
Mereka berfoto di tengah-tengah hamparan hijau kebun teh yang menyejukkan mata. Mereka meminta di fotokan oleh petani teh yang sedang memetik daun teh. Thalia memposting foto-foto mereka di story WhatsApp nya. Begitu juga Arkan, dia juga mempostingnya. Mereka memang sering memposting foto-foto mereka di story nya. Entah itu saat di rumah Raffi, di bengkel atau di sekolah. Tapi, kali ini berbeda. Ya, caption mereka yang membuat berbeda dari hari-hari sebelumnya.
^^^
Sisil membulatkan matanya saat melihat story Arkan dan juga Thalia. Ya, memang Sisil memiliki kontak mereka. Sisil tahu kalau mereka memang dekat, setiap hari juga memposting foto bersama. Tapi, kali ini berbeda, caption mereka yang membuat Sisil yakin kalau mereka sudah pacaran.
“Lihat ini.” Sisil memperlihatkan story Arkan dan Thalia yang berpose sedikit mesra di tengah-tengah hamparan kebun teh.
“Aku ingin menjadi awan putih di bawah sinar matahari, meski kau tak memintanya, diam-diam aku akan melindungimu dari teriknya matahari.” Angel membaca Caption milik Arkan.
“Bener nih, mereka jadian. Ini gak salah lagi,” ucap Angel.
“Aku bilang apa, pasti lah,” ucap Vanya.
“Ketika halaman-halaman buku yang ku baca berakhir, aku tahu, bahwa kau merupakan satu-satunya bab paling indah yang pernah ku baca.” Sisil membaca Caption milik Thalia di story' nya.
“Wah... ini mah sudah fix mereka jadian. Baru kali ini mereka menuliskan caption di story' nya. Biasanya pasang foto ya sudah, pasang saja, gak sampai gini, sih,” ucap Sisil.
“Sudah biarkan, kalau mereka cocok mau gimana lagi,” ucap Lily yang juga baru saja melihat story' Arkan.
“Lo gak apa-apa, Ly?” tanya Sisil.
“Gue baik-baik saja, jangan khawatir. Gue gak akan bunuh diri, atau macam-macam karena cinta. Lelah gue, gue mau hidup tenang saja, tanpa mengenal cinta. Sudah kita bahas untuk studi tour aja. Kenapa gak ke bali saja, ya?” ucap Lily.
“Iya, lebih enak ke bali. Ke Jogja gitu-gitu saja,” ucap Sisil.
“Tadi sih dengar-dengan kelas lainnya mintanya ke bali. Mungkin ini sedang di rapatkan kembali. Mau ke mana aja, yang penting kita refreshing deh,” ucap Vanya.
“Yups, betul itu,” sambung Angel.
Vanya mengedarkan pandangannya ke depan, dia melihat lelaki yang mirip dengan Arkan masuk bersama seorang wanita berhijab dan sangat cantik.
“Noh Abahnya Arkan, kayaknya beliau sama kakak perempuannya Arkan deh,” ucap Vanya yang melihat Arsyad bersama Najwa masuk ke dalam Cafe milik Rana.
“Pantas Arkannya ganteng, abahnya sudah tua saja masih kelihatan muda, tapi beda dengan kakaknya yang laki-laki kemarin di rumah sakit, ya?” ucap Angel.
“Beda, beda sekali, kakak laki-lakinya gak bagus macam Arkan, biasa semua, tapi tetap lah berkharisma, kan pengusaha,” jawab Vanya.
Seperti itu mereka saat berkumpul, ada saja yang di bahas. Memang Angel dan kawan-kawan hobi sekali bergosip. Dia tidak hanya membicarakan soal Arkan, entah siapa lagi yang menjadi topik pembicaraannya.
^^
Arkan sampai di rumahnya. Dia langsung masuk ke dalam kamarnya, untuk membersihkan badannya. Arsyad dan Annisa tahu kalau anaknya sudah mulai dekat dengan Thalia, begitu sebaliknya Leon dan Rere. Dia tahu karena membaca caption mereka tadi siang di story' nya.
Arkan keluar dari kamarnya dan langsung bergabung dengan abah dan bundanya yang sedang duduk di sofa ruang tengah. Arkan langsung duduk di samping bundanya dan merebahkan dirinya dengan berbantal pangkuan Annisa.
“Tadi habis dari mana, hayo...?” tanya Annisa sambil mengusap kepala Arkan.
“Habis kencan, Bunda,” jawab Arsyad sambil meledek Arkan.
