
Sudah hampir satu bulan setelah Dio mengutarakan perasaannya pada Rania. Sekarang
Rania dan dio semakin akrab. Mungkin karena sampai saat ini Dio masih memegang
perusahaan milik Almarhum ayahnya Rania. Terlebih mereka berdua sering berdiskusi
soal pekerjaan.
Kadang perbedaan pendapat sering menghampiri mereka yang membuat ada sedikit
pertengkaran kecil. Namun, salah satu di antara mereka yang sedang lega hatinya
kadang mengalah. Seperti tadi, perbedaan pendapat saat berkumpul dengan teman-temannya
untuk membahas reuni yang akan di selenggarakan 2 bulan lagi membuat mereka
saling diam.
“Ran, udahan dong marahnya.” Dio masih saja membujuk Rania yang dari tadi marah
karena ada sedikit perbedaan pendapat.
Rania masih saja diam tak menghiraukan ucapan Dio. Rania hanya melirik Dio saat Dio
sudah diam dan fokus lagi ke depan untuk menyetir. Dio sengaja membawa Rania ke
suatu termpat yang ia suka. Tempat yang mungkin ada sejarahnya bagi mereka
berdua.
“Ini mau ke mana?” tanya Rania.
“Akhirnya bicacra juga,” jawab Dio.
“Iya lah, lagian ini kan bukan jalan pulang, Dio,”ujar Rania.
“Sudah marahnya?”
“Aku malah tambah marah.”
“Ya sudah.”
Dio hanya tersenyum tipis melihat Rania yang semakin kesal. Dio ingin ke
sekolahannya yang dulu. Dia ingin mengajak Rania ke taman belakang, karena
ingin menyampaikan sesuatu pada Rania.
“Kenapa ke sekolahan?” tanya Rania.
“Ingin saja,” jawab Dio.
Dio menghentikan mobilnya di depan pintu gerbang sekolahan SMP nya dulu. Dio
melihat halte yang menjadi saksi saat dia dan Rania menunggu jemputan. Dio
tersenyum mengenang masa itu. Rania juga sebaliknya, memori saat dulu kini
terulang lagi. Rania mengembuskan napasnya dengan pelan, dia memejamkan matanya
sejenak, menikmati apa yang terlintas di pikirannya saat dulu bersama Dio.
“Ayo turun,” ajak Dio sambil menyentuh lembut pipi Rania. Rania terjingkat karena
dia sedikit malamun.
“Ah..iya” jawab Rania dengan gugup.
“Jangan melamun. Apa kamu mengingat saat dulu?” tanya Dio.
“Emmm....” Rania hanya bergumam, dai bingung mau berkata apa.
“Jangan di jawab kalau masih ragu atau malu. Ayo kita masuk. Aku mau menemui Yohan,”
ucap Dio.
“Yohan?”
“Iya, kenapa? Kamu takut?”
“Tidak. Mau apa ketemu Yohan?”
“Mengambil data siswa dulu yang seangkatan dengan kita. Tadi Rudi meminta padaku. Mumpung
masih sejalan, aku mampir, dan katanya Yohan masih ada di sekolahan,” jelas
Dio.
Dio dan Rania turun dari mobilnya. Dia menemui Yohan di ruang Tata Usaha (TU).
Mereka mengobrol tentang rencana Reuni yang akan diadakan 2 bulan lagi. dan,
setelah mendapatkan apa yang ingin Dio ambil, Dio meminta izin pada Yohan untuk
ke taman belakang dengan Rania.
“Selesaikan masalah kalian. Untuk apa berlarut-larut seperti itu. Tidak baik juga. Lagian,
apa salahnya kalau kalian kembali lagi. Kalian itu cocok. Kalian tahu, yang di
nantikan semua anak-anak nanti itu kehadiran kalian.” Yohan memberi nasehat
pada Dio dan Rania.
“Entahlah, Yo. Ini semua tergantung Rania mau atau tidaknya,” jawab Dio.
“Sudah Ran, janga egois kamunya,” ujar Yohan.
“Ini juga berawal dari kamu, Yo. Dio jauh dari aku dan berpaling pada Najwa,” ucap
Rania.
“Aku lagi yang di salahkan,” tukas Yohan.
“Ya itu semua karena aku dulu telanjur emosi. Dan tahu sendiri kan, emosi anak ABG masih labil sekali, Yo,” ucap Dio
“Iya, iya aku tahu. Ya sudah sana. selesaikan masalah kalian. Aku menunggu di sini.
Masih banyak sekali pekerjaan.” Yohan menyuruh Rania dan Dio menyelesaikan
masalahnya.
Dio dan Rania berjalan menuju ke taman belakang sekolahan, yohan memang tahu
perceraian Rania dengan Dio di sebabkan oleh apa. Yohan terus membujuk Rania
jika ada kesempatan bertemu dengan Rania. Yohan memang menjadi penasehat mereka
selama sebulan ini.
