THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 63 "Terbawa Perasaan" The Best Brother


__ADS_3

Rania keluar menemui Astrid yang dari tadi bekerja tidak teliti. Banyak sekali kesalahan yang Rania temukan.


"Ini Astrid tumben-tumbennya kerja gak benar?" Rania berkata sambil berjalan keluar menemui Astrid.


Rania melihat Astrid sedang memandangi foto dirinya bersama seorang laki-laki di ponselnya. Mata Rania membulat sempurna saat melihat laki-laki yang bersama Astrid di dalam foto itu.


"Dio? Sedekat itukah mereka? Lalu kenapa Dio tadi seperti itu denganku? Ada hubungan apa sebenarnya mereka selama ini?" gumam Rania yang mengurungkan niatnya saat hendak menemui sekretaris pribadinya itu.


Rania kembali duduk di kursinya. Dia menyangga dagunya dengan satu tangan. Dia bingung dengan semua nya. Astrid memang dekat dengan Dio selama dirinya menyuruh Astrid bolak-balik ke kantor ayahnya dan kantor Dio.


"Kalau begini caranya, pekerjaanku runyam. Sudah Rania, lupakan itu. Dio memang seperti itu dari dulu kok. Suka mengumbar dan mengobral janji dengan wanita. Anggap saja ini sebuah lelucon saja Dio mendekatiku." Rania berkata dalam hati dan langsung keluar menemui Astrid.


Rania keluar tanpa ragu dan membiarkan perasaan yang penuh tanda tanya masih bersarang di benaknya.


"Astrid, kamu tumben kerja salah-salah seperti ini? Kamu sedang tidak enak badan atau bagaimana?" tanya Rania.


"Emm…aku sedang tidak konsentrasi, Mba. Maaf. Biar aku revisi," jawab Astrid.


"Oke, aku tunggu 30 menit dari sekarang," ucap Rania.


Rania melirik ponsel Astrid yang menampakkan foto Astrid dengan Dio yang sedang berada di suatu tempat yang dia mengenalinya.


"Itu kan di cafe yang di tepi sungai itu, yang dulu Dio mengajakku? Jadi mereka ke sana? Lalu kapan?" gumam Rania.


Rania masih terdiam di depan Astrid dengan tatapan kosong setelah melihat wallpaper ponsel Astrid. Rania semakin penasaran tentang kedekatan Astrid dan Dio.


"Tidak, tidak mungkin. Masa iya mereka menginap? Iya sih jauh. Tapi itu kelihatannya sudah menjelang malam di foto. Atau mungkin efek cahaya? Ah…kok aku jadi mikirin ini?" Rania berkata dalam hatinya.


Rasanya dia tidak tahan lagi ingin bertanya pada Astrid. Astrid terlihta sedang sibuk merevisi pekerjaannha yang salah. Rania semakin penasaran dengan hubungan Astrid dan Dio. Dan akhirnya, Rania memberanikan diri untuk bertanya pada Astrid


"Ehm…Astrid," panggil Rania.


"Iya, Mba," jawab Astrid.


"Aku mau bertanya, tolong jawab yang jujur," ucap Rania dengan penuh penekanan.


"Iya, mba." Astrid menjawab dengan gugup, dia tahu apa yang akan Rania katakan, pasti soal dirinya dengan Dio.


"Kamu ada hubungan khusus dengan Dio?" tanya Rania tanpa ragu pada Astrid.


"Pak Dio? Saya dan Pak Dio hanya sebatas rekan kerja. Bukan mba sendiri yang menyuruh saya mengantar dokumen ke kantor Pak Reno?" jawab Astrid tanpa ragu juga. Karena memang seperti itu adanya. Tapi kalau soal perasaan, Astrid memang mencintai Dio.


"Kamu sering di ajak jalan Dio?" tanya Rania lagi.


"Iya,sering. Makan siang, jalan ke tempat yang belum aku pernah kunjungi juga sering, bahkan Pak Dio sering mengajak makan malam," jawab Astrid.


"Termasuk ke cafe yang berada di tepi sungai?" tanya Rania lagi.


