THE BEST BROTHER

THE BEST BROTHER
S3 Cinta Untuk Mereka Bab 45 "Ulat Bulu"


__ADS_3

Arsyad masih menangis di pelukan Annisa sambil merutuki dirinya sendiri. Dia tak menyangka, hanyut dalam masa lalu akan merubah hidupnya menjadi seperti ini.


"Annisa, suami macam apa aku, maafkan aku, maafkan aku," ucap Arsyad di sela-sela Isak tangisnya.


"Kak, sudah, jangan seperti ini, ayo mandi, sudah siang, kakka harus ke kantor." Annisa mencoba menenangkan hati suaminya, dia mencium lembut kelopak mata suaminya dan bibir suaminya.


"Mandilah,"titah Annisa sambil memberika handuk pada suaminya.


Arsyad masuk ke kamar mandi, dia mendudukan dirinya di tepi bathtube. Dia masih sangat menyesal, dia merasa kasihan pada Annisa. Rasa bersalahnya semakin menumpuk di hatinya.


"Ya Allah, suami macam apa aku, sembuhkan aku, aku ingin membahagiakan istriku,"gumam Arsyad.


Annisa duduk di tepi ranjangnya, dia menangis dan menyeka air matanya yang jatuh. Dia rela hanya merasakan di sentuh suaminya, agar suaminya bisa menghilangkan sakitnya. Bagaimanapun dia sudah menyayangi suaminya, entah sejak kapan rasa itu muncul.


"Kak, aku rela hanya di sentuh kamu, aku rela, aku yakin kamu bisa sembuh, kak,"gumam Annisa.


^^^^^^


Annisa sudah terlihat rapi dengan pakaian kerjanya. Arsyad baru saja keluar dari kamar mandi dengan mata yang sembab. Annisa tau, suaminya pasti habis menangis. Begitu pula dengan Annisa, matanya juga agak sembab, tapi mata sembabnya Annisa tertutup oleh maskara dan eyeliner yang ia pakai. Annisa memberikan baju kerja untuk suaminya


Arsyad memamkainya di depan Annisa yang sedang menata jilbabnya.


Arsyad bercermin di samping Annisa saat akan memakai dasinya. Dia memakai dasinya, tapi Annisa langsung menghentikan Arsyad saat sedang memakai dasi.


"Biar aku saja yang memakaikan,"ucap Annisa.


"Ah, iya, Nis,"ucap Arsyad.


Annisa memandangi wajah semuaminya dan tersenyum manis di depannya. Dia sudah selesai memakaikan dasi Arsyad. Annisa memegang pipi Arsyad dengan kedua tangannya, dia menatap lembut wajtah suaminya dan mencium bibir Arsyad.


"Kenapa mata kakak sembab sekali? Jangan di terlalu di pikirkan, nanti kakak akan stres. Sudah, percayalah padaku, kakak pasti akan sembuh,"ucap Annisa.


Arsyad melingkarkan tangannya ke pinggang Annisa, dia membalas ciuman Annisa dan mengecup keningnya.


"Terima kasih, Annisa. Kamu mau membantu kakak, kakak tidak tau harus berkata apa lagi,"ucap Arsyad


"Ini sudah kewajibanku, kak,"ucap Annisa.


"Kakak, apa setelah kakak sembuh akan meninggalkanku?"tanya Annisa.


"Kenapa kamu berkata seperti itu? Aku tidak akan meninggalkanmu, Annisa,"jawab Arsyad.


"Namun, jika kamu memilih menyerah karena ada laki-laki lain yang sempurna, aku akan ikhlas melepaskanmu,"ucap Arsyad.


"Kakak jangan bilang seperti itu." Annisa langsung memeluk Arsyad, seakan dia tidak ingin kehilangan dirinya.


Entah kenapa Annisa merasakan nyaman bersama Arsyad, ada perasaan yang sulit di jelaskan dalam hati Annisa, dia sangat takut Arsyad meninggalkannya.


"Kakak, jangan bilang seperti itu lagi, kakak pasti sembuh, kita akan tetap bersama, untuk mereka, untuk anak-anak kita,"ucap Annisa


"Lalu kita?"tanya Arsyad sambil membelai pipi Annisa.