Dio duduk di samping Rania. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya.
Selembar kertas yang Dio lipat, Dio berikan pada Rania.
“Ini apa?” tanya Rania.
“Buka saja kalau ingin tahu isinya,” jawab Dio.
“Boleh aku buka di rumah saja?” pinta Rania.
“Boleh, tapi besok di balas ya? Aku tunggu lagi di sini,” ucap Dio.
Rania tersenyum mengingat kata-kata yang
diucapkan Dio tadi. Dia ingat, jika Dio memberikan surat pada Rania pasti
berkata seperti itu. Menyuruh Rania membalasnya dan menunggu Rania di tempat
ini lagi.
“Ini surat apa?” tanya Rania.
“Balasan yang sempat tertunda karena Yohan,” jawab Dio.
“Hanya mau menyampaikan ini?” tanya Rania.
__ADS_1
“Tidak juga. Ada yang ingin ku katakan lagi.” Dio menjawab dengan mengambil sesuatu
lagi di saku celananya.
“Mau ngomong apa lagi, Dio,” ucap Rania.
“Maukah menikah dengan ku lagi, Rania.” Dio memperlihatkan sebuah cincin pada Rania.
Demi apa hati Rania menjadi berdebar-debar. Rania tidak tahu ingin menjawab apa. Dia
hanya bisa meneteskan air matanya. Rania ingin sekali kembali bersama Dio,
karena dia masih sangat mencintai Dio. Tapi, dia masih kecewa. Dia takut, jika
Najwa kembali Dio akan kembali pada Najwa. Meski berulang kali Dio mengatakan
kalau dia idak akan pernah kembali pada Najwa bila nanti Najwa kembali.
“Ran, kenapa malah menangis?” tanya Dio sambil menyeka air mata Rania.
“Dio, aku....a-aku...tidak bisa.” Rania menyingkirkan tangan Dio yang masih berada di
depan Rania dengan memegang kotak cincin berwarna merah.
“Kamu takut? Kamu tidak yakin? Kamu tidak percaya? Harus dengan apa lagi supaya kamu
percaya, Rania,” ucap Dio dengan suara parau.
“Beri aku waktu agar aku siap, Dio,” ucap Rania.
“Baiklah,” jawab Dio dengan wajah penuh dengan sesal.
Dio merasa sudah merusak kepercayaan Rania. Dio sadar, melukai hati seorang wanita
akan sulit mengobatinya. Dia teringat akan dosanya saat itu. Saat dia menjadi
seorang suami, dia malah mencintai wanita lain. Dia bermain serong dengan
Najwa. Memaksa Najwa untuk mencintainya lagi. Memaksa Najwa untuk selalu
bersmanya. Hingga dia lupa kalau sudah memiliki Rania yang kala itu menjadi
istrinya.
Begitu banyak luka yang Dio torehkan di hati Rania. Hingga kini luka itu masih
membekas di hati Rania. Segala usaha sudah Dio coba untuk meyakinkan Rania agar
dia percaya kalau dirinya telah melupakan Najwa dan ingin kembali mempersuting
Rania.
Dio hanya diam saat itu. Memahami kondisi hati Rania yang masih belum sembuh karena
luka yang ia torehkan. Luka yang mungkin belum mengering, sehingga masih
merasakan perih yang amat dalam.
“Ayo pulang, Ran,” ajak Dio.
“Iya Dio.” Rania beranjak dari tempat duduknya dan berjalan di belakang Dio.
Rania melihat Dio seperti sudah lelah menjelskan pada Rania kalau dirinya sudah benar-benar
melupakan Najwa. Rania masih ragu untuk menjawab pertanyaan Dio. Dio bukannya
menyerah, dia hanya memahami saja hati Rania yang masih sakit.
Mereka sudah berada di dalam mobil. Dio masih saja diam. Dia ingat semua perlakuan
kasarnya dulu pada Rania, yang membuat Rania belum bisa menerima dirinya. Iya,
Dio merasa kalau dirinya adalah manusai yang paling egois di dunia. Baru saja
dia menorehkan luka pada Rania, dengan mudah juga dia ingin kembali pada Rania
dengan cara meminta maaf saja.
“Aku egois, iya aku egois. Aku laki-laki bodoh. Maafkan aku, Rania. Aku tidak akan
lagi Rania. Aku janji, aku akan mencintai kamu seumur hidupku. Walaupaun kita
tidak pernah bersama.” Dio berkata dalam hatinya.
Rania melihat Dio yang masih fokus memandang ke depan menyetir mobilnya. Rania tahu,
Dio mungkin kecewa karena dirinya selalu menolak Dio
“Dio, maafkan aku,” ucap Rania lirih.
