THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S4 Chapter 51 "Mengalah" The Best Brother


__ADS_3

"Aku titip ibu, Ran. Jaga diri kamu baik-baik di sana. Selalu kabari aku, kalau ada apa-apa. Anggap aku keluargamu atau temanmu," ucap Dio.


"Iya, Dio. Aku titip kantor, aku akan sering pulang kok. Karena di sana ada paman dan bibi juga, jadi kalau aku senggang aku akan balik ke sini," ucao Rania.


Hari ini Dio melepas Rania untuk pergi ke Singapura. Ada sedikit rasa sesal dalam dirinya. Meski jauh dengan Rania, Dio akan selalu memberikan kabar pada Rania dan menunggu kepulangan Rania.


^^^^


Sudah 3 bulan Rania di Singapura. Keadaan Anna bukan bertambah baik, malah semakin buruk. Dio selalu bertukar kabar dengan Rania mengenai keadaan Anna. Dan hubungan mereka juga semakin dekat karena Dio juga mengurus perusahaan Rania. Sehingga setiap hari Dio harus memberi kabar pada Rania.


Siang ini Dio dan Raffi menemani Arsyad yang sedang terbaring di rumah sakit. Sudah 5 hari Arsyad di rawat di rumah sakit karena tifus dan asam lambung yang menyerang tubuhnya. Mungkin karena Arsyad yang merindukan sosok putri kesayangannya. Semua tahu, Arsyad sedang merindukan Najwa. Itu yang membuat kesehatan Arsyad semakin menurun.


"Abah, makan dulu, ya?" bujuk Raffi.


"Nanti saja nunggu bunda datang," jawab Arsyad.


Annisa memang sedang keluar, ada urusan di butiknya, jadi dia harus keluar dan menitipkan Arsyad pada Raffi dan Dio.


"Kakak…" suara manja seorang perempuan memecah keheningan. Siapa lagi kalau bukan adik manjanya Arsyad Meski sudah menikah bertahun-tahun, tak akan merubah sifat manja pada kakaknya. Shita datang sendirian untuk menjenguk Arsyad.


"Hey, kamu datang-datang kok gini? Kamu sendirian? Mana Rana?" tanya Arsyad.


"Nanti dia menyusul, dia sedang ada kelas," jawab Shita.


"Kamu kenapa? Sudah lima hari masih ngedrop aja kamu, kak," ucap Shita.


"Yah, memang seperti ini, Ta," sahut Arsyad.


"Makanya jangan egois jadi orang tua, sakitnya kakak karena merindukan Najwa, bukan?"


"Iya, kakak merindukan dia, Ta. Aku ingin tahu keadaan dia, sudah hampir 5 bulan, aku tidak tahu kabar Najwa," jawab Arsyad.


"Apa kalian tidak mencarinya?" tanya Shita pada Raffi dan Dio.


"Raffi sudah berusaha mencari, Tante. Tapi keluarga Nuri belum ada yang pulang ke sini," jawab Raffi.


"Nuri?" tanya Shita.


"Iya, Tante," jawab Raffi


"Nuri desainer terkenal itu, kan?" tanya Shita lagi.


"Benar tante, dia sekarang tinggal di Eropa, kemungkinan Kak Najwa ikut ke sana. Tapi, kami tidak tahu mereka tinggal di kota mana," jawab Raffi.


"Aku tidak tahu, Ta. Sudah ini memang jalannya Najwa hidup di sana. Ya aku merindukannya, sangat merindukannya," ucap Arsyad dengan berlinang air mata.


Dio melihat abahnya yang lemah seperti sekarang, dia merasa semakin bersalah. Mungkin jika dia tidak mengusik hidup Najwa lagi setelah menikah, kejadiannya tidak akan seperti ini.


"Aku yang salah, seharusnya aku tidak mengusik hati Najwa lagi. Seharusnya aku membiarkan dia bahagia dengan yang lain. Kalau saja aku tidak egois, kejadiaannya tidak akan seperti ini, dan aku tidak berpisah dengan Rania," gumam Dio.


Dio keluar dari ruangan Arsyad. Shita tahu, jika Dio merasa salah dengan masalah ini. Shita tidak mengikuti Dio pergi, dia masih tetap di samping Arsyad dan membujuk Arsyad untuk makan siang.


