THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 31 "Kedai Es Krim"


__ADS_3

Arsyad dan Annisa sudah selesai membersihkan kamarnya. Arsyad mencuci tangan dan wajahnya, begitu juga dengan Annisa. Annisa kembali memakai jilbabnya, setelah selesai memberemsihkan kamarnya. Tadi memang dia melepas jilbabnya saat sedang membersihkan kamarnya. Arsyaf melihat Annisa akan memakai jilbabnya. Arsyad mendekatinya dan berdiri di belakang Annisa yang sedang bercermin.


"Ngapain kakak di belakangku?"tanya Annisa.


"Sedang melihat kamu memakai jilbab,"ucapnya.


"Aku kira sedang apa,"ucap Annisa.


"Kamu tidak ingin memakai jilbab yang syar'i, Nis?"tanya Arsyad.


"Annisa belum siap pakai jilbab besar-besar, kak,"ucap Annisa.


"Aku kira kamu suka dan ingin memakai jilbab yang lebih syar'i lagi,"ucap Arsyad.


"Nisa sadar, masih banyak yang harus Nisa perbaiki, kak. Nisa belum siap seperti Kak Mira, karena ini apa adanya Annisa, bukan Kak Mira,"ucap Annisa.


Annisa merasa dirinya di banding-bandingkan dengan Almira. Annisa mencoba bersikap seperti biasa di depan Arsyad, walaupun hatinya agak sakit dengan penuturan Arsyad.


"Kak, memakai jilbab itu dari hati, Annisa juga baru belajar kemarin, kurang lebih satu bulan sebelum Arsyil meninggalkan Annisa. Bukan berarti wanita itu buruk kan, kak? Walaupun hanya memakai jilbab yang seperti ini?" Annisa bertanya agak menekan pada suaminya dan menunjukan jilbab yang ia pakai.


"Ajari aku, kak. Agar seperti Kak Mira, bisa memakai pakaian yang benar-benar menutup seluruh anggota tubuhnya,"ucap Annisa.


Dia memang suka memakai jilbab segi empat atau pashmina. Memakai Khimar juga Khimar yang modis dan tidak terlalu besar, yang penting menutupi dadanya.


Arsyad dari tadi hanya terdiam, dia merasa salah dalam berkata, seharusnya dia tidak berkata seperti itu. Mungkin dia terlalu merindukan sosok Almira yang ketika bercermin dia selalu berada di sampingnya, mengepang rambutnya yang panjang, mengambilkan Khimar dan cadarnya. Arsyad benar-benar menyayangi Almira, apapun itu akan dia lakukan dan akan dia penuhi keinginan Almira.


"Maaf Nis, bukan berarti aku membanding-bandingkan kamu dengan Almira, aku hanya bertanya saja,"ucap Arsyad.


"Iya kak, aku tau, lupakan itu, ayo jemput anak-anak,"ajak Annisa.


Annisa menyembunyikan sesak di dalam dadanya, dia memang merasa di banding-bandingkan dengan Almira.


"Kalau aku mau, aku juga bisa membandingkan Arsyil dengan kamu, kak. Dia lebih dari segalanya di bandingkan kamu, meskipun kamu begitu mewah memperlakukanku saat ini,"gumam Annisa.


Annisa keluar dari kamarnya, dia mendahului Arsyad yang masih berada dalam kamarnya.


"Aku merindukan mu, Syil. Merindukan kamu yang selalu membuat aku tersenyum dengan canda tawamu,"gumam Annisa.


Arsyad keluar menemui Annisa yang sedang duduk di teras. Dia memandang ke segala arah dengan tatapan kosong. Arsyad memegang bahu Annisa, Annisa sedikit terjingkat karena Arsyad mengagetinya.


"Kamu marah dengan kakak?"tanya Arsyad.


"Tidak, marah kenapa?" Annisa balik bertanya.


"Soal tadi di kamar," ucap Arsyad.


"Oh itu, tidak, marah untuk apa?"ucap Annisa.


"Ayo jemput anak-anak,"ajak Arsyad.


"Kak, gak salah jam segini mau jemput mereka pulang?"tanya Annisa.


"Iya, ya. Kita jalan-jalan dulu, yuk. Kemana gitu,"ajak Arsyad.


"Ke taman baca Kak Mira yuk, kak,"ajak Annisa.


"Mau apa?"tanya Arsyad.


"Ingin ke sana saja,"ucap Annisa.


"Ke tempat lain saja ya, Nis,"pinta Arsyad.


"Kenapa? Kakak ingat Kak Mira kalau ke sana?"tanya Annisa.


