
Sinar matahari nampak menyusup melalui celah jendela kamar. Dua insan sedang sibuk membenahi rasa yang masih menggebu dalam raganya.
Suara Rania memekik lirih saat Dio berhasil membuatnya melayang di udara sepagi ini.
Pergumulan hebat masih ia lakukan di pagi ini sejak tadi seusai Subuh. Mereka tak pernah absen sehari saja untuk tidak melakukan itu. Tubuh Rania kini sudah menjadi candu untuk Dio. Bahkan Dio tak bisa menahan hasratnya jika melihat lekuk tubuh Rania yang indah sedikit terpampang di depan matanya.
“Dio ....”
“Iya, sayang. Sebentar lagi,”
Dio menghentakkan gerakannya hingga membuat Rania sedikit menjerit menikmati gelenyar cairan hangat yang menerobos masuk ke dalam rahimnya. Dio memeluk tubuh Rania, dia masih berada di atas tubuh Rania yang polos. Ciuman hangat mendarat di kening Rania.
“Terima kasih, Sayang,” ucap Dio dengan mengecup setiap inci wajah Rania.
“Iya sayang. Kamu sudah puas?” tanya Rania.
“Sebenarnya masih ingin lagi, tapi kasihan kamu. Kamu sudah lelah sekali kelihatannya. Kita lanjut nanti lagi,” ucap Dio.
“Dasar nakal!” Rania memukul lirih dada Dio.
“Kamu juga mau kan, aku nakalin tiap hari?” ucap Dio dengan senyuman menggoda di depan Rania.
“Ya, memang kewajiban aku melayani kamu mau bagaimana lagi, Sayang? Aku juga membutuhkan asupan tenaga setiap hari dari kamu,” ucap Rania dengan mencium kilas bibir Dio yang masih berada di atas tubuhnya.
“Kan. Kamu juga nakal, aku jadi ingin lagi,” ucap Dio dengan menggoda Rania.
Tangan Dio mulai bergerilya lagi menyentuh setiap inci tubuh Rania yang masih berada di bawahnya. Tangannya menyentuh dan bermain di daerah yang sangat di sukanya.
“Hmmm .... Dio ... katanya sudah,” ucap Rania dengan suara parau.
“Kamu semakin menggoda setiap pagi, Sayang,” jawab Dio dengan membenamkan kepala di dada Rania. Bibirnya mulai bermain dan mengecup lembut bagian di dada Rania. hinga lenguhan Rania terdengar lirih di telinga Dio.
Rania menjambak rambut Dio dengan pelan. Dio masih bermain di dadanya dengan kecupan lembut dan gigitan kecil yang membuat Rania semakin melayang. Sudah ketiga kalinya Dio melakukannya dari sehabis Subuh.
Jari jemari Dio menyentuh lembut bagian yang sensitif milik Rania. Rania merasakan sentuhan lembut dari jari jemari Dio. Sesekali Rania merasakan jari jemari Dio menusuk lembut di bagian itu.
“Satu kali lagi ya, sayang?” pinta Dio dengan manja.
“Ehem ....” Rania hanya bergumam dan mengangguk menikmati sentuhan jari Dio yang semakin membuat dia melayang lagi. Rania lagi-lagi harus merasakan hujaman Dio yang lembut dan sesekali berubah menjadi semakin keras.
Dio meracau menikmati setiap gerakan tubuh Rania yang mengimbangi gerakan Dio. Rania semakin pandai mengimbanginya. Dio terus menggerakkannya hingga mencapai puncak untuk ketiga kalinya. Begitupun Rania.
“Sayang, please .... sudah, ya? Ini sudah siang sekali. Kita harus ke kantor, Sayang,” ucap Rania dengan suara terengah-engah setelah mencapai puncaknya.
“Iya, sayang. Kita juga harus bersiap-siap, kalau besok pagi kita harus ikut Kak Fattah, kan?” jawab Dio.
“Iya. Ayo mandi, gendong aku, aku lelah sekali. Kakiku kaku sekali untuk jalan,” pinta Rania dengan manja.
“Ayo aku gendong.” Dio menggendong Rania ke dalam kamar mandi.
^^^
Seusai mereka bersiap memakai baju untuk ke kantor, Rania dan Dio menuju ke meja makan. Setelah pulang dari Vila, Dio sengaja mempekerjakan asisten rumah tangga di rumahnya. Dia tidak mau Rania repot untuk memasak sebelum ke kantor. Apalagi dia selalu meminta jatah sehabis subuh hingga matahari terbit dan mengeluarkan hawa hangat di kamarnya. Jadi dia menyerahkan tugas dapur pada Asisten rumah tangganya.
“Pagi, Bi,” sapa Dio pada Bi Ipah.
“Pagi juga, tuan, nyonya. Silakan sarapan dulu,” jawab Bi Ipah.
