THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 91 "Makan Malam" The Best Brother


__ADS_3

Malam ini keluarga  Arsyad memenuhi undangan makan malam dari Leon dan Rere. Mereka menuju ke sebuah Restoran yang sudah di beritahukan Rere pada Annisa sebelumnya. Semua ikut, terkecuali opa Rico. Karena beliau sedang di ajak Shita dan keluarganya berlibur. Farel dan Rana ingin mengajak opanya liburan, jadi Rico ikut mereka sejak dua hari yang lalu.


“Arkan di mana, Bun?”tanya Raffi.


“Dia sedang main futsal katanya. Nanti menyusul kok,” jawab Annisa.


“Kebiasaan sekali dia, kalau sudah kumpul dengan temannya lupa waktu,” ucap Raffi.


“Sudah, maklum dia masih ABG, kamu saja dulu gitu kok. Kalau abah lihat dia sama seperti kamu, kalau sudah ketemu sama si kulit bundar ya sudah, lupa waktu,” ujar Arsyad.


“Itu kan dulu, abah. Sekarang boro-boro mau seperti itu lagi. Farrel sama Ozil saja sudah jarang main futsal,” ucap Raffi.


“Karena kalian sudah sibuk kerja, mana mungkin menyempatkan untuk sekedar futsal, kumpul bareng saja sekarang susah, Raf,” ujar Arsyad.


“Iya juga sih.”


Arsyad dan Annisa berada dalam satu mobil, mereka menuju ke restoran lebih dahulu, karena Dio, Rania, dan Shifa menunggu Fattah pulang. Berbeda dengan Arkan, Arkan sedikit malas untuk ikut makan malam bersama keluarga Leon. Jadi dia mengulur waktunya untuk pergi ke restoran.


^^


Arkan masih berada di depan tempat futsal dan masih berkumpul dengan teman-temannya. Dia sebenarnya malam ini ada janji dengan Lily, tapi dia membatalkannya karena ada acara dengan keluarga. Arkan pamit dengan temannya dan langsung menuju ke Restoran karena Dio sudah meneleponnya, katanya sudah di tunggu semuanya di Restoran.


Arkan segera melajukan sepeda motornya ke Restoran yang sudah di beritahukan Dio. Dia sedikit kesal karena kakaknya memaksa untuk datang ke Restoran.


“Apa penting banget gitu? Bertemu sama sahabatnya bunda? Gak enak banget, mau keluar sama Lily malah tidak jadi, aku jadi gak enak sama dia,” ucap Arkan sambil mengendarai sepeda motor.


Arkan sudah sampai di depan restoran, rasanya ia enggan masuk ke dalam sana untuk menemui bunda dan semuanya. Arkan mengambil ponselnya untuk menelepon kakaknya, agar keluar menemuinya.


“Aisshhh...hati-hati dong kalau jalan!” ucap Arkan pada seorang gadis berambut pirang dan bermata perak, sepertinya gadis itu seumuran dirinya


“Uppss..sorry,” ucap gadis itu.


“Sorry...sorry... lihat ponselku jatuh,” ucap Arkan dengan kesal.


Gadis itu langsung masuk ke dalam restoran dan meninggalkan Arkan tanpa berkata apa-apa lagi. Arkan masih saja kesal dengan gadis itu. Dia tak henti hentinya mengumpat lirih.


^^^


“Mana Arkan, Dio?” tanya Arsyad.


“Belum sampai mungkin,” jawab Dio.


Semua sudah berkumpul di dalam restoran. Keluarga Leon juga sudah berada di sana. Dua anak perempuan Leon juga ikut makan malam bersama, Thalia dan Tita namanya.


Thalia anak pertama Leon dan Rere yang seumuran dengan Arkan. Tita adik dari Thalia, dia baru masuk SMP.


“Thalia, kamu dari mana, nak?” tanya Rere.


“Dari depan, mengambil ponsel, tadi ketinggalan di mobil,” jawabnya.


“Kok wajahnya di tekuk gitu?” tanya Leon.

__ADS_1


“Papah, apa cowok di sini nyebelin semua? Aku tadi tidak sengaja menabraknya, malah dia marah-marah,” ucap Thalia dengan kesal.


“Kamu kok selalu seperti itu, jangan sering marah-marah, nanti kamu cepat tua,” ujar Leon.


“Habisnya, Lia sudah minta maaf malah dia nyolot,” ucap Thalia,


“Sudah-sudah, kalau seperti itu kamu kapan dapat cowok? Mau seperti mamah menikah paling akhir di antara Tante Nisa dan Tante Vera?” ucap Leon.


“Papah, kebiasaan, mesti di samain dengan mamah,” sahut Rere.


“Kak Lia kan orang judes sedunia, pah. Maklum lah,” sambung Tita.


“Gak usah ikut-ikutan kamu, Ta!” tukas Thalia.


Semua fokus dengan anak-anak Leon dan Rere yang wajahnya mirip dengan Leon semua. Annisa suka sekali dengan Tita, dari tadi Tita dekat dengan Annisa.


“Maaf, anak-anakku memang seperti ini, satu cerewet, satu pendiam,” ujar Rere.


“Tidak apa-apa. Santai saja, Re. Mana Vera? Katanya mau ke sini?” tanya Annisa.


“Paling sebentar lagi datang.”


Dio pamit keluar untuk menemui Arkan yang dari tadi meneleponnya meminta di jemput di luar. Dio menemui Arkan yang sedang berada di tempat parkir.


“Kamu tinggal masuk aja apa susahnya sih? Masa iya di sini aja minta di jemput,” ucap Dio saat menemui adiknya di tempat parkir.