"Iya, aku selalu ingat, tidak di sana pun aku selalu ingat. Aku sadar, aku sudah memiliki istri lagi, aku tidak mau terus-terusan hidup dalam bayang Almira, biarlah dia tenang di surga,"ucap Arsyad.


"Lalu kita mau ke mana?"tanya Annisa.


"Jalan saja, yuk,"ajak Arsyad.


Arsyad menarik istrinya, mereka berjalan beriringan. Tangan Arsyad merangkul pinggang istrinya. Senyum mengembang di wajah mereka, saat berjalan menuju mobilnya.


Mereka berdua menghabiskan waktu jalan berdua, entah apa yang di rasakan Arsyad. Dia seperti muda lagi, mengajak jalan Annisa ke mall dan makan es krim bersama di kedai es krim.


Annisa seperti di manjakan kakaknya, apa yang ia inginkan di kabulkan semua oleh suaminya.


"Kakak," panggil Annisa manja.


"Apa?"tanya Arsyad.


"Sudah puas belanjanya?"tanya Arsyad lagi, karena Annisa masih saja diam waktu di tanya.


"Makan es krim yuk,"ajak Annisa.


Arsyad sejenak diam saat istrinya mengajak makan es krim. Annisa berpikir ulang, karena dia tau, pasti Arsyad teringat Almira.


"Eh, tidak jadi, tidak usah makan es krim, kak. Kita kan belum sholat dhuhur, yuk sholat dulu, tuh depan ada masjid,"ajak Annisa.


"Iya, sholat dulu, yuk." Arsyad mengiyakan untuk sholat, dia mengusap lembut kepala istrinya itu.


"Maafkan aku Nis, aku ingat Mira jika menyebut kata Es Krim. Iya, nanti kita makan es krim," gumam Arsyad dalam hati.


Arsyad membelokan mobilnya ke sebuah masjid, mereka turun dari mobilnya dan masuk ke dalam masjid untuk sholat dhuhur. Setelah mereka selesai sholat, Arsyad mengajak Annisa ke kedai es krim yang dekat dengan sekolahan Dio dan Raffi, karena mereka akan menjemput Dio dan Raffi terlebih dahulu, setelah itu menjemput m Najwa dan Shifa yang satu sekolahan.


Dio sekolah di sekolah yang sama dengan Raffi. Tapi Dio yang tingkat SMP nya, sedangkan Raffi masih kelas 6 SD. Dio sekolah di situ karena dia ingin bareng dengan Raffi, walaupun Raffi masih SD kelas 6 dan Dio kelas 2 SMP sama dengan Najwa dan Shifa.


Arsyad membelokan mobilnya ke kedai es krim. Annisa yang sedang memerhatikan ponselnya, dia tidak tau kalau suaminya menghentikan mobilnya di depan kedai es krim.


"Nisa, ayo turun,"ajak Arsyad.


Annisa menaruh lagi ponselnya di dalam tas, dia melihat ke depan. Annisa baru sadar kalau suaminya menghentikan mobilnya di depan kedai es krim.


"Kak, ngapain ke sini?"tanya Annisa dengan melepas seat beltnya.


"Katanya kamu ingin makan es krim, ayo turun,"titah Arsyad.


Arsyad membuka pintu mobilnya, dia akan turun dari mobil, tapi tangan Annisa menghentikannya. Annisa memegangi tangan suaminya.


"Kakak, aku kakak terpaksa ke sini, kita pulang saja ya, langsung jemput Dio saja," ucap Annisa.


"Sudah, ayo kita makan es krim dulu," ajak Arsyad.


"Kaka tidak apa-apa?"tanya Annisa.


"Iya, kakak tidak apa-apa, memang tadi kakak sempat ingat Almira, tapi sudahlah, kakak salah kalau mengingat Almira terus, kasihan dia di sana,"jelas Arsyad.


Annisa hanya memandangi wajah suaminya itu, dia masih memegang tangan suaminya.


"Ya sudah ayo turun, tunggu apa lagi." ajak Arsyad sambil menarik hidung istrinya.


"Kakak, hobi sekali narik hidung, sakit tau, iya ini mau turun,"ucap Annisa.


"Daripada kamu, hobinya nabrak Kaka terus,"ucap Arsyad.


Annisa keluar dari mobilnya, mereka berjalan beriringan masuk ke kedai es krim, lalu memilih es krim yang mereka inginkan. Mereka duduk di kursi yang ada di depan kedai es krim dan menikmati es krimnya.


"Kak, apa aku hobi menabrak kakak?"tanya Annisa.


