
♥Arsyil♥
Ternyata selama ini Kak Arsyad mencintai Annisa. Aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskan semua ini pada Kak Arsyad. Aku takut Kak Arsyad menjauh dariku jika aku masih bersama Nisa.
"Ya Allah, cobaan apalagi ini. Kenapa harus Kak Arsyad yang mengharapkan Annisa, kenapa bukan pria lain. Aku tak bisa menyakiti kakak ku sendiri. Aku sangat menyayanginya Ya Allah. Berikan kami jalan yang terbaik untuk masalah ini Ya Allah." gumamku dalam hati.
Doni dan Mas Wahyu dari tadi menatapku yang sedang kacau, Sepertinya dia mengetahui aku sedang ada masalah. Dia mendekatiku yang sedang membereskan alat-alat sepeda motor.
Mas Wahyu menepuk pundaku dan mengajak aku duduk di kursi yang berada di ruang tunggu.
"Mas, kelihatannya Mas Arsyil sedang ada masalah, tumben kerja juga tidak maximal seperti biasanya. Aku cek kerjaan Mas masih ada yang kurang sempurna." ucap Mas Wahyu padaku.
Aku mengusap kasar wajahku, aku semakin kacau, fikiran dan hatiku semakin bergejolak. Aku ingin berteriak sekencang mungkin saat ini tapi aku malu.
"Mas Wahyu tau kakak ku?" tanya ku pada Mas Wahyu untuk membuka percakapan ku dengan Mas Wahyu.
"Iya tau, Kak Arsyad dan Kak Shita." jawab Mas Wahyu.
"Mas, kalau mas memiliki kekasih dan kekasih mas di cintai dengan kakak mas yang paling Mas Wahyu sayang, apa yang Mas Wahyu lakukan?" tanyaku pada Mas Wahyu. Mas Wahyu seakan tau apa yang sedang aku fikirkan sekarang.
"Apa Mas Arsyad mencintai Annisa juga?" Mas Wahyu balik bertanya padaku. Dan, aku hanya menganggukan kepalaku saja.
"Aku harus bagaimana Mas Wahyu? Apa aku harus merelakan Annisa untuk bersama Kak Arsyad?" tanyaku kembali pada Mas Wahyu.
"Mas Arsyil, jika seperti itu apa hati mas siap? Itu malah menyakiti diri mas sendiri, terutama Annisa. Selesaikan secara kekeluargaan, tidak mungkin kakak mu akan marah pada kamu mas. Aku yakin Mas Arsyad orang yang bijaksana. Tidak mungkin dia egois untuk mendapatkan Annisa. Tenangkan fikiran Mas Arsyil. Pulanglah selesaikan dengan fikiran yang dingin, pasti ada solusinya mas. Mas punya Tuhan, serahkan semuanya pada Allah mas. Jodoh, mati dan rezeki Allah yang mengaturnya." Mas Wahyu memberi solusi kepadaku.
Iya benar, aku harus pulang, aku harus bertemu dengan Kak Arsyad, aku yakin Kak Arsyad mengerti keadaan ini.
"Mas Wahyu, titip bengkel, aku mau pulang mas, seperti biasa kunci di bawa mas saja."ucapku sambil berjalan ke arah ruangangku untuk mengambil tas.
"Iya mas hati-hati. Pasti ada solusinya mas. Jangan menyerah mempertahankan apa yang kamu punya mas. Lihat sebelah mas, rumah masa depan mu dengan Nisa sudah di bangun. Apa mas Akan menghancurkannya dengan memberikan Annisa untuk Kakakmu? Pertahankan apa yang kamu miliki mas." Mas Wahyu mencoba menguatkan aku.
Iya aku harus mempertahankannya. Rumah itu aku bangun hanya untuk Nisa, untuk keluarga kecilku nanti jika sudah menikah dengan Nisa. Aku tak boleh menyerah.
"Ya sudah Mas Wahyu aku pulang dulu. Terima kasih solusinya mas."ucapku sambil berpamitan untuk pulang.
"Iya mas sama-sama. Jati-hati di jalan." jawab mas Wahyu.
__ADS_1
Aku mengambil sepeda motorku dan aku melajukannya untuk pulang ke rumah.
"Kak Arsyad, maafkan aku kak, aku sangat mencintai Annisa, bukannya aku egois kak. Aku sayang Kak Arsyad, aku yakin ada wanita lain yang lebih baik dari Annisa untuk kakak."ucapku lirih sambil mengendarai sepeda motorku.
