THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
Bab 46


__ADS_3

Arsyad menemui papahnya di teras belakang rumah nya, beliau terlihat sedang membaca surat kabar dan menikmati teh di sore hari. Arsyad duduk di samping papahnya.


"Pah, nanti Vino mau menemui papah."


"Jam berapa? Ada apa Vino mau menemui papah?tanya Rico.


"Dia ingin melamar Shita, minggu depan Shita ulang tahun kan?"


"Oh...iya Shita minggu depan ulang tahun, papah hampir saja lupa, bisa ngambek berhari hari dia kalau papah lupa. Terus kapan Vino mau melamar Shita."


"Ya pada saat itu pah, nanti biar Vino yang bicara langsung saja dengan Papah."


"Ya sudah, papah.tunggu dia datang ke sini. Kamu suka dengan putri om Rizal?"


"Ya seperti itu pah, apa papah menyetujuinya?"


"Tergantung, jika putri om Rizal bisa menerima mu papah setuju. Kalau tidak, ingat kata om Rizal, jangan memaksakan jodoh Syad." Jelas Papah Rico.


"Iya pah."


"Syad kamu jangan terlalu berharap pada manusia, berharaplah pada Allah, kamu kan lama di Kairo, kamu harusnya tau itu."jelas Rico.


"Iya papah, Arsyad mengerti,terima kasih papah sudah mengingatkan Arsyad. Arsyad ke kamar dulu pah."


"Iya Syad, tolong panggilkan ibu nak."


"Iya pah."


Arsyad masuk ke dalam rumah, sebelum masuk ke dalam kamarnya dia memanggil ibunya dulu untuk menemui papahnya.


"Bu...di panggil papah di teras belakang."


"Oh iya syad. Shita belum pulang?"


"Belum bu, dia kemana?"


"Pergi sama Rachel."


"Paling pulang malam nanti."


"Kebiasaan mereka kalau sedang keluar lupa sama waktu."


"Biarlah bu, mereka sehari hari juga sibuk, Shita sibuk kerja dan Rachel kuliah."


"Iya Syad, ya sudah ibu menemui papah dulu."


"Iya, Arsyad ke kamar dulu bu."


Arsyad masuk ke kamarnya, saat akan masuk ke kamar tiba tiba Arsyil memanggilnya.


"Kak, sibuk tidak?"


"Tidak, kenapa Syil."


"Aku mau bicara sama kakak sebentar."


"Ya sudah ke kamar kakak saja Syil ayo."


"Ya kak."


Arsyil berjalan di belakang Arsyad menuju kamar Arsyad.


"Ada apa Syil, sepertinya penting sekali?"tanya Arsyad.


"Minggu depan kak Shita ulang tahun kan kak? Kita buat kejutan yuk kak? Tapi jangan bilang bilang kak Shita."


"Boleh boleh, terus apa rencanamu?"


"Jadi gini kak........."


Arsyil menjelaskan rencana kejutan untuk ulang tahun Shita.


"Gini saja Syil, nanti sehabis maghrib kan Vino ke sini, kita bicarakan juga dengan Vino,papah dan Ibu. Mumpung Shita sedang pergi dengan Rachel, dia pasti pulangnya malam kalau pergi dengan Rachel."jelas Arsyad.


"Oke kak."jawab Arsyil.


Arsyil melihat tasbih milik Arsyad yang kemarin di cari Arsyad.


"Kak ini sudah ketemu tasbihnya, ketemu dimana?"


"Di masjid, Mira yang menemukan."


"Mira? Siapa Mira kak?"


"Itu anak dari pak Fajri, pemilik perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan papah."


"Ohh...cantik gak kak?"


"Kalau cantik kenapa Syil?"tanya Arsyad.


"Ya barangkali kakak suka."jawab Arsyil


"Mana aku tau dia cantik atau tidak Syil, dia bercadar."


"Apa kak bercadar?"


"Iya, kenapa?"


"Cocok tuh sama kakak."


"Kamu seperti Shita saja bilangnya"


"Ya sudah kak, aku mau ke kamar dulu, jangan lupa nanti bahas ideku ini dengan papah, ibu dan kak Vino."


