
Berlin, Jerman.
Pagi ini, seperti biasa aku mengantarkan Shifa dan Dio ke sekolah, sebelum ke kantor. Mereka terpaksa harus belajar dengan sistem pendidikan di Jerman. Usia mereka 10 tahun, mereka sudah kelas 4SD, tapi karena mereka belum terbiasa hidup di Jerman, mereka harus menyesuaikan dulu dengan sekolah di sana. Ya, sekolah dasar di sana hanya sampai kelas 4 saja. Setelah itu, mereka melanjutkan studinya dari kelas 5 hingga kelas 12. Mereka sangat menikmati belajar di sana, mungkin sangat sulit, karena harus belajar bahasa yang di gunakan sehari-hari di sana. Beruntung, ada guru yang sedikit memahami bahasa kami, jadi Dio dan Shifa bisa mengikuti pelajaran di sana sedikit demi sedikit.
Sebenarnya aku tidak ingin membawa Dio dan Shifa ke sini. Tapi, masa iya aku harus menitipkan dia dengan Kak Mira atau Kak Arsyad. Apalagi semenjak Arsyil meninggal, Kak Mira jadi sering merasa cemburu denganku. Kak Arsyad memang dekat sekali dengan anak-anak ku. Setelah Arsyil pergi meninggalkan kami, Kak Arsyad sering sekali datang ke rumah, hanya untuk bermain denga Shifa dan Dio. Dari situlah Kak Mira merasa cemburu kepadaku. Bagaimana bisa dia cemburu padaku, sedangkan aku, aku tak pernah mendekati Kak Arsyad sedikitpun, jika ada Kak Arsyad di rumah, pasti aku mencari kesibukan sendiri. Entah aku ke butik, hanya diam di kamar saja, atau menyibukan diriku sendiri agar tidak bertemu dengan kak Arsyad.
Aku tau perasaan Kak Mira, dia wanita, dan aku juga wanita, apalagi riwayat Kak Arsyad dulu pernah mencintaiku. Aku tau bagaimana perasaan Kak Mira, walaupun kami tak pernah saling bertatap muka saat Kak Arsyad di rumah ku, tapi kecemburuan itu tetap ada di hati Kak Mira.
Aku sudah berulang kali bicara dengan Kak Arsyad, jika kerumah, datanglah bersama Kak Mira, jangan sendirian, karena aku takut itu akan menimbulkan fitnah. Apalagi Kak Mira adalah wanita yang sangat pencemburu.
Aku tau, Kak Arsyad sangat menyayangi Arsyil, dia belum bisa menerima adiknya pergi meninggalkannya. Dia ke rumah hanya ingin bermain dengan Dio. Wajah Dio sangat mirip sekali dengan Arsyil. Dari gaya bicaranya, lesung pipitnya, benar-benar seperti Arsyil. Mungkin karena itu, Kak Arsyad sering ke rumah, karena dia ingin melihat Dio yang seperti Ayahnya. Tidak hanya Kak Arsyad. Papah mertuaku, sering sekali mengunjungi kami, Dio dan Shifa menjadi cucu kesayangannya semenjak Arsyil meninggal.
Aku sudah sampai di depan sekolah Dio dan Shifa. Aku mengantarnya dengan berjalan kaki, karena sekolahnya dekat sekali dengan rumah tinggalku. Aku tinggal bersama Paman dan dua anaknya, Alvin dan Zidane. Mereka juga sangat menyayangi Dio dan Shifa. Aku kembali ke rumah untuk mengambil mobil dan berangkat ke kantor. Sebenarnya ingin sekali aku kembali ke Indonesia. Ini semua karena aku terpaksa, terpaksa meninggalkan rumah kenangan bersama Arsyil. Hanya karena, aku tak ingin Kak Mira terus merasa cemburu denganku, karena Kak Arsyad sering ke rumahku. Bahkan hingga larut malam seusai dia pulang kerja.
