
Shita menutup kembali teleponnya, Shita kembali ke depan bergabung dengan lainnya.
"Bagaimana sudah?"tanya Vino.
"Sudah, sebentar lagi katanya."jawab Shita.
"Ya sudah, tunggu saja."ucap Vino.
"Kalian menunggu siapa sih?"tanya Arsyad.
"Ada deh, tamu special pokoknya."ucoa Shita.
Tak lama kemudian sebuah mobil masuk ke dalam halaman rumah Rico. Dan mereka turun satu persatu.
"Jadi mereka tamunya?"tanya Arsyad.
"Iya."ucap Shita
"Aku kira siapa, Rayhan sudah biasa bertemu masa special."ucap Arsyad.
"Kan sama Om Bayu, Tante Iva, Rachel, Lukman, dan Naura juag anak-anak mereka."ucap Shita.
"Iya sih, aku kira siapa, yang tidak pernah ketemu gitu."ucap Arsyad.
"Nah kan, kamu sering ketemunya cuma Rayhan."ucap Shita.
Mereka menyambut kedatangan Bayu dan keluarganya dengan hangat. Mereka masuk ke dalam rumah Rico
"Bagaimana kabarmu, Syad?"tanya Bayu.
"Baik om. Om sehat?"tanya Arsyad
"Sehat. Kamu makin muda saja setelah jadi duda."bisik Bayu di telingan Arsyad, tapi semua juga mendengarnya
"Masih pantas kan kalau menikah lagi?"tanya Rico.
"Pantas lah, tampan gini masa tidak menikah lagi? Sudah ada pandangan calonnya kan?"tanya Bayu.
"Gak kepikiran menikah lagi, om."ucap Arsyad.
"Kenapa? Kamu masih muda kok."ucap Bayu.
"Iya tidak mau saja. Sudah jangan bahas ini, om. Ayo masuk."ucap Arsyad.
"Pah, Arsyad sepertinya suka dengan karyawan baru."bisik Rayhan.
"Benarkah?"tanya Bayu.
"Jangan dengarkan kata Rayhan. Tenang aku tidak akan menikah lagi."ucap Arsyad.
"Terserah, kalau yang mau Najwa bagaimana?"ucap Rico.
"Ya aku tidak mau."ucap Arsyad
"Kalau ini permintaan terakhir mendiang istrimu bagaimana?"tanya Rico.
"Papah sudah jagan bahas ini ya?"ucap Arsyad.
"Tuh mereka datang."ucap Rachel sambil menunjuka ke arah sebuah mobil yang masuk ke halaman Rico.
"Alhamdulillah, akhirnya mereka datang juga."ucap Rico.
"Siapa pah, itu?"tanya Arsyad.
"Lihat saja siapa yang datang. Ini tamu special untuk kita semua."jawab Rico.
Merek turun dari mobil dan Najwa sangat bahagia melihat siapa yang datang, Najwa langsung berlari memeluknya, begitupun Raffi.
"Annisa."ucap Arsyad.
"Papah, itu Annisa? Dio, Shifa." Arsyad masih menatap mereka yang masih berpelukan dengan Najwa.
"Iya, mereka pulang, Syad. Dio dan Shifa pulang."ucap Rico. Arsyad berlari memeluk keponakan yang sudah lama ia rindukan.
"Dio, Shifa, pakde kangen sekali sama kamu, nak." Arsyad memeluk ia erat sekali.
"Pakde, Dio juga kangen."ucap Dio yang tak henti-hentinya memeluk dan mencium Arsyad.
"Sama, pakde juga sayang, kamu sehat kan, nak?"tanya Arsyad.
"Seperti yang pakde lihat."ucap Dio dengan menatap wajah Arsyad.
"Pakde, Shifa kok gak di peluk."ucap Shifa dengan manja. Arsyad memeluk dan mencium Shifa. Dia begitu merindukan kedua ponakannya itu. Hingga tak terasa air mata Arsyad menetes membasahi pipinya.
"Pakde, jangan nangis, kami baik-baik saja kok."ucap Shifa dengan mengusap air mata Arsyad di pipinya.
"Pakde tidak menangis, sayang. Pakde senang, pakde bahagia kaliab pulang, kalian sudah kembali lagi. Jangan tinggalkan pakde lagi ya, sayang." Arsyad memeluk erat kedua keponakannya itu
"Iya, Shifa akaan di sini terus, pakde. Shifa tidak mau ke sana lagi."ucap Shifa.
