
Sudah lima hari Fattah dan lainnya berada di Budapest. Dan, hari ini mereka semua akan pamit pulang ke Indonesia. Shifa dari tadi pagi merayu Najwa untuk ikut pulang, tapi Najwa belum mau ikut pulang. Dia beralasan masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Padahal, dia hanya ingin menghindar dari Dio. Setiap melihat Dio hanya bayang-bayang dosanya yang terlihat jelas di depan mata.
“Kak, ayolah ikut pulang, kasihan abah, abah ingin sekali Kak Najwa ikut pulang,” pinta Shifa.
“Fa, aku masih banyak pekerjaan di sini. Bulan depan aku dan Habibi akan pulang. Aku janji,” jawab Najwa.
“Masih lama dong, kak,” sahut Arkan yang ada di dekat Najwa.
“Bulan depan kan tinggal 2 minggu lagi, Arkan,” ucap Najwa.
“Sudah, jangan memaksa Kak Najwa, dia masih banyak pekerjaan. Nanti juga Kak Najwa pasti pulang. Iya kan, Kak?” sambung Raffi dengan merangkul Najwa.
“Iya, Kak Najwa pasti pulang,” jawab Najwa.
“Pasti menikah dengan Habibi juga, kan?” ledek Shifa.
“Itu hal pasti, Shifa,” jawab Najwa dengan tegas.
“Yakin?” Raffi meyakinkan Kakaknya.
“Yakin, lah. Pernikahan bukan main-main, Raffi,” jawab Najwa.
“Apa kamu sudah benar-benar mencintai Habibi dan mau menerima Habibi?” tanya Shifa.
“Iya, aku mencintainya,” jawab Najwa.
“Benar?” Shifa meyakinkan Najwa.
“Benar lah! Masa aku bohong,” jawab Najwa dengan nada sedikit menekan dan tegas.
“Aku kira kamu belum lupa dengan Dio,” ucap Shifa.
“Kenapa kamu bilang seperti itu?” tanya Najwa.
“Karena aku lihat, setiap kali ada Dio, dan dia bergabung, pasti kamu menghindar,” jawab Shifa.
“Siapa yang menghindar?” ucap Najwa dengan santai tapi denganraut wajah seperti orang gugup.
“Kamu lah, siapa lagi. Iya, kan? Kamu masih ada sedikit rasa untuk Dio?” tanya Shifa lagi.
“Kamu itu, ada-ada saja. Kalau aku masih ada rasa sama Dio, aku tidak bisa mencintai Habibi. Dan, aku tidak mau, saat Habibi mengajakku menikah,” jawab Najwa.
“Kalian bahas apa sih? Kak Najwa sudah tidak mencintai Dio,” tukas Raffi
“Iya, benar kata Raffi,” imbuh Najwa.
Shifa hanya diam saja, Shifa tahu, kalau Najwa masih memiliki rasa untuk Dio. Mungkin bukan rasa cinta, tapi lebih ke rasa sesal, dan tidak enak dengan Rania. Tapi, bagi Shifa itu sama saja. Karena dengan masih menyimpan rasa, sama artinya Najwa belum melupakan Dio sepenuhnya. Dan, itu akan berimbas pada hidup Najwa ke depan.
Raffi dan Arkan pergi ke kamarnya untuk menata barang bawaannya. Sedangkan Shifa, dia masih berada di kamar Najwa. Dia masih berusaha ingin tahu hati Najwa bagaimana dengan kembarannya.
“Fa, lihat baju dan jilbab ini bagus untuk kamu.” Najwa memperlihatkan baju dan jilbab pada Shifa. Baju yang ia buat sendiri saat peretama ikut kerja di butik Nuri.
“Iya, bagus,” jawab Shifa.
“Buat kamu saja, aku memang sengaja buat seperti ini dua, satu untuk aku dan satu untuk kamu,” ucap Najwa.
“Iya, aku bawa pulang, nanti. Sekarang, aku mau tanya lagi sama kamu, kak.” Shifa masih saja ingin Najwa menceritkan perasaannya pada Dio.
“Tanya apa lagi sih, Fa?” tanya Najwa dengan sedikit penuh penekanan.
“Kamu masih mencintai Dio?” tanya Shifa.
“Fa, sudahlah, harus berapa kali aku jelaskan, rasa ini sudah tidak ada untuk Dio. Untuk apa aku masih mencintai suami orang, sedang Habibi, jauh lebih sempurna dari Dio,” jawab Najwa dengan penuh penekanan dan ketegasan.
