
Arsyad dan Annisa mencium anak mereka, mereka pamit unik ke kantor lagi. Arsyad berjalan mendahului Annisa dengan langkah yang cepat. Annisa berjalan cepat mengikuti Arsyad ke parkiran mobil.
"Kakak, jangan cepat-capat jalannya, aku pke heels!"seru Annisa yang masih tertinggal jauh di belakang Arsyad.
"Siapa suruh pakai Heels,"tukas Arsyad sambil melipat kedua tangannya di atas perut.
Annisa bejalan cepat, dengan mulut yang tak henti-hentinya berbicara.
"Tidak ada yang menyuruh, aku memang suka pakai heels!"tukas Annisa di depan wajah kakak iparnya yang berdiri tegap di depan mobilnya.
"Masuk!"titah Arsyad.
"Ih, kasar,"tukas Annisa.
"Jiwa angkuh dan sombongnya keluar lagi nih orang, jangan kepedean aku akan jatuh hati padamu dan mau menikah denganmu, kakak iparku yang angkuh dan sombong! Kalaupun sampai terjadi menikah, itu karena anak-anaku dan anakmu juga."gumam Annisa dalam hati dengan wajah yang kesal dengan kakak iparnya.
"Kenapa diam?"tanya Arsyad.
"Memang aku harus bicara apa!"tukas Annisa.
"Kok kamu sewot,"tukas Arsyad.
"Yang sewot siapa, salah sendiri kasar,"tukas Annisa.
"Siapa yang kasar, memang jalanku cepat, memang aku bicaranya seperti ini, lantas apa yang di permasalahkan?"tanya Arsyad sambil memandangi wajah Annisa yang sudah murka pada dirinya. Annisa sedikit melirik tajam ke arah kakak iparnya itu.
"Tidak usah melirik,"tukas Arsyad.
"Kak, sebenarnya apa yang ingin kakak bicarakan? Kakak malah marah-marah tidak jelas,"ucap Annisa.
Arsyad membuang napasnya dengan kasar, dia menyandarkan dirinya di jok mobil.
"Aku tidak tau, apa maksud Almira meminta semua ini, aku juga tidak tau, kenapa anak-anak meminta aku dan kamu untuk menikah,"ucap Arsyad dengan mengusap kasar wajahnya.
"Aku juga tidak tau, kak,"ucap Annisa.
"Aku tidak bicara dengan kamu,"ucap Arsyad.
"Ya sudah, aku keluar, aku pulang pakai taxi,"tukas Annisa dengan membuka pintu mobilnya.
Arsyad menahan tangan Annisa, menyuruhnya agar tetap berada di dalam mobil.
"Jangan keluar, aku mau bicara,"ucap Arsyad.
"Tadi katanya tidak bicara dengan aku?"tanya Annisa.
"Kak, kita jelaskan kepada anak-anak, kalau kita tidak bisa menikah,"ucap Annisa.
"Iya, nanti kita akan jelaskan, nanti malam kamu masih menginap di rumah papah, kan?"tanya Arsyad.
"Iya, aku masih menginap di rumah papah, sampai rumahku selesai di tata lagi,"ucap Annisa.
Annisa kembali terdiam, Arsyad pun terdiam dengan menatap ke arah depan, hingga sampai saat ini, Arsyad belum melajukan mobilnya untuk pergi dari Caffe Shita. Mereka masih berada di dalam mobil yang masih berhenti di depan caffe, hingga Rico melihat mobil Arsayd yang masih di depan Caffe.
"Mereka ternyata bicara di dalam mobil, aku kira pergi ke mana."gumam Rico dalam hati.
^^^^^
Annisa masih memikirkan mereka yang menginginkan Annisa dan Arsyad menikah. Bahkan Annisa bingung dengan anak-anaknya yang bemar-benar menginginkan mereka menikah.
"Kenapa mereka menginginkan kita bersama, kak?"tanya Annisa.
"Aku tidak tau, Nis,"ucap Arsyad.
"Kak, kalau mereka memaksa?"tanya Annisa
"Terpaksa kita menikah,"jawab Arsyad.bisa
"Tadi kakak jawab apa?"tanya Annisa lagi.
"Terpaksa kita harus menikah sesuai permintaan mereka,"jawab Arsyad lagi.
"Kak, kamu sadar kan jawab gini?"tanya Annisa.
