
Pagi hari, Arsyad sudah bersiap siap untuk pergi ke kampus, setelah hampir 1 bulan dia tidak pergi ke kampus sebagai seorang dosen, akhirnya dia kembali menjadi dosen.
"Kenapa aku masih teringan ucapan om Rizal, apa sebaiknya aku jauhi Nisa, aku tidak memintanya lagi menjadi kekasih ku, bahkan aku ingin sekali menjadikannya istriku."lirih Arsyad sambil bercermin.
Arsyad keluar dari kamarnya dan menuju ke meja makan untuk sarapan,semua sudah berada di meja makan.
"Pagi semua, maaf Arsyad telat."
"Cie sudah jadi pak dosen lagi." ucap Shita.
"Iya Ta, kangen jadi dosen, hehehe."jawab Arsyad.
"Kangen jadi dosen apa kangen mahasiswa nya kakak?"goda Arsyil.
"Uhuk.....uhuk....."Shita tersedak mendengar ucapan Arsyil yang menggoda kakaknya.
"Hati hati sayang makannya." Andini memberikan minum pada Shita.
"Jangan buru buru makannya Shita."ucap Arsyad.
"Iya kak, oh iya pah, bu, Shita mungkin nanti pulang telat mau bertemu dengan kak Vino."
"Iya kamu hati hati nak."
"Kamu kok masih santai saja Syil, apa tidak ke kampus?tanya Rico
"Oh ya Arsyil lupa, Papah, ibu, kakak, Alhamdulillah Arsyil lulus sidang skripsi. Dan 4 bulan lagi Arsyil wisuda pah."ucap Arsyil.
"Alhamdulillah, selamat Syil, akhirnya kamu lulus juga."ucap Rico.
"Iya pah, ini semua juga berkat do'a dari kalian semua."
"Selamat ya Syil, lalu apa rencanamu kedepan?"tanya Andini.
"Emmm melamar pacar Arsyil. Hehehe..."jawabnya sambil bercanda.
"Melamar? Kerja dulu Syil."ucap Shita.
"Kak, aku pulang kuliah saja kan kerja kak, kalau masalah perusahaan papah, tenang nanti akan terus meminta kak Arsyad dan papah untuk mengajariku kak."jawab Arsyil
"Syil kamu serius mau melamar pacarmu?"tanya Rico yang fikirannya sudah kemana mana, memikirkan akan terjadi sesuatu pada kedua putranya.
"In Shaa Allah pah, tapi Arsyil belum bertemu orang tuanya, soalnya mereka sibuk dengan bisnisnya, dan kemarin baru pulang ke Indonesia. Tapi dari kemarin Arsyil sudah disuruh ke rumahnya pah, katanya orang tua dia ingin bertemu Arsyil, apalagi ayahnya dia setelah tau Arsyil punya bengkel seperti itu, malah ingin memodiv sepeda motornya."jelas Arsyil
Rico semakin bingung mendengar jawaban Arsyil, iya memang pak Rizal menyukai sepeda motor, terutama Motor Gede, dia banyak sekali koleksi motor seperti itu. Namun setelah dia di sibukan dengan bisnisnya motor motor tersebut hanya mewarnai Garasi nya.
"Ya Allah aku harus bagaimana? Arsyil sudah dekat dengan orang tua Nisa walaupun mereka belum bertatap muka, lalu Arsyad, dia terus menginginkan Annisa."gumam Rico dalam hatinya yang sangat gelisah.
Andini dan Shita hanya terdiam, mereka juga bingung harus berkata apa.
"Ya Allah, Arsyil sangat mencintai Annisa, bagaimana perasaannya nanti saat tau kak Arsyad juga menginginkannya."gumam Shita dalam hati, dia menahan air mata yang akan jatuh dari sudut matanya. Shita memang seorang yang perasa sekali, apalagi jika menyangkut masalah kakak dan adiknya, walaupun sering berbeda pendapat dan sering berdebat masalah kecil, tapi Shita sangat menyayangi keduanya, mereka adalah warna untuk hidup Shita.
"Bagaimana ini, kehadiran Arsyil sudah di nantikan orang tua Annisa, lalu Arsyad? Bagaimana perasaan mereka berdua, Ya Allah tunjukan jalan terbaikmu untuk masalah ini, mereka putra putra ku yang sangat aku cintai, aku tak mau mereka ada satu masalah yang di sebabkan oleh perempuan."gumam Andini dalam hatinya sambil menatap kedua putranya bergantian.