“Tapi, aku lihat kamu kemarin...”
“Kenapa? Kemarin aku kenapa? Menghindar dari Dio? Tidak ingin bergabung dengan kalian saat ada Dio? Seperti itu?” tukas Najwa dengan sedikit kesal.
Memang dirinya selalu menghindari Dio. Itu semua karena dia tidak mau berurusan dengan rasa sesal dalam hatinya. Dia tidak mau merasakan rasa sakit saat mengingat dosa yang telah ia lakukan dengan Dio. Apalagi, hingga dia memberikan sebagian tubuhnya untuk dinikmati Dio saat dia terjerat cinta yang salah dengan Dio.
Najwa belum siap jika harus lama bertatap muka dengan Dio. Bayang-bayang saat bersama Dio dulu semakin terlihat jelas di lensa matanya dan rasa sakit itu makin terasa di hatinya.
“Aku tahu perasaanmu seperti apa, Kak,” ucap Shifa.
“Kalau tahu, ya sudah, kenapa mesti tanya lagi, Shifa,” ujar Najwa.
“Fa, melupakan seseorang yang pernah singgah di hati ini itu sulit sekali. Harus melalu beberapa tahapan. Apalagi kalau melupakan tanpa di dampingi seseorang lagi, itu pasti tidak akan bisa. Aku yang di dampingi Habibi saja masih belum bisa lupa sepenuhnya. Bukan aku tak bisa lupa soal cintaku pada Dio, ini lebih ke dosa dan penyesalanku, yang masih saja belum aku lupakan. Meskipun ada Habibi di sisiku. Dia selalu memberikan kehangatan untuk hatiku, hingga aku nyaman, dan aku merasakan cinta yang tulus dari dirinya.” Najwa mencoba jujur dengan apa yang ia rasakan pada Shifa.
__ADS_1
“Lalu, apa kamu mencintai Habibi?” tanya Shifa.
“Ya, aku mencintainya, sangat mencintainya. Sekali lagi aku katakan, cintaku untuk Dio sudah tidak ada sama sekali di hatiku. Hanya tersisa rasa sesal dan dosa yang aku rasakan setiap harinya. Itu yang membuat aku selalu menghindar dari Dio. Jika aku pulang sekarang bersama kalian, aku belum siap. Aku benar-benar harus siap untuk pulang, jika aku belum siap, sama saja aku menyiksa batinku sendiri. Itu kata Habibi. Jadi, aku memilih aku tidak akan pulang sebelum hatiku siap,” jawab Najwa.
“Oke, aku tidak masalah jika kamu belum mau pulang. Tapi, abah, kamu harus tahu abah setiap harinya seperti apa jika merindukan kamu, Najwa,” ucap Shifa.
“Aku pasti pulang menemui abah. Karena aku juga akan menikah dengan Habibi dalam waktu dekat ini,” jawab Najwa.
Najwa dan Shifa masih bercerita. Shifa memang dari kemarin tidak bisa lama bercerita dengan Najwa. Najwa yang selalu sibuk, dan jika sedang berkumpul, saat Dio bergabung juga, Najwa langsung beralasan untuk menghindari Dio.
^^^
Dio mendengar percakapan Najwa dan Shifa. Dia merasa manusia paling berdosa sekali saat mendengarkan penuturan Najwa tadi. Najwa yang selalu di liputi rasa sesal akan dosa-dosanya membuat hati Dio sakit. Apalagi, dia sudah mendapat kebahagian dengan Rania. Sedangkan Najwa, dia mau mencitai Habibi tapi hatinya masih merasakan sakit karena penyesalan dan dosanya yang telah Najwa lakukan bersama dirinya.
“Iya, aku sadar. Kak Najwa begitu menderita karena aku. Aku sudah merusak dirinya sebagai perempuan. Aku menikmati apa yang seharusnya tidak aku nikmati pada diri Najwa. Dan, mungkin itu yang membuat Najwa menyesal. Hingga saat ini rasa sesal itu masih menghantui dirinya, walaupun ada Habibi yang sangat mencintainya, dan tentunya Najwa juga mencintainya,” gumam Dio dengan mengusap kasar wajahnya.
Dio semakin merasa dirinya sudah mnghancurkan semuanya. Terutama dia mangahancurkan hidup Najwa. Meski Rania saat itu hancur hatinya, tapi kini dirinya sudah meredakan rasa lara pada hati Rania. Sesangkan Najwa, meskipun sudah ada pria yang mengisis hati Najwa saat ini, namun lara hati Najwa belum bisa di sembuhkan begitu saja.