“Ih, abah sok tahu,” ucap Arkan.
“Sudah jangan bohong, jangan buat kami tambah kepo. Iya, kan? Sudah jadian?” tanya Arsyad.
“Gak jadian sih, Cuma dekat saja,” jawab Arkan.
“Abah tidak melarang kamu pacaran, tapi kamu juga harus tahu batasnya bagaimana. Kamu ingat kejadian kakakmu, kan?” ucap Arsyad.
“Iya, Abah. Arkan tahu, Arkan memang suka sama Thalia, Arkan jadian iya sama Thalia, tapi Arkan tahu kok, Thalia juga punya impian yang harus ia kejar, begitu juga Arkan. Abah percaya, kan? Kalau Arkan tidak akan melakukan hal-hal yang lebih?” ucap Arkan.
“Iya abah percaya, abah akan pegang ucapanmu,” ucap Arsyad.
“Iya, Abah. Arkan tidak akan mengecewakan abah. Lihatlah, bengkel ayah menanti Arkan untuk membesarkannya,” ucap Arkan.
“Itu namanya anak abah,” ucap Arsyad sambil mengusap kepala Arkan.
Annisa merasa Arkan seperti Arsyil dulu yang memperjuangkan dirinya. Arsyil selalu ingin dirinya dan Annisa untuk sukses bersama. Meski pacaran bertahun-tahun dan sering bersama, Annisa dan Arsyil sama sekali tidak melakukan hal-hal yang menyimpang dalam berpacaran. Arsyil selalu menjaga dirinya agar dia seutuhnya milik Arsyil.
“Oh iya bunda, abah, katanya sekolahan mau mengadakan study tour ke Jogja, aku boleh ikut, kan?”
“Boleh, kebetulan, dari kemarin Tita dan Thalia minta ke Jogja. Abah masih sibuk sekali, abah nyuruh Dio, Dio juga lagi sibuk. Raffi, Alinanya sekarang hamil tua. Kalau Najwa sama Akmal, mereka susah sekali jika di hubungi sekarang, tadi saja untung ketemu Najwa, abah ajak dia ke cafe. Lama sekali abah gak bertemu kakakmu itu,” ucap Arsyad.
“Nah itu, Thalia girang sekali mau ada tour ke Jogja. Tapi, katanya ada yang bilang jadinya ke Bali. Dan, ini Thalia lagi ngambek denger berita itu,” ucap Arkan.
“Kan itu dari pihak sekolahan, mau gak mau ya harus ikut saja,” ucap Annisa.
“Iya juga sih, biasa lah, Bunda, namanya cewek ya gitu,” jawab Arkan.
“Oh iya, Kak Najwa sekarang susah sekali di hubungi, jarang ke sini lagi,” ucap Arkan.
“Nah itu, abah juga tidak tahu. Sejak opamu meninggal, dia banyak diamnya,” jawab Arkan.
“Najwa itu sibuk, Abah. Dia butiknya tambah rame sekali,” imbuh Annisa.
Arsyad hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia memang dari kemarin memikirkan putriny itu. sepertinya Najwa menyembunyikan sesuatu. Dan, baik Raffi, Dio, dan Fattah jika di ajak bicara mengenai Najwa selalu mengalihkan topik pembicaraan.
^^^
Pengumuman yang di sampaikan wali kelas sungguh membuat Thalia tidak ingin ikut untuk study tour. Study tour yang rencananya ke Jogja, kini diubah ke Bali, karena semua siswa menginginkan ke Bali.
“Aku gak mau ikut, aku bosan ke bali,” ucap Thalia dengan kesal.
“Kan ini sudah di tentukan pihak sekolahan, Lia,” ucap Anya.
“Iya juga sih,” jawab Thalia.
“Lagian kamu ada Arkan, enak tau ke Bali sama pacar,” ujar Anya.
“Iya sih, tapi aku gak mau, aku bosan ke sana. Aku ingin sekali ke Jogja, sekarang wisata di Jogja juga bagus-bagus,” ucap Thalia.
“Mau gimana lagi, Lia. Memang sekolahan sudah menetapkan ke Bali.”
__ADS_1
Arkan melihat Thalia dari arah bangkunya. Dia tahu, kalau keputusan ini membuat Thalia kesal. Dia ingin sekali pergi ke Jogja, tapi jadinya ke Bali, seperti sudah berharap setinggi langit, tapi pupus ditengah jalan.