"Abah kangen kamu, nak. Kapan kamu pulang, Abah ingin memeluk kamu, semoga kamu baik-baik saja di sana. Abah di sini akan menunggu kamu pulang," gumam Arsyad.


^^^


"Awww …. sakit sekali," pekik Najwa saat pisau yang ia gunakan untuk mengupas apel mengenai jarinya.


"Najwa, hati-hati, dong. Kamu sih, ngupas apel sambil melamun, mikirin apa, sih? Dio lagi?" Nuri mengambil alih pisau yang dipegang Najwa.


"Tidak, Nur. Aku ingat Abah, aku rindu Abah," ucap Najwa.


"Kalau rindu, pulanglah. Bukan aku mengusir mu. Aku tahu rasanya merindukan seseorang, apalagi merindukan orang tua kita, Najwa," ujar Nuri.


"Belum saatnya, Nur. Kalau sudah waktunya aku pulang, aku akan pulang," ucap Najwa.


"Baiklah, sudah jangan sedih. Kita ke rumah sakit sepupuku, yuk. Aku juga ingin menemui opa," ajak Nuri.


"Sekarang?" tanya Najwa


"Iya lah. Mumpung Butik tutup. Aku ingin ajak kamu jalan-jalan. Sudah hampir 5 bulan kita kerja keras, Najwa. Ini saatnya kita jalan-jalan, refreshing lah," jawab Nuri.


"Oke, aku akan bersiap-siap." Najwa segera ke kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap untuk ikut Nuri ke rumah opanya dan ke rumah sakit milik sepupunya.


Najwa selesai bersiap-siap. Najwa sudah terbiasa hidup bersama Nuri, dan sudah sedikit melupakan kejadian yang menyakitkan hatinya itu. Juga melupakan ucapan abahnya yang saat itu sedang emosi pada dirinya. Dia menerima semua ini sebagai jalan hidupnya sekaranga. Jadi dia harus benar-benar melewati harinya dengan penuh kebaikan setiap harinya. Walau tidak bisa dipungkiri, dia sangat merindukan abahnya.


Najwa menghampiri Nuri di kamarnya. Terlihat Nuri sedang berhias di depan cermin. Najwa hanya menggelengkan kepalanya saja melihat sahabatnya itu tidak selesai-selesai berhias. Seperti akan menemui kekasihnya.


"Nur, lama sekali, aku saja sudah selesai," ucap Najwa.


"Sebentar Najwa," jawab Nuri.


Najwa duduk di tepi ranjang milik Nuri. Dia menunggu Nuri sambil membalas inbox di Facebook dari Habibi yang baru saja masuk di ponselnya. Memang dia menghubungi Habibi lewat Facebook. Dia belum memberikan nomor ponselnya lagi, dan belum memberitahukan pada Habibi kalau dirinya tinggal di kota yang sama dengan Habibi, yaitu Budapest.


"Dari tadi senyum-senyum sendiri, balas pesan dari siapa nih? Duh, udah dapat kenalan baru, nih? Gak jadi dong kenalan sama Kiki." Nuri meledek Najwa yang dari tadi senyum-senyum sendiri membalas inbok dari Habibi.


"Ini balas chat dari temanku. Lalu apa hubungannya tidak jadi di kenalin dengan Kiki?" Najwa menjawabnya dengan kembali menaruh ponselnya.


"Teman atau teman? Kamu sepertinya akhir-akhir ini bahagia sekali, seperti tambah semangat. Baguslah itu artinya kamu sudah melupakan Dio," ucap Nuri.


"Ya, semenjak aku menerima kabar temanku lagi, aku jadi tahu, memang cinta itu tak harus memiliki, Nur. Ya, aku mencintai Dio, temanku yang baru saja mengirim aku sebuah chat berkali-kali menyatakan cintanya padaku, tapi aku selalu menolaknya hanya demi sebuah rasa untuk Dio," jelas Najwa.


"Kamu itu bodoh, Najwa. Sudah lupakan Dio, belajar mencintai teman kamu itu. Kali aja dia benar-benar tulus. Atau sama Kiki saja, dia masih galau tidak, ya? Semoga saja sudah lupa dengan gadis yang ia incar itu," ucap Nuri.


