THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 83 "Jangan Menyalahi Takdir"


__ADS_3

Keesokan harinya, Annisa mencoba menjenguk Arsyad ke Rumah Sakit di mana Arsyad di rawat. Annisa mengendarai mobilnya sendiri, akhirnya dia kembali seperti dulu, mengendarai mobil sendiri untuk menfgantar Dio dan Shifa seklolah. Setelah mengatar mereka ke sekolah, Annisa melajukan mobilnya ke Rumah Sakit.


Annisa melihat ada Rico dan Bayu yang sedang berada di depan ruangan Arsyad. Annisa menyapa papah mertuanya yang masih acuh dengan dirinya semenjak kejadia kemarin yang menimpa Arsyad.


“Pah, bagaimana keadaan Kak Arsyad?” tanya Annisa.


“Untuk apa kamu ke sini? Mau menambah luka untuk anakku kagi, hah?” tukas Rico.


“Pah, aku ingin menjenguk suamiku, aku ingin bertemu Kak Arsyad, walau bagaimanapun, dia adalah suamiku, pah,” ucap Annisa.


“Sudah puas kamu membuat anak saya menderita seperti ini?” Rico masih saja acuh dan marah terhadap Annisa.


“Nisa mohon, pah. Izinkan Nisa menemui Kak Arsyad.” Annisa memohon pada mertuanya itu.


“Ric, kamu jangan egois seperti itu, Annisa juga berhak melihat keadaan suaminya, jika Arsyad tau kamu melarang Annisa untuk menmuinya, dia pasti akan kecewa dengan kamu, Ric,” tutur Bayu.


“Aku tak peduli, Bay. Aku ingin dia menjauh dari kehidupan anakku, aku tidak mau Arsyad seperti Arsyil kalau masih berhubungan dengannya,” tukas Rico.


“Astaghfirullah, Rico...! Istighfar Ric, semua Allah yang mengatur. Hidup, mati, rezeki, dan jodoh seseorang Allah yang menetukan, kamu jangan dangkal pemikirannya. Ini semua musibah, Ric. Kamu jangan memojokan Annisa dong, Ric, dalam musibah ini. Bukan hanya kamu yang sedih, Annisa dan semuanya sedih dan takut dengan musibah yang menimpa Arsyad,” tutur Bayu.


“Tapi kenapa setiap lelaki yang bersama dia bernasib buruk, Bay!” ucap Rico dengan penuh amarah.


“Ric, sadar, istighfar, jangan seperti itu,” bujuk Bayu.


“Ayo Annisa, sama Om ke dalam lihat Arsyad,” ajak Bayu.


“Aku tidak mengizinkan, sekali tidak boleh, tidak boleh! pulanglah! dan jangan kembali ke sini!” titah Rico dengan nada datar tapi menyakitkan.


“Pah, Nisa mohon, Nisa ingin melihat suami Annisa.” Annisa masih memohon pada Rico.


“Pulanglah! sudah jangan ke sini lagi! sampai kapanpun aku tidak akan memberi izin kamu menemui anakku,”kelekar Rico.


“Jangan dengarkan kata-kata mertuamu, ayo ikut, Om. Arsyad juga anak Andini, Andini adik kandungku. Kalau saja dia masih di sini, pasti akan kecewa dengan sikap kamu. Kamu memang tidak pernah berubah, Ric. Kecuali kamu di buat menyesal dulu,” ucap Bayu yang juga geram sekali dengan sikap adik iparnya sekaligus sahabatnya itu.


“Bay! Jangan bawa wanita itu menemui anakku!” kelekar Rico saat Annisa dan Bayu akan masuki ke dalam ruangan Arsyad.


Annisa sangat sakit sekali dengan sikap mertuanya itu. Tapi, mau bagaimana lagi, dia adalah mertuanya, yang sudah ia anggap seperti orang tua sendiri. Dia tidak berani menentang Rico, walaupun dia juga berhak menjenguk suaminya.


