THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 55 "Perang Batin" The Best Brother


__ADS_3

Dio melajukan mobilnya menuju rumah Rania. Rania melihat ke depan dengan tatapan kosong. Dio tahu, betapa hancurnya hidup Rania saat ini. Jika saja dia masih menjadi suami Rania, mungkin dia akan menjadi penguat Rania untuk menjalani hidupnya di saat seperti ini.


Dio menghentikan mobilnya, karena melihat Rania dari tadi menangis. Dia tak henti-hentinya meneteskan air mata dari pagi hingga selarut ini. Mata Rania benar-benar sudah menyipit sekali, sembab dan memerah. Rania tidak mempedulikan mobil Dio yang berhenti di depan sebuah mini market yang buka 24 jam.


"Dio, kita mau apa?" tanya Rania yang baru menyadari Dio membelokan mobilnya ke sebuah mini market yang tidak jauh dari rumah Rania.


"Aku mau beli minum, haus sekali, persediaan minum di mobil juga sudah habis," jawab Dio.


"Ayo ikut keluar," ajak Dio.


"Aku di sini saja," ucap Rania


"Kamu ingin apa?" Dio menawari sesuatu pada Rania.


"Tidak, aku tidak ingin apa-apa," jawab Rania.


"Oke, aku sebentar beli minum. Kamu jangan ke mana-mana, tunggu aku," ucap Dio sambil mengusap kepala Rania sebelum keluar. Dan di jawab dengan anggukan Rania.


Rania masih duduk dan menatap dengan tatapan kosong. Hidupnya sungguh rapuh, semangat untuk melangkah ke depan pun tidak ada. Hanya sebuah tangis yang mengiringi saat ini. Dia mengingat kembali saat-saat indah bersama orang tuanya saat dulu. Rania mengingat semua dan tersenyum getir meratapi hidupnya sekarang.


"Aku tidak tahu aku harus bagaimana menjalani hidupku ke depan. Ternyata tidak ada gunanya aku memiliki perusahaan besar seperti mimpiku. Dan kini, aku hanya sendiri, orang tuaku pergi satu persatu. Lalu suamiku? Aku dengan segala keegoisanku, menceraikan dia. Iya, aku egois kala itu, saat Dio meminta aku memikirkan kembali perceraian itu. Dan sekarang, aku sangat rapuh, hanya Dio yang peduli, semua orang di rumah hanya pandai bicara," gumam Rania.


Tak lama kemudian Dio kembali ke mobilnya dan masuk ke dalam. Dia memastikan Rania masih ada di dalam mobil atau tidak, karena dia langsung menatap Rania yang sedang melihatnya masuk ke dalam mobil.


"Syukurlah, kamu masih di dalam mobil," ucap Dio sambil masuk ke dalam mobil.


"Memang aku mau ke mana?" tanya Rania dengan suara datarnya.


"Aku kira pergi lagi," jawab Dio.


"Ran, ini di minum." Dio memberikan air mineral pada Rania dan menyuruhnya untuk meminum.


"Terima kasih, Dio," ucap Rania, Dio hanya menjawab dengan anggukan saja dan tersenyum pada Rania.


"Kamu belum makan, kan? Ini ada roti, ayo di makan," ucap Dio.


"Aku tidak lapar Dio," ucap Rania.


"Sedikit saja, buat isi perut kamu, jangan sampai kosong perutnya, Rania." Dio membuka bungkus rotinya, dan memotong rotinya lalu mengarahkan ke depan mulut Rania. "Ayo buka mulutmu." Dio menyuapi Rania secuil roti yang ia potong tadi. Namun, Rania menolaknya.


"Dio, hidupku tidak ada gunanya lagi," ucap Rania dengan suara datarnya.


"Rania, makan dulu," paksa Dio dengan suara menekan.


"Dio,"


"Apa? Makan dulu, buka mulutnya," ucap Dio lagi.


Rania berdecak kesal karena Dio terus memaksanya, dan akhirnya dia mau membuka mulutnya dengan terpaksa dan memakan roti yang sudah berada di tangan Dio.


"Gitu dong, anak pintar," ucap Dio dengan mengusap kepala Rania.