"Mau Kiki atau siapa pun itu, Nuri. Aku masih belum siap jatuh cinta lagi, Nuri," ucap Najwa.


"Yah, Cemen!" umpat Nuri.


Najwa berdecak kesal mendengar Nuri berbicara seperti itu.


"Bukannya aku Cemen, Nuri. Hati ini belum siap saja," ujar Najwa.


"Sayang, itu namanya Cemen! Kalau kamu tidak berani menyiapkan hati, jangan menarik ulur laki-laki. Udah pacaran ya pacaran aja, masalah hati mah nanti," tutur Nuri.


"Dasar! Itu mah kamu! Pacaran selalu gak pakai hati," umpat Najwa.


"Yah, kalau terlalu pakai hati, jadi gini seperti kamu, gak kelar-kelar sakitnya," ucap Nuri.


"Iya juga, sih. Udah ah, ayo berangkat, ceramah aja kamu, Nur!" Najwa mengajak Nuri untuk segera berangkat menemui opanya.


^^^


Najwa dari tadi sibuk dengan ponselnya. Dia masih bertukar kabar dengan Habibi. Bertukar kabar dengan Habibi membuat Najwa semakin melupakan rasa sakit di hatinya.


Mobil Nuri berhenti di depan rumah mewah milik opanya. Ya, Nuri mengajak Najwa ke rumah opanya terlebih dahulu sebelum menemui Kiki, saudara sepupunya di rumah sakit.

__ADS_1


"Nuri, cucuku …" Nuri di sambut oleh opanya, mereka berpelukan dan saling melepas rindu. Meski berada di kota yang sama, Nuri jarang menemui opanya. Tidak seperti Kiki yang setiap hari pasti bertemu opanya. Ya, karena Kiki tinggal bersama opa dan papahnya di rumah opanya.


"Baru saja Kiki keluar, Kiki sudah 1 bulan tinggal di sini," ucap Opanya Nuri yang bernama Wisnu.


"Kiki sekarang tinggal di sini?" tanya Nuri.


"Iya, Nuri. Biasa kalau sedang galau dengan perempuan dia ke sini, tapi opa lihat dia semangat lagi," jawab Wisnu.


"Ehhh … ada gadis cantik, siapa namamu? Temannya Nuri?" tanya Opa Wisnu pada Najwa.


"Ehmm … iya, opa. Saya Najwa." Najwa mengulurkan tangannya dan mencium tangan Opa Wisnu


"Cantik sekali kamu, Nak," ucap Wisnu.


"Opa bisa saja," ucap Najwa dengan malu.


"Masih cantik Nuri, opa," ucap Nuri dengan mengerucutkan bibirnya.


"Iya, iya. Ayo duduk dulu, kita ngopi atau ngeteh, lama sekali kamu Nuy, tidak menjenguk opa." Opa Wisnu mengajak Nuri dan Najwa duduk di ruangan tamu.


Nuy adalah panggilan sayang opa pada Nuri. Itu karena saat masih kecil Kiki belum bisa mengucapkan huruf "R" jadi dia memanggil Nuri dengan sebutan Nuyi. Dan, hingga sekarang mereka memanggil Nuri dengan sebutan Nuy, meski Kiki sudah biasa menyebut Nuri, Opa Wisnu masih suka memanggil dia dengan sebutan Nuy.


"Opa kangen dengan Nuy?" tanya Nuri dengan manja pada Opanya.


"Sangat, opa sangat merindukanmu. Kamu nya sok sibuk, sih." Opa Wisnu lagi-lagi memeluk Nuri.


Najwa yang melihatnya menjadi mengingat opanya. Najwa memang cucu kesayangan Rico. Dan, kini sudah hampir 5 bulan Najwa tidak mengetahui kabar opanya.


"Opa, Najwa kangen. Pengen meluk opa, bercanda dengan opa. Maafkan Najwa, opa," gumam Najwa.


^^^^^


Rico masih berusaha mencari cucu kesayangannya. Dia juga tidak tinggal diam saja. Semua anak buahnya dia kerahkan untuk mencari cucu kesayangannya.