******
Di Rumah Rico.
Rico terlihat sedang membaca surat kabar di teras depan rumahnya, ditemani dengam secangkir kopi.
Arsyil sampai di rumah, dia langsung menyapa papahnya yang sedang membaca surat kabar.
"Sore pah."sapa Arsyil sambil mencium tangan papahnya.
"Tumben kamu Syil masih sore sudah pulang, biasanya larut malam kamu pulang nya."ucap Papah Rico.
"Udah beres semua pah pekerjaan Arsyil, Kak Arsyad sama Kak Shita belum pulang?"tanya Arsyil pada papahnya.
"Lihat ini masih jam 4 Syil, mereka pulang paling tidak jam 5 lebih. Kamu yang lebih awal pulangnya."jawab Papah Rico.
Arsyil melihat jam tangannya lalu dia tersenyum dan berkata "oh iya pah, ini masih jam 4, ya sudah Arsyi masuk dulu pah." Arsyil belalu meninggalkan Papahnya di teras. Dia langsung masuk ke dalam kamarnya. Lalu, langsung merebahkan badannya di tempat tidur.
Arsyad pulang dari kantornya, disusul Shita juga terlihat pulang dari Caffe. Wajah Arsyad yang masih terlihat lusuh seperti ada masalah membuat Rico bertanya pada Arsyad. Karena, tidak biasanya Arsyad seperti itu. Dia juga tak menyapa papahnya yang sedang duduk di kursi teras.
"Syad, ada masalah?" Seketika Arsyad menghentikan langkahnya untuk masuk ke dalan rumah.
Arsyad berhenti seraya menjawab pertanyaan Papahnya tanpa menoleh ke arah papahnya yang sedang duduk dikursi teras.
"Tidak Pah." Arsyad pun langsung masuk ke dalam.
Andini yang melihat kelakuan anak sulungnya dari dalam rumah langsung menghampirinya.
"Ada masalah apa kamu Syad? ditanya papah kok seperti itu. Ada papahmu di depan, main nylonong masuk, ditanya juga seperti itu." ucap Andini, yang melihat anak sulungnya berbeda tidak seperti biasanya. Iya, setiap pulang kerja pasti Arsyad langsung mencium tangan kedua orang tuanya. Dan, kali ini dia tidak seperti itu yang membuat Andini dan Rico bingung dengan sikap Anak Sulungnya.
"Ibu, Arsyad ke kamar dulu, lelah sekali Arsyad." ucap Arsyad sambil berjalan menuju kamarnya.
Andini hanya mengiyakan kemauan anak sulungnya itu.
__ADS_1
Beberapa pertanyaan muncul di kepala Andini kenapa Arsyad seperti itu. Andini keluar menghampiri suaminya, Rico. Dia duduk di samping Rico.
Shita yang selesai memarkirkan mobilnya berjalan menuju ke teras rumah, dia langsung memberi salam pada kedua orang tuanya dan mencium tangan Andini dan Rico.
"Pah, Arsyil juga sudah pulang?"tanya Shita pada papahnya. Iya, dia melihat sepeda motor milik Arsyil sudah masuk ke dalam garasi.
"Dari tadi malah, paling dia di kamarnya."jawab papah Rico.
Shita merasa ada yang aneh pada Arsyil, tidak seperti biasanya dia pulang lebih awal. Paling awal dia pulang pasti sehabis isya.
"Tumben ya pah dia sudah pulang jam segini?"tanya Shita.
"Papah tidak tau, kedua saudara laki-laki mu sedang aneh hari ini. Arsyil yang selalu pulang malam dia pulang lebih awal, kakakmu Arsyad, pulang langsung nylonong masuk,ditanya jawabnya seperti itu."jelas Papah Rico.
"Mungkin mereka lelah pah, biarkan saja."sahut Andini.
"Iya benar kata ibu pah, Shita masuk dulu ya pah, bu." Shita masuk ke dalam rumah, dia langsung menuju kamarnya.
Dia merasa ada yang aneh pada kedua saudaranya. Kalau Arsyad jelas Shita tau masalahnya. Dan, tidak tau kalau Arsyil, kenapa dia pulang lebih awal.
"Mungkin Arsyil sudah tidak lembur lagi, mungki juga bengkelnya agak sepi." lirih Shita dalam hatinya.
Shita menaruh tasnya, dia mengambil handuk dan lansung ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
♥Happy Reading♥