Rania tersenyum sambil mengingat ayahnya jika dia susah sekali makan ayahnya membujuknya dengan paksa. Dan, ucapan Dio tadi, setelah Rania mau membuka mulutnya dan makan roti, sama persis dengan ucapan ayahnya dulu. Rania meneteskan air matanya lagi dan langsung menyekanya.


"Kok nangis lagi?" Dio turut membersihkan air mata Rania yang sudah membasahi pipinya lagi.


"Boleh aku memeluk kamu, Dio?" pinta Rania. Dio menggeser tubuhnya dan merentangkan tangannya.


"Kemarilah," ucap Dio, dan Rania langsung memeluk Dio.


"Aku kangen ayah," isak Rania yang berada di pelukan Dio.


"Kalau kangen, kirim Do'a, bukan menangis gini. Mau sampai kapan kamu menangis? Kasihan ayah dan ibu. Masih banyak hal yang bisa kamu lakukan, Ran. Jangan menyerah, ikhlaskan mereka, mereka sudah tenang, sudah tidak sakit lagi." Dio mengusap kepala Rania yang masih di peluknya.


"Ingat, Rania. Impian kamu sudah terwujud, sebelum kepergian ibu, kamu sudah menjaganya, kamu merawatnya, walau kamu tidak merawat ayah kamu. Kamu beruntung, bisa menikmati hari bersama ayah hingga dewasa, sedang aku dan Kak Shifa, aku haus kasih sayang ayah, meski ada abah, dan kasih sayang abah yang beliau berikan pada kami sama seperti ayahku, aku harus tumbuh tanpa seorang ayah, dan itu menyakitkan, Ran. Tapi, aku berusaha untuk tetap membahagiakan bunda," ucap Dio.


"Buat apa impian itu, toh aku hidup sendiri," jawab Rania yang masih nyaman berada di pelukan Dio.


"Jangan seperti itu, kamu tidak sendiri, Ran." Dio semakin mengeratkan pelukannya pada Rania.


"Ada aku Ran, yang akan selalu menjagamu, walau dari kejauhan," ucap Dio yang hanya terlintas di benaknya saja.


"Senyaman inikah? Hingga aku tak ingin melepas pelukan Dio. Ya Allah, aku egois, hati ini masih sangat mencintai sosok yang memelukku ini. Aku kuat dengan pelukannya, aku tidak boleh seperti ini. Ini mau ku untuk berpisah dengan Dio. Karena mau bagaimanapun, Dio tidak mencintaiku, dia hanya iba dan kasihan kepadaku." Rania sama-sama mengeratkan pelukan Dio, menghirup aroma tubuhnya yang dulu selalu ia rasakan saat masih bersama. Walau hanya beberapa bulan tidur bersama Dio dan tak menyentuh atau bersetubuh dengannya.


"Ran, makan lagi rotinya. Habiskan, nanti aku antar kamu pulang," ucap Dio pada Rania yang masih memeluknya erat.


Rania menganggukkan kepalanya, dia melepaskan pelukan Dio, walaupun dia masih ingin berada di pelukannya.


"Sini rotinya," pinta Rania.


"Aku suapi saja," ucap Dio sambil mengarahkan potongan roti ke mulut Rania.


"Ran, jangan pergi-pergi lagi," ucap Dio.

__ADS_1


"Hmm ...," jawab Rania hanya bergumam.


"Hei, dengarkan aku, kamu wanita, jangan pergi di tengah malam. Kamu tidak lihat tadi di ujung jalan sudah ada 3 preman yang mau mendekatimu, kalau dia menyakitimu bagaimana, hah?" Dio sedikit menaikan intonasi nada bicaranya.


"Aku tidak lihat," jawabnya.


"Lagian, apa peduli kamu kalau aku di sakiti oleh mereka?" ucap Rania dengan nada yang tak kalah tinggi.


"Aku peduli, karena aku sayang kamu, karena aku mencintai kamu, Ran." Dio ingin sekali berkata seperti itu pada Rania, tapi seperti ada yang mencekat tenggorokannya, dan kata itu hanya tertahan dan di katakan dalam hatinya.


"Apa peduli kamu, Dio. Kalau mereka menyakiti aku," ucap Rania lirih mengulang kata-katanya.


"Jangan seperti itu bicaranya. Ayo habiskan, satu suapan lagi." Dio menyuapi lagi roti pada Rania.


