THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 53 "Hingga Akhir Waktu" The Best Brother


__ADS_3

Setelah makan siang, Nuri, Najwa, dan Habibi menuju ke teras rumah untuk mengobrol. Nuri tidak menyangka kalau sepupunya sudah kenal denan Najwa sebelum ia mengenalkannya. Dan, usahanya untuk mengenalkan dia tidak sia-sia. Dia bahagia, melihat Najwa dengan sepupunya yang akrab sekali.


"Nuri, kenapa kamu memanggil Habibi dengan panggilan Kiki?"tanya Najwa.


"Dia itu waktu kecil asal ngomong aja," jawab Habibi


"Apaan, kamu aja manggil aku Nuy," celah Nuri.


"Kan aku sekarang tidak, nah kamu, masih aja memanggil Kiki. Opa juga ikut-ikutan manggil Kiki sampai sekarang," ucap Habibi.


"Kalian kok malah ribut. Jawab dong? Kenapa Nuri manggil kamu Kiki?" lerai Najwa sambil bertanya pada mereka.


"Jadi, dulu Nuri itu manggil aku Rafiq, Lama-lama manggilnya Kiki, entah Kiki dari mana asalnya. Kalau aku kan jelas, manggil dia Nuy karena gak bisa bilang huruf R," jawab Habibi.


"Oh, jadi gitu?" ucap Najwa.


"Sekarang gantian aku yang tanya sama kamu, Ainun," ucap Habibi.


"Tanya apa?"


"Kenapa kamu bisa ke sini dan dengan Nuri?" tanya Habibi dengan penuh pengharapan agar Najwa menjawabnya.


"Emmm….."


"Jawab, jujur Ainun," tukas Habibi.


"Ainun, aku tinggal ke dalam, ya? Aku harap kamu bisa jujur dengan Habibi, jangan ada yang kamu tutup-tutupi," ucap Nuri.


"Jangan masuk, sini saja," pinta Najwa.


"Kalian butuh bicara berdua, aku tidak jauh-jauh, aku di ruang tamu kok, sambil telepon Tirta," ucap Nuri.


"Oke," jawab Najwa.


"Bicaralah. Kalian butuh bicara berdua," ucap Nuri.


Nuri masuk ke dalam kamarnya terlebih dahulu dan mengambil ponselnya. Setelah itu, dia menelepon temannya yang bernama Tirta.


Habibi dan Ainun duduk di kursi teras sambil menikmati teh hiajunya. Ainun masih bingung harus bicara dengan Habibi dari mana. Dia sebenarnya tidak ingin menceritakan kejadian memalukan itu pada siapapun termasuk Nuri. Apalagi dengan Habibi. Memang Habibi mencintai Ainun, tapi dia juga malu harus bercerita soal Dio.


"Ainun, cerita saja. Anggap aku teman atau sahabatmu. Apa ini masalah pacar kamu itu?" tanya Habibi.


"Habibi," panggil Ainun dengan suara bergetar karena takut ingin bercerita.


"Apa Ainun? Ayo cerita, kamu pasti ada masalah. Ceritakan masalahmu, pasti akan aku jaga rahasia ini." Habibi menggenggam tangan Ainun.


"Habibi, kamu tahu Dio?" tanya Ainun.


"Iya, tahu lah. Aku tahu semua keluarga kamu, tapi yang belum tahu hanya saudara kembar Dio," jawabnya.


"Dio….Dio adalah laki-laki yang aku maksud, yang membuat aku menolak kamu, Habibi," jawab Ainun.


"Bagaimana bisa kamu menjalin hubungan dengan sepupumu sendiri?" Habibi terkejut mendengar kenyataan dari mulut Ainun.


"Iya, dia bukan hanya sepupu saja, aku dan dia juga saudara satu susuan. Ummiku dulu menyusui Dio juga, saat bunda Annisa sedang sibuk dengan perusahaannya." Ainun bercerita dengan berlinang air mata.


"Lalu kenapa kamu di sini?" tanya Habibi lagi.


Akhirnya Ainun menceritakan semuanya pada Habibi tanpa di tutup-tutupi. Ainun menganggap Habibi adalah sahabat baiknya setelah Nuri. Habibi masih menggenggam tangan Nuri yang masih saja bergetar menceritakan masalahnya. Habibi tidak kuat mendegnar cerita Ainun. Dia merengkuh tubuh Ainun, dan Ainun menangis di pelukan Habibi.


"Cukup, Ainun! Jangan di teruskan, menangislah," ucap Habibi sambil memeluk Ainun.