"Di mana kamu, Nak? Opa di sini tidak diam saja, Najwa. Opa mencari mu ke seluruh benua Eropa. Opa menyuruh orang-orang opa untuk mencari mu, tapi sudah 5 bulan tidak menemukan kamu," ucap Rico lirih dengan menikmati teh di ruang tamu.


Annisa dari dalam mendengar apa yang papah mertuanya katakan. Dia mendekati Rico dan duduk di sampingnya.


"Papah belum menemukan Najwa?" tanya Annisa yang tiba-tiba duduk di sampingnya.


"Belum, Nis. Papah tidak tahu, mau mencari dia kemana lagi," ucap Rico.


"Semoga Najwa cepat ketemu,"ucap Annisa.


"Menurut Arkan, tidak usah di cari, pasti Kak Najwa kembali kok. Percaya deh. Aku tahu Kak Najwa, di sana Kak Najwa sedang menentramkan pikirannya. Kalau dia sudah merasa tenang dan tentram pasti akan pulang, percaya sama Arkan," ucap Arkan yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.


"Kamu yakin itu, Nak?" tanya Annisa.


"Yakin bunda, jadi bunda dan opa jangan khawatir. Kak Najwa wanita yang kuat. Dia hanya lemah karena cintanya pada Kak Dio. Tapi, dia sosok wanita yang tegar, bunda, opa. Jadi, tidak usah khawatir. Pasti Kak Najwa akan pulang," ucap Arkan.


Arkan mencoba memberi pengertian pada opa dan bundanya. Memang akhir-akhir ini semuanya merindukan Najwa. Dirinya juga sangat merindukan Najwa. Berkali-kali Arkan menghubungi akun sosial medianya Najwa tidak pernah di balas. Dia setiap hari menginbox kakaknya dan selalu menunggu balasannya. Tapi, tidak ada balasan satu pun dari Najwa.


"Aku sebenarnya sama dengan mereka, aku juga merindukan Kak Najwa, sangat merindukannya. Aku rindu Kak Najwa yang sering menasehati ku jika aku terlalu sibuk bermain dan melupakan tugas sekolahku, dia kakak yang paling aku sayang di antara yang lainnya," gumam Arkan.


Arkan kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia kembali membuka Facebook untuk melihat kakaknya sudah membalas pesannya atau belum. Hanya rasa kecewa yang Arkan rasakan, tidak ada balasan dari Najwa.


°°°


Najwa masih berada di rumah Opanya Nuri hingga sore. Dia menunggu Kiki pulang. Namun, sayangnya Kiki tidak bisa pulang cepat, dia ada seminar dan harus pulang larut malam. Jadi hari ini Nuri gagal menemui Kiki.


"Nyebelin kenapa?" tanya Wisnu.


"Dia ada seminar, dan pulang malam. Katanya mau menemui aku dan Najwa, kok malah pulang malam?" jawab Nuri dengan kesal.


"Hei, jangan seperti itu. Memang Kiki sibuk sekali akhir-akhir ini, makanya kalau ke sini pas Kiki libur, jadi pasti ketemu," ujar Wisnu.


"Kan sebel selalu seperti itu. Pokoknya kalau dia libur dia harus menemui Nuri di rumah Nuri atau di butik," pinta Nuri dengan memaksa.


"Iya, nanti opa bilang," jawab Wisnu.


"Lagian, kenapa ngebet sekali minta ketemu Kiki?" tanya Wisnu.


"Opa, aku mau ngenalin Kiki sama Najwa, mereka kan sama-sama jomblo, pokoknya aku mau Kiki sama Najwa," jawab Nuri dengan berbisik karena takut di dengar oleh Najwa. Najwa saat itu sedang di berada di toilet.


"Hei, Kiki sudah punya kekasih, jangan macam-macam, dia bulan depan akan menemuinya di Indonesia," ucap Wisnu.


"Yah, aku telat. Gak ah, pokoknya harus sama Najwa. Titik." Nuri tidak rela jika sepupunya memilih wanita lain selain Najwa. Entah kenapa Nuri bisa seperti itu


"Hai, kenapa bawa-bawa aku, Nuri?" Najwa tiba-tiba keluar dari kamar mandi dan sudah berada di ruang keluarga.


