THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 20 "Melepas Rindu" The Best Brother


__ADS_3

Dio dan Raffi sudah berada di rumah, mereka sengaja izin dari kantor untuk menyambut kepulangan Najwa dari rumah sakit. Rico juga sudah menyiapkan sajian untuk makan siang, apalagi Rico tahu kalau Dokter Habibi yang mengantar Najwa pulang.


"Opa ini masakan kok banyak sekali?" tanya Dio.


"Iya, untuk makan siang kita bersama, Dio," jawab Rico.


"Pasti ada sesuatu, nih," selidik Dio.


"Dokter Habibi mengantar Najwa pulang hari ini, ya sekalian saja Mba Lina opa suruh masak agak banyakan, buat kita semua makan siang," ujar Rico.


"Oh, cucu menantu opa akan ke sini? Pantas saja," ucap Dio dengan meledek Rico. Meskipun hatinya sakit.


"Cucu menantu? Ya, kalau Allah menghendaki, Dio," jawab Rico.


"Ya sudah, Dio ganti baju dulu, mau menemui calon kakak ipar," ucap Dio.


"Dio," panggil Rico.


"Iya, opa," jawab Dio.


"Kamu baik-baik, saja?" tanya Rico.


"Iya, baik, sudah opa, aku menyadarinya, dan aku berusaha untuk menerima semua ini. Dio ke kamar," pamit Dio.


Dio melangkahkan kakinya dengan gontai menuju kamarnya. Hatinya hancur sekali, mungkin jika dia bisa memilih, dia lebih baik pergi dari jauh dari hidup Najwa. Tapi, itu semua tidak mungkin, Dio sudah berjanji pada bundanya untuk meneruskan perusahaannya. Tidak mungkin Annisa yang terus mengurusi perusahaan peninggalan kakeknya.


"Aku ingin pergi saja, jauh dari sini, itu kalau aku bisa. Tapi, aku sangat menyayangi bunda, tidak mungkin aku meninggalkan bunda. Itu tidak akan mungkin. Ini memang salahku, aku yang memulainya, memaksa dan meyakinkan Najwa untuk hubungan ini, tapi ternyata, ini berakhir dengan sakit sekali," gumam Dio dengan merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan terus memikirkan Najwa.


Dio melihat foto-foto bersama Najwa di ponselnya. Foto yang dulu pernah ia ambil saat masih SMA dan pertama kali jadian dengan Najwa. Dia terus menggeser foto-fotonya di ponsel. Hingga dia melihat fotonya dengan Rania saat masih memakai seragam SMP. Foto itu Dio ambil saat sehabis jam pelajaran kosong. Terlihat Dio memegang kepala Rania.


"Aku masih simpan foto ini? Perasaan saat itu aku menghapusnya? Eh, tidak, aku hanya membanting ponsel ku saja saat aku kesal dengan dia. Dan, ponselku rusak, dan setelah aku beli yang baru, aku masih pakai memory dulu. Tapi, perasaan aku sudah menyuruh Ozil untuk mengosongkan memori ini? Kok ini masih? Ah entahlah," gumam Dio sambil membuang ponselnya ke atas tempat tidur.


Dio mendengar ponselnya berdering, ada notifikasi pesan masuk di WhatsApp nya. Dio melihat ponselnya. Mata dia membulat sempurna melihat nama Rania yang mengirim pesan.


"Ada apa dia mengirim pesan?" gumam Dio, lalu membacanya.


"Dio, apa kamu tadi menemui ayah? Jangan memutuskan sepihak, Dio! Aku tidak suka! Aku tahu kamu terpaksa dengan semua ini. Aku tidak mau!" ~Rania.


"Cuma mau bicara ini? Aku memang terpaksa, tapi ini harus aku lakukan, karena bunda," ucap Dio lirih.


Dio membalas pesan Rania. Ya, Dio tadi menemui Reno ke kantornya sebelum pulang. Dia membicarakan secara langsung dengan Reno, dan menerima perjodohannya dengan Rania.

__ADS_1


"Aku tidak suka dibantah, Rania. Keputusanku ini tidak bisa di ganggu gugat. Aku sudah berbicara dengan Om Reno. Besok malam keluargaku akan ke rumah kamu."~Dio.


Dio melempar ponselnya lagi, dia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti baju, menunggu Najwa pulang dari rumah sakit.


^^^^


Najwa sudah sampai rumah, dia masuk dengan di papah Annisa. Najwa di sambut oleh opanya dan Raffi. Dia langsung memeluk Rico dan Raffi secara bergantian. Mata Najwa mencari seseorang yang lain, yaitu Dio. Padahal Dio sudah janji akan pulang awal agar bisa menyambut Najwa dari rumah sakit, tapi malah Dio tidak menyambutnya.


"Kakak…" Arkan berlari memeluk Najwa.


"Hai, kakak kangen kamu." Najwa memeluk dan mencium Arkan.


"Shifa tidak ke sini, Opa?" tanya Najwa.


"Kan dia sedang di Paris, Najwa. Masa iya langsung pulang. Biarlah, dia menikmati bulan madunya," jawab Rico.


"Hmm … aku lupa, dia sudah menikah," ucap Najwa.


"Ayo, masuk. Ayo Habibi, opa sudah masak, kita makan siang dulu," ajak Rico.


"Masa opa bisa masak? Paling Mba Lina yang masak," ucap Najwa.