"Aku wanita bodoh Habibi. Itu kenapa aku tidak selalu menghindari kamu, Habibi." Ainun masih menangis di pelukan Habibi.


"Jangan bicara seperti itu, Ainun. Anggap ini dia adalah pelajaran berharga dalam hidup kamu. Jangan seperti itu lagi. Kamu berhak mendapat pria yang lebih baik dari Dio. Percayalah, pasti kamu bisa mendapat seseorang yang lebih dari Dio," tutur Habibi


"Aku takut, aku sudah kotor Habibi," ucap Ainun dengan terisak.


"Hei….jangan berkata seperti itu, Ainun. Tidak ada seseorang yang benar-benar suci di dunia ini. Kecuali bayi yang baru lahir. Semua orang pasti punya masa lalu yang pahit. Kamu harus bisa melihat ke depan. Lihatlah, di luar sana banyak perempuan yang lebih parah dari kamu. Tapi, mereka semua masih semangat mencari suatu kebaikan untuk hidupnya. Mereka berlomba-lomba mengejar kebaikan untuk masa depannya. Jadi, kamu jangan takut. Raihalah kebahagian dan mulai hidup yang lebih baik. Lupakan semua yang menyakiti hati kamu. Karena kebahagiaan ada di depan kamu." Habibi mencoba memberi pengertian pada Ainun.


"Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi, Habibi. Hanya Nuri yang sudi menerimaku di sini," ucap Ainun.


"Lalu aku? Lihatlah, aku di sini, di depanmu, aku dan Nuri selalu ada untuk kamu, Ainun. Sudah jangan menangis, cantikmu nanti hilang." Habibi mengusap air mata Ainun yang membasahi pipi.

__ADS_1


"Gombal lagi, dasar tukang gombal." Najwa mencubit lengan Habibi.


"Sakit, Ainun." Habibi mengusap lengan yang di cubit Najwa tadi.


"Makanya, jangan kebanyakan gombal," ucap Ainun.


Habibi mengusap kepala Ainun dengan sayang, dia tidak menyangka wanita seperti Ainun bisa melakukan seperti itu sama Dio. Ainun benar-benar di butakan oleh cinta. Habibi merasa iba dengan cerita Ainun. Apalagi keluarga Ainun sampai mengusirnya, dan sepertinya semua itu Ainun yang salah.


"Apapun keadaan kamu sekarang, aku akan tetap mencintaimu, Ainun. Aku akan menunggu hingga hatimu siap. Aku janji itu," gumam Habibi.


°°°°°


Ponsel Dio berdering di pagi hari. Dia terbangun dari tempat duduknya. Dio meraih ponselnya dan melihat siapa yang meneleponnya.


"Rania?" Dio segera mendial tombol warna hijau yang ada di layar ponselnya.


"Hallo, Ran, ada apa?" tanya Dio.


"Dio, ibu…." suara Rania terdengar serak di seberang sana.


"Ibu kenapa?" tanya Dio panik.


"Ibu di ICU, Dio," jawab Rania dengan menangis.


"Aku akan ke sana, Ran," ucap Dio dengan khawatir.


"Dio, aku titip rumah, kamu di situ saja. Aku di sini ada paman dan bibi juga ada Evan. Ibu sudah 2 hari koma, dan kata dokter, jika belum sadar hingga besok pagi, kita tidak bisa berharap apa-apa Dio." Rania semakin terisak di sana.


"Rania, dengarkan aku. Kamu yang sabar, kamu harus kuat, ibu pasti baik-baik saja." Dio semakin cemas mendengar tangisan Rania yang semakin keras dengan sesegukan.


"Ran, kamu di panggil dokter," suara Evan terdengar memanggil Rania.


"Dio, aku menemui dokter dulu, ya. Aku akan kabari lagi. Aku titip rumah ya," ucap Rania.


Dio meletakan ponselnya. Dia ingin sekali menyusul Rania ke sana. Tapi, Rania tidak memperbolehkannya. Mernurut Dio, m,ungkin dia di sana dia sudah ada Evan, jadi tidak membutuhkan Dio untuk bertukar pikir di sana.


"Aku tahu, kamu dengan Evan. Aku tidak boleh egois, kamu berhak bahagia dengan orang lain, Ran. Dan, aku di sini, aku akan melakukan yang terbaik untukmu, apa yang kamu titipkan padaku, aku akan menjaganya," gumam Dio.


Setelah perdebatan dengan Shifa kemarin, kini Shifa sudah bisa menerima kesalahan Dio. Bagaimana pun, Dio adalah adiknya, saudara kembarnya. Tapi, Dio memilih untuk tinggal di rumahnya sendiri. Dia ingin menghabiskan harinya di rumah yang menurut Dio adalah rumah kenang-kenangan bersama Rania.