"Iya sadar, Nis. Sadar sekali,"jawab Arsyad.
"Kak, aku tidak bisa menggantikan Arsyil dengan siaapun dalam hatiku, aku sangat mencintainya, tidak ada cinta yang lain selain untuk Arsyil dan anak-anakku,"ucap Annisa.
"Sama, aku juga, hanya Almira wanita yang aku cintai, tidak ada yang lain selain dia, meskipun dulu aku pernah mencintaimu, tapi itu cinta yang salah,Dan satu lagi, cinta untuk kedua anakku,"ucap Arsyad.
"Lalu bagaimana?"tanya Annisa.
"Bagaimana? Aku juga tidak tau, mereka pasti terus menyuruh kita menikah, Nis,"ucap Arsyad.
"Iya, pasti Kak, merkeka pasti tetap menyuruh kita menikah,"ucap Annisa.
"Ya sudah kalau mereka memaksa, kita menikah, ini semua untuk anak-anak kita, mereka yang meminta. Kita akan menikah, tapi maaf jika aku tidak bisa menjadi suami sempurna untukmu,"ucap Arsyad.
"Iya, aku tau, tidak akan pernah ada cinta dalam pernikahan kita kak, yang ada hanya cinta untuk mereka, mereka berhak bahagia, karena bahagia anak-anak kita adalah melihat kita bersama, walau tidak ada cinta di antara kita,"ucap Annisa.
"Iya, benar Nis, kita tmpunya cinta, tapi hanya cinta untuk mereka, bukan untuk kita berdua,"ucap Arsyad.
"Jadi?"tanya Annisa.
"Iya, kita turuti apa mau mereka, apa kamu siap Annisa, menikah tanpa ada rasa cinta, menikah tapi tidak seperti pasangan suami istri pada umumnya yang saling mencintai dan saling memberikan cinta?"tanya Arsyad.
"Aku siap, kak. Demi mereka yang sangat aku cintai,"ucap Annisa.
"Kakak siap?"tanya Annisa.
"Iya, aku siap, maafkan aku, ini semua untuk mereka,"ucap Arsyad.
"Iya, maafkan Nisa juga, kak,"ucap Annisa.
"Kamu mau ke kantor lagi?"tanya Arsyad
"Iya, aku ke kantor lagi,"jawab Annisa.
"Kakak ke kantor juga, kan?"tanya Annisa.
"Iya, kakak akan ke kantor lagi, kakak antar kamu, nanti kakak jempu kamu pulang,"ucap Arsyad.
"Iya,kak,"ucap Annisa.
Arsyad melajukan mobil nya menuju ke kantor, tanpa mereka sadar ternyata sudah hampir setengah 5 sore,
"Kakak masih ada pekerjaan di kantor? Atau mau bertemu Lintang?"tanya Annisa yang baru saja melihat jam tangannya,
"Kenapa bawa-bawa Lintang?"tanya Arsyad.
"Kak, lihat sudah jam berapa?"tanya Annisa sambil menunjukan jam tangan yang melingkar di tangan Arsyad.
"Astaghfirullah, sudah sore ternyata, sudah setengah 5 sore, ya sudah kita cari masjid saja, kita sholat ashar, lalu kita langsung pulang," ucap Arsyad.
"Iya, kak," ucap Annisa.
"Ternyata perdebatan kita memakan banyak waktu, Nis,"ucoa Arsyad.
__ADS_1
"Hmmmpp,"jawab Annisa.
"Nis, kamu baik-baik saja,kan?"tanya Arsyad
"Iya, kak. Kak, setelah ke masjid, antar aku ke makam Arsyil,"pinta Annisa.
"Iya, nanti kakak antar,"ucap Arsyad.
Arsyad melajukan mobilnya ke masjid. Masjid yang dulu pertama kali bertemu Almira, Arsyad kembali mengingat Almira saat berada di masjid itu.
Annisa dan Arsyad keluar dari dalam mobil, Arsyad berjalan ke arah tempat wudhu pria, begitu juga Annisa berjalan ke tempat wudhu wanita yang bersebrangan jauh dari tempat wudhu pria.
Setelah Arsyad mengambil wudhu, Arsyad masuk ke dalam masjid dan melaksanakan sholat Ashar, setelah selesai sholat, dia duduk dan berdo'a. Arsyad mengingat Almira kembali, di setiap doanya, ia selalu menyebut nama mendiang istrinya.