“Ini bukan salahmu, Rania. Sudah jangan sedih. Aku tahu kamu masih sakit dengan
perlakuanku dulu. Sudah jangan pikirkan itu. Aku sama sekali tidak marah,
Rania.” Dio berkata pada Rania sambil mengusap kepala Rania dengan tersenyum.
Dio mengantarkan Rania terlebih dahulu ke rumahnya. Namun, tidak seperti biasanya,
kali ini Dio langsung pulang. Biasanya dia duduk sebentar di rumah Rania. Tapi,
kali ini hatinya masih sakit mengingat dirinya menyakiti rania dulu. Rania melihat
dio berbeda dari biasanya. Tidak biasanya Dio langsung pamit pulang.
“Ran,” panggil Dio saat Rania akan masuk ke dalam rumah.
“Iya ada apa, Dio,” jawab Rania.
“Aku boleh meminta sesuatu?” tanya Dio.
”Sesuatu apa, Dio?”
“Bolehkah aku memeluk kamu?”
Rania tersenyum melihat Dio yang aneh saat ini. Rania mendekati Dio. Dia merentangkan
tangannya pada Dio, dan membiarkan Dio memeluk dirinya.
“Maafkan aku, Ran. Aku mencintaimu.” Dio mengeratkan pelukannya pada Rania. Tanpa sadar
Dio menangis di pelukan Rania.
Rania merasakan getaran tubuh Dio yang sedang menangis. Rania meregangkan pelukan
Dio. Dia menatap wajah Dio yang sudah basah karena air matanya. Rania mengusap
air mata Dio yang membasahi pipinya.
“Kenapa menangis? Gara-gara aku monolakmu? Masa laki-laki nangis?” ucap Rania dengan
tersenyum pada Dio.
“Aku hanya ingat sesuatu saja, maafkan aku. Aku pulang.” Dio menggenggam kedua
tangan Rania dan menciumnya sebelum pulang.
Rania masih terpaku menatap Dio yang berjalan dengan gontai menuju mobilnya. Rania
melihat mobi dio yang sudah melaju untuk pulang, hingga mobil Dio tak terlihat
lagi oleh indra penglihatan Rania.
^^^^^
Keesokan harinya. Rania menunggu Dio menjemput dirinya. Sudah hampir jam 8 Dio belum
juga datang. Ponselnya aktif, tapi di hubungi tidak ada jawaban dari Dio.
“Ini manusia ke mana, sih? Dari tadi gak nongol-nongol. Biasanya jam 7 dia sudah di sini, ini sudah jam 8 dia belum kelihatan.” Rania berkata lirih sambil
mondar-mandir menunggu Dio.
Memang semenjak kejadian dengan Evan dulu rania di antar jemput oleh Dio untuk ke
kantor. Baru kali ini Dio tidak menjemput Rania. Rania sudah menghubungi
__ADS_1
Annisa, katanya Dio tidur di rumahnya dari kemarin. Rania khawatir dengan Dio.
Apalagi dia mengingat kejadian kemarin sore.
Rania terpaksa memakai taksi untuk ke kantor. Sebelum ke kantornya Rania menuju ke
kantor Ayahnya terlebih dahulu. Namun, hasilnya tetap nihil. Tidak ada Dio di
kantor ayahnya. Rania segera bergegas pergi menuju ke kantor Dio. Dan, di sana
tidak ada Dio juga. Dia bertanya pada seluruh karyawannya. Namun, tidak ada
satu pun yang tahu soal Dio.
Rania ke kantornya. Dia segera menemui Astrid. Astrid bilang, dia sama sekali tidak
tahu soal Dio. Dia juga dari kemarin tidak pernah Chat dengan Dio, walau hanya
soal pekerjaan.
“Benar Dio tidak menghubungi ke sini, Astrid?” tanya Rania lagi dengan panik.
“Iya mbak. Tidak ada pesan atau telepon dari Pak Dio,” jawab Astrid.
“Di mana dia?” Rania bertanya lirih.
“Coba telepon ke kantor Pak Reno, atau kantor Pak Dio, Mbak.” Astrid memberikan saran
pada Rania.
“Aku sudah ke sana tadi, Astrid. Dio tidak ada di kantor ayah dan juga di
kantornya.” Rania menjawab dengan panik.
“Coba telepon saja, Mbak.”
“Sudah, Astrid.” Tukas Rania.
“Iya aku menelepon saja 3 kali tidak di angkat. Jangan-jangan Pak Dio ada apa-apa di
jalan saat mau menjemput Mba tadi.” Ucapan Astrid membuat Rania semakin
khawatir. Apalagi dengan kejadia tgadi sore yang sepertinya Dio ingin pergi.