“Benar kata Rania. Najwa bisa mencintai lelaki lain, tapi hatinya masih sangat terluka karena perbuatanku dulu,” lirih Dio.
Rania melihat suaminya yang dari tadi gelisah di dalam kamar. Dia mendekati suaminya dan duduk di sampingnya. Rania menggenggam tangan suaminya dan menciumnya.
“Kenapa kamu terlihat gelisah, sayang?” tanya Rania.
Dio hanya diam dan menatap wajah istrinya. Dia memeluk Rania dan mencium keningnya. Dia berpikir kalau saja dulu dia tidak egois, pasti tidak akan ada kesalahpahaman pada Rania dan Dio, hingga berimbas pada cinta yang salah untuk Najwa.
“Ran, andai dulu aku mau mendengarkan kata-kata kamu, dan aku tak menghindari kamu, pasti tidak akan ada kejadian seperti ini. Pasti tidak akan ada hati-hati yang terluka karena aku,” jawab Dio.
“Kenapa kamu bicara seperti itu?” tanya Rania.
“Ya, karena aku kecewa sama kamu, aku mendekati Najwa dan menaruh luka di hatinya,” jawab Dio.
“Jangan menyalahkann diri kamu. Aku yakin suatu saat nanti Najwa pasti akan bisa menerima semua ini,” ucap Rania.
“Coba saja dulu saat aku medengarkan kata abah, kalau aku dan Najwa saudara satu susuan, pasti tidak akan seperti ini, Ran. Aku yang egois, aku yang tidak terima saat abah mengatakan hal itu. Aku mementingka egoku saja saat itu. Padahal Najwa sudah berusaha menghindari aku. Tapi, aku yang memaksa dia untuk melakukan apa yang aku inginkan. Hingga dia menyerahkan dirinya untuk aku rasakan, apa yang seharusnya tidak aku rasakan. Aku benar-benar manusia yang sangat egois, Ran.” Dio menangis di pelukan Rania.
“Aku sama sekali tidak merasakan tersiksanya kamu saat itu. Aku selalu menemui Najwa, meminta dia selalu ada di sisiku. Aku tidak mempedulikan kamu yang sudah menjadi istri sahku. Aku benar-benar orang paling egois di dunia ini. Maafkan aku, Ran.” Suara serak Dio membuat Rania ikut menangis memluknya.
Dia tahu, Dio juga menderita merasakan hal ini. Tapi, karena Dio lelaki, dia tidak selemah Najwa. Rania tahu, suaminya masih belum bisa melupakan dosa yang ia perbuat pada dirinya dan juga Najwa. Tapi, Dio selalu menyimpan rasa itu, dan dia berusaha membahagiakan dirinya yang kini sudah menjadi istrinya.
Rania membiarkan Dio menangis di pelukannya. Dia juga memberikan pengertian pada Dio, dan menenangkan hati Dio.
^^^^
Siang harinya, Habibi dan Ainun akan mengantarkan Fattah dan lainnya ke bandara. Dio dari tadi diam dan menjauh dari lainnya. Dia tidak mau merusak suasana mereka yang sedang asik bercerita sambil menunggu Fattah yang sedang bicara dengan Opa Wisnu dan Papah Erlangga.
Akmal melihat Dio yang duduk sendirian jauh dari saudara-saudaranya. Akmal mendekatinya dan duduk di sebelah Dio.
“Bagaimana perusahaanmu, Dio?” tanya Akmal untuk membuka pembicaraan.
“Lancar, Alhamdulillah,” jawab Dio dengan singkat.
Akmal tahu, dia menjauh dari semuanya, hanya karena tidak mau merusak mood Najwa yang sedang bercanda dengan semua saudaranya.
“Kamu tidak gabung ke sana?” tanya Akmal.
“Ah...tidak, tadi aku baru saja menerima telepon dari asisten pribadiku, jadi aku menjauh dari mereka,” jawab Dio.
“Oh...bukan karena ada Najwa?” tanya Akmal.
“Kenapa kalau ada Najwa?” Dio balik bertanya.
“Ya tidak apa-apa. Aku tahu dia menghindarimu dari kemarin. Mungkin dia masih sedikit canggung dengan kamu. Meskipun dia sudah tidak lagi mencintaimu,” ucap Habibi.
