
Dio terbangun dari tidurnya. Dia melihat Rania yang sedang sibuk dengan laptopnya. Dio beranjak dari tempat tidurnya lalu berjalan mendekati Rania.
"Kamu sudah bangun?" tanya Rania.
"Sudah, kamu masih di sini? Aku kira kamu sudah pulang." Dio duduk di depan Rania.
"Masih sakit kepalanya?" tanya Rania tanpa melihat Dio.
"Sudah sedikit mendingan, sih," jawab Dio.
Rania masih saja sibuk, sebentar lagi dia juga akan menemui klien di kantornya. Dia sudah menelepon bundanya untuk menemani Dio di rumah karena Dio masih belum terlalu sehat.
"Kamu sama bunda, ya? Aku mau menemui klien," ucap Rania.
"Kenapa mesti sama bunda? Aku di rumah sendiri juga tidak apa-apa, kok. Aku sudah sehat, Rania," ucap Dio.
"Nanti kalau pingsan lagi, sendirian gimana? Sama bunda saja di rumah, sebentar lagi bunda datang kok," tegas Rania lagi.
"Oke, kalau kamu memaksa," ucap Dio dengan menyerah.
Rania berpamitan pada Dio untuk kembali ke kantor, setelah Annisa sudah berada di rumah Dio.
^^^^^
Rania kembali memikirkan ucapan Dio kemarin sore sepulang dari sekolahannya dulu. Keraguan masih menyelimuti hatinya. Dia ingin menerima Dio kembali, tapi rasa trauma dulu masih melekat di hatinya. Dia takut Dio akan kembali lagi pada Najwa saat Najwa sudah kembali ke rumah.
"Apa aku harus menerima Dio lagi? Ke mana akan ku bawa hati ini jika Najwa kembali dan Dio kembali padanya?" gumam Rania.
Bagi Rania, lebih baik mencintai Dio dalam diamnya, daripada memiliki Dio, dan cintanya di balas oleh Dio, lalu dia di abaikan lagi, saat masa lalunya datang. Dia percaya pada Dio, kalau Dio tidak akan kembali lagi pada Najwa. Namun, hati seseorang siapa yang tahu? Hati seseorang mudah sekali berbolak-balik. Mungkin saat ini Dio bisa mencintai dirinya, ingin bersama dirinya, entah nanti jika Najwa kembali hadir.
^^^^^
Dio dari tadi terus menunggu Rania kembali ke rumahnya. Sudah hampir Maghrib Rania juga tak kunjung datang. Annisa dan Arsyad melihat Dio yang sedang gelisah menunggu Rania kembali.
"Sudah gak usah cemas seperti itu. Nanti Rania juga ke sini." Annisa berkata sambil mendekati putranya yang terlihat masih duduk di ruang tamu menunggu Rania datang.
"Bunda ngagetin saja," ucap Dio.
"Kamu menunggu Rania, kan?" Annisa duduk di samping Dio.
"Iya bunda. Aku egois ya, bunda?" Dio merebahkan dirinya di pangkuan Annisa.
"Egois? Mungkin iya kamu egois. Kalau bunda jadi Rania, bunda juga tidak sepeduli Rania. Seperti saat ini. Saat kamu sakit." Annisa mengusap kepala Dio.
"Rania wanita yang kuat, dia selalu menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja. Dia selalu tahu ke mana kamu dengan Najwa. Bahkan sebelum Abah tahu kamu di vila itu. Rania sudah tahu semua. Tapi, hati yang ingin selalu menjaga cintamu menjadi kuat. Menjadi kuat untuk menutupi semua kekuranganmu. Wajar jika Rania masih memikirkan untuk kembali lagi padamu, nak." Annisa membcoba memberi pengertian pada Dio. Anak lelaki yang dulu dekat sekali dengan dirinya, setelah mengerti cinta dia malah jauh dari dirinya.
"Apa dia mau memaafkan Dio dan menerima Dio kembali, bunda?" tanya Dio.
"Tergantung bagaimana kamu memperlakukan Rania saat ini dan setelah nanti jika kamu dan dia sudah kembali bersama lagi," jawab Annisa.
"Kamu tau kapas?" tanya Annisa.
"Iya tahu bunda," jawab Dio.
"Menurut kamu kapas bagaimana teksturnya?" tanya Annisa lagi.
"Lembut bunda," jawab Dio.