"Iya, kemarin Pak Dio mengaja aku ke sana, waktu aku izin pulang setengah hari kerja." Astrid menjawab semua tanpa ada yang di tutup-tutupi.


Memang Dio sering mengajak Astrid jalan, tapi mereka hanya mencari tempat yang nyaman untuk bekerja. Dan karena ucapan terima kasih pada Astrid yang sudah mau membantu di perusahaan Reno. Memang Astrid sangat berperan, kalau tidak ada Astrid, semua akan terbengkalai pekerjaan Dio.


"Mba Rania tenang saja. Aku dan Pak Dio murni sebatas rekan kerja, kok. Kami keluar, jalan, makan, untuk membahas pekerjaan di kantor Ayahnya mba. Karena Pak Dio ada yang belum paham. Dan, mungkin Pak Dio merasa tidak enak dengan Mba, karena Mba sudah sibuk di sini," jelas Astrid.


"Ah, ya sudah lupakan itu. Aku mau jangan ada kesalahan lagi." Rania masuk ke dalam ruangannya. Entah mengapa hatinya merasa tertusuk seribu jarum mendenar penuturan Astrid.


^^^^^


Astrid duduk termenung melihat layar komputer yang masih menyala, setelah Rania meninggalkan meja kerjanya. Ingin rasanya dia mengatakan yang sebenarnya kalau dirinya jatuh cinta dengan Dio. Perhatian Dio membuat dirinya menjatuhkan hati pada Dio. Mungkin saja Dio memang sekedar hubungan pekerjaan dan rasa berterima kasih saja pada Astrid. Namun, bagi Astrid, Dio terlalu berlebihan untuk di katakan Bos dan anak buah.


"Haruskah aku jujur kalau aku mencintai Pak Dio? Ah sudahlah, memikirkan ini semua pekerjaanku menjadi berantakan," gumam Astrid.


Astrid setiap hari tak lepas mengirim chat pada Dio. Dio juga merespon chat dari Astrid. Astrid merasa kalau Dio memberi celah di hati Dio untuk Astrid singgahi. Astrid juga sering menyapa Dio terlebih dahulu lewat chat. Bahkan dia tidak ragu untuk menyapa Dio saat malam hari, walau sedang di luar jam kerja.


Baru hari ini Astrid merasakan Dio berbeda. Dia mengirim pesan dari tadi pagi, tapi sama sekali belum di balas oleh Dio. Dan, baru saja dia di suguhkan pemandangan yang menusuk hatinya di pagi hari. Dio yang mengantar Rania, dia juga harus melihat Rania di peluk Dio, dan Dio akan mencium Rania. Dia sekarang tahu, kalau dirinya hanya sebagai partner kerja saja, dan menjadi wanita yang Dio butuhkan saat Dio sendiri.


"Aku semakin tahu, mereka berdua masih saling mencintai. Seharusnya aku bisa profesional dalam bekerja, tidak seperti ini yang malah membuat pekerjaanku berantakan. Aku terlalu menyimpulkan perhatian Pak Dio adalah bentuk dia menyukaiku. Aku harus bagaimana? Aku tidak bisa membuang rasa ini." Astrid lagi-lagi memikirkan hatinya yang sudah di aduk-aduk oleh perhatian Dio selama ini.


^^^^^


Dio baru saja sampai di kantor Reno. Dia baru ingat ponselnya. Karena tadi pagi dirinya di liputi rasa bahagia bisa mengungkapkan semua isi hatinya pada Rania, jadi dia lupa degan ponselnya.


Beberapa chat masuk dari tadi pagi. Dio membuka chat satu persatu dan membacanya. Dia melihat banyak chat dari Astrid. Namun, hanya satu yang ia tuju terlebih dahulu, yaitu chat dari Rania.


"Kamu sudah sampai? Astrid pagi ini kerja tidak benar. Aku harap kamu bisa jujur dengan aku, Dio. Apa kamu memberikan rasa untuk Astrid? Sepertinya dia mulai terlena dengan semua kebaikan dan perhatianmu. Hingga ponsel dia saja memakai wallpaper kamu dan dia." ~Rania.


