
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan pun berganti bulan. Arsyil sudah wisuda begitupun Annisa, hubungan mereka semakin dekat sekali, terlebih keluarga mereka sudah menyetujui hubungan mereka. Arsyad sekarang sudah resmi tidak menjadi dosen, dia fokus dengan perusahaan papahnya dan akan fokus mengajarkan bisnis pada adiknya, yaitu Arsyil.
Malam ini semua keluarga Rico berkumpul di ruang tengah, seperti biasa mereka sharing tentang keseharian mereka di luar rumah.
"Syil,kamu sudah wisuda, kakak ingin segera mengajari kamu tentang perusahaan papah."ucap Arsyad.
"Iya kak, besok aku ikut kakak ke kantor."jawabnya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Annisa, kapan kamu akan melamarnya?"tanya Arsyad.
"Kak, aku ingin kakak mempunyai calon dulu baru aku akan melamar Annisa."jawabnya.
"Sudah jangan memikirkan Kakak, tidak baik Syil kalau kamu tidak mengikat Annisa dulu. Apalagi kamu pacaran sudah lama."jelas Arsyad.
"Benar kakakmu Syil, bicarakan baik-baik pada keluarga Annisa. Rumahmu sudah jadi kan?"tanya Rico, papahnya.
"Rumah?"tanya Arsyad dan Shita.
"Tuh sebelah bengkel kan rumah Arsyil."jawab Andini.
"Maaf kak, Arsyil belum memberi tahu pada kalian soal itu. Arsyil rencana memberitahukannya saat Arsyil selesai wisuda. Tapi, papah dan ibu malah tau dulu kak."jawabnya.
"Kamu itu sukanya seperti itu Syil. Terus sudah jadi?"tanya Arsyad.
"Sudah kak alhamdulillah."jawabnya.
Mereka masih mengobrol hingga larut malam.
Keesokan harinya, Arsyil dan keluarganya berkunjung ke rumah Annisa dengan tujuan membahas hubungan Annisa dengan Arsyil. Kedua keluarga sudah sepakat bahwa pertunangan Arsyil dan Annisa akan di gelar bulan depan. Itu semua karena Arsyad yang meminta agar mereka tidak lama-lama berpacaran.
Arsyil sudah mulai bekerja di kantor papahnya. Arsyad dan Ray selalu mengajari Arsyil dan memantau Arsyil bekerja. Arsyil sudah agak faham dengan pekerjaannya. Dia cepat memahami apa yang di ajarkan Ray dan Arsyad.
"Huh.....pusingnya kerja di kantor kak." ucap Arsyil pada kakaknya.
"Nikmati saja Syil, kakak dulu juga seperti itu. Kamu malah lebih cepat memahami nya Syil, daripada kakak." jelas Arsyad.
Arsyil tetap semangat mengerjakan file-file yang di berikan Arsyad dan Rayhan.
Sudah satu bulan Arsyil bekerja di kantor papahnya. Dan tepat hari ini dia akan bertunangan dengan Annisa. Sehabis Isya keluarga Arsyil akan kerumah Annisa, semua keluarga sudah menyiapkan untuk acara pertunangan Arsyil dan Annisa.
"Ibu kak Arsyad kok belum pulang udah sore?" tanya Shita.
"Paling sebentar lagi. Papah sama Arsyil juga belum datang kok. Mereka sedang mengambil cincin."jelas Andini.
"Ya sudah kita siapkan yang lain lagi ibu. Oh iya ibu tau Kak Mira kan sebentar lagi mau pulang, mungkin bulan ini bu atau mungkin juga minggu-minggu ini."
"Oh ya....semoga Arsyad dan Almira menerima perjodohan yang papah dan Pak Fajri usulkan."
"Apa papah serius mau menjodohkan kakak dengan Kak Mira?"tanya Shita.
"Pak Fajri yang memintanya, ibu dan papah sih tergantung mereka berdua Ta. Semoga saja merka berjodoh. Kasihan kakakmu, Arsyil sudah menemukan calon nya, kamu juga. Tapi, Arsyad cuek sekali malah menyuruh adik-adiknya menikah dulu."jelas Andini.