"Iya, kapas itu sangat lembut. Dan, satu lagi, sangat rapuh. Jika bagian ujung kapas itu terkena setetes air, maka akan ikut basah seluruh bagian kapas itu. Begitu pula jika terkena percikan api, maka akan ikut terbakar seluruh kapas itu. Maka tempatkan kapas itu di dalam kotak yang terbaik, yaitu hatimu.
Jagalah dari air dan api. Dari situlah akan kamu dapati terus kelembutannya," ujar Annisa.
"Kamu tahu air dan api itu?" tanya Annisa. Dio hanya menggelengkan kepalanya.
"Air itu di ibaratkan kesedihan, dan api adalah kecemburuan. Dua hal yang harus kamu tahu, hati wanita adalah pusatnya sedih dan cemburu. Jika kamu bisa menjaga itu. Bunda yakin, kamu akan mendapat kebahagiaan dengan wanita yang kamu cintai dan kamu miliki. Jadi, perlakukan lah wanita itu selembut mungkin, karena hatinya seperti kapas, sangat lembut dan rapuh," tutur Annisa.
"Terima kasih, bunda. Maafkan Dio. Dio sudah banyak mengecewakan orang. Dio akan meyakinkan Rania lagi, bunda.
Dan, Dio janji. Dio tidak akan membuat dia sakit lagi. Dio akan menjaga Rania. Tidak ada wanita selain Rania di hati Dio," ucap Dio dengan penuh kesungguhan.
"Buktikanlah. Karena janji bukan sekedar janji saja, melainkan perlu bukti untuk melengkapi janji itu," tutur Annisa.
"Itu pasti bunda," ucap Dio dengan tegas.
"Meski Najwa kembali?"
"Iya, meskipun Kak Najwa kembali, Dio akan tetap mencintai Rania, dan berada di samping Rania, hingga ragaku menua," jawab Dio dengan tegas.
"Itu namanya anak bunda. Ayo sholat, sudah adzan Maghrib itu."
"Oke, tapi Rania kok belum datang?" tanya Dio sambil beranjak dari tidurnya.
"Nanti dia ke sini, percaya sama bunda. Sekarang sholat dulu, itu Abah sudah menunggu," ujar Annisa.
^^^^^
Raffi tahu kalau Alina tidak ingin dia dekati. Tapi dia selalu tidak mau menyerah untuk mendekati Alina. Raffi mengajak Alina mengobrol lagi.
Seusai sholat Maghrib, Alina masih berada di taman baca. Raffi duduk di depan Alina. Alina langsung memberikan raut wajah yang tidak suka saat ada Raffi. Raffi tahu dia tidak mau di ganggu. Tapi, mau sampai kapan Raffi terus diam.
"Kak Alin," panggil Raffi. Tapi, Alina masih terdiam saja menata buku ke dalam rak.
"Kak Alin masih mau mendiamkan Raffi?" Raffi tidak menyerah, dia terus membuntuti Alina yang sibuk menata buku.
Alina mendengus kesal, melihta Raffi yang semakin ke sini semakin tidak menyerah untuk mendapatkan hatinya.
"Mau kamu apa, Raffi?" Alina bertanya dengan kesal pada Raffi.
"Kak, Raffi mencintai Kak Alin." Tanpa ragu Raffi mengungkapkan perasaannya pada Alina.
"Kamu jangan ngaco, Raf," tukas Alina.
"Siapa yang ngaco. Ini kenyataannya," ucap Raffi.
"Kamu itu masih muda, Kak Alina sudah tua, Raf. Apa kamu tidak tahu riwayat kehidupan, Kak Alin?" Alina duduk di kursinya berkata pada Raffi dengan sedikit serius. Raffi duduk di depan Alina.
"Mau riwayat hidup Kak Alin bagaimana, Raffi tidak peduli. Raffi suka sama Kak Alina. Raffi menncintai Kak Alin." Raffi dengan tegas mengungkapkan perasaannya lagi.
"Raff, kamu pasti tahu, kehidupan Kak Alin seperti apa. Dan, seorang Raffi mana mungkin bisa mencintai Alina yang seperti ini. Hanya seorang penjaga taman baca. Berpendidikan rendah, hidup sebatang kara. Sedangkan seorang Raffi?"