"Dio juga."sahut Dio. Mereka asik melepas rindunya, hingga tak sadar dengan tiga orang yang ada di sampingnya. Mereka adalah Najwa, Raffi dan Annisa, yang sama-sama saling melepaskan rindu pada Annisa.
"Najwa, Tante kangen, kamu, Tante kangen kalian, maafkan Tante, nak." Annisa memeluk erat kedua keponakannya itu, keponakan yang dekat sekali dengan dirinya
"Tante jangan pergi lagi, Tante di sini saja, kalau tante pergi, nanti Najwa dengan siapa, Tante."ucap Najwa dengan menangis dan memeluk erat Annisa..
"Iya, jangan tinggalkan kami lagi, Tante. Kami membutuhkan Tante."ucap Raffi.
"Iya, Tante tidak akan pergi lagi, tnnte janji, tante janji tifak akan meninggalkan kalian lagi."ucap Annisa
"Nis, kamu sehat?"tanya Arsyad
"Iya, seperti yang Kak Arsyad lihat."ucap Annisa.
Semua yang melihat dibuat haru oleh mereka. Rico dari tadi meneteska air matanya, dia berhasil mengembalikan impian Najwa, dia ingin sekali mewujudkan keinginan Almira yang terakhir kalinya, apapun dia akan lakukan demi anak dan cucunya bahagia, hingga dia berhasil menyuruh Annisa kembali walaupun itu sangat sulit.
"Syukurlah, Annisa benar-benar kembali pulang, dan saatnya aku memenuhi keinginan terakhir Almira, aku juga ingin meliha Annisa, Arsyad dan anak-anaknya hidup bahagia, memiliki keluarga yang lengkap."gumam Rico dalam hati.
__ADS_1
*Flashback On*
*Rico, Shita dan Naura mendatangai kantor Annisa, mereka menemui Rere, mereka membujuk Rere agar dia bisa membujuk Annisa untuk pulang. Dan mereka juga berkata pada Rere perihal kematian Almira, Rere pun mengikuti perintah Rico, karena Rico menunjukan surat Najwa yang di Eri Almira di saat-saat terakhirnya.
"Rere, tolong kami, bujuk Annisa untuk pulang, kami tidak tau harus bagaimana lagi, agar dia bisa kembali ke sini. Jika kamu tidak bisa membujuknya, kami akan menyusul Annisa segera."ucap Shita.
"Kak Shita, jujur, saya juga sudah lama tidak pernah ada kontak dengan Annisa, kontak dia sangat susah di hubungi, tapi jika Kak Shita mau, Rere kasih kontak kantornya Annisa."jelas Rere
"Iya, boleh, kontak apapun, yang penting terhubung dengan menantuku. Ini permintaan Najwa, ini demi Najwa dan demi Almarhum Almira."ucap Rico.
"Almira istri Pak Arsyad?"tanya Rere.
"Iya, ini surat dari Almira, dan jika kamu bisa menghubungi Annisa, tolong jangan beritahukan dia, kalau Almira sudah tidak ada. Saya yakin, jika Annisa tau, dia tak mau pulang."jeals Rico.
"Kamu belum memberitahukan dia, kan? Perihal meninggalnya Almira?"tanya Rico.
"Belum, saya kira Annisa sudah tau, karena semenjak itu, Annisa juga tidak menghubungiku, dan kontak dia di hubungi sudah sekali, ya sudah saya akan coba kirim emai ke Annisa dulu, jika dai aktif saya akan segera membujuk dia untuk kembali ke Indonesia."ucap Rere.
"Boleh saya baca surat ini, Pak Rico?"tanya Rere.
"Iya boleh, silahkan di baca."ucap Rico. Rere mbaca surat dari Almira itu dengan seksama, dia juga merasakan apa yang di rasakan Rico dan lainnya. Akhirnya, Rere mau membantu membujuk Annisa untuk pulang, dan tak menunggu waktu lama, Rere mencoba menelepon Annisa, barangkali nomornya aktif.
"Pak, Rico, jangan pulang dulu, nomor Annisa yang satunya, terhubung, saya Video call saja biar dia melihat Pak Rico di sini."ucap Rere.
"Iya, tapi ingat, jangan sampai keceplosan kalau Almira sudah meninggal."ucap Rico.
"Baik, pak."ucap Rere.
^Panggilan Video Call terhubung^
"Rere….untung kamu meneleponku, hari Minggu siapkan seseorang untuk menjemputku di bandara." Annisa langsung berkata seperti itu.
