
Evan semakin mendesak Rania untuk segera bertunangan dengannya. Berbagai macam alasan Evan keluarkan. Evan bilang ini adalah permintaan eyangnya. Jadi, Rania mau tidak mau harus memenuhi keinginan eyang dari Evan.
"Ini keinginan Eyang, kalian bulan depan harus segera menikah," ucap Frans.
"Maaf Om, keluarga Rania belum bisa pulang bulan depan, sepertinya bisa pulang 2 atau 3 bulan lagi," jawab Rania.
"Tidak masalah mereka tidak pulang," ucap Frans lagi.
"Rania butuh wali, sedangkan adik ayah belum bisa pulang." Rania masih bersikeras untuk menolak pernikahannya dengan Evan.
Rania semakin tahu, kalau keluarga Evan hanya mengincar harta orang tuanya saja.
"Apa butuh seorang wali, bukankah bisa di wakilkan?" tanya Frans.
"Selagi adik ayah masih ada dan bisa pulang, Rania akan tetap meminta adik ayah untuk menikahkan Rania. Maaf Rania juga belum siap untuk menikah lagi," jawab Rania.
Frans tidak bisa berkata apa-apa lagi. Rania sudah memutuskan untuk tidak menikah lagi sebelum pamannya pulang. Evan dan Frans semakin tahu, kalau Rania sudah termakan omongan Dio.
"Apa kamu masih ingin bersama Dio?" tanya Evan.
"Maaf Van, aku dan Dio sudah berakhir. Tapi, tidak untuk ikatan keluarga Dio dengan aku. Dan, karena ayah juga menitipkan perusahaan ayah. Jadi kami masih menjalin hubungan yang baik. Untuk masalah ingin bersama, aku tidak tahu, jodoh adalah rahasia Allah. Bisa jadi sekarang menikah besok bercerai dan di pertemukan lagi. Semua itu rahasia dan atas kehendak-Nya." Rania menjelaskan pada Evan.
Rania berpamitan untuk pulang dari rumah Evan. Evan mengantarkan Rania untuk pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah. Evan masuk dulu ke dalam rumah Rania. Rania masuk ke dalam kamarnya, menaruh tas dan berganti pakaian santai di rumah.
Evan terlihat sedang duduk di sofa ruang tengah. Rania keluar dengan membawakan secangkir kopi untuk Evan.
"Van, di minum dulu."
"Terima kasih."
Rania duduk di samping Evan, dia sebenarnya tidak ingin Evan lama-lama di rumahnya. Tapi, Evan tadi minta di buatkan kopi olehnya. Dan, akhirnya dia terpaksa.
Evan menyesap kopi yang di buatkan Rania. Rania hanya diam sambil memainkan ponselnya. Evan mendekati Rania yang duduk di sampingnya. Rania semakin gelisah karena Evan terus menyentuh dan merangkul Rania.
"Evan, jangan seperti ini." Rania menepis tangan Evan yang mencoba menyentuh pipinya.
"Ran, apa salahnya. Kita mau menikah," ujar Evan.
"Maaf, Van. Aku juga belum menyetujui pernikahan kita. Dan, maaf aku tidak suka kamu seperti ini." Rania semakin menjauhi Evan.
Evan menarik tangan Rania hingga Rania terduduk lagi. Dan, dengan penuh amarah serta nafsu yang sudah merasuki Evan Evan mendaratkan bibirnya ke bibir Rania. Satu tamparan keras dari tangan Rania mengenai wajah Evan.
"Pergi! Keluar dari sini! Aku tidak sudi memiliki suami seperti kamu!" Rania mengusir Evan detik itu juga.
"Ran, maaf. Maafkan aku, oke aku tidak akan melakukannya lagi. Maafkan aku, Rania." Evan meminta maaf pada Rania. Tapi, kata maaf dari Evan seakan tidak membuat hatinya luluh.
"Sialan! Bodoh sekali kamu, Van. Tidak seperti ini caranya, Evan." Evan mengumpat dalam hatinya.
Evan merasa sia-sia dari tadi meminta maaf pada Rania. Rania hanya diam dan semakin menangis. Hanya kata-kata "pergi" yang Rania ucapkan kala itu.