“Sudah nanti kita touring ke Jogja, bareng sama Rangga. Jangan kesel gitu, nanti cantikmu hilang,” ucap Arkan.
“Apaan sih, gak tau orang lagi kesal!” tukas Thalia.
“Cie yang baru jadian...” ledek Anya.
“Diam kamu!” Thalia mulai kesal dan seperti biasa, menampakkan wajah juteknya.
“Ke perpustakaan, yuk?” ajak Arkan.
Dengan wajah senang Thalia langsung mengurai senyumannya. “Ayo ke sana,” ajak Thalia dengan menarik tangan Arkan dan berjalan beriringan ke Perpustakaan.
Memang tempat favorit Thalia adalah perpustakaan. Arkan tahu bagaimana agar Thalia tidak marah, hanya mengajak dia ke perpustakaan atau toko buku, dia pasti akan bahagia, dan melupakan amarahnya.
^^^
Thalia pulang ke rumahnya, dia dikagetkan oleh seseorang yang sangat ia rindukan. Ya, papahnya, Leon sengaja pulang dengan Rere untuk melihat keadaan kedua anak gadisnya yang mereka sayangi. Dan, tentunya untuk menjenguk ibu dan ayahnya juga.
“Papah... mamah....” ucap Thalia dengan bahagia karena sudah terlampau merindukan kedua orang tuanya.
“Anak gadisku...cie yang sudah punya pacar... mana calon menantu papah, dia mengantar kamu, kan?” Leon memeluk dan menciumi anak sulungnya itu.
“Pasti ini pipi pernah di cium Arkan, ya?” ledek Leon.
“Papah...! Apaan, Sih! Hanya papah lelaki yang mencium pipi Lia, sama kakung,” ucap Thalia dengan memukul lengan pepehnya.
“Om Leon ada-ada saja, Arkan memang menyukai Thalia, tapi Arkan tidak seperti itu. Arkan ingin menjaga Thalia, hingga waktunya tiba, arkan baru akan mencium Thalia,” ucap Arkan yang sudah berada di depan Leon dan Rere.
“Wah...ada Arsyil kedua, nih. Sebenarnya kamu itu anaknya Arsyad atau Arsyil, sih?” ucap Rere dengan mengacak-acak rambut Arkan yangsudah dianggapnya seperti anak sendiri.
“Ini baru calon menantu idaman,” ucap Leon dengan memeluk Arkan dan menepuk pundak Arkan.
“Enggak tahu, Tante. Mungkin waktu bunda hamil, sering mengingat ayah Arsyil,” jawab Arkan.
“Om bisa saja, jangan membuat Arkan semakin melayang, Om. Tapi, Arkan akan buktikan, kalau Arkan bisa membuat Thalia bahagia,” ucapnya.
“Oke, Om pegang ucapan kamu, kita masuk, itu Eyang uti sudah masak, kita makan siang bersama,” ajak Leon.
Rere merangkul Arkan dan mengajak masuk ke dalam rumah. Mereka makan siang bersama, tapi Tita belum juga pulang dari sekolahnya. Arkan dan Thalia sudah hari bebas, jadi pulang lebih awal. Kalau Tita, dia memang pulang sekolahnya lama. Lebih lama dari Thalia. Oleh sebab itu, Thalia diantar jemput oleh Arkan, karena dia tidak mau menunggu lama Pak Adi menjemputnya.
“Nanti malam bilang abah sama bunda kamu, seperti biasa kita kumpul makan malam bersama,” ajak Leon.
“Oke, Om,” jawab Arkan.
“Pah, aku ingin ke Jogja. Papah kapan mau mengajak aku ke sana?” tanya Thalia.
“Nanti setelah kamu kelulusan saja, kita ramai-ramai ke sana,” jawab Leon.
“Idih...papah... masih satu tahun lagi, gak mau ah...” Thalia kembali merengut karena tidak di turuti ke Jogja.
“Tuh Om, tadi di sekolahan dia sudah ngambek karena enggak jadi ke Jogja. Jadinya studi tour kan ke Bali,” ucap Arkan.
“Emang tante, diajak ke toko buku saja sudah selesai ngambeknya,” ucap Arkan.
“Iya seperti itu anak sulung om. Meski kadang manja dan ngambekan,” imbuh Leon.