"Kamu mau pulang?"tanya Rere.
"Iya, ini sedang packing."ucap Annisa
"Kamu serius?"tanya Rere.
"Iya lah, kapan aku pernah bohong, Re."ucapnya.
"Lalu pekerjaanmu di situ?"tanya Rere
"Sudah selesai, sudah ya, pokoknya hari Minggu siapkan sopir untuk menjemputku di bandara."ucap Annisa.
"Ehh sebentar dulu, ada yang mau aku tunjukan padamu."ucap Rere.
"Apa, Re?"tanya Nisa. Rere memperlihatkan Rico, Shita dan Naura.
"Papah, Kak Shita, Kak Naura." Annisa begitu bahagia melihat mereka
"Annisa, pulanglah, nak. Kami merindukanmu."ucap Rico.
"Papah, Annisa hari Minggu ini mau pulang."ucap Nisa
"Nis, pulanglah, biar nanti sopirku yang menjemputmu, kita kumpul di rumah papah, Farrel dan Rana merindukanmu, terutama Najwa. Dia selalu bertanya padamu."ucap Shita.
"Kamu itu adikku, kamu beneran mau pulang, kan?"tanya Naura
"Iya, kak Naura."ucap Annisa
"Ya sudah, kamu hati-hati di situ, jaga kesehatan, salam buat semuanya."ucap Naura.
"Iya, kak."ucap Annisa.
Annisa mengakhiri video callnya, karena dia sedang menata barang-barangnya.
"Rere, terima kasih."ucap Rico.
"Iya, pak. Saya tidak menyangka Annisa akan pulang, saya ikut bahagia, dan mengenai surat Kak Mira, saya setuju, Annsa dengan Pak Arsyad. Dan saya akan membantunya, jika Annisa menolaknya."ucap Rere
"Iya, Re. Kami minta bantuanmu untuk ini."ucap Rico.
"Iya, pak, dengan senang hati kami akan membantu."jawab Rere.
"Baik, kami pamit dulu, dan sekali lagi, saya terima kasih."ucap Rico.
"Iya, sama-sama."ucap Rere dengan membukukan tubuhnya.
Rico, Shita dan Naura pamit dari kantor Annisa. Mereka merasa bahagia sekali, ternyata Allah mempeemudahkan urusannya*.
*Flashback Off*
Mereka masih berpelukan salingbmelepas Rinsdu, Arsyad mengajak Almira dan yang lainnya ke dalam.
Mereka berkumpul di meja makan untuk menikmati makan siang yang sudah disediakan oleh Mba Ida. Annisa mendudukan dirinya di samping Papah Rico.
"Sebentar, kok sepertinya ada yang kurang? Di mana Kak Mira, Pan?"tanya Annisa, saat sedang menikmati makan siang.
"Almira….emmm…Almira."ucapan Rico terbata-bata
"Mana ummi sayang?"tanya Annisa pada Najwa.
"Ummi…emmm…opa."ucap Najwa dengan raut wajah yang sedih.
"Kak Arsyad, mana Kak Mira?"tanya Annisa, namun Arsyad hanya diam menatap piring yang berisikan nasi di depannya.
"Kak Shita, Kak Naura, Rachel, mana Kak Mira."wajah Annisa mulai cemas dan sedih. Mengingat Almira kemari sakit-sakitan.
"Kak Najwa, Pakde, mana budhe?"tanya Shifa.
"Iya, di mana budhe?"tanya Dio juga.
"Annisa, Shita dan Dio, habisakan makanannya, Nanti papah antar kalian di mana Almira berada."ucap Rico.
Arsyad hanya terdiam dan menunduk, air matanya tertahan di sudut matanya. Dia berusaha tak meneteskan air matanya. Arsyad menyendokkan nasinya dan memasuakn ke mulutnya dengan malas, seakan tak berselera makan lagi. Arsyad memandangi Annisa yang juga sungkan mengunyah makanannya.
Annisa meletakan sendoknya, dia tak berselera makan lagi, karena dia melihat Arsyad, Najwa dan Raffi makan dengan malas.
__ADS_1
"Aku minta, kalian jelaskan di mana, Kak Mira."ucap Nisa dengan meletakan sendoknya di piring.
"Annisa, nurut dengan papah mertuamu, habiskan makananmu dulu, baru kita bicara Almira dan kami akan mengantarkanmu ke tempat Almira."ucap Bayu.