Dio mengernyitkan dahinya. Dia tersenyum tipis melihat chat dari Rania. Dio merasa kalau Rania sedang dilanda cemburu. Dio hanya menganggap Astrid sebagai partner kerja yang baik. Dia pandai, cekatan, dan paham dengan cara kerja Dio yang Dio ajarkan.


"Mungkin Astrid merasa aku memerhatikan dirinya lebih dari seorang rekan kerja. Memang aku seperti itu, setelah berpisah denganmu, hanya Astrid teman perempuanku. Aku merasa cocok dengan Astrid untuk di jadikan partner kerja. Astrid pandai dan cekatan dalam bekerja. Memang aku selalu memujinya. Bukan karena ada hati, bahkan suka atau cinta pada Astrid. Melainkan aku hanya suka cara kerja Astrid yang terbilang sempurna." ~Dio.


Dio menjawab pesan dari Rania seperti itu. Mamang kenyataannya seperti itu dan dia tidak mau menutup-nutipi dari Rania apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Astrid.


Dio melihat chat dari Astrid. Berkali-kali Astrid mengirim chat pada dirinya. Namun, dia belum membuka chat dari Astrid.


"Selamat Pagi, Pak Dio. Hari ini dokumen sudah saya siapkan." ~Astrid.


"Pak, nanti saya yang ke kantor Pak Reno atau Pak Dio yang ke sini?" ~Astrid.


Dan chat yang terakhir yang benar-benar mengejutkan Dio adalah, Astrid berani mengungkapkan perasaannya pada Dio.


"Pak Dio, mohon maaf kalau saya sudah lancang. Seharusnya saya tidak berbicara seperti ini. Pak Dio, maaf kalau selama ini saya mengartikan perhatian Pak Dio adalah perhatian yang lebih dari sekedar rekan kerja. Jujur saya merasakan seperti itu. Tapi, saya sadar setelah tadi melihat kedekatan Pak Dio dan Mba Rania. Karena tidak mungkin Pak Dio menyukai saya. Dan maaf, kalau perhatian Pak Dio membuat aku merasakan berbeda, aku jatuh cinta pada Pak Dio. Maaf, saya berani bicara lancang seperti ini." ~Astrid.


Dio memijit keningnya. Dia tidak menyangka perhatiannya kepada Astrid akan membuat Astrid jatuh hati padanya. Padahal jika mengajak Astrid pergi pasti membahas pekerjaan bukan yang membahas lainnya.


"Ini Astrid? Kenapa wanita baperan banget, sih? Ini urusannya bisa panjang kalau Rania sampai tahu. Aku harus bisa menjelaskan pada dua-duanya. Baru saja aku ingin memulai kehidupan baruku dengan Rania. Astrid merasa seperti ini. Demi apa, aku tidak pernah menaruh rasa pada Astrid. Hanya sebatas aku suka cara kerja dia yang memang terbilang sempurna." Dio berkata lirih sambil membaca lagi pesan dari Astrid. Dia sampai bingung harus membalas apa.


Dia tidak ingin menyakiti wanita. Berbicara lewat chat nanti akan menjadi bomerang pada dirinya kalau Astrid menyimpulkan yang lain. Dio memutuskan jam makan siang akan menemui Astrid dan Rania. Dua wanita yang hari ini sedang di buat kacau oleh dirinya.

__ADS_1


"Masih pagi sudah di buat seperti ini sama dua wanita. Ini sebenarnya salah aku atau Astrid, sih? Apa aku salah baik dengan Astrid? Toh, Rania juga baik dengan Astrid selama ini. Jadi aku juga harus baik dengan Sekretaris Rania. Walau bagaimanapun, Astrid orang kepercayaan Rania. Dia bekerja dengan baik. Dan apa salahnya aku mengajak makan dia. Kan pas jam makan siang." Dio berkata dalam hatinya.


^^^^^


Habibi mengajak Ainun ke rumah singgah yang dekat dengan rumah sakit miliknya. Habibi begitu rindu dengan Ainun yang sedang mendongeng dengan pasien-pasiennya.


"Ainun."


"Iya."