"Oke."jawab Arsyad.


Arsyil keluar dari kamar Arsyad dia kembali ke kamar nya.


♥♥♥♥


Malam harinya Vino sudah datang di rumah Papah Rico, dia sedang mengobrol dengan Arsyil dan Arsyad.


Rico dan Andini masih di kamar nya, mereka baru saja selesai sholat isya.


"Pah ayo keluar, Vino sudah menunggu." ajak Andini


"Iya bu sebentar, ambilkan kaos papah bu."


Andini mengambilkan kaos favorit suaminya untuk bersantai di rumah.


"Ini pah."


Rico memakai kaos yang di ambilkan Andini.


"Ayo kita keluar pah."


Andini dan Rico keluar dari kamarnya, mereka menuju ruang tamu, di sana sudah ada Arsyad, Arsyil dan Vino.


"Malam Vin, maaf membuatmu lama menunggu." sapa Rico.


"Iya om tidak apa apa." ucap Vino.


Mereka sudah berkumpul, kecuali Andini yag sedang membuatkan mereka teh.


Mereka mengobrol sambil menungu Andini membuatkan teh. Tak lama kemudian Andini terlihat membawakan teh untuk mereka dan dirinya juga membawakan cemilan.


"Vino tehnya di minum dulu nak."suguh Andini


"Iya tante, terima kasih."


Vino meminum teh yang di suguhkan Andini. Begitu pula Rico dan lainnya juga meminum teh nya masing masing.


"Om, tante, sebenarnya kedatangan Vino kesini untuk berbicara serius mengenai Shita, apakah Om mengizinkan jika Vino melamar Shita."ucap Vino.

__ADS_1


"Iya om tau, Arsyad tadi bilang sama Om. Kalau kamu benar-benar menginginkan Shita, om titip Shita untuk hidup denganmu, dia satu-satunya anak perempuan om. Bimbing dia menjadi lebih baik Vin."ucap Rico.


"Itu pasti om, jadi om mengizinkan Vino melamar Shita?"


"Iya, tentu saja, om sudah tau siapa kamu, bagaimana kehidupanmu sekarang dan Alm.orang tuamu. Om tidak khawatir memberikan anak perempuan om pada kamu Vin."


"Terima kasih om." Ucap Vino sambil berlutut mencium tangan Rico.


"Iya Vino sama sama, bangunlah nak jangan seperti ini."ucap Rico.


Vino lega sekali, papah Rico menhizinkan dirinya untuk melamar putri kesayangannya.


"Lalu kapan rencanamu melamar Shita nak?"tanya Andini.


"Minggu depan Shita ulang tahun, rencan Vino melamar saat Shita ulang tahun Bi."jawab Vino.


"Tepat sekali." Ucap Arsyil.


"Maksudmu Syil?"tanya Vino dan papah Rico.


"Gini, tadi Arsyil dan kak Arsyad sudah merencanakan ingin membuat kejutan untuk kak Shita saat ulang tahun, ini waktu yang tepat untuk memberi kejutan, apalagi Kak Vino mau melamar Kak Shita. Tepat sekali kan?" Jelas Arsyil.


"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Arsyad.


"Jadi seperti ini kak saat nanti Kak Shita ulang tahun................" Arsyil menjelaskan rencananya.


"Bagaimana menurut kalian?"tanya Arsyil


"Ide kamu itu oke juga Syil." Ucap Papah Rico.


"Siapa yang ngajarin kamu seperti itu Syil?"tanya ibunya


"Gak ada yang ngajarin,hehehe.. jadi gimana Kak Vino.?"


"Boleh juga rencanamu itu. Aku setuju." Vino menyetujui rencana Arsyil.


"Baik, tinggal kita persiapkan saja dari sekarang."ucap Arsyil


"Memang adik ku satu ini tak pernah kehabisan akal untuk masalah seperti ini."ucap Arsyad.


"Iya dong, adiknya siapa dulu."ucapnya sambil tertawa.


Mereka melanjutkan berbincang bincang hingga Shita pulang.


Shita masuk ke dalam rumah nya, dia terkejut melihat mereka berkumpul di ruang tamu dan juga ada Vino di rumahnya.