"Iya sayang, habiskan makananmu dulu."imbuh Iva. Annisa menuruti apa kata Bayu dan Iva. Dia kembali melanjutkan aktivitas makannya.
^^^^^
Setelah selesai makan siang, semua melakukan sholat dhuhur bersama, dan setelah itu mereka berkumpul di ruang tengah, Annisa masih gelisah, karena dia tidak tau Almira di mana.
"Papah, tunjukan di mana Kak Mira, lah."ucap Annisa.
"Iya, ayo ikut papah, Syad kamu bisa menyetir mobil kan?"tanya Rico.
"Iya pah, bisa. Ayo Nisa, akan aku antar." Arsyad mengantarka Annisa ke makam Almira. Mereka berangkat menaiki mobil Arsyad, semua juga ikut denga mobilnya masing-masing.
Arsyad membelokan mobilnya ke arah pemakaman di dekat rumah Almira. Almira di makamkan di samping makan orang tuanya. Annisa semakin kebingungan, dia hanya terpaku melihat sekitarnya, dan melihat mobil Arsyad membelokan ke arah pemakaman.
"Kak Arsyad, papah, kalian mau ke mana? Ini bukannya area pemakaman?"tanya Annisa. Mereka hanya diam saja.
Arsyad menghentikan mobilnya di tempat parkir. Dia keluar dari mobilnya di ikuti denga Rico dan lainnya.
"Kalian mau bawa Annisa ke mana?"tanya Annisa.
"Ayo, Annisa." Rico menggandeng tangan Annisa dan mengajaknya masuk ke area pemakaman.
"Papah, Kak Mira, Kak Arsyad, Najwa, Raffi. Kenapa kita masuk ke makam?"tanya Annisa dengan meneteskan air mata.
Tangisan Annisa sudah tak bisa dia bendung lagi. Tubuhnya bergetar karena takut, takut jika Almira benar-benar sudah menyusul Arsyil di surga. Mereka masih menyusuri jalan setapak di tengah makam, Arsyad menghentikan langkahnya saat tiba di salah satu makam tujuannya. Sebuah makan dengan Nisan bertuliskan nama Almira.
Wajah Annisa memucat seketika, saat Arsyad mengusap dan mencium nisan Almira. Tangis Annisa kembali pecah, begitupun Shifa dan Dio. Mereka memeluk Arsyad dan menangis di pelukan Arsyad karena melihat nama di nisan tersebut adalah nama budhe nya.
"Papah, Kak Arsyad."ucap Annisa dengan suara gemetar.
"Almira sudah tenang di surga, dia meninggalkan kami sudah satu tahun lebih, Annisa."ucap Arsyad.
Tubuh Annisa melemas, seketika tubuh dia terduduk di samping makam Almira, air matanya semakin deras mengalir. Dia tak bisa berkata-kata lagi, hanya bisa merutuki dirinya sendiri karena dia sudah terlewat egois.
"Seharusnya aku pulang, saat Kak Mira menginginkan aku pulang, harusnya aku tak menghindari kalian semua, aku bodoh, aku jahat sekali, maafkan aku Kak Mira, maafkan aku."ucap Annisa dalam hatinya.
"Kak, maafkan Annisa,maafkan Annisa, harusnya saat Kak Mira menginginkan Annisa pulang, Annisa pulang. Maafkan Annisa, kak. Maafkan Annisa."tangisan Annisa semakin meledak, dia hanya bisa mengatakan kata maaf dari bibirnya. Rico memeluk Annisa dan menyandarkan kepala Annisa di dadanya.
"Papah, Annisa egois, Annisa jahat, pasti Kak Mira benci dengan Annisa, karena tidak menuruti permintaan Kak Mira saat Kak Mira menyuruh Annisa pulang. Maafka Annisa pah, maafkan Annisa."ucap Annisa dengan terisak.
"Sudah, ini bukan salahmu, nak. Ini semua sudah takdirnya, kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri." Rico mencoba menenangkan hati Annisa.
"Nis, sudah jangan menangis, itu sebabnya kami memaksa Rere untuk menghubungi kamu, Nisa. Kami sering memaksa Rere, tapi kontak kamu di hubungi sudah sekali, Nis."ucap Shita.
"Sudah, Nis. Jangan salahkan dirimu, jangan menangis lagi. Tenangkan dirimu." Rachel memeluk Annisa yang masih melemah.