Setelah mereka makan siang, Arkan pamit pulang pada Leon dan Rere. Juga dengan eyangnya Thalia. Sudah ada lampu hijau untuk Arkan dari kedua orang tua Thalia. Thalia juga senang, papah dan mamahnya mengizinkan mereka berpacaran. Bukan pacaran sih menurut Thalia, lebih tepatnya saling menjaga perasaan yang kini singgah dan bersemayam di dasar hati.
“Sudah, Arkan sudah pulang, jangan di lihatin terus,” ledek Leon dengan merangkul putrinya yang masih berdiri di teras, meski Arkan sudah pulang.
“Papah, apaan sih.” Thalia dengan menja memeluk papahnya.
“Papah lega, kamu bisa jatuh cinta,” ucap Leon pada Thalia.
“Kok gitu? Biasanya kan orang tua kalau anaknya pacaran di marahin?” ucap Thalia.
“Karena, papah takut, kamu seperti mamah kamu, sulit jatuh cinta. Sampai tua dia tidak menikah-menikah,” ucap Leon.
“Tapi, Lia juga menikahnya nanti, Lia mau ngejar mimpi Lia dulu, sama Arkan juga gitu. Lia mau ke Berlin lagi, mau kuliah di sana, di tempat Kak Dio kuliah, biar seperti Kak Dio bisa mengurus perusahaan,” ucap Thalia.
“Jangan sok sibuk seperti mamah kamu. Kamu wanita, boleh kamu kuliah, dan menganyam pendidikan setinggi mungkin, tapi ingat kodrat wanita. Kalau bisa, kamu juga harus seimbang dalam hal itu. Papah juga sebenarnya tidak mau mamah bekerja. Tapi, mamah kamu bandel, sama seperti kamu dan bundanya Arkan, maunya kerja terus...” ujar Leon.
“Pah, sebenarnya Lia ingin jadi guru lho, tapi pasti papah gak memperbolehkan, masa anak seorang Leon jadi guru,” ucap Lia.
“Husss...eyang uti dan eyang kakungmu itu kan, mereka guru semua, tapi sudah lama pensiun,” ucap Leon.
“Iya juga sih.”
“Kalau kamu mau jadi guru, tidak apa-apa, papah merestui kamu. Asal kamu ada di jalan yang benar,” ujar Leon.
“Kalau jadi istrinya Arkan?” tanya Thalia dengan mengulas senyumannya.
“Kalau itu, jelas papah merestuinya. Tapi, ingat kamu masih belum 17 tahun. Jangan macam-macam. Kamu boleh pacaran, tapi kamu harus ingat apa tujuan hidupmu, kalau kamu ingin menjadi seorang guru, kejarlah. Karena guru adalah seseorang yang sangat berharga di dunia ini. Tanpa seorang guru, tidak akan terbit sang insinyur, dokter, pilot, pengusaha, dan masih banyak orang penting dan orang pandai lainnya. Ingat, guru adalah pekerjaan paling mulia, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Mampu mencetak generasi penerus bangsa,” tutur Leon.
“Ah...papah, terima kasih.” Thalia memeluk papahnya dengan erat.
Ada rasa lega pada diri Thalia, dia tidak menyangka papahnya akan merestui dirinya untuk menjadi guru. Memang saat ini Thalia ingin sekali menjadi seorang guru, apalagi saat di rumah Alina semua anak kecil minta diajari dia saat di taman baca.
^^^
Thalia membuka galeri ponselnya yang penuh dengan foto-foto Arkan bersama papahnya tadi. Dia mencuri foto papahnya saat sedang mengobrol dengan Arkan seusai makan siang. Thalia menyimpulkan senyumannya melihat foto kedua lelaki yang sangat ia cintai.
“Cinta pertama dan cinta terakhirku.” Tulis Thalia dalam caption di story WhatsApp nya.
Dia memang ingin semua tahu, kalau Arkan sekarang menjadi orang yang paling berarti dalam hidupnya. Apalagi, setelah papahnya mengizinkan dirinya untuk menjadi teman dekat Arkan.
“Cie, anak mamah yang lagi jatuh cinta.” Rere mendekati anak gadisnya yang sedang merebahkan diri di tempat tidurnya.
“Mamah...” Thalia memeluk wanita yang melahirkannya itu dengan manja.
__ADS_1
“Kamu beneran jatuh cinta sama Arkan?” tanya Rere. Thalia hanya menganggukan kepalanya di pelukan Rere.