"Eheeem....kenapa pada diam semua? Arsyil kan sedang menyampaikan berita bahagianya. Kok diam semua?"tanya Arsyad bingung.
"Iya kak kenapa kakak,ibu dan papah hanya diam saja?"Arsyil merasakan ada yang aneh pada Shita dan orangtuanya.
"Emmm....papah salut saja dengan kamu Syil, di usia yang masih terbilang muda kamu sudah bisa mengembangkan usahamu sendiri dan sudah berani mau melamar seorang gadis, iya kan bu?"ucap Rico.
"Iya pah, ibu juga tak menyangka kalau kamu semandiri itu Syil."
"Ini karena doa papah dan ibu untuk Arsyil selama ini. Pah, Arsyil cuma tidak mau pacaran lama lama, makanya Arsyil ingin melamar kekasih Arsyil."ucap nya.
"Bener Syil jangan kelamaan pacaran, kamu sudah berapa lama dengan pacarmu?"
"Baru mau 6 bulan kak."
"Ya sudah lamar dia jangan lama lama pacaran."ucap Arsyad.
"Siap kak Arsyad, lalu kakak?"
"Kakak kan nunggu Kak Mira pulang dari Kairo iya kan kak?"sahut Shita agar Arsyad tak membahas mahasiswanya itu.
"Kamu itu asal ngomongnya."jawab Arsyad.
"Memang nya kenapa Syad, papah senang jika kamu bisa dengan Mira, dia cocok untuk mu."sahut Rico.
"Wah....ibu penasaran nih, seperti apa Almira itu."ucap Andini yang sengaja agar Arsyad tidak membahas Annisa.
"Arsyil juga penasaran, katanya dia yang menemukan tasbih kakak ya?"
tanya Arsyil.
"Iya Syil, dia juga penulis, itu lho novel kemarin yang kak Shita pinjamkan pada pacarmu kan novel kak Mira, padahal kak Mira sudah menyimpan nomorku, tapi kok belum menghubungiku ya?"ucap Shita yang dari kemarin menunggu Almira menghubunginya.
"Shita, dia kan sedang melanjutkan S3 nya,mungkin Mira sedang sibuk, apalagi dia kan penulis, sabar nanti juga menghubungimu."ucap Arsyad.
__ADS_1
"Iya kak, nanti kerumah kak Mira ya kak, kalau kak Mira sudah pulang, anterin Shita ke sana."pinta Shita.
"Iya...iya...nanti kakak antar, sudah kakak berangkat ke kampus dulu, kamu gak ke caffe dan papah kok gak ke kantor?"tanya Arsyad.
"Shita nanti jam 10an saja ke caffe nya."jawab Shita
"Papah tidak ke kantor hari ini Syad."jawab Rico.
"Ya sudah Arsyad berangkat dulu ya. Assalamualaikum."ucap Arsyad.
"Wa'alaikumsalam."jawab mereka.
Arsyad keluar dari rumahnya dan dia berangkat ke kampus.
"Papah, ibu, kak Shita, Arsyil ke bengkel dulu ya, pekerjaan banyak sekali, Arsyil mau bantu mekanik Arsyil, biar cepat selesai kan cepat jadi duit nya.hehe."pamit Arsyil.
"Iya sana, kamu hati hati ya nak."ucap Andini.
"Kamu kerja saja yang di nomor satukan, ingat kesehatanmu Syil." Ucap Rico.
"Pah, masih banyak impian yang ingin Arsyil capai."
"Impian apa?"tanya Rico
"Rahasia dong, nanti juga papah dan ibu tau, semoga bulan depan terwujud."jawab Arsyil.
"Aamiin. Kamu hati hati Syil, jangan ngebut naik motornya."ucap Rico.
"Siap pah. Arsyil berangkat dulu. Assalamualaikum."pamit Arsyil.
"Wa'alaikumsalam."jawab mereka.
Kini di ruang makan hanya ada Andini, Rico dan Shita, mereka menghembuskan nafasnya bersama sama, mereka merasa terbebani sekali dengan masalah kedua putranya yang belum mereka ketahui.
"Bu, bagaimana ini?"tanya Rico.
"Ibu juga tak tau pah."jawab Andini.
"Papah, ibu sebaiknya mereka harus cepat cepat tau masalah ini" ucap Shita.