"Ya Allah, jika memang aku harus menikah dengan Annisa, adik iparku, aku akan lakukan, demi anak-anakku dan anak-anak Arsyil. Almira, aku akan mengabulkan permintaanmu, sayang. Maafkan aku, aku menikahi wanita lain, itu semua karena kamu yang aku cintai dan anak-anak yang aku cintai juga."gumam Arsyad dalam hati.
Seketika bayangan Almira menghampiri lamunan Arsyad yang masih duduk di dalam masjid. Almira yang waktu itu menemui Arsyad dan mengembalikan tasbih miliknya.
*Flashback On*
"*Pak maaf, bapak yang mempunyai mobil ini?"tanya Almira.
"Iya benar, ada apa ya, mba?"tanya Arsyad.
"Syukur Alhamdulillah akhirnya saya bisa bertemu dengan bapak,"ucap Almira.
"Maksud mba?"tanya Arsyad penasaran.
"Maaf pak apa ini milik bapak?"ucap Mira sambil menunjukan tasbih milik Arsyad.
"Alhamdulillah, apa mba yang menemukannya? Iya ini milik saya, saya mencarinya dari kemarin. Terima kasih mba sudah mau mengembalikannya."ucap Arsyad.
"Saya menemukan ini kemarin, saat bapak sedang berjalan tasbih ini jatuh dari saku bapak, dan saya ambil lalu mengejar mobil bapak tapi mobilnya melaju sangat kencang, syukurlah saya bisa langsung mengembalikan ini pada bapak. Ini pak tasbihnya,"jelas Almira,
Almira memberikan tasbihnya pada Arsyad.
"Terima kasih ya mba, ini adalah peninggalan dari kakung saya mba. Sekali lagi terima kasih,"ucap Arsyad.
"Iya pak sama-sama, Alhamdulillah, saya sudah bisa mengembalikannya sebelum saya berangkat ke Kairo,"ucap Mira.
"Kairo?"tanya Arsyad penasaran.
"Iya, minggu depan saya akan ke Kairo melanjutkan S3 saya di Al Azhar."jawab Mira.
"Ohh, saya juga lulusan dari Al Azhar Kairo, mba,"ucap Arsyad.
"Ohh ya? Ya sudah pak, saya pamit pulang dulu." Almira pamit pulang.
"Iya mba, sekali lagi terima kasih. Mba boleh tau nama nya?"tanya Arsyad.
"Saya Almira, panggil saja Mira."
"Saya Arsyad, jangan panggil bapak lagi mba, panggil saja Arsyad,"ucap Arsyad memperkenalkan diri
"Ohh iya, saya pamit pulang dulu, Arsyad,"ucap Mira.
"Iya, hati hati Mira,"ucap Arsyad
"Assalamualaikum" ucap Mira.
"Wa'alaikumsalam" jawab Arsyad*.
*Flashback Off*
Arsyad terisak mengingat saat pertama bertemu Almira, dai tidak menyangka, dari sebuah tasbih menjadi ikatan suci cinta.
"Mira, kamu tega meminta aku menikahi Annisa, kamu tidak tau rasanya seperti apa, harus memenuhi permintaan terakhirmu pada Najwa dan Shifa. Sakit sekali Mira, sakit sekali. Arsyad kembali terisak.
Memang suasana masjid sepi sekali, hanya ada Annisa dan Arsyad. Annisa berada di shaf wanita dan Arsyad berada di shaf pria. Ruangan yang hanya di sekat memakai kain penyekat, membuat suara Isak tangis Arsyad begitu nyaring terdengar di telinga Annisa. Annisa mendengar semua yang di katakan Arsyad, dan dia akhirnya tau, masjid inilah yang menjadi saksi cinta Arsyad dan Almira.
"Kak, maafkan aku, aku hanya menjalankan keinginan terakhir Kak Mira dan anak-anak kita. Hatiku juga tetap mencintai mendingan suamiku, tidak akan pernah mencintai pria lain selain suamiku. Arsyilku, maafkan aku, aku akan menjadi istri kakakmu, ini semua demi Shifa dan Dio. Maafkan aku mengkhianatimu, Arsyil. Hingga ujung nyawaku, hanya kamu yang aku cintai."gumam Annisa. Dia menyeka air mata yang menerobos keluar dari sudut matanya. Sesak sekali rasanya dada Annisa, harus menikah dengan kakak iparnya, yang dulu pernah mencintainya. Tapi, sekarang hatinya hanya milik Almira, mendiang istrinya.
