THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 58


__ADS_3

Arsyad dan Arsyil sampai di caffe Shita, mereka berdua masuk ke dalam caffe dan langsung menuju ruangan Shita. Tapi, kasir di depan langsung memberitahunya kalau Shita sedang pergi makan siang dengan Vino.


"Mas Arsyad, Mba Shitanya sedang keluar dengan Mas Vino."ucap kasir tersebut saat Arsyad akan menuju ruang kerjanya.


"Oh ya sudah mba, aku tunggu di sana ya, mba bisa minta tolong buatkan kopi untuk aku dan Arsyil."


"Oh iya mas, nanti saya bilang dengan pelayan."


"Baik mba terima kasih."


Arsyad duduk kembali bersama Arsyil, mereka berdua bercanda seperti biasanya, mereka sudah melupakan kejadian yang baru saja mereka alami.


"Kak, main catur yuk."ajak Arsyil.


"Boleh, sana ambil papan caturnya di kamar belakang."


"Oke."


Arsyil sudah mengambil papan catur. Lalu, mereka bermain catue bersama sambil menikmati kopi.


Sampai selesai permainannya Shita tak kunjung datang. Namun, mereka masih menunggu Shita datang.


"Kak lapar aku nunggu Kak Shita."


"Sana tinggal pesan makan saja kok."


"Ya sudah aku mau ke belakang, kakak mau sekalian?"


"Nanti saja kakak belum lapar."


Arsyil ke belakang meminta koki untuk di buatkan nasi goreng special. Setelah selesai dia kembali duduk dengan kakaknya. Arsyil langsung menyantap nasi gorengnya dengan lahap.


"Hati-hati makannya, kamu lapar sekali?"


"Sangat, apalagi aku tadi pagi tak sarapan."


"Kenapa tidak sarapan?"


"Gak ada kakak, jadi gak berselera buat makan."


"Terus kalau kakak ke Kairo lagi kamu sampai 6 bulan gak sarapan terus?"


Arsyil seketika menghentikan makannya, matanya menatap tajam kakaknya.


"Kakak mau ke Kairo lagi?"tanya Arsyil setengah kecewa.


"Mungkin."


"Gak aku gak mau kalau kakak ke sana lagi !" seru Arsyil.

__ADS_1


"Kenapa gak boleh Syil?"


"Kak, please jangan ke sana lagi ya?"


"Bercanda aja segitunya kamu Syil." Arsyad tertawa melihat adiknya seperti itu.


"Ih...ketawa lagi."ucap Arsyil sambil melempar tissue.


"Sudah habiskan makannya. Syil kakak mau mengundurkan diri jadi dosen. Mungkin kakak akan mengajar di pondok pesantren. Kata teman kakak, di sana sedang membutuhkan pengajar untuk mata pelajaran Bahasa Arab. Ya kakak ingin mencoba saja sambil mencari suasana baru."jelas Arsyad.


"Di mana itu kak?"tanya Arsyil.


"Di kota Y Syil. Kakak selama ini sudah menyia-nyiakan ilmu yang kakak dapatkan selama ini. Dan, ini saatnya kakak akan mengamalkan ilmu kakak. Jika lama terpendam, ilmu itu lama kelamaan akan hilang Syil. Selain mengajar Bahasa Arab kakak juga mengajar para calon Hafidz Qur'an. Itu sebenarnya impian kakak."jelas Arsyad.


"Kalau itu yang terbaik buat kakak, Arsyil tidak keberatan. Kapan kak kira-kira?"


"Mungkin 4 atau 5 bulan lagi. Kakak sudah mengirimkan CV ke sana kemarin sebelum kakak ke bengkel kamu dan bertemu Nisa juga. Jadi, kamu jangan beranggapan ini semua karena Annisa." jelas Arsyad.


"Kak, aku juga tadi mikirnya seperti itu. Ya sudah itu keputusan kakak, semoga yang terbaik."


"Iya Syil."


Mereka melanjutkan bercerita hingga Shita dan Vino kembali ke caffe. Mata Shita membulat sempurna melihat kedua saudara laki-lakinya sedang bersama. Senyuman Shita terukir di bibirnya. Shita berlari ke arah Arsyil dan Arsyad.


"Kakak, Arsyil....ihhh curang ke sini gak ngabarin Shita." Shita merangkul kedua saudaranya dengan posisi dia di tengah-tengah Arsyil dan Arsyad.


"Kencanmu lama sekali kak. Sampai aku kelaparan."ucap Arsyil.


"Kakak, jangan pergi lagi." Shita memeluk kakaknya manja.


"Gak, kakak gak akan pergi sayang. Dari mana kamu sama Vino. Lama sekali."ucap Arsyad.


"Makan siang kak. Janji ya jangan pergi lagi."


"Iya Shita....duduk sini dekat kakak. Vin, duduklah sini. Bagaimana Perusahaanmu?"tanya Arsyad pada Vino.


"Baik Syad. Kamu dari mana saja, adikmu nangis saja dari tadi."


"Gak kemana-mana. iya kan Syil?"jawab Arsyad yang juga melempar pertanyaan pada Arsyil.


"Dari rumah Kak Rayhan semalam, iya kan kak?"


"Bener kak, semalam kakak di rumah Kak Ray?"tanya Shita


"Iya Ta." jawabnya.


"Kalian sudah baikan kan?"tanya Shita lagi.


"Aku sama Arsyil gak ada apa-apa kok. Iya kan Syil?"

__ADS_1


"Iya kami baik-baik saja kak. Tapi, Kak


Arsyad mau pergi lagi kak."ucap Arsyil sedikit kecewa.


"Kak, mau kemana lagi?"tanya Shita.


Akhirnya Arsyad menjelaskan bahwa dirinya akan menjadi pengajar di pondok pesantren di kota Y. Dan, Shita pun memahami keputusan kakaknya.


"Ya sudah kalau itu yang terbaik buat kakak. Tapi, kakak sering kasih kabar ya?"


"Iya Shita itu pasti, lagiyan papah sama ibu saja belum tahu."


Mereka melanjutkan mengobrol dan bercanda hingga sore hari.


"Kakak tidak bawa mobil? " tanya Shita.


"Bawa kakak taruh di bengkel Arsyil. Tadi kita kesini boncengan pakai sepeda motor Arsyil. Lama kakak gak bonceng dia."jawab Arsyad.


"Jadi kakak ke bengkel Arsyil dulu?" Tanya Shita lagi.


"Iya cerewet."jawab Arsyad sambil menarik hidung Shita.


"Sakit kak."


"Habis kamu cerewet sih."


Sudah lama Arsyad meninggalkan pekerjaannya di kantor, begitupula Arsyil meninggalkan pekerjaan di bengkelnya. Akhirnya mereka pamit pulang. Vino juga sama-sama pamit untuk kembali ke kantornya.


Mereka sudah pergi dari Caffe Shita. Shita pun melanjutkan pekerjaannya, dia masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Alhamdulillah, akhirnya mereka berdua mau menerima keadaan, Kak Arsyad juga ikhlas kalau Nisa dengan Arsyil. Aku hanya belum bisa terima kalau Kak Arsyad harus mengajar di Pondok Pesantren. Jauh lagi, iya sih itu cita-cita kakak. Ya sudahlah semoga selalu seperti ini tidak ada masalah lagi. Terima kasih Ya Allah, sudah mendamaikan dua saudara laki-lakiku yang sangat aku sayangi." gumam Shita dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


♥happy reading♥


maaf semalam tidak up. author lelah sekali seharian banyak acara..

__ADS_1


terima kasih yang sudah mau menunggu...


__ADS_2