“Papah boleh kecewa dengan Annisa,papah boleh marah dan meyalahkan Annisa dalam musibah ini. Apa papah akan membiarkan jika istri papah akan celaka? Apa papah akan membiarkan istri papah terluka? Seorang suami tidak ingin melihat istrinya celaka atau terluka, Pah, begitu juga Kak Arsyad. Kak Arsyad melakukan ini semua memang untuk melindungi ku, pah. Aku juga sakit, pah. Melihat Kak Arsyad seperti ini, sakit....pah...!" Annisa berbicara dengan nada tinggi, di iringi isak tangis dan deraian air mata.


Tubuh Annisa merosot ke bawah, dia terduduk di bawah dan memohon pada Rico agar bisa menemui suaminya. Tapi, hati Rico yang keras tidak luluh sedikit pun, walaupun Annisa sudah memohon mati-matian dengan Rico. Annisa menangis sejadi-jadinya di depan ruangan Arsyad. Dia teriak dan meremas kepalanya.


“Arrgghhtt...! Apa salahku Ya Allah, aku hanya ingin meliahat suamiku, aku ingin Kak Arsyad,” ucap Annisa denga menangis di depan ruangan Arsyad.


Bayu yang melihatnya memeluk Annisa dan menangis melihat Annisa yang seperti itu. Bayu mengepalkan tangannya, dia benar-benar kecewa dan marah dengan Rico.


“Kamu kejam sekali, Ric! Kamu yang menyuruh Annisa menikah dengan Arsyad, tapi kamu yang memisahkan mereka saat mereka mengalami musibah seperti ini,” ucap Bayu dengan nada tinggi.


Rico hanya diam saat melihat Annisa menangis seperti itu. Sebenarnya ada rasa iba dalam hati Rico, tapi hatinya tertutup kekerasan dan amarah yang mengelabuhi hati bersihnya itu. Hingga Annisa memohon beribu kali dia tetap dengan pendiriannya. Tidak menizinkan Annisa menemui  Arsyad.


“Baiklah, kalau itu keputusan papah, aku terima. Dan, papah pasti akan menyesal di kemudian hari, saat nanti papah tau apa yang sebenarnya terjadi sebelum musibah itu menimpa Kak Arsyad.” Annisa mencoba berdiri tegar dan menghadap Rico serta berkata seperti itu.


“Oke, Annisa terima, papah memisahkan aku dan Kak Arsyad, memisahkan aku dari suamiku. Papah juga harus terima, papah aku pisahkan dengan cucu-cucu papah. Ingat pah, mulai hari ini, papah akan terpisah dengan cucu-cucu papah! Karena papah sudah memisahkan aku dan Kak Arsyad!” Annisa memberanikan diri berkata kasar seperti itu pada Rico. Padahal dia tidak ingi  sekali berkata seperti itu pada papah mertuanya, semarah dan sekecewa apapun pada mertuanya tersebut.


Annisa menarik napasnya dalam-dalam dn mengembuskannya dengan kasar. Annisa mengatur napasnya kembali dan dia merelakan, kalau Rico tak mengizinkan dia menemui Arsyad.


“Annisa pamit, pah. Ingat pah, papah hari ini tidak akan lagi bisa menemui Dio dan Shifa. Impaskan? Annisa tidak bisa menemui anak papah yang berstatus suami Annisa. Dan papah? Papah tak akan bisa menemui Dio dan Shifa, juga...ana.. Annisa. Ya, papah tidak bisa menemui Dio dan Shifa lagi mulai hari ini, yang berstatus cucu papah. Anak dari anak bungsu papah.” Aanisa yang hampir keceplosan menyebut anak yang ada di kandungan Annisa, beruntung dia sadar dengan ucapannya.


“Om Bayu Annisa pamit, titip papah dan Kak Arsyad,” pamit Annisa dengan meninggalkan rumah sakit.


Annisa berjalan dengan langakah yang gontai. Dia benar-benar merasa sakit hati sekali dengan apa yang papah mertuanya lakukan pada dirinya. Annisa sesekali menyeka air matanya sambil berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang pagi itu masih belum terlalu ramai pengunjung untuk membesuk pasien.