"Cukup kak, Raffi memandang wanita bukan dari riwayat kehidupannya seperti apa. Raffi mencintai Kak Alin, Raffi tulus. Raffi tidak memandang pendidikan Kak Alina yang hanya lulusan sarjana dari universitas biasa. Raffi tidak memandang itu. Raffi mencintai Kak Alina, karena Kak Alina adalah sososk wanita yang penyabar, bertutur kata lembut, memiliki kelembutan hati yang tidak di miliki oleh wanita lain."
"Bukan hanya itu. Kamu belum tahu kehidupan aku seperti apa, Raff. Tolong jangan seperti ini, Kak Alin tidak bisa. Jika kamu terus seperti ini, lebih baik Kak Alin meninggalkan taman baca ini," ucap Alin yang sedikit mengancamnya.
"Aku tahu, Kak Alin pernah menikah, kan? Kak Alin pernah gagal dalam berumah tangga?" Ucapan Raffi membuat Alina terdiam seketika. Membuat wajah Alina memucat seketika.
"Da---dari mana kamu tahu soal itu, Raff?" tanya Alina dengan gugup.
"Iya kan, kak?"
__ADS_1
"Raffi, seharusnya kamu tidak melakukan itu semua, tidak perlu kamu mencari-cari tahu kehidupan aku." Alina terlihat marah sekali dengan Raffi.
"Maaf Raffi sudah lancang mencari tahu. Seburuk apapun masa lalu Kak Alina. Raffi tidak peduli. Bagi Raffi Kak Alina wanita indah di mata Raffi," ucap Raffi dengan penuh keyakinan.
Alina terdiam sejenak mengatur emosinya. Dia semakin tidak tahu dengan Raffi yang terus menerus menyatakan perasaannya pada dirinya. Alina memang masih sedikit trauma dengan seorang laki-laki. Masa lalu memiliki seorang suami yang hanya sebatas syarat untuk melunasi hutang orang tuanya, kini masih membekas di hatinya.
Menikah selama 1 bulan dengan laki-laki yang sama sekali tidak mencintainya. Meski Alina mencoba mengabdi pada suaminya sebaik mungkin layaknya seorang istri yang taat pada suami. Namun, semua itu tidak ada harganya di mata suaminya. Siksaan dari suaminya kerap kali ia rasakan saat berhubungan badan.
Satu bulan lamanya dia menderita dengan seorang laki-laki yang menikahi dirinya. Laki-laki itu hanya mengambil kesucian Alina dan memperlakukan Alina layaknya wanita murahan saat berhubungan badan. Setelah satu bulan, laki-laki itu menceraikan Alina, dan pergi entah ke mana. Butuh waktu lama Alina memulihkan keadaan psikisnya. Dia mengurung diri selama 6 bulan setelah itu, hingga keadaannya stabil kembali.
Hanya Naila dan ibunya Alina yang membantu memulihkan kesembuhannya. Setelah Alina sembuh dari luka karena mantan suaminya, dia harus melalui sebuah tragedi lagi. Ibunya sakit keras, dan tak lama kemudian meninggal dunia. Dan, setelah di tinggal Ibunya, Naila menikah dan sekarang berada di luar kota ikut dengan suaminya.
Pendar mata Alina menyiratkan kesedihan. Kesedihan yang sudah lama di tutup dia rapat-rapat, kini sedikit terbuka lagi. Luka yang sudah kering, kini menganga lagi. Tanpa terasa air mata Alina menetes mengingat semua itu.
"Kak, maafkan Raffi. Raffi sudah mengingatkan kembali masa silam kakak yang begitu menyakitkan, maafkan Raffi, kak," ucap Raffi dengan sedikit canggung melihat Alina menangis.
Ingin rasanya Raffi mengusap air mata Alina, tapi dia tidak berani melakukannya pada wanita yang ia anggap belum menjadi muhrimnya. Raffi melihat tissue yang ada di sebelah meja Alina. Dia memberikannya pada Alina.
"Hapus air mata kakak," ucap Raffi sambil memberikan tissue pada Alina.
"Terima kasih, Raf," ucap Alina dengan suara yang serak.
"Maafkan Raffi, kak. Raffi membuat Kak Alin seperti ini. Bukan maksud Raffi menguak kembali masa lalu Kak Alina. Raffi seperti ini, karena Raffi ingin memiliki Kak Alina. Raffi mencintai Kak Alina. Raffi tidak bisa memendam rasa ini terus menerus, Kak. Sungguh tidak bisa. Setiap kali Raffi ingin mengutarakan isi hati Raffi, kakak selalu menghindari Raffi." Raffi berkata dengan menatap wajah Alina.