"Ehhh … Kamu sudah kembali lagi," jawab Nuri dengan gugup.


"Tuh, cucu opa lagi ghibahin kamu," ucap Wisnu.


"Gak, jangan percaya sama opa," tukas Nuri.


Ponsel Najwa berdering ada notifikasi inbox di facebooknya. Siapa lagi kalau bukan dari Habibi. Iya, Habibi mengirim pesan pada Najwa.


"Ainun, aku ada seminar hari ini. Mungkin aku pulang larut malam. Jangan kangen, ya? Aku tidak bisa mengabari kamu dulu. Lagian kenapa sih, aku minta nomor WhatsApp kamu tidak diperbolehkan terus. Apa takut dengan pacarmu itu?" ~Habibi.


Najwa tersenyum membaca pesan dari Habibi. Habibi selalu memberitahukan pada Najwa apapun kegiatan yang akan ia lakukan.


"Iya, kamu hati-hati. Jangan nakal. Nanti saja, ini belum saatnya. Suatu hari nanti aku akan kasih nomor WhatsApp ku." ~Ainun.


"Kamu sekarang pelit sama teman sendiri. Ya sudah, tidak apa-apa. Aku berangkat seminar dulu, sayang." ~Habibi.


"Eh … sayang? Jangan macam-macam, kamu." ~Ainun.


"Aku kan calon suami kamu." ~Habibi.


"Jangan sembarangan. Sudah sana berangkat." ~Ainun.


"Iya … iya … aku berangkat, ya? Love You." ~Habibi.


"Husss … jangan ngaco." ~Ainun.


"Ah … sudah, Chat sama kamu semakin gemas saja, coba kamu di dekatku, aku cubit pipi kamu yang chubby." ~Habibi.


"Mau berangkat kapan kalau Chat terus gini, Habibi…" ~Ainun.


"Ya sudah, aku berangkat, sampai ketemu besok, sayang." ~Habibi.


"Habibi … Habibi … ada-ada saja dia, konyol sekali kalau bercanda. Aku kok jadi merindukan jahilnya dia, aku ingin memberitahukan di mana aku sekarang. Tapi, nanti sajalah, biar jadi kejutan," gumam Najwa.


Najwa terlihat sumringah mendapat pesan dari Habibi yang cukup menghibur dirinya dan melupakan semua penat dan beban hidupnya. Nuri dan Opa Wisnu melihat Najwa yang dari tadi senyum-senyum sendiri karena membaca chat dari Habibi.

__ADS_1


"Hmmm ... Sekarang gitu, ya? Sudah ketemu cowok nih pastinya. Makanya senyum-senyum terus," ledek Nuri.


"Ih, apaan sih. Ini teman aku, Nuri. Bukan siapa-siapa," ucap Najwa.


"Kamu mau aku kenalin dengan Kiki. Jadi tolong jangan menerima laki-laki lain, oke," ujar Nuri.


"Hei, jangan memaksa seperti itu. Kamu juga tidak mau kalau di paksa?" ujar Wisnu.


"Tidak sih, cuma aku ingin kamu dengan Kiki, Najwa. Kalian itu sepertinya cocok sekali." Nuri seperti memaksa pada Najwa.


"Iya, iya … tapi mana? Katanya mau ngenalin," jawab Najwa agar membuat Nuri lega.


"Nanti besok, dia sedang sibuk dan pulang malam." Nuri sedikit kecewa dan berdecak kesal.


"Ya sudah, nanti saja, kan masih ada waktu. Iya kan, opa?"


"Iya benar kata Najwa. Lagian kamu buru-buru sekali, seperti kamu yang mau kenalan sama cowok. Najwa saja yang mau di kenalin santai," ujar Wisnu.


"Tuh dengar opa," tukas Najwa.


Mereka mengobrol hingga lepas Maghrib. Nuri semakin berharap Najwa bisa besama dengan Kiki, sepupunya. Najwa merasa seperti sudah kenal dekat dengan Opa Wisnu. Entah kenapa dia nyaman mengobrol dengan Opa Wisnu saat Nuri sedang mandi.


