THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 65 "Aku Bisa Mati" The Best Brother


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan setelah Dio mengutarakan perasaannya pada Rania. Sekarang


Rania dan dio semakin akrab. Mungkin karena sampai saat ini Dio masih memegang


perusahaan milik Almarhum ayahnya Rania. Terlebih mereka berdua sering berdiskusi


soal pekerjaan.


Kadang perbedaan pendapat sering menghampiri mereka yang membuat ada sedikit


pertengkaran kecil. Namun, salah satu di antara mereka yang sedang lega hatinya


kadang mengalah. Seperti tadi, perbedaan pendapat saat berkumpul dengan teman-temannya


untuk membahas reuni yang akan di selenggarakan 2 bulan lagi membuat mereka


saling diam.


“Ran, udahan dong marahnya.” Dio masih saja membujuk Rania yang dari tadi marah


karena ada sedikit perbedaan pendapat.


Rania masih saja diam tak menghiraukan ucapan Dio. Rania hanya melirik Dio saat Dio


sudah diam dan fokus lagi ke depan untuk menyetir. Dio sengaja membawa Rania ke


suatu termpat yang ia suka. Tempat yang mungkin ada sejarahnya bagi mereka


berdua.


“Ini mau ke mana?” tanya Rania.


“Akhirnya bicacra juga,” jawab Dio.


“Iya lah, lagian ini kan bukan jalan pulang, Dio,”ujar Rania.


“Sudah marahnya?”


“Aku malah tambah marah.”


“Ya sudah.”


Dio hanya tersenyum tipis melihat Rania yang semakin kesal. Dio ingin ke


sekolahannya yang dulu. Dia ingin mengajak Rania ke taman belakang, karena


ingin menyampaikan sesuatu pada Rania.


“Kenapa ke sekolahan?” tanya Rania.


“Ingin saja,” jawab Dio.


Dio menghentikan mobilnya di depan pintu gerbang sekolahan SMP nya dulu. Dio


melihat halte yang menjadi saksi saat dia dan Rania menunggu jemputan. Dio


tersenyum mengenang masa itu. Rania juga sebaliknya, memori saat dulu kini


terulang lagi. Rania mengembuskan napasnya dengan pelan, dia memejamkan matanya


sejenak, menikmati apa yang terlintas di pikirannya saat dulu bersama Dio.


“Ayo turun,” ajak Dio sambil menyentuh lembut pipi Rania. Rania terjingkat karena


dia sedikit malamun.


“Ah..iya” jawab Rania dengan gugup.


“Jangan melamun. Apa kamu mengingat saat dulu?” tanya Dio.


“Emmm....” Rania hanya bergumam, dai bingung mau berkata apa.


“Jangan di jawab kalau masih ragu atau malu. Ayo kita masuk. Aku mau menemui Yohan,”


ucap Dio.


“Yohan?”


“Iya, kenapa? Kamu takut?”


“Tidak. Mau apa ketemu Yohan?”


“Mengambil data siswa dulu yang seangkatan dengan kita. Tadi Rudi meminta padaku. Mumpung


masih sejalan, aku mampir, dan katanya Yohan masih ada di sekolahan,” jelas


Dio.


Dio dan Rania turun dari mobilnya. Dia menemui Yohan di ruang Tata Usaha (TU).


Mereka mengobrol tentang rencana Reuni yang akan diadakan 2 bulan lagi. dan,


setelah mendapatkan apa yang ingin Dio ambil, Dio meminta izin pada Yohan untuk


ke taman belakang dengan Rania.


“Selesaikan masalah kalian. Untuk apa berlarut-larut seperti itu. Tidak baik juga. Lagian,


apa salahnya kalau kalian kembali lagi. Kalian itu cocok. Kalian tahu, yang di


nantikan semua anak-anak nanti itu kehadiran kalian.” Yohan memberi nasehat


pada Dio dan Rania.


“Entahlah, Yo. Ini semua tergantung Rania mau atau tidaknya,” jawab Dio.


“Sudah Ran, janga egois kamunya,” ujar Yohan.


“Ini juga berawal dari kamu, Yo. Dio jauh dari aku dan berpaling pada Najwa,” ucap


Rania.


“Aku lagi yang di salahkan,” tukas Yohan.


“Ya itu semua karena aku dulu telanjur emosi. Dan tahu sendiri kan, emosi  anak ABG masih labil sekali, Yo,” ucap Dio


“Iya, iya aku tahu. Ya sudah sana. selesaikan masalah kalian. Aku menunggu di sini.


Masih banyak sekali pekerjaan.” Yohan menyuruh Rania dan Dio menyelesaikan


masalahnya.