Istri siapa yang tak marah dan tak cemburu, jika suaminya seperti itu, akupun demikian, pasti aku cemburu jika suamiku seperti itu. Karena itu semua, aku lebih memilih menetap di Berlin untuk beberapa tahun ke depan. Dengan alasan aku mengurus perusahaan papah yang di sini. Padahal semua aman di urus oleh Alvin dan Zidane, tapi itu hanya sebuah alasan ku saja. Aku tak mau, keluarga kakak iparku menjadi berantakan hanya karena aku. Mungkin dengan aku tinggal di Berlin, Kak Mira dan Kak Arsyad tidak beradu mulut lagi soal aku dan anak-anak ku.
Aku berangkat ke kantor bersama dengan Zidane, sebelum ke kantor, Zidane mengajak ku menemu klien. Kami menemui klien di sebuah hotel berbintang di Berlin. Kami akan menemui Tuan Leon, kata Zidane tuan Leon adalah pengusaha yang kaya raya, usianya masih sangat muda, dia sudah menunggu kami di hotel. Dengan cepat Zidane melajukan mobilnya untuk menemui Tuan Leon. Sesampainya di sana, Zidane memarkirika mobilnya dan turun menemui Tuan Zidane. Kami di antar oleh petugas Hotel menuju ke arah meja Tuan Leon.
"Selamat pagi Tuan Leon, maaf membuat Anda menunggu kami."ucap Zidane.
"Selamat pagi, tidak masalah Tuan Zidane, saya juga baru saja sampai lima menit yang lalu, tuan. Silahkan duduk. Oh iya, ini siapa tuan Zidane?"ucap Leon sambil bertanya pada Zidane.
"Oh…ini sepupu saya dari Indonesia, dia sebenarnya anak dari pemilik perusahaan yang ayah saya kelola."jelas Zidane.
"Saya Annisa, tuan. Senang bertemu dengan anda."ucap ku
"Senang bertemu dengan anda Nona, Annisa." Leon menyodorkan tangannya untuk bersalaman pada Annisa.
"Senang sekali bisa bertemu sesama saudara muslim di sini."ucap Leon.
"Tuan Leon muslim?"tanyaku
"Iya saya muslim."jawabnya.
Kami berbincang-bincang seputar bisnis, dan akhirnya Zidane berhasil meyakinkan Leon, untuk bekerja sama dengan perusahaan kami. Akhirnya tuan Leon menerima kerjasamanya dan menandatangani surat kerjasama pada perusahaan kami.
"Tuan Zidane, nanti malam saya undang Anda dan saudara Anda untuk makan malam, bagaimana?"tanya Leon.
"Baiklah, saya tergantung Annisa, dia mau atau tidak."ucap Zidane
"Bagaimana, nona?"tanya Leon.
"Nanti saya bicarakan dengan putra dan putri saya."ucap ku.
__ADS_1
"Wah….anda sudah memiliki anak?"tanya Leon agak terkejut.
"Iya, anakku kembar perempuan dan laki-laki, mereka berusia 10 tahun."ucapku
"Wah….ibu muda ternyata. Suami anda ikut tinggal di sini juga?"tanya Leon.
"Suami Annisa……"ucapan Zidane terhenti karena Annisa memotongnya
"Dia di Indonesia, tidak ikut denganku."ucap ku
"Kenapa? Apa karena problem?"tanya Leon yang begitu penasaran.
"Emmm…tidak."jawab ku. Aku memang tidak pernah memberitahukan tentang status ku sebagai janda. Sebenarnya aku tidak siap dengan status ini. Aku tidak bisa, aku masih tetap istri Arsyil, walau dunia kita beda. Dan, aku tidak sembarangan memberitahukan statusku pada orang lain, apalagi dengan orang yang baru saja aku kenal seperti Leon.
"Oke, saya ingin, nanti malam kalian datang pada acara makan malam, dan nona, bawa anak kembar anda, aku juga ingin mengenalnya."ucap Leon.
"Saya pasti datang, dengan Annisa dan keponakanku."jawab Zidane.
"Saya tidak janji, tuan."ucap ku.
"Baiklah, tapi saya berharap kalian bisa datang, nanti malam."ucap Leon.