Dio melihat kamar tamu yang dulu di pakai Rania saat Dio tak menginginkan dia untuk tidur satu kamar dengannya. Dia mendekati kamar itu, sebelum pergi ke kantor. Dio membuka pintu kamar tamu.


"Ran, kenapa sakit sekali rasanya dadaku, saat aku mengingat pernikahan kita. Apa kamu sesakit ini waktu dulu? Saat aku memperlakukan kamu dengan kasar?" gumam Dio.


Dio masuk ke dalam. Masih ada sisa-sisa barang milik Rania yang tidak Rania bawa pulang. Kertas-kertas tidak terpakai masih tersimpan di laci meja rias. yang biasa di gunakan Rania untuk berhias. Dio melihta sebuah kertas berwarna biru muda yang ada tulisan tangan Rania.


"Dio, pria yang aku cintai setelah ayah. Dia adalah suamiku, suamiku yang tidak mencintaiku. Namun, dulu saat dia mencintaiku. Meskipun Dio tidak mencintaiku, selamanya aku akan tetap mencintainya, sama seperti saat pertama aku jatuh cinta padanya."


Dio membaca tulisan itu, tanpa terasa air mata Dio menetes membasahi pipinya. Dio menyeka air matanya. Dia membaca tulisan Rania lagi yang ada di swcari kertas lainnya.


“Sabtu malam kucoba tak sendiri, kuputar lagu-lagu walau semua harus bernada engkau. Kadang aku berpikir, bahwa aku harus melepaskan, bukan karena tak cinta, tapi karena aku lebih mencintai diriku yang terus terluka. Dan, aku pun selalu menikmati sepi hatiku dalam malam gelap ini, aku biarkan kau kembali terbit lalu kembali tenggelam di sini, di dekap jantung paling puisi."


Dio meletakan kembali kertas itu di laci. Dia melihat jam di tangannya yang sudah menunjukan pukul 8 pagi. Dia segera pergi ke rumah Rania sebelum ia ke kantornya.


°°°°°


Pagi ini Habibi menjemput Ainun untuk ke butik. Setelah kemarin Ainun menceritakan semua masalahnya pada dirinya dan berkata jujur tentang apa yang terjadi pada diri Ainun, Habibi semakin perhatian pada Ainun, dan sejak tadi malam Habibi tak henti-hentinya menanyakan Ainun lewat chat.


Habibi sudah sampai di rumah Nuri. Dia langsung masuk ke rumah Nuri. Ya, memang Habibi sudah biasa seperti jika ke rumah Nuri.


"Jiaaaahh….tumben jauh-jauh ke sini, bang? Biasanya ogah-ogahan kalau di suruh ke sini. Sekarang, ada Ainun seperti itu, pagi buta sudah ke sini," ledek Nuri.


"Ih…sirik amat, Mbak. Mana Ainunku," ucap Habibi.


"Ainunmu? Kemarin di kenalin ogah-ogahan, sekarang seperti itu," jawab Nuri.


"Mana aku tahu, kalau yang mau kamu kenalin ke aku Ainun," jawab Habibi.


"Ya, kan aku tidak tahu. Najwa cerita soal Habibi aja aku tidak tahu itu kamu, kok," ucap Nuri.


"Ya sudah, sana panggil Ainun," titah Habibi.


"Ya, sebentar." Nuri memanggil Ainun ke kamarnya.

__ADS_1


Padahal ini masih pagi sekali, tapi Habibi sudah ke rumah Nuri untuk menjemput Ainun. Habibi akan mengajak Ainun ke rumah sakit terlebih dahulu sebelum ke butik.


"Ih, pagi sekali jemputnya," ucap Ainun yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Kan aku sudah bilang, aku pagi-pagi ke sini, Ainun. Kamu sudah siap?" tanya Habibi.


"Sudah," jawabnya.


"Najwa, nanti kamu ke butik, kan?" tanya Nuri.


"Iya, aku ikut Habibi sebentar ke rumah sakit," jawab Najwa.


"Oke, kalian hati-hati. Cepatlah resmikan hubungan kalian," ucap Nuri.


"Kamu jangan ngelindur, mandi sana," titah Najwa.


"Aku serius, bukan ngelindur, sayang. Sudah saatnya kalian harus meresmikan hubungan kalian," ucap Nuri.


"Husss…sudah sana mandi, ayo Ainun, kita berangkat," ajak Habibi.