Rania masih terduduk di sofa setelah Evan pergi dari rumahnya. Rania tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu. Lima belas bulan menikah dengan Dio saja, Dio bisa menghargai Rania, walaupun Dio membenci Rania saat awal pernikahannya.
^^^^
Evan memukul kemudinya. Dia sangat marah akan perbuatan Rania yang menampar dirinya. Dirinya belum pernah di perlakukan wanita seperti itu. Karena ketampanannya membuat wanita bertekuk lutut di hadapannya. Apalagi dia seorang pengusaha muda. Baru Rania saja yang memperlakukannya seperti tadi.
"Sialan, ini baru permulaan, Evan. Tenang besok Rania akan bertekuk lutut di hadapanmu, dan menyerahkan semuanya kepadamu, seperti wanita-wanita yang pernah kamu tiduri." Evan masih mengumpat kesal dalam hatinya.
Evan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Entah mau ke mana dia pergi. Yang ada dipikirannya adalah bagaimana bila membuat Rania bertekuk lutut di hadapannya.
"Oke, seminggu lagi kita ada meeting bersama ke luar kota. Ini saatnya aku memulai permainan bersama kamu Rania." Evan menyeringai, membayangkan Rania memberikan segalanya untuk dia.
^^^^
Rania masih terus menangis mengingat kejadian tadi. Hingga muncul pesan singkat dari Arsyad yang menyuruh dirinya datang ke rumahnya.
"Ada apa abah menyuruhku ke sana?" gumam Rania.
Rania segera membasuh wajahnya dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah Arsyad. Dia mengemudikan mobilnya sendiri. Dia mencoba menenangkan pikirannya yang kacau karena di buat Evan.
Rania di sambut denan hangat oleh keluarga Arsyad. Rico yang sudah rindu dengan mantan cucu menantunya itu memeluk erat Rania. Seketika Rico teringat tentang Najwa yang sampai saat ini belum ada kabarnya.
"Ayo masuk, opa dan abah perlu bicara dengan kamu." Rico merangkul Rania dan menyuruhnya masuk ke dalam.
Rania duduk di depan Rico dan Arsyad. Entah apa yang akan mereka bicarakan saat ini. Rania tidak tahu. Arsyad mendapat kabar dari Dio, kalau Evan dan ayahnya memiliki rencana yang buruk. Jika Dio yang menasehati, tentunya Rania beranggapan bahwa Dio menjelek-jelakan Evan. Jadi Dio lebih baik meminta abahnya dan opanya yang menasehati Rania, untuk berhati-hati dengan Evan.
"Ran, apa kamu sudah yakin akan menikah dengan Evan?" tanya Arsyad.
"Maaf abah bukannya mau ikut campur. Abah bicara seperti ini, karena kamu sudah seperti anak abah sendiri. Abah hanya ingin kamu memikirkannya kembali, Nak," imbuh Arsyad.
"Memang rencana menikah dengan Evan ada, Abah. Tapi, Rania belum siap. Karena Evan….."ucapan Rania terhenti kala mengingat perlakuan Evan tadi.
"Evan ingin perusahaan ayahmu? Atau Evan melakukan hal yang tidak baik padamu?" tanya Rico.
"Iya, opa. Bukan Rania mau mengadu pada opa dan abah, Rania hanya takut saja. Rania di sini hanya memiliki keluarga opa yang dekat dengan Rania. Rania butuh masukan dari opa dan abah, mengenai hal ini." Rania menjelaskan semua dengan mata berkaca-kaca.
"Dan tadi Evan berusaha memaksaku agar mau melakukan hal lebih dalam hubungannya. Opa dan abah tau kan , kalau Rania dan Dio sudah menikah juga belum pernah melakukan apapun. Dan, meskipun Dio sangat kasar juga membenci Rania, dia masih menghargai Rania." Rania menjelaskan lagi apa yang tadi Evan lakukan pada Rania.
"Itu yang opa takutkan. Kamu di sini sendirian, ada baiknya kamu tinggal di sini, Rania," ujar Rico.
"Tidak opa, rumah nanti kosong. Lagian Dio juga sekarang tinggal di sini, kan?" Rania menolak saran dari Rico.
