
Rania kembali ke kantornya setelah menyelesaikan pekerjaannya dengan ayahnya. Hatinya masih belum stabil, masih saja memikirkan perjodohan itu. Rania melakukan mobilnya dengan cepat menuju ke kantornya. Dan, saat akan masuk di dalam kantornya dia melihat sosok pria yang ia kenal, berdiri tegap di lobi kantornya. Pria itu menatap tajam pada dirinya penuh arti.
Rania mendekatinya, dia memberanikan diri menyapanya terlebih dahulu. Rania sedikit mengurai senyuman pada pria itu.
"Hai, ada perlu apa di kantorku?" tanya Rania dengan mengulas senyum di wajahnya.
"Bisa kita bicara sebentar? ucapnya dengan nada datar khasnya.
"Oke, kita ke ruangan ku saja," ajak Rania.
Pria itu masih menatap tubuh Rania yang sudah berjalan di depannya. Rania semakin menjauh, tapi pria itu belum juga melangkahkan kakinya untuk mengekori Rania masuk ke dalam ruangannya.
"Dio, kenapa kamu masih di situ? Rania membalikan tubuhnya saat di Dio tidak mengikutinya. Ya, pria itu adalah Dio.
Dio melangkahkan kakinya mengekori Rania masuk ke dalam ruangannya. Rania mempersilakan Dio masuk ke ruangannya. Rania menaruh tas nya di atas meja kecil samping meja kerjanya.
"Silakan duduk, Dio. Kamu mau minum apa?" tanya Rania dengan santai, walau hatinya bergemuruh dan sedikit takut karena Dio sepertinya sedikit tidak baik-baik saja.
"Tidak usah basa-basi, aku ke sini hanya untuk bertanya, apa Om Reno membicarakan tentang kita?" tanya Dio.
"Maksudmu?" Rania balik bertanya pada Dio.
"Tidak usah berpura-pura, kamu yang meminta perjodohan ini, bukan?" Dio bertanya sambil menajamkan pandangannya pada Rania.
"Siapa yang mau di jodohkan dengan orang seperti kamu? Meski hati ini memang mencintaimu, tapi aku lebih nyaman mencintaimu dalam diam ku, Dio. Karena kata cintamu yang dulu cukup menguatkan hati ku, hingga saat ini," gumam Rania.
"Aku tidak pernah memintanya, seperti tidak laku menikah saja, sampai meminta di jodohkan dengan kamu," ucap Rania dengan menahan sesak di dadanya.
Rania tetap terlihat baik-bik saja saat di hadapan Dio yang bersikap dingin. Padahal hati dia sakit, seperti tersayat belati.
"Lalu kenapa harus ada perjodohan! Aku tanya sekali lagi padamu, perjodohan ini apa kamu yang memintanya!" Dio kembali bertanya dengan tatapan penuh amarah, seakan tidak terima dengan adanya perjodohan yang baru saja ia bicarakan dengan abahnya.
"Mana ku tahu? Aku saja ingin menolak, karena aku berhak bahagia dengan orang lain yang bisa menerimaku, Dio!" Rania juga meninggikan suaranya di depan Dio.
Rania sedikit marah, karena Dio menganggap perjodohan ini adalah Rania yang minta. Padahal Rania menolaknya, karena dia tahu, Dio sudah tidak seperti dulu, sekarang dia tidak bisa mencintainya lagi. Bahkan tidak ada kejelasan dari suratnya dulu hingga sekarang, yang benar-benar tulus mengungkapkan isi hatinya pada Rania.
"Aku pastikan jika perjodohan ini terjadi, kamu akan menyesal, dan kamu akan jauh lebih menderita hidupnya!" ucapan Dio kali ini benar-benar membuat hati Rania luluh lantak. Hingga dia tak bisa merasakan sakit lagi.
Rania mencoba menyimpulkan senyumannya di tengah hati yang sudah hancur tak berupa. Rania menarik napasnya dalam-dalam, untuk memulai berbicara pada Dio. Dia mengembuskan napasnya pelan, dan mencoba mengatur ketenangan hatinya dengan mengumpulkan serpihan hati yang sudah hancur tadi.