“Terima kasih. Bibi sudah sarapan?” tanya Rania.
“Sudah, Nyonya. Dari tadi malah. Ya sudah bibi ke belakang,” jawab Bi Ipah sambil pamit ke dapur lagi.
Dio dan Rania menikmati sarapan paginya. Bagi Dio memang tak ada yang mengalahkan enaknya masakan istrinya. Tapi, dia tidak mau membuat Rania lelah dengan pekerjaan dapur. Rania sudah lelah di atas ranjang hanya untuk memuaskan dirinya yang tak pernah puas jika belum merasa lelah sekali. Rania juga sudah lelah dan pusing dengan urusan kantor, belum juga kalau ke luar kota untuk masalah proyek barunya. Jadi Dio menyewa Bi Ipah untuk mengurus urusan dapur dan lainnya.
Namun, kadang Rania memasak untuk Dio, karena dia tahu, Dio selalu lahap makannya jika dirinya yang memasak. Apalagi jika masakan favoritnya. Rania juga tahu tugasnya tidak hanya di ranjang saja untuk memanjakan Dio dan memuaskan Dio. Dia juga harus bisa bergelut di dapur meskipun Dio melarangnya dan harus melalui uring-uringan kecil saat dia memasak.
“Ran, hari ini aku sepertinya pulang agak sore, bahkan mungkin aku pulang sampai habis Maghrib. Aku harus menyelesaikan semua pekerjaanku sebelum ikut Kak Fattah. Aku juga harus mengajari orang suruhanku dulu, saat aku tidak di kantor,” ucap Dio.
“Iya, tidak apa-apa. Aku tunggu kamu menjemput di kantor saja. Aku juga harus menyerahkan semua pekerjaanku pada Astrid,” jawab Rania.
“Ya sudah, kita makan malam di luar saja. Nanti bilang Bi Ipah tidak usah masak,” ucap Dio.
“Oke,”
Mereka melanjutkan sarapan paginya. Dio sebenarnya tidak ingin menghabiskan sarapannya, karena perutnya sudah terasa penuh untuk menampung makanannya. Tidak seperti biasanya dia makan begitu lahap dan menikmati masakan Bi Ipah. Namun, pagi ini Dio merasa begah sekali perutnya.
“Kamu makan kenapa seperti itu? Dikit-dikit berhenti,” tanya Rania.
__ADS_1
“Perutku sudah kenyang sekali, Sayang,” jawab Dio.
“Aku mengambilkan nasi sama seperti kemarin, lho,” ujar Rania.
“Iya tahu, aku saja yang sudah merasa penuh perutnya,” ucap Dio.
“Ini kan masakan kesukaan kamu, Sayang?”
“Iya tahu, tapi aku sudah kenyang sekali. Aku minta apelnya saja, sayang,” pinta Dio.
Rania merasa aneh dengan suaminya. Biasanya setiap pagi dia makan dengan lahap dan menghabiskan sarapannya. Tapi, kali ini Dio tidak mau menghabiskan sarapannya. Padahal sarapannya rasanya enak, bahkan lebih enak dari masakan Rania.
“Ini sayang.” Rania memberikan beberapa potong apel pada Dio yang telah ia kupaskan. Rania kembali melanjutkan sarapnnya yang masih tersisa di piring.
“Duh Ran, ini perut rasanya enegh sekali. Penuh banget rasanya.” Dio mengusap perutnya yang rata. Dia merasakan perutnya benar-benar penuh.
“Kamu aneh, Sayang. Makanya jangan minta terus, kan jadi masuk Angin kamu. Itu pasti masuk angin kamu. Ngelembur terus,” ujar Rania.
“Kalau aku masuk angin, kamu juga harusnya masuk angin juga dong. Gak adil kalau hanya aku,” ucap Dio dengan nada kesal.
“Ih, kok sewot. Abang sensi ih, kayak cewek mau PMS,” ujar Rania.
“Gimana gak kesal coba, masa aku saja yang masuk angin. Kita melakukan bareng-bareng ya harusnya kita sama-sama masuk angin lah,” ucap Dio.
“Dah lah, gak mau ada urusan sama Cowok yang lagi PMS,” ujar Rania sambil menata piring kotor.
“Emang aku cowok apaan?”
“Cowok jadi-jadian,” tukas Rania.
“Enak saja, kalau jadi-jadian gak mungkin aku bisa muasin kamu, Rania sayang,” ujar Dio dengan menarik hidung Rania.
“Sakit ....” pekik Rania lirih.
“Sakit mana sama saat pertama di masukin?”
“Dasar mesum!” Rania mencubit tangan Dio dan berlari menuju ke dapur.