"Dio tinggal di rumahnya. Dia jarang ke sini. Itu kalau kamu mau, kamu boleh tinggal di sini, Abah juga takut kalau Evan macam-macam dengan kamu, Ran."
"Abah jangan khawatir. Rania akan baik-baik saja."
Setelah pulang dari rumah Arsyad. Rania tidak langsung pulang ke rumahnya. Hari belum begitu sore, dia melajukan mobilnya menuju makan ayah dan ibunya.
Dua gundukan tanah saksi cinta sejati Reno dan Anna. Rania berjongkok di depan makan kedua orang tuanya. Berdoa untuk mereka yang sudah berada di dunia yang lain.
"Rania harus bagaimana, Ayah, ibu? Rania sendiri, apa Rania harus menikah dengan Evan? Ayah, ibu, maafkan Rania," cap Rania dengan lirih.
Rania keluar dari area pemakaman, dia melihat seseorang yang ia kenal. Seorang laki-laki yang ia cintai. Rania melihat Dio yang sedang berjongkok di depan makan ayahnya. Rania mendekatinya. Terdengar suara Isak tangis Dio di depan makam ayahnya. Semua rasa penyesalan Dio selama ini ia utarakan di depan makam ayahnya.
"Ayah Arsyil sudah bahagia di sana. Jangan seperti itu. Yang berlalu biarlah berlalu. Perbaiki dirimu lagi, jangan sampai kamu mengulangi masa lalu yang membuat dirimu menyesal di kemudian hari." Rania memegangi bahu Dio dan berjongkok di sebelahnya.
"Rania, kamu di sini?" tanya Dio dengan menyeka air mata yang masih menetes dari sudut matanya.
"Iya tadi dari makam ayah dan ibu," jawabnya.
"Dio kamu yang bilang pada Abah, soal Evan?" tanya Rania.
"Tidak, paling aku memberitahukan kalau dalam waktu dekat ini kamu akan bertunangan dengan Evan," jawab Dio.
__ADS_1
"Evan maunya bulan depan aku dan Evan menikah. Tapi, aku menolaknya. Dan Evan ...." Rania menjelaskan semua apa yang Evan lakukan pada Rania tadi.
Dio mengepalkan tangannya. Sungguh dia ingin menghajar bahkan menghabisi Evan. Namun, Dio sadar, dirinya tidak ingn ada keributan yang berujung ke jalur hukum.
"Ke mana pun kamu pergi dengan Evan, kamu hubungi aku. Jangan sampai tidak. Aku takut dia nekat melakukan sesuatu yang mungkin akan menyakitimu." Dio mengusap bahu Rania dan meminta Rania ke manapun Rania pergi dengan Evan, dia harus menghubungi Dio.
"Iya, Dio," ucap Rania dengan ragu.
"Rania, bukan aku mau ikut campur soal hubungan kamu dan Evan. Tapi, aku hanya tidak mau dia melakukan hal yang merugikan kamu sebagai wanita," jelas Dio. Rania hanya menganggukkan kepalanya dan mencoba mencerna ucapan Dio.
"Kamu wanita baik-baik, Ran. Kamu perempuan yang masih suci. Aku harap kamu mendapat laki-laki yang baik, bukan seperti Evan. Jangan korbankan pernikahan kamu lagi, karena rasa tidak enak hati. Kamu sekarang sendirian. Sudah tidak ada ibu dan ayah, aku harap kamu bisa menentukan dengan bijak pilihan untuk hidupmu nanti."
"Iya, Dio. Terima kasih untuk masukannya. Aku tidak tahu kalau tidak ada keluarga Abah dan kamu. Mungkin aku sudah memutuskan untuk menikah dengan Evan bulan depan," ucap Rania.
"Jalan hidupmu ada di tanganmu saat ini, Rania."
"Ayo pulang sudah mau petang," ajak Dio.
"Iya. Oh iya Dio, Minggu depan aku ke luar kota dengan Evan. Mau menemui klien. Mungkin aku akan satu hari di luar dengan Evan. Dan, aku takut Evan akan macam-macam denganku," ucap Rania.