"Yah...begitulah kakak."ucap Shita sambil menata bawaan yang akan di bawa ke rumah Annisa.
Arsyil dan Papahnya sudah sampai di rumah. Tapi, Arsyad belum juga sampai di rumah. Mereka semua khawatir karena Arsyad hanya bilang sedang menemui temannya. Arsyad melajukan mobilnya untuk pulang dari rumah temannya yang bernama Luqman. Dia mengajar di pondok pesantren yang Arsyad juga akan mengajar di sana.
Saat di jalan dia bertemu dengan Pak Fajri Abahnya Almira. Pak Fajri berdiri di tepi jalan karena mobilnya mogok. Sopir Pak Fajri berusaha memperbaikinya namun hasilnya nihil.
"Abah...kenapa dengan mobilnya? Lebih baik aku berhenti, barangkali aku bisa membantunya." gumam Arsyad dalam hati.
Arsyad menepikan mobilnya dan berhenti di belakang mobil Pak Fajri. Arsyad turun dari mobil nya dan langsung menghampiri Pak Fajri.
"Abah, kenapa mobilnya?"tanya Arsyad sambil bersalaman dan mencium punggung tangan Abah Fajri.
"Arsyad, untung ada kamu nak. Abah bisa minta tolong?"
"Minta tolong bagaimana Abah?"
__ADS_1
"Ini nak, Abah mau menjemput Mira di Bandara, terus mobil abah mogok bisa minta tolong antarkan abah ke Bandara?"pinta Abah Fajri.
"Oh...iya Abah, ayo masuk ke mobil Arsyad."ajak Arsyad.
Arsyad melajukan cepat mobilnya, Arsyad mengingat waktunya sudah mepet sekali karena sehabis Isya Arsyil akan tunangan dengan Annisa. Arsyad dan Abah Fajri sudah sampai di bandara. Arsyad dan Abah Fajri mencari Almira, Almira melambaikan tangan pada Abahnya. Abah Fajri melihat putri kesayangannya.
Almira berlari mendekati abahnya.
"Abah Almira kangen.."Almira memeluk erat abahnya.
"Putri abah, abah kangen sekali." Abah Fajri mencium Almira.
"Arsyad....kok disini?"tanya Mira.
"Ohh iya,nak Arsyad yang mengantar abah kesini,tadi mobil abah mogok di jalan sayang."jawab Abah Fajri.
"Iya Mira, benar kata abah." Arsyad menyahutinya.
"Oh begitu."ucap Almira.
Almira, Arsyad dan Abah Fajri berjalan menuju ke mobil Arsyad. Abah Fajri duduk di depan di samping Arsyad dan Almira duduk di belakang.
"Abah, Mira sebentar Arsyad angkat telfon dulu ya?" Ponsel Arsyad dari tadi berdering ada panggilan dari Shita Adiknya.
{Kak kamu dimana?}
{Maaf Shita kakak agak telat, kakak sedang di bandara.}
{Di bandara kak? Ngapain, aduh kakak.....ini udah maghrib lho acara Arsyil kan habis Isya kak, kakak lagiyan ngapain sih ke bandara segala?}
{Ta...kakak dengan Abah Fajri, bersama Almira juga, kakak mengantar Abah menjemput Mira di Bandara. Sabar ya, sebentar lagi kakak pulang Ta.}
{Kakak dengan Almira?}
{Iya...ini kakak mau pulang dulu ya, biar cepat sampai. Sampaikan ibu, papah dan Arsyil juga.}
Arsyad selesai mengangkat telfon Shita
"Maaf Abah, Shita tadi telfon. Hari ini Arsyil tuanangan Abah dengan Annisa."
"Astagfirullah, Abah lupa juga Syad, Pak Rizal juga mengundang Abah ke sana sama Ummi."
"Ya sudah yuk bah pulang, biar cepat sampai,oh iya mampir ke masjid dulu ya bah kita sholat mahgrib dulu."
"Iya Syad. Itu di depan ada masjid. Kita sholat di sana."