Dio meringis kesakitan dan mengusap tangannya yang di cubit Rania. Dio mengambil kunci mobilnya dan menunggu Rania mengambi tasnya di kamar. Meraka ke kantor bersama. Dio masih merasakan begah di perutnya. Entah mengapa dia pagi ini merasakan begah sekali perutnya dan sedikit mual.
Kening Dio terlihat mengkilap karena cairan bening membasahinya. Rania melihat Dio yang berkeringat tidak seperti biasanya. Padahal AC mobil menyala, tapi Dio bisa berkeringat seperti itu.
“Gak tahu, Sayang. Keringat dingin tiba-tiba keluar. Perutku benar-benar enegh sekali. Rasanya mual lagi,” jawab Dio.
“Kok bisa?” tanya Rania dengan heran.
“Kamu sepertinya tidak sehat deh, sini aku yang nyetir,” ucap Rania.
“Hus, jangan. Kamu sudah lama sekali gak nyetir. Aku gak mau ah, bahaya,” ujar Dio.
“Kan kamu gini, sini biar aku yang nyetir, Sayang,” pinta Rania.
“Gak, ah. Ran, kok belum ada yang jualan manisan ya? Sepertinya enak makan manisan mangga muda,” ucap Dio.
“Idih, ini masih pagi, Abang ... Masa iya, kang manisan sudah gelar dagangan? Nanti jam 11 siang, biasanya ada di dekat pasar tradisional,” ujar Rania.
Rania sejenak berpikir dengan keanehan Dio pagi ini. Tidak seperti pagi-pagi biasanya Dio seperti ini. Aneh rasanya Dio pagi-pagi ingin manisan mangga muda.
“Masa iya Dio ngidam? Kalau aku hamil, ya aku yang ngidam dong, masa Dio? Eh, ada juga sih, suaminya yang ngidam. Tapi, masa aku hamil? Baru 3 minggu ini aku menikah, dan baru 2 minggu di sentuh Dio. Gak mungkin lah,” gumam Rania.
Dio masih mersakan mual dan ingin sekali mengeluarkan semua isi di perutnya. Dio mempercepat laju mobilnya agar cepat sampai di kantor Rania. Dio sudah ingin sekali mengeluarkan semua isi perutnya.
“Dio, jangan kebut-kebut, aku takut,” ucap Rania dengan panik dan takut.
“Sudah, diam. Pegangan saja,” ucap Dio.
Rania memejamkan matanya saat Dio menambah kecepatan laju mobilnya. Rania benar-benar merasa aneh dengan Dio. Tak butuh waktu lama mereka sampai ke kantor Rania. dio bergegas masuk meninggalkan Rania. Rania hanya menggelengkan kepalanya melihat keanehan Dio saat ini. Rania berjalan cepat menyusul Dio yang sudah masuk ke dalam kantornya.
Dio sudah berada di ruang kerja Rania. Dia langsung menuju ke toilet dan mengeluarkan semua isi perutnya. Rania membeliak melihat suaminya yang sedang muntah di toilet. Rania menyusulnya, dia memijit tengkuk Dio.
“Kamu benar-benar masuk angin ini, Dio,” ucap Rania.
Dio mendudukan dirinya di sofa dengan menyandarkan kepalanya. Rasanya lega sekali setelah mengeluarkan semua isi dalam pertunya. Rania membuka kancing kemeja Dio dan melepas dasinya. Dia bertujuan untuk mengoleskan kayu putih di badan Dio. Tapi pikiran mesum Dio muncul saat itu.
“Rania sayang, ini di kantor. Kamu mau lagi? Tadi pagi belum puas?” ucap Dio dengan tersenyum menggoda istrinya.
“Ih .... siapa yang mau lagi, ini aku mau mengoleskan minyak kayu putih. Kamu mesum sekali, sih?” ucap Rania sambil mencubit pipinya.
__ADS_1
“Mesum sama istri sendiri kan tidak apa-apa,” ucap Dio sambil menyentuh lembut pipi Rania.
“Iya tidak apa-apa, tapi tahu tempat dong, Sayang,” ujar Rania
“Aku lemas sekali, sayang. Aku istirahat di sini dulu, ya? Nanti jam 10 aku baru ke kantorku,” ucap Dio.
“Iya, istirahat di kamarku saja,” titah Rania.
“Tapi sama kamu,” pintanya dengan manja.
“Gak usah aneh-aneh, aku pekerjaan banyak sekali, sudah sana ke kamar,” ujar Rania.
Dio masuk ke kamar pribadi milik Rania. dia merasa tubuhnya lemas sekali. Rania membuatkan teh hangat untuk suaminya dan mengantarkan ke dalam kamar. Memang ruang kerja Rania ada kamar pribadinya. Dia meninggalkan Dio setelah menyuruh Dio meminum tehnya. Rania kembali dengan pekerjaannya yang sudah menumpuk.