Ainun dan Habibi berangkat menuju ke rumah sakit. Habibi tahu, hati Ainun belum siap untuk menerima hati lagi. Dan, Habibi akan menunggu hingga Ainun siap.


Mereka sudah berada di dalam mobil Habibi. Baru pertama kalinya Ainun bersama laki-laki lain selain Dio di dalam mobil. Biasanya Dio yang menemani dirinya ke mana pun dia pergi atau abahnya dan Raffi.


"Ainun," panggil Habibi.


"Iya," jawab Ainun.


"Kamu jangan pikirkan kata-kata Nuri. Dia biasa seperti itu," ucap Habibi.


"Dia memang seperti itu, dia selalu rusuh, tapi dia sangat menyayangiku, kalau aku tidak bertemu dia, aku tidak tahu bagaimana. Kamu tahu kan, aku pergi tidak membawa apa-apa, ini ponsel saja di belikan Nuri," jelas Ainun.


"Sudah, jangan mengingat itu lagi. Kamu harus menatap ke depan, masa depanmu masih panjang, simpan masa lalu yang menyakitkan, Ainun. Banyak orang yang masih menyayangimu," tutur Habibi.


"Ini aku sedang menatap ke depan," ucap Ainun sambil tersenyum pada Habibi.


"Dasar, aku serius Ainun." Habibi mencubit pipi Ainun.


"Sakit, ih...Aku juga serius, kan aku sedang menatap ke depan," ucap Ainun


"Iya, deh iya."


"Kita menemui opa dulu, ya?" ajak Habibi.


"Emmm..oke." Ainun mengiyakan ajakan Habibi.


Mereka semakin akrab dan Habibi tak henti-hentinya mengeluarkan lelucon yang membuat Najwa tertawa karenanya. Baru kali ini Najwa bisa tertawa lebar selama hampir 5 bulan dia mengemban rasa sakit di hatinya.


"Aku akan selalu membuatmu tersenyum, Ainun, dan aku ingin kamu, untuk menemani hidupku, hingga akhir waktu," gumam Habibi.


°°°°°


Hari ini, Dio harus menyaksikan Rania terpuruk lagi. Pagi tadi waktu Singapura, Ibunya Rania mengembuskan napas terakhirnya di rumah sakit. Sore ini jenazah Anna sudah sampai di rumahnya. Rania duduk bersimpuh di depan jenazah ibunya. Dia menangis memandangi jenazah Ibunya di dampingi oleh Evan dan Dio.


"Dio, aku sendirian sekarang," ucap Rabia lirih


Dio merangkul Rania dan menyandarkan kepala Rania pada bahunya. Rania menangis meratapi kepergian ibunya. Baru saja ia kehilangan Ayahnya, lalu bercerai dengan Dio, dan kini dia harus kehilangan ibunya.


"Ran, jangan pernah merasa sendiri, ada aku, ada bunda, Abah, opa, semaua sayang kamu, mereka semua keluarga kamu, Ran." Dio mengusao kepala Rania.


Rania memejamkan matanya, meratapi sakit yang menyelimuti hatinya. Annisa dan Shifa mendekati Rania. Annisa memeluk Rania. Menguatkan Rania yang di tinggal ibunya.


"Bunda, semua orang yang Rania sayang, pergi satu persatu. Rania tidak punya siapa-siapa lagi, bunda." Rania memeluk erat Annisa.


"Jangan bicara seperti itu, ada bunda, Shifa, abah. Kamu jangan merasa sendiri. Kita keluarga kamu, bunda menyayangimu seperti anak bunda sendiri," ucap Annisa.


"Rania, kamu yang sabar, ya? Kamu wanita kuat, kamu pasti bisa melalui badai ini." Shifa mengusap kepala Rania yang masih berada di pelukan bundanya.


Dio melihat kehancuran hidup Rania saat ini. Dia semakin merasa bersalah dengan semua ini. Tidak hanya Arsyad yang semakin buruk keadaannya. Dio pun sama, dia tidak pernah makan dengan teratur, selama Rania di Singapura. Hidupnya semakin hancur, karena melihat Rania yang seperti itu.


"Aku sudah meluakainha. Aku orang yang kejam. Benar kata Shifa, aku tidak pantas ada di dunia ini. Aku kejam, aku sangat kejam." Dio merutuki dirinya sendiri.


Ingin rasanya Dio pergi sejauh mungkin. Dan mungkin juga lebih baik Dio pergi dari dunia ini. Melihat Rania yang semakin seperti sekarang ini, membuat hatinya semakin hancur.

__ADS_1


__ADS_2