"Raff, Kak Alin bukan wanita yang sempurna. Masih banyak wanita yang lebih baik dari Kak Alin."
"Sebanyak apapun wanita di luar sana yang lebih baik dari Kak Alina, Raffi akan tetap memilih Kak Alina." Raffi berkata dengan tegas dan penuh keyakinan.
"Kak Alina…." Ucapan Alina terhenti, dia tidak tahu harus menjawab apa dengan Raffi. Dalam hati kecilnya dia juga membutuhkan seorang yang menjaganya. Yang mencintainya dengan tulus seperti Raffi.
Alina merasa, dari kecil dia sudah banyak merepotkan keluarga Raffi, lalu sekarang dia akan di peristri Raffi. Tidak mungkin bagi keluarga Raffi merestui Alina untuk menikah dengan Raffi. Apalagi umur Alina lebih dewasa 10 tahun dari Raffi.
"Kak Alina, kenapa? Kak Alina ragu dengan Raffi?" tanya Raffi lagi. Alina masih diam. Dia masih belum tahu harus menjawab apa.
"Kak, Raffi tidak menyuruh kakak menjawab sekarang. Jika belum bisa menjawab sekarang, Raffi akan menunggu, jika kakak mau menjawab sekarang. Dengan segera Raffi akan membawa orang tua Raffi ke rumah Kakak." Raffi meyakinkan Alina lagi.
Alina sebenarnya sudah tahu kalau Raffi menyukainya. Itu semua karen Naila yang berbicara pada Alina. Saat Raffi bertanya pada Naila, Naila langsung memberitahukan pada Alina. Naila juga mendukung Alina bersama Raffi, jika Raffi benar-banar serius dan tulus.
Naila tahu, kalau Raffi tidak tulus mana mungkin dia sampai tanya-tanya pada Naila soal Alina. Dia juga bilang dengan Naila kalau akan serius dengan Alina. Alina kembali memikirkan ucapan Naila kemarin siang, soal Raffi yang benar-benar serius dengan dirinya. Dan, sekarang Raffi benar-benar ingin serius dengan dirinya.
"Raf, apa Abah dan Bunda Nisa tahu soal ini?" tanya Alina.
"Iya, sudah tahu sejak lama," jawab Raffi.
"Jika, kamu berniat baik untuk melanjutkan niat dalam hatimu, Kak Alina tunggu kamu dan keluargamu datang, Raf." Alina dengan gugup namun tanpa ragu mengucapkan itu.
"Jadi, Kak Alina?"
"Iya, Kak Alin terima niat baik kamu," jawab Alina.
"Terima kasih, kak. Terima kasih Ya Allah, akhirnya Do'aku terjawab sudah." Senyum bahagia nampak di wajah Raffi dan Alina kala itu.
Taman baca milik umminya kini menjadi saksi cintanya pada Alina. Wanita yang dulu sering bermain dengan dirinya. Wanita yang ia kagumi semenjak Raffi beranjak dewasa. Dan, sekarang Alina menerima niat baik Raffi untuk melamar dirinya. Raffi tidak memperdulikan status Alina apa. Dia mencintai Alina bukan karena apa-apa, dia tulus menyayanginya. Bagi Raffi, hanya Alina wanita yang memiliki kelembutan hati seperti umminya.
Sosok Almira memang selalu menjadi pedoman bagi Raffi dalam memilih wanita untuk dijadikan pasangan hidup. Meski sekarang berdiri sosok wanita hebat lagi di sisinya, yaitu Annisa. Raffi tidak pernah melupakan Almira dan selalu meletakan Almira di barisan terdepan pada hatinya.
"Kak, tapi Raffi tidak bisa menikahi kakak secepat ini. Karena Kak Najwa belum kembali, Kak. Tapi, jika awal tahun Kak Najwa belum kembali, aku akan menikahi kakak,"ujar Raffi.
"Tinggu Najwa pulang, Raf. Bagaimanapun, dia kakak kamu," ucap Alina.
"Aku tidak tahu, harus mencari Kak Najwa ke mana lagi, kak. Aku sangat merindukan Kak Najwa, itu mengapa Raffi tidak pulang ke rumah Abah. Di sini, Raffi bisa merasakan adanya Kak Najwa dan Ummi lagi. Bukan Raffi mau berlarut dalam kesedihan untuk mengingat ummi. Raffi di sini hanya ingin merasakan kehidupan Raffi yang dulu saat bersama ummi dan Kak Najwa."