Dio dan Rania berjalan menuju ke taman belakang sekolahan, yohan memang tahu


perceraian Rania dengan Dio di sebabkan oleh apa. Yohan terus membujuk Rania


jika ada kesempatan bertemu dengan Rania. Yohan memang menjadi penasehat mereka


selama sebulan ini.


Dio duduk di samping Rania. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya.


Selembar kertas yang Dio lipat, Dio berikan pada Rania.


“Ini apa?” tanya Rania.


“Buka saja kalau ingin tahu isinya,” jawab Dio.


“Boleh aku buka di rumah saja?” pinta Rania.


“Boleh, tapi besok di balas ya? Aku tunggu lagi di sini,” ucap Dio.


Rania tersenyum  mengingat kata-kata yang


diucapkan Dio tadi. Dia ingat, jika Dio memberikan surat pada Rania pasti


berkata seperti itu. Menyuruh Rania membalasnya dan menunggu Rania di tempat


ini lagi.


“Ini surat apa?” tanya Rania.


“Balasan yang sempat tertunda karena Yohan,” jawab Dio.


“Hanya mau menyampaikan ini?” tanya Rania.

__ADS_1


“Tidak juga. Ada yang ingin ku katakan lagi.” Dio menjawab dengan mengambil sesuatu


lagi di saku celananya.


“Mau ngomong apa lagi, Dio,” ucap Rania.


“Maukah menikah dengan ku lagi, Rania.” Dio memperlihatkan sebuah cincin pada Rania.


Demi apa hati Rania menjadi berdebar-debar. Rania tidak tahu ingin menjawab apa. Dia


hanya bisa meneteskan air matanya. Rania ingin sekali kembali bersama Dio,


karena dia masih sangat mencintai Dio. Tapi, dia masih kecewa. Dia takut, jika


Najwa kembali Dio akan kembali pada Najwa. Meski berulang kali Dio mengatakan


kalau dia idak akan pernah kembali pada Najwa bila nanti Najwa kembali.


“Ran, kenapa malah menangis?” tanya Dio sambil menyeka air mata Rania.


“Dio, aku....a-aku...tidak bisa.” Rania menyingkirkan tangan Dio yang masih berada di


depan Rania dengan memegang kotak cincin berwarna merah.


“Kamu takut? Kamu tidak yakin? Kamu tidak percaya? Harus dengan apa lagi supaya kamu


percaya, Rania,” ucap Dio dengan suara parau.


“Beri aku waktu agar aku siap, Dio,” ucap Rania.


“Baiklah,” jawab Dio dengan wajah penuh dengan sesal.


Dio merasa sudah merusak kepercayaan Rania. Dio sadar, melukai hati seorang wanita


akan sulit mengobatinya. Dia teringat akan dosanya saat itu. Saat dia menjadi


seorang suami, dia malah mencintai wanita lain. Dia bermain serong dengan


Najwa. Memaksa Najwa untuk mencintainya lagi. Memaksa Najwa untuk selalu


bersmanya. Hingga dia lupa kalau sudah memiliki Rania yang kala itu menjadi


istrinya.


Begitu banyak luka yang Dio torehkan di hati Rania. Hingga kini luka itu masih


membekas di hati Rania. Segala usaha sudah Dio coba untuk meyakinkan Rania agar


dia percaya kalau dirinya telah melupakan Najwa dan ingin kembali mempersuting


Rania.


Dio hanya diam saat itu. Memahami kondisi hati Rania yang masih belum sembuh karena


luka yang ia torehkan. Luka yang mungkin belum mengering, sehingga masih


merasakan perih yang amat dalam.


“Ayo pulang, Ran,” ajak Dio.


“Iya Dio.” Rania beranjak dari tempat duduknya dan berjalan di belakang Dio.


Rania melihat Dio seperti sudah lelah menjelskan pada Rania kalau dirinya sudah benar-benar


melupakan Najwa. Rania masih ragu untuk menjawab pertanyaan Dio. Dio bukannya


menyerah, dia hanya memahami saja hati Rania yang masih sakit.


Mereka sudah berada di dalam mobil. Dio masih saja diam. Dia ingat semua perlakuan


kasarnya dulu pada Rania, yang membuat Rania belum bisa menerima dirinya. Iya,


Dio merasa kalau dirinya adalah manusai yang paling egois di dunia. Baru saja


dia menorehkan luka pada Rania, dengan mudah juga dia ingin kembali pada Rania


dengan cara meminta maaf saja.


“Aku egois, iya aku egois. Aku laki-laki bodoh. Maafkan aku, Rania. Aku tidak akan


lagi Rania. Aku janji, aku akan mencintai kamu seumur hidupku. Walaupaun kita


tidak pernah bersama.” Dio berkata dalam hatinya.


Rania melihat Dio yang masih fokus memandang ke depan menyetir mobilnya. Rania tahu,


Dio mungkin kecewa karena dirinya selalu menolak Dio


“Dio, maafkan aku,” ucap Rania lirih.