“Ya Allah, lunakan hati papah mertuaku, bagaimanapun dia menyakiti hatiku, beliau orang yang aku sayangi, yang sudah aku anggap seperti orang tua aku sendiri. Papah tega sekali dengan Annisa pah,” ucap Annisa lirih di sela-sela isak tangisnya yang kala itu ia berjalan di lorong Rumah Sakit.


Shita melihat annisa yang sedang berjalan di lorong Rumah Sakit sambil mengusap air matanya. Shita buru-buru berjalan mendekati Annisa dengan wajah yang menyiratkan kemarahan. Shita mendekati Annisa dan tiba-tiba mendaratkan tamparan di pipi Annisa yang kala itu sedang menangis dan tak tau kehadiran Shita.


“Plak....!” satu tamparan medarat di pipi Annisa dengan tiba-tiba.


Aanisa terjingkat dan merasakan sakit di pipi kanannya, karena tiba-tiba mendapat tamparan dari Shita.


“Sudah saya bilang, jauhi kakakku! Kamu masih berani kesini, hah? Apa maumu? Mau kakakku tambah sekarat? Kakakku akan lebih baik tanpa kamu!” Shita berbica kasar sekali pada Annisa.

__ADS_1


“Plak....!” Annisa tak mau kalah, dia begitu tersulut emosi hingga dia membalas tamparan Shita. Annisa mendaratkan satu tamparan pada pipi Shita.


“Aku akan lihat, sebaik apa nanti kehidupan Kak Arsyad tanpa aku dan anaknya. Silakan, rawat kakakmu. Kamu bisa merawat fisik kakakmu, tapi tidak dengan hati kakakmu, aku jamin itu!” Tukas Annisa sambil pergi meninggalkan Shita yang masih memegang pipinya karena sakit mendapatkan tamparan Annisa


Shita langsung berjalan menuju ke ruangan Arsyad. Dia masih memikirkan kata-kata Annisa tadi. Shita saat ini memang sedang mengkhawairkan kakaknya. Dan memang dia sangat marah dengan Annisa atas musibah yang menimpa kakaknya, tanpa memikirkan perasaan Annisa.


“Apa maksudnya Annisa bicara Kak Arsyad bisa atau tidak hidup tanpa Annisa dan anaknya? Sedangkan Dio dan Shifa kan anaknya Arsyil? Atau jangan-jangan Annisa hamil?” gumam Shita.


“Ahhh... sudah lah, aku tidak mau memikirkan apa-apa, aku akan fokus dengan kesembuhan kakakku, dan akan melindungi kakak dari orang-orang yang akan membuatnya celaka,” ucap Shita lirih.


Annisa sudah berada di dalam mobilnya, dia melajukan mobilnya ke kantor. Ya, Rere dan Alvin belum tau kejadian ini. Annisa tidak mau hanya di rumah dan berlarut dengan kesedihannya. Wlaupuan sekarang juga hatinya masih sangat sakit sekali. Aanisa hanya percaya dengan cinta Arsyad pada dirinya yang begitu besar.


“Aku yakin, kakak akan sembuh, kakak akan menjemputku lagi untuk hidup bersama kakak. Maafkan Annisa, kak, saat kakak membutuhkan Annisa, Annisa tidak ada di samping kakak. Tapi, Annisa yakin, kakak akan baik-baik saja. Semua ini karena salah paham , kak. Annisa akan menjaga anak kakak, walau nanti kakak terbangun anak kakak sudah lahir. Maafkan annisa,” ucap Annisa lirih di sela-sela isak tangisnya.


“Apa aku akan melahirkan tanpa suami lagi untuk kedua kalinya, Ya Allah. Sampai kapan hati Kak Shita dan papah akan melunak dan menerimaku kembali?” gumam Annisa.


Annisa melajukan mobilnya dengan hati-hati menuju ke kantornya. Sebelum ke kantor Annisa membelu Apel terlebih dahulu untuk di bawa ke kantor.


^^^^^^


Di sekolahan


Najwa dari tadi mendiami Shifa, wlaupun mereka duduk 1 bangku, mereka tak mau tegur sapa. Tadi pagi Shifa berusaha menegur Najwa, tapi Najwa memalingkan wajahnya dan beranjak pergi dari samping Shifa lalu bergabung dengan teman yang lainnya. Shifa hari ini benar-benar merasa di kukcilkan oleh Najwa yang biasanya setiap hari selalu bersama-sama.