"Nanti bisa di atur, kamu selalu hubungi aku. Kamu hati-hati, kamu pasti bisa melewati ini."
"Iya Dio, aku juga ingin memutuskan hubungan ini dengan Evan, tapi aku belum bisa mencari jalan keluarnya."
"Kalau itu urusan kata hati kamu, Ran. Aku hanya bisa memberi saran sedikit, belajarlah dari masa lalu," ucap Dio.
"Iya Dio. Aku pamit pulang dulu," ucap Rania sambil masuk ke dalam mobilnya.
Dio memerhatikan mobil Rania yang sudah melaju terlebih dahulu, hingga mobil Rania hilang dari pandangannya. Dio masih terduduk di depan kemudinya. Dia memikirkan ucapan Rania tadi saat Evan akan berbuat macam-macam pada Rania.
"Aku tidak bisa membiarkan Evan merusak Rania. Dia tidak pantas untuk Rania. Aku rela, jika Rania menikah lagi, tapi tidak dengan lelaki brengsek seperti Evan," ucap Dio lirih.
^^^^^
Najwa menikmati makan siangnya di rumah opa Wisnu. Siang ini, semua berkumpul di rumah opa Wisnu, Nuri juga ikut berkumpul, karena butik hari ini tutup. Nuri mengajak Najwa duduk di gazebo taman belakang sambil menikmati teh hijau yang tadi ia buat.
"Najwa, kamu yakin mau pulang ke Indonesia akhir atau awal tahun?" tanya Nuri.
"Iya, aku sudah yakin," jawab Najwa.
"Syukurlah, apa kamu sudah tahu kabar orang di rumahmu?" tanya Nuri lagi.
"Belum," jawab Najwa.
"Nuri, aku takut, kalau Abah mengusirku lagi aku harus bagaimana? Sedangkan aku pulang karena ingin meminta restu pada abah untuk menikah dengan Habibi," ucap Najwa.
"Abah kamu pasti menerima kamu, kok. Tidak ada orang tua yang tidak memaafkan kesalahan anaknya, Najwa. Percaya deh, semua keluarga kamu sangat menanti kedatangan mu. Itu pasti, Najwa," jelas Nuri.
"Semoga saja, Nur," jawab Najwa.
"Kamu sudah siap menikah dengan Kiki?" tanya Nuri.
"Aku ingin memulai hidup yang baru. Sampai kapan aku harus larut dalam masa laluku, Nur. Aku tidak mau, karena itu akan membuat aku sakit," jawab Najwa.
"Bagus, itu namanya temanku. Dan, dengan kamu cepat menikah dengan Kiki, aku bisa menikah dengan Tirta," ucap Nuri.
"Oh, jadi modus ya, kamu? Mau jodohin aku dengan Kiki, karena kamu mau dilamar Tirta?" Najwa mencubit lengan Nuri.
"Apaan sih, sakit tahu, nyubit-nyubit. Iya dong, kalian menikah, nanti giliran aku. Soalnya opa bilang, harus Kiki dulu yang menikah. Dia susah cari pasangan setelah …." Ucapan Nuri terhenti saat mengingat kejadian dulu.
"Setelah kamu menghilang. Iya, setelah kamu menghilang tidak menghubunginya, dia menjadi frustasi, hingga sakit," jawab Nuri dengan gugup.
"Maafkan aku Ainun, aku bohong. Kiki memiliki masa lalu yang jauh lebih menyedihkan. Ah, tapi sudahlah, aku tidak mau bercerita. Toh Najwa sepertinya percaya aku menjawab seperti itu," gumam Nuri.
"Oh, gitu. Iya, kemarin Habibi juga cerita seperti itu," ucap Najwa yang mempercayai ucapan Nuri tadi.
Nuri tersenyum lega, karena Najwa mempercayai apa yang di ucapkan dirinya. Nuri tidak mau menceritakan apa masa lalu Kiki, karena suatu saat nanti, Kiki akan menceritakannya sendiri pada Najwa.
Habibi dari tadi mendengar apa yang di bicarakan Ainun dengan Nuri. Dia merasa lega, karena Nuri tidak menceritakan apa yang dulu ia alami. Habibi belum siap mengatakannya pada Ainun. Tapi, suatu saat dia akan menceritakan semuanya.