"Apa kamu masih mencintai Najwa, Dio? Tapi kenapa kamu seperti ini? Dan kenapa harus bertemu kamu di sini?" gumam Rania sambil menelan roti yang ada di dalam mulutnya.


Setelah Rania selesai memakan roti, Dio mengantarkan Rania pulang. Dio tidak habis pikir, kenapa orang di rumah tidak tahu kalau Rania kabur dari rumah.


"Apa gunanya semua menginap di rumah Rania? apa gunanya mereka menemani Rania? Kalau Rania kabur mereka tidak tahu," gumam Dio.


Dio menghentikan mobilnya di halaman rumah Rania. Dia melihat mobil abahnya di depan rumah Rania dan mobil Evan juga. Dio sedikit menggenggam keras kemudinya, karena melihat mobil Evan yang masih ada di rumah Rania. Itu artinya Evan juga menginap di rumah Rania.


"Evan tidur di sini?" tanya Dio dengan suara datarnya.


"Iya, dia tidur dengan Raffi, di kamar tamu," jawab Rania.


"Oh, ya sudah ayo aku antar kamu masuk," ucap Dio dengan menampakkan guratan marah di wajahnya.


Mereka masuk ke dalam rumah Rania, Dio berjalan cepat di depan Rania menuju ke kamar tamu. Memang ada 3 kamar tamu di rumah Rania. Dio mengetuk dengan kasar semua pintu kamar tamu yang ada di rumah Rania. Semua penghuni kamar yang masih tertidur lelap, mereka bangun dan menampakkan diri keluar kamar satu persatu.


"Dio…." Rico dengan kaget ada Dio tengah malam di rumah Rania.


"Apa tujuan kalian tidur di sini? Menemani dan menjaga Rania, bukan? Tapi, kenapa kalian tidak tahu, kalau Rania pergi meninggalkan rumah!" Dio berbicara dengan penuh amarah. Orang sebanyak itu bisa tidak mengetahui Rania kabur dari rumah.


"Kalian bukan hanya menemani Rania saja. Tolong jaga Rania, keadaan Rania belum stabil. Kalian malah enak tidur. Bunda, Kak Shifa, apa tidak bisa menemani Rania di kamarnya? Bunda juga seharusnya tahu apa yang Rania rasakan, bunda juga pernah mengalami hal seperti ini, kan? Pergi dari rumah tengah malam saat ayah meninggal? Kenapa kalian tidak berpikiran ke situ? Kalau Rania ada apa-apa di jalan bagaimana? Aku lagi yang di salahkan?" Dio tidak henti-hentinya mengeluarkan kemarahannya di depan mereka.


"Dio, sudah. Aku tidak apa-apa," ucap Rania dengan memegangi bahu Dio, dan menenangkan hati Dio.


"Kamu istirahat. Biar bunda dan Shifa menemani kamu di kamar," ucap Dio.


"Aku pulang," pamit Dio.


"Kamu tidak di sini saja, Dio?" tanya Rania.


Raffi melihat Dio benar-benar marah pada semuanya. Semua memang lelah karena dari pagi sudah mengurus tamu dan pemakaman ibunya Rania.


"Aku yakin Dio masih sangat mencintai Rania, hingga ia berkata seperti itu, dan benar-benar menyindir Evan," gumam Raffi.


"Ran, kamu dari mana, Nak?" tanya Annisa.


Rania hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Annisa. Dia langsung berjalan menuju kamarnya. Annisa dan Shifa saling menatap.


"Annisa, Shifa, temani Rania di kamar," titah Rico.


Shifa memang menginap di rumah Rania, karena suaminya sedang di luar kota. Annisa dan Shifa berjalan mengikuti Rania masuk ke dalam kamarnya.


^^^


Dio benar-benar sakit sekali hatinya, melihat Evan menginap di rumah Rania. Meski tidur dengan Raffi dan bersama keluarganya di rumah Rania. Tapi, hati Dio benar-benar sakit sekali. Dio sadar, Rania seperti ini juga karena dirinya yang egois. Dirinya yang tidak pernah menganggap Rania ada saat Rania menjadi istrinya. Lima belas bulan bersama, Dio hanya menorehkan luka di hidup Rania.


Kini Dio sadar, ada yang lebih baik untuk Rania. Dio akan mencoba mengikhlaskan jika Rania benar-benar akan memilih Evan untuk hidupnya ke depan.