"Oke, itu terserah kamu, aku hanya menuruti apa mau orang tuaku, karena aku juga belum ingin menikah. Lihatlah, aku sedang memperjuangkan apa yang ada di genggamanku. Ya, perusahaan ini. Dan, jika itu terjadi, aku tidak peduli seberapa besar kamu akan menghancurkan hidupku, Dio. Bagiku, menikah denganmu, hanya untuk melihat ayah dan ibuku bahagia. Itu sudah lebih dari cukup," jelas Rania dengan menahan air mata yang ada di pelupuk matanya.
Jelas ini sangat menyakitkan bagi Rania. Dia yang mencintai Dio, harus berpura-pura sama sekali tidak mencintainya. Dia berusaha membuang cinta itu dari dulu, semakin ingin membuangnya, rasa sakit itu semakin bersarang di hatinya. Dan, dia membiarkan rasa cinta untuk Dio itu terus bersemayam dalam hatinya.
Memang Rania memiliki tekad mengembangkan perusahaannya yang ia dirikan dengan jerih payahnya. Dengan keringatnya sendiri tanpa bantuan dari ayah atau ibunya. Dia hanya meminta solusi saja pada ayahnya jika sedang tertimpa masalah dalam bisnisnya. Dia sedikitpun tidak meminta bantuan berupa materi dengan ayahnya. Walaupun dia terlahir sebagai anak tunggal yang memiliki segudang harta untuk dia bersenang-senang seperti wanita seumurannya.
Dengan menyimpan cinta pada Dio, dia menjadi wanita yang berani, menjadi wanita yang teguh dengan pendiriannya dan hanya mencintai satu pria dalam hidupnya, yaitu Dio. Dia selalu berusaha membuang rasa cinta untuk Dio selama bertahun-tahun, tapi itu tidak bisa. Saat ingin membuang rasa cinta itu, pekerjaannya yang menjadi korban penindasan hatinya. Dan, akhirnya dia tetap bertekad memyimpan rasa cinta itu sendiri hingga sekarang.
"Bicara yang baik dengan Om Arsyad, kalau kamu sudah memiliki kekasih, dan meminta Om Arsyad merestui hubungan kamu. Sudah kan, kelar? Kenapa mesti menyalahkan aku?" tanya Rania dengan penuh penekanan.
"Aku pamit pulang," ucap Dio dengan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Rania.
__ADS_1
"Silakan," ucap Rania.
Setelah Dio keluar dari ruangan Rania. Rania duduk di sofa menyandarkan kepalanya di sofa. Dia tidak tahu,sebenarnya Dio memiliki kekasih atau tidak, karena dia menolak keras perjodohannya dengan dirinya. Rania juga tidak mengerti kenapa Dio menuduh kalau perjodohan ini adalah permintaan dirinya. Rania pusing memikirkan ini, dia juga tidak mau menikah dengan cara seperti ini.
^^^^^
Malam harinya, Dio memberanikan diri mengungkapkan pada semuanya, kalau dirinya mencintai Najwa. Arsyad memang malam ini juga ingin mengajak Dio untuk membicarakan soal perjodohannya dengan Rania. Semua terlihat sudah duduk di ruang tengah seusai sholat isya. Najwa juga ikut di sana dengan Raffi. Kecuali Arkan, dia sedang keluar bersama temannya untuk futsal.
Najwa tahu, ini pasti akan membahas dirinya atau akan memabahas perjodohan Dio dan Rania. Perasaan tidak enak dari tadi hinggap di hati Najwa, saat Arsyad dengan intens menatap dia dan Dio yang duduk berdampingan.
"Apa yang mau kamu bicarakan, Dio?" tanya Arsyad.
"Abah, sebelumnya Dio minta maaf. Mungkin Dio sedikit menentang keinginan Abah untuk menjodohkan Dio dengan Rania, seperti yang tadi siang abah katakan pada Dio," ucap Dio dengan gugup.