"Raff, kakak tahu apa yang kamu rasakan. Lagian, tidak ada salahnya kamu di sini. Ini rumah kamu, peninggalan ummi kamu. Ummi adalah sosok wanita yang tangguh, Raf. Beliau selalu menjadi contoh untuk aku dan Naila. Kalau aku dan Naila tidak mengenal ummi, aku dan Naila tidak tahu bagaimana nasibnya."
"Iya benar, Raff. Taman baca ini juga sekarang makin rame, apalagi kalau malam minggu. Minat baca anak-anak sekarang jauh lebih maju lagi. Apalagi semenjak di seberang sana ada sekolahan baru, jadi taman baca ini semakin rame, dan buku-bukunya juga sudah lengkap."
"Ini semua karena Kak Alina yang telaten mengurus semuanya."
Raffi dan Alina semakin akrab. Alina sudah tidak lagi canggung dan takut, saat Raffi mengajak berbicara. Semua beban di hidupnya terasa hilang satu persatu setelah menceritakan semua pada Raffi. Alina sudah merasa ada yang melindunginya sekarang. Meskipun Raffi umurnya jauh di bawah Alina, namun Raffi sudah menjadi pria dewasa yang bisa menjaga Alina.
"Kak Alina mau pulang?" tanya Raffi.
"Iya ini mau pulang, kan sudah selesai beres-beres," jawab Alina.
"Mari Raffi antar," ajak Raffi.
Alina tidak menolak lagi saat Raffi ingin mengantarnya pulang. Raffi mengantar Alina untuk pulang. Jarak rumahnya dengan taman baca cukup dekat. Tapi, Raffi tidak tega melihat Alina jalan kaki.
Seusai mengantarkan Alina, Raffi langsung pulang ke rumahnya untuk membicarakan ini dengan abah, bunda, dan opanya. Tapi, mereka semua sedang berada di rumah Dio. Dan, Raffi langsung melajukan mobilnya menuju rumah Dio.
^^^^^
Dio masih menunggu Rania yang belum datang juga. Padahal sudah selepas isya, tapi Rania belum juga kembali ke rumahnya.
"Pasti dia tidak akan ke sini, Dio. Sudahlah, jangan di tunggu-tunggu lagi. Kamu tenangkan pikiranmu. Jika dia memang jodohmu, dia akan kembali di sisimu lagi, Dio." Dio berkata dalam hatinya sambil melihat cincin yang kemarin akan ia berikan pada Rania.
Dio masih melihta cincin itu hingga kehadiran seseorang mengagetkan aktivitasnya yang masih memikirkan Rania.
"Ehem…mau melamar siapa, nih?" Raffi tiba-tiba masuk ke dalam ruang tamu. Kehadiran Raffi sampai tak di ketahui oleh Dio, karena Dio saking asiknya membanyangkan Rania jika menerima cincin yang saat ini di pegang dirinya.
"Jelas Rania, lah. Mau siapa lagi, Raf." Arsyad menjawab apa yang Raffi tanyakan pada Dio.
"Abah, apaan sih," tukas Dio.
"Sudah, Abah tau kok. Abah dengar semua yang dibicarakan kamu dan bunda tadi. Sudah lah, nanti juga Rania datang, dia pasti mau kok menerima kamu kembali. Dia hanya butuh waktu," tutur Arsyad.
"Betul kata Abah, kamu yang sabar. Wanita kalau sudah trauma sulit untuk menghilangkannya. Sudah, nanti juga Rania akan kembali lagi padamu, percayalah," ujar Raffi.
"Mudah-mudahan, doakan saja," ucap Dio dengan tatapan kosong.
"Sudah, jangan terlalu di pikirkan, nanti kamu sakit lagi." Raffi menepuk pundak Dio.
"Kamu sudah selesai misinya untuk mendekati Alina?" tanya Arsyad.
"Kok Abah bilang gitu?" jawab Raffi.
"Iya, ini pulang sih," ucap Arsyad.
"Apa Raffi di sana hanya untuk mendekati Alina? Raffi rindu suasana rumah Ummi. Raffi ingin menenangkan hati Raffi yang selalu di buat tidak nyaman dengan mengkhawatirkan Kak Najwa. Entah kenapa jika di sana, rasa khawatir Raffi untuk Kak Najwa hilang," jawab Raffi.