Annisa keluar dari dalam masjid, begitu juga Arsyad. Dia keluar dari dalam masjid dan mengajak Annisa pulang ke rumah.
Mereka sudah berada di dalam mobil. Annisa dan Arsyad saling memandang.
"Kamu habis menangis?"tanya Arsyad dan Annisa bersamaan.
Arsyad dan Annisa hanya terdiam dan saling menatap.
"Mata kamu sembab, kak,"ucap Annisa.
"Aku tau, kakak merindukan Kak Mira, kakak merasa bersalah dengan pernikahan kita nanti, aku juga sama, kak. Apalagi setelah aku menikah dengan kakak lagi, Arsyil sudah menjadi orang lain bagiku, dan tidak akan mungkin aku bertemu dengannya di surga nanti,"ucap Annisa dengan meneteskan kembali air matanya.
"Masjid ini, awal mula kakak mengenal Almira, kan?"tanya Annisa.
"Nis, maafkan kakak, ini demi anak-anak dan permintaan terakhir Almira. Kamu boleh mencintai Arsyad selamanya, aku tidak akan memaksa kamu mencintaiku, dan kamu harus sama, jangan paksa aku mencintaimu kembali seperti dulu, karena hanya ada Mira di dalam hati kakak, dia perempuan yang kakak cintai hingga sekarang, bahkan hingga ujung waktu kakak,"ucap Arsyad.
"Iya, masjid ini, menjadi saksi pertemuan kakak dengan Almira,"jawab Arsyad.
"Aku tidak akan memaksa seseorang untuk mencintaiku, kak. Yang paling penting anak-anak kita bahagia dengan pernikahan kita,"ucap Annisa.
"Kak, Antar aku ke makam Arsyil,"pinta Annisa
"Iya,"jawab Arsyad.
Arsyad melajukan mobilnya menuju ke pemakaman Arsyil. Arsyil di makamkan di samping makam Andini. Sesampainya di pemakaman Arsyil, mereka berjalan beriringan. Annisa bersimpuh di samping nisan suaminya, Arsyad meninggalkannya, dia mendatangai makam ibunya.
"Syil, maafkan aku maafkan aku, aku akan menikah dengan Kak Arsyad. Ini semua karena anak kita yang mau dan karena permintaan terakhir Kak Mira. Aku tau, setelah aku menikah dengan Kak Arsyad, kita tidak bisa berkumpul di surga. Karena aku sudah menjadi istri kakak mu. Maafkan aku, Syil. Aku mencintaimu, selamanya aku mencintaimu,"ucap Anmisa dengan Isak tangisnya.
Arsyad berdoa di samping makam ibunya, dia menetesak air matanya, sejak kepergian Andini, Arsyil dan Almira, Arsyad menjadi sangat rapuh, dan sekarang harus menerima kenyataan baru lagi. Dia harus menikahi adik iparnya, istri dari Almarhum Arsyil, adiknya.
"Bu, besok atau lusa, Arsyad akan menikah dengan Annisa, wanita yang dulu Arsyad cintai, tapi Arsyad tidak mencintainya lagi."gumam Arsyad dalam hati.
Arsyad bergantian duduk di samping makam Arsyil, dia mengusap nisan Arsyil. Arsyad melihat Annisa yang menangis di samping makam suaminya.
"Syil, maafkan kakak, ini demi anak-anak kamu dan anak-anakku, mereka yang menginginkan kita menikah. Aku tak akan mengambil cinta Annisa dari kamu, selamanya dia akan mencintaimu, Syil. Maafkan kakak, sayang. Kakak akan menjaga anak-anakmu, dan akan menjaga Annisa. Namun, kakak tidak akan pernah mencintainya,"ucap Arsyad dengan lirih.
Annisa mendengar apa yang Arsyad katakan, dia memang tak mengharapkan cinta Arsyad. Begitu juga sebaliknya, Arsyad tak akan mengharap cintanya. Dia merasa ragu menikah tanpa mencintai pasangannya.
"Apa aku bisa, hidup berumah tangga hanya untuk mereka, bahkan tidak ada rasa cinta, biarlah semua berjalan apa adanya. Aku mencintaimu, Arsyil,"gumam Annisa dalam hati.