“Ini bukan salahmu, Rania. Sudah jangan sedih. Aku tahu kamu masih sakit dengan


perlakuanku dulu. Sudah jangan pikirkan itu. Aku sama sekali tidak marah,


Rania.” Dio berkata pada Rania sambil mengusap kepala Rania dengan tersenyum.


Dio mengantarkan Rania terlebih dahulu ke rumahnya. Namun, tidak seperti biasanya,


kali ini Dio langsung pulang. Biasanya dia duduk sebentar di rumah Rania. Tapi,


kali ini hatinya masih sakit mengingat dirinya menyakiti rania dulu. Rania melihat


dio berbeda dari biasanya. Tidak biasanya Dio langsung pamit pulang.


“Ran,” panggil Dio saat Rania akan masuk ke dalam rumah.


“Iya ada apa, Dio,” jawab Rania.


“Aku boleh meminta sesuatu?” tanya Dio.


”Sesuatu apa, Dio?”


“Bolehkah aku memeluk kamu?”


Rania tersenyum melihat Dio yang aneh saat ini. Rania mendekati Dio. Dia merentangkan


tangannya pada Dio, dan membiarkan Dio memeluk dirinya.


“Maafkan aku, Ran. Aku mencintaimu.” Dio mengeratkan pelukannya pada Rania. Tanpa sadar


Dio menangis di pelukan Rania.


Rania merasakan getaran tubuh Dio yang sedang menangis. Rania meregangkan pelukan


Dio. Dia menatap wajah Dio yang sudah basah karena air matanya. Rania mengusap


air mata Dio yang membasahi pipinya.


“Kenapa menangis? Gara-gara aku monolakmu? Masa laki-laki nangis?” ucap Rania dengan


tersenyum pada Dio.


“Aku hanya ingat sesuatu saja, maafkan aku. Aku pulang.” Dio menggenggam kedua


tangan Rania dan menciumnya sebelum pulang.


Rania masih terpaku menatap Dio yang berjalan dengan gontai menuju mobilnya. Rania


melihat mobi dio yang sudah melaju untuk pulang, hingga mobil Dio tak terlihat


lagi oleh indra penglihatan Rania.


^^^^^


Keesokan harinya. Rania menunggu Dio menjemput dirinya. Sudah hampir jam 8 Dio belum


juga datang. Ponselnya aktif, tapi di hubungi tidak ada jawaban dari Dio.


“Ini manusia ke mana, sih? Dari tadi gak nongol-nongol. Biasanya jam 7 dia sudah di sini, ini sudah jam 8 dia belum kelihatan.” Rania berkata lirih sambil


mondar-mandir menunggu Dio.


Memang semenjak kejadian dengan Evan dulu rania di antar jemput oleh Dio untuk ke


kantor. Baru kali ini Dio tidak menjemput Rania. Rania sudah menghubungi

__ADS_1


Annisa, katanya Dio tidur di rumahnya dari kemarin. Rania khawatir dengan Dio.


Apalagi dia mengingat kejadian kemarin sore.


Rania terpaksa memakai taksi untuk ke kantor. Sebelum ke kantornya Rania menuju ke


kantor Ayahnya terlebih dahulu. Namun, hasilnya tetap nihil. Tidak ada Dio di


kantor ayahnya. Rania segera bergegas pergi menuju ke kantor Dio. Dan, di sana


tidak ada Dio juga. Dia bertanya pada seluruh karyawannya. Namun, tidak ada


satu pun yang tahu soal Dio.


Rania ke kantornya. Dia segera menemui Astrid. Astrid bilang, dia sama sekali tidak


tahu soal Dio. Dia juga dari kemarin tidak pernah Chat dengan Dio, walau hanya


soal pekerjaan.


“Benar Dio tidak menghubungi ke sini, Astrid?” tanya Rania lagi dengan panik.


“Iya mbak. Tidak ada pesan atau telepon dari Pak Dio,” jawab Astrid.


“Di mana dia?” Rania bertanya lirih.


“Coba telepon ke kantor Pak Reno, atau kantor Pak Dio, Mbak.” Astrid memberikan saran


pada Rania.


“Aku sudah ke sana tadi, Astrid. Dio tidak ada di kantor ayah dan juga di


kantornya.” Rania menjawab dengan panik.


“Coba telepon saja, Mbak.”


“Sudah, Astrid.” Tukas Rania.


“Iya aku menelepon saja 3 kali tidak di angkat. Jangan-jangan Pak Dio ada apa-apa di


jalan saat mau menjemput Mba tadi.” Ucapan Astrid membuat Rania semakin


khawatir. Apalagi dengan kejadia tgadi sore yang sepertinya Dio ingin pergi.