Rania tidak mengerti mengapa Dio bisa seperti ini. Mungkin karena kecapean atau memang sedang kurang Vit badannya. Rania ingin sekali tidak ikut pergi bersama Fattah, tapi dia tidak enak dengan lainnya. Rania masih sibuk dengan pekerjaannya. Dia juga menitipkan semua pekerjaannya pada Astrid, karena dia kan ikut Shifa ke luar negeri selama satu minggu. Rania ke luar menuju meja kerja Astrid.
“Astrid, aku titip kantor, ya?” ucapnya dengan Astrid.
“Mba Rani mau ke mana?” tanya Astrid.
“Besok, aku akan ikut Shifa ke luar negeri. Mungkin satu minggu. Dia mengajak semua liburan ke luar negeri, makanya aku dan Dio harus ikut,” jawab Rania.
“Oke, nanti aku handle semua pekerjaannya, Mba. Oh, ya, Pak Dio masih di sini?” tanya Astrid.
“Iya masih, dia sedang istirahat. Katanya tidak enak badan. Tadi habis muntah-muntah dia,” jawab Rania.
“Ngidam mungkin,” ucap Astrid.
“Masa baru kemarin aku hamil? Masa Dio yang harus ngidam?”
“Mba, banyak lho yang ngidam suaminya. Istrinya sehat, suaminya yang muntah-muntah terus,” ujar Astrid.
“Tapi kan aku baru tiga minggu menikah, Astrid.”
“Kenapa tidak di test aja, Mba?”
“Nanti lah,” jawab Rania sambil berjalan kembali ke ruangannya.
Rania melihta Dio yang sudah siap untuk ke kantornya. Wajahnya tidak terlihat pucat lagi. Dio mendekati istrinya dan mencium keningnya.
“Sudah enakan?” tanya Rania.
“Mendingan, aku ke kantor, ya? Tapi aku mau di temani kamu,” pinta Dio dengan manja.
“Sayang, aku pekerjaan juga banyak,” jawab Rania.
“Yah, ya sudah aku di sini saja.” Dio mendudukan dirinya di sofa.
“Kok kamu gitu, sih? Aneh ih,” ucap Rania.
“Aku ingin sama kamu, Sayang,” pinta Dio dengan manja.
“Kamu itu manja banget pagi ini. Kamu habis dari mana, sih?” tanya Rania denga kesal.
“Habis dari kamar kamu. Please ... temani aku ke kantor, kamu kan ada Astrid, Sayang,” pinta Dio dengan memohon pada Rania.
“Kasihan Astrid, Sayang,” ujar Rania.
Dio diam saja, dia kesal karena Rania tidak mau menemaninya ke kantor. Tidak tahu kenapa, Dio ingin sekali hari ini bekerja di temani oleh Rania. Padahal hari-hari biasanya tidak seperti saat ini. Dia juga tidak semanja ini dengan istrinya.
Karena Dio terus membujuk Rania disertai dengan rengekan manjanya, akhirnya Rania menemani Dio di kantornya. Dio mengemudikan mobilnya menuju kantor. Rania masih heran dengan sikap aneh Dio hari ini. Dia akhirnya menuruti apa yang Dio mau, daripada harus urung-uringan dengan suaminya.
“Ran, mampir ke kedai manisan, Ya?” pinta Dio.
“Hemm ...” jawab Rania dengan bergumam saja.
“Ih, ngambek,” ucap Dio.
Rania berdecak kesal karena dari tadi Dio benar-benar menyebalkan sekali. Apa yang dia inginkan harus di turuti. Dari sejak tadi pagi saat Dia mengajak berhubungan intim hingga berkali-kali, dan meminta Rania menatakan bajunya saat memakai baju. Seperti mendapat undian rumah mewah, Dio bahagia sekali mendapatkan manisan mangga muda. Senyum bahagia terpancar dari wajah Dio.
Sesampainya di kantor, Rania membantu pekerjaan Dio. Rania semakin kesal, karena Dio dari tadi hanya menikmati manisan mangganya saja. Rania meminta sedikit saja, Dio tidak memperbolehkannya.
“Kamu itu aneh, Sayang,” ujar Rania.
“Aneh bagaimana?” tanya Dio,
“Ya aneh saja. Sudah selesai ini, kamu dari tadi enak-enakan makan manisan. Di mintai gak boleh,” ucap Rania dengan kesal.
__ADS_1
Dio melihat wajah lucu istrinya yang sedang kesal. Dio mendekatinya dan menyuapkan manisan ke mulut Rania. Dio tidak setega itu melihat istrinya yang kesal karena ulahnya. Apalagi dari tadi semua pekerjaannya Rania yang memegang. Dio juga merasakan aneh pada dirinya. Tidak biasanya dia malas-malasan seperti ini.