"Iya kamu benar Ta."jawab Rico
"Pah, bu, Shita ke kamar dulu ya mau siap siap ke caffe."
"Iya, kamu jangan terlalu memikirkan ini nak, ibu gak mau kamu sakit karena masalah ini."ucap Andini.
Rico dan Andini saling menatap, mereka bingung harus bagaimana mengatakan pada kedua putranya kalau wanita yang mereka inginkan adalah wanita yang sama.
"Bu, ke pantai yuk, papah butuh refresing ini biar gak pusing."
"Iya pah, ayo kita siap siap, ibu kemasi ini dulu ya, ibu juga butuh udara segar pah. Bingung dari mana menjelaskan nya pada mereka berdua."jawab Andini.
"Iya Bu, papah juga bingung."
Andini mengemasi piring dan gelas kotor, Rico masuk ke kamarnya dan menuju kamar mandi untuk mandi dan bersiap ke pantai bersama Andini.
♥♥♥♥♥♥
Annisa sudah selasai bimbingan dengan dosennya, iya Arsyad dosen pembimbing Annisa.
Annisa dan teman temannya keluar dari ruangan bimbingan tadi.
"Ver, bagaimana ini pak Arsyad kemarin mengajak ku makan siang"ucap Annisa.
"Ya terserah kamu Nis, mau atau tidak."jawab Vera.
"Gak Ver aku gak mau, kamu tau Ver dia itu anaknya om Rico teman bisnis papah, dan kemarin kita bertemu di caffenya, papah meeeting dengan papahnya pak Arsyad."jelas Nisa.
"Oh ya, bagus dong keluarga kalian sudah saling mengenal, tinggal kedepannya saja."ucap Vera menggoda Nisa.
"Apaan sih Ver, papah malah lebih suka sama Arsyil, ternyata hobby mereka sama, waktu papah muda, suka sekali dengan sepeda motor sama dengan Arsyil, malah papah ingin cepat cepat bertemu Arsyil Ver."jelas Nisa.
"Wah....ternyata udah dapat lampu hijau nih..."ucap Vera.
"Ya begitulah..."jawab Nisa.
"Kamu mau kemana habis ini?"tanya Vera.
"Kebengkel Arsyil."jawab Nisa.
Saat Nisa dan Vera sedang mengobrol tiba tiba Arsyad menghampirinya.
"Nisa."sapa Arsyad.
"Iya pak Arsyad."jawab Nisa.
"Maaf menggangu waktumu Nisa, bagaiman kamu mau dengan tawaranku kemarin?"tanya Arsyad.
__ADS_1
"Emm....aku mau pergi dengan Rere dan Vera pak, mau mencari buku. Maaf tadi rencana mendadak sekali, terus Papah juga mengajak ku pergi."jelas Nisa.
"Oh...ya sudah Nisa, tidak apa apa. Salam buat papahmu Nisa."
"Iya pak, sekai lagi Nisa minta maaf."
"Iya Nisa, Nisa apakah aku tidak punya kesempatan untuk lebih dekat lagi denganmu.?"tanya Arsyad.
"Maaf pak Arsyad, sepertinya pak Arsyad sudah tau kalau aku sudah memiliki kekasih, jadi Nisa harap pak Arsyad jangan terlalu berharap dengan Nisa. Maafkan Nisa pak, bukan maksud Nisa menyinggung perasaan pak Arsyad, namun ini kenyataannya."jelas Nisa.
"Iya Nisa, mungkin aku terlalu berharap pada kamu. Saya minta maaf."ucap Arsyad.
"Iya pak, Nisa juga minta maaf."
"Ya sudah saya pergi dulu"pamit Arsyad.
"Iya Pak."
Arsyad pergi meninggalkan Nisa dan Vera, dia merasa sangat kecewa karena Nisa menolaknya, menolak makan siang dan menolak perasaannya walaupun secara halus.
Arsyad kembali ke ruangannya, dia mendudukan dirinya di kursi dan membaca beberapa buku.
Sementara Nisa masih merasa bersalah dengan Arsyad, karena dia tadi menolak ajakan Arsyad untuk makan siang, dan secara tidak langsung menolak perasaan Arsyad
"Nis....jangan melamun, kamu nyesel nolak pak Arsyad?"tanya Vera.