"Kamu tau, aku rindu kamu bercerita dengan anak-anak. Makanya aku mengajak kamu ke rumah singgah dulu sebelum ke rumah sakit."


"Kamu bisa saja. Hanya rindu itu?" Ainun berkata dengan menyunggingkan senyumannya.


"Mau rindu apa lagi? Oh iya, rindu juteknya kamu," ucap Habibi.


"Memang aku jutek?"


"Iya, kamu jutek. Tapi sekarang Ainun sudah tidak jutek lagi."


Ainun tersenyum dan meraih tangan Habibi. Dia menggenggam tangan Habibi. Ainun mencium punggung tangan Habibi.


"Terima kasih, kamu sudah bisa menerimaku apa adanya, Habibi. Kamu sudah mengajarkan aku bagaimana untuk tetap menjadi Ainun yang selalu ceria seperti dulu. Maafkan aku, jika aku tidak memberikan diriku yang utuh untukmu. Ibarat kata, kamu mengambil sebuah foto yang berada di dalam bingkai yang sudah hancur. Foto itu adalah aku. Utuh, namun sudah terkena reruntuhan kaca bingkai itu," ucap Ainun.


"Jangan berkata seperti itu. Aku mencintaimu. Aku tidak memandang bingkaimu. Yang aku pandang hatimu yang tulus menerimaku. Aku tahu, kamu masih ingat akan masa lalumu bersama Dio. Bukan karena kamu masih mencintai Dio. Aku percaya kamu mencintaiku Ainun. Yang ada rasa takut dalam diri kamu. Takut dengan dosa kamu dulu," ucap Habibi.


"Aku mencintaimu Habibi. Iya, aku takut. Aku takut mengecewakanmu," jawab Ainun.


"Siapa yang mengecewakanku. Jangan pernah beranggapan seperti itu, sayang. Sudah sekarang tutup masa lalu kamu. Kamu tau kutipan Eyang Habibi? Masa lalu saya adalah milik saya, masa lalu kamu adalah milik kamu, namun…." Ucap Habibi


"Masa depan adalah milik kita bersama," sambung Ainun.


"Nah, itu tahu. Jadi, kamu simpan semua masa lalu kamu," ucap Habibi.


"Iya, terima kasih." Ainun mencium tangan Habibi lagi.


"Mulai sekarang, jangan pernah takut lagi, oke." Habibi mengusap pipi Ainun dengan lembut.


Ainun menyandarkan kepalanya di bahu Habibi. Habibi mencium kepala Ainun. Entah mengapa sosok Ainun benar-benar merubah kehidupan Habibi sekarang. Habibi yang memiliki masa lalu begitu rumit dulu, sekarang dia bisa mengubah hidupnya lebih berarti lagi semenjak mengenal sosok Ainun.


"Sayang," panggil Habibi.


"Iya, ada apa?" jawab Ainun.


"Maukah menikah denganku?" tanya Habibi.


"Kenapa tanya terus?" jawab Ainun.


"Aku takut kamu berubah pikiran, sayang," ujar Habibi.


"Harusnya yang takut itu aku, sayang," ucap Ainun.


"Ih, kayak sendiri gak takut,"


"Aku takut, nanti setelah kamu pulang, bertemu Dio, malah kamu kem…."ucapan Habibi berhenti saat Ainun menyentuh bibir Habibi dengan jarinya.


"Jangan berkata seperti itu. Kamu takut aku kembali pada Dio? Kalau sampai itu terjadi, berarti kamu yang tidak bisa merebut hatiku," tukas Ainun.


"Kok seperti itu?"


"Habibi sayang, adanya wanita itu kembali lagi dengan masa lalunya, karena yang pertama masih ada cinta, yang kedua karena seseorang yang hidup bersama masih membahas masa lalu wanita itu, dan yang ketiga tidak ada rasa saling percaya. Aku sama sekali sudah tidak cinta pada Dio. Dan, sekarang hanya tinggal dari kamu, kamu percaya atau tidak dan tolong jangan bahas Dio lagi. Meski rasa penyesalan terus menghantuiku, tapi cinta pada Dio sudah pupus semenjak Dio memaksa aku melayani dia di Vila." Ainun memjelaskan pada Habibi, dan kembali mengingat waktu di Vila itu.