"Memang, kan opa yang nyuruh, sudah ayo masuk. Arkan, tolong bawa koper ini ke belakang, biar baju yang kotor di cuci Mba Lina." Rico mengajak mereka masuk dan menyuruh Arkan membawakan koper yang di bawa Annisa.


"Bunda, Najwa ke kamar. Mau ganti baju dulu," pamit Najwa.


"Iya, Nak, bunda tinggu di ruang makan," jawab Annisa.


"Ayo, kita ke ruang makan, Habibi," ajak Annisa.


"Iya bunda," jawab Habibi.


Mereka berkumpul di ruang makan. Najwa berjalan ke arah kamarnya. Dia ingin mengganti bajunya, dan mencuci muka. Saat berada di lorong kamarnya, dia melihat Dio keluar dari kamarnya.


"Dio,"


"Najwa,"


Mereka sama-sama memanggil. Mata Najwa berubah menjadi sendu menatap laki-laki yang ia sangat cintai.


"Kamu sudah pulang, Kak?" tanya Dio.

__ADS_1


"Iya, aku mau ganti baju dulu," jawab Najwa.


Najwa membuka pintu kamarnya. Memang kamar mereka saling berhadapan. Dio masih menatap Najwa yang sudah membelakanginya untuk membuka pintu kamarnya. Namun, Najwa urungkan dan berbalik menatap Dio.


"Dio," panggil Najwa.


"Iya, kak. Ada apa?" jawab Dio.


Najwa mendekati Dio dan memeluknya. Sungguh hati Najwa saat ini sangat hancur sekali. Dia masih sangat mencintai Dio. Najwa menangis di pelukan Dio. Dio membalas pelukan Najwa dan sama-sama menangis.


"Maafkan aku, aku masih mencintaimu, Dio," ucap Najwa dengan terisak.


"Najwa, ini sangat menyiksaku, Sayang. Aku juga masih sangat mencintai kamu. Maafkan aku, aku harus bagaimana, kita tidak dapat bersatu, Sayang." Dio mencium puncak kepala Najwa dan merasakan sesak di dadanya.


"Iya aku tahu, Dio. Aku akan belajar, belajar mengikhlaskan mu dengan wanita lain. Maafkan aku, yang tak pernah bisa berhenti mencintaimu, Dio." Najwa semakin terisak, dia memeluk erat tubu Dio, yang sudah menjadi candu bagi dirinya.


Dio meregangkan pelukannya, dia menatap wajah Najwa dalam-dalam. Dio mencium bibir Najwa. Dia rindu, rindu kecupan mesra dari Najwa, dan rindu rengkuhan tubuh wanitanya itu yang membuatnya tenang dan hangat. Najwa membalas ciumannya, dan mereka semakin memperdalam ciumannya. Mereka sama-sama merindukan itu. Merindukan hal yang bisa menghangatkan jiwa mereka.


"Maafkan aku, Najwa. Seharusnya ini tidak terjadi lagi," ucap Dio sambil melepas ciumannya.


"Kamu benar, Dio. Maafkan aku juga yang tidak bisa mengendalikan diri saat bersama kamu," ucap Najwa.


"Najwa, maafkan aku, jika aku menerima perjodohan ku dengan Rania. Dan, mungkin besok malam, aku akan melamarnya." Dio terpaksa berkata seperti itu. Bukan untuk menyakiti hati Najwa, tapi memang kenyataan mereka berdua tidak bisa bersatu.


Hati Najwa runtuh, mendengar penuturan dari Dio. Tapi, dia menanggapinya dengan sabar dan tegar. Dia tersenyum menatap manik mata Dio yang menatap dia dalam-dalam.


"Jika itu yang terbaik, lakukanlah. Kita tidak bisa menikah, Dio. Ini saatnya kita membahagiakan orang tua kita. Dan, tepiskan ego kita, Dio," ucap Najwa dengan tenang, walau hatinya tidak baik-baik saja.


"Iya, Najwa. Tapi, ada satu yang harus kamu tahu. Aku masih sangat mencintaimu," ucap Dio.


"Ya, aku juga tidak bisa bohong, aku masih sangat mencintaimu juga. Tapi, keadaan ini tidak bisa menyatukan cinta kita dalam ikatan suci, yaitu pernikahan," jelas Najwa.


"Ya sudah, sana keluar, ada Habibi di sana, kamu juga sudah di tunggu opa. Aku mau ganti baju dulu," titah Najwa.


"Kamu cocok dengan Habibi, kenapa tidak dengan dia saja," ucap Dio.


"Dengan Habibi? Jangan ngarang, sudah jangan bahas ini." Nawja bekata sambil masuk ke dalam kamarnya.


Dio melngkahkan kakinya, menuju ruang makan. Terlihat mereka sudah berkumpul bersama di ruang makan. Hanya Najwa saja yang belum keluar dari kamarnya.


Najwa masuk ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Air mata Najwa tidak henti-hentinya menerobos keluar dari pelupuk matanya. Dia harus menerima keadaan kalau besok Dio akan melamar Rania.

__ADS_1


"Aku harus ikhlas, ini semua demi kebaikan keluarga. Aku tidak boleh lemah seperti ini karena cinta." Najwa berkata lirih dengan memakai jilbabnya yang baru saja dia ambi dari lemari.


Najwa keluar dari kamarnya. Dia bergabung di ruang makan untuk makan siang.


__ADS_2