"Kak Vino, sejak kapan kak Vino di sini?"tanya Shita.


"Dari tadi Ta, habis isya, kamu dari mana Ta?"


"Nemenin Rachel ke butik cari baju."


"Terus kami juga beli?"tanya Andini.


"Hehehe.....iya bu."jawab Shita sambil tersenyum.


"Sayang, kamu baju beli lagi...beli lagi.....tapi yang kamu pakai hanya itu itu saja."ucap Andini.


"Habis ini cantik sih mah, ya sudah Shita ke kamar dulu mau menaruh ini."


Shita pergi ke kamarnya untuk menaruh barang belanjaannya.


"Perempuan pasti seperti itu."ucap Rico.


"Siapa bilang ibu tidak tuh pah."sahut Andini.


"Kata siapa?"


"Memang ibu tidak seperti itu kok."


"Yakin?"


"Iya lah..."


"Terus kenapa kalau tidak pah?"


"Ya jangan marah udah, nanti cantik nya ilang ibu sayang, kalau seperti itu."ucap Rico sambil membelai pipi Andini di depan Arsyad, Arsyil dan Vino.


Arsyad, Arsyil dan Vino hanya tersenyum dan mengelengkan kepala melihat Rico dan Andini seperti itu.


"Papah sama ibu seperti anak muda saja."ucap Arsyad


"Gak apa apa dong kak,nanti kakak juga merasakan kalau sudah menikah."sahut Arsyil.


"Benar kata Arsyil, nanti kamu juga akan merasakan nya Syad." Ucap Rico.


Shita keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke ruang tamu. Dia duduk di sebelah papahnya.


"Oh iya Syil novel kakak udah di balikin sama pacarmu?"


"Sudah kak dari kemarin, tuh di kamar, Arsyil taruh meja."


"Ya sudah kakak ambil ya?"


"Iya sana ambil saja."


Shita kembali masuk ke dalam menuju kamar Arsyil. Dia masuk ke dalam kamar Arsyil untuk mengambil novel nya.


Shita mengambil novel miliknya di meja Arsyil, Shita melihat ponsel Arsyil yang menyala karena ada notif pesan masuk. Begitu terkejutnya Shita melihat foto Annisa bersama Arsyil di ponsel Arsyil.


"Annisa, apa ini cewek Arsyil?"ucapnya lirih.


Shita memberanikan diri membuka ponsel Arsyil, beruntungnya ponsel Arsyil tidak menggunakan sandi.


Dia membuka buka galeri ponsel Arsyil, melihat semua foto foto Arsyil, dan ya, foto Annisa sangat banyak di ponsel Arsyil, pada saat mereka berdua di bengkel, di kampus Arsyil, pada saat touring semua Shita lihat.


"Ya Allah, ujian apa ini, kenapa kakak dan adik ku mencintai satu wanita yang sama. Kak Arsyad, kenapa kekeh ingin mendapatkan Annisa, jika mereka tau bahwa wanita yang mereka cintai adalah wanita yang sama bagaimana. Apa aku harus bicara pada Papah dan ibu. Aku bingung sekali. Ya Allah tunjukan jalan untuk masalah ini." Ucap nya lirih.


Tanpa sadar Shita meneteskan air matanya, dia tidak mau kakak dan adik yang dia sayangi bertengkar karena wanita.


Shita mengembalikan ponsel Arsyil ke tempat semula. Dia keluar dari kamar Arsyil dan menuju ke ruang tamu lagi.


Shita menata hatinya kembali agar terlihat seperti biasa, Shita kembali duduk di samping papahnya, dia menyandarkan kepalanya di bahu papahnya.


"Pah, waktu dulu papah tau kalau wanita yang om Bayu cari dan Om Bayu cintai adalah ibu, perasaan papah bagaimana?"tanya Shita yang tiba tiba mengagetkan semua orang yang ada di dekatnya.


"Kenapa tiba tiba kamu bicara seperti itu?"ucap Rico.


"Emmm tidak apa apa cuma pengan nanya saja, jawab dong pah."ucap Shita kembali dengan nada yang melemah.