"Maafkan aku, Ran. Sudah saatnya kamu bahagia. Dan, aku janji aku tak akan pernah mengusik hidupmu lagi. Aku akan bersikap profesional terhadapmu, karena kita terikat karena bisnis kita, buka hubungan khusus seperti dulu. Ya, sekarang terwujud sudah, dari dulu aku selalu menganggap kamu rekan kerja, partner kerja, padahal kita terikat dalam ikatan suci yang di sebut pernikahan. Dan, harusnya aku menjadi partner hidup dunia dan akhirat denganmu. Tapi, tidak mau, dan tidak pernah menginginkannya. Hanya karena satu nama, yaitu Najwa." Dio berkata lirih dengan meneteskan air matanya.


Dio menghentikan mobilnya di tepi jalan. Jalanan terlihat sunyi. Jam di tangan Dio sudah menunjukan pukul 03.00 WIB. Dio memikirkan semua tentang Rania. Dia mengingat masa-masa bersama Rania saat dia pertama bertemu di sekolahan, dan sama-sama pindahan dari luar negeri dulu. Mereka sempat di gandrungi para siswa yang lain, baik Dio maupun Rania. Kadang mereka menampakan cemburu saat Rania di dekati oleh pria, begitu pun sebaliknya, Rania juga cemburu saat Dio di dekati oleh siswa perempuan.


Dio ingat, betapa dulu dia sangat mencintai Rania, dan Rania juga terang-terangan membalas surat Dio dan mengungkapkan kalau dia mencintai dan menyayangi Dio.


"Semua sudah musnah, rasa sayang Rania terhadapku juga sudah hilang. Entah apa yang ada di hati Rania sekarang tentangku. Masih adakah aku di hatinya? Atau namaku sudah tergantikan oleh yang lain? Dia bisa menuliskan akan mencintaiku selamanya, tapi hatinya bisa jadi tidak. Apalagi jika Evan sudah memberikan kenyamanan pada dirinya." Dio berkata lirih dan mengusap kasar wajahnya.


^^^


Rania masih duduk di kursi kerjanya yang berada di kamarnya. Shifa dan Annisa juga belum tidur lagi. Rasa kantuknya sudah hilang sejak tadi Dio marah karena tidak ada yang melihat Rania kabur dari rumah. Annisa mendekati Rania yang tangannya masih sibuk memegang pena dan mencorat-coretkan ke selembar kertas kosong yang ada di mejanya.


"Nak, tidur yuk. Kamu harus sehat, kamu jangan seperti ini. Ikhlaskan ibumu, Nak. Kasihan beliau, kalau kamu terus menyiksa dirimu," ucap Annisa dengan lembut.


"Bunda, apa Rania egois?" tanya Rania pada Annisa.


"Egois kenapa?"


"Tidak apa-apa bunda, Rania mau tidur." Rania melangkahkan kakinya ke tempat tidur.


Tempat tidur Rania memang luas, jadi bisa untuk tidur tiga orang. Ya, Shifa dan Annisa menemani Rania tidur di kamar Rania, karena di suruh Rico.

__ADS_1


Rania masih belum bisa memejamkan matanya, begitu juga dengan Annisa dan Shifa. Mereke masih melihat Rania yang masih belum juga memejamkan matanya.


"Ran, bagaimana bisa tadi kamu bertemu Dio?" tanya Shifa.


"Aku tidak tahu, tiba-tiba mobil dia berhenti di depanku, dan langsung menarik aku untuk masuk ke dalam mobil," jawab Rania.


"Bunda, apa Dio sekarang jarang pulang ke rumah?" tanya Rania.


"Dia kalau ada perlu saja ke rumah, dan setiap harinya dia di rumahnya, yang dulu di tempati dengan kamu," jawab Annisa.


Rania terdiam lagi setelah bertanya pada Annisa. Dia masih memikirkan Dio yang sekarang jauh berbeda dari dulu. Bukan berbeda sikapnya pada dirinya, yang lebih menonjol adalah Dio sekarang tampak kurus dan tak terawat. Mungkin karena kelelahan karena mengurus 3 perusahaan sekaligus. Atau karena masalah yang saat ini menimpanya bertubi-tubi yang semua orang menyalahkan dirinya, apalagi Arsyad, mereka berdua selalu perang batin akhir-akhir ini.