Najwa juga bercerita kalau dia bisa mendongeng. Itu membuat Wisnu mengingat gadis kecil yang dulu suka mendongeng, tapi lupa siapa namanya.


"Kamu berteman dengan Nuri sejak kapan, Najwa?" tanya Wisnu.


"Ehm … saat Najwa kuliah. Dari ospek hingga lulus kami bareng terus, opa. Tapi, saat Nuri sudah di sini, kami jarang bertemu, dan baru 5 bulan ini kami bertemu lagi," jawab Najwa.


"Orang tuamu masih ada, kan?" tanya Wisnu lagi.


"Iya, masih. Abah dan bunda masih sehat semua di Indonesia. Opaku juga masih sehat. Mungkin seumuran Opa Wisnu," jawab Najwa.


"Oh ya, kamu bilang tadi bisa mendongeng?"


"Iya opa, Najwa bisa mendongeng," jawab Najwa.


"Sejak kecil?"


"Iya sejak kecil."


"Kenapa tidak mengembangkan bakat mendongeng kamu, nak?"


"Sebenarnya di samping menjadi desainer, Najwa juga sering mengisi mendongeng, opa. Waktu di Indonesia Najwa selalu mengisi mendongeng di Rumah Singgah khusus anak-anak yang menderita sakit keras. Kadang di rumah sakit. Kebetulan teman Najwa seorang dokter anak dan pengurus rumah singgah dan satunya pemilik rumah sakit," jelas Najwa.


"Oh, ya? Cocok kalau begitu dengan Kiki. Dia dokter anak, suka dengan anak-anak. Dan dia mengurus rumah sakit khusus anak di sini milik papahnya," ucap Wisnu.


"Iya kah?"


"Iya, tapi sayang dia pulang malam, karena ada urusan. Nanti kalau dia senggang opa ajak main ke rumah Nuri. Biar Nuri gak marah-marah lagi,"


"Opa bisa saja,"


Najwa dan Wisnu mengobrol hingga Nuri selesai mandi. Nuri memang memiliki kebiasaan mandi lama sekali. Hingga Najwa dan Wisnu mengobrol cukup lama Nuri baru keluar dari kamar mandi.


Nuri dan Najwa berpamitan pulang seusai makan malam di rumah Opa Wisnu. Nuri sedikit kecewa karena tidak jadi bertemu Kiki. Mau menyusul ke rumah sakit di mana Kiki bekerja pun tidak mungkin, karena Kiki pasti tidak ada di rumah sakit.


°°°°°


Sudah jam 2 pagi Arsyad masih belum bisa memejamkan matanya. Dia masih saja membuka-buka ponselnya memandangi foto-foto Najwa. Dari Najwa bayi hingga Najwa sekarang sebelum pergi dari rumah. Rasa sesak di dadanya semakin sakit ia rasakan. Dia takut Najwa di luar sana kenapa-napa. Dia mengingat saat menampar Najwa dan mengusir Najwa kala itu.


Dia memang geram dengan Dio, yang memulai semuanya menjadi runyam. Tapi, mau bagaimana lagi, Dio juga memiliki istri, tidak pantas rasanya jika Arsyad menampar Dio yang juga bukan darah dagingnya sendiri. Itu akan menyakiti hati Annisa. Cukup Annisa saja dan Rania yang memberi dia hukuman.


Hingga sekarang Shifa pun juga sangat membenci saudara kembarnya itu. Karena bagi Shifa, Dio sudah menyakiti 3 wanita yang sangat ia sayangi, Najwa, Annisa, dan Rania. Mereka adalah orang-orang yang sangat Shifa sayangi. Hingga Arsyad sakit, dia menjenguknya saat Dio tidak ada di rumah sakit.


Arsyad menangis melihat foto-foto Najwa. Suara Isak tangisnya terdengar hingga ke telinga Annisa yang sudah tertidur pulas.


"Najwa, Abah kangen, nak. Kamu sehat, kan? Kamu baik-baik saja, kan? Maafkan Abah, maafkan Abah, nak." Arsyad menangis hingga sesegukkan.


Annisa terbangun mendengar suaminya menangis. Arsyad sudah pulang dari rumah sakit sore tadi. Dokter sudah memperbolehkan Arsyad untuk pulang. Namun, sejak tadi Arsyad belum memejamkan matanya.