Ainun merasa dirinya di butakan oleh cinta saat itu. Dio memaksa dirinya untuk melakukan hal yang lebih dalam lagi. Beruntung akal pikiran Ainun masih bisa dikendalikan dengan baik. Ainun menolaknya, meski Dio memaksa. Dan, pada akhirnya semua terkuak. Semua keluarganya tahu perbuatan mereka.


Yang membekas di hati Ainun hingga sekarang adalah, sebuah tamparan dari abahnya. Dia merasa di anak tirikan saat itu. Seakan dirinya orang yang paling bersalah. Padahal Dio juga salah, dan harusnya bukan hanya dirinya yang saat itu menjadi pusat kemarahan opa dan abahnya.


Meski kadang merindukan sosok opa dan abahnya, dia selalu mengingat rasa benci yang terpancar dari wajah abahnya saat itu.


"Maafkan aku sayang, aku tidak percaya kalau kamu sudah tidak mencintai Dio," ucap Habibi.


"Kamu tahu, yang aku pikirkan saat ini adalah Abah dan opa," ucap Ainun dengan tatapan kosong kedepan.


"Kenapa dengan abah dan opa?" tanya Habibi.


"Aku harus bagaimana jika nanti saat aku pulang, abah dan opa tidak menerimaku dan mengusirku lagi? Lalu siapa yang akan jadi waliku, kalau Abah dan opa tidak mau menemuiku dan memaafkanku? Mau dengan Raffi? Kecuali Abah dan opa sudah tidak ada, aku bisa menikah, dan Raffi menjadi walinya," ucap Ainun.


"Tidak mungkin Abah tidak memaafkanmu Ainun, percaya padaku, tidak ada orang tua yang tidak memaafkan kesalahan anaknya. Abah pasti memaafkanmu," jelas Habibi.


"Sudah jangan sedih lagi, kita sebentar lagi sampai di rumah singgah, kamu kan mau mendongeng, jadi hilangkan sedihmu," ujar Habibi.


Ainun kembali mengatur emosinya. Dia yakin, kalau abahnya akan menerima dia kembali seperti yang Habibi katakan. Dan, untuk masalah Dio dan Rania. Dia juga harus menyiapkan hati yang kuat, untuk bertemu dengan mereka. Rasa takut, rasa bersalah, dan rasa penyesalan kembali muncul saat mengingat Dio dan Rania. Ainun sudah mengkhianati persahabatannya dengan Rania, dan secara tidak langsung menghancurkan perasaan Rania dan rumah tanggan Rania.


"Entah mereka saat ini masih bersama atau tidak, yang jelas rasa ini masih menghantuiku, rasa takut, rasa bersalah, dan rasa penyesalan. Memang menyesali tidak akan ada ujungnya. Sungguh aku wanita yang beruntung, Habibi bisa menerimaku, dan sebisa mungkin aku harus menerima Habibi. Meski belum seluruhnya aku mencintai Habibi. Karena masih ada sedikit hati yang tertinggal pada Dio. Hanya sedikit, selebihnya sudah menjadi rasa kecewa untuk Dio," gumam Ainun.


^^^^^


Siang ini Dio sudah berada di kantor Rania. Dia akan menyelesaikan semua masalah tadi pagi. Masalah yang sebenarnya sepele tapi jika di biarkan malah semakin runyam.


Dio sudah duduk di sofa yang berada di ruangan Rania. Ada Astrid juga di dalam. Memang ini sungguh berat, dan pasti ada hati yang terluka jika Dio mengatakan ini. Tapi, dia tidak ingin membiarkan dan diam saja. Dengan Dio diam, Astrid akan berpikiran kalau Dio memberi harapan. Jadi Dio memutuskan untuk melurskan masalah yang menurutnya hal sepele.


"Ehm, kalian tahu, aku ingin bicara pada kalian soal apa?" tanya Dio pada Rania dan Astrid. Mereka hanya menjawab dengan menggelengkan kepala saja.


