THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 87


__ADS_3

Arsyad baru saja sampai di rumahnya setelah menemui klien dengan Rayhan. Dia disambut hangat oleh istrinya. Almira mencium tangan Arsyad dan mengambil tas kerja suaminya. Arsyad mencium kening Almira.


"Bagaimana meeting dengan Klien nya mas?"tanya Mira.


"Alhamdulillah lancar, dan mereka mau bekerja sama dengan perusahaan papah."jawab Arsyad.


"Ya sudah, mas bersihkan dulu badan mas, mau aku buatkan kopi atau teh?"tanya Mira


"Kamu mau membuatkan untuk ku?"Arsyad balik bertanya pada Mira


"Tentu saja, aku akan buatkan untukmu mas."jawab Mira.


"Aku ingin kopi saja."


"Oke. Aku akan menaruh tas mas dulu, baru aku buatkan kopi untuk mas. Mas mandi dulu gih." Mira mengekori Arsyad berjalan menuju kamarnya. Mira meletakan tas kerja Arsyad di meja, sedangkan Arsyad, dia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Almira keluar kamar menuju dapur, dia akan membuatkan kopi untuk suaminya. Dia membuat sesuai dengan apa yang di ajarkan ibu mertuanya tari siang. Almira mencicipi kopi buatannya. Dia merasakan kopinya kurang manis. Lalu, dia menambahkan gula sedikit lagi dalam kopinya.


"Ini baru pas. Semoga Arsyad suka dengan kopi buatanku ini."gumam Almira dalam hati.


Dia meninggalkan dapur menuju kamarnya dengan membawa secangkir kopi untuk Suaminya.


Arsyad terlihat sudah selesai mandi, dia terlihat memakai celana pendek dan bertelanjang dada sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Sudah selesai?"tanya Mira dengan meletakan kopinya di meja dan mendekati Arsyad.


"Sudah, kamu sudah membuat kopinya?"


"Sudah itu di meja. Sini handuknya biar aku taruh di rak."Almira meminta handuk Arsyad dan menaruhnya di rak lalu mengambilkan kaos untuk suaminya.


"Kaosnya di pakai dulu mas." Mira memberikan kaos untuk Arsyad.


"Terima kasih sayang." Arsyad memakai kaosnya dan langsung mengambil kopi buatan Istrinya.


"Manis sekali kopinya."gumam Arsyad dalam hati sambil meminum kopi buatan Almira.


"Bagaimana mas kopinya? Pas atau tidak rasanya?"tanya Almira.


"Emmm....pas rasanya. Tapi,,,,"


"Tapi tidak enak kan mas?"Almira meneruskan kata-kata Arsyad.


Arsyad tersenyum melihat istrinya sedikit kecewa, dia mendekatinya dan menyentuh pipi Istrinya.


"Kopinya enak. Tapi, ini seperti kamu sayang, terlalu manis sekali."ucap Arsyad sambil membelai pipi istrinya.


Mira di buat memerah wajahnya oleh perlakuan suaminya, dia menunduk dan tersipu malu.


"Masa terlalu manis mas? coba aku cicipi lagi."Almira meminum kopi suaminya.


"Menurut aku sudah pas sih mas."ucap Mira.


"Iya, tapi aku suka yang agak pahit sayang."


"Iya tadi aku tambahkan gula sedikit lagi, tadi nya kau buat sesuai takaran yang di ajarkan ibu mas. Tapi, aku cicipi terlalu pahit. Jadi, aku tambahkan gula lagi."jelas Mira dengan sedikit kecewa.


"Sudah tidak apa-apa, aku akan habiskan kopi buatan istriku yang manis ini." ucap Arsyad.


"Yang manis kopinya kan bukan aku?"tanya Mira.


"Dua-duanya sangat manis sayang."ucap Arsyad sambil tersenyum.


"Aku ganti saja ya, aku buatkan lagi, ini untuk aku saja, kan menurut aku pas rasanya. Nanti aku buatkan kopi lagu untuk mas sesuai takaran yang di ajari ibu. Lalu, kita ngopi bersama di depan, sepertinya asik."ucap Mira.