"Kamu merindukan ummimu juga?" tanya Arsyad.
"Selalu Abah," jawab Raffi.
"Sudah, kita makan malam dulu, itu yang di tunggu Dio sudah datang," ucap Raffi dengan menunjukkan sosok yang ditunggu oleh Dio. Ya, Rania datang dengan masih menggunakan pakaian kerja.
Rania masuk dan disambut oleh Dio, Raffi, dan Arsyad yang masih duduk di sofa ruang tamu.
"Kamu baru pulang dari kantor, Ran?" tanya Arsyad.
__ADS_1
"Iya, Abah. Tadi masih ada urusan dengan Astrid. Banyak sekali yang harus diselesaikan jadi ya pulang terlambat," jawab Rania.
"Tuh dengar. Pasti dia kembali lagi, jangan khawatir. Ya kan, Ran?" timpal Dio.
"Apaan, sih." Dio menyenggol lengan Raffi.
"Ran kamu gak mandi dulu?" tanya Dio.
"Aku gak bawa baju ganti, Dio," jawab Rania.
"Masih ada baju kamu di sini," ucap Dio.
"Ehem…masih nyimpen ternyata. Awas Ran, nanti kena pelet," celetuk Raffi.
"Gak mempan, Raff. Ya sudah aku mandi, ambilin bajunya dong," pinta Rania.
"Iya, aku ambilkan," jawab Dio.
"Dah lah, balikan lagi, ya gak, Abah?" Ledek Raffi.
"Lihat saja, nanti juga balikan, kalian berdua tidak usah saling gengsi dan saling egois. Mau menunggu apa lagi. Abah baru lihat, Dio sampai sakit di tolak wanit, Ran," ujar Arsyad.
"Abah apaan sih, jangan malu-maluin Dio dong," ucap Dio.
"Sudah, sana ambilkan baju Rania. Lalu kita makan malam," ujar Arsyad.
Dio ke kamarnya untuk mengambilkan baju Rania. Rania berjalan mengekoro dio. Dia begitu penasaran, mana mungkin masih ada bajunya yang tertinggal di rumah Dio.
"Kamu mau mandi di kamar mandi sini atau kamar mandi luar? Bersih semua kok," tanya Dio.
"Kamar mandi luar aja lah," jawab Rania.
"Ini baju sama handuknya." Dio memberikan dan handuk pada Rania.
"Eh, kenapa piyama ini masih ada di sini, Dio?" tanya Rania.
"Kamu lupa gak bawa pulang, ini masih di box baju kotor. Ya sudah aku cuci terus aku simpan," jawab Dio.
"Sama ini juga?" tanya Rania sambil menunjukan celana dalam dan bra yang ada di dalam bajunya.
"Iya lah. Waktu itu aku kan masih jadi suamimu. Ya sah-sah saja nyuciin dan lihat itu. Sudah sana mandi," jawab Dio sambil menyuruh Rania mandi.
^^^^^
Semua berkumpul di meja makan. Suasana rumah Dio malam ini terasa hangat. Biasanya Dio menghabiskan waktu di rumahnya dengan kesendirian. Kali ini berbeda, malam ini di rumhanya ada orang-orang yang Dio sayangi. Meskipun tidak ada Shifa, kakaknya sekaligus saudara kembarnya. Dia sudah merasa bahagia, abah dan opanya dekat lagi dengan dirinya.
"Emm…maaf Raffi mau bicara sedikit serius dengan Abah, bunda, dan opa," ucap Raffi seusai selesai makan malam.
"Mau bicara apa?" tanya Arsyad.
"Abah, Raffi ingin melamar seseorang," jawab Raffi.
Semua dikejutkan oleh ucapan Raffi. Tidak menyangka Raffi yang pendiam, malam dia mengutarakan niatnya untuk melamar seseorang.
"Siapa wanita itu, Raf?" tanya Rico.
"Emmm…Alina, opa." Raffi menjawab dengan gugup.
"Sudah opa duga," ucap Rico.
"Kapan kamu akan melamarnya?" tanya Arsyad.
"Raffi bingung, Raffi tidak ingin lama-lama, Abah. Tapi, mana bisa Raffi melamar atau menikah tanpa sepengetahuan Kak Najwa. Dia kakak Raffi satu-satunya," jawab Raffi.
"Kita semua tidak tahu di mana Najwa. Kalau kamu ingin melamarnya, Abah akan mengantarkan kami ke rumah Alina," ucap Arsyad.