"Kita, ehmm…kita….,"ucapan Annisa berhenti saat Arsyad tiba-tiba mencium bibir Annisa.


"Kita akan selalu bersama, kamu bilang ingin memiliki bayi, kalau aku sembuh, kita buatkan adek untuk mereka, jangan pergi dariku Annisa." Arsyad memeluk Annisa dengan erat.


"Kakak tidak lupa itu?"tanya Annisa.


"Tidak, hanya saja masa laluku yang melupakanmu, ayo berangkat, jangan berangkat sendiri, kamu berangkat dengan kakak,"ucap Arsyad.


"Oke, aku siapkan bekal kakak dulu,mau sandwich, kan?"tanya Annisa.


"Iya, kakak akan siap-siap dulu,"ucap arsyad


^^^^^


Annisa sudah sampai di kantornya, Arsyad mengantarnya hingga Annisa masuk ke dalam ruangannya. Semua karyawan Annisa memerhatikan bos cantiknya di dampingi seseorang pria yang sedang menggenggam erat tangannya.


"Cie di antar sampai ke dalam,"ledek Rere yang baru saja berangkat dan berjalan di belakangnya.


"Biar aku bisa memastikan dia sampai di ruangannya, Re,"ucap Arsyad


"Iya deh iya, kalian buat iri aku saja,"ucap Rere.


"Makanya jangan jomblo,"ledek Arsyad.


"Bukan jomblo, belum ketemu jodoh saja, pak,"ucap Rere.


"Sama saja, Re,"sahut Annisa.


"Iya, deh iya, jomblo mah bisa apa," ucap Rere.


Annisa masuk ke dalam ruangannya, Arsyad ikut masuk ke dalam memastikan istrinya baik-baik saja. Entah kenapa sejak dia jujur dengan Annisa mengenai masalahnya, dia ingin sekali menjaga Annisa, dan sangat menyayanginya.


"Nanti sore kakak jemput kamu, selamat bekerja,"ucap Arsyad sambil mengecup kening Annisa.


"Hmm…kakak hati- hati di jalan,"ucap Annisa.


"Iya, kakak ke kantor dulu,"pamit Arsyad.


Arsyad keluar dari kantor Annisa, dia masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya menuju kantor. Arsyad melajukan mobilnya dengan pelan, dia masih membayangkan aktivitas nya tadi pagi dengan Annisa seusai Annisa mandi. Dia merasa tidak berguna menjadi seorang suami. Mendiami istrinya selama hampir tiga bulan, dan di tambah dengan sakitnya.


"Suami macam apa aku, aku akan berusaha, Annisa. Terima kasih selalu menemaniku, dan mengerti aku,"guna Arsyad.


Arsyad melihat ke arah depan, dia melihat seseorang yang sangat dia kenal. Arsyad menepikan mobilnya di depan orang tersebut.


"Kenapa dia terlihat kacau sekali, dan kemarin dia tidak masuk ke kantor tanpa keterangan, sekarang, dengan wajah sendunya dia berada di sini?"gumam Arsyad


Arsyad turun dari mobilnya dan menghampiri orang tersebut yang masih saja berdiri menunggu taxi.


"Pak Arsyad,"ucap wanita itu.


"Kamu sedang apa di sini, Lintang?"tanya Arysad


"Baru saja menebus obat ibu, Pak, ini mau segera ke rumah sakit lagi, maaf saya belum sempat ijin, ibu di rawat di ruang sakit,"ucap Lintang.


"Ibumu sakit apa?"tanya Arsyad.


"Leukimia, pak,"jawabnya.


Ponsel Lintang berdering, mendapat panggilan dari nomor yang tidak ia kenal. Lintang mengangkatnya, dia mendaoat telepon dari pihak rumah sakit bahwa kondisi ibunya semakin kritis. Bagai tersambar petir, tadi sebelum menebus obat di apotek yang tidak jauh dari rumah sakit, ibunya nampak sehat, dan sekarang dia mendapat kabar kalau ibunya kritis.