"Cinta yang dulu memang masih tersisa di hati. Tapi, cinta Ainun benar-benar sudah menyatu dalam ragaku. Aku akan membahagiakanmu Ainun. Meski masih ada sedikit sisa cinta di masa laluku. Kamu wanita yang membuat aku menjadi tahu, apa artinya cinta dan apa arti memiliki," gumam Habibi.
^^^^
Raffi malam ini mengantarkan Alina pulang ke rumahnya. Wanita yang selama ini mengurus taman baca milik Umminya, dari dia kecil. Sekarang setelah dia tumbuh menjadi pria dewasa, dia menaruh hati pada Alina. Alina yang terpaut kurang lebih 10 tahun lebih tua darinya tak menjadikan dirinya menyerah untuk mendapatkan hati Alina.
"Raffi, sudah Kak Alin katakan, jangan terlalu berlebihan seperti ini. Kak Alin bisa pulang sendiri," ujar Alina yang terpaksa mau di antar Raffi.
"Aku tidak mau membiarkan Kak Alin pulang sendiri. Apalagi jalan kaki. Ini sudah malam, nanti kalau ada orang jahat bagaimana?" ucap Raffi.
"Kak Alin sudah biasa, Raf. Sudah jangan berlebihan," ucap Alina dengan kesal.
"Aku setiap hari akan mengantar kakak kalau pulang, Raffi tidak mau di bantah," ucap Raffi dengan nada sedikit memaksa.
"Oke, terserah!" tukas Alina.
"Baiklah,"
Raffi melihat Alina hanya diam saja, dia tahu kalau Alina sedang marah dengannya karena dia memaksanya. Raffi setiap hari mengantar Alina pulang dari taman baca. Satu-satunya pekerjaan yang menjadi sandaran hidupnya selama ini. Mengurus taman baca milik umminya Raffi dan sekaligus mengurus rumah peninggalan Almira.
Setelah Naila menikah dan hidup di luar kota bersama suaminya, Alina hidup sendirian. Ibu dan ayahnya sudah meninggal dunia. Sekarang dia di rumah sendirian.
"Kak, jangan marah dong. Masa cemberut gitu?" Raffi mencoba membuat Alina tersenyum, karena memang Alina sedang kesal dengan Raffi
"Kamu jangan seperti itu. Aku tidak enak dengan Abah kamu, Raf. Kamu pulang kerja bukannya langsung pulang ke rumah, malah ke sini dulu." Alina berkata seperti itu.
"Ini kan rumah ummi, taman baca juga milik ummi. Jadi apa salahnya aku pulang ke rumah ummi. Ya sekalian untuk bantuin Kak Alina juga, sih," ucap Raffi.
"Aku tidak enak dengan yang lain, ya dengan Pak Satpam, bibi, dan yang lainnya kalau kamu melakukan hal yang berlebihan, Raf," ujar Alina.
"Ya biarin saja, jangan di dengar apa kata mereka," tutur Raffi.
Alina hanya diam saja. Alina tahu, kalau Raffi menaruh harap padanya untuk lebih dekat lagi. Alina belum memikirkan dekat dengan laki-laki lagi setelah masa lalu yang begitu rumit menimpa dirinya masih terasa hingga sekarang.
"Kak Alin sudah memiliki kekasih, atau calon suami?" tanya Raffi.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Alina bertanya balik.
"Ya ingin saja, aku lihat kakak belum pernah bersama laki-laki," jawab Raffi.
"Jangan bahas ini Raf," ucap Alina dengan nada sedikit marah.
Raffi tidak tahu kenapa Alina begitu dingin dengan pria. Bahkan dengan Raffi juga dia dingin, padahal sebelum sedekat ini Alina tidak sedingin ini pada Raffi.
__ADS_1
"Kenapa Raffi sekarang seperti ini? Aku tidak mau, kejadian dulu terulang. Aku takut, aku takut jika terlalu dekat dengan pria. Walaupun aku tahu, Raffi orang baik. Apalagi aku tahu Raffi sejak Raffi masih bayi." Alina bergumam dengan menatap ke depan.