"Aku harus bilang dengan abah, sampai kapan akan mendiami Dio, kasihan juga dia. Dia memang salah, tapi tidak seharusnya dia juga di kucilkan oleh keluarganya. Apalagi Shifa, dia benar-benar membenci Dio karena kejadian di Vila. Najwa dan Dio memang salah, tapi seharusnya masalah ini di selesaikan secara kekeluargaan, bukan seperti ini, yang menjadikan dua orang merasa salah seumur hidupnya." Rania berkata dalam hatinya.


°°°°°


Habibi tak habis pikir dengan Ainun. Berkali-kali dia meyakinkan Ainun bahwa dia sangat mencintainya dan ingin melamarnya. Dia meyakinkan Ainun, jika dirinya akan menerima dia apa adanya. Apalagi, dengan gamblang Ainun menceritakan semua masa lalunya bersama Dio.


Awalnya Habibi sangat kaget dan tidak menyangka wanita seperti Ainun menjalin hubungan dengan seorang laki-laki hingga sedalam itu. Dan, dia juga rela memberikan kehormatannya pada laki-laki tersebut. Ya, walaupun dia belum memberikan seluruhnya dan mahkota Ainun hingga sekarang masih terjaga. Namun, bagi seorang laki-laki, jika perempuan berani melakukan hal seperti itu adalah menjatuhkan harga diri dan martabat seorang perempuan.


"Ainun, seburuk apapun masa lalu kamu, aku akan menerima kamu apa adanya. Kamu wanita yang benar-benar mengalihkan duniaku, Ainun. Aku sadar, tidak ada manusia yang tak luput dari dosa, aku pun sama. Masa laluku mungkin lebih parah dari kamu, tapi aku tetap berusaha menjadi yang terbaik. Aku mau kamu Ainun," ucap Habibi yang masih duduk di samping Ainun di taman rumah sakit sore itu.


Ainun hanya terdiam, mencerna setiap kata yang terucap dari bibir Habibi. Dia tahu, Habibi benar-benar serius dalam hal ini. Apalagi ini menyangkut soal hubungan yang sakral. Habibi mana mungkin main-main dengan itu semua.


"Habibi, aku takut, aku malu, aku kotor Habibi. Aku tidak bisa, kamu berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku," jawab Ainun.


"Tidak ada wanita yang lebih baik dari kamu, Ainun. Tidak ada, hanya kamu," ucap Habibi dengan menggenggam tangan Ainun.


"Beri aku waktu Habibi," ucap Ainun.


"Baiklah, aku akan sabar menunggu kamu." Habibi berkata dengan menghela napas panjangnya.


"Maafkan aku, aku belum bisa. Bukan berarti aku masih mencintai Dio. Aku hanya ingat perbuatan kotorku saja dengan dia, Habibi. Yang membuat aku tidak pantas di sentuh pria lagi. Aku sudah tidak pantas untuk siapapun, Habibi," ucap Ainun dengan suara serak karena menangis.


"Please, jangan menangis. Ini di taman rumah sakit, nanti ada opa atau papah lihat. Sudah-sudah, maafkan aku. Aku tidak akan berbicara ini lagi. Aku akan menunggu kamu siap. Kapanpun itu aku akan menunggumu," ucap Habibi dengan merangkul Ainun.


"Ayo kita pulang," ajak Habibi.


"Iya," ucap Ainun dengan nada lirih.


"Jangan di tekuk mukanya, senyum dong." Habibi menarik kedua pipi Ainun hingga menyimpulkan senyuman di wajah Ainun.


"Gitu dong, ayo." Habibi mengulurkan tangannya dan melingkarkan tangan Ainun ke lengannya.


Semua perawat dan tenaga medis lainnya melihat Habibi dengan Ainun berjalan dengan mesra. Jika di Indonesia mungkin sudah banyak slentingan dari para mulut perawat wanita yang membicarakan mereka. Tapi tidak untuk saat ini. Di rumah sakit ini, Habibi lega, karena tidak seperti di rumah sakitnya yang ada di Indonesia. Semua perawat heboh saat pertama Habibi dan Ainun duduk bersama di depan sebuah mini market, yang membuat Ainun mendadak terkenal di rumah sakit milik Habibi.


