THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 95 "Epilog"


__ADS_3

Siang hari di rumah Rico. Rico tampak duduk di teras rumahnya dengan Shita dan juga anak-anak Shita yang sedang menghibur opanya. Rico baru saja keluar dari ruang sakit kemarin siang. Setelah Arsyad kembali ke rumahnya, Rico sering sakit-sakitan, dan akhirnya 4 hari yang lalu Rico masuk ke rumah sakit.


"Mau sampai kapan seperti ini? Annisa dan anak-anaknya belum juga memaafkanku," gumam Rico.


Shita dari tadi membujuk Rico untuk segera makan siang, tapi Rico menolaknya karena belum lapar. Shita tahu apa yang di rasakan papahnya saat ini. Dia juga selalu menyalahkan dirinya sendiri. Kalau saja dia tidak egois dan mengusir Annisa saat itu, pasti tidak akan seperti ini akhirnya.


Sebuah mobil yang Rico dan Shita kenal, masuk ke halaman rumah Rico. Rico dan Shita saling memandang saat mobil itu berhenti dan di halaman rumah Rico. Rico dan Shita beranjak dari tempat duduknya. Terlihat seseorang yang sangat Rico rindukan keluar dari mobil tersebut. Arsyad dan Annisa keluar dari mobilnya, bersama 4 anaknya. Perut Annisa sudah terlihat membuncit. Rico menyeka air matanya yang jatuh saat melihat orang-orang yang ia rindukan.


"Shita, papah tidak salah lihat, mereka ke sini, Shita. Mereka ke sini, mereka masih sayang dengan papah." Rico memeluk putrinya dan meneteskan air matanya, begitu juga dengan Shita.


Annisa menggandeng suaminya dan berjalan ke arah Rico dan Shita yang masih berada di teras rumahnya. Mereka di sambut dengan hangat oleh Rico dan Shita.


"Assalamualaikum, pah," ucap Annisa.


"Wa'alaikumsalam." Rico menjawabnya dan langsung memeluk Annisa.


Annisa akan berlutut di depan Rico, tapi Rico dengan segera mengangkat tubuh menantunya itu. Rico memeluk erat menantunya dengan sayang, dia merindukan menantunya yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.


"Annisa, maafkan papah." Rico menangis memeluk Annisa karena merasa bersalah.


"Maafkan Annisa juga, pah. Maaf Annisa baru menemui papah." Annisa juga menangis di pelukan papah mertuanya.


"Kak Shita." Annisa memeluk Shita, mereka saling meminta maaf.


Rico menyuruh semuanya masuk ke dalam. Suasana yang di rindukan Rico akhirnya terwujud juga. Dio dari tadi hanya diam saja duduk di samping Najwa. Annisa dan Shita ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Rico di temani cucu-cucunya dan Arsyad di ruang tengah. Dio dari tadi belum berbicara dengan opanya. Dia masih terdiam, entah apa yang ada di pikiran Dio saat ini.


"Jangan egois, sana peluk opa, katanya kamu kangen." Najwa berbisik di telinga Dio.


"Hmm…iya," ucpa Dio sambil menepuk bahu Najwa.

__ADS_1


Dio mendekati opanya yang sedang menikmati kue buatan Annisa. Di berjongkok di depan opanya dan mencium tangan Rico.


"Opa, maafkan Dio," ucap Dio.


Rico menarik Dio ke dalam pelukannya, dia menciumi wajah Dio dengan mata yang berkaca-kaca. Akhirnya Arsyil kecilnya kembali di pelukannya. Rico memeluk Dio denan Erat.


"Maafkan opa juga, sayang. Opa yang egois. Maafkan opa." Rico menciumi wajah Dio lagi.


"Opa jangan sakit lagi, Dio sayang opa." Dio mencium wajah opanya yang sudah mulai terlihat kerutan di wajahnya.


Mereka berkumpul bersama lagi. Akhirnya perpecahan keluarga selama kurang lebih 8 bulan bisa bersatu kembali. Walaupun masih ada sedikit sisa luka di hati mereka yang tersakiti. Mereka sudah selesai makan siang. Namun, seperti biasa, mereka tidak beranjak dari ruang makan dulu. Mereka bercengkrama terlebih dahulu satu dwngan yang lainnya.