__ADS_1


"Boleh, yuk keluar." ajak Arsyad.


Almira kembali membuatkan kopi untuk suaminya sesuai takaran yang di ajarkan Andini. Setelah selesai dia membawa secangkir kopi di teras depan. Arsyad sudah duduk di kursi teras depan sambil membaca surat kabar.


"Mas, coba minum kopinya."Almira memberikan kopi buatannya untuk Suaminya.


Arsyad langsung meminum kopi buatan Mira yang kedua. "Ini baru pas sayang, terima kasih."ucap Arsyad.


"Syukurlah kalau sudah pas. Tapi, benar kan tidak bohong?"ucap Mira


"Iya benar Sayang, aku tidak bohong. Oh iya ibu sama papah kemana?"tanya Arsyad.


"Ibu sama papah sedang ke mini market. Sudah agak lama sih,kok belum kembali ya?"


"Biarlah, Ibu dan Papah seperti itu kalau sore hari sukanya jalan-jalan berdua, paling sebentar lagi."


Almira dan Arsyad duduk santai di teras depan sambil menikmati secangkir kopi. Sedangkan, Ibu Andini dan Papah Rico, ternyata mereka berdua pergi ke kedai es krim. Mereka menikmati es krim bersama di kedai es krim favoritnya. Tak lupa di memesan beberapa cup besar Es Krim dan coklat untuk di bawa pulang. Mereka tahu kesukaan anak perempuannya itu. Iya, Shita suka sekali dengan Es Krim dan Coklat. Tidak hanya Shita, Arsyil dan Arsyad pun suka. Tapi, tidak terlalu suka sekali seperti Shita.


"Ayo pulang pah, kasihan menantu kita di tinggal sendirian di rumah."ajak Andini pada Rico.


"Iya, yuk pulang, paling Arsyad juga sudah pulang." ujar Rico.


Mereka masuk ke dalam mobilnya, Rico melajukan mobilnya menuju ke rumahnya. Perjalanan mereka ke rumah hanya memakan waktu 15 menit. Mereka sudah sampai di halaman rumahnya. Rico memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya. Andini dan Rico keluar dari mobilnya dan berjalan menuju Almira dan Arsyad yang sedang menikmati kopi di teras depan.


"Kalian sedang apa? Wah sepertinya asik nih berduaan."sapa Andini.


"Ibu dan papah dari mana?"tanya Arsyad.


Andini mendekati Mira dan Arsyad. Rico duduk di samping Arsyad dan menanyakan bagaimana hasil pertemuannya dengan Klien tadi siang. Arsyad menjawab semua baik-baik saja dan lancar, serta kliennya mau bekerja sama dengan perusahaannya. Rico bangga sekali memiliki Arsyad. Dia tak sia-sia menyerahkan perusahaannya pada Arsyad.


"Oh iya, ibu tadi baru ke kedai es krim. ini ibu bawa Es krim. Kamu mau sayang?" Andini mengambilkan Es krim untuk Almira.


Seketika wajah Almira memucat mendengar Andini menyebut kedai es krim dan memberikan es krim padanya.


"Emmm....emmm....tidak...Mira tidak mau! Buang jauh-jauh ibu!" Mira teriak dan langsung berlari masuk ke dalam rumah.


Memory kelam Almira muncul kembali setelah melihat Es krim. Dia sangat ketakutan sekali melihatnya. Dia teringat saat dia di bawa tiga penculik di kedai es krim.


"Mira...Mira....kamu kenapa, nak?" Andini cemas melihat menantunya seperti itu.


"Syad, kenapa Mira." Andini hanya menangis melihat menantunya ketakutan saat melihat es krim.


"Syad , kenapa istrimu?"tanya Rico.


"Ibu, Papah, tenang dulu. Mira tidak apa-apa, sebentar Arsyad ke kamar. Nanti Arsyad jelaskan." Arsyad berlari ke kamarnya menyusul Mira.


Mira menangis dan sesekali teriak ketakutan. Dia menjambak rambutnya frustasi. Dia sangat ketakutan.


"Sayang, tenangkan dirimu."Arsyad mencoba memeluk Almira namun Almira semakin ketakutan.