“Kalau benar kamu jatuh cinta sama Arkan, kamu jangan terlalu cinta, kamu harus ingat kamu juga punya cinta yang lain. Mamah bukannya melarang kamu jatuh cinta, tapi cinta itu sewajrnya, Nak. Karena kamu juga harus mencintai dirimu sendiri, dan itu cinta yang lain. Mencintai diri sendiri itu perlu, jangan sampai kamu mencintai orang lain, tapi mengorbankan dirimu, dan kamu menjadi sakit atau terluka,” tutur Rere.
“Iya, Mah. Thalia juga harus bahagia, dan harus bisa membahagiakan mamah, papah, dan Tita,” jawab Thalia.
“Dan, ingat, kamu jangan sampai terjerumus cinta yang salah. Mamah percaya, Arkan tidak akan macem-macem, tapi yang namanya manusia, hatinya mudah goyah, Nak. Jangan sampai kamu mepertaruhkan harga dirimu hanya karena sebuah cinta. Kamu paham itu?” ujar Rere.
“Iya, Thalia paham,” jawab Thalia.
Rere tidak menyangka, anak gadisnya yang begitu acuh, galak, dan cuek, ternyata bisa jatuh cinta di usianya yang belum 17 tahun. Padahal dia selalu khawatir, kalau anak-anaknya akan seperti dirinya yang tidak mau mengerti cinta dan tidak bisa jatuh cinta. Dulu, Rere pernah mencoba jatuh cinta saat masa kuliahnya, tapi tetap saja, bagi Rere jatuh cinta adalah hal yang konyol. Dan, setelah usinya sudah melampaui batas maksimal idealnya menikah bagi wanita, dia baru tahu cinta yang sebenarnya karena jatuh cinta pada Leon.
Rere selalu khawatir akan hal itu, apalagi Thalia anak yang pendiam dan tidak memiliki banyak teman seperti dirinya. Dulu dirinya sering di bilang perawan tua oleh sejumlah tetangganya. Rere tak mempedulikan itu semua, tapi justru orang tuanya yang terlampau khawatir pada dirinya, karena tak kunjung memiliki kekasih di usianya yang sudah melampaui batas.
Namun, ada kekhawatiran tersendiri juga padaa diri Rere, karena anaknya sudah mulai jatuh cinta. Masa remaja adalah masa-masa yang indah, dan emosi anak remaja juga masih labil. Kadang, meniru hal-hal yang negatif, apalagi zaman sekarang, anak remaja sudah tau apa itu yang seharusnya mereka tidak boleh mengetahuinya. Contohnya, pergaulan bebas, **** bebas, drugs, dan lain sebagainya.
^^^
“Arkan, kamu dari rumah Thalia? Apa tante Rere ikut pulang?” tanya Annisa yang melihat putra bungsunya baru saja pulang sekolah.
“Iya, Tante Rere pulang, sama Om Leon, kok bunda tahu?” jawab Arkan.
“Tahu lah,” ucap Annisa.
“Dari siapa? Pasti Thalia, kan?” tanya Arkan.
“Iya, bunda lihat di story-nya Thalia. Ada foto kamu sama Om Leon,” jawab Annisa.
“Oh iya, nanti malam Om Leon dan Tante Rere mengajak bunda makan malam sama abah,” ucap Arkan.
“Oke, nanti bunda kabari abah kalau pulang dari kantor,” jawab Annisa.
“Ya sudah Arkan ke kamar, Bun,” pamit Arkan dengan berjalan menuju kamarnya.
“Cie, yang sudah dapat lampu hijau sama calon mertua,” ledek Annisa.
“Ah… bunda.” Arkan hanya tersenyum. Dia langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengganti pakaiannya. Dia baru membuka ponselnya dan melihat apa yang tadi bundanya katakana. Arkan mengurai senyumanannya melihat story Thalia.
“Cie…pacarnya, ya?” balas Arkan.
“Iya, kok tahu?” jawab Thalia.
Mereka terus berbalas pesan, memang mereka seperti itu setiap harinya. Selalu berbalas pesan kalua ada waktu senggang.
^^
Sore hari saat Arsyad pulang dari kantor, Annisa menyambutnya, mencium tangan suaminya dan Arsyad mencium kening istrinya itu.
“Love you,” ucap Arsyad.
“Love you too, Abah,” balas Annisa dengan mencium kilas bibir suaminya.
“Kamu makin hari makin cantik saja, Sayang,” puji Arsyad pada wanita yang sangat dicintainya.
“Ah, abah bias saja,” ucap Annisa dengan mengusap pipi suaminya.
“Oh iya, tadi Leon ke kantor, tadi siang sih, dia mengajak kita makan malam,” ucap Arsyad.