"Ibu,"ucapnya lirih dengan air mata yang berlinang.


"Lintang, ibumu kenapa?"tanya Arsyad.


"Ibu kritis, pak, aku harus segera ke sana. Ya Allah tadi lama sekali,"ucap Lintang.


"Ayo, aku antar kamu ke rumah sakit." Arsyad menarik tangan Lintang untuk masuk ke dalam mobilnya.


Lintang langsung masuk ke dalam mobil Arsyad tanpa menolaknya. Yang ada di pikirannya hanya ibunya. Dia tak tau harus bagaimana, dia hidup sendiri bersama ibunya, saudaranya jauh berada di desa. Dia anak tunggal, semenjak ayah Lintang meninggal karena serangan jantung, Lintang boleh di katakan golongan keluarga yang kaya. Semenjak ayahnya meninggal, usaha ayahnya bangkrut karena karyawannya bermain curang. Akhirnya Lintang melanjutkan kuliahnya dengan bekerja, untuk menghidupi dirinya dan ibunya, serta biaya kuliahnya.

__ADS_1


Lintang menangis dan terus berdoa agar ibunya baik-baik saja, dan ada keajaiban agar beliau bisa sembuh.


"Sejak kapan ibu kamu sakit?"tanya Arsyad.


"Sejak aku kuliah semester akhir, Pak. Dan, sakit ibu semakin parah, karena harta kami habis di sita oleh bank,"ucap Lintang.


"Di sita?"tanya Arsyad.


"Iya, dulu ayah memiliki hutang di bank untuk mengembangkan usahanya. Usaha ayah berkembang pesat, hingga akhirnya ayah meninggal karena serangan jantung, dan usaha ayah di kelola sahabatnya. Namun, sahabatnya bermain curang, dan akhirnya usaha ayah bangkrut dengan masih memiliki cicilan bank,"jelas Lintang.


"Kamu punay saudara kandung? Kakak atau adik?"tanya Arsyad.


"Tidak, aku anak tunggal, ayah memiliki usaha mebel jati yang terkenal di kota ini,"ucap Lintang.


"Mebel jati? Siapa nama ayahmu?"tanya Arsyad.


"Santoso Gading, pak,"jawabnya.


"Kamu putri pemilik mebel khusus jati itu? Papahku sering berlangganan di mebel kamu, memang sangat bagus dan benar-benar kayu jati kualitas terbaik,"ucap Asyad.


"Iya, usaha ayah dulu sangat maju sekali, dan sekarang, tak ada satupun yang tersisa, sehingga aku harus hidup dengan ibu sendiri, membiayai ibu yang sakit dari kuliah. Alhamdulillah bapak menolong saya untuk kerja di perusahaan bapak,"ucapnya.


"Sudah jangan menangis, tidak perlu khawatir, semua biaya rumah sakit, saya yang menanggungnya, berdoalah, ibumu akan baik-baik saja,"ucap Arsyad.


Lintang sedikit lega karena sudah menceritakan beban hidupnya pada Arsyad. Dia memang menyukai sosok laki-laki yang ada di samoingnya. Iya, dia menyukai Arsyad, bosnya sendiri, tapi dia sadar, dia tak ingin hanyut dalam perasaan, karena Arsayd memiliki istri.


"Aku memang mengaguminya, tidak tau kalau cinta, dia sosok laki-laki yang banyak di rindu wanita, tapi aku sadar, dia milik wanita lain,"gumam Lintang.


Mereka sampai di rumah sakit, Lintang dan Arsyad turun dari mobilnya. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam ruang sakit.


"Pak, terima kasih, bapak tidak kembali ke kanto?"tanya Lintang.


"Saya ingin melihat kondisi ibu kamu,"jawab Arsyad.


"Baiklah." Lintang berjalan mendahului Arsyad, dia melihat dokter dan perawat keluar dari ruangan ibunya denga wajah yang tidak membahagiakan.


"Dok, bagaiaman ibu saya?"tanya Lintang.


"Mohon maaf, Bu. Kami tidak bisa menyelamatkan ibu, anda,"ucap dokter.