“Kak Najwa boleh marah sekarang, karena Kak Najwa belum tau bunda hamil, coba kalu kakak tau, betapa menderitanya bunda saat ini,” gumam Shifa.


Shifa tak peduli Najwa terus mendiaminya hingga bell istirhat berbunyi. Seperti biasa Shifa selalu membawa bekal dari rumah yang di buatkan bundanya. Ya, Shifa membawa beberpa potiong sandwich yang di buatkan Annisa tadi pagi. Najwa memandangi Shifa yang membuka kotak berisikan Sandwich. Shifa mencoba menawari Najwa, tapi Najwa pergi dari samping shifa.


Shifa hanya bisa membuang napasnya dengan  kasar saat Najwa menoalk tawaran Shifa untuk memakan Sanwich bersama.


“Keras sekali hati mu, kak.  Padahal Budhe Mira lemah lembut sekali orangnya,” guam Shifa.


Shifa tak mempedulikan Najwa lagi, dia memakan sandwichnya. Hingga muncul ingatan bersama Arsyad saat berebut sandwich buatan bundanya di pagi hari.


“Abah, Shifa rindu Abah, abah cepat sembuh, Shifa selalu berdo’a untuk kesembuhan abah, dan berdoa semoga Allah meluluhkan hati opa, Tante Shita dan Kak Najwa. Kasihan bunda, Abah. Walaupun bunda tersenyum saat bersama kami, tapi kami tahu, bunda hatinya sangat sakit sekali,” gumam Shifa.


^^^^^^


“Annisa apa benar Pak Arsyad koma?” tanya Rere dengan sedikit penasaran.


“Iya, Nis. Apa benar itu?” imbuh Alvin.


“Iya, benar,” jawab Annisa singkat dengan mendudukan dirinya di kursi yanga berada di depan meja Rere.


“Kalian tau dari siapa?” tanya Annisa dengan tatapan kosong dan mata berkaca-kaca.


“Leon tadi malam meneleponku, Nis,” jawab Alvin.


“Iya, semalam juga Leon menelepon aku,” imbuh Rere.


“Leon tahu dari mana?”tanya Annisa.


“Rayhan,” jawab mereka bersma.


Annisa menundukkan kepalannya, seketika air matanya luruh saat dia mengingat Arsyad, apalagi mengingat saat kejadian Arsyad di tabrak. Dia tidak kuat yang akhirnya semakin jelas sekali Annisa terisak. Rere mendekati Annisa dan memeluk Annisa yang sekarang lemah sekali.


“Nis, kenapa kamu di sini? Kamu harusnya di samping Arsyad,” ucap Alvin.


“Bagaimana aku di samping Kak Arsyad, kalau papah Rico dan Kak Shita tidak memperbolehkan aku menemani suamiku,” ucap Annisa dan semakin menanguis di pelukan Rere.


“Maksud kamu, paman Rico dan Shita tidak boleh kamu berada di samping Arsyad, kenapa?” tanya Alvin.


“Mereka menyalahkan aku, mereka menyalahkan aku, Al. Semua kejadian kemarin adalah salah aku. Mereka menganggap aku adalah penybab anak-anak papah celaka. Papah tidak mau anak laki-lakinya yang menjadi suami aku bernasib seperti Arsyil. Apa salahnya suamiku melindungi aku, apa salah suami kita tidak mau istrinya celaka?” ucap Annisa yang semakin deras mengluarkan air matanya.


“Paman Rico dan Shita benar-benar keterlaluan,ini tidak bisa di biarkan Annisa. Kamu istri Arsyad, kamu harus berada di dekatnya di saat seperti ini,” ujar Alvin.


“Percuma, Al. Aku sampai memohon dengan papah, papah sama sekali tidak mengizinkan aku masuk ke dalam melihat suamiku. Bahkan Om Bayu. Om Bayu sampai beradu mulut dengan paph, tapi papah tetap pada pendiriannya, tidak memperbolehkan aku masuk ke dalam,” jelas Annisa.