"Abah, Jika Kak Najwa pulang dengan keadaan belum mau menikah dan belum ada calon, Raffi juga akan menunggu Kak Najwa sampai Kak Najwa menikah dulu, Abah. Kak Najwa perempuan, Raffi tidak mau melangkahinya untuk menikah dulu. Jadi, Raffi putuskan, akan menunggu Kak Najwa pulang. Setidaknya sampai awal tahun ini," jelas Raffi.
"Lalu Alina? Apa dia mau?" tanya Annisa.
"Kak Alin mau, bunda. Dia yang bilang seperti itu," jawab Raffi.
"Syukurlah kalau Alina mau menunggu," imbuh Arsyad.
^^^^^
Seusai makan malam, Annisa dan Arsyad duduk di ruang tamu. Annisa merasakan Arsyad yang akhir-akhir ini tidurnya tidak nyenyak. Mungkin karena dirinya merindukan Najwa dan mengkhawatirkan Najwa.
"Abah, apa Abah sudah mencoba tanya Habibi soal Najwa?" Tanya Annisa.
"Belum," jawab Arsyad.
"Coba saja, siapa tahu Habibi masih menghubungi Najwa," ucap Annisa.
"Bagaimana mau menghubungi? Najwa pergi tidak membawa apa-apa kok. Dia meminta tolong Arkan juga untuk mengambilkan kartu identitas saja. Dompet dan ponsel tidak Arkan berikan, karena Najwa juga tidak mau," jawab Arsyad.
"Iya juga sih. Kasihan Raffi kalau seperti ini," ucap Annisa.
"Abah yakin, dia akan pulang," ucap Arsayd dengan lirih.
"Abah, bunda lihta akhir-akhir ini abah kalau malam tidurnya seperti tidak tenang?" tanya Annisa.
"Abah selalu mimpi Almira dengan Najwa. Sudah 1 Minggu ini. Almira selalu muncul di mimpiku, dia menghampiri Najwa dan mengajak Najwa bermain, tapi dalam mimpiku, Najwa masih kecil," jawab Arsyad.
"Abah sekarang juga jarang ke makam Kak Mira. Cobalah ke sana. Ke rumah Kak Mira juga," ujar Annisa.
"Bunda, apa Abah egois?" tanya Arsyad.
"Abah, bunda tahu, sifat Abah dan Opa seperti apa. Bunda paham itu. Mau bilang egois, nyatanya seperti ini. Mau bilang tidak egois, tapi Abah seperti itu. Sudah besok bunda temani Abah ke makam Kak Mira," jawab Annisa.
"Terima kasih, sayang. Kamu selalu mengerti aku. Maafkan aku jika aku terlalu egois seperti ini." Arsyad memeluk Annisa dan mencium keningnya.
"Sudah, Abah istirahat dulu, bunda tidur dengan Rania," ucap Annisa.
"Boleh minta jatah dulu, bunda, sebelum bunda ke kamar Rania?" pinta Arsyad yang membuat Annisa tersenyum dan gemas dengan suaminya yang selalu saja seperti itu.
"Kemarin kan sudah, Abah," ucap Annisa.
"Kemarin ya kemarin, sayang. Malam ini ya malam ini," ucap Arsyad dengan manja.
"Ih, udah tua kok genit gini, sih." Annisa mencubit pipi Arsyad dan menciumnya.
"Genitnya sama kamu saja, sayang. Ayo ke kamar," ajak Arsyad.
"Ke kamar mana? Kamar Dio ada opa, kamar tamu ada Rania, di kamar yang Dio tempati ada Raffi dan Dio," ujar Annisa.
"Di sini, ya?" ucap Arsyad dengan menggoda istrinya.
"Husssh…sudah di tahan dulu, besok di rumah saja," ucap Annisa.
__ADS_1
"Hmmm…ya sudah." Arsyad bergelayut manja pada Annisa sebelum masuk ke kamar.
Arsyad malah tidur di pangkuan Annisa dan bermanja di pangkuan Annisa. Arsyad memang seperti itu. Apalagi semenjak rumah sepi, kadang di rumah dengan Annisa saja. Dia seperti muda kembali, berkali-kali bermain dengan Annisa. Kadang Rico juga rindu dengan anak perempuannya, kadang Rico menginap di rumah Shita, atau di rumahnya menikmati kerinduannya pada dua sosok mendiang istrinya.