Tubuh Lintang seketika lemas, dia langsung berlari ke dalam ruangan ibunya. Terlihat tubuh yang terbujur kaku di tutupi kain putih. Lintang hanya bisa menagis di dalam hatinya. Hidupnya sudah tidak berarti lagi, dia sudah tidak memiliki siapa-siapa. Lintang perlahan membuka kain putih yang menutupi ibunya. Dia melihat wajah ayu ibunya yang tidur dengan menyimpulkan senyum di bibirnya.


"Ibu, Lintang ikhlas, ibu sudah tidak sakit, Lintang janji, suatu saat Lintang bisa meneruskan usaha papah yang kini kandas, maafkan Lintang belum bisa membuat ibu bahagia." Lintang sesekali menyeka air matanya yang akan jatuh dari sudut matanya.


Arsyad merasa iba melihat Lintang seperti itu. Dia tau betapa sakitnya di tinggalkan oleh orang yang sangat di cintai. Arsyad mendekati Lintang, dia berdiri di samping Lintang. Arsyad menepuk bahu Lintang memberika kekuatan pada Lintang.


"Ibu sudah tenang, di tidak sakit, kamu yang tabah, semua yang hidup pasti akan mati, kembali kepada ilahi, kamu yang sabar,"ucplap Arsyad.


"Iya, pak. Maaf pak, merepotkan Pak Arsyad,"ucap Lintang.


"Tidak apa-apa, aku hubungi Rey dan Yulia dulu, agar dia tidka mencariku,"ucap Arsyad.


Arsyad menyuruh Reyhan dan Yulia datang ke rumah Lintang untuk bertakziah, dan menemani dirinya agar tidak jadi salah paham karena mereka hanya berdua. Rey dan Yulia menuruti apa kata Arsyad. Mereka segera menuju ke rumah Lintang.


^^^^^^


Jenazah ibunya Lintang sudah berada di rumah. Saudara Lintang sudah di hubungi dan di suruh ke kota, namun tidak ada satupun yang datang, karena keadaan Lintang sudah tidak seperti dulu yang serba kecukupan. Lintang sedang meratapi nasibnya sendiri, dia semakin merasa sendirian saat semua saudaranya menolak hadir menemui Lintang. Padahal duku sewaktu usaha ayah Lintang maju sekali mereak sering di bantu ayahnya Lintang dan sering datang ke kota hanya untuk berekreasi di kota dengan Lintang.


"Ya Allah, kenapa di saat sulit seperti ini tidak ada yang mau membantuku,"ucap Lintang lirih.


"Jangan seperti itu, masih banyak orang yang lebih sudah dari kamu, Lin,"ucap Reyhan yang sudah berada di rumah Lintang.


Yulia yang tadinya membenci Lintang karena dia menyukai Arsyad, dia sedikit iba dan merasakan apa yang Lintang rasakan, ternyata hidupnya tidak seindah yang dirinya bayangkan.


"Iya, mba,"ucapnya denagn suara serak.


Arsyad keluar dari rumah Lintang, dia memang sering mendatangi lokasi ini, saat dulu memesan lemari, ranjang tidur, dan lainnya di sini. Saat pertama membeli rumahnya.


Dia melihat bangunan yang berdiri kokoh di samping rumah kecil yang Lintang tempati sekarang. Bangunan itu adalah tempat usaha ayahnya Lintang dulu, yang di sita oleh bank.


"Kasihan Lintang, dai sekarang hanya tinggal di rumah yang kecil itu, yang dulu di jadikan untuk menyimpan sisa potongan-potongan kayu, dan sekarang di jadikan rumah tinggal untuk dia dan ibunya,"gumam Arsyad.


Arsyad masih berdiri di depan bangunan itu, dia berpikir bagaimana caranya agar usaha Lintang bisa kembali hidup seperti duku lagi. Dia merasa Lintang wanita yang benar-benar malang. Dijauhi saudaranya hanya karena dia sekarang bangkrut dan tidak memiliki apa-apa lagi.