^^^^^
Sudah hampir petang Annisa dan Arsyad baru sampai di rumah Rico. Najwa dan Shifa sedang duduk santai di teras rumah. Annisa keluar dari mobil Arsyad dan menyala mereka.
"Hai, anak bunda lagi pada ngapain?"tanya Annisa.
Najwa dan Shifa langsung memeluk Annisa yang baru saja sampai rumah.
"Kok bunda matanya sembab? Habis nangis ya?"tanya Shifa
"Iya, Tante habis nangis ya?"tanya Najwa.
"Tidak sayang, tadi cuma kena debu saja,"ucap Annisa berbohong
"Bunda bohong,"ucap Shifa.
__ADS_1
"Iya, Tante jangan bohong,"imbuh Najwa.
"Bunda tidak bohong, ayo anak bunda yang cantik-cantik ini, masuk ke dalam, karena hari sudah mulai petang,"ajak Annisa.
"Bunda? Apa Najwa boleh panggil Tante, bunda?"tanya Najwa.
"Tentu saja." Annisa memeluk Najwa dan Shifa. Arsyad mengembangkan senyuamannya melihat nnawa bahagia.
"Lalu, apa Shifa boleh memanggil pakde, Abah?"tanya Shifa.
"Tentu saja boleh, sayang. Sini dua gadis cantik Abah, peluk Abah." Shifa dan Najwa Menik Arsyad. Arsyad mencium kedua putrinya.
"Biar aku yang mengalah untuk mereka, iya mengalahkan egoku. Aku tak butuh cinta Kak Arsyad, yang aku butuhkan cintanya mereka pada kami. Iya, aku dan kak Arsyad."gumam Annisa yang melihat putrinya bahagia sekali menyebut Arsyad dengan sebutan Abah.
"Ayo masuk, mana Dio dan Raffi?"tanya Arsyad.
"Sedang di belkang, main bola,"ucap Najwa.
"Kalian sudah mandi?"tanya Annisa.
"Sudah dong, bunda,"jawab mereka.
"Ayo masuk,"ajak Annisa.
Mereka masuk ke dalam rumah, Arsyad menutup pintu depan, karena sudah mulai petang, Annisa masuk ke dalam.kamrnya untuk membersihkan diri, sedangkan Arsyad, dia menuju ke teras belakang memanggil Dio dan Raffi yang masih bermain bola di temani opanya. Arsyad duduk di samping Rico
"Dio, Raffi, kalian masih saja main bola, sudah petang, nak. Sini dekat abah!"seru Arsyad
"Abah, sudah pulang?"tanya Raffi.
"Sini duduk,"titah Arsyad. Dio dan Raffi duduk di samping Arsyad.
"Kalian pasti belum mandi,"ucap Arsyad.
"Iya, Dio belum mandi, pakde,"ucap Dio.
"Raffi juga belum,"ucapnya dengan tersenyum
"Jangan mandi malam-malam,"ucap Arsyad.
"Iya, ini mau mandi,"ucap Dio.
"Sana mandi dulu, mau Maghrib, nanti Abah mau bicara dengan kalian,"ucap Arsyad.
"Abah?"tanya Dio.
"Iya, Dio boleh panggil pakde dengan sebutan Abah, begitu juga Raffi, boleh panggil Tante Nisa dengan sebutan bunda,"tutur Arsyad
"Benarkah, pakde?"tanya Dio
"Iya, sayang. Sana berggaslah mandi, nanti malam abahbakan bicara dengan kalian semua,"ucap Arsyad.
"Siap, Abah!"ucap mereka dengan kompak.
"Akhirnya kita jadi kakak adek," ucap Raffi pada Dio
"Iya, kak. Ayo kak, mandi!"seru Dio.
Mereka masuk ke dalam untuk membersihkan diri, Arsyad masih duduk di kursi taman belakang dengan papahnya.
"Syad, apa kamu akan menikah dengan Annisa?"tanya Rico.
"Pah, demi anak- anak kami, kami akan segera menikah, ini juga keinginan Almira, pah,"ucap Arsyad.
"Alhamdulillah, akhirnya usaha papah tidak sia-sia,"ucap Rico.
"Maksud papah?"tanya Arsyad.