"Kamu mau tau dulu papah bagaimana saat tau om Bayu itu mencintai ibu?"tanya Andini pada Shita.


"Iya bu."jawab Shita


"Papah mau ninggalin ibu sama kakak mu Arsyad."ucap Andini sambil melirik Rico di sampingnya.


"Ih....siapa yang mau meninggalkan kamu sayang, itu kan karena papah cemburu, papah sebenarnya gak rela Bayu mencintai ibu mu, dan ternyata dia malah kakak kandung mamah mu."jelas Rico.


"Oh seperti itu, ya sudah Shita mau ke kamar dulu." Shita pamit ke kamar dengan wajah yang tidak ceria seperti biasanya.


"Kenapa kak Shita pah."tanya Arsyil yang melihat kakak nya berlaku aneh.


"Mana papah tau. Apa ada masalah denganmu Vino?"tanya Rico pada Vino.


"Masalah? Tidak om, kenapa Shita ya, aku juga heran tadi dia ceria, tiba tiba seperti itu."ucap Vino.


"Shita biasa seperti itu, nanti aku coba tanya pada dia."sahut Arsyad.


"Yang penting rencana ini jangan sampai kak Shita tau."ucap Arsyil.


"Iya benar Syil. Om Vino pamit dulu sudah malam, sampaikan salam Vino untuk Shita. Tante, Vino pamit dulu ya."Vino pamit dari Rumah Rico.


"Iya Vin hati hati nanti om sampaikan."

__ADS_1


"Hati hati nak Vino."ucap Andini.


"Iya om, tante. Ayo Syad, Syil aku Pamit pulang dulu."


"Iya hati hati kak."ucap Arsyil.


"Hati hati ya Vin."ucap Arsyad.


"Oke. Asslamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."jawab mereka semua.


♥Shita♥


Aku masuk ke dalam kamarku, seketika air mataku mengalir deras dari mata ku. Aku tak mengerti kakak dan adik ku akan mencintai satu wanita.


"Aku sayang kalian, aku tak mau kalian bermasalah hanya satu wanita. Kak Arsyad, Arsyil...kenapa harus kalian, tidak orang yang di luar sana." aku berkata lirih dengan menangis.


Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, aku masih memikirkan Kakak dan Adik ku. Memang ini bukan urusan ku, ini urusan mereka, tapi aku tak mau kita yang baik baik saja menjadi terpecah.


♥♥♥♥♥


Andini terlihat bingung dengan sikap Shita barusan, dia mencoba menemui Shita di kamarnya.


"Shita, kamu sudah tidur?"panggil Andini dari balik pintu kamar Shita.


"Belum bu."jawabnya.


"Bisa ibu masuk sebentar?"pinta Andini.


"Oh iya bu sebentar."jawbanya.


Shita langsung menghapus air matanya, dia juga mencuci mukanya dulu ke kamar mandi, Namun tak dapat di sembunyika matanya yang sembab habis menangis.


Shita membuka pintu kamarnya.


"Ibu boleh masuk."


"Iya boleh bu."


"Kamu habis menangis Shita?"


"Tidak bu." Shita menundukan kepalanya.


"Jangan berbohong."ucap Andini dengan nada menekan.


"Ibu...."tangis Shita kembali pecah.


"Kamu kenapa Shita, jelaskan pada ibu."


"Tapi janji jangan bilang kak Arsyad dan Arsyil. Ibu bisa panggil papah juga? Aku ingin cerita semua ini pada papah dan ibu."pinta Shita.


"Iya sebentar ibu panggil papah di kamar."


Andini keluar memanggil Rico yanh sudah berada di kamarnya.


"Pah...belum tidur kan? Shita mau bicara sebentar, tak tau dia kenapa tiba tiba menangis dan ingin bicara pada kita."ucap Andini.


"Dia menangis?"tanya Rico.


"Iya, ayo pah kita ke kamar Shita."


"Iya bu ayo."


Mereka pergi ke kamar Shita, dan setelah berada di kamar Shita, Rico melihat putri kesayangannya sedang menangis.


"Kamu kenapa Shita, cerita pada papah."ucap Rico.


"Pah, ibu tapi harus janji, jangan bilang kak Arsyad sama Arsyil."pinta Shita.