"Aku akan membantu kamu, Lintang, bagaimanapun ayah kamu dulu orang sangat baik, dia tidak mengecewakan pelanggannya dan sangat baik dan ramah dengan pelanggan, apalagi sejak aku kecil papah sering berlangganna di sini,"gumam Arsyad.


Arsyad kembali masuk ke dalam rumah Lintang, karena Rayhan memanggilnya. Jenazah ibunya Lintang sudah siap untuk di makamkan, sebelum di makamkan jenazah ibunya Lintang di sholati terlabih dahulu.


Proses pemakaman berjalan dengan Lancar, Arsyad, Rayhan dan Yulia kembali ke rumah Lintang. Lintang terlihat sedang berbincang dengan seseorang. Arsyad memanggil Lintang karena ada yang ingin dia sampaikan.


"Ada apa bapak memanggilku?"tanya Lintang.


"Aku mau bertanya, bank mana yang menyita bangunan di sebelah rumah kamu ini?"tanya Arsyad.


"Maksud bapak, tempat usaha Ayah?" Lintang balik bertanya.


"Iya, apa sudah pernah di adakan lelang dari pihak bank?"tanya Arsyad lagi.


"Belum,"jawab Lintang.


"Sudah berapa tahun di sita bank?"tanya Arsyad lagi.


"Sudah hampir tiga tahun, pak,"jawab Lintang.


"Bisa bantu saya mengambil alih bangunan itu?"tanya Arsyad.


"Maksud bapak?" Lintang balik bertanya.


"Aku akan melunasi hutang ayah kamu, dan kelolalah usaha ayahmu lagi, kamu pastli bisa menjalankannya,"ucap Arsyad.


"Pak, jangan, saya tidak mau, biarlah, saya ikhlas,"ucap Lintang.


"Tolong tunjukan di mana banknya, saya akan melunasi semua hutang ayahmu, dan jalankan bisnis ayahmu lagi, kamu pasti bisa, kamu wanita hebat, Lintang,"ucap Arsyad.


"Tapi, pak,"ucpan Lintang terhentu karena Arsyad memotong ucapannya.


"Aku hanya ingin membantu kamu, ini hidupmu, dan ingat, aku hanya membantu. Tolong jangan anggap bantuan ini karena aku suka dengan kamu, aku tau kamu sedikit menyimpan rasa untuk aku, tapi maaf, Lintang, aku sudah memiliki istri lagi, dan aku sangat mencintainya,"ucap Arsyad, padahal dia belum tau kalau dirinya mencintai Annisa.


"Iya, saya tau, pak, tapi saya juga tidak mau merepotka Pak Arsyad. Dengan bekerja di perusahaan bapak saja aku sudah merasa hidupku tertolong dengan gaji yang bapak berikan,"ucapnya.


"Dan, maaf. Memang saya menaruh hati pada bapak sejak pertama bertemu bapak, tapi setelah tau bapak menikah lagi, saya berusaha menghindar walau hati tidak mau. Aku juga sadar, ayah sering mengajari aku hal baik, dan selalu berkata jangan merebut hak orang lain. Beliau selalu berkata seperti itu,"jelas Lintang.


"Baguslah, kalau kamu sadar. Jadi kapan kita menemui pihak bank?"tanya Arsyad.


"Nanti saya atur waktunya. Dan,saya terima kasih sekali, karena bapak mau membantu saya, mengembalikan impian ayah,"ucapnya.


"Ayahmu orang baik, lihatlah, mereka semua bekas karyawan ayahmu, bukan?"tanya Arsyad.


"Iya, kok Pak Arsyad tau?"tanya Lintang.


"Jelas tau, karena saya sering berkunjung kemari dan memesan hasil karya ayahmu, lihat rumahku dan rumah peninggalan suami Annisa. Semua perlengkapan dari lemari, ranjang, pintu dan lain-lain kami pesan di sini semua, dan ayamu sangat ramah pada pelanggan. Tidak ku sangka ada orang yang curang dengan ayahmu,"ucap Arsyad.

__ADS_1


"Aku yakin, dengan usaha ayahmu berjalan lagi, mereka juga akan merasa bahagia, mereka karyawan yang setia denga ayahmu. Ingat, jika nanti sudah berjalan lagi, lebih jeli lah memilih orang kepercayaan,"tutur Arsyad.


