THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 94


__ADS_3

Satu Minggu telah berlalu, Mira sudah kembali ke rumahnya setelah satu minggu menghabiskan waktu di Villa bersama suaminya. Dia semakin banyak mengatur suaminya dalam segala hal, entah itu pakaian yang harus di pakai Arsyad, atau bahkan parfum. Dan, Arsyad harus menuruti semua permintaannya, jika tidak pasti dia akan ngambek seharian.


Arsyad sudah terlihat sudah selesai mandi, dia keluar kamar mandi dengan menggunakan kaos oblong dan celana pendek. Arsyad mengeringkan rambutnya dengan handuk yang di pegangnya. Almira sibuk menyiapkan baju untuk suaminya.


"Sayang pakai kemeja yang ini ya?" Almira menunjukan kemeja untuk Arsyad.


"Yang Navi saja sayang, itu kemeja sudah lama, kalau di pakai kesempitan di badanku."sahut Arsyad sambil mengeringkan rambutnya.


"Jangan ini saja yang pakainya."ucap Almira.


"Sayang, masa aku mau pakai baju yang ketat sih, ini sudah agak sempit sayang di badanku. Iya kemejanya masih bagus, tapi terlalu sempit." Arsyad mendekati istrinya dan membelai lembut pipi nya.


"Aku ingin kamu pakai kemeja ini, mas."ucap Almira lirih karena Arsyad menolaknya memakai kemeja yang di pilihnya.


"Iya, iya aku pakai ini, sudah jangan cemberut, senyum dong. Coba kasih senyum yang cantik buat suami mu ini."ucap Arsyad sambil mengecup kilas bibir Mira. Almira memberikan senyum manisnya pada Arsyad, dia senang Arsyad mau memakainya.


Arsyad mengambil kemeja di tangan Almira dan memakainya. Iya benar, kemeja itu agak ketat di pakai Arsyad, tidak ketat sekali sih, cuma agak kekecilan saja. Dan, Arsyad tidak suka memakai pakaian yang agak ketat seperti yang sekarang dia pakai.


Kemeja berwarna hitam sudah melekat di badan Arsyad, Almira tersenyum melihat suaminya memakai kemeja yang di pilihkan. Dia memeluk Arsyad yang sedang mengancing lengan kemejanya.


Arsyad membalikan tubuhnya dan berhadapan dengan istrinya. Arsyad memeluk istrinya erat, Almira membalas pelukan Arsyad erat


"Sudah puas meluknya?"tanya Arsyad.


"Iya, ayo mas sarapan."ajak Mira. Arsyad mengiyakan ajakan istrinya untuk sarapan. Sebelum keluar kamar Arsyad mengambil parfumnya, tapi dia tak menemukan parfum favoritnya.


"Parfumku mana sayang?"tanya Arsyad.


"Sudah aku buang, baunya menyengat sekali mas, setiap aku mendekat ke meja rias pasti bau parfum kamu. Itu pakai parfum aku saja."ucap Mira tanpa rasa bersalahnya, padahal Arsyad baru saja membelinya dan baru di pakai satu kali.


"Ya Allah sayang, itu parfum baru aku beli lho, kenapa tidak bilang mau membuangnya, kalau bilang kan aku bisa memberikan pada Arsyil atau papah."ucap Arsyad dengan nada sedikit meninggi.


"Maaf, aku tidak suka baunya mas, jadi aku buang."ucap Mira dengan nada rendah dan matanya berkaca-kaca. Arsyad mendekatinya dan mengangkat dagu Almira, dia menatap tajam istrinya, seketika air mata Mira menetes.


"Hei, kok nangis, jangan menangis, iya aku tidak apa-apa parfumku di buang, iya aku pakai parfum kamu sayang. Sudah jangan menangis." Arsyad memeluk Almira, dia sangat menyesal berbicara dengan nada sedikit tinggi.


"Maafkan aku sayang, aku kaget saja kamu bilang membuang parfumku. Sudah ayo sarapan, jangan menangis lagi, okey. Nanti cantik dan manismu hilang, senyum dong."rayu Arsyad pada istrinya.


Almira tersenyum lalu memeluk suaminya,l dan menenggelamkan wajahnya di dada Arsyad.


"Ya sudah ayo sarapan."ajak Mira.

__ADS_1


Arsyad sudah sampai di kantornya, dia risih sekali memakai kemeja yang agak ketat, yang menampilkan dada bidangnya, untung dia ada jas di mobilnya jadi bisa menutupinya dengan jasnya. Dia berjalan menuju lift, saat itu juga Arsyil buru-buru unik masuk ke dalam lift. Mereka akhirnya bersama di dalam lift.