"Iya papah janji"


"Papah tau Annisa putrinya om Rizal?"


"Iya tau, kenapa sayang."


"Pah, dia kekasih Arsyil, dan papah tau kan kak Arsyad juga mencintainya. Shita takut, mereka akan bertengkar karena satu wanita pah, bu. Shita tidak mau Kakak dan Adik yang Shita sayangi terpecah karena wanita."ucap Shita dalam isak tangisnya.


"Kamu tau dari mana dia kekasih Arsyil?"tanya Rico.


"Tadi sewaktu Shita di kamar Arsyil mengambil novel Shita melihat ponsel Arsyil ada foto Annisa dan Arsyil pah, dan saat Shita buka galeri ponselnya, semakin jelas itu Annisa pah, bu. Ini lihat, tadi Shita mengirim foto foto mereka ke WA Shita." Shita menjelaskannya dan memperlihatkan foto foto Arsyil dengan Annisa.


*flasback on*


Saat Shita melihat foto foto Arsyil dia dengan cepat mengirimnya ke WA dia, untuk bukti saat berbicara dengan kedua orang tuanya.


"Aku harus mengambil foto foto ini, iya aku harus mengirim foto ini ke WhatsApp ku, untuk bukti saat aku menjelaskan pada papah dan ibu."


Shita mengirim foto foto Arsyil dan Nisa ke WhatsAppnya, dan setelah terkirim dia langsung menghapus chat nya.


*flasback off*.


Rico dan Andini melihat foto Arsyil dan Nisa, iya benar itu foto mereka.


"Ya Allah, mengapa seperti ini, mengapa ke dua putra ku harus mencintai satu wanita."ucap Rico sambil menatap foto Arsyil dan Nisa.


"Pah, tenangkan hati papah, semua masalah ada jalannya, dan kamu Shita, sudah jangan menangis lagi, Kak Arsyad dan Arsyil pasti bisa menyelesaikan nya baik baik, mereka sudah dewasa semua. Papah, Shita, ibu yakin mereka pasti akan mengerti satu sama lain, percayalah. Kalian jangan khawatir."ucap Andini mencoba menenangakan Shita dan suaminya.


"Iya ibumu benar Shita, sudah jangan menangis lagi, istirahatlah sudah malam." Rico memeluk putri kesayangannya yang masih menangis, dan mencoba menenangkannya.


"Papah janji ya jangan bilang Kak Arsyad dan Arsyil, ibu juga ya jangan bilang."ucap Shita yang masih berada di pelukan papahnya.


"Iya papah janji, kita ikuti saja alurnya bagaimana sayang"ucap Rico.


"Iya Shita, benar kata papah, ibu juga janji gak akan bilang pada kakak dan adikmu. Sudah malam istirahatlah, jangan terlalu di fikirkan lagi sayang."ucap Andini.


"Iya bu, terima kasih sudah mau mendengarkan apa yang Shita keluhkan."


"Itulah orang tua sayang, bukan sekedar untuk mendidik dan menegur anaknya saja, tapi memahami dan menjadi sahabat baik untuk anak anaknya."ucap Andini.


"Benar kata ibumu sayang, ayo istirahat, sudah malam, jangan bersedih lagi ya putri papah yang cantik."Rico menyeka air mata Shita dan mengecup keningnya.


"Iya pah...selamat malam ibu,papah selamat istirahat. Mimpi indah."ucap Shita.


"Mimpi indah juga sayang, apa mau papah bacakan dongeng sebelum tidur seperti dulu waktu kamu kecil?"ucap Rico sambil mencubit pipi Shita.


"Gak lah pah, Shita kan udah gede."ucapnya sambil tersenyum.


"Makanya kalau sudah gede jangan cengeng."ucap Andini sambil menoel hidung shita.


"Ih ibu...."


"Ya sudah tidur sayang, ibu dan papah keluar dulu ya."pamit Andini sambil mencium kening Shita.


"Iya ibu."


Rico dan Andini sudah keluar dari kamar Shita, mereka kembali ke kamarnya.


.


.


.


.


.


.


.


♥happy reading♥

__ADS_1


__ADS_2