"Iya, pak. Sekali lagi terima kasih,"ucap Lintang.


"Iya, sama-sama. Ingat pesan aku tau, aku pamit pulang, pekerjaan masih banyak di kantor, dan nanti sore juga harus menjemput Annisa di kantor,"ucap Arsyad.


"Iya, pak,"ucap Lintang.


"Jaga dirimu baik-baik. Ikhlaskan ibumu, jangan sedih lagi, ibu dan ayahmu sudah bahagia berada di surga, tinggal kamu, di sini harus selalu menjadi wanita yang baik,"tutur Arsyad.


"Iya, pak, sekali lagi terima kasih,"ucap Lintang.


Arsyad mengajak Rayhan dan Yulia kembali ke kantornya, karena pekerjaan di kantor masih sangat banyak.


Sepanjang perjalanan ke kantor Arsyad memikirkan istrinya. Dia juga harus jujur pada Annisa karena akan membantu Lintang. Dia tidak mau kalau Annisa sampai cemburu lagi seperti saat di restoran dulu.


^^^^^


Sesampainya di kantor, dia memanggil Rayhan ke ruangannya untuk membicarakan rencananya yang akan membantu Lintang. Rayhan masuk ke dalam ruangan Arsyad dan duduk di depan Arsyad.


"Ada apa kamu memanggilku, Syad?"tanya Rayhan.


"Ray, aku ingin membantu Lintang,"jawba Arsyad.


"Kamu tau, bangunan yang besar berada di samping ruamh Lintang?"tanya Arsyad.


"Iya, kenapa? Kamu mau membantu Lintanga apa? Mencarikan jodoh untuknya agar tidak mengganggu rumah tanggamu?"tanya Rayhan.


"Ya bisa jadi seperti itu, dengan cara aku melunasi hutang ayahnya Lintang, dan bangunan yang ada di samping rumah Lintang itu adalah tempat usaha ayahnya Lintang yang di sita oleh bank, karena usahanya bangkrut dan ayahnya Lintang meninggal,"jelas Arsyad.


"Lalu apa hubungannya dengan mencarikan jodoh untuk Lintang?"tanya Rayhan.


"Ada hubungannya. Dengan aku melunasi semuanya dan memberi modal untuk dia lalu menjalankan usahanya lagi, dia akan keluar dari kantor, dan sudah aku bebas tidak ada yang mengejar-ngejar aku lagi, daripada aku memecat dia, kasihan, kan? Aku juga sudah bilang padanya, agar dia mengerti kalau aku tidak menyukainya,"ucap Arsyad.


"Wah…wah…demi menyingkirkan ulat bulu yang akan mengganggu harmonisnya rumah tanggamu, kamu rela mengeluarkan uang banyak, salut saya,"ucap Reyhan.


"Aku tidak mau Annisa cemburu lagi, Ray. Sudah itu saja, kamu tau wanita kalau cemburu seperti apa? Di berikan berlian limited edition aja gak sembuh,"ucap Arsyad.


"Iya juga sih. Lalu kamu menyuruhku ke sini untuk apa?tanya Rayhan.


"Nanti kalau aku dan Lintang mengurus semua di bank, kamu harus ikut, biar aku tidak berdua saja dengan Lintang. Takut aku, dia seprtinya agresif,"ucap Arsyad.


"Dari mana kamu taudia agresif?tanya Ray.


"Lihat saja, apapun akan dia lakukan asal bisa dekat denganku, iya, kan?"jawab Arsyad.


"Iya juga, sih. Oke deh, nanti akan aku temani saat kamu mengurus semua dengan Lintang,"ucap Rayhan.


Rayhan kembali ke ruangannya setelah berbicara dengan Arsyad. Rayhan tak menyangka Arsyad akan melakukan itu semua hanya untuk menyingkirkan seseorang yang membuat cemburu istrinya.


^^^^^^


Hari sudah semakin sore, Arsyad sudah berada di depan kantor Annisa untuk menjemputnya. Dia langsung masuk ke dalam kantor Annisa dan menemui sekretaris pribadi Annjsa, yaitu Rere.