"Lalu? Apa kamu memiliki kekasih, sehingga tidak mau dijodohkan dengan Rania?"tanya Arsyad.
"Abah, sebenarnya Dio sudah memiliki kekasih, Dio sangat mencintainya. Dio ingin menikahinya, tapi entah abah, bunda, dan opa merestui atau tidak," jawab Dio.
"Benar, Syad, jangan mejodohkan Dio dan Rania, biar mereka memilih jodohnya sendiri," ujar Rico.
"Iya, kalau dia punya kekasih, aku tidak akan menjodohkannya," ucpa Arsyad. "Siapa kekasih kamu, Nak?" tanya Arsyad.
"Abah, bunda, opa, sebenarnya Dio selama ini, mencintai Najwa. Dan, Dio sudah lama menjalin hubungan dengan Najwa dari SMA. Maafkan Dio, maafkan Dio yang tidak bisa mencintai wnaita lain selain Najwa, putri Abah, dan dia kakak sepupu Dio." Arsyad dan Annisa hanya menyeka air matanya yang sudah memenuhi pelupuk matanya.
Annisa tahu, hati Dio saat ini hancur. Apalagi Najwa. Mereka sama-sama terisak dengan keadaan ini. Cinta mereka kuat, yang membuat Annisa takut, mereka tidak dapat memelpaskan satu sama lain.
"Kamu salah Dio, kalian memang bukan mahram, bisa saja kalian menikah. Tapi, kedudukan Najwa di sini adalah yang tertua. Maaf sampai kapanpun opa tidak merestui hubungan kalian. Bukan opa tidak sayang pada kalian, tapi ini masalah silsilah keluarga, Nak. Najwa adalah yang tertua, dan lihat, orang tua kalian sudah menjadi pasangan suami istri. Jika kamu menikah, Abah dan bunda akan berbesanan. Itu sama sekali tidak boleh terjadi, nak. Maafkan opa. Maafkan opa, jika Dio mau marah dengan opa lagi seperti dulu. Opa akan terima, Nak." Rico berkata dengan menahan air matanya yang keluar dari sudut matanya.
Rico tahu, mereka saling mencintai. Cinta memang kadang datang secara tiba-tiba tanpa memilih tempat. Rico tahu perasaan kedua cucunya itu.
"Maaf Dio, opa tidak bisa. Ini tidak mungkin terjadi pada keluarga kita," ujar Rico.
"Bunda, abah, apa kalian juga tidak merestuinya?" tanya Dio pada abah dan bundanya.
Najwa hanya terdiam dengan berderai air mata, sesekali suara isak tangisnya terdengar memenuhi ruang tengah yang luas itu.
"Nak, abah dari dulu sudah tahu hubungan kalian, semenjak kamu akan ke Berlin, dan abah sering melihat kamu berduaan di taman belakang. Abah tidak menyalahkan cinta, Nak. Abah tau perasaan kalian. Tapi, kita satu keluarga. Abah dan bunda sudah menikah, dan apakah Abah harus menikahkan putri Abah dengan anak dari istri Abah dengan suaminya dulu? Bagaimana dengan status Abah dan bunda nantinya? Maaf Abah tidak menyetujui hubungan kalian." Dengan berat hati Arsyad mengatakan itu semua. Meskipun hatinya sesak melihat kedua anaknya menderita karena cinta yang salah. Dia tidak ingin anak-anaknya memiliki cinta yang salah.
"Bunda, restui kami, bunda," pinta Dio pada Annisa.
"Maaf, sayang. Bunda sayang pada kalian, dan bunda tidak bisa kalau kalian melanjutkan cinta yang salah ini." Annisa hanya menjawab seperti itu.
Dio tau, ini adalah jawaban yang akan mereka beri saat mengungkapkan ini semua. Dio tidak tahu harus bagaimana lagi. Dia juga bukan anak yang suka menentang kedua orang tuanya. Jika kedua orang tuanya berkata tidak, Dio hanya bisa menurutinya.