“Iya, tadi Arkan bilang gitu, dia tadi kan di rumah Rere, makan siang bersama. Anakmu sudah dapat lampu hijau tuh, dari calon mertuanya,” ucap Annisa.
“Anakmu juga kali, Bun,” jawabnya dengan melepas kemeja yang tadi melekat sempurna di tubuhnya yang masih terlihat atletis itu.
“Abah bilang apa, pasti dia jatuh cinta pada Thalia. Mereka itu cocok sekali, satunya angkuh, cuek, satunya jutek, galak. Kalua disatuin cocok saja. Tapi, abah tidak mau jodoh-jodohin lagi. Cukup Dio sana Rania saja, dan itu suatu kesalahan abah yang fatal sekali,” ucap Arsyad.
“Iya sih, tapi mereka masih terlalu dini untuk mengerti hal seperti itu. Bunda takut mereka itu akan ikut-ikutan gaya pacaran anak sekarang, Abah,” keluh Annisa.
“Kamu ingat Arsyil? Ingat bagaimana cara memperlakukan kamu sebelum menikahi kamu?” tanya Arsyad.
“Ingat, dan selalu bunda ingat hingga sekarang,” jawabnya dengan melihat suaminya yang mungkin saja suaminya cemburu saat dia berkata seperti itu.
Arsyad tersenyum mendekati Annisa yang sudah membawakan handuknya, dan mengambil handuk dari tangan Annisa. Arsyad mencium kening Annisa yang dia tahu, saat ini Annisa sedang khawatir dengan anak bungsunya.
“Arkan itu seperti Arsyil, abah percaya pada dia, kalua dia tidak akan melakukan hal bodoh sebelum dia menikah, bukankah dia dulu seperti itu? Mau mencium kamu saja dia tidak jadi karena kamu belum resmi menjadi miliknya,” ucap Arsyad.
“Kok abah tahu?” tanya Annisa.
“Tahu lah, kamu ingat saat makan malam di rumah ibu? Waktu esok harinya aku akan melamar Mira. Aku sempat ragu lagi karena melihat kamu dan Arsyil mau ciuman. Ya, saat itu aku masih mencintaimu, tapi aku sadar, cinta kamu dan Arsyil begitu kuat. Dan, entah kenapa aku juga semakin menguatkan hatiku untuk mencintai Almira saat itu juga,” jawab Arsyad.
“Arsyil, memang beda dengan semua lelaki yang aku kenal. Ya sudah lah, itu semua sudah menjadi kenangan. Aku tidak ingin larut dalam kenangan yang akhirnya membuat aku menangi meratapinya. Sekarang, ada abah, abah sudah menyempurnakan cinta ini. Terima kasih,” ucap Annisa dengan mencium tangan suaminya.
Arsyad memeluk erat istrinya dan menghujani wajahnya dengan ciuman. Dia tidak menyangka, cinta pertamanya kembali lagi, setelah melalui beberapa kajadian perih dalam hidupnya. Meski kembalinya Annisa tidak bisa ia terima di hatinya, karena hatinya masih tidak mau berpaling dari cintanya untuk Almira. Hanya karena anak-anak dia kembali pada Annisa. Anak dan papahnya yang membuat mereka bersatu lagi hingga memiliki Arkan.
“Sudah peluknya, sana mandi. Kita mau menemui besan kita nanti malam,” ucap Annisa tapi masih memeluk erat suaminya.
“Bunda nyuruh abah mandi, tapi masih erat sekali meluk abahnya,” ucap Arsyad.
“Habisnya abah menggoda bunda,” ucap Annisa.
“Hmm… mulai ini, padahal kamu yang menggoda abah, ya sudah kita sebentar yuk, sebelum abah mandi,” ajak Arsyad.
“Dasar…! Udah tua masih mau aja, masih kuat berapa kali coba?” ledek Annisa.
“Jangan tanya, bunda mau berapa kali, hah?”
“Berkali-kali boleh?”
“Waktunya yang tidak cukup, sudah mau maghrib,”
“Lanjut pulang makan malam dong,” jawab Annisa dengan manja.
“Hmmm… baiklah, kalua bunda mau, abah siap,” ucap Arsyad.
__ADS_1
Meski sudah memliliki cucu mereka berdua masih melakukan pergumulan hebat di atas ranjang. Jiwa muda mereka seakan hidup kembali saat-saat ini, entah itu yang di namakan puber ke-3 atau keberapa.