"Ya, papah sudah menunaikan janji papah pada Almira,endiang istrimu begitu memaksa papah untuk mencari Annisa, dan membawa Annisa pulang supaya menikah dengan kamu, bahkan Almira ingin sekali menyaksikan pernikahan kalian sebelum kepergiannya. Tapi, harapan itu musnah, karena semua kontak Annisa tidak bisa di hubungi. Almira akhiranya benar-benar memaksa papah, jika suatu hari Annisa pulang, papah harus menikahkan kalian berdua,"jelas Rico.
"Apa Almira benar-benar berkata seperti itu, pah?"tanya Arsyad.
"Dengarkan ini." Rico memberikan ponselnya yang ada rekaman suara Almira.
"Mas Arsyad, suamiku tercinta, maafkan aku yang tak bisa menemanimu hingga kita menua bersama, mungkin kamu akan mendengarkan ini setelah aku pergi dan tak akan pernah kembali. Mas Arsyad, meskipun singkat pertemuan kita ini, aku akan selalu mencintaimu hingga Tuhan mempertemukan kembali di surga. Mas, aku minta sesuatu pada mas. Aku benar-benar berharap kamu bisa menikah dengan Annisa. Dia wanita yang baik, yang bisa menjadi ibu untuk Najwa dan Raffi. Mas aku titip mereka, dan nikahilah Annisa, hanya itu yang ingin aku sampaikan dan yang sangat aku harapkan. Aku mencintaimu, mas." Begitu dari rekaman Almira.
Arsyad mengusap air matanya yang sudah jatuh membasahi pipi. Ternyata Almira benar-benar ingin sekali Arsyad menikah dengan Annisa.
"Almira sayang, aku akan mengabulkan permintaanmu, aku akan menikah dengan Annisa,"ucap Arsyad
Rico menepuk pundak Arsyad, dia mencoba menenangkan hati anaknya yang bemar-benar gundah.
"Kamu pasti bisa melewati semua ini, ayo masuk sudah mau maghrib, kamu juga belum mandi, kan?"tanya Rico.
"Iya, lah, ayo masuk." Arsyad dan Rico masuk ke dalam rumah.
Arsyad masuk ke kamarnya, dia masih memikirkan, apa bisa dia hidup satu atap dengan orang yang tidak mencintainya? Dalam hati ya bertanya-tanya seperti itu dari tadi.
"Apa aku bisa, hidup dengan Annisa yang tidak mencintaiku, dan aku juga tak mencintainya. Sudah ini semua demi anak-anak dan demi Almira, aku ikhals menikah dengan Annisa."gumam Arsayd dalam hati.
^^^^^
Di kantor Arsyad, Lintang masih menunggu Arsyad kembali ke kantornya, dari tadi dia bolak-balik bertanya pada Yulia kalau Arsyad sudah pulang apa belum, hingga Yulia agak sewot dibuatnya.
"Pak Arsyad belum pulang, kalau mau titip File taruh saja di sini, nanti aku serahkan, Lin,"tukas Yulia.
"Tidak nanti saja nunggu Pak Arsyad pulang,"ucapnya.
"Kamu mau nunggu Arsyad sampai besok? Ini sudah jam hampir jam 6 sudah usai jam kerja, gak mungkin dia balik, apa lagi sedang pergi dengan calon istrinya,"ucap Ray yang membuat Lintang semakin sakit hati. Sebenarnya Ray sangaja membuat Lintang seperti itu, biar dia tidak mengejar Arsyad terus.
"Makanya jadi cewek jangan kecentilan, kamu mah bukan level Arsyad, Lin,"gumam Rayhan
"Mba Yul, sudah selesai kan? Pulang yuk,"ajak Rayhan.
"Iya pak Ray, ini mau pulang, suami sudah jemput tuh,"ucap Yulia sambil menunjukan suaminya yang sudah berjalan mendekatinya memakai atribut lengkap, karena dia baru pulang bwrtugas.
"Duluan ya, Lin, ini kunci ruangan Pak Arsyad, Pak Ray." Yulia sengaja memberikan kunci ruangan Arsyad agar tidak di salahgunakan oleh orang lain.
"Oke, aku juga mau pulang, duluan Lin." Rayhan berjalan ke depan meninggalkan Lintang.
"Jadi Annisa calon istri Pak Arsyad?"gumam Lintang dalam hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
♥️happy reading♥️