“Astrid...! jangan buat aku tambah khawatir, dong..! kamu selalu saja seperti itu.” Rania
terlihat gusar menghubungi Dio. Dia juga menghubungi teman-temannya, Raffi,
Arsyad, Arkan, Rico, dan semua orang yang tahu tentang dio. Namun, tak ada
jawaban yang mengatakan mereka tahu di mana Dio.
“Astrid, aku ke rumah Dio.” Rania dengan gugup pergi ke rumah Dio.
Kekhawatiran Rania pada Dio semakin menjadi. Apalagi saat dia mengingat kejadia sehabis dari
sekolahannya dulu membuat Rania sangat panik.
“Dio, kamu di mana?” Rania terus menghubungi ponsel Dio, tapi tidak ada jawaban dari
Dio.
Rania takut Dio kenapa-napa. Dia takut Dio melakukan hal bodoh karena kemarin sore
dia menolak menerima lamaran Dio yang mendadak. Bukan menolak, Rania hanya
butuh waktu untuk berpikir agar benar-benar siap untuk berumah tangga lagi dengan
Dio.
Rania sampai di depan Rumah Dio. Dia lega karena masih melihat mobil Dio yang berada
di depan rumah Dio. Pintu rumah Dio juga tidak terkunci. Rania masuk dan
memanggil-manggil Dio, tapi tidak ada sahutan dari Dio. Rania semakin khawatir
dan takut terjadi apa-apa dengan Dio. Rania memberaniakn diri masuk ke kamar
Dio. Namun, tidak ada Dio di dalam. Di kamar mandi pun tidak ada.
Rania masuk ke kamar yang dulu di pakai Rania untuk tidur saat masih menjadi istri
Dio. Matanya terbelalak melihat wajah yang pucat pasi terbujur lemah di tempat
tidur. Rania mendekati Dio yang masih terbaring tidur di tempat tidurnya dengan
memeluk bingkai foto.
“Dio....!” Rania teriak dan menepuk-nepuk pipi Dio.
Badannya panas sekali, wajah nya pucat, dan telapak tangannya juga sudah dingin sekali. Rania
segera menghubungi dokter keluarganya. Rania terus menangis melihat Dio yang
sama sekali diam tidak berdaya di atas tempat tidur. Dia mengambil bingkai foto
yang di peluk Dio. Rania menangis, saat dia tahu kalau bingkai foto yang Dio
peluk adalah fotonya sendiri.
“Dio...bangun,” ucap Rania lirih di telinga Dio.
Dio mengerjapkan matanya. Dia perlahan membuka matanya. Senyumnya mengembang
melihat Rania yang nyata berada di depannya.
“Rania...” ucap Dio dengan suara serak.
“Kamu kenapa?” tanya Rania.
“Kepalaku sakit sekali, Ran,” jawab Dio.
“Sudah, istirhatlah. Sebentar lagi ada Dokter yang ke sini.” Rania mengusap kening Dio.
Rania benar-benar merasa lega sekali sudah menemukan Dio. Beruntung Dio hanya pingsan
saja. Kalau terjadi apa-apa, Rania tidak akan memaafkan dirinya.
“Maafkan aku, Ran. Sudah membuat kamu khawatir.” Dio menggenggam tangan Rania dan
menciumnya.
“Iya aku khawatir. Kamu kenapa sampai seperti ini, sih?” Belum sempat Dio menjawab
pertanyaan Rania, Dokter yang di telepon Rania datang.
Dokter memeriksa Dio. Hanya kelelahan saja dan Vertigo, sehingga Dio menjadi seperti
ini. Memang Dio merasakan sakit sekali pada kepalanya. Dan rasanya semua
berputar saat berjalan. Akhirnya Dio tidak jadi berangkat ke kantor dan memilih
kembali tidur dengan memeluk foto Rania.
Dio menjelaskan seperti itu saat Dokter sudah pulang. Rania ke belakang membuatkan
bubur untuk Dio. Selesai membuat bubur Rania menyuapi Dio dan menyuruh Dio
meminum obatnya.
“Kamu istirahat lagi, gih. Jangan kecapean dulu. Biar pekerjaan aku yang menghandle.”
Rania menyuruh Dio untuk kembali istirahat.
“Iya, terima kasih Ran. Mungkin kalau kamu tidak ke sini, aku bisa mati, Ran. Sakit
sekali kepalaku.” Dio memang merasakan sakit yang hebat di kepalanya tadi pagi.
“Jangan bilang seperti itu. Sudah istirahat saja.” Rania kembali mengerjakan pekerjaan
kantornya dengan menemani Dio yang sudah tidur.
“Mungkin karena efek obat dia cepat sekali tidur. Maafkan aku Dio. Aku di sini menjaga mu
sampai kamu sembuh,” ucap Rania dengan lirih dan mencium kening Dio.
__ADS_1