Arsyad melajukan mobilnya ke masjid. Dari tadi Arsyad mencuri pandang pada Almira lewat kaca mobil yang ada di depannya.
"Saat bersama abahnya manja sekali. Mira sangat pendiam sekali, apa karena aku belum mengenalnya jadi berfikiran seperti itu. Ah...mana mungkin Mira mau dengan aku, ada-ada saja papah dan abah menjodohkan aku dengan Almira."gumam Arsyad dalam hati.
"Ngapain curi-curi pandang, kalau suka ngomong saja, gak usah curi pandang seperti itu. Bagaimana bisa aku menikah dengan laki-laki angkuh seperti dia. Ahh...abah, ummi, kenapa mau menjodohkan aku dengan Arsyad segala sih...iya sih tampan tapi angkuh sekali."gumam Almira dalam hati.
Mobil Arsyad berhenti di depan Masjid, mereka turun bersama dan masuk ke dalam masjid untuk melakukan Sholat Maghrib. Setelah Sholat Arsyad menunggu Abah Fajri yang masih berada di toilet. Almira juga menunggunya. Arsyad mencoba membuka percakapan dengan Almira.
"Mira, selamat ya, sudah mendapat gelar baru. Oh iya dapat salan dari Shita."
"Iya Syad, Wa'alaikimsalam. Sampaikan salamkj juga buat Shita. Syad kamu gak melanjutkan kuliahmu lagi?"
"Sebenarnya ingin sekali. Tapi, ibu tidak mau sekali jauh dari aku."
"Ya sudah turuti saja, lagiyan kamu juga lulusan terbaik di Kairo."
"Kamu bisa saja Mira."
"Syad, kalau ibumu tidak merestui jangan kamu paksakan, Ridho orang tua Ridho Allah syad."
"Iya juga Mira, oh ya novelmu bagus sekali, aku kemarin membacanya."
__ADS_1
"Kamu membacanya?"
"Iya pinjam Shita."
"Kamu masih jadi Dosen Syad?"
"Sudah tidak Mira, aku mau mengajar di pondok pesantren. Kadang aku merasa menyia-nyiakan ilmu ku Mir. Ya untuk mencari suasana baru saja."
"Bagus dong, di Ponpes mana Syad?"
"Ponpes T di kota Y Mir."
"Degh...itu kan ponpes milik pakde Fahmi. Dan, kemarin pakde menyuruhku mengajar di sana juga, Ya Allah ada-ada saja, untung Santri wanita dan Santri Pria terpisah, jadi Arsyad tak akan tau aku mengajar di ponpes itu juga."gumam Mira dalam hati.
"Mira....hei...melamun saja, ayo pulang, tuh Abah sudah menunggu."ajak Arsyad.
"Ohh...iya Syad."ucap Mira.
Mereka masuk ke dalam mobilnya.
"Abah, Mira mohon maaf kalau Arsyad membawa mobilnya agak ngebut soalnya memburu waktu agar cepat sampai rumah. Abah jangan lupa seatbeltnya di pakai." Ucap Arsyad.
"Iya Syad,ayo berangkat. Hati-hati nak."
"Siap abah."
Arsyad melajukan mobilnya sangag cepat. Tak butub waktu lama Arsyad sudah sampai di rumah Mira. Abah Fajri dan Mira turun dari mobil Arsyad. Dan, Arsyad langsung Berpamitan dengan Mira dan Abahnya.
"Abah, Mira, Arsyad langsung pulang ya? Salam buat Ummi."
"Oh iya nak, nanti abah sampaikan, kamu hati-hati di jalan."
"Iya Abah."
"Arsyad...." panggil Mira.
"Iya Mira ada apa?"tanya Arsyad.
"Hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut lagi."
Arsyad mengembangkan senyumnya pada Mira.
"Iya tidak. Tapi, ini darurat Mira jadi mau tidak mau harus ngebut."jawab Arsyad
.
"Ya sudah lah, hati-hati di jalan Syad."
"Iya Mira. Mari Abah, Mira. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam." jawab mereka.
Arsyad masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah.
.
.
.
.
.
.
♥happy reading♥
__ADS_1