"Mira, ini aku Arsyad suami mu! Lihat Mira, ini aku! jangan takut sayang, please jangan seperti ini."Almira menatap Arsyad, dia sedikit agak tenang dan memeluk Arsyad.


"Maafkan aku mas, aku ingat semua itu lagi. maafkan aku."ucap Andini dengan terisak.


"Iya sayang, aku tahu. minum dulu sayang." Arsyad memberikan air putih pada Mira.


"Sudah tenangkan dirimu dulu sayang, aku akan di sini menemanimu."ucap Arsyad.


"Maafkan aku mas. aku takut sekali melihat itu." Almira kembali terisak.


"Iya sayang aku tahu. Jangan takut lagi, aku akan selalu menjagamu, tidak akan ada orang yang menyakitimu lagi sayang. Percayalah, kamu istirahatlah dulu. Aku akan menemanimu." Arsyad memeluk istrinya dari samping, dia tidur di samping istrinya.


Setelah Almira tenang, Arsyad pamit dengannya untuk menemui ibunya di depan.

__ADS_1


"Boleh aku menemui ibu di depan? Ibu dari tadi menangis melihat kamu seperti itu."


"Iya mas, maafkan aku. Panggilkan ibu juga. Aku ingin meminta maaf pada ibu."pinta Almira.


"Iya sayang, tunggu di sini."Arsyad mengecup kening istrinya dan beranjak dari tempat tidurnya untuk keluar menemui ibu dan papahnya.


Andini masih terlihat menangis di pelukan Rico suaminya, dia merasa bersalah sekali pada Almira, mereka memang tidak mengetahui masa lalu Mira yang kelam. Arsyad mendekati ibunya dan duduk di samping ibunya.


"Ibu, maafkan Mira."ucap Arsyad.


"Ada apa dengan Mira, nak?"tanya Andini.


"Sebenarnya Mira....."Arsyad menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya tanpa di tutup-tutupi. Air mata Andini semakin mengalir deras dari sudut matanya.


"Ya Allah begitu besar cobaan untuk menantuku yang amat baik itu."ucap Andini dengan Isak tangisnya.


"Jadi, Almira sudah tidak...."ucapan Rico terhenti karena Arsyad melanjutkannya.


"Iya, Mira sudah tidak suci lagi pah. Tapi, Arsyad benar-benar mencintai Mira, sayang dengan Mira, apapun kekurangannya Arsyad menerima semua Pah. Bahkan, satu Minggu setelah menikah Arsyad baru menafkahi batin Almira. Karena, setiap kali Arsyad mengajaknya, dia selalu ketakutan dan teriak dengan histeris."jelas Arsyad.


"Papah bangga dengan mu, nak. Jaga selalu istrimu, semoga keberkahan selalu menyelimuti keluarga kalian. Ibu buang semua es krim yang tadi ibu beli."ucap Rico dan menyuruh istrinya membuang es krim yang ada tadi mereka beli.


"Iya nanti ibu buang pah."


"Jangan di buang, taruh saja di kulkas belakang."ucap Arsyad.


"Kasihan istrimu,nak."ujar Andini.


"Ibu boleh menemui Mira?"tanya Andini.


"Boleh Bu. Mira tadi menyuruh aku memanggil ibu."ucap Arsyad.


Andini masuk ke kamar Arsyad dan menemui menantunya.


"Sayang, maafkan ibu ya?" Andini langsung memeluk menantunya.


"Maafkan Mira juga Bu."ucap Mira.


"Sudah, ibu sudah buang semua yang tadi ibu beli. Kamu jangan takut lagi ya sayang. Kita semua akan menjagamu."


"Iya ibu, terima kasih."


"Ayo sudah maghrib, kita sholat berjamaah dulu. setelah itu kita makan malam bersama, tadi kamu kan sudah memasak untuk Arsyad kan?"


"Iya Bu, ayo kita sholat Maghrib dulu."


Mira mengambil air wudhu, Andini masih setia menunggu menantunya yang sedang mengambil air wudhu. Setelah itu mereka keluar untuk mengajak sholat berjamaah bersama.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


♥️happy reading♥️


__ADS_2