“Ya, mungkin saja,” jawab Dio.
Mereka terdiam sejenak. Akmal juga tidak tahu apa yang akan ia sampaikan lagi pada Dio. Dia juga tidak enak mau membahas masa lalu yang sudah terpendam.
“Akmal,” panggil Dio.
“Iya, ada apa?” tanya Akmal.
“Aku titip Najwa. Maafkan aku, aku sudah merusak hidupnya. Jika kamu benar-benar mencintainya, terima Najwa apa adanya. Cintai dia, tanpa syarat dan jangan siksa hatinya lagi. Aku menyesal, sudah merusak hidupnya. Tapi, percayalah, dia masih menjadi perempuan yang utuh. Aku belum sampai menyentuh dan merusak semuanya,” jelas Dio.
“Aku sudah tahu semua, Dio. Najwa menceritakan semua denganku. Dan, aku sangat mencintai Najwa. Aku akan menjaganya, mencintainya hingga akhir hidupku, aku janji itu,” ucap Akmal.
“Jangan hanya mengumbar janji. Buktikanlah. Jika kamu ingkar dan menyakiti Najwa, aku orang pertama yang akan membuatmu menyesal seumur hidupmu. Pegang kata-kataku, Akmal!” Dio berbicara dengan penuh penekanan dan ketegasan pada Akmal.
__ADS_1
“Ya aku akan buktikan padamu, Dio,” jawabnya denga tegas.
“Apa kamu masih mencintai Najwa?” tanya Akmal.
“Kalau aku masih mencintai Najwa. Aku tak akan kembali pada Rania. Aku juga akan mencari Najwa saat itu juga, saat dia di usir dari rumah oleh abah,” jawab Dio.
Dio dan Akmal mengobrol cukup lama, hingga Fattah keluar dari dalam bersama Opa dan Erlangga. Semuanya pamit dengan Opa Wisnu dan Erlangga. Opa Wisnu dan Erlangga tidak bisa mengantar mereka ke Bandara, jadi hanya Habibi dan Ainun yang mengantarnya.
^^^
Mereka sudah sampai di Bandara. Semua pamit dengan Najwa dan Akmal. Mereka juga berterima kasih pada Akmal yang sudah menjaga Najwa dengan baik.
“Ki, terima kasih, kami sudah merepotkan kamu,” ucap Fattah.
“Sudah biasa kali,” jawab Akmal dengan bercanda.
“Dasar! Sudah, aku pamit pulang, jaga tuh kakak iparku, awas kamu macem-macem. Kamu orang pertama yang aku cari kalau kamu menyakiti Kakak iparku,” ancam Fattah.
“Siap! Aku tidak akan menyakitinya. Bagaimana bisa aku menyakitinya. Aku terlalu mencintainya,” ucap Akmal.
“Jangan terlalu mencintainya. Mencintai sewajarnya saja, Kak. Awas, kalau Kak Akmal melukai hati Kak Najwa. Aku orang pertama yang akan memberikan kakak pelajaran,” sambung Raffi.
“Dan, ingat janjimu, Akmal. Kalau kamu sampai mengingkarinya,” ancam Dio juga.
“Kalian ini... Sayang, aku di ancam semua saudara laki-lakimu,” ucap Akmal.
“Ya, memang harus seperti itu,” jawab Najwa.
“Lihatlah, semua saudaramu menyayangimu, kamu tidak perlu takut untuk pulang, kamu tidak perlu takut abah tidak memaafkanmu. Kamu harus pulang. Dan, maafkan aku, karena aku sudah membuat kamu begitu menderita, Kak Najwa,” ucap Dio.
“Iya, aku pasti akan pulang, bulan depan aku pulang. Dan, untuk masalah itu, lupakanlah. Aku akan belajar menerima kenyataan hidupku. Sudahlah, semua sudah berakhir, Dio. Kamu jaga Rania dan anak kamu. Jangan macam-macam, dan jangan pernah sakiti Rania,” ucap Najwa.
“Aku tunggu kamu pulang. Bukan hanya aku yang menunggu kamu pulang. Semuanya, semua menunggu kamu kembali ke rumah,” ucap Dio.
“Dan, aku tak akan menyakiti Rania,” imbuh Dio.
Semua berpamitan, dan memeluk Najwa. Begitu juga dengan Dio. Dio meminta izin Rania untuk memeluk Najwa, dan begitu juga sebaliknya, Najwa meminta izin pada Akmal untuk memeluk Dio.