Sesampainya di rumah Alina, Alina langsung turun tanpa mempersilakan Raffi untuk mampir, walau hanya sekedar basa basi. Raffi ikut turun mengekori Alina.
"Terima kasih, Raf. Lebih baik kamu langsung pulang, tidak baik bertamu di rumah wanita yang hidup sendirian," ucap Alina dengan sedikit ketus.
"Oke, aku hanya memastikan kakak sampai di dalam rumah dengan selamat," ujar Raffi.
"Aku sudah sampai, silakan pulang, dan terima kasih," ucap Alina.
"Baiklah." Raffi melangkahkan kaki untuk pulang.
Raffi sebenarnya penasaran dengan Alina. Apa yang Alina sembunyikan. Yang menjadi pertanyaannya, kenapa Alina selama ini dingin dengan laki-laki dan dengan usia yang sudah hampir 40 tahun, dia belum menikah.
"Aku akan terus mencari tahu tentang kamu, Kak. Aku sungguh jatuh cinta denganmu, Kak Alina. Apapun status kakak." Raffi bergumam sambil melajukan mobilnya.
Raffi juga ingat kata satpam di taman bacanya dan kata bibi yang merawat rumah umminya kalau Alina sudah pernah menikah tapi tidak berlangsung lama. Tapi, kata Shifa dan Naila, Alina belum pernah menikah. Entah mana yang benar Raffi tidak tahu. Bagi Raffi status tidak penting. Dia hanya ingin Alina dan ingin sekali membahagiakan Alina. Karena dia tahu, dalam hidup Alina yang baik-baik saja, menyimpan sejuta luka di hatinya.
"Izinkan aku untuk membahagiakan kamu, Kak Alin," ucap Raffi dengan lirih.
^^^^
Rania sudah bersiap untuk pergi dengan Evan menemui Klien di luar kota. Rania sudah memberitahukan pada Dio ke mana dia akan pergi dengan Evan. Rania semakin curiga dengan Evan yang sekarang semakin dingin dengannya semenjak kejadian itu.
Evan menjemput Rania di rumahnya. Mereka berangkat pukul 8 pagi. Rania sedikit takut, karena mengingat kejadian kemarin di rumahnya. Saat Evan memaksa mencium Rania dan mau melakukan hal yang lebih dari itu.
"Van, apa klien kita sudah menunggu kita?" tanya Rania.
"Sudah, beliau sudah menunggu di Hotel X," jawba Evan.
Dengan segera Rania menghubungi Dio agar menuju ke mana Rania dan Evan berangkat.
"Tidak akan bisa Dio menemui kami, Rania. Beruntung klien membatalkan semua. Dan, hari ini aku pastikan Rania jatuh dalam pelukanku," gumam Evan.
Evan sudah curiga dengan Rania sejak seminggu sebelum berangkat menemui klien. Kala itu Evan yang akan memberitahukan bahwa kliennya mengundurkan pertemuannya, dia lebih dulu mendengar percakapan Dio dan Rania yang membahas soal dirinya.
"Ran, kita mampir ke cafe dulu, ya? Pak Wira belum datang di hotel," ajak Evan.
"Emm … baiklah." Rania menerima ajakan Evan untuk ke cafe.
Evan tersenyum tipis, menyiratkan dia akan memenangkan hari ini. Dia sudah ingin Rania jatuh ke dalam pelukannya dan bertekuk lutut di hadapannya.
"Siang ini, aku pastikan kamu menjadi milikku Rania. Jangan sok suci dan jual mahal. Kamu sudah janda. Aku tahu kamu membutuhkan sentuhan seorang pria," gumam Evan.
"Van, ini air mineral masih utuh, kan?" tanya Rania.
"Iya," jawbanya.
"Aku minum, ya?"
"Iya, Ran."
"Oke, habiskan air mineralnya Rania. Kamu akan menjadi milikku hari ini," gumam Evan.
Rania meneguk air mineralnya. Dia merasa haus sekali. Hingga air mineralnya sisa setengah. Rania merasa panas menyerang di dalam tubuhnya. Dia sungguh gelisah sekali. Dia baru merasakan seperti ini. Entah apa yang membuatnya seperti ini. Rasanya Rania membutuhkan sentuhan sensual dari seorang pria.