"Annisanya ada, Re?"tanya Arsyad.


"Di dalam, katanya mau bersiap-siap untuk pulang, silahkan masuk saja,"ucap Rere.


Arsyad langsung masuk ke dalam ruangan Annisa, dia melihat istrinya sedang bercermin membenarkan jilbabnya karena habis sholat ashar.


"Sudah cantik,"ucap Arsyad yang tiba-tiba berada di belakang Annisa.


"Kakak sudah datang?"tanya Annisa dengan masih berada di depan cermin.


"Iya untuk menjemput istriku. Nisa, aku ingin berbicara sebentar dengan kamu sebelum pulang, bisa kan?"tanya Arsyad.


"Iya, mau bicara apa kak?"tanya Annisa.


"Tapi janji, kamu jangan marah, ya?"ucap Arsyad.


"Iya, kak,"ucap Annisa.


Arsyad menceritakan semuanga pada Annisa. Awalanya Annisa sedikit kecewa dengan suaminya karena dia membantu Lintang. Namun, karena alasannya tidak mau melihatnha cemburu dan salah paham lagi, Annisa sedikit lega. Apalagi saat Arsyad bilang nanti di temani Rayhan saat mengurus semua itu, dia menjadi tambah lega sekali.


"Jangan cemberut, aku melakukan ini semua karena kamu, aku tidak mau kamu marah dan cemburu lagi, sampai kaki kamu keseleo lagi,"ucap Arsyad.


Annisa memukul lembut dada Arsyad, Arsyad semakin erat merangkul pinggang Annisa. Mereka saling berhadapan dan bertatap muka.


"Annisa, jangan cemberut, senyum, jangan mukul kakak,"ucal Arsyad.


Tanpa aba-aba Annisa memeluk erat suaminya. Entah kenapa dia sangat cemburu kalau Arsyad dekat dengan wanita, apalagi Lintang. Padahal dia tidak pernah seperti itu dengan Arsyil saat dulu. Arsyil berboncengan dengan Fitri mantan kekasihnya saja dia biasa saja.


"Aku tidak tau, senyaman ini di pelukan Kak Arsyad. Dan aku tidak tau, aku merasa cemburu sekali jika dia berdekatan dengan wanita lain, padahal dulu dengan Arsyil tidak seperti ini. Bahkan aku sangat manja sekali dengan Kak Arsyad, walaupun kami belum melakukan hubungan suami-istri,"gumam Annisa.


Arsyad masih merasakan pelukan erat istrinya. Dia menarik tubuh Annisa dari pelukannya, dan mencium bibir Annisa dalam-dalam. Annisa sangat menikmati apa yang suaminya lakukan. Hingg pintu ruangan Annisa terbuka karena Rere akan masuk dan berpamitan pulang.


"Nis, aku pul……"suara kerasnya terhenti saat melihat dia insan sedang menautkan bibirnya dengan penuh kenikmatan.


"Ah…Rere, ketuk pintu dulu, dong Re!"seru Annisa.


"Lagiyan, siapa yang nyuruh main sosor-sosoran di kantir,"tukas Rere. Arsyad dan Annisa di memerah wajahnya karena malu.


"Iya, iya, kamu mau pulang, kan?"tanya Annisa.


"Iya, kamu buat aku iri saja, aku pulang, ya? Lanjutkan sana!"titah Rere sambil meninggalkan ruangan Annisa.


Annisa dan Arsyad tertawa bersama, mereka tidak menyangka, sedang berciuman kepergok Rere.


"Kamu sih, kak. Aku malu tau,"ucap Annisa dengan menenggelamkan wajahnya di dada Arsyad.


"Ayo pulang, sudah tidak apa-apa, kita kan suami istri,"ucap Arsyad


Mereka pulang dari kantor Annisa. Arsyad merasa ada yang berbeda dengan dirinya. Dia merasakan seperti awal menikah dengan Annisa. Dia merasa muda kembali walaupun dia masih belum bisa merasakan hasratnya pada Annisa.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


♥️happy reading♥️


__ADS_2