"Iya."jawab Arsyad sambil menyendokkan es krim ke mulutnya.

__ADS_1


"Kamu ingat saat pertama kita bertemu di depan cafe Shita, kamu menabrak ku, di kampus berapa kali saja kamu menabrak ku, hingga kamu sudah menikah dengan Arsyil saat di rumah papah kamu juga menabrak ku,"jelas Arsyad.


"Kakak mengitungnya?"tanya Annisa.


"Tidak, kakak hanya ingat saja,"ucap Arsyad.


"Apapun kejadian dengan kamu, aku selalu ingat Annisa, tapi kenapa aku tak bisa mencintaimu lagi, bahkan kamu tidak memakai penutup tubuhmu saja aku tak tergoda sedikitpun,"gumam Arsyad.


"Kakak, jangan melamun, jadi belepotan kan, makannya." Annisa mengusap es krim yang menempel di sudut bibir suaminya.


"Seperti anak kecil saja kakak ini"ucap Annisa lagi.


Arsyad hanya tersenyum dan membiarkan Annisa mengusap bibirnya, dia juga mencoba ada getaran di hatinya apa tidak dengan Annisa melakukan itu, tapi bagi Arsyad itu biasa saja.


Arayad memandangi wajah istrinya yang sedang membersihkan bibirnya. Annisa sadar suaminya dari tadi memerhatikannya. Dia menghentikan mengelap bibir suaminya denagn wajah merona.


"Sudah?"tanya Arsyad sambil memegang tangan Annisa dan menciumnya.


"Eh, sudah kak,"ucap Annisa.


"Terima kasih ya,"ucap Arsyad.


"Iya, kak," ucap Annisa gugup.


"Kok gini sih rasanya, kenapa aku gugup? Kenapa jantung ini berdebar-debar? Jangan bilang kamu jatuh cinta dengan Kak Arsyad, Annisa,"gumam Annisa.


Detak jantung Annisa masih belum stabil, Annisa menarik napasnya dalam-dalam mencoba menenangkan gejolak dalam hatinya. Arsyad melihat pipi Annisa yang merona, dia tersenyum dan mencubit pipi istrinya itu.


"Kenapa merah gini pipinya?"tanya Arsyad.


"Apa merah? Tidak kok, kak,"ucap Annisa.


"Kamu tidak melihat, aku yang melihat kok, ini pipi kamu masih memerah,"ucap Arsyad yanb masih memberikan sentuhan lembut di pipi istrinya.


"Kak, jangan pegang pipi Annisa terus, malu di lihatin anak SMA tuh,"ucap Annisa.


"Biarin, kita kan suami istri, gak pacaran,"ucap Annisa.


"Iya, tapi kan tetap saja malu, kak,"ucap Annisa.


"Kamu ganti baju di dapan aku dan tidak malu, kenapa aku pegang pipinya malu, Nis,"ucap Arsyad.


"Kakak." Annisa mencubit lengan suaminya.


"Ya sudah yuk, jemput Raffi dan Dio,"ajak Arsyad.


"Oke,"ucap Annisa.


Arsyad membayar es krim ke kasir, dia juga membelikan untim anak-anaknya di rumah nanti.


Arsyad melajukan mobilnya menuju ke sekolahan Dio dan Raffi, mereka memang satu lokasi sekolahannya. Hanya berbeda tingkat saja, Dio SMP dan Raffi SD. Arsyad sudah sampai di depan sekolahan mereka. Mobil Arsyas sudah berada di depan pintu gerbang utama sekolahan mereka. Banyak siswa yang berlalu lalang di depan pintu gerbang. Ada yang menunggu jemputan, ada yang menunggu ojek onlinez ada juga yang memakai sepeda bagi yang rumahnha dekat dengan sekolahan.


Mata Annisa tertuju pada halte sekolahan. Dio terlihat duduk dan asik mengobrol dengan siswa perempuan.


"Kakak, lihat anakku, dia sedang bersama cewek, haduh,"ucap Annisa sambil menepuk keningnya.


"Ayo ke sana, tapi jangan marahi dia,"ucap Arsyad.


"Iya, tidak,"ucap Annisa.


"Biarkan, dia masih mengenal satu sama lain, tau kan seumuran Dio kan sudah memasuki usia puber pertama,"jelas Arsyad.


"Iya, kak,"ucap Annisa.


"Ayo turun,"ajak Arsyad.


"Ehem…anak bunda sudah bisa genit sama cewek,"ucap Annisa yang tiba-tiba sudah berada di samping Dio.


"Bunda, Abah, kok sudah di sini?"tanya Dio gugup.