"Oke tuan Leon, kami pamit ke kantor dulu, dan terima kasih sekali lagi untuk kerjasamanya dan jamuan hari ini. Semoga kerjasama kita membuahkan hasil yang sangat baik."ucpa Zidane.
Kami berjabat tangan, Leon mungkin di katagorikan pria tampan, mapan dan masih muda sekali. Kami keluar dari hotel dan Zidane mengemudikan mobilnya menuju kantor.
Jujur saja aku sebenarnya tidak ingin ikut acara makan malam dengan Leon, tapi Zidane memaksaku.
"Ikutlah, Nis."pinta Zidane
"Aku tidak mau, Zi."jawabku.
"Kan Dio dan Shifa juga di ajak,Nis."ucap Zidane.
"Iya, tapi aku tidak mau Zidane."aku terus menolak ajakan Zidane.
"Sepertinya Leon menyukaimu."ucap Zidane yang membuat aku langsung menengok ke arah Zidane dan mencubit lengannya.
"Ada-ada saja kamu."ucapku.
"Ada-ada saja gimana? Lihat dari sorot mata dan cara bicaranya Leon saja aku sudah bisa menebaknya."ucapnya.
"Ya, suka ya suka wajar Zidane."ucap ku.
__ADS_1
"Iya, apalagi tau kamu janda, masih muda, wanita karir, karirmu bagus, pasti Leon tambah memgejarmu."ucap Zidane.
"Apaan sih, tidak ada yang bisa menggantikan Arsyil Zidane. Dia masih tetap menjadi suamiku, walau sudah di dunia berbeda."tukas ku.
"Dih…jangan marah dong, Nis. Aku cuma bercanda, dan apa salahnya kalau kamu dekat dengan pria lagi, lalu menikah, malah itu lebih bagus, yang penting, laki-laki yang akan menikahimu, lebih baik dari suamimu, terutama pada segi agamanya."jelas Zidane.
"Zi, belum ada pria yang lebih baik dari Arsyil selama ini."ucap ku.
"Kalau Leon lebih baik, apa kamu mau? Sepertinya Leon cocok denganmu."ucap Zidane.
"Leon lagi, sudah jangan bahas itu."tukas ku.
"Iya deh iya… Nis aku pesan sekali lagi, menikahlah, kamu masih muda, jangan larut dalam kenangan, boleh mengenang Arsyil, tapi jangan terlalu larut. Kasihan mendinag suamimu juga. Kalau kamu seperti itu."ucap Zidane.
"Iya, Zi."jawabku.
"Jagan iya…iya... Aja kamu, Nis. Ini demi kebaikan kamu ke depannya."ucap Zidane
"Iya cerwet."tukas ku.
"Tidak Alvin, tidak kamu, bicaranya selalu seperti ini, aku belum siap mengenal pria lain, Zi."ucapku.
"Pelan-pelan Nisa, pasti kamu bisa. Sudah satu tahun lho kamu di tinggal Suamimu. Apa kamu tidak ingin mengenal pria lain?"tanya Zidane.
"Sampai akhir nyawaku bisa, jika aku tak mengenal pria lain."ucapku sambil membayangkan kenangan bersama Arsyil yang membuat dadaku semakin sesak.
"Nis…jangan seperti itu, belajar membuka hati sedikit demi sedikit."ucap Zidane yang menghentikan mobilnya di depan kantor
"Entahlah, nanti."ucapku sambil turun dari mobil dan langsung masuk ke kantor meninggalkan Zidane.
Belum saatnya, belum, aku belum siap untuk membuka hati, jangankan membuka hati, mengobrol dengan pria saja aku tidak ingin. Cinta Arsyil di hatiku semakin kuat. Andaikan aku menikah lagi, aku juga ingin menikah bukan karena aku mencintai pria yang akan menikah denganku, yang terpenting, anak-anak menyukai pria itu dan pria itu menyayangi anak-anakku. Untuk masalah cinta, aku tidak bisa mencintai pria lain selain Arsyil. Tidak, aku tidak mau dan tidak bisa.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
♥️happy reading♥️