“Pak Rico keterlaluan sekali!” Rere meremas kertas yang ada di depannya karena terbawa emosi.


“Kamu tidak boleh menyerah, Nis. Aku akan cari cara agar kamu bisa menjenguk Arsyad," ucap Alvin.

__ADS_1


“Percuma, Al. Sudah biarlah. Bukan aku menyerah, tapi aku akan melihat bagaimana nanti saat Kak Arsyad bangun dari komanya, apa mereka bisa menyembuhkan luka hari Kak Arsyad karena mereka memisahkan kami? Aku percaya setelah Kak Arsyad nanti bangun dari koma nya, Kak Arssyad akan mencariku, dan saat itu juga mereka pasti akan mencariku,” ucap Annisa.


“Maksud kamu, Nis?”tanya Rere.


“Aku sementara akan menghindar dari mereka, biar mereka merasakan rasanya di pisahkan oleh cucu dan keponakannya,” ucap Annisa.


“Jika seperti itu adalah yang terbaik untuk kamu, lakukanlah, aku yakin kamu wanita yang kuat,Nis,” ucap Rere.


“Aku bisa seperti ini karena aku memiliki anak-anakku. Aku tidak mau mereka juga ikut sedih dengan keadaan ini,” ucap Annisa.


“Lalu rencana kamu apa?” tanya Alvin.


“Aku mohon pada kalian jika suatu saat Papah atau Kak Shita mencariku, katakan padanya, Annisa sudah tidak ada di sini. Karena semua itu pasti akan terjadi suatu saat nanti, ketika Kak Arsyad bangun dari koma nya,” jelas Annisa.


Ya, Annisa melakukan itu semua agar mereka bisa merasakannnya jika suatu saat nanti mereka juga membutuhkan Annisa untuk kembali pada Arsyad. Annisa sebenarnya hanya di rumah saja, sambil menunggu perkembangan pemulihan suaminya dari Kevin yang ia suruh untuk memantau perkembangan Arsyad.


^^^^^^


Sudah satu bulan lebih Arsyad belum juga bangun dari komanya. Ya, sekarang Arsyad di pindahkan di rumahnya. Rico meminta pada pihak Rumah Sakit dan Dokter, agar merawat Arsyad di rumah saja, sepetrti dulu ia merawat Andini saat Andini sakit keras. Rico memindahkan Arsyad dengan tujuan utama agar Annisa tidak mencoba mengunjungi Arsyad lagi.


Annisa memang kadang menjenguk Arsyad saat Rico dan  Shita tidak menjaga Arsyad. Kadang Kevin atau Jordy yang menjaga, atau Bayu dan Iva. Dan, saat yang menjaga bukan Rico atau Shita, Annisa dan anak-anaknya menyempatkan menjenguk Arsyad. Dan itu semua yang menyebabkan Rico memindahkan Arsyad ke ruamhnya, agar Annisa tak mengunjungi Arsyad lagi.


“Bu Annisa, Pak Arsyad sekarang di pindahkan ke rumah, mohon maaaf itu semua karena Pak Rico yang mau agar ibu tidak bisa lagi menjenguknya. ~Kevin.


Annisa terbelaklak melihat pesan dari Kevin, yang mengatakan kalau suaminya sudah di pindah dan di rawat di rumahnya. Dan, semua itu papah mertuanya yang menginginkannya. Annisa benar-bnera sudah tidak bisa memiliki kesempatan untuk melihta suaminya lagi. papaph mertuanya begitu tega sekali dengan dirinya.


“Baiklah, terima kasih informasinya. Aku titip Kak Arsyad, kabari akuterus soal perkembangan Kak Arsyad dan saat Kak Arsyad sudah bangun dari koma nya. Tetap jangan beritahu mereka kalau aku hamil, ” ~Annisa.


"Baik, Bu. Aku akan tetap merahasiakan kehamilan ibu pada Pak Rico," ~ Kevin.


Begitu isi balasan pesan Annisa pada Kevin. Annisa tidak menyangka papah mertuanya melakukan semua ini. Dai hanya bisa menangis memgangi perutnya yang semakin  hari semakin membuncit.