"Iya, kamu saja yang serius ngobrol dengan gadis cantik ini,"ucap Arsyad.


"Kamu teman Dio?"tanya Arsyad.


"I…iya, om,"jawabnya dengan menunduk malu.


"Jangan malu-malu gitu, tadi asik ngobrol dengan Dio, sekarang kok malu,"ucap Arsyad.


"Abah, dia teman satu kelas Dio, namanya Rania, abah, dia juga pindahan dari Luar Negeri makanya kami saling bercerita,"ujar Dio.


"Hay, salam kenal, saya Abahnya Dio." Rania bersalaman dengan Arsyad dan Annisa


"Saya, bundanya Dio,"ucap Annisa.


"Saya Rania, teman sekelas Dio, Rania juga pindahan dari Luar Negeri, Om, Tante,"ucapnya.


"Oh, mana ayah, ibum?"tanya Arsyad.


"Belum menjemput,"jawab Rania.


"Kamu pindahan dari mana, sayang?"tanya Annisa.


"Singapura, tante. Papah sudah pindah dan mengurus perusahaan yang di sini, jadi Rania pindah ke sini, ikut papah dan mamah"jelas Rania.


"Dio, mana Raffi?"tanya Annisa.


"Tuh, main bola." Dio menunjukan kakak sepupunya yang sedang main bola di lapangan sepak bola yang ada di sekolahannya


"Suka sekali dia dengan si kulit bundar,"ucap Arsyad.


"Panggil kakak mu, nak,"titah Annisa.


"Oke bunda." Dio memanggil Raffi yang sedang asik bermain bola.


Raffi dan Dio berjalan bersama menuju ke arah Arsyad dan Annisa.


"Dio, ini adek kamu?"tanya Rania.


"Ini kakak sepupuku, walaupun masih memakai seragam merah putih, kedudukan dia lebih tua dari aku, jadi aku panggil dia kakak,"ujar Dio.


"Oh,"jawab Rania.


"Kamu belum di jemput orang tuamu, nak?"tanya Arsyad.


"Belum, eh itu ayah sudah jemput Rania, om,"ucap Rania sambil menunjukan mobil yanb berhenti di sebelah mobil Arsyad.


Seorang laki-laki turun dari mobilnya, dia berjalan ke arah Rania yang sudah melambaikan tangan padanya.


"Maaf ayah terlambat, sayang. Bagaimana sekolahmu?"tanya Ayah Rania.


"Emm..baik-baik saja, Rania punya teman baru, ayah. Dia pindahan dari luar negeri juga, kenalkan ini Dio teman Rania." Rania mengenalkan Dio pada ayahnya.


"Hay, cakep sekali kamu, nak. Kamu pacar Rania?"tanya ayah Rania.


"Eh, buka Om, kami teman satu kelas, ini Abah dan bunda Dio om, dan ini saudara Dio." Dio mengenalkan orang tuanya pada ayah Rania.


"Reno,"sapa Arsyad.


"Arsyad," ucap Reno.

__ADS_1


"Setelah sekian purnama kita tidak bertemu, ini anakmu? Ini Rania yang dulu suka sekali bermain dengan Najwa dan Shifa? Yang dulu menolong Najwa dan Shifa waktu tersesat di villamu?"tanya Arsyad.


"Iya, siapa lagi kalau bukan Rania, ini. Anak ku hanya Rania saja, Syad. Kamu dengan?" Reno bertanya pada Arsyad karena yang di samping Arsyad adalah Annisa bukan Almira.


"Bagaiman Almira?"tanya Reno.


"Oh iya, kenalkan ini Annisa, istri aku, Ren. Almira sudah hampir dua tahun menyusul Naila ke surga,"ucap Arsyad.


"Ini Annisa bundanya Shifa, kan?"tanya Reno.


"Iya, adikku Arsyil meninggal sebelum Almira meninggal, dan papah juga anak-anak menyuruh kami menikah, ya seperti ini, aku baru kemarin menikab dengan Annisa,"jelas Arsyad.


"Wah…wah…pengantin baru, nih,"ucap Reno.


"Mana istrimu?"tanya Arsyad.


"Di rumah, ini aku menjemput Rania seklain pulang ke ruang untuk makan siang,"ucap Reno.


"Oh, ya sudah, kami duluan, Ren. Mau menjemput Najwa dan Shifa. Rania main nanti ke rumah Om, masih ingat Najwa dan Shifa kan?"tanya Arsyad.


"Iyaz sedikit ingat om, yang dulu bertemu di villa kan?"tanya Rania.


"Iya benar, nanti main ya?"ucap Arsyad.


