
"Arsyil aku pulang, maafkan aku, Syil. Aku tak bisa menjaga kakak yang kamu sayang." Annisa bergumam di dalam hatinya, sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah yang dulu di tempati dia bersama Arsyil.
Dio, Shifa dan Kevin berjalan di belakang Annisa. Ya, mulai hari ini, Annisa, Dio, dan Shifa akan tinggal di rumah yang dulu ia tempati bersama Arsyil. Annisa membuka kamarnya dan masuk kedalam. Dia menghidupkan lampu kamarnya dan menata kamarnya. Semua benda di kamar Annisa tertutup rapi denagn kain biru muda. Annisa membukanya dan membersihkannya dari debu.
Annisa mencoba menahan rasa sesak di dadanya. Berkali-kali dia di tinggalkan orang-orang yang ia sayangi. Dan, dia mengalah pergi ke Berlin demi keutuhan keluarga kakak iparnya. Setelah mendapat secebus kebahagiaan lagi, dia harus merasakan pedihnya hidup sekarang ini.
"Bunda, biar Shifa saja yang membersihkan," ucap Shifa.
"Kalian bersihkan kamar kalian saja," jawab Annisa.
"Bunda tidak apa-apa Shifa tinggal sendirian?" tanya Shifa.
"Tidak, sayang," jawab Annisa.
"Kak, kakak bersihkan kamar kakak dulu, Dio akan di sini dengan bunda, nanti setelah kakak selesai, biar gantia Dio membersihkan kamar Dio" tutur Dio.
"Iya, titip bunda,"ucap Shifa dengan lirih.
Kevin memerhatikan Dio dan Shifa yang benar-benar bersikap dewasa sekali. Dia tidak ingin bundanya melakukan hal-hal yang seharusnya bundanya lakukan. Jadi Dio ingin menjaga bundanya yang sedang membersihkan kamarnya.
"Dio, ini koper bunda," ucap Kevin yang berdiri di ambang pintu kamar Annisa.
"Iya, om. Terima kasih," ucap Dio.
"Om keluar," pamit Kevin. Dio hanya menganggukkan kepalanya.
Kevin keluar dan dia membantu membersihkan ruangan tengah dan ruang tamu rumah Annisa. Rumahnya tampak berdebu sekali, karena jarang terjamah orang. Meski kadang Vera menempati rumah Annisa saat Doni lembur di bengkel. Tapi, sekarang sudah jarang, hanya saat mereka istirahat kerja saja mereka nempatin rumah Annisa.
Kevin selesai membantu membersihkan ruang tamu dan ruang tengah rumah Annisa. Dia melupakan kalau Rico menunggu dirinya di rumah sakit. Kevin mencoba ke belakang menuju ke dapur. Dia mengecek saluran air dan kamar mandi yang ada di belakang. Kevin memang merasa trenyuh sekali dengan keadaan Annisa sekarang. Dia baru saja melihat kebahagiaan pada diri Annisa dan Arsyad, sekarang mereka harus mengalami hal yang meyedihkan ini.
Annisa melihat Dio yang membantu membersihkan kamar Annisa. Dia mendekati Dio dan memeluk Dio dari belakang.
"Maafkan bunda ya, sayang," ucap Annisa.
"Bunda, ini bukan salah bunda, bunda istirahat jangan berpikir yang macam-macam. Pasti Abah sembuh, dan Abah kembali dengan Bunda," jawab Dio.
"Dio, bunda mohon sama Dio, jangan punya dendam pada opa dan Tante Shita. Mereka kali ini hanya terbawa rasa takut kehilangan Abah saja, kamu harus sabar, sayang," tutur Annisa.
"Iya bunda," jawab Dio.
__ADS_1
Dio sebenarnya sudah terlanjur sakit hati dengan kata-kata opanya dan Shita. Tapi, mau bagaimana lagi, Dio juga sadar ada darah keluarga Alfarizi yang mengalir di dirinya.
"Maafkan aku bunda, aku memang kecewa sama opa, opa yang menginginkan bunda kemabali ke keluarganya, menyuruh bunda menikah dengan Abah, tapi opa sendiri yang menyuruh bunda pergi dari Abah,"gumam Dio.
Dio dan Annisa keluar dari kamar Annisa. Dia melihat Kevin yang berjalan dari arah dapur. Annisa mengernyitkan dahinya melihat Kevin yang berjalan dari arah dapur.
"Kevin, kamu dari belakang?" tanya Annisa.