Najwa semakin terisak, pupus sudah harapan dia bersanding dengan laki-laki yang dia cintai. Najwa mengatur isak tangisnya dan mengatur kembali gejolak dalam dadanya. Dia mencoba mengeluarkan apa yang ada di dalam hatinya.
"Abah, bunda, dan opa, maafkan Najwa yang juga sangat mencintai Dio. Tapi, apa gunanya cinta ini tanpa restu dari abah, bunda, dan opa. Karena restu Allah ada restu orang tua. Dan, Najwa rela melepas Dio untuk wanita lain. Biarkan cinta dan rasa sakit ini Najwa simpan sendiri, asal tidak menyakiti hati abah, bunda, dan opa." Entah kenapa Najwa bisa berbicara seperti itu.
"Tidak, Najwa. Aku tidak bisa, kita akan menikah dengan atau tanpa restu mereka." Dio tanpa sadar berkata seperti itu.
"Tidak, Dio. Aku tidak bisa menikah tanpa restu mereka. Restu abah, bunda, dan opa adalah hal yang paling utama," ucap Najwa.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Najwa, aku tidak bisa menikah dengan wanita lain selain kamu, apalagi dengan Rania, dia sahabatmu, Najwa," ucap Dio.
"Aku juga mencintaimu, Dio, tapi ini cinta yang salah, aku tidak bisa. Kamu harus bisa menikah dengan wanita lain, dengan Rania atau tidak dengan Rania. Aku tidak bisa menentang Abah, bunda, dan opa. Dio, maafkan aku." Najwa merasa sakit berkata seperti itu. Dia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti apa kata orang tua dan opanya.
"Baik, kalau mau kamu seperti itu. Itu maumu, kan? Oke, aku akan menikah dengan Rania. Aku menerima perjodohan ini, Abah. Ini yang putri abah inginkan. Percepat pernikahan aku dengan Rania, Abah. Percuma aku mempertahankan hubungan ini juga akan sia-sia," ucap Dio dengan menatap tajam Najwa.
"Dio, jangan gegabah mengambil keputusan. Jika kamu tidak mau menikah dengan Rania. Kami juga tidak memaksa. Silakan cari wanita yang lain, jangan saudara sepupu kamu, apalagi kedudukan Najwa yang tertua, nak." Arsyad berkata dengan nada yang menekan.
"Ini bukankah keinginan abah dan bunda menjodohkan aku dengan Rania? Saat Dio menerima, Abah seperti itu. Lucu sekali, Abah," ucap Dio.
"Tenangkan hatimu dulu, Dio. Jangan mengambil keputusan saat keadaan seperti ini," tutur Rico.
"Ini keputusan yang benar. Aku terima perjodohan ini, silakan Abah dan Om Reno tentukan tanggal pernikahan kami secepatnya. Ini sudah keputusan Dio," ucap Dio dengan kembali menatap wajah Najwa dengan tatapan dingin.
Dio meninggalkan ruang tengah dan masuk ke kamarnya. Dia tidak menyangka akan berkata seperti itu dan menerima perjodohannya dengan Rania. Ini semua karena dia kecewa dengan Najwa yang menolak untuk mempertahankan hubungannya.
"Aku tahu, bagaimanapun ini adalah cinta yang salah. Tapi, kenapa Najwa sebegitu mudahnya menuyuruh aku menikahi wanita lain, bahkan dia tidak ingin memperjuangkan hubungannya dengan ku?" Dio bergumam dalam hati, dia tidak mengerti kenapa akan jadi serunyam ini masalahnya. Apalagi dia berkata menerima perjodohannya dengan Rania.
"Najwa….! Aku tidak bisa seperti ini, Najwa…!" Dio teriak dalam kamarnya, dia menyaut kunci mobilnya dan keluar, entah dia akan ke mana. Yang jelas dia kecewa sekali, Najwa malah pasrah dan tidak mau memperjuangkan hubungannya.
"Kamu mau ke mana, Dio?" tanya Rico.
"Cari angin, opa." Dio menjawab sambil menatap Najwa dan lainnya yang masih berada di ruang tengah.