"Aku kenapa? Kenapa aku ingin sekali. Ini sungguh menyiksaku." Rania berkata dalam hati.
Dia merasakan ingin sekali melakukan hal yang di luar nalar. Hingga tangannya bermain memegang miliknya sendiri.
"Ran, kamu baik-baik saja?" tanya Evan.
Rania hanya menggelengkan kepalanya dan menatap wajah Evan dengan mata sayu dan menyiratkan ingin sekali di sentuh Evan.
"Cepat juga reaksinya." Evan menyeringai puas. Dia ingin langsung melajukan mobilnya menuju rumah pribadinya.
^^^^^
"Ini bukan jalan menuju ke hotel itu. Ini ke sebuah perumahan, iya ini menuju ke perumahan Elit. Untuk apa Evan membawa Rania ke sini? Ini tidak beres!" Dio mempercepat laju mobilnya.
Dio sengaja memakai mobil kantor, jadi Evan tidak curiga dengan mobil yang di gunakan Dio. Dio menghubungi Rania, tapi ponselnya tidak aktif.
"Sialan! Ini pasti Evan mau macam-macam dengan Rania!" Dio mengumpat kesal.
Beruntung dia dari tadi mengikuti mobil Evan. Dan, ternyata mobil Evan masuk ke dalam sebuah rumah minimalis namun mewah. Entah itu rumah milik siapa Dio tidak tahu.
Rania terlihat di papah oleh Evan masuk ke dalam rumah itu. Evan yang sedang menikmati kemenangannya dia langsung membawa Rania ke dalam kamar. Rania yang sudah kalap, dia benar-benar ingin di sentuh seorang lelaki.
"Evan, please ini sungguh panas sekali," racau Rania.
"Sabar sayang, aku akan memuaskan dirimu," ucap Evan dengan menciumi bibir Rania.
Rania memberontak, tapi dirinya benar-benar ingin melakukannya. Hasratnya semakin meningkat. Tanpa aba-aba dia melucuti baju Rania hingga polos. Rania hanya pasrah dan menikmati apa yang Evan lakukan.
"Brak….!" Dio mendobrak pintu kamar Evan.
Dio geram sekali melihat Rania di perlakukan seperti itu. Dio memukuli Evan dan mengancam akan melaporkan perbuatannya pada polisi.
"Minggir! Bukan seperti ini memperlakukan seorang wanita." Dio geram sekali dan masih memukuli Evan.
Dio melihat Rania yang sudah polos berada di ranjang. Dio menutup tubuh Rania dengan selimut dan membawanya keluar dari rumah Evan.
"Semua bukti sudah ada di tanganku, kamu siap-siap saja akan mendekam di penjara!" Dio dengan murka berkata seperti itu pada Evan.
Rania semakin meronta. Dia tidak tahu harus membawa Rania kemana. Dio terpaksa mengikat tangan Rania yang semakin berontak dengan reaksi obat yang di berikab Evan.
"Brengsek!" Dio mengumpat kesal.
"Aku harus bawa Rania ke rumah bunda." Dio melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke rumah Annisa.
^^^^
Semua melihat kedatangan Dio dengan Rania. Rania dengan keadaan polos hanya tertutup oleh selimut.
"Bunda, bantu Dio." Teriak Dio.
Dio membawa Rania ke kamar tamu dan di ikuti dengan Annisa.
"Ini kenapa Rania?" tanya Annisa dan Arsyad.
"Sudah, ceritanya panjang, bawa Rania ke kamar mandi, biar efek obat yang di berikan Evan hilang," ucap Dio pada Annisa.
Dio menunggu di luar bersama Arsyad. Dio masih terlihat penuh amarah. Matanya memerah karena dia dari tadi melihat Rania seperti itu dan tidak tega. Dio menangis mengingat keadaan Rania tadi. Arsyad menepuk bahu Dio dan menenangkan Dio yang masih gusar dengan kejadian tadi.
__ADS_1
"Semoga saja Evan belum jauh menyentuh Rania," gumam Dio. Dio mengepalkan tangannya, dia masih merasa geram dengan perbuatan Evan terhadap Rania.