"Iya dari kamar mandi, memastikan kamar mandi air nya keluar atau tidak," jawab Kevin.
"Oh, ini yang membersihkan kamu juga, Vin?"tanya Annisa.
"Iya, sambil menunggu Bu Annisa ke luar dari kamar,"jawab Kevin.
"Oh, iya, Bu. Saya pamit pulang, Pak Rico menyuruh saya ke rumah sakit, katanya ada yang ingin beliau bicarakan," ucap Kevin.
"Oh, ya, hati-hati, aku bisa minta tolong Vin?"tanya Annisa.
"Minta tolong apa, Bu? Kalau say bisa pasti saya akan bantu," jawab Kevin.
"Fotoin Kak Arsyad, dan kirimkan ke kontak saya," pinta Annisa.
^^^^^
Malam ini Annisa sudah berada di rumah yang ia tempati dulu bersama Arsyil. Annisa menyibukan diri untuk memasak seadanya untuk makan malam dengan kedua anaknya. Tadi Annisa dan Shifa pergin ke supermarket yang dekat dengan rumahnya untuk membeli kebutuhan dapur dan lainnya. Sakit rasanya hati Annisa. Jauh dari orang yang ia cintai, yaitu suaminya. Dan, yang lebih menyakitkan lagi, dia di kucilkan oleh keluarga suaminya.
Shifa membantu menata makan malam di meja makan. Mereka benar-benar merasakan kesepian, biasanya mereka makan di meja makan yang luas dan banyak anggota kekuarga. Kini kembali seperti dulu, setelah Arsyil tiada. Mereka hanya bertiga lagi.
"Kembali seperti semula, ya ini sakit sekali, sangat sakit. Aku harus kuat, harus bisa mengembalikan hak ku sebagai istri Kak Arsyad," gumam Annisa.
"Aku akan mencoba menentang Kak Shita dan Papah, aku tidak mau kalah dengan mereka. Aku berhak di samping Kak Arsyad. Aku istrinya, Kak Arsyad pasti membutuhkan aku." Annisa masih berkata dalam hatinya sambil mengunyah makanannya.
"Bunda, jangan melamun." Shifa seketika membuyarkan lamunan Annisa.
"Bunda, yang penting bunda dan adek bayi sehat, pasti bunda bisa menemui Abah, bunda jangan lemah, bunda berhak bahagia dengan Abah," imbuh Shifa.
"Iya, bunda. Benar kata Kak Shifa. Kami akan membantu bunda agar bisa bertemu Abah. Biarkan opa dan tante Shita berkata apa. Bunda lebih berhak atas Abah, bukan mereka," ucap Dio.
"Kalian memang anak-anak bunda yang hebat. Terima kasih, sayang. Kalian habiskan makanannya dulu, lalu kalian belajar. Kalian membawa semua buku-buku kalian, kan?" tanya Annisa.
__ADS_1
"Iya, Shifa bawa semua, tanpa tersisa di sana," jawab Shifa.
"Dio juga," imbuh Dio.
"Apa Dio boleh belajr di kamar bunda?"tanya Dio.
"Boleh," jawab Annisa.
"Shifa juga ya, bunda,"pinta Shifa.
"Iya, sayang. Kalian tidur di kamar bidan juga bunda senang sekali,"ucap Annisa.
"Iya, malam ini kami tidur di kamar bunda, menemani bunda, tapi janji, bunda jangan mennangis lagi," ucap Shifa.
"Iya, tidak," jawab Annisa.
Sudah makanan kalian di habiskan dulu, setelah itu, kita sholat isya dulu,"
"Siap bunda," jawab mereka.
Annisa begitu beruntung sekaki di karuniai dua anak yang benar-benar tegar dan sabar pada Annisa, juga sangat menyayangi Annisa.
"Dio, Shifa, terima kasih karena selalu menjadi penguat bunda. Kalian masih remaja, tapi kalian sudah bisa berpikir dewasa sekali. Terima kasih Ya Allah, sudah menganugerahkan dua malaikat tak bersayap ini dalam hidupku. Aku titipkan Kak Arayad pada-Mu, Ya Allah, semoga Kak Arsyad lekas membaik dan menjemput ku di sini," gumam Annisa
.
.
.
.
.
.
♥️happy reading♥️
maaf segini dulu, sebelum besok lanjut ke yang menegangkan lagi. jangan lupa like, vote, dan kasih bintang 5 ya gaes ...
__ADS_1
terima kasih....