"Huh....aku malah lega sudah mengatakan semua ini pada pak Arsyad. Aku jadi tidak dihantui rasa tidak enak lagi dengannya, walaupun sekarang ini aku masih merasa bersalah dengan pak Arsyad."jelas Nisa.
"Yakin kamu akan dengan Arsyil?"tanya Vera meyakinkan sahabatnya.
"Yakin dan sangat yakin Ver, ayah juga tau pak Arsyad menyukaiku, tapi Alhamdulillah ayah tetap mendukung ku dengan Arsyil, dan kau tau, kemarin pak Arsyad secara langsung memintaku untuk di jadikan istrinya pada papah, tapi papah bilang dan menjelaskan kalau aku sudah punya kekasih, dan papah bilang jangan terlalu berharap pada manusia, dan jangan memaksakan seseorang untuk mencintai kita. Ayah berkata seperti itu."jelas Nisa.
"Benarkah? Biasanya orang tua melihat seorang pria yang lebih mapan pasti dia berbelok dan menjodohkan anak nya dengan yang lebih mapan, ya pak Arsyad kan dosen, terus dia juga mengurus perusahaannya, sedangkan Arsyil, dia baru lulus kuliah, dan hanya memiliki bengkel. Salut Nis aku dengan papahmu."ucap Vera.
"Begitulah papahku, dia memang Papah terbaik ku, mengerti aku, selalu menuruti apa yang aku mau, selalu memberikan yang terbaik bagiku dan papah selalu tau apa yang terbaik untuk ku."jelas Nisa.
Tak lama kemudian Rere menghampirinya, merekaang bersahabat sejak SMA, tapi Rere sekarang menjadi adik tingkatnya karena saat Vera dan Nisa masuk kuliah, dia mencoba bekerja dulu, lalu satu tahum setelah itu baru Rere mendaftar kuliah dan satu universitas dengan mereka.
"Hai...maaf lama menunggu, ayo jadi kita jalan jalan kan?"
"Ayuk ah....kita ke caffe. Kamu ikut kan Nis?"ucap Vera.
"Iya ikut deh, tapi nanti antar aku ke bengkel Arsyil ya pulangnnya."
"Oke tuan putri. Mari kita berangkat." Ajak Rere.
Mereka bertiga jalan ke caffe, dia menuju caffe yang ada di pusat perbelanjaan, karena mereka ingin shoping shoping terlebih dahulu, maklum Rere itu hobby shoping, ya mereka terpaksa ikut saja, karena Nisa dan Vera nebeng di mobil Rere.
♥Arsyad♥
Iya aku memang terlalu memaksaan Annisa untuk jadi bagian dari hidupku. Aku sadar sekarang, benar kata om Rizal bahwa berharap dengan manusia adalah hal yang sia-sia.
"Arsyad, sudah cukup Syad, jangan di teruskan lagi. Mana Arsyag yang selalu berharap hanya Allah lah yang akan memberikan segalany, jodoh, rezeki bahkan kematian. Itu tak pernah terduga Arsyad."aku berkata dalam hati.
Aku masih menatap buku yang akan di baca ku dan belum aku buka sedikitpun.
"Aku akan mengikhlaskanmu Annisa, bahagialah dengan kekasihmu."lirihku dalam hati.
Aku membaca novel milik Shita, novel yang di tulis Mira. Kata katanya memang bagus, dan novel ini, novel yang sangat bagus yang pernah aku baca.
"Iya cinta memang hanya sebait Do'a, Cinta yang sempurna adalah milikNya, hanya milik Allah, bawa namanya dalam sebait do'a, jika Allah mengabulkannya untukmu, maka dia yang terbaik untukmu, dan cintailah dia seperti kamu mencintai Tuhanmu yaitu Allah SWT." Itu sebait tulisan Mira yang aku baca dalam novelnya.
Aku melanjutkan membaca novelku hingga aku lupa, aku sudah telat 15menit untuk masuk ke kelas.
"Astagfirullah, novel ini menghipnotisku, sampai aku lupa jika jam ini ada kelas." Aku menutup novel yang aku baca, dan menaruhnya di atas meja kerjaku. Aku keluar dari ruanganku dan menuju ruang kelas.
.
.
.
.
.
.
♥happy reading♥
Galau kan kak Arsyad baca novel Kak Mira, itu baru baca kak, belum ketemu dan mengorol lama secara langsung dengan kak Mira.
pengen tau kan kelanjutannya..?
tunggu up selanjutnya ya..
terima kasih..
__ADS_1