"Aku akan meluruskan masalah kita bertiga yang menurutku ini masalah sepele, tapi membuat hati kalian bergejolak dan sampai membuat kerja kalian berantakan," jelas Dio.


"Maksud kamu?"


"Maksud Pak Dio?"

__ADS_1


Rania dan Astrid bertanya bersamaan pada Dio.


"Astrid, kamu tahu kenapa aku tidak membalas chat kamu?" tanya Dio.


"Ehm…chat yang mana?"


"Chat yang mengatakan kalau kamu," ucapan Dio terhenti karena Astrid menukasnya.


"Maaf pak, jangan bahas chat itu," tukas Astrid.


"Ini harus di bahas agar lebih jelas, Astrid. Aku tidak mau ini jadi salah paham," ucap Dio.


"Begini Astrid, aku baik kepadamu, perhatian, dan sering mengajak kamu pergi, bukan berarti aku memiliki persaan lebih terhadapmu, Astrid. Aku hanya menghargaimu saja, kamu orang kepercayaan Rania. Apa salahnya aku memperlakukan kamu dengan baik, sama seperti Rania memperlakukan kamu dengan baik. Jadi maaf, aku hanya menganggap kamu rekan kerja, tidak lebih, Astrid," jelas Dio.


Astrid menunduk malu, karena Dio membahas soal chat tadi. Dio tahu apa yang Astrid rasakan saat ini. Bukan untuk mempermalukan diri Astrid. Ini semua agar tidak menjadi kesalahpahaman saja.


"Aku tidak bermaksud mempermalukan kamu di hadapan Rania, Astrid. Aku tidak mau ada salah paham antara kamu dan Rania. Dari tadi pagi aku mendapat chat dari kalian. Aku pusing harus menjawab apa, kamu tanya soal Rania, Rania tanya soal kamu. Dan, sekarang lebih baik kita bicarakan bersama," ucap Dio.


"Ran, kamu sudah percaya, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Astrid Jadi stop, gak usah cemburu, gak usah bahas-bahas aku pergi dengan Astrid untuk apa."


"Mba Rania, aku memang ada rasa dengan Pak Dio. Mungkin wajar seorang wanita mudah sekali terbawa perasaan saat ada laki-laki yang perhatian. Aku memang terbawa perasaan itu, Mba. Tapi, aku yakin Pak Dio masih mencintai Mba Rania. Maaf saya lancang bicara seperti ini. Karena ini memang yang ada di hati saya, Mba," jelas Astrid pada Rania.


"Aku saja yang terlalu sensitif hatinya, saat Pak Dio memperlakukan aku dengan cara seperti itu," imbuh Astrid.


"Sudah dengar, kan? Astrid bicara apa?" tanya Dio pada Rania.


"Ehm…bukan aku cemburu, bukan aku mau mengurusi hubungan kalian. Tapi, jika memang kamu dan Astrid ada hubungan, tidak usah mengatakan hal seperti tadi, Dio," ucap Rania yang baru saja memberanikan diri untuk bicara.


"Nah kenyataannya tidak, kan? Aku dan Astrid tidak ada hubungan apa-apa, kan? Iya kan, Astrid?" ucap Dio sembari bertanya pada Astrid.


"Iya tidak ada hubungan apa-apa, kan sudah saya jelaskan. Foto-foto kemarin saja sudah aku hapus, kok," jawab Astrid.


"Tuh dengar, kalau aku memiliki hubungan dengan Astrid. Untuk apa aku meminta kamu kembali menjadi istriku?" ucap Dio yang membuat Rania semakin bungkam.


"Astrid, bisa tinggalkan kami berdua. Aku rasa urusan aku dan kamu sudah selesai. Maaf jika kata-kataku terlalu menyakitimu, tapi memang ini adanya," ucap Dio.


"Iya, pak. Terima kasih atas jawabannya. Dan, selamat berjuang," ucap Astrid sambil beranjak dari tempat duduk dan keluar dari ruangan Rania.


Setelah di rasa Astrid sudah keluar, Dio duduk mendekati Rania yang masih saja terdiam. Entah apa yang ada di pikiran Rania saat ini. Hari ini dia benar-benar di buat kacau pikiramnya oleh Dio.