“Maafkan bunda, sayang. Kamu tidak pernah meraskan Abah di sampingmu. Bunda janji, suatu saat nanti, Abah akn kembali bersama kita,” gumam Annisa.


Dio melihat Annisa menangis lagi. Dio mendekati bundanya dan memeluk bundanya yang sedang duduk di kursi ruang tengah.


“Bunda, kenapa bunda menangis lagi? Apa opa menyakiti perasaan bunda lagi?” tanya Dio sambil mengusap air mata Annisa.


“Abah dipindahkan di rumah, sayang. Kita tidak bisa mencuri waktu lagi untuk menjenguk Abah,” ucap Annisa.


“Opa benar-benar keterlaluan sekali,” gumam Dio sambil mengeratkan genggaman tangannya.


“Biar bunda, nanti kalau abah bangun dan mencari bunda, Dio tak akan mengizinkan bunda menemui abah untuk sementar waktu, biar opa merasakan kesedihan abah tanpa bunda,” ucap Dio dengan geram.


Annisan menangis di pelukan Dio. Annisa meraskan sesak di dadanya di perlakukan seperti itu oleh papah mertuanya dan adik iparnya. Dio mencoba menenagkan hati bundanya yang masih saja menangis di pelukannya.


“Bunda....bunda kenapa menangis?” tanya Shifa yang baru saja pulang dari Les.


“Opa memindahkan perawatan abah ke rumah, kak. Ini semua biar bunda tidak bisa menjenguk abah, kakak tau, kan, kemarin opa memergoki kita saat menjenguk Abah hari senin kemarin?” ucap Dio.


“Iya kakak ingat, opa keterlaluan sekali, bunda.” Shifa memeluk bundanya dan menangis di pelukan bundanya.


“Bunda tau, Kak Najwa juga minta pindah kelas, biar tidak satu kelas sama Shifa,” ucap Shifa.


“Sejak kapan Najwa pindah kelas?”tanya Annisa.


“Sudah 2 minggu ini, dan Les pun sudah tidak beranhgkat. Sebegitukah mereka pada kita, bunda? Mereka tega memutuskan tali persaudaraan begitu saja,” ucap Shifa.


“Bunda juga tidak tau, ya sudah, biarlah, nak. Mungkin mereka masih tertutup pintu hati mereka. Ingat pesan bunda, kalian jangan menaruh dendam pada mereka. Mereka masih terbawa emosi saja, nak.” Annisa menuturkan seperti itu pada mereka agar tak menaruh dendam pada opa dan tantenya juga Najwa.


“Terbawa emosi sampai 1 bulan lebih, bunda? Menurut Dio mereka memang egois, bunda, di saat bunda dan kami sudah hidup tenang, mereka menginginkan bunda bersama Abah. Bunda harus berjuang melawan kerasnya hati abah saat itu. Tiga bulan Dio melihat bunda selau sedih, dan selalu berdebat dengan abah, hingga bunda tidur pun terpisah dengan Abah. Dan, saat bunda dan abah sudah bahagia, sekarang opa seperti ini, opa egois bunda, sangat egois,” ucap Dio yang semakin bertambah sakit hati dengan perlakuan opanya.


“Sudah, nak. Bunda mengerti perasaan opa,” ucap Annisa.


“Harusnya opa juga tau akan perasaan bunda, bunda sedang hamil. Bunda katakan saja pada opa kalau bunda hamil,” ujar Shifa.


“Percuma saja, kalau hati opa kalian masih tertutup batu yang amat keras,” ucap Annisa.


“Iya bunda, kenapa oma yang baik sekali malah di panggil Allah dulu,” ucap shifa.


“Hus...kamu jangan seperti itu, itu semua sudah suratan dari Allah. Kamu jangan menyalahi takdir, nak,” tutur Annisa.

__ADS_1


Malam ini Annisa benar-benar merasakan kehampaan di dalam kamar. Semua kenangan bersama Arsyad satu-persatu muncul di ingatannya. Annisa menangis dan memeluk baju Arsyad. Annisa menjerit meraskan betapa sakit hatinya karena terpisah dari suaminya.


__ADS_2