“Astrid...! jangan buat aku tambah khawatir, dong..! kamu selalu saja seperti itu.” Rania


terlihat gusar menghubungi Dio. Dia juga menghubungi teman-temannya, Raffi,


Arsyad, Arkan, Rico, dan semua orang yang tahu tentang dio. Namun, tak ada


jawaban yang mengatakan mereka tahu di mana Dio.


“Astrid, aku ke rumah Dio.” Rania dengan gugup pergi ke rumah Dio.


Kekhawatiran Rania pada Dio semakin menjadi. Apalagi saat dia mengingat kejadia sehabis dari


sekolahannya dulu membuat Rania sangat panik.


“Dio, kamu di mana?” Rania terus menghubungi ponsel Dio, tapi tidak ada jawaban dari


Dio.


Rania takut Dio kenapa-napa. Dia takut Dio melakukan hal bodoh karena kemarin sore


dia menolak menerima lamaran Dio yang mendadak. Bukan menolak, Rania hanya


butuh waktu untuk berpikir agar benar-benar siap untuk berumah tangga lagi dengan


Dio.


Rania sampai di depan Rumah Dio. Dia lega karena masih melihat mobil Dio yang berada


di depan rumah Dio. Pintu rumah Dio juga tidak terkunci. Rania masuk dan


memanggil-manggil Dio, tapi tidak ada sahutan dari Dio. Rania semakin khawatir


dan takut terjadi apa-apa dengan Dio. Rania memberaniakn diri masuk ke kamar


Dio. Namun, tidak ada Dio di dalam. Di kamar mandi pun tidak ada.


Rania masuk ke kamar yang dulu di pakai Rania untuk tidur saat masih menjadi istri


Dio. Matanya terbelalak melihat wajah yang pucat pasi terbujur lemah di tempat


tidur. Rania mendekati Dio yang masih terbaring tidur di tempat tidurnya dengan


memeluk bingkai foto.


“Dio....!” Rania teriak dan menepuk-nepuk pipi Dio.


Badannya panas sekali, wajah nya pucat, dan telapak tangannya juga sudah dingin sekali. Rania


segera menghubungi dokter keluarganya. Rania terus menangis melihat Dio yang


sama sekali diam tidak berdaya di atas tempat tidur. Dia mengambil bingkai foto


yang di peluk Dio. Rania menangis, saat dia tahu kalau bingkai foto yang Dio


peluk adalah fotonya sendiri.


“Dio...bangun,” ucap Rania lirih di telinga Dio.


Dio mengerjapkan matanya. Dia perlahan membuka matanya. Senyumnya mengembang


melihat Rania yang nyata berada di depannya.


“Rania...” ucap Dio dengan suara serak.


“Kamu kenapa?” tanya Rania.


“Kepalaku sakit sekali, Ran,” jawab Dio.


“Sudah, istirhatlah. Sebentar lagi ada Dokter yang ke sini.” Rania mengusap kening Dio.


Rania benar-benar merasa lega sekali sudah menemukan Dio. Beruntung Dio hanya pingsan


saja. Kalau terjadi apa-apa, Rania tidak akan memaafkan dirinya.


“Maafkan aku, Ran. Sudah membuat kamu khawatir.” Dio menggenggam tangan Rania dan


menciumnya.


“Iya aku khawatir. Kamu kenapa sampai seperti ini, sih?” Belum sempat Dio menjawab


pertanyaan Rania, Dokter yang di telepon Rania datang.


Dokter memeriksa Dio. Hanya kelelahan saja dan Vertigo, sehingga Dio menjadi seperti


ini. Memang Dio merasakan sakit sekali pada kepalanya. Dan rasanya semua


berputar saat berjalan. Akhirnya Dio tidak jadi berangkat ke kantor dan memilih


kembali tidur dengan memeluk foto Rania.


Dio menjelaskan seperti itu saat Dokter sudah pulang. Rania ke belakang membuatkan


bubur untuk Dio. Selesai membuat bubur Rania menyuapi Dio dan menyuruh Dio


meminum obatnya.


“Kamu istirahat lagi, gih. Jangan kecapean dulu. Biar pekerjaan aku yang menghandle.”


Rania menyuruh Dio untuk kembali istirahat.


“Iya, terima kasih Ran. Mungkin kalau kamu tidak ke sini, aku bisa mati, Ran. Sakit


sekali kepalaku.” Dio memang merasakan sakit yang hebat di kepalanya tadi pagi.


“Jangan bilang seperti itu. Sudah istirahat saja.” Rania kembali mengerjakan pekerjaan


kantornya dengan menemani Dio yang sudah tidur.


“Mungkin karena efek obat dia cepat sekali tidur. Maafkan aku Dio. Aku di sini menjaga mu


sampai kamu sembuh,” ucap Rania dengan lirih dan mencium kening Dio.

__ADS_1


__ADS_2