°°°°°


Sudah tujuh hari ibunda Rania meninggal dunia. Rania masih di temani oleh Arsyad dan Annisa. Sudah berhari-hari, Rania tidak bisa tidur semenjak kejadian kabur dari rumah. Dan sejak itu juga, Rania tidak lagi bertemu dengan Dio. Dio memang menghindari Rania, tapi bukan menghindar tanpa mengawasi Rania. Dia tetap mengawasi Rania dari kejauhan.


Rania sudah selesai menata sarapan. Pagi ini dia yang memasak untuk sarapan. Rania ingat kata-kata Dio, kalau dirinya harus kuat dan harus bisa melanjutkan hidup dengan baik.


"Ran, ini kamu semua yang memasak?" tanya Annisa.


"Iya, bunda. Ya di bantu bibi sedikit, sih," jawab Rania.


"Bunda, abah, terima kasih sudah menemani Rania di sini. Rania tidak tahu kalau tidak ada bunda dan abah. Juga jika tidak ada Dio waktu itu, mungkin Rania sudah di sakiti oleh 3 preman yang menghadang Rania," ucap Rania.


"Kamu sudah Abah anggap seperti putri Abah sendiri, Ran. Jadi kamu jangan sungkan-sungkan, jika ada apa-apa, hubungi kami," ujar Arsyad.


"Iya, abah," jawab Rania.


"Ran, kamu bilang kalau tidak ada Dio kemarin, kamu sudah di sakiti oleh preman, kamu memang mau pergi ke mana?" tanya Annisa.


"Rania tidak tahu, mau pergi ke mana malam itu. Iya, sudah ada 3 preman yang menghadang Rania. Dan Dio segera menarik Rania masuk ke dalam mobil, sebelum preman itu menghampiri Rania," jawab Rania.


"Apa Dio menghubungimu setelah bertemu malam itu?" tanya Annisa.


"Tidak bunda, bahkan dia juga tidak pernah ke sini lagi, dan ikut pengajian, tapi dia selalu mengirim email masalah kantor saja bunda," jawab Rania.


Dio memang tidak pernah menanyakan kabar Rania lagi setelah malam itu. Dio hanya mengirim email saja pada Rania, dan itupun soal perusahaannya. Dia tidak pernah tanya seputar kabar Rania atau yang lainnya.


"Biarlah, biar dia merasakan sakitnya bagaimana saat ini," ucap Arsyad dengan nada yang datar.


"Abah, maaf bukan Rania lancang atau bagaimana, Abah tolong jangan terlalu menyalahkan Najwa dan Dio. Mereka juga sama-sama menjadi korban dalam hal ini, bukan hanya Rania saja yang sakit. Najwa juga, apalagi Dio. Rania tahu itu. Berdamailah dengan keadaan Abah, jangan larut oleh masalah yang seharusnya bisa di selesaikan secara baik-baik. Cukup abah menghukum Najwa dengan mengusirnya. Jangan ada perpecahan di keluarga Abah yang terbilang sangat harmonis. Rania merasakan bagaimana tidak memiliki keluarga sekarang." Rania mencoba berbicara pada Arsyad, agar menyudahi perang batinnya dengan Dio dan Najwa.


"Abah kecewa dengan mereka, Abah tidak menyangka, Najwa dan Dio melakukan hal yang memalukan," ucap Arsyad.


"Sudah Abah, kalau abah seperti ini, Abah akan sakit. Sakit di badan kita, juga bermula karena hati kita yang sakit, hati yang tidak mau memaafkan dan selalu membenci," tutur Rania.


"Abah, harusnya jangan seperti itu. Najwa sudah pergi, jangan biarkan Dio pergi juga. Rania juga salah menceraikan Dio kemarin. Rania terlalu emosi dengan dia, tapi dengan tidak bercerai juga, Rania akan sakit hati, karena Dio tidak mencintai Rania. Sebisa mungkin Rania profesional dengan Dio. Karena ayah menitipkan semua urusan perusahaannya pada Dio. Tidak mau yang lain. Itu pesan dari ayah yang beliau sampaikan pada Rania," jelas Rania.


Arsyad mencerna ucapan Rania. Dia tidak menyangka, dalam situasi seperti ini, Rania bisa memposisikan dirinya menjadi teman untuk Dio. Padahal hatinya masih mencintai Dio. Dan, Arsyad tahu kalau Rania masih menyimpan cinta yang besar untuk Dio.

__ADS_1


__ADS_2