“Maafkan aku, Kak. Bahagialah bersama Akmal. Dia lelaki yang baik. Dan, hapus semua sesal di hatimu. Akupun mersakan itu, tapi lihatlah, Akmal memberimu cinta yang sungguh indah,” ucap Dio seusai memeluk Najwa.
“Iya, Dio. Aku akan menjemput bahagiaku dengan Akmal. Karena aku juga mencintainya,” ucap Najwa.
Ada rasa lega pada diri Dio, karena Najwa menemukan seseorang yang benar-benar mencintainya dan mau menerimanya apa adanya. Bukan hanya Dio saja yang lega. Semua lega sudah bertemu Najwa dalam keadaan baik-baik saja. Najwa juga sudah menemukan seseorang yang mau menerimanya apa adanya, dan mencintainya dengan tulus. Apalagi Raffi, dia bahagia sekali bisa menghabiskan waktu bersama kakaknya dalam 5 hari. Rasanya dia masih ingin bersama kakak perempuannya. Jika tidak ada pekerjaan yang menanti, mungkin dia akan pulang bulan depan bersama Najwa dan Akmal
^^^^^
Habibi dan Ainun sudah berada di dalam mobil seusai mengantar Fattah dan lainnya di Bandara. Habibi melajukan mobilnya dengan santai. Karena hari ini dirinya dan Ainun free tidak ada pekerjaan, jadi Habibi tidak gugup untuk kembali ke rumah sakit.
“Duh senangnya di peluk mantan,” ledek Habibi.
“Ih...apaan sih, itu saja aku izin kamu. Kok kamu jadi gitu?” ucap Najwa dengan sedikikit kesal.
“Iya, iya...sudah dong, jangan marah.” Habibi mengusap pipi Ainun dengan lembut.
“Sayang, nikah yuk?” ajak Habibi.
“Ya, ayuk... kapan?” tanya Aninu.
“Kita susul mereka pulang ke Indonesia saja hari ini,” jawab Habibi.
“Apa kabar dengan pekerjaanmu? Jangan lari dari tanggung jawab. Selesaikan dulu pekerjaanmu, baru kita pulang ke Indonesia,” ujar Ainun.
“Iya juga sih, tapi....”
“Tapi apa? Gak ada tapi-tapian, menikah juga harus ada persiapan yang matang, bukan hanya aku cinta kamu, besok langsung menikah. Apa tidak memikirkan yang lainnya, belum mengurus surat-surat untuk persyaratan nikah dan lainnya,’ tutur Ainun.
“Iya, juga sih. Iya deh, aku nurut kamu,” ucap Habibi.
“Jangan menikah karena memburu cinta, sayang. Menikah itu ibadah, jadi persiapannya tidak hanya berbekal cinta saja. Cinta bisa tumbuh dengan seiring berjalannya waktu, sayang,” ucap Ainun.
“Jangan takut aku tidak mencintaimu, aku mencintaimu, sangat mencintaimu, Habibi. Aku menunggu bulan depan, karena aku tahu, pekerjaan kamu di sini masih sangat banyak. Kalau aku tidak melihat ke situ, aku minta untuk pulang sekarang,” ujar Ainun.
“Iya juga, itu saja pekerjaanku baru bisa selesai bulan paling tidak 3 minggu lagi. Jadi bulan depan lebih seminggu,” ucap Habibi.
“Nah, kan?”
“Kamu memang mengerti aku, Ainun,” ucap Habibi.
__ADS_1
Habibi memang sudah ingin menikah Ainun. Dia ingin secepatnya menikahi Ainun, tapi masih ada pekerjaan yang tidak bisa di tunda. Dia mengingat dulu, saat akan menikah dengan tunangannya dulu. Habibi masih belum lulus kuliah, wanitanya minta menikah secepat mungkin. Di saat Habibi sudah siap dengan semuanya. Wanita itu tanpa merasa bersalah pergi meninggalkan Habibi demi melanjutkan impian dan cita-citanya.
“Ainun memang perempuan yang dewasa. Dia bisa mengerti posisiku sekarang ini. Benar kata Dio, Ainun adalah penyejuk dan penentram hati. Setiap tutur katanya yang terucap, begitu menyejukan hati. Pantas banyak sekali anak-anak yang sayang dengan Ainun. Sehari saja dia tidak ke rumah sakit atau ke rumah Singgah, dia sudah di rindukan banyak anak di sana,” gumam Habibi.