"Iya, om,"jawab Rania.


Mereka saling berpamitan, Dio dan Raffi masuk ke dalam mobl. Roffi dari tadi merasa gerah sekali, karena siang-siang bermain bola.


"Abah, itu Rania yang dulu menolong Kak Najwa dan Kak Shifa saat tersesat di villa, kan?"tanya Dio.


"Iya, kamu suka?"tanya Arsyad menggoda Dio.


"Apaan sih, Abah. Baru saja kenal satu hari,"ucap Dio.


"Dari tadi Dio deket-deket sama cewek, bunda. Makanya aku tinggal main bola,"ucap Raffi.


"Kami siang-siang main bola, jadi keringatan gitu,"ucap Annisa.


"Di ajak teman, bunda. Lagiyan Raffi suka main bola, biar kaya Kak Ozil, ikut turnamen sepak bola dan futsal, sering juara lagi,"ucap Raffi dengan semangat.


"Kamu itu sekarang hobi main bola,"ucap Arsyad.


"Biarlah, kak, daripada Dio, hobinya ngegombalin cewek,"ucap Annisa.


"Ih, bunda kok gitu, ceweknya yang ngedeketin Dio. Dio mah slow,"ucap Dio.


"Kamu itu, sama seperti ayahmu, SMP saja sudah pintar ngerayu cewek,"ucap Arsyad.


"Kalau Abah?"tanya Raffi.


"Abah itu kak, suka sama cewek saja ternyata ceweknya suka sama yang lain, Abah gak gerak cepat, sih,"ucap Dio.


"Kata siapa kamu?"tanya Arsyad.


"Kata opa,"ucap Dio.


"Tapi kan sekarang abah sudah sama cewek yang Abah suka, ya gak Dio?"tanya Raffi.


"Yups, betul. Sudah Abah sama bunda jangan malu-malu gitu." Dio malah menggoda abah dan bundanya.


"Kamu, itu, pintar ya sekarang,"ucap Annisa.


Arsyad melajukan mobilnya menjemput Najwa dan Shifa. Mereka sudah terlihat menunggu di halte sekolahannya. Najwa dan Shifa gadis yang pendiam, mereka lebih suka berduaan dan membaca. Apalagi Shifa, dia hobi sekali membaca dan menulis, kalau Najwa sudah tau kan, dia lebih suka menggambar desain. Mobil Arsyad berhenti di depan Najwa dan Shifa yang sedang asik membaca bukunya. Arsyad dan Annisa turun menghampirinya.


"Kalian lama menunggu kami?"tanya Annisa


"Baru 10 menitan bunda,"ucap Najwa.


"Bagaimana sekolah di sini, Shifa?"tanya Arsyad.


"Senang, teman-temannya juga baik,"jawab Shifa.


"Ya sudah ayo pulang, abah akan mengajak kalian rumah baru kita,"ucap Arsyad.


"Ke rumah baru?"tanya Najwa.


"Iya, sayang, kita nanti akan tinggal di sana,"ucap Arsyad.


"Abah, apa kita akan meninggalkan rumah ummi?"tanya Najwa.


"Nak, kita butuh suasana baru sekarang, apa Najwa keberatan?"tanya Arsyad.


"Tidak masalah, kalau Abah yang mau, Najwa juga nurut, asal sama bunda juga,"ucap Najwa.


"Jelas dong sama, bunda,"ucap Annisa.


"Yeay…kita tinggal bersama,"ucap Shifa.


"Abah nanti Najwa tidurnha dengan Shifa ya?"tanya Najwa.


"Kalian sudah ada kamarnya masing-masing, nanti lihat saja,oke,"tutur Arsyad.


"Dio ingin tidur sama Abah,"ucap Dio.


"Kamu sudah gede, sudah tau cewek masa tidur sama Abah,"ucoa Arsyad.


"Yah, Abah, sekali-kali nanti Dio ingin tidur sama Abah,"ucap Dio.


"Iya, iya, nanti kamu boleh tidur sama Abah, biar bunda tidur sama Najwa atau Shifa,"ucap Annisa.


"Ehhh…tidak jadi, Dio tidur sendiri saja,"ucap Dio.


"Kenapa?"tanya Annisa.


"Ah, bunda…nanti bunda sama Abah gak bisa mesra-mesraan dong,"ucap Dio.


"Kami itu,"ucap Arsyad.


Mereka pulang ke rumah baru yang akan mereka tempati, karena Mba Lina sudah memasakan untuk makan siang. Arsyad melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumahnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


♥️happy reading♥️

__ADS_1


__ADS_2