"Oh, ya, Abah. Bilang Om Reno, Dio menyetujui perjodohan ini. Dan, tolong secepatnya tentukan tanggal pernikahan Dio dan Rania. Dio keluar sebentar," ucap Dio pada Arsyad.
"Tunggu, abah akan bicara dengan kamu sebentar, bisa papah ikut denganmu?" pinta Arsyad.
"Silakan, Dio tunggu di mobil," ucap Dio.
Dio berjalan ke depan dan masuk ke dalam mobilnya. Arsyad berpamitan pada Annisa dan papahnya untuk ikut dengan Dio dan berbicara dari hati ke hati dengan Dio.
Arsyad masuk ke dalam mobil Dio. Dio melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Arsyad memulai pembicaraannya dengan Dio.
"Abah tidak mau kamu menikah dengan Rania karena keputusan dengan cara seperti ini, Dio," ucap Arsyad membuka percakapannya.
Dio menarik napasnya dengan berat sebelum menjawab kata-kata abahnya.
"Maaf Abah, ini keputusan Dio. Dio sudah berbicara dengan Rania juga tadi siang. Dan, untuk apa Dio mencari wanita lain, toh abah dan bunda sudah menyiapkannya untuk, Dio. Dio sangat mencintai Najwa, Abah. Maafkan Dio, tapi Dio juga tidak mau menentang Abah dan bunda. Dio menerima perjodohan ini Abah," ucap Dio.
"Abah tidak mau, ini adalah keputusan dengan keterpaksaan. Carilah wanita lain, asal jangan Najwa. Kedudukan Najwa adalah kakakmu, nak. Dan, maaf Abah baru cerita. Kamu satu susuan dengan Najwa. Saat bundamu harus rapat dengan relasi bisninya, kamu di tinggal di rumah Abah dengan Shifa. Dan budhemu menyusui kamu dan Shifa saat kalian kehausan. Itu yang membuat abah melarang kamu menikah dengan Najwa, sekuat apapun cinta kalian, Abah tetap menentangnya. Maafkan Abah, Nak. Maafkan abah. Jika kamu tidak pernah di susui budhemu, mungkin Abah akan merestui hubungan kalian. Sudah, Abah tidak akan memaksamu untuk menerima perjodohan kamu dengan Rania. Silakan cari wanita lain, Nak. Abah tidak akan memaksa. Tapi, jangan kau nikahi Najwa. Abah mohon, itu." Arsyad menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Itu semua karena Almira menyusi Dio saat dia masih bayi. Dan, itu yang membuat Arsyad tidak menyetujui mereka bersatu.
"Kalau kamu tidak percaya, Abah ada buktinya saat budehmu menyusuimu, Abah memotret budhemu dulu, saat budhemu kelimpungan mengurus kamu, Najwa, dan Shifa. Saat bundamu rapat dengan relasi bisnis seharian. Dan Abah juga memotret kamu sedang disusui budhemu. Opa dan Oma juga menyaksikan, Nak," jelas Arsyad.
"Dio percaya, dan Dio menerima perjodohan dengan Rania, Abah," ucap Dio.
"Tidak, Abah tau kamu terpaksa," jawab Arsyad.
"Sudah, ini keputusan Dio, Dio menerima perjodohan ini," ucap Dio.
"Baik, nanti akan Abah bicarkan ini pada Om Reno. Maafkan Abah sekali lagi, Nak. Kamu boleh dendam dan marah dengan Abah, Dio. Karena ini memang tidak di perbolehkan dalam agama, kalau satu susuan menikah," ucap Arsyad.
__ADS_1
"Iya, Dio tahu itu. Dio tidak marah dengan Abah. Meskipun sakit sekali rasanya, Abah. Maafkan Dio juga, karena mencintai putri abah." Dio mengehentikan mobilnya dan memeluk Arsyad.
Dio menangis hingga sesegukan di pelukan abahnya. Hatinya hancur sekali menerima kenyataan pahit ini. Dia harus rela melepaskan wanita yang ia cintai. Dan, dia menerima perjodohannya dengan Rania. Karena tidak mau mengecewkan hati abah dan bundanya.