi istri yang baik untuk Dio, atau bahkan yang terbaik dari semua wanita yang ada di dunia ini," gumam Rania sambil menaruh baju Dio
Rania tahu, kalau suaminya belum mandi, dan dia menyiapkan baju ganti untuk Dio. Rania keluar dari kamar Dio, dia mendekati Dio di meja makan, yang masih menikmati masakan dirinya. Dio terlihat menghabiskan sisa capcay yang Rania buatkan.
"Dio, maaf. Tadi Najwa telepon," ucap Rania yang membuat Dio menatap tajam pada Rania.
"Aku kan bilang, jangan berani-berani ikut campur masalah pribadiku, Rania!" ucap Dio dengan nada tinggi.
"Sepertinya itu sudah tidak hal pribadi lagi, kalau hal pribadi, tidak mungkin kalian melakukan adegan seperti semalam di Rooftop, sudah sana terserah apa maumu, mau menemui Najwa ya silakan, mau seperti apa juga silakan." Rania berani berkata seperti itu dengan berjalan ke arah kamarnya.
"Rania berani sekali dia berkata seperti tadi," ucap Dio dengan lirih.
Dio melihat satu stel pakaian berada di tempat tidurnya. Dio tahu, pasti Rania yang sudah menyiapkan semua ini. Dio tersenyum dan mengambil handuknya lalu pergi ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, Dio kembali ke kamarnya dengan melilitkan handuknya. Dia membuka handuknya dan membersihkan sisa-sisa air yang masih menempel di tubuhnya.
"Dio ….!" teriak Rania yang melihat tubuh polos Dio yang sedang membersihkan tubuhnya dengan handuk.
Rania yang tidak tahu kalau Dio sedang polos seperti itu, dia tanpa mengetuk pintu dan langsung masuk ke kamar Dio untuk mengambil tas make up yang masih tertinggal di lemari Dio.
"Rania ….! Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu dulu?" teriak Dio tapi dia masih belum juga memakai bajunya.
"Maaf aku tidak tahu kamu sedang seperti itu. Cepat pakai bajumu, aku mau ambil tas make up ku," ucap Rania sambil membelakangi Dio.
"Kalau bicara lihat orangnya," ucap Dio.
"Bagaimana aku mau melihat kamu yang seperti itu. Aku tidak mau mataku ternoda," ucapnya.
"Sok suci kamu," tukas Dio.
__ADS_1
Rania membalikan tubuhnya dan berjalan ke arah Dio. Beruntung Dio sudah memakai celananya. Rania benar-benar marah karena Dio berkata seperti itu. Seperti merendahkan Rania yang tidak suci lagi.
"Plak…!" satu tamparan dari Rania mengenai pipi Dio.
"Maksud kamu apa, hah! Menampar aku!" seru Dio.
"Kamu boleh menyakiti aku, kamu boleh menyiksa batinku seumur hidupku, Dio. Tapi maaf, kata-kata mu tadi begitu menyakitkan. Kamu menganggap seolah-olah aku tidak suci lagi. Ingat Dio, sebaik-baiknya wanita adalah wanita yang bisa menjaga kehormatannya, dan kesuciannya, walaupun di depan orang yang dia cintai." Rania dengan marah berkata seperti itu dan mengambil tas make up miliknya lalu pergi dari kamar Dio.
Dio hanya terdiam mencerna perkataan Rania tadi. Dia duduk di tepi ranjang, dan masih mengartikan kata-kata Rania tadi.
"Ahh … untuk apa aku memikirkan dia. Dia paling hanya di mulut saja, buktinya dulu saja dia dengan mudahnya seperti itu dengan Yohan, tidak mungkin dia masih suci," gumam Dio.
Dio merebahkan tubuhnya, dia sedikit melupakan Najwa hari ini. Dia memikirkan apa yang kemarin dia lakukan dengan Najwa. Dan, seharusnya itu tidak di lakukan pada Najwa. Dio kembali memikirkan kata-kata Rania tadi. Hingga pukul 10 pagi dia masih berada di kamarnya.
Dio merasa bosan dan keluar dari kamarnya. Dia mencari Rania, tapi dia tidak melihat Rania di ruang tamu, ruang tengah, dapur, bahkan halaman belakang rumahnya.
"Di mana Rania?" gumam Dio.
Dio berjalan ke arah kamar Rania. Dia ingin mengetuk pintu kamar Rania, tapi mengurungkannya dan pergi dari depan pintu kamar Rania. Namun, Dio berbalik lagi dan membuka pintu kamar Rania yang tidak di kunci. Rania terlihat sedang bersujud, Rania memang tidak pernah ketinggalan sholat Dhuha. Saat di kantor dia juga menyempatkan sholat Dhuha nya. Walaupun sedang sibuk sekali.
"Dia sholat Dhuha?" Dio bertanya dalam hatinya.
Dio menutup kembali pintu kamar Rania dan berjalan ke arah ruang tamu. Dio tidak menyangka, kebiasaan Rania dari waktu SMP hingga sekarang sudah mendarah daging. Ya, dari SMP Rania memang tidak pernah meninggalkan sholat Dhuha. Meski Rania terlahir dari keluarga yang sebagian besar non muslim, karena keluarga ibunya semua hidup di luar negeri, tapi Rania berusaha mempelajari ilmu agamanya dengan baik. Ya tentunya dengan ayahnya. Karena ibunya Rania juga seorang mualaf.
Rania keluar dari kamarnya setelah selesai Sholat Dhuha. Dia duduk di sofa yang agak jauh dari Dio. Rania dari tadi sibuk dengan ponselnya karena masalah kantornya. Dia juga sesekali menerima telepon dari asisten pribadinya.
"Di rumah saja sibuk," ucap Dio pada Rania sehabis menerima telepon dari asisten pribadinya.
"Memang seperti itu, apalagi sudah 5 hari ini aku tidak ke kantor, aku hanya menerima laporan dari kantor saja," jawab Rania.
"Oh, ya Dio. Besok aku sudah mulai ke kantor," ucap Rania.
"Hmmm … aku masih ingin libur 3 hari lagi," ucap Dio.
"Ya terserah kamu," ucap Rania sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Dio.
"Mau masak, buat makan siang, sudah tidak ada masakan, kan? Tadi sudah habis semua?" ucap Rania.
"Iya," jawab Dio.
__ADS_1
Rania pergi ke dapur, dia sebenarnya ingin membuat salad buah juga. Karena dia tidak pernah makan nasi kalau siang dan sore. Hanya pagi saja dia sarapan pakai nasi. Ya semua itu karena Rania menjaga postur tubuhnya. Selain itu Rania juga ingin mengatur pola makan yang sehat. Karena keluarga besar Rania semuanya tidak pernah menjaga pola makan, dan sering terjangkit penyakit yang membahayakan. Rania lebih memilih mencegahnya dari sekarang.