"Kak Arsyad, kakak belum tidur?" Annisa memeluk suaminya. Arsyad membalas pelukan Annisa dengan erat.


"Aku rindu Najwa, apa dia di luar sana baik-baik saja? Aku ingin mencari Najwa, Annisa," ucapnya dengan suara serak.


"Kak, jangan seperti ini. Kamu baru pulang dari rumah sakit. Kamu jangan memikirkan sesuatu yang berat dulu, sayang. Percayalah, Najwa di sana baik-baik saja. Itu pasti, sayang," jelas Annisa.


"Dari mana kamu tahu dia baik-baik saja, Annisa? Dari mana kamu tahu? Semua kontak Najwa saja tidak bisa di hubungi. Akun sosial medianya juga sudah tidak aktif semua." Arsyad semakin berkata seru pada Annisa.


"Papah sudah menyuruh orang untuk mencari Najwa, sayang. Percayalah, pasti Najwa pulang dengan keadaan baik-baik saja," ujar Annisa.


"Tidurlah, kamu baru saja sembuh. Aku tidak mau kamu sakit lagi, sayang." Annisa menenangkan Arsyad dan memeluknya.


"Aku ingin tidur seperti ini, Nisa," ucap Arsyad.


"Iya, tidurlah." Annisa mengusap kepala Arsyad yang tidur dengan memeluk Annisa.


Annisa mengeratkan pelukan Arsyad. Dia tidak pernah melihat suaminya selemah ini setelah kejadian dulu saat dirinya pergi meninggalkan rumah. Sekarang Annisa melihat suaminya lemah lagi seperi dulu.


"Ini semua karena Dio. Aku tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran dia. Dengan seenaknya merusak keluarga ini dan dia sama sekali tidak merasa bersalah untuk kejadian ini. Aku harus bicara dengan dia besok," gumam Annisa.


Annisa memikirkan cara bagaimana mencari Najwa, karena Papah Rico, Vino, dan Shita juga sampai sekarang belum menemukan jejak Najwa berada di mana.


"Leon dan Rere. Iya, mungkin mereka bisa membantu mencari Najwa. Dan, mungkin Alvin dan Zidane. Kenapa aku tidak kepikiran ke sana? Leon kan sering sekali keliling Eropa dengan Rere. Begitu juga Zidane dan Alvin. Aku harus segera memberi kabar pada mereka," gumam Annisa.


Annisa meregangkan pelukan pada Arsyad, setelah ia merasa Arsyad sudah terlelap tidur. Arsyad terlihat kurus semenjak kepergian Najwa dari rumah. Meski dia keras dan marah sekali dengan Najwa, dalam hatinya dia sangat menyayangi Najwa dan setiap hari berharap Najwa pulang.


°°°°°


Nuri melempar ponselnya ke tempat tidur saat melihat saudara sepupunya memosting Screnshoot percakapan chat dengan seorang wanita. Dia merasa kesal sepupunya chat dengan mesra pada cewek.


"Aku harus bisa mengenalkan Kiki dengan Najwa. Aku tidak mau dia salah lagi memilih kekasih, aku tidak mau dia sakit hati lagi, dan terpuruk karena wanita," gumam Nuri.


Nuri mengetik pesan pada Kiki, dia meminta Kiki untuk bertemu karena ingin mengenalkan Najwa.


"Kiki … kamu nyebelin. Pokoknya Minggu depan kamu harus menemui aku." ~Nuri.


"Iya cerewet. Kamu mau ngenalin aku sama cewek? Oke, gak apa-apa, tapi aku tidak mau, karena aku sudah punya pandangan, dan kamu pasti suka." ~Kiki


"Tidak! Kamu harus dengan temanku. Titik!" ~Nuri.


"Pemaksaan!" ~Kiki


Nuri tidak membalas pesan dari sepupunya lagi. Kala di teruskan pasti ujung-ujungnya berdebat. Makanya dia mengalah untuk diam saja.


"Oke kali ini aku mengalah, karena aku tidak mau berdebat. Tapi, aku pastikan kamu suka dengan Najwa," gumam Nuri.

__ADS_1


__ADS_2