“Males aku, Kak. Malam minggu kan waktunya aku ngapel,” ucapnya dengan kesal.


“Eh... jangan dong.”


“Makanya ayo masuk, hargai sahabat bunda, mereka sudah mengundang kita, Arkan. Di dalam ada cewek cantik tuh, bule lagi...! Anaknya Paman Leon sama Tante Rere. Seumuran kamu kok anaknya, apalagi yang kecil super cerewet, bunda saja suka sekali kelihatannya.”


“Ah...bodo amat! Mau bule mau apalah, aku suka produk lokal!” ucap Arkan dengan kesal.


“Awas, nanti kamu di jodohin bunda sama anaknya Paman Leon lho,” ledek Dio.


“Gak...gak...! aku gak mau ada kisah Dio ke dua!” ucap Arkan sedang kesal.


“Biar, biar kamu merasakan, ayo cepat masuk!” ajak Dio dengan menarik Arkan.


Arkan masuk ke dalam, dia berjalan di samping Dio. Demi apa dia benar-benar malas sekali makan malam dengan sahabat bundanya.


“Arkan, kamu lama sekali, Nak,” ucap Annisa pada putra bungsunya karena dari tadi sudah di tunggu semuanya.


“Ini Arkan?” tanya Rere yang tidak percaya, karena terakhir melihat Arkan waktu dia umur satu tahun, dan dia sedang hamil Thalia.


“Iya, tante,” jawab


“Wah...udah gede, ya? Ponakan tante cakep sekali,” ucap Rere.


“Sayang, ini lho Arkan yang sering mamah ceritakan,”

__ADS_1


“Kamu...!” Arkan, Thalia, dan Tita.


“Kakak kenal?” tanya Tita.


“Itu yang baru saja kakak omongin, cowok gak punya sopan santun!” ucap Thalita dengan kesal.


“Kau bilang apa? Kamu yang nabrak aku, sampai ponselku jatuh, yang gak punya sopan santun kamu atau aku!” Arkan juga tersulut emosi.


“Kalian kok malah ribut! Arkan, duduk! Siapa yang mengajari kamu kasar seperti itu!” tegur Arsyad.


“Maaf, abah. Habisnya dia yang mulai,” ucap Arkan.


“Dia om, yang mulai!” imbuh Thalia dengan kesal.


“Lia... kamu kok sekarang tambah kasar ya bicaranya?” ucap Leon.


“Maaf, pah,” ucap Thalia.


“Tita, kamu kenal Arkan?” tanya Rere


"Iya, mah. Dia teman  Chating Tita," jawab Tita


“Kamu Felicia?” tanya Arkan.


“Iya, aku Felicia, Felicia nama depanku, tapi mamah dan papah memanggilku Tita,” jawab Tita.


Tita memang menggunakan nama di semua akun sosial medianya dengan nama Felicia. Nama lengkapnya Felicia Tita Elfreda. Gadis yang super cerewet, hingga mamah nya kadang kewalahan dengan dia kalau sedang menasehati. Berbeda dengan Firda Athalia Elfreda. Ya, dia kakak Tita, yang akrab di sapa Thalia. Dia sangat pendiam dan susah bergaul, berbeda dengan Tita yang anaknya modis, cerewet, dan mudah bergaul dengan banyak teman. Tak heran jika setiap Weekend Tita sering tidak di rumah. Dia pasti jalan-jalan dengan temannya. Namun, tidak untuk Thalia, dia lebih suka di rumah dengan bertemankan buku, dan satu lagi, dia hobi memasak.


“Pantas, Kak Raffi gak asing sama Tita,” sambung Raffi.


Tita, dia gadis yang sering chat dengan Arkan. Raffi sering mengintai laptop Arkan kalau dia sedang tidur, hingga sekarang pun dia masih sering memantau Chat adik bungsunya. Dia tidak mau adiknya terjerumus dalam pergaulan yang tidak baik, makanya dia tahu siapa saja yang dekat denga adiknya.


“Tit, kamu kenal dia?” tanya Thalia.


“Tit, lagi...Tita kakak....” ucap Tita dengan kesal, karena dia tidak suka kalau di panggil dengan sebutan Tit.


“Iya Tita, sayang.  Kakak tanya lagi, kamu kenal sama dia?” tanya Thalia lagi.


“Iya, Tita sering Chat sama Arkan, iya kan, Arkan?” tanya Tita.


"Oh... bisa-bisanya kamu kenal sama cowok super galak dan nyebelin, Ta," ucap Thalia.


"Entahlah, kan dia yang Chat dulu. Banyak teman kan banyak rezeki, ya Kan, Arkan?" tanya Tita.


"Iya,benar. Jangan galak-galak nanti cepat tua," ujar Arkan.


“Kamu beda ya, gak galak kayak kakakmu,” imbuh Arkan di depan Thalia.


Thalia melihat Arkan dengan tatapan sengit. Dia tidak menyangka adiknya kenal dengan cowok seperti Arkan yang kasar dan menurutnya arogan. Dia memang gadis introvert, berbeda dengan adiknya, meski jaraknya 3 tahun, adiknya jauh lebih dewasa sekali dandanannya di banding Thalia, yang hanya bisa memoles wajahnya dengan make up tipis.


Annisa tidak menyangka, gadis bule yang di ceritakan Raffi kemarin yang sering chat dengan Arkan adalah anak dari sahabatnya. Memang foto dengan asli wajah Tita sungguh berbeda. Di foto Tita terlihat dewasa dengan dandanannya. Tapi, jika di lihat aslinya, jauh lebih cantik dan anggun. Memang sedikit cerewet dibandingkan Thalia yang jauh lebih pendiam.

__ADS_1


__ADS_2