"Ran, sudah lah jangan diam. Kan sudah jelas permasalahannya. Dan sekarang, masalahnya ada pada dirimu," ucap Dio.


"Kenapa ada padaku?" tanya Rania.


"Iya kamu yang memiliki masalah, karena kamu tidak mau jujur dengan perasaanmu sendiri. Kamu di buat riweh dengan hubungan aku dan Astrid, tanpa sadar kamu masih mencintaiku, bukankah seperti itu?" Dio bertanya dengan menggenggam tangan Rania.


"Sudah ah, aku lapar," tukas Rania sambil berdiri dan menepis tangan Dio.


"Oke, kamu tidak mau jujur sekarang, tapi awas kalau kamu tanya lagi soal Astrid," ancam Dio.


"Memang kenapa? Kamu memang suka, kan?"


"Memang susah kalau bicara dengan orang yang sedang cemburu," ucap Dio sambil memijit keningnya.


Dio memerhatikan Rania yang sibuk menata dokumen yang berantakan di meja kerjanya. Setelah itu Rania mengambil tasnya, memasukan ponselnya ke dalam tas. Dan beranjak pergi meninggalkan ruang kerjanya.


"Mau ke mana?" Dio memegangi tangan Rania.


"Mau cari makan, aku lapar," ucap Rania.


"Oke, aku temani. Senyum dong." Dio mencubit lembut pipi Rania. Dia juga menarik ke dua pipi Rania agar menyimpulkan sebuah senyuman.


"Ayo aku lapar," ajak Rania dengan manja.


"Iya, ayo. Kamu ingin makan apa?" Tanya Dio.


"Soto Lamongan yang ada di depan toko buku di jalan X," pinta Rania.


"Jauh itu, sayang," ucap Dio.


"Kalau tidak mau ya sudah, aku sendirian pakai taksi," ucap Dio.


"Oke-oke, ayo." Dio menggandeng tangan Rania keluar dari ruangan Rania. Merka juga pamit dengan Astrid yang kala itu sedang sibuk dengan pekerjaannya.


Hati Astrid masih merasakan sakit, saat melihat mereka berdua seperti itu. Namun, apalah daya, dia hanya terlalu terbawa perasaan pada Dio yang selalu berbuat baik padanya.


"Duhai hati, sudahlah jangan seperti ini. Aku takut rasa ini semakin merusak hidupku. Aku masih butuh pekerjaan ini. Aku mohon, hilangkan rasa untuk Pak Dio. Dan, aku bisa menerima keadaan kalau Pak Dio masih mencintai Mba Rania," gumam Astrid sambil memejamkan matanya.


"Mba….mba….maaf Rania nya ada?" tanya seorang pria yang membuyarkan lamunannya.


"Ah, maaf pak. Mba Rania sedang keluar bersama Pak Dio, apa bapak sudah membuat janji terlebih dahulu dengan Mba Rania?" jawab Astrid.


"Belum sih. Ini saya titip undangan, buat Rania dan Dio." Pria itu memberika undangan pada Dio dan Rania.


"Baiklah, nanti saya sampaikan," ucap Astrid


"Oke, jangan mengantuk, Mbak. Kerja yang profesional dong," ucap pria itu sambil tersenyum dan berlalu meninggalkan Astrid.


"Eh pak, namanya siapa? Biar saya beri tahu pada Mba Rani," ucap Astrid setengah berteriak.


"Bilang saja Rudi," jawabnya.


"Baiklah, Pak Rudi, nanti saya sampaikan," ucap Astrid.


Rudi berlalu pergi. Astrid melihat undangan yang bertuliskan nama Dio & Rania pada satu undangan tersebut.


"Undangan apa ini? Pembahasan Reuni SMP xxx. Jadi Mba Rania dan Pak Dio dulu satu SMP?" ucap Astrid dengan lirih.

__ADS_1


Astrid menyimpan undangan itu di laci. Dia kembali meneruskan pekerjaannya dan berusaha melupakan Dio.


__ADS_2