Shita dari tadi sibuk menyiapkan obat untuk papahnya. Keadaan Rico terlihat sangat mbaik dengan kedatangan Arsyad, Annisa, dan anak-anaknya.


"Pah, diminum obatnya, setelah itu papah istirahat. Papah dari semalam tidak tidur, kan?" Shita memberika obat untuk Rico.


"Iya, papah akan istirahat setelah minum obat. Kalian pulang nanti malam, ya?"pinta Rico.


"Raffi juga," pinta Raffi.


"Besok kalian sekolah," ujar Arsyad.


"Tidak apa-apa, aku suruh Kevin mengambil seragam mereka, nanti biar Mba Lina yang mengambilkan," sahut Annisa.


"Jadi boleh kan, bunda, Shifa tidur di sini?" tanya Shifa.


"Boleh, Raffi juga boleh. Dio, Najwa mau tidur di sini juga?" tanya Annisa.


"Bunda mau pulang atau di sini?"tanya Dio.

__ADS_1


"Abah pulang sama bunda, kalau kamu mau tidur di sini, nanti biar Mba Lina siapkan seragam kalian," jawab Arsyad.


"Ya sudah Dio tidur di sini," ucap Dio.


"Kamu mau tidur sini, gak?" tanya Dio sama Najwa.


"Iya lah, biar bunda sama abah berduaan, dari kemarin kan, ya… kamu tau sendiri lah, Abah dan bunda belum romantis-romantisan selama 8 bulan," ujar Najwa.


"Iya juga, ya?" ucap Dio dengan menguangkan senyumannya.


Arsyad mengusap kepala Dio, dia senang sekali bisa melihat Dio tersenyum lagi. Anak-anak mereka kembali akur seperti sedia kala. Najwa dan Dio juga sudah mau bicara lagi. Rico juga sangat bahagia sekali melihat keluarganya seperti semula. Karena keegoisan keluarganya terancam hancur.


"Aku sadar, kemarahan dan keegoisan akan menghancurkan segalanya. Keluarga dan rumah tangga juga akan mudah hancur jika di dalamnya bersarang kemarahan dan keegoisan." Rico.


"Untuk apa kita memendam marah, kalau akhirnya menyakiti diri kita sendiri. Kita menyakiti orang lain, tapi hati kita juga ikut tersiksa." Najwa.


"Aku memang wanita pencemburu, wanita egois, keras kepala, dan tidak mau mengalah. Iya, itulah aku. Tapi, dari sifatku, aku belajar, bahwa sifat itu akan membawa kita ke dalam jurang yang sangat curam, yang bisa menyakiti siapapun, termasuk diri kita sendiri." Shita.


"Tak ada gunanya memendam dendam. Kalau batin kita merasakan sakit juga. Karena dendam akan menumbuhkan penyakit yang sangat mematikan. Ya, bisa mematikan hati kita sendiri." Dio.


"Tak ada sebuah keluarga yang tidak memiliki konflik yang pelik, kadang ucapan yang lembut pun bisa menuai sakit hati pada anggota keluarga kita atau orang lain. Ya, itulah lisan, terlihat tumpul tapi dapat menggores hati yang sangat dalam." Arsyad.


"Untuk apa memiliki dendam pada keluarga sendiri. Keluarga adalah tempat berteduh saat dunia luar mencekam kita. Dan jika ada dendam di dalam keluarga, lantas kita akan berteduh dengan siapa? Orang lain, kah? Tidak, karena orang lain belum tentu menerima kita dengan baik. Ada yang bisa menerima, tapi mereka hanya berpura-pura saja, berbeda dengan keluarga yang akan tetap menerima kita walaupun kita sudah pernah menyakitinya." Annisa.


"Setiap manusia memiliki kadar kemarahan masing-masing. Ada yang marah sebentar, ada yang berlarut-larut sampai lama sekali. Itulah manusia, yang mungkin juga memiliki keterbatasannya dalam mengendalikan emosi." Raffi.


"Bagaimana aku tidak bisa memaafkan mereka, yang jelas-jelas mereka adalah keluargaku sendiri. Allah juga Maha Pengampun pada hamba-Nya yang bertaubat. Lantas, kenapa aku yang hanya manusia biasa dan memiliki dosa segunung tidak bisa memaafkan mereka? Shifa.


*******THE END****

__ADS_1


Sampai jumpa di season selanjutnya....


Besok langsung up season selanjutnya, ya***...


__ADS_2