Suara Isak tangis juga terdengar dari Shifa dan Dio. Mereka merasa kehilangan sosok yang ia sayangi dan ia kagumi, terlebih Shifa. Dia kesedihan terlihat begitu mendalam pada diri Shifa.
"Sudah ya sayang, budhe sudah tenang di surga, jangan di tangisi, kasihan budhe mu, kita doakan budhe saja ya, sayang." Arsyad mengusap kepala Shifa dan mencoba menenangkan shifa.
"Pakde, Shifa kangen budhe, tapi budhe sudah tidak ada. Shifa sering bertemu budhe hanya lewat mimpi, pakde. Sering sekali budhe hadir di mimpi Shifa. Mengajak Shifa bermain, bersama bunda dan pakde. Tapi setelah budhe puas memeluk Shifa, budhe pergi meninggalkan Shifa, bunda dan pakde."ucap Shifa denan Isak tangisnya.
"Itu berarti budhe bahagia di surga, apalagi kalau Shifa tidak sedih lagi, pasti budhe lebih bahagia di sana. Sudah jangan menangis lagi ya, sayang." Arsyad mencium kepala Shifa.
Saat Shifa sudah agak tenang kondisinya, Arsyad mengajak mereka pulang setelah mendoakan Almira. Annisa masih saja terpaku di samping nisan Almira.
"Kak Mira, jadi selama ini, Kaka hadir dalam mimpi Annisa karena kakak sudah pergi meninggalkan Annisa, Kak maafkan Annisa, maafkan Annisa di saat-saat terakhir Kakak, Annisa tidak ada di samping kakak. Annisa janji tidak akan pergi lagi, Annisa akan menjaga dan menyayangi Najwa juga Raffi seperti Annisa menyayangi Dio dan Shifa."gumam Annisa dalam hati.
Air mata Annisa berhasil Lolos dari sudut matanya lagi, dia kembali mengingat masa-masa indah bersama Almira. Annisa memang dekat sekali dengan Almira, saat ia ingin ke mana-mana pasti mengajak Almira. Banyak yang bilang wajah Almira hampir mirip dengan Annisa.
"Annisa, ayo pulang, kamu butuh istirahat, kamu baru saja sampai di sini, istirahatlah di rumah papah, menginap saja dulu, sambil menunggu rumah kamu di bersihkan."ucap Rico.
"Iya, pah."ucap Annisa.
Rico menunda Annisa untuk bangun dan berjalan memapah Annisa masuk ke dalam mobil. Annisa terus memeluk Najwa dan menangis, dia mengusap kepala Najwa dan mencium kepala Najwa.
"Kenapa nasib anak-anak kita sama, kak. Anakku besar tanpa seorang ayah, dan anak kakak tanpa seorang ibu, kak, andaikan waktu bisa kuputar kembali, aku akan menemani saat-saat terakhir Kakak. Maafkan Nisa, kak."gumam Annisa dalam hati.
"Tante…"panggil Najwa.
"Iya, sayang, ada apa?"tanya Annisa.
"Jangan pergi lagi ya, jangan tinggalin Najwa lagi, Shifa, jangan tinggalin kak Najwa lagi ya?"pinta Najwa dengan meneteskan air matanya.
"Iya, Tante tidak akan meninggalkan kamu dan Raffi lagi, nak. Kalian anak Tante, kalian boleh menganggap Tante ibu kalian. Sudah jangan menangis, maafkan Tante."ucap Annisa.
"Kak Najwa, kami tidak akan pergi lagi, kami mau di sini dengan Kak Najwa. Sudah, kakak jamgan menangis lagi, ya."ucap Shifa.
"Janji ya, Shifa."pinta Najwa.
"Iya , kak. Kakak jangan sedih lagi, ya kak. Shifa sayang sama Kak Najwa."ucap Shifa.
Rico melihat kedekatan Najwa dan Annisa, dia semakin yakin jika Annisa mau mengabulkan permintaan terakhir Almira.
"Andai kamu tau, Nis. Almira menitipkan Arsyad dan anak-anaknya pada kamu, dia menginginkan kamu bersatu dengan Arsyad. Tapi papah tidak yakin dengan hati kalian, cinta kalian pada pasangan kalian sangat kuat."gumam Rico.
"Najwa begitu dekat sekali dengan Annisa, padahal dia sering dengan Shita, tapi aku melihatnya ikatan batin mereka sangat kuat sekali."gumam Arsyad.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
♥️happy reading♥️