"Tumben kak pakai jas, biasanya kalau pakai pakai


jas pas ada meeting dengan tamu penting, sepertinya hari ini tidak ada meeting dengan Klien penting."tanya Arsyil.


"Nanti aku jelaskan, Shita sudah pulang dari Bali?"ucap Arsyad.


"Belum kak, betah amat dia di Bali, paling lihat pantai saja."


"Kamu seperti tidak tahu Shita, dia suka sekali dengan pantai, apalagi di sana dengan suaminya. Nanti kamu juga merasakan kalau sudah menikah. Mira saja tidak mau pulang waktu di Villa, dia sampai merengek minta ke sana lagi."jelas Arsyad.


"Kenapa tidak nanti saja pulangnya?"tanya Arsyil.


"Pekerjaan ku bagaimana kalau aku tidak pulang Syil, aku juga harus berbagi dengan pekerjaan dengan kantor Abah."ucap Arsyad.


Mereka keluar dari lift dan langsung memasuki ruangannya masing-masing. Arsyad membuka jas nya dan duduk di kursinya, dia menunggu Ray membawakan kemeja untuknya. Tak lama kemudian Ray masuk ke dalam ruangan Arsyad.


"Ini yang membuat kamu meminjam kemejaku?"tanya Ray.


"Iya, mana kemejanya Ray."ucap Arsyad.


"Kenapa bisa seperti ini Syad?"tanya Ray.


"Kak, kenapa kakak memakai kemeja kerak sekali."ucap Arsyil yang tiba-tiba muncul.


"Ya seperti ini kalau menuruti wanita yang sedang hamil. Menolak salah, di pakai jadi tersiksa seperti ini."ucap Arsyad sambil membuka kancing bajunya dan berganti dengan kemeja Ray yang tadi di pinjamnya.


"Siapa yang hamil Syad?"tanya Ray


"Iya kan siapa yang hamil."Arsyil menimpalinya.


"Istriku lah, siapa lagi."ucap Arsyad sambil mengancing kemeja Ray yang sudah di pakainya.


"Jadi Almira hamil?"tanya Ray


"Kak Mira hamil kak?"tanya Arsyil juga.


"Iya, kemarin waktu aku menyuruhmu mendaftarkan di dokter kandungan itu, aku langsung ke sana sebelum berangkat ke Villa, dan ternyata Almira benar-benar hamil. Maaf aku belum sempat memberitahu kamu Ray. Aku sangat bahagia waktu itu."jelas Arsyad.


"Iya aku juga lupa mau bertanya lagi padamu, Syad. Naura kemarin merengek sekali minta makan soto favoritnya, giliran sudah beli, dia tak mau makan hanya di lihat saja. Aneh bukan?"ucap Rayhan.

__ADS_1


"Begitulah nikmatnya kalau istri sedang hamil. Kadang mood nya baik kadang sangat buruk sekali."ucap Arsyad.


"Wah, kak selamat ya, aku mau jadi om."ucap Arsyil yang dari tadi diam karena Ray dan Arsyad membicarakan istri mereka yang sedang hamil muda.


"Iya Syil, tapi kakak bingung, Almira jadi suka cengeng kalau kakak tidak menuruti apa maunya."ucap Arsyad.


"Nikmati saja Syad. Memang seperti itu, parfum kamu ganti Syad, beda wanginya."ucap Ray.


"Ya itu, aku memakai parfum Almira, parfumku di buang katanya baunya tidak enak, padahal baru saja aku beli. Aku turuti saja, dari pada jadi dia mewek."jelasnya.


"Apa seperti itu kalau wanita hamil?"tanya Arsyil.


"Ya beda-beda Syil, kamu yang mau menikah, harus belajar."ucap Ray.


"Belajar apa? belajar bikin anak?"ucap Arsyil dengan candaannya.


"Iya sana belajar, sudah aku mau kerja dulu"ucap Ray sambil keluar dari ruangan Arsyad dan di ikuti Arsyil juga.


Sementara di rumah, Almira terlihat sudah selesai dengan pekerjaannya, dia menelfon suaminya, memberitahukan nanti sepulang kerja dia ingin ke rumah Abah. Arsyad mengiyakan permintaan istrinya di balik telfonnya. Sejak dia hamil, dia tidak bisa mengontrol pola makannya, dia sudah menghabiskan tiga buah apel dan roti selai coklat favoritnya. Iya, tubuh Almira kini sudah berubah menjadi lebih berisi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


♥️happy reading♥️


__ADS_2